Prospek Konflik Palestina

Alhamdulillah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Allahumma shalliy wa sallim wa baarik ‘ala Rasulil mubin Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Dalam memandang konflik Palestina, setidaknya ada 3 garis pandangan utama yang mengemuka. Masing-masing didukung oleh suara kaum Muslimin.

Pertama, Palestina harus merdeka secara penuh dan Israel harus angkat kaki dari seluruh Tanah Palestina yang didudukinya. Konsekuensi pandangan ini, Israel harus dibubarkan atau dihapuskan dari peta dunia. Pandangan ini dimotori oleh Hamas dan kelompok-kelompok Jihad Islam.

Kedua, Palestina berdiri sebagai negara mandiri yang diakui dunia internasional, sebagai hasil pembicaraan damai dengan Israel, dengan wilayah teritorial yang disepakati kedua belah pihak. Paling tidak wilayah Tepi Barat dan Ghaza seperti saat ini. Pandangan demikian diyakini oleh Yasser Arafat, Mahmud Abbas, dan PLO. Negara-negara Arab kebanyakan juga setuju dengan pandangan ini.

Ketiga, Palestina berdiri sebagai negara yang berdaulat, menentang pendudukan Israel atas tanah Palestina, tetapi pada saat yang sama setuju dengan perjanjian damai antara Palestina-Israel. Jadi pandangan ini merupakan kompromi dari dua pandangan di atas. Pandangan seperti ini diyakini oleh Indonesia dan negara-negara Muslim semisalnya.

Dalam praktiknya, pandangan pertama berbenturan keras dengan pandangan kedua, sedangkan pandangan ketiga “menjadi penonton” atau sekedar berperan dalam tataran moral saja. Hamas dan PLO terlibat perselisihan keras, sementara negara seperti Indonesia, Mesir, atau Saudi, pura-pura peduli sambil tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengubah keadaan.

Berani Mengambil Resiko

Konflik Palestina bukanlah konflik yang tiada membuka peluang solusi. Solusi itu tetap ada. Hanya masalahnya, maukah kita menempuh solusi tersebut? Meskipun kita telah mengerahkan seluruh daya dan kekuatan untuk menghasilkan formula terbaik, kalau hasilnya tidak dipakai, percuma saja.

Dalam konflik ini setidaknya ada dua pilihan utama: (1) Berdamai dengan Israel, mendapatkan kemerdekaan, tetapi resikonya harus menerima Israel sebagai negara tetangga; (2) Terus konflik dengan Israel, menolak perundingan damai, dan tidak mau mengakui eksistensi Israel.

Kedua pilihan itu ada resikonya. Kalau memilih berdamai, konflik di Palestina akan jauh mereda, korban-korban penindasan akan berkurang, Palestina mendapat kedaulatannya. Hanya saja resikonya, wilayah Palestina kecil, dipisahkan oleh wilayah Israel, dan mereka harus mengakui eksistensi Israel. Belum lagi kemungkinan Israel akan mengingkari janji-janjinya, sebab hal itu memang telah menjadi tabiat dasar mereka.

Kalau memilih berkonflik secara frontal, bangsa Palestina akan terus terseok-seok dalam konflik berkepanjangan. Mereka akan menjadi sasaran penyerangan Israel, sebagaimana hal itu sudah sering terjadi. Tetapi konsekuensinya, rakyat Palestina akan tetap memiliki harapan untuk mencapai kemerdekaan secara penuh, dan Israel akan bubar. Hanya masalahnya, kapan hal itu akan terjadi?

Tidak ada pilihan mudah bagi bangsa Palestina. Memilih A atau B, sama-sama berat dan beresiko. Kalau tidak memilih, juga beresiko. Semakin bangsa Palestina tidak memiliki kejelasan sikap, Israel semakin senang. Mereka bisa kapan saja mengobok-obok wilayah Palestina sesuka hatinya.

Bagaimanapun, kaum Muslimin Palestina harus berani memilih. Memilih pilihan yang tidak beresiko sama sekali adalah mustahil. Selalu ada resikonya, dan semua itu tidak mudah untuk dipikul.

