Selamat IDUL FITHRI 1430 H.

September 13, 2009

Ikhwan wa Akhwat rahimakumullah.

Assalamu’alikum warahmatullah wabarakaatuh.

Berikut ini beberapa image sederhana sebagai buah rasa cinta, gembira, dan syukur menyambut hari yang mulia, ‘Idul Fithri 1430. Taqabbalallah minna wa minkum. Semoga Allah Ta’ala menerima amal-amal kami dan amal Anda semua. Allahumma amin.

'Iedun Mubarak. 'Iedun Sa'id. Kullu Sanatin Wa Antum Thaiyibun.

'Iedun Mubarak. 'Iedun Sa'id. Kullu Sanatin Wa Antum Thaiyibun.

Hari yang segar, dinamis, penuh berkah. Alhamdulillah.

Hari yang segar, dinamis, penuh berkah. Alhamdulillah.

Syukur mengingati segala nikmat Ar Rahmaan. Allahu Akbar Wa lillahil Hamdu.

Syukur mengingati segala nikmat Ar Rahmaan. Allahu Akbar Wa lillahil Hamdu.

Seuntai Kata Ucapan dari Kami. Taqabbalallah.

Seuntai Kata Ucapan dari Kami. Taqabbalallah.

Allahummaghfirlana warhamna wahdina wa 'afina wa'fu anna. Amin.

Allahummaghfirlana warhamna wahdina wa 'afina warzuqna. Amin.

Semoga yang sedikit ini berkenan di hati, berterima di jiwa. Mohon diampunkan atas semua salah dan khilaf, baik yang besar atau kecil, yang tampak atau tersembunyi, yang disadari atau tiada. Selamat bergembira di Hari Raya, Idul Fithri 1430 H. Bagi yang mudik atau shilaturahmi, mohon banyak bersabar. Kesabaran Anda hanya dalam hitungan jam, atau paling hari. Sementara di belakang Anda ada hari-hari kehidupan sepanjang tahun. Salam hormat dan kasih sayang untuk seluruh saudara Muslim.

Insya Allah, mulai Syawwal blog “Langit Biru Corner” akan mengupdate tulisan secara normal, sebulan sekali. Sekitar tanggal 20-an, kalender biasa. Mohon maaf  atas semua kekurangan diri. Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakaatuh.

Abu Muhammad Waskito dan Keluarga.

==> Isteri, Aisyah, M. Abdurrahman, Fathimah, Khadijah, M. Syakir <==


Risalah Ramadhan: “Islam dan Negara”

September 11, 2009

Alhamdulillahil A’la laa haula wa laa quwwata illa billah. Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuluh. Shalatan wa salaman ‘alaihi wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Kalau kita menyaksikan kondisi kaum Muslimin saat ini, maka disana kita jumpai begitu banyak masalah-masalah berat yang menimpa Ummat ini. Permasalahan itu seperti “benang kusut” yang sangat rumit, komplek, dan tidak jelas ujung-pangkalnya. Banyak orang membuat sintesa tentang solusi semua persoalan ini. Ada yang menyerukan, “Kita kembali kepada majelis ilmu dan kajian akidah.” Ada yang menyerukan, “Kita terjun ke dunia politik praktis.” Ada yang menyerukan, “Mari kita membangun ekonomi berbasis Syariah.” Ada pula yang menyeru, “Ummat membutuhkan media massa cerdas.” Begitu banyak seruan-seruan itu, sehingga Ummat seperti berada di persimpangan jalan. Dan setiap penyeru itu mengklaim jalan yang dipilihnya adalah cara terbaik yang harus ditempuh. Tidak lupa, mereka mengejek jalan yang lain, mengkritisi, atau menghinanya.

Disini kita akan mencoba merunut masalahnya, memahami pemikiran-pemikiran, memperhatikan realitas, melakukan diskusi, sampai menemukan kesimpulan akhir yang diharapkan. Insya Allah.

<>MASALAH KOMPLEK <>

Masalah yang dihadapi Ummat Islam saat ini, dalam skala Indonesia maupun dunia, amat sangat komplek, rumit, dan sulit menemukan ujung-pangkalnya. Di antara masalah-masalah itu adalah sebagai berikut:

Masalah Eksternal: Budaya Barat merajalela. Media massa Barat mendominasi. Tekanan politik negara-negara Barat membelenggu negara Muslim. Dominasi ekonomi negara atau lembaga kapitalis dunia. Merajalelanya sistem ekonomi ribawi. Penyusupan agen-agen asing. Provokasi agen asing untuk menciptakan perpecahan di Dunia Islam. Gerakan Kristenisasi. Gerakan Zionisme dan kekejaman Israel di Palestina. Invasi negara-negara Barat ke dunia Islam. Peredaran narkoba, miras, perjudian, pelacuran skala internasional. Penyebaran wabah-wabah penyakit berbahaya. Sistem pendidikan Barat yang menerapkan metode “cuci otak” terhadap pelajar-pelajar Muslim. Stigma terorisme dan penghancuran aset-aset Ummat karena tuduhan terorisme. Dan lain-lain.