Dulu Nabi Saw juga berhadapan dengan pilihan yang sulit ketika memutuskan menanda-tangani perjanjian Hudaibiyyah dengan musyrikin Makkah. Hanya dengan pertolongan Allah, perjanjian yang sepintas lalu sangat merugikan Islam itu, ternyata akhirnya justru menguntungkan.

Pilihan Berdamai

Di mata para pejuang Islam adalah sangat sulit untuk berdamai dengan Israel. Kamus perdamaian nyaris mustahil. Apalagi sudah bukan rahasia lagi, Israel sangat sering menciderai perjanjian-perjanjian perdamaian selama ini.

Tetapi pada saat yang sama, bangsa Palestina membutuhkan kesempatan untuk membangun kekuatan dirinya. Untuk melakukan konsolidasi, memperkuat kekuatan internal, dan mempersiapkan masyarakatnya dari segala sisi. Tanpa semua itu, mereka akan tetap terancam oleh posisi Israel yang semakin kuat dari waktu ke waktu.

Kalau dalam peperangan, istilahnya mundur ke belakang untuk membangun kekuatan, sebelum maju bertempur kembali. Dalam Al Qur’an disebutkan, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang yang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur). Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (Al Anfaal: 15-16).

Menghadapi Israel dalam kondisi sangat lemah, adalah sangat MUSTAHIL. Apalah artinya perlawanan kalau tidak sebanding? Bangsa Palestina hanya akan menjadi bulan-bulanan Yahudi Israel, seperti dalam Tragedi Ghaza kemarin.

Kadang kita harus menerima tawaran damai, bukan karena kita tunduk kepada orang-orang kafir Yahudi itu. Tetapi kita membutuhkan kesempatan untuk memperkuat diri sampai benar-benar mantap untuk menghadapi kaum laknatullah itu.

Seperti Nabi Saw yang bersedia menandatangani Piagam Madinah dengan Yahudi Madinah serta kabilah-kabilah di Madinah. Saat Islam masih lemah, Nabi berdamai dengan Yahudi. Namun saat Islam telah kuat, Yahudi dikejar-kejar sampai di benteng terakhirnya, Benteng Khaibar.

Di mata para aktivis Islam atau mujahidin, langkah Nabi Saw terhadap Yahudi itu mungkin dianggap “banci” atau “kurang paham situasi”. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Mustahil Nabi bersikap seperti itu.

Perdamaian yang memungkinkan bangsa Palestina memperkuat diri, melakukan konsolidasi internal, serta membangun strategi, adalah pilihan yang bisa dipertimbangkan. Daripada berperang secara sporadis dengan kekuatan lemah, lalu rakyat Palestina menjadi bulan-bulanan pasukan Israel. Bahkan langkah damai sementara itu, lebih baik daripada seruan hijrah keluar dari Palestina.

Upaya damai ini sementara belaka, sampai kaum Muslimin memiliki kekuatan cukup untuk menerjuni konflik terbuka dengan Yahudi Israel laknatullah itu. Sebuah ibrah berharga, ketika Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah, beliau sengaja membiarkan pasukan Tar Tar bermabuk-mabukan di Baghdad. Saat itu beliau belum memilih menyerukan Jihad, sebab kaum Muslimin perlu konsolidasi dulu. Ketika momentumnya telah tiba, Tar Tar pun diperangi sampai ke akar-akarnya. Hal semacam ini tidak berlebihan, jika kita mau berpikir bahwa jihad seringkali membutuhkan waktu untuk menyempurnakannya.

Peluang Menghapus Israel

Sebuah pertanyaan besar bagi kaum Muslimin, termasuk para aktivis Islam: “Percayakah Anda bahwa perjuangan kaum Muslimin di Palestina bisa berakhir dengan terhapusnya Israel dari peta dunia?” Silakan Anda jawab dengan metode apapun, baik metode silsilah hadits, analisis data, fakta sejarah, komparasi konflik, maupun metode keyakinan (akidah).

Dalam pandangan saya, peluang menghapus Israel adalah sesuatu yang mustahil. Ummat Islam telah terlambat lebih dari setengah abad untuk mewujudkan impian itu. Dulu di jaman Jihad Syaikh Hasan Al Banna rahimahullah, Israel hampir kalah oleh serangan para Mujahidin Al Ikhwan. Namun setelah itu yang terjadi selalu kabar duka tentang kekalahan-kekalahan kaum Muslimin.

Alasan yang bisa saya kemukakan adalah sebagai berikut:

[1] Sejak awal berdirinya, Israel sepenuhnya didukung negara-negara besar, khususnya Inggris dan Amerika. Bahkan kemunculan Israel di Timur Tengah sudah sesuai dengan misi besar negara-negara Barat untuk menanamkan “kanker” di tengah-tengah bangsa Arab dan memberi tempat bagi komunitas Yahudi dunia. Bangsa Barat sejak lama juga kerepotan memikirkan orang-orang Yahudi di negeri mereka. Berdirinya Israel dianggap sebagai solusi jitu atas Diaspora Yahudi di Eropa maupun Amerika. Ia memenuhi tujuan-tujuan strategis Barat di Timur Tengah.

[2] Sudah puluhan Resolusi PBB dijatuhkan kepada Israel atas kebiadaban-kebiadaban mereka. Tetapi semua itu selalu ditentang oleh Veto Amerika. Sementara negara-negara di dunia tak berdaya hadapi Veto Amerika.

[3] Negara-negara Arab sebagai kekuatan potensial yang diharapkan mendukung Palestina, komitmen mereka semakin lama semakin pudar. Mesir yang dulu sangat pro Palestina malah menjadi negara Dunia Islam pertama yang secara resmi berdamai dengan Yahudi Israel, melalui perjanjian Camp David. Bahkan pasca Perang Arab, Mesir menyesali diri telah berkorban banyak untuk Palestina. Dalam Tragedi Ghaza beberapa waktu lalu, Mesir dan Saudi jelas-jelas menentang ancaman sanksi kepada Israel. Ya, itu realitas.

[4] Israel sendiri dari hari ke hari semakin memperkuat dirinya. Berbagai cara yang bermanfaat untuk memperkuat dirinya, Israel lakukan. Membeli pesawat, membangun sistem persenjataan, membangun sistem pertahanan nuklir, membangun ekonomi, infrastruktur, sains, pendidikan, budaya, dll. Israel juga mendirikan tembok perbatasan yang sangat tinggi, terus mendatangkan imigran Yahudi dari luar, memakai sistem radar canggih, dll. Sementara Palestina sangat jauh ketinggalan dibandingkan Israel.

[5] Israel didukung oleh gerakan Zionisme Internasional. Nah, inilah kekuatan inti di balik eksistensi Israel selama ini. Zionisme Internasional telah merambah ke berbagai sektor kehidupan dunia; menguasai ekonomi, media informasi, budaya global, lobi politik, sistem teknologi, pemikiran, dll. Banyak sekali gerakan-gerakan masyarakat dunia yang muaranya mendukung Israel. Lihatlah, betapa banyaknya produk-produk dunia yang diserukan untuk diboikot. Semua itu menyumbang keuntungan bagi eksistensi Israel.

[6] Bisa saja kita menghapus Israel, tetapi sebelum itu kita harus menghapus pula sistem kehidupan dunia yang selama ini telah dibangun oleh agen-agen Yahudi. Contoh, uang kertas harus diganti uang intrinsik (emas, atau perak), sistem ribawi harus dihapus, ideologi nasionalisme harus diganti ideologi Islam, sistem politik demokrasi harus dirombak, dll. Bisakah kita lakukan semua itu? Harus dicatat, kalau kita tidak mampu menghapus sistem yang selama ini mendukung Zionisme, jangan berharap produk Zionisme (dalam wujud Israel) itu akan terhapus juga.

[7] Di dunia saat ini tidak ada satu pun negara Islam, tidak ada Khilafah Islamiyyah. Negara-negara Muslim telah terjerumus dalam penyakit NASIONALISME yang sangat parah. Mereka egois dengan negaranya masing-masing. Bahkan, bangsa Palestina pun berjuang atas nama nasionalisme Palestina, bukan atas nama Jihad Fi Sabilillah untuk menegakkan Islam. Jadi tidak ada satu pun negara yang secara Syar’i bisa menjadi kendaraan untuk berjihad melawan Israel.