Masalah Ineternal: Kebodohan Ummat dalam segala sisinya. Kemiskinan dan lemahnya ekonomi. Perpecahan antar jamaah, komunitas, organisasi, dan lembaga Islam. Perselisihan pendapat dalam berbagai macam masalah. Kerusakan moral, khususnya di kalangan generasi muda. Fenomena korupsi di lembaga-lembaga pemerintahan dan bisnis swasta. Aneka macam kasus kriminal dengan segala modusnya. Perasaan inferior (minder) sebagai Muslim. Pertentangan antara gerakan Islam dengan pemerintah-pemerintah berkuasa. Konflik politik internal. Bercokolnya ideologi-ideologi sekuler. Berkembangnya aliran-aliran sesat yang membahayakan agama. Lemahnya kualitas SDM. Minimnya perhatian terhadap kebutuhan informasi. Sikap materialisme masyarakat. Sikap phobia terhadap dakwah. Dan lain-lain.

Banyak sekali masalah yang kita hadapi, baik dari dalam maupun luar. Begitu banyaknya, sampai kita hampir putus-asa, “Bagaimana cara memperbaiki semua ini? Bisakah semua ini diperbaiki? Atau memang jaman sudah dekat Hari Kiamat, sehingga kita lebih baik menanti Imam Mahdi saja?” Padahal yang disampaikan di atas masih sebagian masalah, belum seluruhnya.

Kalau mencermati satu demi satu masalah itu, pasti kita akan keletihan. Waktu kita pasti habis untuk memikirkan semua masalah ini, sebelum ia berhasil diperbaiki. Akibatnya, kita akan putus-asa. Tetapi kalau kita mampu melihat INTI MASALAH-nya, insya Allah akan tumbuh optimisme dalam hati.

Lalu dimana inti masalah itu?

Saudaraku rahimakumullah jami’an. Apa yang Anda saksikan berupa beribu-ribu masalah yang menimpa Ummat ini, pada dasarnya semua itu adalah “MASALAH HILIR” belaka. Ia adalah masalah akibat, bukan pemicu dari semua masalah itu. Jadi, sejak semula telah ada “MASALAH HULU”, kemudian ia terus berkembang menimbulkan beribu-ribu “masalah hilir”. Ibarat aliran sungai, ketika di hulu sudah kotor, maka sampai ke hilir airnya semakin kotor.

Jadi, beribu-ribu masalah yang kita hadapai saat ini pada hakikatnya adalah AKIBAT dari suatu persoalan tertentu. Kalau Anda ingin menghabiskan waktu untuk memperbaiki satu demi satu masalah itu, sampai Hari Kiamat pun Anda tidak akan sanggup melakukannya. Jika air di hilir kotor, jangan habiskan energi Anda untuk menjernihkan air itu. Tetapi segeralah berangkat ke hulu, lalu perbaiki sumber masalah yang mengotori air disana.

Masalah ekonomi, media, pendidikan, kesehatan, hubungan sosial, pergaulan, budaya, keilmuwan, perselisihan pendapat, ibadah, syiar, dakwah, perjuangan, kepemimpinan, politik, keamanan, dan seterusnya; jika semua itu diselesaikan satu per satu, yakinlah sampai Hari Kiamat pun tidak akan selesai-selesai. Solusinya harus menyeluruh, integral, dan menukik ke inti masalahnya.

<> KUNCI SEGALA MASALAH<>

Dalam Islam ada sebuah urusan yang sangat besar pengaruhnya. Jika urusan itu baik, seluruh urusan lainnya akan baik. Jika urusan itu buruk, maka seluruh urusan akan ikut buruk. Ia adalah urusan PEMERINTAHAN.

Baik buruknya keadaan suatu negeri, tergantung SISTEM PEMERINTAHAN yang berlaku di negeri itu. Sistem pemerintahan meliputi: Kepemimpinan, UU, sistem manajemen, kinerja aparat (SDM), penegakan hukum, dan kebijakan politik. Jika di semua sisi urusan itu berlaku tata-nilai Islami, maka hasilnya adalah maslahat besar. Sebaliknya, jika di semua sisi urusan itu diterapkan tata nilai jahiliyyah (non Islami), maka akibatnya adalah kekacauan, penderitaan, dan kesengsaraan hidup yang meluas.

Jika suatu negeri menganut sistem Islami, itu berarti mereka telah menjernihkan air di hulu. Sehingga hasilnya mereka bisa berharap akan mendapati air jernih di hilir. Dengan menerapkan sistem jahiliyyah, maka sampai Hari Kiamat pun, jangan pernah berharap negeri itu akan hidup adil, makmur, damai, dan sentosa. Semua itu hanyalah omong kosong yang tidak ada wujudnya.

Lalu apa dalilnya, bahwa sistem Islami mutlak dibutuhkan suatu negara jika mereka menginginkan meraih kejayaan lahir-batin, dunia Akhirat?

Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang bisa menjelaskan hal itu. Di antaranya adalah ayat berikut ini: “Maka jika datang kepada kalian dari sisi-Ku berupa petunjuk, maka siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.” (Al Baqarah: 38). Dengan mengikuti petunjuk Allah Ta’ala (sistem Islami) secara konsisten, dijamin suatu negeri akan dibebaskan dari rasa takut dan kesedihan.

Maka ibadahilah Rabb (Pemilik) Rumah ini (Ka’bah), yaitu (Rabb) yang telah memberi makan mereka untuk menghilangkan kelaparan, dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Al Quraisy: 3-4). Dengan menyembah Allah, Dia akan menyempurnakan nikmat-Nya, dengan memberi manusia kecukupan pangan dan memberi mereka rasa aman dari marabahaya.

Dan siapa yang mencari selain Islam sebagai agamanya, maka tidak diterima (amal-amal) darinya, dan kelak di Akhirat dia termasuk orang yang merugi.” (Ali Imran: 85). Ayat ini tidak hanya bicara tentang pilihan agama seseorang, tetapi juga tentang pilihan sistem kehidupan yang dianut suatu bangsa. Bangsa yang memilih sistem non Islami, maka amal-amal penduduk negeri itu akan diangkat berakahnya. Akibatnya, setiap nikmat yang mereka peroleh tidak memberi kepuasan; sementara musibah dan bencana terus-menerus menimpa mereka.

Nabi Saw sendiri amat sangat menekankan, agar kaum Muslimin komitmen dengan sistem Islami seperti yang beliau contohkan, dan dicontohkan pula oleh para Khulafaur Rasyidin Ra. Dalam hadits yang terkenal dari ‘Irbath bin Sariyyah Ra, Nabi Saw bersabda: “Dan siapa yang masih hidup (dalam usia panjang) dari kalian, dia akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka cukuplah bagi kalian mengikuti Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat pimpinan (dari Allah Ta’ala). Gigitlah Sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Berhati-hatilah kalian dari segala urusan yang diada-adakan (bid’ah), sebab setiap bid’ah itu adalah kesesatan. “ (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi).

Sistem kehidupan yang dicontohkan Nabi adalah sistem Islami. Begitu pula dengan sistem yang dianut para Khulafaur Rasyidin Ra. Maka seharusnya Ummat Islam konsisten dan istiqamah dengan sistem ini. Bukan sebagaimana yang kita saksikan saat ini, ketika Ummat Islam menempuh sistem jahiliyyah, demokrasi, parlementer, nasionalisme, sekularisme, liberalisme, kapitalisme, dan sebagainya. Semua sistem semacam itu hanya membuat manusia SAKIT saja.

Selama ribuan tahun, sejak jaman Nabi Saw sampai tahun 1924 saat Khilafah Utsmaniyyah di Turki runtuh, kaum Muslimin tidak pernah sekali pun mengambil sistem jahiliyyah. Ummat berada di atas jalan Islam, meskipun kondisi mereka mengalami masa pasang-surut. Justru setelah era nasionalisme berlaku di dunia Islam, dan lenyapnya sistem Islami, kaum Muslimin hidup terlunta-lunta. Mereka seperti anak-anak ayam yang kehilangan induk. Bahkan ada yang menyebut, kondisi Ummat Islam seperti gelandangan yang tidak karuan nasibnya.

Baca entri selengkapnya »


Haruskan Menonjolkan Sentimen Etnis?

September 11, 2009

Alhamdulillah Rabbil ‘alamin, wasshalatu wassalamu ‘ala man laa nabiya ba’dahu, Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Dalam rangka memanfaatkan momen-momen berharga selama Ramadhan 1430 H ini dengan wawasan-wawasan penting, saya sengaja menurunkan beberapa artikel. Salah satunya adalah “Sentimen Anti Jawa” ini. Tidak berarti saya keluar dari komitmen semula. Tidak, hanya memanfaatkan momen Ramadhan dengan wawasan-wawasan yang mudah-mudahan bermanfaat, insya Allah. Niatnya, ingin merealisasikan Ramadhan sebagai Syahrut Tarbiyah.

Tulisan “Sentimen Anti Jawa” ini terinspirasi dari seorang teman. Katanya, akhir-akhir ini berkembang sentimen anti Jawa di forum-forum diskusi internet. Hal itu terjadi sejak meluasnya sikap anti Malaysia di masyarakat. Ya, kasus pencurian budaya, klaim pulau, penghinaan lagu kebangsaan, sampai video penyiksaan TKI oleh manusia-manusia berhati syaitan di Malaysia sana. Katanya, pelecehan martabat bangsa secara kasar oleh Malaysia tidak lepas dari para pemimpin Indonesia yang rata-rata dipegang oleh orang Jawa. Singkat kata, karena para pejabatnya orang Jawa, maka martabat Indonesia bisa dilecehkan oleh Malaysia.