[8] Dan ini merupakan bagian dari jadwal sejarah, bahwa bangsa Yahudi akan memiliki kekuatan besar di Akhir Jaman. Kekuatan mereka itu sudah terbukti dengan istilah “Yahudi menggenggam dunia”. Begitulah jadwal sejarah yang telah Allah tetapkan (Surat Al Israa’: 6-7). Kekuatan Yahudi hari ini merupakan pra kondisi sebelum kelak bangkitnya imperium Dajjal laknatullah ‘alaih.

Dengan semua pertimbangan ini, masihkah Anda percaya bahwa Yahudi Israel akan terhapus dari muka bumi? Sejujurnya, saya tidak percaya. Apalagi, menghapus sebuah bangsa lenyap dari muka bumi adalah kejadian yang tidak pernah terjadi. Kecuali ketika Allah memusnahkan bangsa-bangsa durhaka dengan adzab-Nya. Sementara dalam Al Qur’an maupun hadits-hadits Nabi Saw disebutkan bahwa Bani Israel akan memiliki kekuatan significant.

Melihat Secara Positif

Bangkitnya negara Israel di Tanah Palestina bisa disikapi secara negatif, bisa pula positif. Secara negatif, Israel telah merampas hak-hak kaum Muslimin, dan menodai Masjidil Aqsha dan Tanah Al Quds di sekitarnya. Dalam konteks ini, Jihad untuk mengembalikan hak-hak Ummat adalah pilihan terbaik.

Namun secara positif, kita juga bisa menerima kehadiran Israel di Palestina. Hal itu adalah untuk memenuhi syarat berlakunya khabar yang pernah Nabi Saw sampaikan. Dari Abu Hurairah Ra., bahwa Nabi Saw pernah bersabda: “Tidak akan terjadi Hari Kiamat sampai kaum Muslimin memerangi Yahudi, sampai Yahudi itu bersembunyi di balik batu dan pohon-pohon. Lalu berkatalah batu dan pohon itu, ‘Wahai Muslim, ini seorang Yahudi, dia bersembunyi di balikku, bunuhlah dia!’ Kecuali pohon gharqad, karena ia adalah pohon Yahudi.” (HR. Bukhari-Muslim).

Berkumpulnya Yahudi di suatu tempat di dekat basis Ummat Islam di Dunia Arab, adalah sebuah anugerah besar. Kita tidak perlu mengirim undangan ke mereka, tidak perlu membuatkan tempat, tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mengurus mereka di suatu tempat. Mereka datang sendiri ke “Land Promise”, dengan pertolongan Allah. Tanpa pertolongan Allah, tentulah Yahudi akan terus berdiaspora, sehingga sulit bagi Ummat Islam untuk merealisasikan sabda Nabi di atas.

Luar biasa, betapa Agungnya Allah Ta’ala. Dia mengendalikan akal-akal orang Yahudi, sehingga tanpa disadari mereka menginginkan memiliki negeri sendiri. Justru yang dipilih Yahudi adalah negeri Palestina, bukan Etiopia atau Argentina. Di mata Yahudi Israel, berdirinya negara mereka di Palestina adalah kemenangan besar. Padahal justru dengan semua itu, mereka semakin dekat dengan janji Allah Ta’ala kepada kaum Muslimin.

Lihatlah dengan pandangan mata hatimu! Yahudi telah membuat konspirasi luar biasa untuk mendirikan Israel di Tanah Palestina. Tetapi tanpa disadari, mereka justru semakin mendekat kepada momentum ketika Allah menjanjikan kepada kaum Muslimin untuk mengalahkan mereka di negerinya. Demi Allah, andai kita disuruh mengejar Yahudi di berbagai belahan dunia, tentulah sangat sulit. Maka dengan eksistensi Israel, Allah Ta’ala telah memudahkan langkah Ummat untuk berjuang ke depan, merealisasikan sabda Nabi Saw.

Berdirinya Israel bisa dipandang sebagai mushibah, tetapi juga sebagai anugerah. Terserah darimana kita memandangnya? Kedua-duanya boleh dan sah. Yang memandang sebagai mushibah, karena menerapkan prinsip-prinsip Ukhuwwah Islamiyyah dan Wala’ wal Bara’. Yang memandang dengan positif, karena meyakini khabar hadits Nabi Saw tentang kemenangan Islam atas Yahudi, yang mempersyaratkan berkumpulnya Yahudi di suatu tempat. Kedua-duanya benar dan sah. Maka kita jangan terlalu risau memikirkan masalah ini.

Momentum Kemenangan

Eksistensi Israel adalah suatu kenyataan. Ia telah menjadi fakta yang tidak mungkin diingkari oleh mata dan telinga. Tetapi sebagai seorang Muslim, kita sangat membenci eksistensi negara Yahudi itu, sangat memurkainya, dan senantiasa menyimpan niat di hati untuk berjihad mengembalikan hak-hak kaum Muslimin yang telah dirampas oleh Yahudi laknatullah tersebut.

Dulu Nabi Saw pernah mengirim surat dakwah ke Kisra Persia. Namun surat itu disobek-sobek oleh Kisra. Ketika Nabi mengetahui suratnya disobek-sobek oleh Kisra, beliau mendoakan agar imperium Kisra kelak disobek-sobek oleh Allah Ta’ala. Dan hancurnya imperium Kisra terjadi di jaman Khalifah Umar Ra.

Hikmah dari kejadian di atas: (1) Nabi murka atas perbuatan Kisra Persia yang menyobek-nyobek surat beliau; (2) Nabi tetap mengakui kekuatan Kisra, sehingga beliau tidak seketika itu menyerukan Jihad melawan Kisra; (3) Nabi Saw mendoakan kehancuran bagi Kisra Persia; dan (4) realisasi kehancuran Kisra terjadi beberapa tahun kemudian, setelah Nabi Saw wafat.

Tidak masalah Ummat Islam saat ini menerima eksistensi negara Yahudi yang bernama Israel. Toh, tanpa kita terima pun mereka memang memiliki eksistensi sebagai negara. Tetapi hati kita memurkai eksistensi itu. Sebagai bagian dari Ummat Muhammad Saw kita senantiasa membenci eksistensi itu sampai kembalinya hak-hak kaum Muslimin yang telah dirampas oleh Yahudi. Jika bukan kita, maka semangat ini akan kita wariskan ke anak-anak kita. Insya Allah.

Berapa banyak terjadi, kaum Muslimin menyimpan semangat Jihad di hatinya dalam masa yang panjang, sampai berganti-ganti generasi. Datangnya pertolongan Allah tergantung kehendak-Nya, kapanpun Dia menetapkan kemenangan itu tiba. Nabi Saw pernah mengisyaratkan bahwa kelak Konstantinopel akan jatuh ke tangan kaum Muslimin. Ternyata hal itu terjadi setelah waktu berlalu sekitar 600 tahun sejak Nabi Saw. Sebagian ulama menghukumi wajibnya Jihad Fi Sabilillah, sejak Andalusia jatuh ke tangan orang kafir, sampai ia kembali ke tangan kaum Muslimin. Pertanyaannya, kapankah Andalusia akan kembali ke tangan Ummat ini? Kita tidak tahu, tetapi di hati kita ada harapan itu.

Sebuah Renungan

Konflik Palestina-Israel bukanlah konflik dua negara itu. Ia adalah konflik dua ideologi besar, Islam Vs Yahudi. Bahkan ia adalah konflik abadi antara Hizbullah dan hizbus syaithan. Ia adalah konflik abadi antara Allah dan iblis. Ia adalah konflik abadi antara Tauhid dengan black satanic. Memandang masalah Palestina hanya dari sisi nasionalisme, jelas akan membuat kita kalah.

Adapun rakyat Palestina sifatnya hanya “ketempatan” konflik saja. Masalah utamanya bukan soal negara mereka, tetapi konflik abadi antara dua kutub: Golongan Allah melawan golongan iblis. Demi Allah, hanya membuang-buang energi saja kalau kita melihat masalah Palestina hanya dari sisi nasionalisme.