Sebenarnya bukan saat ini saja saya mendengar sikap anti Jawa. Sebagian teman saya di Bandung pernah mengartikan kata Jawa dengan kata: “Jajah wilayah.” Seorang profesor di Bandung juga pernah mengusulkan, agar Bandung menjadi kota tertutup dari pendatang luar (termasuk etnis Jawa). Namun ide itu kemudian mendapat kecaman keras. Di masjid di komplek kami, ada mantan Ketua DKM yang anti terhadap para pendatang non Sundanese. Sepertinya, di mata orang itu, para pendatang menjadi sebab kesengsaraan warga pribumi.

Sejak lama saya juga mendengar, sebagian warga Aceh sangat anti orang Jawa. Hal itu terutama ketika belum ada perjanjian damai antara RI dan GAM. Mereka menyebut Jawa sebagai “penjajah”, bahkan dianggap “orang kafir”. Konon, waktu itu di Aceh, jika mereka mendapati seseorang ber-KTP Jawa, bernama Jawa, atau berlogat Jawa, darah pun akan ditumpahkan. Karena kesalahan kebijakan politik Soeharto Cs, kaum Muslimin berlatar-belakang Jawa memikul akibatnya. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Karena masalah ini sangat penting, disini saya coba membahasnya. Semua ini menjadi renungan bagi semua pihak.

Dalam Al Qur’an disebutkan, “Wahai manusia, sesungguhkan Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang wanita, dan Kami jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Tahu dan Maha Mengenal.” (Al Hujurat: 13).

Ayat di atas merupakan prinsip besar yang melandasi kehidupan setiap Muslim. Perbedaan suku atau etnis adalah masalah kodrati (sudah ditentukan oleh Allah). Ia merupakan Sunnatullah yang pasti terjadi dalam kehidupan ini. Sebagaimana pula Allah telah menciptakan hewan dan tumbuh-tumbuhan bermacam-macam, tidak hanya satu jenis saja. Maka Islam memberi panduan yang lurus; perbedaan tidak masalah, sebab hal itu sudah Sunnatullah. Sebaik-baik manusia, bukan dilihat dari aspek kesukuannya, tetapi TAQWA-nya.

Nabi Saw pernah mengatakan, bahwa orang Arab tidak lebih baik dari orang ‘Ajam (non Arab), melainkan karena takwanya. Begitu pula sebaliknya, orang ‘Ajam tidak lebih baik dari orang Arab, melainkan karena takwanya juga.

KASUS PELECEHAN MALAYSIA

Ya, semua pihak prihatin dengan sikap melecehkan yang dilakukan warga atau Pemerintah Malaysia terhadap martabat bangsa Indonesia. Hal itu tidak mencerminkan sikap negara jiran (tetangga) yang baik. Nabi Saw bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia memuliakan tetangganya.” Sikap buruk Malaysia tidak lepas dari kehidupan materialisme yang membuat mereka semakin sejahtera, semakin konsumtif, dan semakin rakus.

Indonesia pun, kalau memiliki kondisi ekonomi sebaik Malaysia saat ini, mungkin kita juga akan menerkam satu demi satu negara kecil di sekitarnya. Hanya karena Indonesia ini lemah, maka tidak mau mengganggu tetangga-tetangganya. Kehidupan sejahtera menjadi cita-cita perjuangan politik setiap bangsa. Tetapi kerap kali, kesejahteraan itu bukan membuat manusia makin mawas diri, tetapi semakin rakus materi. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Tetapi menjadi sangat mengherankan, ketika sikap lemah Pemerintah RI kepada Malaysia, hal itu dikaitkan dengan etnis Jawa. Lho, apa hubungannya? Apakah ada korelasi rasional antara keduanya?

Kalau mau jujur, Permadi yang berbicara meledak-ledak di TV mengecam sikap lembek Pemerintah dan mendorong agar Indonesia memutuskan hubungan dengan Malaysia. Dia orang Jawa. Soekarno yang dulu menyerukan gerakan Ganyang Malaysia juga orang Jawa. Perwira TNI yang bersuara keras ketika Malaysia mengklaim blok Ambalat, juga dari Jawa. Bahkan prajurit TNI yang diturunkan untuk operasi-operasi menjaga teritorial nasional, kebanyakan juga dari Jawa. Kok bisa etnis Jawa disalahkan dalam perkara seperti ini?

Kalau karakter SBY memang lembek, ya jangan menyalahkan orang Jawa. Itu salah Anda sendiri yang telah memilih SBY dalam Pilpres kemarin. Jujur saja, kami sekeluarga kemarin memilih JK-Wiranto. Bagi kami, mau orang Bugis, orang Aceh, Padang, Lombok, atau apapun, kalau memang qualified, kami akan mendukung. Sebaliknya, meskipun orang Jawa, kalau pro Amerika, ya harus ditolak. Anda lihat di TV, bagaimana seorang Sudjiwo Tedjo sangat mendukung Jusuf Kalla. Konon, dia selama ini selalu golput. Tapi saat ada pilihan Pak JK, dia mendukungnya. Sudjiwo Tedjo sampai bersumpah atas nama bundanya, Ibu Sulastri. (Meskipun, bersumpah atas nama selain Allah, itu termasuk sikap yang keliru). Dan menariknya, di luar Jawa, suara SBY menang mutlak. Hingga di Aceh saja, perolehan JK-Wiranto hanya sekitar 8 %. Padahal orang Aceh tahu jasa JK dalam perdamaian Aceh.

Kalau kemudian SBY bersikap begini dan begitu, ya itu sudah konsekuensi dari pilihan rakyat Indonesia sendiri, sejak Aceh sampai Papua. Hal ini tidak bisa dikaitkan dengan etnis Jawa. Cara berpikir seperti itu sangat picik. Lihatlah dengan mata jujur! Disana ada Prabowo Subianto yang bersuara keras tentang ekonomi Neolib. Beliau dari Jawa. Ada Pak Wiranto dan Hanura yang juga mengkritisi ekonomi liberal selama ini. Beliau juga orang Jawa.

Kalau ingin melihat etnis Jawa, jangan hanya melihat para koruptor. Tetapi lihat juga sosok Panglima Besar Jendral Soedirman dan Bung Tomo rahimahumallah yang sangat komitmen terhadap negara ini. Atau lihat juga sosok SM. Kartosoewiryo rahimahullah, seorang pemimpin Islam yang berani menyuarakan gerakan Negara Islam secara gentleman. Atau lihat sosok Ki Bagoes Hadikoesoemo rahimahullah, tokoh senior Muhammadiyyah. Beliau sampai akhir hayatnya selalu merindukan tegaknya Piagam Djakarta.

Dulu di jaman Orde Lama, beberapa pemimpin Masyumi mendapatkan teror dari PKI. Mereka lalu menyeberang ke Sumatera Barat untuk menyelamatkan diri. Kemudian mereka terlibat dengan PRRI. Keterlibatan elit-elit Masyumi itu, terutama Muhammad Natsir dan Syafruddin Prawiranegara, oleh Soekarno dianggap sebagai pengkhianatan besar. Akibatnya, Masyumi dibubarkan oleh Soekarno.

Waktu itu pimpinan Masyumi berada di tangan Bapak Prawoto Mangkoesasmito rahimahullah. Beliau menolak pembubaran Masyumi karena alasan PRRI. Secara resmi waktu itu Masyumi mengecam gerakan PRRI di Bukit Tinggi. Tetapi Soekarno meminta supaya Masyumi mengutuk pemimpin-pemimpinnya yang terlibat PRRI. Maka jawaban Bapak Prawoto kepada Soekarno sangat tegas, “Sebelum kami mengutuk mereka, kami terlebih dulu akan mengutuk Bapak (Soekarno)!” Nah, ini salah satu tipikal pemimpin santri Jawa yang layak dikenang. Padahal waktu itu, nama besar Soekarno sangat disegani semua orang.

Almarhum KH. AR. Fachruddin, tokoh Muhammadiyyah Yogya. Tahun 80-an Soeharto memaksakan agar semua organisasi, termasuk ormas Islam, menjadikan Pancasila sebagai Azas Tunggal. Pak AR. Fachruddin sebagai Ketua Umum Muhammadiyyah dipanggil oleh Soeharto untuk diajak bicara. Soeharto mengancam akan membubarkan organisasi apa saja yang tidak mau menjadikan Pancasila sebagai azasnya. Maka Pak AR tidak kalah sengit dalam merespon tekanan Soeharto. Beliau mengecam Soeharto, “Tetapi Bapak tidak bermaksud membubarkan Islam kan?” Setelah itu beliau pamitan meninggalkan Soeharto. Mana ada di jaman itu orang yang berani bersikap tegas kepada seorang Soeharto?

Adalah sangat tidak adil mengukur sesuatu dengan parameter keetnisan. Sama seperti Ruhut Sitompul ketika beberapa waktu lalu melecehkan etnis Arab. Atau ekstremnya, seperti Yahudi yang menganggap manusia selain Yahudi sebagai Ghayim (Gentiles). Semua orang Ghayim di mata Yahudi dihalalkan segala-galanya. Dan tidak adil pula, ketika menilai etnis itu hanya dari sisi buruknya, tidak dilihat sisi baiknya. Sebab di dunia ini, setiap etnis pasti ada sisi baik dan buruknya. Tidak ada satu pun etnis yang merasa suci dari kesalahan, melainkan ia pasti SESAT.

Baca entri selengkapnya »


Gempa Dahsyat dan Shaum Ummat

September 3, 2009

Sore hari, 2 September 2009, sekitar jam 14.50 WIB, terjadi guncangan gempa dahsyat di Tasikmalaya, Jawa Barat, dan Jakarta. Kami merasakan benar kuatnya guncangan gempa ini. Antara panik, takut, dan bertakbir menyebut Asma Allah campur aduk jadi satu. Orang-orang satu gang langsung keluar rumah, menyelamatkan diri. Mereka juga bertakbir, istighfar, dan bertasbih menyebut Asma Allah.

Kuat sekali guncangannya. Saat saya sedang mengetik di komputer, guncangan gempa sangat kuat. Seketika saya berdiri dan bertakbir dalam keadaan panik. Selama tinggal di Bandung, inilah gempa paling besar dan lama yang kami rasakan. Ketika gempa pertama mereda, beberapa lama situasi tenang kembali, tapi kemudian gempa kembali. Dengan bergegas saya gendong Syakir dan membawanya keluar rumah. Masya Allah, saya terlupa kalau Fathimah, anak kami yang masih SD, sedang tertidur lelap di kamar tidur. Ada sesalan di hati, mengapa saya lupa dengan Fathimah? Baru setelah masuk rumah kembali, saya lihat dia sedang terlelap dalam tidurnya. Mungkin hal ini terjadi karena begitu paniknya. Alhamdulillah, Allah tidak merobohkan rumah kami dengan gempa ini. Alhamdulillah, alhamdulillah wa syukru lillah bi kulli ni’matih.

Gempa Tasikmalaya ini mengandung hikmah yang sangat dalam, antara lain:

[o] Guncangan gempa dirasakan dalam radius ratusan kilometer, sampai Jakarta, Cirebon, Tegal, Yogya, bahkan katanya dirasakan sampai Bali. Semua orang di kawasan Jawa Barat dan Jakarta merasakan efek guncangan yang sama. Sama-sama kuat dan paniknya.

[o] Saat gempa itu terjadi, rasanya semua makar manusia-manusia keji tidak ada artinya. Hanya dengan digoyang sedikit saja, semuanya ketakutan dan panik. Inilah salah satu tanda ketika Allah menampakkan sedikit saja dari Kekuatan-Nya. Agen-agen NEOLIB, Freemasonry, para penjual negara, agen westernisasi, dll. mereka bisa membuat makar apa saja untuk menghancurkan kehidupan rakyat Indonesia. Tetapi dengan “sentilan” bencana sedikit saja, semua orang ketakutan, gelisah, menyelamatkan diri.

[o] Gempa terjadi dalam jarak sekitar 140 km dari pantai, barat daya Tasikmalaya. Kekuatan lebih besar dari gempa Yogya, 7,3 skala richter. Andai pusat gempa terjadi di pantai, atau di daratan, tidak terbayangkan sampai seberapa besar kehancurannya? Jakarta bisa hancur total, sehingga Indonesia bangkrut, terus NKRI pun hancur berantakan, karena pusat kekuatan Indonesia ada di Jakarta.

[o] Jutaan manusia di Jawa Barat dan Jakarta telah “diberi rasa” oleh Allah, berupa rasa takut, gelisah, dan panik. Tetapi mereka sendiri belum menjadi korban gempa, kecuali sedikit sekali. Ya lumayanlah, biar masyarakat sedikit ingat, bahwa mereka tidak boleh menyembah hedonisme di TV, atau menganggap TV sebagai jalan hidup dan agama. Tetapi mereka setiap hari harus beribadah kepada-Nya.

[o] Andaikan gempa terjadi di luar Ramadhan, saat manusia Indonesia sedang ramai bermandi maksiyat, bermandi kedurhakaan, mengabdi kekafiran, dan membela para pengkhianat pendosa, tentulah Jawa Barat dan Jakarta akan habis disikat gempa ini. Alhamdulillah, gempa terjadi di bulan Ramadhan. Puasa orang-orang Muslim, meskipun puasanya hanya ikut-ikutan atau sekedar ikut tradisi, alhamdulillah puasa kita semua telah menahan gempuran mengerikan dari gempa ini. Alhamdulillahil Karim.

Ketika gempa terjadi di kawasan Jawa Barat dan DKI Jakarta (mungkin termasuk juga Banten), hal ini adalah ancaman besar bagi eksistensi Indonesia. Sebab pusat kekuatan negeri ini memang Jakarta. 70 % bisnis ada di Jakarta. Sementara Jawa Barat adalah penyangga Jakarta. Jika kedua daerah ini hancur, alamat Indonesia hancur juga.

Kok Allah begitu “kejam” ingin menghancurkan Indonesia?

Ya, bagaimana tidak akan dihancurkan. Coba perhatikan dua hal di bawah ini:

SATU: Terjadi teror bom di JW Marriott dan Ritz Carlton, lalu tuduhan dialamatkan ke Ummat Islam. Pesantren, Ngruki, mantan Mujahidin Afghan, Jamaah Islamiyyah (yang tidak ada wujudnya), pendukung Negara Islam, paham Wahhabi, orang bersorban, orang berjanggut, orang celana cingkrang, wanita bercadar, dll. Ini semua kan serangan dahsyat ke Ummat Islam. Malah, seorang perwira polisi hampir saja memaklumlah “perang” melawan dakwah Islam dengan siap menangkapi para dai. Ya Ilahi ya Rahman. Siapa yang berbuat, siapa yang harus menanggung akibat? Ini fitnah sangat dahsyat. Bahkan seorang kepala negara telah memberi contoh cara memfitnah lawan-lawan politik, yang mengatakan aksi teror bom itu terkait dengan hasil Pilpres.

DUA: Lihat kasus Bank Century. DPR setuju bank itu disuntik dana 1,3 triliun, tetapi Menteri Keuangan Sri Mulyani didukung oleh Bank Indonesia, malah mencairkan dana suntikan 6,7 triliun rupiah. Ya Allah, dagelan apa ini? Apa Menteri Keuangan dan pejabat BI tidak bisa menghitung uang ya? Masak tidak bisa membedakan antara jumlah 1,3 triliun dengan 6,7 triliun? Mungkin karena SBY sudah menang secara total, mereka yakin banget rakyat Indonesia bisa dibodoh-bodohi. Mereka yakin bahwa rakyat Indonesia tidak bisa membedakan uang 1,3 triliun dengan 6,7 triliun. Bisa jadi mereka sesumbar, “Hayo siapa yang mau melawan kami? Kalau macem-macem, kami akan panggil Densus 88 agar mengejar orang itu sebagai pelaku terorisme.”

Dalam dua kasus ini sudah sangat telanjang BETAPA DURHAKA elit-elit pemimpin di negeri ini. Rasa keimanan sudah tidak tampak lagi. Yang ada hanyalah permusuhan total kepada elemen-elemen Islam, dan memporak-porandakan ekonomi nasional sesuka hatinya.

Atas semua itu, ya wajar kalau Jawa Barat dan Jakarta akan dihancurkan. Mungkin suatu saat, kalau semua kedurhakaan ini tidak segera diperbaiki dan ditaubati, bukan mustahil episentrum gempa suatu saat akan muncul di Cikeas, Bogor. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Lalu bagaimana sikap rakyat Indonesia kemudian?

Kalau melihat yang sudah-sudah, biasanya masyarakat akan sadar sebentar, istighfar sebentar, taubat sebentar. Setelah seminggu dua minggu, mereka juga akan HEDONIS lagi. Mereka akan lagi menyembah TV, menyembah vokalis band, menyembah konser-konser, menyembah selebritis, menyembah tontonan bola, menyembah media pornografi, penipuan bisnis, menipu timbangan, korupsi lagi, berzina lagi, melacur lagi, berjudi lagi, narkoba lagi, dll. Tidak lupa, mereka juga akan menjelek-jelekkan Islam, menuduh teroris sesuka hati, membenci aktivitas masjid, membenci kaum santri, membenci dakwah Islam, dan seterusnya.

Bukan aku berharap kenyataan buruk itu akan terus terulang. Tapi betapa miskinnya masyarakat ini dengan sikap kritis, dan betapa mereka telah mengagung-agungkan hiburan TV. Nah, semua itu membuat mereka tumpul, tidak peka, mudah dibodoh-bodohi. Kenyataan seperti ini bukan sekali dua kali terjadi.

Bahkan, sejujurnya yang saya takutkan, gempa Tasikmalaya ini hanya merupakan “DP” sebelum “paket sebenarnya” datang untuk meremukkan kehidupan seremuk-remuknya. Na’udzubillah min dzalik.

‘Ala kulli haal, janganlah kita lemah dan berputus-asa. Allah Ta’ala tidak akan mengecewakan orang-orang beriman. Allah akan menyelamatkan hamba-hamba-Nya yang tetap istiqamah membela agama dan menerangi Ummat Muhammad Saw dengan kebaikan. Alhamdulillah Rabbil ‘alamin.

Ya Allah, aku takut, aku panik saat gempa itu…sampai aku lupa bahwa anakku masih tertidur lelap di tempat tidur. Dia tidur untuk melawan rasa lapar karena memenuhi perintah-Mu melaksanakan shaum di bulan Ramadhan.  Ya Allah ampuni diriku dan ampuni saudara-saudaraku kaum Muslimin di negeri ini. Perbaikilah hidup kami, perbaikilah zhahir bathin kami, agar Engkau tidak memurkai kami. Amin Allahumma amin.

Wallahu A’lam bisshawaab.

== AMW ==


Informasi Penting Soal Terorisme

September 3, 2009

Beberapa waktu lalu MetroTV membuat berita yang menarik. Menurut investigasi tim MetroTV, semakin tidak terbantahkan bahwa teror bom JW Marriot dan Ritz Carlton didanai oleh luar negeri, yaitu pendana dari Arab Saudi. Tokoh kuncinya adalah sosok Ali Muhammad yang saat ini ditangkap polisi. Ali Muhammad terbukti secara valid berhubungan dengan Syaifuddin Jaelani, seseorang yang disebut-sebut merekrut Dani, pelaku peledakan di JW Marriott. Disana dijelaskan aliran dana dari Saudi secara bertahap, lewat rekening BCA milik Syaifuddin Jailani.

Dalam hati kecil, saya tetap tidak yakin dengan terorisme ini. Semua ini hanya palsu, buat-buatan, hanya sekedar opini untuk merusak pikiran masyarakat dengan berita-berita dusta. Itu keyakinan saya. Saya sangat setuju dengan pandangan mantan Kepala Bakin, Dr. AC Manulang. Saat beliau ditanya tentang Usamah bin Ladin dan Al Qa’idah, beliau menganggap keduanya itu tidak ada artinya. Hanya semacam pion-pion kapitalisme Barat untuk memerangi Dunia Islam yang memiliki potensi kekayaan dan energi sangat besar.

Saat mendengar paparan MetroTV, saya agak berkerut kening juga. Tapi saya tetap yakin, elit-elit Al Qa’idah itu telah melakukan kolaborasi dengan kapitalis-kapitalis Barat. Dan masya Allah, berita yang dimuat Republika, 2 September 2009, berjudul Ubah Pemberantasan Terorisme, memberi secercah titik-terang.

Singkat kata, Kapolri melakukan rapat dengar pendapat dengan anggota DPR. Dalam rapat itu ada seorang anggota DPR yang mengkritisi sosok Ali Muhammad. Katanya, dia adalah double agent (agen ganda). Satu sisi, dia disebut sebagai penghubung Al Qa’idah, tetapi di sisi lain dia adalah anggota Angkatan Darat Amerika.

Berikut ini petikan beritanya, dari Republika.co.id:

Anggota Komisi I DPR, Abdillah Toha, mempertanyakan penangkapan salah satu tersangka teroris bernama Ali Mohamed yang dilakukan oleh Polri belum lama ini. Abdillah meminta penjelasan kepada Kapolri, apakah seorang bernama Ali yang ditangkap adalah benar anggota jaringan Alqaidah.

Soalnya saya memiliki informasi Ali Mohamed adalah agen ganda,” kata Abdillah.

Berdasarkan sumber-sumber informasi yang dirangkumnya dari media massa internasional, seperti New York Times, terang Abdillah, Ali Mohammed bukanlah warga negara Arab Saudi. Duta Besar Arab Saudi di Indonesia juga telah membantah Ali yang ditangkap Polri berkewarganegaraan Arab Saudi.

Abdillah menyebutkan, Ali adalah warga negara Mesir dan kini telah menjadi warga negara Amerika Serikat (AS). “Dia bahkan telah menjadi salah satu anggota Angkatan Darat AS.”

Karena kesimpangsiuran informasi ini, Abdillah meminta penjelasan kepada Kapolri dalam rapat dengar pendapat dengan DPR. Kapolri diminta menjelaskan, apakah Ali Mohamed yang ditangkap di Garut, Jawa Barat, adalah anggota jaringan Alqaidah atau agen ganda yang dimaksud Abdillah.

Ketika dimintai konfirmasi, Kapolri kembali menyatakan belum mau menerangkan penangkapan terhadap Ali. Dia menegaskan, tidak mau bertindak gegabah dengan langsung mengaitkan Ali dengan jaringan Alqaidah. “Nanti akan kami beri penjelasan resmi,” kata Bambang.

Fakta ini diperkuat informasi yang pernah disampaikan oleh Ketua PB Muhammadiyyah, Prof. Din Syamsuddin. Beliau pernah mengatakan, bahwa beberapa lama sebelum terjadi bom di hotel JW Marriott, disana berkumpul banyak agen-agen CIA. Dan mereka telah bersih meninggalkan hotel itu, ketika teror bom terjadi.

Masalahnya, pemuda-pemuda Islam yang sangat bersemangat itu, mereka tidak tahu kalau SUDAH DITIPU mentah-mentah oleh elit-elitnya. Elit Al Qa’idah di atas permukaan seperti sangat membenci Amerika, tetapi dalam kenyataannya mereka satu kepentingan. Apalagi kalau ingat sejarah masuknya Usamah bin Ladin ke Afghanistan. Dia masuk bareng dengan infiltrasi  CIA yang sangat kuat ke barisan Mujahidin Afghan. Pertanyaannya, masak sih antara Usamah dan CIA tidak bersinggungan? Wong, mereka tadinya saling kerjasama dalam melawan Komunis Soviet di kamp-kamp pelatihan Mujahidin di Peshawar Pakistan. Istilah Al Qa’idah itu sendiri kan munculnya dari istilah kamp-kamp itu.

Saya nasehatkan, saudara-saudara pemuda Islam yang sangat semangat dengan Jihad. Janganlah Anda tertipu oleh ulah konyol dagelan-dagelan kapitalis yang nyaru menjadi “syaikh mujahid” itu. Sadarlah kawan, berjuanglah di jalur yang lurus, jangan mau ditipu orang-orang jahat itu.

Wallahu A’lam bisshawaab.

== Pengamat ==