Oleh karena itu, untuk mewujudkan silsilah perjuangan ke depan –yang tentu akan memakan waktu panjang- kita harus mengembalikan masalah Palestina ini ke akar masalahnya, yaitu konflik abadi antara AHLUL HAQ dan Abdus Syaithon. Adapun posisi kaum Muslimin Palestina sendiri, hanya sekedar “ketempatan acara” saja. Dengan menarik masalah Palestina ke urusan-urusan nasionalisme, sama saja kita dengan mempercepat kemenangan Yahudi dan mematikan peluang Islam.

Tidak mengapa kita berdamai dengan Israel, jika dengan cara demikian kaum Muslimin Palestina mendapatkan kesempatan untuk hidup lebih aman dan bisa membangun diri sebaik mungkin. Lalu selanjutnya, masalah pendudukan Israel di Palestina harus dipandang sebagai masalah Ummat Islam sedunia. Jangan ia dilihat sebagai masalah nasionalisme bangsa Palestina sendiri.

Disini kita teringat dengan fatwa Syaikh Bin Baz rahimahullah beberapa tahun silam, saat beliau masih hidup. Waktu itu beliau tidak menolak perdamaian antara Islam dan Yahudi, dengan alasan Nabi Saw juga pernah berdamai dengan Yahudi. Fatwa ini ditentang habis-habisan oleh aktivis Islam, cendekiawan, dai, hingga para ulama kritis. Setelah masa berlalu lebih dari 10 tahunan, saya pribadi baru bisa memahami semangat fatwa Syaikh Bin Baz itu. Beliau berfatwa bukan untuk memutlakkan perdamaian antara Ummat Islam dengan Yahudi Israel, tetapi sekedar siasat untuk memberi kesempatan kaum Muslimin melakukan konsolidasi. Tidak mungkin Syaikh Bin Baz akan memandang Yahudi sebagai mitra perdamaian. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Itu sangat tidak mungkin.

Beliau pernah ditanya tentang pandangan seorang tokoh Muslim, bahwa perang kita dengan Yahudi bukan perang agama, melainkan hanya karena masalah perampasan tanah kaum Muslimin oleh Yahudi saja. Atas pernyataan itu, beliau menghukuminya sebagai pernyataan bathil. Beliau meyakinkan, bahwa perang kita dengan Yahudi adalah perang ideologi. Lalu beliau mengangkat sebuah ayat dari Surat Al Baqarah: “Sungguh kalian akan mendapati sebesar-besar permusuhan manusia terhadap orang-orang beriman, ialah (permusuhan) kaum Yahudi dan orang-orang musyrik.” (Al Maa’idah: 82).

Dan kenyataannya, di jaman modern ini Yahudi bukanlah kaum Ahli Kitab yang mematuhi ajaran-ajaran Taurat. Mereka adalah orang-orang durhaka, mengimani Talmud, dan menyembah Dajjal laknatullah. Yahudi hari ini adalah mitra koalisi kaum musyrikin di dunia. Yahudi memakai symbol-simbol paganisme Mesir untuk menyambut datangnya “Sang Messiah”, yaitu Dajjal laknatullah.

Jadi, perdamaian dengan Yahudi Israel bukanlah karena kita mengakui mereka, bekerjasama dengan mereka, atau melupakan kezhaliman mereka. Semua itu semata untuk memberi kesempatan kepada kaum Muslimin untuk membangun dirinya, meneguhkan kekuatannya, serta memandang perjuangan ke depan.

Jika dengan perdamaian, kaum Muslimin Palestina bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik, biarlah ia ditempuh. Tetapi tidak berarti Jihad melawan Israel akan berhenti. Jihad itu akan terus berlangsung sampai kaum Muslimin memerangi mereka, hingga batu dan pohon-pohon menolong Ummat untuk mengejar Yahudi. Kecuali pohon gharqad yang memang pohon kaum Yahudi. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

One Response to Prospek Konflik Palestina

  1. subektimardjono berkata:

    Terima kasih atas tulisan yang bermanfaat ini. saya ijin share bila diperbolehkan. jazak Allah khair.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: