Haruskan Menonjolkan Sentimen Etnis?

Alhamdulillah Rabbil ‘alamin, wasshalatu wassalamu ‘ala man laa nabiya ba’dahu, Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Dalam rangka memanfaatkan momen-momen berharga selama Ramadhan 1430 H ini dengan wawasan-wawasan penting, saya sengaja menurunkan beberapa artikel. Salah satunya adalah “Sentimen Anti Jawa” ini. Tidak berarti saya keluar dari komitmen semula. Tidak, hanya memanfaatkan momen Ramadhan dengan wawasan-wawasan yang mudah-mudahan bermanfaat, insya Allah. Niatnya, ingin merealisasikan Ramadhan sebagai Syahrut Tarbiyah.

Tulisan “Sentimen Anti Jawa” ini terinspirasi dari seorang teman. Katanya, akhir-akhir ini berkembang sentimen anti Jawa di forum-forum diskusi internet. Hal itu terjadi sejak meluasnya sikap anti Malaysia di masyarakat. Ya, kasus pencurian budaya, klaim pulau, penghinaan lagu kebangsaan, sampai video penyiksaan TKI oleh manusia-manusia berhati syaitan di Malaysia sana. Katanya, pelecehan martabat bangsa secara kasar oleh Malaysia tidak lepas dari para pemimpin Indonesia yang rata-rata dipegang oleh orang Jawa. Singkat kata, karena para pejabatnya orang Jawa, maka martabat Indonesia bisa dilecehkan oleh Malaysia.

Sebenarnya bukan saat ini saja saya mendengar sikap anti Jawa. Sebagian teman saya di Bandung pernah mengartikan kata Jawa dengan kata: “Jajah wilayah.” Seorang profesor di Bandung juga pernah mengusulkan, agar Bandung menjadi kota tertutup dari pendatang luar (termasuk etnis Jawa). Namun ide itu kemudian mendapat kecaman keras. Di masjid di komplek kami, ada mantan Ketua DKM yang anti terhadap para pendatang non Sundanese. Sepertinya, di mata orang itu, para pendatang menjadi sebab kesengsaraan warga pribumi.

Sejak lama saya juga mendengar, sebagian warga Aceh sangat anti orang Jawa. Hal itu terutama ketika belum ada perjanjian damai antara RI dan GAM. Mereka menyebut Jawa sebagai “penjajah”, bahkan dianggap “orang kafir”. Konon, waktu itu di Aceh, jika mereka mendapati seseorang ber-KTP Jawa, bernama Jawa, atau berlogat Jawa, darah pun akan ditumpahkan. Karena kesalahan kebijakan politik Soeharto Cs, kaum Muslimin berlatar-belakang Jawa memikul akibatnya. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Karena masalah ini sangat penting, disini saya coba membahasnya. Semua ini menjadi renungan bagi semua pihak.

Dalam Al Qur’an disebutkan, “Wahai manusia, sesungguhkan Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang wanita, dan Kami jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Tahu dan Maha Mengenal.” (Al Hujurat: 13).

Ayat di atas merupakan prinsip besar yang melandasi kehidupan setiap Muslim. Perbedaan suku atau etnis adalah masalah kodrati (sudah ditentukan oleh Allah). Ia merupakan Sunnatullah yang pasti terjadi dalam kehidupan ini. Sebagaimana pula Allah telah menciptakan hewan dan tumbuh-tumbuhan bermacam-macam, tidak hanya satu jenis saja. Maka Islam memberi panduan yang lurus; perbedaan tidak masalah, sebab hal itu sudah Sunnatullah. Sebaik-baik manusia, bukan dilihat dari aspek kesukuannya, tetapi TAQWA-nya.

Nabi Saw pernah mengatakan, bahwa orang Arab tidak lebih baik dari orang ‘Ajam (non Arab), melainkan karena takwanya. Begitu pula sebaliknya, orang ‘Ajam tidak lebih baik dari orang Arab, melainkan karena takwanya juga.

KASUS PELECEHAN MALAYSIA

Ya, semua pihak prihatin dengan sikap melecehkan yang dilakukan warga atau Pemerintah Malaysia terhadap martabat bangsa Indonesia. Hal itu tidak mencerminkan sikap negara jiran (tetangga) yang baik. Nabi Saw bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah dia memuliakan tetangganya.” Sikap buruk Malaysia tidak lepas dari kehidupan materialisme yang membuat mereka semakin sejahtera, semakin konsumtif, dan semakin rakus.

Indonesia pun, kalau memiliki kondisi ekonomi sebaik Malaysia saat ini, mungkin kita juga akan menerkam satu demi satu negara kecil di sekitarnya. Hanya karena Indonesia ini lemah, maka tidak mau mengganggu tetangga-tetangganya. Kehidupan sejahtera menjadi cita-cita perjuangan politik setiap bangsa. Tetapi kerap kali, kesejahteraan itu bukan membuat manusia makin mawas diri, tetapi semakin rakus materi. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Tetapi menjadi sangat mengherankan, ketika sikap lemah Pemerintah RI kepada Malaysia, hal itu dikaitkan dengan etnis Jawa. Lho, apa hubungannya? Apakah ada korelasi rasional antara keduanya?

Kalau mau jujur, Permadi yang berbicara meledak-ledak di TV mengecam sikap lembek Pemerintah dan mendorong agar Indonesia memutuskan hubungan dengan Malaysia. Dia orang Jawa. Soekarno yang dulu menyerukan gerakan Ganyang Malaysia juga orang Jawa. Perwira TNI yang bersuara keras ketika Malaysia mengklaim blok Ambalat, juga dari Jawa. Bahkan prajurit TNI yang diturunkan untuk operasi-operasi menjaga teritorial nasional, kebanyakan juga dari Jawa. Kok bisa etnis Jawa disalahkan dalam perkara seperti ini?

Kalau karakter SBY memang lembek, ya jangan menyalahkan orang Jawa. Itu salah Anda sendiri yang telah memilih SBY dalam Pilpres kemarin. Jujur saja, kami sekeluarga kemarin memilih JK-Wiranto. Bagi kami, mau orang Bugis, orang Aceh, Padang, Lombok, atau apapun, kalau memang qualified, kami akan mendukung. Sebaliknya, meskipun orang Jawa, kalau pro Amerika, ya harus ditolak. Anda lihat di TV, bagaimana seorang Sudjiwo Tedjo sangat mendukung Jusuf Kalla. Konon, dia selama ini selalu golput. Tapi saat ada pilihan Pak JK, dia mendukungnya. Sudjiwo Tedjo sampai bersumpah atas nama bundanya, Ibu Sulastri. (Meskipun, bersumpah atas nama selain Allah, itu termasuk sikap yang keliru). Dan menariknya, di luar Jawa, suara SBY menang mutlak. Hingga di Aceh saja, perolehan JK-Wiranto hanya sekitar 8 %. Padahal orang Aceh tahu jasa JK dalam perdamaian Aceh.

Kalau kemudian SBY bersikap begini dan begitu, ya itu sudah konsekuensi dari pilihan rakyat Indonesia sendiri, sejak Aceh sampai Papua. Hal ini tidak bisa dikaitkan dengan etnis Jawa. Cara berpikir seperti itu sangat picik. Lihatlah dengan mata jujur! Disana ada Prabowo Subianto yang bersuara keras tentang ekonomi Neolib. Beliau dari Jawa. Ada Pak Wiranto dan Hanura yang juga mengkritisi ekonomi liberal selama ini. Beliau juga orang Jawa.

Kalau ingin melihat etnis Jawa, jangan hanya melihat para koruptor. Tetapi lihat juga sosok Panglima Besar Jendral Soedirman dan Bung Tomo rahimahumallah yang sangat komitmen terhadap negara ini. Atau lihat juga sosok SM. Kartosoewiryo rahimahullah, seorang pemimpin Islam yang berani menyuarakan gerakan Negara Islam secara gentleman. Atau lihat sosok Ki Bagoes Hadikoesoemo rahimahullah, tokoh senior Muhammadiyyah. Beliau sampai akhir hayatnya selalu merindukan tegaknya Piagam Djakarta.

Dulu di jaman Orde Lama, beberapa pemimpin Masyumi mendapatkan teror dari PKI. Mereka lalu menyeberang ke Sumatera Barat untuk menyelamatkan diri. Kemudian mereka terlibat dengan PRRI. Keterlibatan elit-elit Masyumi itu, terutama Muhammad Natsir dan Syafruddin Prawiranegara, oleh Soekarno dianggap sebagai pengkhianatan besar. Akibatnya, Masyumi dibubarkan oleh Soekarno.

Waktu itu pimpinan Masyumi berada di tangan Bapak Prawoto Mangkoesasmito rahimahullah. Beliau menolak pembubaran Masyumi karena alasan PRRI. Secara resmi waktu itu Masyumi mengecam gerakan PRRI di Bukit Tinggi. Tetapi Soekarno meminta supaya Masyumi mengutuk pemimpin-pemimpinnya yang terlibat PRRI. Maka jawaban Bapak Prawoto kepada Soekarno sangat tegas, “Sebelum kami mengutuk mereka, kami terlebih dulu akan mengutuk Bapak (Soekarno)!” Nah, ini salah satu tipikal pemimpin santri Jawa yang layak dikenang. Padahal waktu itu, nama besar Soekarno sangat disegani semua orang.

Almarhum KH. AR. Fachruddin, tokoh Muhammadiyyah Yogya. Tahun 80-an Soeharto memaksakan agar semua organisasi, termasuk ormas Islam, menjadikan Pancasila sebagai Azas Tunggal. Pak AR. Fachruddin sebagai Ketua Umum Muhammadiyyah dipanggil oleh Soeharto untuk diajak bicara. Soeharto mengancam akan membubarkan organisasi apa saja yang tidak mau menjadikan Pancasila sebagai azasnya. Maka Pak AR tidak kalah sengit dalam merespon tekanan Soeharto. Beliau mengecam Soeharto, “Tetapi Bapak tidak bermaksud membubarkan Islam kan?” Setelah itu beliau pamitan meninggalkan Soeharto. Mana ada di jaman itu orang yang berani bersikap tegas kepada seorang Soeharto?

Adalah sangat tidak adil mengukur sesuatu dengan parameter keetnisan. Sama seperti Ruhut Sitompul ketika beberapa waktu lalu melecehkan etnis Arab. Atau ekstremnya, seperti Yahudi yang menganggap manusia selain Yahudi sebagai Ghayim (Gentiles). Semua orang Ghayim di mata Yahudi dihalalkan segala-galanya. Dan tidak adil pula, ketika menilai etnis itu hanya dari sisi buruknya, tidak dilihat sisi baiknya. Sebab di dunia ini, setiap etnis pasti ada sisi baik dan buruknya. Tidak ada satu pun etnis yang merasa suci dari kesalahan, melainkan ia pasti SESAT.

KEBENCIAN DI ACEH

Sebagian orang menyebut masyarakat Jawa sebagai penjajah. Salah satunya adalah warga Aceh. Meskipun tidak semua bersikap demikian. Sebelum perjanjian damai di Swedia, GAM memperlakukan orang Jawa dengan hukuman “halal darah”. Kalau mereka melakukan sweeping di jalan dan menemukan orang Jawa, dijamin orang itu tidak akan selamat di tangan GAM.

Sikap ekstrem itu tidak lain karena Pemerintah Soeharto pernah menerapkan status DOM di Aceh. Salah satu operasinya dengan menerjunkan prajurit-prajurit Kopassus. Selama operasi DOM banyak sekali warga Aceh yang menjadi korban. Bukan hanya aktivis GAM, tetapi juga wanita, orangtua, dan siapa saja yang dianggap terlibat GAM. Majalah Sabili pernah menurunkan foto-foto korban kekejaman operasi DOM. Sangat sangat mengerikan. Kalau dalam Islam, kita dilarang menganiaya binatang. Tetapi dalam operasi DOM itu, sebagian Muslim Aceh dijadikan bulan-bulanan oleh militer. Kita disana seperti menyaksikan kekejaman genosida terhadap sesama anak bangsa, terhadap kaum Muslimin.

Kebetulan, sebagian besar prajurit TNI yang diterjunkan ke Aceh adalah orang Jawa, khususnya dari Kodam Diponegoro Jawa Tengah. Mereka sehari-hari berbahasa Jawa. Maka warga Aceh pun dengan mudah menyimpulkan, bahwa orang Jawa itu kejam, penjajah, bahkan dianggap kafir.

Bukannya bermaksud menggurui, atau tidak empati dengan penderitan korban-korban operasi DOM di Aceh, tetapi kita harus bersikap adil dalam segala sesuatu. Disini ada beberapa kenyataan yang perlu direnungkan:

[1] Operasi DOM pada tahun 1988 sampai 1998 (10 tahun), digelar oleh Soeharto karena permintaan Gubernur Aceh waktu itu yang sekaligus putra daerah Aceh sendiri, Prof. Ibrahim Hasan. Beliau mantan Rektor Universitas Syah Kuala. Operasi itu atas rekomendasi Ibrahim Hasan sendiri. Di Aceh pernah terjadi penembakan sporadis oleh sebagian aktivis GAM. Lalu Ibrahim Hasan melapor ke Jakarta dan meminta diterjunkan pasukan TNI ke Aceh.

[2] Prajurit TNI, dari manapun asalnya, mereka melakukan operasi militer karena perintah atasan. Tidak ada prajurit militer yang melakukan aksi sendiri-sendiri, kecuali anggota desertir atau pelaku kriminal. Hanya saja dalam operasi DOM itu, tampaknya sebagian prajurit TNI bersikap melampaui batas. Mereka melakukan operasi melebihi kewajibannya. Disana banyak kasus-kasus kekejaman di luar batas kemanusiaan terhadap sesama anak bangsa.

[3] Kondisi TNI tidak lepas dari kecenderungan perwira-perwira yang sedang menjadi pejabat tinggi di tubuh TNI. Harus diakui, saat pemberlakuan status DOM itu, pejabat-pejabat TNI banyak didominasi oleh kalangan LB. Moerdani Cs. Mereka terkenal sikap kerasnya kepada Ummat Islam. Salah satu contohnya adalah Kasus Tanjung Priok pada tahun 1984.

[4] Tahun 1998 Presiden BJ. Habibie dating ke Aceh dan secara resmi membubarkan DOM. Beliau juga mewakili negara meminta maaf kepada rakyat Aceh atas kebijakan DOM tersebut. Permintaan maaf Presiden Habibie tersebut memiliki makna, Pemerintah Jakarta mengakui kesalahan penerapan kebijakan militer dan tentu siap bertanggung-jawab untuk memulihkan keadaan.

[5] Operasi DOM sangat tertutup. Akses media sangat terbatas untuk mengetahui kenyataan seputar operasi itu. Kalangan Islam di Jawa tidak banyak tahu. Baru tahu setelah era keterbukaan Reformasi. Andai kalangan Islam tahu, tentu sejak awal mereka akan berusaha menekan Pemerintah RI agar membatalkan operasi DOM. Kita hanya tahu di Aceh sedang diterapkan DOM dalam rangka memberantas potensi separatisme GAM. Tetapi bagaimana keadaan operasi itu tidak banyak yang tahu. Baru setelah Reformasi kita dikecutkan oleh gambar-gambar korban operasi DOM yang sangat mengerikan. Disana telah terjadi kezhaliman besar terhadap Muslim Aceh, melebihi kekejaman di Tanjung Priok tahun 1984. Di Aceh, sesama anak bangsa diperlakukan seperti orang-orang jajahan yang dihalalkan darah dan kehormatannya. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

[6] Andaikan para prajurit TNI yang terlibat dalam DOM dan aneka kekejaman lainnya di Aceh, mereka terbukti dari Jawa. Apakah dengan kenyataan itu, lalu etnis Jawa secara keseluruhan layak disalahkan? Berapa jumlah prajurit TNI yang terlibat disana dan berapa pula jumlah orang Jawa? Apakah sikap prajurit TNI di Aceh mewakili suara masyarakat Jawa? Seharusnya hal ini dipikirkan masak-masak. Jangan karena kekejaman sebagian orang, lalu akibatnya ditanggung semua orang yang sama sekali tidak tahu-menahu kekejaman itu.

[7] Ada informasi yang mengatakan, bahwa tidak semua prajurit TNI bersikap kejam dalam operasi DOM. Pasukan yang berasal dari Garut mereka bersikap simpatik dan tidak terlibat kekejaman pasukan-pasukan lainnya.

Kekejaman kepada sesama manusia, apalagi sesama Muslim adalah HARAM. Syariat Islam jelas-jelas melindungi hak-hak kaum Muslimin. Dalam hadits, Nabi Saw bersabda: “Mencaci seorang Muslim adalah kefasikan, dan memeranginya adalah kufur.” (HR. Bukhari-Muslim). Jiwa, harta, dan kehormatan Ummat Islam adalah perkara-perkara yang sangat dilindungi dalam Islam.

LARANGAN SIKAP ASHABIYYAH

Setelah seseorang masuk Islam, maka nilai-nilai Islam akan melandasi kehidupannya. Nilai-nilai primordial, seperti kesukuan (etnisitas), bukanlah kenyataan yang diingkari dalam Islam. Namun ia tidak menjadi acuan dalam menilai keadaan seseorang. Seperti disebut dalam Surat Al Hujurat ayat 13, standar menilai baik-buruknya seseorang adalah KETAKWAAN-nya.

Ajaran Islam selain mengajarkan persaudaraan, juga melarang sikap fanatik kesukuan (ashabiyyah). Nabi Saw pernah mengatakan, “Wa man da’a ilal ashabiyyah, alan naar.” (Siapa yang mendakwahkan fanatic golongan, tempatnya di neraka).

Di jaman Nabi Saw, tidak semua Shahabat beretnis Arab, atau dari bangsa Quraisy Makkah. Shuhaib bin Sinan Ar Rumi disebut-sebut dari Romawi. Tapi ada yang mengatakan bahwa beliau orang Persia, bukan Romawi. Salman Al Farisi jelas-jelas dari Persia. Bilal bin Rabbah Al Habsyi, dari Ethiopia. Abdullah bin Salam dari kalangan Yahudi Madinah. Hudzaifah Al Yamani dari Yaman, Abu Dzar Al Ghifari dari suku Ghifar, Sa’ad bin Muadz dari Anshar Madinah, dan lain-lain. Tidak semuanya orang Arab, dan tidak semuanya dari Quraisy Makkah.

Para Shahabat Ra pernah dihasut oleh orang-orang Yahudi, sehingga terjadi perselisihan antara kaum Muhajirin dan Anshar. Kaum Muhajirin membanggakan dirinya, begitu pula kaum Anshar. Lalu Nabi mengetahui hal tersebut. Nabi mengecam keras sikap seperti itu sebagai perbuatan jahiliyyah. Begitu pula saat Abu Dzar Al Ghifari menyebut Bilal bin Rabbah sebagai budak dari Habasyah (Afrika). Beliau mengecam perkataan Abu Dzar dengan ucapan keras. Beliau menyebut Abu Dzar telah bersikap jahiliyyah.

Nabi Saw pernah bersabda, “Hendaklah kalian selalu mendengar dan mentaati, meskipun yang diangkat (dalam pemerintahan) kalian seorang budak dari Habsyi (Afrika), yang (rambut di) kepalanya seperti kismis.” (HR. Bukhari).

Hadits ini merupakan seruan universalitas ajaran Islam yang sangat berharga, khususnya di bidang politik. Pemimpin dari etnis apapun, jika ia paling shalih, paling ahli dan amanah, lebih layak untuk dipilih.

Para ahli-ahli Islam sejak awal tidak dimonopoli orang Arab. Imam Bukhari berasal dari Asia Tengah (Bukhara). Imam Muslim dari Naisaburi, Persia. Imam Abu Dawud dari daerah Sijistan, Asia Tengah. Imam Tirmidzi dari daerah Tirmidh, di Uzbekistan dekat Afghanistan. Imam An Nasa’i dari Khurasan. Imam Al Baihaqi, Al Hakim, dan Ibnu Khuzaimah, berasal dari Naisaburi, Persia.

Imam Syafi’i berasal dari Palestina. Ibnu Taimiyyah juga berasal dari Harran, Palestina. Imam Ibnu Hazam yang terkenal dengan Al Muhalla, berasal dari Andalusia Spanyol. Shalahuddin Al Ayyubi berasal dari suku Kurdi di Irak. Muhammad Al Fatih dari kalangan Turki Seljuk. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahhab, beliau dari Najd. Najd itu wilayah Arab Badui, di tengah gurun pasir tandus, sejak jaman awal Islam kurang diperhitungkan.

Jadi sejak jaman awal Islam, kaum Muslimin tidak pernah bersikap fanatik kesukuan. Siapapun yang dianggap lebih takwa, lebih alim, dan lebih banyak amal shalihnya, dia lebih layak menjadi panutan atau pemimpin. Bahkan tokoh-tokoh dedengkot kemusyrikan di Makkah, seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Utbah bin Rabi’ah, Al Walid bin Utbah, Umayyah bin Khalaf, dll. mereka adalah orang Arab yang murni berdarah Quraisy Makkah. Namun mereka kafir dan mati dalam kehinaan.

Tidak dibenarkan kita menilai seseorang atau sekelompok orang dengan dasar ashabiyyah (kesukuan). Cara seperti itu sama seperti pandangan orang musyrik Makkah yang menilai manusia berdasarkan kesukuan. Juga sama seperti orang Hindu yang menilai manusia berdasarkan kasta-kasta. Semua ini bukan cara Islam, tetapi cara jahiliyyah. Latar belakang kesukuan adalah Kehendak Allah atas hamba-hamba-Nya. Tidak ada yang mampu menolak takdir Allah, ketika Dia menetapkan seseorang lahir di suku A atau B. Membeda-bedakan manusia atas dasar kesukuan adalah bentuk sikap TIDAK RIDHA atas takdir Allah.

Diceritakan, bahwa Soekarno sangat membanggakan Nasionalisme keindonesiaan. Soekarno beralasan bahwa Indonesia itu kaya, indah, hijau, beribu-ribu pulau, iklimnya nyaman, dan lain-lain. Oleh karena itu, Indonesia layak dicintai karena semua itu. Maka Haji Agus Salim mengkritik sikap nasionalisme ala Soekarno tersebut. Kata beliau, sikap mencintai tanah air itu bukan karena keindahan alam, kekayaannya, tetapi karena mensyukuri nikmat Allah. Seperti Ibrahim As. yang mendoakan Makkah agar diberkahi, meskipun ia kota yang kering, gersang, dan miskin tanam-tanaman.

Nah, prinsip seperti Haji Agus Salim itu cara pandang yang benar. Tidak peduli dari manapun asal beliau, pandangan seperti Haji Agus Salim lebih layak diikuti. Dan biarpun Soekarno dari Jawa, kalau pandangannya keliru ya harus diingkari.  Seperti KH. Ahmad Dahlah. Ajaran beliau yang benar perlu didukung dan diikuti. Tetapi pandangan Kesultanan Yogya, kalau keliru ya harus ditolak. Padahal KH. Ahmad Dahlan masih kerabat Kesultanan Yogya.

Pendapat ustadz A. Hasan, Prof. Hasbi Asshiddiqi, Prof HM. Rasyidi, Buya Hamka, KH. Munawar Chalil, KH. Wahid Hasyim, Ismail Raji Al Faruqi, Abul A’la Al Maududi, Abul Hasan Ali An Nadwi, Hasan Al Bana, Mustafa Al Maraghi, Mahmud Syaltut, Ali Thantawi, Syaikh Bin Baz, Syaikh Al Albani, dll. Kalau pandangan mereka benar dan lurus, ya perlu diikuti dan diambil faidahnya. Sebaliknya, pandangan Abdurrahman Wahid, Nurcholish Madjid, Ulil Abshar Abdala, Soemanto Al Qurthubi, dll. meskipun mereka dari Jawa, kalau pandangannya sesat dan menyesatkan, ya harus ditolak.

Prinsipnya mudah saja. Kalau suatu pandangan sesuai Al Qur’an dan Sunnah, bisa diikuti. Tetapi kalau menyimpang dari keduanya, ya tinggal diingkari saja. Gampang tho? Enak tho? Mantep tho? (Lho, kok jadi seperti Mbah Surip).

Dalam Al Qur’an, “Jika kalian berselisih pendapat dalam suatu perkara, kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul-Nya (As Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (An Nisaa’: 59).

KARAKTER ORANG JAWA

Masyarakat Jawa dikenal memiliki beberapa karakter khas. Antara lain, mudah beradaptasi, sopan-santun, toleran, bekerja keras, dan belas kasihan.

Karakter mudah beradaptasi dibuktikan dengan kemampuan masuk ke berbagai macam pergaulan, di dalam dan luar negeri. Karakter sopan santun ditunjukkan dengan tutur-bahasa yang sopan, dan kebiasaan “meminta maaf” dalam perkataan. Karakter toleran dibuktikan dengan sikap menghormati orang lain yang berbeda latar-belakang. Karakter bekerja keras dibuktikan dengan kesabaran membangun usaha sejak dari nol. Dan karakter belas kasihan dibuktikan dengan kebiasaan menolong orang yang susah, meskipun dirinya sendiri juga susah. Namun juga tidak dijamin bahwa setiap orang Jawa akan bersikap demikian. Orang Jawa jaman modern, terutama yang sudah teracuni nilai-nilai metropolitan banyak juga yang bersikap seperti bangsat. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Sifat-sifat baik yang ada, hal itu lahir dalam sejarah masyarakat Jawa sendiri. Harus diingat, di Jawa Timur pernah berdiri peradaban Majapahit yang besar. Rajanya Brawijaya dan patihnya yang terkenal, Gajahmada. Berpusat di Trowulan, Mojokerto saat ini. Wilayah Majapahit ketika itu sangat luas, melebihi wilayah Indonesia saat ini. Majapahit terkenal dengan armada maritimnya. Gajahmada sendiri terkenal dengan komitmennya, Sumpah Palapa.

Para pakar Antropologi, mereka tidak akan mengingkari kaitan antara masyarakat etnis Jawa saat ini dengan Majapahit. Hanya bedanya, kalau Majapahit itu dulu Hindu, etnis Jawa saat ini mayoritas Muslim. Bakat-bakat karakter seperti itu tidak mungkin akan lenyap. Nabi Saw sendiri pernah mengatakan, “Yang terbaik dari mereka di masa jahiliyah adalah (menjadi) yang terbaik di masa Islam, jika mereka memahami (agama ini).” (HR. Bukhari-Muslim).

Salah satu karakter masyarakat Jawa yang seringkali disalah-pahami adalah TOTALITAS dalam berkarya. Begitu dinamisnya sifat itu sehingga kerap menjadi sumber kecemburuan. Di mata orang lain, etnis Jawa kerap dianggap berlebih-lebihan dalam bekerja dan berkorban. Tetapi secara kultural hal ini sudah tumbuh bersama kehidupan masyarakat Jawa sendiri, sejak mereka kecil. Contoh mudah, Pondok Modern Gontor mengadopsi etos kerja keras itu dalam prinsip-prinsip pendidikan karakter yang diterapkan di pesantren. Disana ada banyak slogan-slogan pembentukan karakter, salah satunya berbunyi, “Berani hidup, tidak takut mati; kalau takut mati, jangan hidup; kalau takut hidup, mati saja.”

Karakter totalitas ini ada baiknya, tetapi juga ada buruknya. Kalau totalitas ditempatkan pada sisi-sisi yang benar, seperti kerja, belajar, berkarya, memimpin, dan lain-lain, hasilnya akan sangat positif. Tetapi kalau totalitas itu diterapkan dalam kecurangan, korupsi, kezhaliman, penindasan, konspirasi, pengkhianatan, dll. maka dampaknya sangat mengerikan. Secara faktual hal itu terbukti dari pejabat-pejabat berlatar-belakang Jawa yang terkenal dengan kezhalimannya. Tokoh-tokoh PKI pun dulu banyak yang berlatar-belakang Jawa.

Determinasi masyarakat Jawa bisa dilihat pada orang-orang yang bekerja secara halal di luar negeri (bukan menjadi agen asing). Mereka berani bersaing dengan orang-orang di sekitarnya. Begitu pula bisa dilihat pada warga Suriname asal Jawa. Mereka eksis di Suriname dengan tetap memelihara kultur Jawanya. Umumnya, mereka tidak bisa bahasa Indonesia, tetapi fasih bahasa Jawa halus (kromo inggil).

FAKTOR KUALITAS KEIMANAN

Sangat menarik taushiyah KH. Syuhada Bahri, Ketua Umum DDII saat ini. Dalam salah satu taushiyah beliau yang dirilis oleh situs eramuslim.com. Beliau mengatakan, bahwa Ummat Islam saat ini, baik di Indonesia maupun di luar negeri, sedang dalam kondisi sangat buruk. Hal itu tak lain karena keimanan Ummat yang memang lemah. Andaikan keimanannya kuat niscaya Ummat Islam tidak akan terhina.

Beliau menjelaskan sebuah ayat Al Qur’an, “Dan tidak akan pernah Allah mengadakan jalan bagi orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang beriman.” (An Nisaa’: 141). Ayat ini menjadi jaminan bahwa orang-orang beriman tidak akan bisa dikalahkan oleh orang kafir. Syaratnya, mereka memiliki keimanan yang kuat, mantap, dan istiqamah. Ummat Islam tercerai-berai lebih karena keimanan mereka yang sangat lemah. Kurang-lebih seperti itu.

Orang-orang beriman pasti akan mengukur segala sesuatu dengan parameter keimanan, bukan parameter etnis, status sosial, kekayaan materi, atau jabatan di birokrasi. Ya, semua faktor-faktor itu ada pengaruhnya dalam kehidupan, tetapi bukan faktor paling dominan. Faktor penentunya adalah KEIMANAN suatu kaum. Persis seperti yang sering dikemukakan. “Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, maka benar-benar akan Kami berikan barakah yang banyak atas mereka dari langit dan bumi.” (Al A’raaf: 96).

Orang etnis apapun, dia akan menjadi mulia dan kuat, jika beriman dan sangat komitmen dengan amal shalih. Sebaliknya, biarpun suatu kaum mengaku dirinya merupakan “Titisan Tuhan”, kalau bejat keimanan dan amalnya, dijamin mereka akan sengsara. Kaum yang rusak imannya, jika mereka kuat, mereka akan menerkam kaum-kaum lainnya. Jika mereka lemah, mereka akan ditindas oleh kaum-kaum yang kuat. Dalam posisi kuat atau lemah, sama-sama hinanya. Tidak ada balasan bagi manusia yang lemah keimanan, selain penderitaan belaka.

Jadi kalau hidup terhina, sengsara, miskin, dan bodoh, jangan menyalahkan etnis itu atau itu, tetapi salahkan keadaan keimanan kita. Kelemahan iman itulah yang menjadi pangkal kehinaan suatu bangsa. Seperti dijelaskan oleh Nabi Saw dalam haditsnya, bahwa jumlah kaum Muslimin bisa jadi sangat banyak, tetapi keadaannya seperti BUIH yang tidak ada artinya. Hal itu terjadi karena penyakit Wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati. Nah coba pikirkan, adakah orang yang beriman kuat memiliki karakter cinta dunia dan takut mati? Jelas Wahn itu identik dengan manusia-manusia yang lemah imannya.

Kelemahan iman dampaknya selalu buruk. Kalau ia menimpa orang yang kuat, dia bisa berbuat zhalim dengan menindas orang lain; kalau ia menimpa orang yang lemah, dia bisa menjadi bulan-bulanan kezhaliman orang lain. Seharusnya, perkara rusaknya iman inilah yang kita tangisi bersama, bukan karena kesalahan suku A atau B. Kalau urusannya dibawa ke soal kesukuan, dijamin sampai Hari Kiamat pun, kita tidak akan pernah menemukan solusinya. Sebab, setiap suku pasti memiliki kesalahan, kelemahan, dan keburukan.

SILSILAH PARA PENGKHIANAT

Sejak Indonesia merdeka, banyak pejabat yang memimpin urusan negara. Sebagian mereka berlatar-belakang etnis Jawa. Ternyata, dari pejabat-pejabat itu banyak yang melakukan perbuatan-perbuatan tercela, seperti korupsi, kolusi, nepotisme, kejahatan politik, kejahatan HAM, mengkhianati negara, dan sebagainya. Saat rakyat Indonesia menyaksikan perbuatan pejabat-pejabat itu, dengan sederhana mereka membuat kesimpulan, “Pejabat orang Jawa banyak yang korup dan zhalim.”

Pada dasarnya, orang beretnis apapun, kalau moralitasnya rendah, dia cenderung akan bersikap korup dan zhalim. Namun kalau moralitasnya tinggi, dia akan bersikap mulia, adil, dan bijaksana. Seorang pejabat Muslim, kalau dia benar-benar beriman, dia akan takut berbuat zhalim. Bukan takut karena peraturan, tetapi takut dituntut oleh Allah di Akhirat nanti. Seorang Mukmin sejati akan meninggalkan kezhaliman, dalam bentuk apapun, meskipuan dia dalam kesendirian. Inilah yang kerap disebut sebagai Self Control (pengawasan mandiri).

Sebagian para pejabat beretnis Jawa, mereka merupakan keturunan para priyayi di Jaman Belanda dulu. Mereka masih satu silsilah dengan tokoh-tokoh di organisasi seperti Boedi Oetomo, Jong Java, Indische Partij, Indische Vereniging, dll. Orang-orang ini selain berpendidikan Belanda, berotak Belanda, bangga menjadi jongos penjajah, juga bersikap eksklusif. Bahkan tidak sedikit dari mereka kemudian murtad berpindah agama, mengikuti Mister dan Noni Belanda. Di belakang hari kemudian, dari silsilah para pengkhianat ini banyak yang menjadi pejabat negara. Mereka kaum ambtenar yang tidak punya komitmen untuk menyantuni bangsanya sendiri.

Kalau kemudian banyak pejabat beretnis Jawa yang bermasalah, seharusnya kesalahan ditimpakan kepada garis keturunan para pengkhianat itu. Mereka lahir dari keluarga pengkhianat, dan melestarikan tradisi para pengkhianat pula. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Mereka yang seharusnya dikecam, bukan etnis Jawa secara umum. Masak ingin memburu seekor tikus, padi di lumbung di bakar semua? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Namun kesalahan juga harus dibebankan kepada masyarakat Indonesia sendiri. Sejak lama mereka bersikap buruk kepada ide-ide atau gerakan Islam. Mereka menuduh para aktivis dakwah sebagai radikal, ekstrem, fundamentalis, malah akhir-akhir ini ditambah lagi dengan sebutan “teroris”. Kalangan Islam tidak diberi kesempatan untuk menyentuh urusan kenegaraan. Semua posisi didominasi orang-orang sekuler yang bermoral rendah. Jika akibat sekularisme itu lalu muncul berbagai kenyataan pahit, ya jangan menyalahkan etnis tertentu, tetapi salahkan diri mereka sendiri. Itulah harga yang pantas dipikul oleh masyarakat “jahiliyyah” yang bersikap anti terhadap penegakan nilai-nilai Islam. Andai nilai Islam diperkenankan diterapkan secara konsisten, dan kaum Islamis diberi ruang gerak dalam Pemerintahan, tentu akibatnya tidak akan sepahit seperti saat ini.

Adalah suatu harapan yang aneh. Masyarakat Indonesia phobia dengan nilai-nilai Islam, dan lebih menyukai kehidupan sekuler. Di atas sikap seperti itu mereka berharap ada keadilan, kesejahteraan, keamanan, kedamaian, dan sebagainya. Semua itu hanya omong kosong belaka! Mana ada kehidupan damai di atas sekularisme? Anda hendak mencari sampai ke ujung dunia sekalipun, tidak ada negara sekular yang memberi kedamaian bagi rakyatnya. Hatta Amerika pun, ia bukan tempat yang nyaman dan damai bagi rakyatnya.

MISI MEMECAH-BELAH BANGSA

Ketika muncul sikap sentimen kesukuan, tanpa landasan keislaman sedikit pun, hal itu merupakan suatu kenyataan buruk. Ia mencerminkan sikap lemah, cara berpikir yang dangkal, serta kebiasaan lari dari masalah dengan mencari-cari “kambing hitam”. Seorang Muslim yang berakhlak mulia dan berkarakter kuat tidak pantas bersikap demikian. Namun, bahaya paling besar dari sikap sentimen ini adalah: Perpecahan di antara kaum Muslimin sendiri. Inilah yang kita takutkan.

Perlu Anda semua ketahui, sikap-sikap sentimen kesukuan, adalah bagian dari upaya memecah-belah Ummat Islam di Nusantara ini. Ia bahkan merupakan IDE MURNI PENJAJAH. Dulu Belanda bisa mencengkeram negeri kita selama 350 tahun, karena politik Devide Et Impera. Padahal Belanda sendiri di Eropa termasuk negara yang kecil dan tadinya miskin. Kalaupun ada keistimewaan Belanda, mereka memiliki pengalaman panjang menjelajah lautan. Begitu pula, setelah RI merdeka, Belanda mendukung pembentukan negara-negara boneka, agar Indonesia mudah dihancurkan. Sampai tahun 1949 ketika Konferensi Meja Bundar (KMB) diselenggarakan, Indonesia masih berbentuk RIS. Baru tahun 1950 dengan usulan Buya Muhammad Natsir rahimahullah di Parlemen yang dikenal sebagai Mosi Integral, Indonesia kembali menjadi Negara Kesatuan.

Para penjajah di jaman sekarang rupanya menempuh cara yang sama. Mereka itu korporasi asing, agen-agen intelijen asing, serta kebijakan politik asing. Mereka tidak puas setelah menguras kekayaan tambang, hutan, lautan, dan segala kekayaan negeri ini. Mereka masih ingin menghancurkan kita dengan ide PERPECAHAN. Mungkin, jika negara kita terpecah-belah dalam negara-negara kecil, mereka akan lebih leluasa lagi dalam menerkam dan menginjak-injak kehidupan kita.

Para penjajah itu memprovokasi rakyat di daerah dengan kata-kata seperti: “Jawa itu menjajah, rakus, menguasai kekayaan nasional. Jawa hanya menguras kekayaan, membiarkan daerah di luar Jawa tetap miskin, bodoh, tidak diperhatikan. Sebaiknya daerah memisahkan diri dari Indonesia, agar bisa menguasai kekayaan alamnya sendiri. Daerah bisa menuntut referendum seperti Timor Timur waktu itu. Atau daerah bisa meminta diturunkan pasukan PBB. Nanti PBB akan membantu daerah itu memisahkan diri dari Indonesia.” Padahal kalau mau jujur, yang selama ini memonopoli kekayaan nasional adalah mereka sendiri.

Memang ada pejabat atau mantan pejabat orang Jawa yang kaya. Itu jelas ada. Tetapi jumlah mereka sangat sedikit. Sebagian besar masyarakat Jawa hidupnya sama seperti rakyat Indonesia lainnya, sama-sama sengsara. Di Jawa itu masih banyak warga miskin, para petani ekonomi lemah, juga rumah-rumah dari bilik bambu. Kalau Anda tidak percaya, coba lakukan perjalanan dengan kereta api (KA) dari Jakarta sampai Banyuwangi! Lalu lihat keadaan masyarakat Jawa yang ada di kanan-kiri rel kereta api! Lihat, saksikan dengan mata kepala Anda sendiri, apakah orang Jawa membuat rumahnya dari emas Papua? Apakah mereka mengisi kolamnya dengan minyak dari Aceh? Atau membuat anjungan-anjungan dari kayu Borneo kelas satu?

Orang Jawa itu banyak yang menjadi buruh, menjadi kuli bangunan, pekerja kasar, tukang becak, juga pedagang-pedagang UKM. Banyak yang isterinya menjadi TKW, kerja di luar negeri sebagai PRT. Kalau orang Jawa hidup makmur, mustahil mereka akan merantau kemana-mana. Sudah saja mereka tinggal di daerah sendiri, sambil ongkang-ongkang kaki, membaca koran dan minum teh. Banyak TKI di Malaysia yang dizhalimi para majikannya, mereka orang Jawa.

Sebuah bukti besar saya bawa disini. Saat terjadi gempa besar di Yogya, sekitar 5000 sampai 6000 orang meninggal. Mereka meninggal tertimpa atap-atap rumah, atau barang-barang besar. Ketika saya datang langsung ke lokasi bencana, saya mendapat informasi yang kuat. Ternyata, sebagian besar rumah yang hancur itu terbuat dari kayu, bambu, atau triplek. Rumah-rumah yang terbuat dari dinding batu bata permenan rata-rata hanya rusak ringan. Ini sebuah FAKTA, bahwa di Yogya saja masih banyak orang miskin, sampai tidak mampu membuat rumah permanen. Hanya saja, sifat orang Jawa itu nrimo ing pandum (mau menerima pemberian Tuhan). Kalau memang hidup miskin, ya sudah diterima.

Sungguh merupakan FITNAH KEJI, kekayaan alam selama ini diborong para penjajah asing, para konglomerat dan koruptor. Lalu kesalahan ditimpakan kepada masyarakat Jawa yang hidupnya miskin. Betapa kejinya tuduhan ini. Orang asing jingkrak-jingkrak senang karena mereka bisa menguras kekayaan dengan leluasa, sementara masyarakat yang hidup sengsara menjadi sasaran. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Semua ini hanyalah tipu-daya para penjajah. Contoh, Freeport McMorran di Papua. Sejak tahun 70-an Freeport beroperasi disana. Perusahaan tambang emas yang tadinya kere, kemudian menjadi terbesar di dunia. Hasil tambang Freeport sebagian besar dikeruk lalu dibawa ke luar negeri. Bahkan selama puluhan tahun, warga Papua dibiarkan tetap ber-koteka ria. Kemudian banyak orang menyalahkan Pemerintah yang dianggap menerlantarkan warga Papua. Lho, bagaimana dengan Freeport sendiri? Bukankah perusahaan emas terbesar di dunia itu ada di Papua? Apa tanggung-jawab Freeport bagi rakyat Papua? Dalam urusan Freeport ini, Pemerintah RI telah melakukan kesalahan besar. Itu terjadi sejak tahun 70-an lalu. Tetapi jika sikap Freeport tidak kolonialis, tentu kondisi masyarakat Papua tidak akan diterlantarkan seperti saat ini. Bayangkan, mereka baru peduli dengan rakyat Papua akhir-akhir ini saja, setelah dihujat disana-sini.

Andai suatu saat Papua memisahkan diri dari Indonesia, hal itu tidak menjamin hidup mereka menjadi lebih baik. Hidup mereka akan sama saja, bahkan bisa lebih buruk. Kalaupun ada yang hidup enak, paling hanya elit-elit politiknya saja. Sementara masyarakat Papua secara umum tetap sengsara. Siapa bisa menjamin bahwa Freeport akan berbuat adil bijaksana, jika Papua sudah melepaskan diri? Namanya juga penjajah, tabiatnya tidak akan berubah, meskipun kulitnya berganti sepuluh kali setiap hari. Omong kosong penjajah akan bersikap baik hati. Apa tidak cukup pengalaman 350 tahun negeri ini dijajah orang-orang asing? Mau dijajah berapa ratus tahun lagi agar akal kita berfungsi lebih baik? Na’udzubillah min dzalik.

KHATIMAH

Sikap sentimen kepada etnis tertentu, tanpa memandangnya dengan nilai-nilai Islam adalah perbuatan yang dilarang dalam Islam. Ia merupakan sikap jahiliyyah, seperti ketika manusia belum mengenal Islam. Bahkan ia seperti sikap Yahudi yang memandang tinggi etnis Yahudi dan memandang hina etnis apapun selain Yahudi (mereka sebut Ghayim). Setiap Muslim itu bersaudara, tanpa membedakan asal-usul sukunya. Siapapun yang lebih shalih, lebih taqwa, dan ‘alim, dia lebih layak menyandang kedudukan mulia.

Seorang Muslim yang bersikap primordial (fanatik kesukuan), ada empat kemungkinannya: [Pertama], dia adalah orang jahil yang perlu diberitahu ilmu yang benar. [Kedua], dia adalah orang sesat yang memandang faktor kesukuan lebih tinggi dari faktor keimanan. [Ketiga], dia adalah manusia bernalar sempit yang tidak bisa berpikir rasional dan obyektif. [Keempat], dia adalah antek-antek penjajah yang dibayar untuk memecah-belah kehidupan rakyat Indonesia.

Cukuplah ayat ini sebagai nasehat pamungkas: “Wahai manusia, sesungguhkan Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang wanita, dan Kami jadikan kalian bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Tahu dan Maha Mengenal.” (Al Hujurat: 13).

Semoga kita dijauhkan dari sikap jahiliyah, dijauhkan dari perpecahan, dan dianugerahi pertolongan oleh Allah Ta’ala. Allahumma amin. Wal’akhir, Allahu A’lam bisshawaab.

AMW.

38 Responses to Haruskan Menonjolkan Sentimen Etnis?

  1. abi manyu berkata:

    assallamuallaikum wr.wb

    Admin yth;
    tulisan anda sangat menyentil hati saya sebagai orang jawa
    walaupun sekarang saya hidup di sumatra dan berdampingan dengan orang aceh, dlsb-nya

    1. tentang DOM
    apakah dibenarkan
    mendirikan negara
    di dalam negara?
    ingat kata bung karno
    (orang jawa)
    NKRI HARGA MATI

    2, jika memang orang jawa keras, dan ibaratnya dilihat di tulisan anda,
    orang jawa =
    orang yg tak ber-peri kemanusia’an
    tetapi mengapa waktu pilpres
    SBY (orang jawa)
    menang mutlak di seluruh penjuru nusantara?

    3. jangan menyalahkan
    ETNIS JAWA
    itu adalah faktor
    kepemimpinan

    4. waktu pak BJ.HABIBI
    menjabat presiden
    membuat kebijakan
    jajak pendapat
    dan mengakibatkan pulau timor leste lepas dari NKRI
    Apakah ada yang ANTI ETNIS SULAWESI?
    (BJ HABIBI orang sulawesi)

    5. dalam islam
    tidak diajarkan
    saling membenci
    di antara suku/etnis

    KALAUPUN ADA HADISTnya
    tolong tunjukan

    6. argument
    ORANG YG MENJELEKAN ORANG LAIN, DIALAH YANG JELEK

    AGAMA YANG MENJELEKAN AGAMA LAIN, MAKA AGAMA TSB YG JELEK

    ETNIS YG MENJELEKAN ETNIS LAIN, MAKA ETNIS TSB YG JELEK

    pesen to admin
    sebelum menuai kritik
    agar direvisi judulnya
    jangan menyebut
    kesukuan ataupun etnis
    mungkin anda orang sunda ya?
    di lihat tulisanya
    sangat menyanjung orang sunda
    hhhhhh

  2. masbadar berkata:

    Izin kopi artikel ini buat file referensi..
    baarokalloohu fiik..

  3. abisyakir berkata:

    @ Abi Manyu:

    Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

    Mas, ini gimana sih. Coba baca artekelnya secara jernih. Saya ini orang Jawa, namanya juga “Waskito”. Tulisan itu buah keprihatinan atas sikap sebagian orang yang menjadi sentimen anti Jawa, karena masalah-masalah tertentu yang timbul. Justru kita prihatin dengan sentimen anti etnis itu, sebab kita masih sesama Muslim. Saya bingung juga, bagaimana Anda bisa memahaminya secara terbalik? Apa tulisan seperti ini terlalu berat dibaca ya? Maaf.

    Anda: “1. tentang DOM apakah dibenarkan mendirikan negara di dalam negara? ingat kata bung karno (orang jawa) NKRI HARGA MATI.

    Dalam hukum negara apapun, istilah “negara dalam negara” itu jelas dianggap sebagai kejahatan politik. Tetapi cara memperlakukan orang-orang yang melakukan kejahatan politik jangan melampaui batas. Jangan berlaku sangat kejam, sebab hal itu justu akan melanggengkan permusuhan politik itu sendiri.

    Anda: “2, jika memang orang jawa keras, dan ibaratnya dilihat di tulisan anda, orang jawa = orang yg tak ber-peri kemanusia’an tetapi mengapa waktu pilpres SBY (orang jawa) menang mutlak di seluruh penjuru nusantara?

    Waduh, Anda mohon dibaca ulang tulisannya. Kalau tidak bisa paham, minta bantuan orang lain untuk membaca tulisan ini. Dimana saya tulis hal-hal seperti yang anda sebutkan itu? Tolong baca secara lengkap, Mas.

    Anda: “3. jangan menyalahkan ETNIS JAWA. itu adalah faktor kepemimpinan.

    Ya, itu juga maksud saya. Etnis Jawa secara umum, tidak menjadi ukuran sikap politik pejabat-pejabat dari Jawa. Itu juga yang saya maksudkan.

    Anda: “4. waktu pak BJ.HABIBI menjabat presiden membuat kebijakan jajak pendapat dan mengakibatkan pulau timor leste lepas dari NKRI Apakah ada yang ANTI ETNIS SULAWESI? (BJ HABIBI orang sulawesi).

    Tujuan saya menulis itu: Wahai kaum Muslimin, mari kita berpegang kepada keimanan, jangan menjadi fanatik kesukuan untuk memecah-belah ukhuwwah Islamiyyah di antara kita. Nah, ini tujuan saya. Jadi maaf, jangan membalas fanatik kesukuan dengan fanatik kesukuan yang lain!

    Anda: “5. dalam islam tidak diajarkan saling membenci di antara suku/etnis KALAUPUN ADA HADISTnya tolong tunjukan.”

    Ya itu juga maksud gue Boosssss. Coba deh baca ulang tulisannya. Kok jadi aneh begini.

    Anda: “6. argument. ORANG YG MENJELEKAN ORANG LAIN, DIALAH YANG JELEK. AGAMA YANG MENJELEKAN AGAMA LAIN, MAKA AGAMA TSB YG JELEK. ETNIS YG MENJELEKAN ETNIS LAIN, MAKA ETNIS TSB YG JELEK.

    Yo wis lah, terserah Sampeyan saja. Mau ngomong apa juga, monggo mawon. Kita maunya ke Barat, dia tetap ngeyel mau ke Timur. Ini jelas SALAH PAHAM murni.

    Anda: “pesen to admin, sebelum menuai kritik agar direvisi judulnya. jangan menyebut kesukuan ataupun etnis mungkin anda orang sunda ya? di lihat tulisanya sangat menyanjung orang sunda hhhhhh.”

    Anda ini orang aneh ya. Pemahaman Anda atas tulisan ini 180 derajat berbeda dengan yang diharapkan. Malah saya lihat anda ini orangnya fanatik etnik juga. Maka itu sempat kritik ‘orang sulawesi’ atau sebut ‘orang sunda’. Bukan itu yang dimaksud, Den Bagus. Maksud kita disini: Mari pererat ukhuwah Islamiyyah di antara sesama Muslim, jangan saling menjelek-jelekkan antar sesama etnik Muslim! Persatuan di antara kita lebih mulia ketimbang sikap sentimen kesukuan. Itu pesannya. Tapi malah dipahami terbalik. Yo opo iki, Rek?

    AMW.

  4. abisyakir berkata:

    @ Pengunjung Semua:

    Orang yang namanya @ Abi Manyu itu memberi link blognya: suhutogel.wordpress.com. Dia punya blog dengan nama “Tempat Kumpul Togel Mania” (TKTM). Oh, saya jadi paham, mengapa orang seperti itu tidak bisa membaca tulisan yang saya tulis dengan judul “Sentimen Anti Jawa”. Ini adalah hikmah besar, bahwa perbuatan dosa, apalagi menjadi bandar judi secara terbuka, jelas akan mematikan hati dan akal. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

    AMW.

  5. @ndie berkata:

    sdr abimanyu sepertinya anda belum bisa membaca dengan benar yaa???!!!

  6. Irwan berkata:

    Assalamu’alaikum Wr Wb..
    Sebelumnya saya sangat berterimakasih karna anda telah menulis sebuah artikel yg sangat menyentuh hati & mudah dipahami maksudnya..
    Saya pribadi sangat setuju bahwa banyak pihak yg ingin menghancurkan negara indonesia karna kita bermayoritas islam, terutama negara2 barat yg sangat anti islam. Sebenarnya mereka takut kalo islam sedunia bersatu, maka mereka mencari segala cara utk memperpecah belahkan kita umat muslim. Salah satu contoh adalah perang akidah, ini merupakan suatu bukti bahwa mereka (kaum yahudi / jahiliyyah) sangat membenci kaum muslimin.
    Smoga kita semua tdk mengabaikan Alquran karna Alquran merupakan pedoman hidup bagi seluruh alam..
    Oh ya pertanyaannya bagaimana caranya supaya pemerintah kita tdk selalu memihak terhadap kaum yahudi/jahiliyyah..? (karna saya sangat prihatin terhadap pemerintah yg selalu melakukan apapun yg di inginkan oleh pihak luar, ini tdk lepas dari tekanan2 negara2 barat).

  7. abisyakir berkata:

    @ Saudara Irwan:

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Terimakasih atas respon baiknya, alhamdulillah. Semoga kita selalu diikat oleh tali ukhuwwah Islamiyyah, sejak di dunia sampai di hadapan Allah kelak. Allahumma amin.

    Dari Anda: “Oh ya pertanyaannya bagaimana caranya supaya pemerintah kita tdk selalu memihak terhadap kaum yahudi/jahiliyyah..? (karna saya sangat prihatin terhadap pemerintah yg selalu melakukan apapun yg di inginkan oleh pihak luar, ini tdk lepas dari tekanan2 negara2 barat).”

    Ya, pemerintah harus dipimpin oleh orang-orang shalih dan beriman. Jangan dipimpin oleh mereka yang shalih “lisannya”, tapi hatinya anti Islam. Islam “di lisan saja” itu lebih berbahaya daripada orang kafir sekalian, sebab sulit disikapinya. Mau disamakan orang kafir, jelas identitas Islam; mau disamakan orang beriman, tetapi kebijakannya anti Islam.

    Dan di Indonesia memang sulit mewujudkan langkah di atas, sebab LINGKARANG KEKUASAAN itu sudah “dipagari” dengan sangat kuat. Kalau ada orang shalih, mukmin, dan berprinsip kuat, biasanya akan cepat-cepat disingkirkan. Caranya macam-macam, dari yang paling halus sampai paling kasar. Kejadian-kejadian politik sejak 1945 sampai sekarang banyak membuktikan hal itu.

    Intinya kurang lebih:

    “Kekuasaan di Indonesia benar-benar dijaga ketat agar tidak tersentuh orang-orang beriman. Akibatnya banyak terjadi kezhaliman, korupsi, kesewenang-wenangan, dll. Rakyat banyak yang akhirnya menjadi korban. Para pemimpin sekuler itu tidak peduli rakyat dikorbankan, sebab mereka sendiri sudah mengorbankan agamanya untuk membela ideologi dunianya. Wong, anak isterinya saja sudah tidak dihiraukan, apalagi rakyat? Yang peduli dengan derita rakyat, hanya orang-orang beriman saja. Sementara rakyat banyak tidak tahu kalau hidup mereka selalu dipikirkan secara sungguh-sungguh oleh orang beriman. Celakanya, banyak rakyat kecil berburuk sangka kepada orang-orang beriman. Mereka menuduh orang mukmin itu fanatik, ekstrem, garis keras, anti NKRI, dsb. Disini media massa dan sistem pendidikan berperan meracuni otak ratusan juta rakyat Indonesia agar tidak dekat-dekat dengan orang mukmin.”

    Semoga kita mendapat hikmah dan hidayah dari Allah Ta’ala, serta taufik untuk mengamalkan kebaikan-kebaikan. Allahumma amin.

    AMW.

  8. agus berkata:

    terlihat benar, orang jawa selalu merendahkan orang sunda. ini yang membuat orang sunda selalu benci jawa

  9. abisyakir berkata:

    @ Agus…

    Coba Anda buktikan tuduhan Anda, apakah dalam tulisan ini ada makna bahwa orang Jawa lebih benar dari selain mereka? Coba buktikan perkataanmu!

    Kalau soal ucapan @ Suhutogel, tukang judi itu. Itu ucapan dia sendiri. Kami tidak tanggung-jawab. Lagi pula, omongan pejudi kok didengarkan? Mohon jangan bersikap fanatik kesukuan, kami jelas tidak suka dengan hal itu. Kita ini Muslim. Islam lebih tinggi dari akidah apapun, termasuk fanatisme kesukuan.

    Skali lagi, jangan masuk arena fanatisme kesukuan. Tulisan itu dibuat untuk meluruskan penyimpangan pemikiran, bukan untuk mengobarkan semangat rasisme. Na’udzubillah min dzalik.

    AMW.

  10. Ardisyam berkata:

    Saya tinggal di Malaysia untuk jangka waktu yang lama, jadi saya bisa membandingkan antara karakter orang Melayu dengan orang Jawa. Kenapa dengan orang Jawa, karena pada umumnya mereka berada di puncak kekuasaan pusat.

    Satu sifat yang sangat berbeda antara orang Melayu dengan Jawa adalah sikap basa-basinya. Orang Melayu kurang basa-basinya. Biasanya mereka lebih suka langsung ketujuan. Kalau mau negur orang salah, mereka tegur saja secara langsung. Itu yang saya lihat dalam pentas perpolitikan mereka.

    Berbeda dengan orang Jawa yang banyak basa-basinya. Terlalu banyak pertimbangan dan terkesan takut-takut, atau malu-malu kucing, jadi kelihatannya jadi tidak tegas dan mudah untuk diinjak-injak. Kalau ada pemimpin jawa yang tegas, itupun satu-satu, bukan pada umumnya. Sedangkan di Malaysia, pada umumnya orang Melayu bersifat seperti itu.

    Itulah kenapa ada yang menyalahkan kelemahan Indonesia karena Jawanya. Walaupun di pusat pemerintahan ada orang-orang non-Jawa, tapi lama-lama mereka terikut sifat-sifat orang Jawa tersebut.

    Terus terang saya tidak menemukan sikap kelugasan orang Melayu pada orang Jawa. Sebenarnya saya lebih suka kalau Jusuf Kalla yang jadi presiden. Tegas langsung to-the-point. Begitulah sifat orang Malaysia pada umumnya.

    Jadi ini bukan masalah rasis.

  11. abisyakir berkata:

    @ Ardisyam…

    Jawa itu luas Akhi. Mulai dari Yogya, Solo, Jawa Tengah, Semarang, Tegal, Banyumas, Cirebon, Madiun, Pacitan, sampai Malang, Surabaya, dll. Karakternya tidak satu, tetapi berbeda-beda. Ada yang lembut, hati-hati, penuh pertimbangan, atau seperti kata Antum, banyak basa-basinya. Tapi ada juga yang tegas, blak-blakan, dll.

    Tapi sekedar catatan:

    == Kasus-kasus terorisme itu banyak terjadi di Jawa Tengah. Padahal semua orang tahu, disana orangnya lemah-lembut, andap asor.

    == Solo itu warganya sangat lembut, tata kramanya tinggi. Tetapi hampir semua pergerakan fundamentalis (multi ideologi) ada di Solo. MMI, JAT, “Laskar Jihad”, dll. ada disana. Ingat itu.

    == Mendiang Jendral Soemitro asal Surabaya, pernah diberitakan wartawan nikah poligami. Maka wartawan yang ngomong begitu ditantang tembak-tembakan duel berdua di lapangan Tambaksari Surabaya. Wartawan itu tak berkutik.

    == Coba dengar lagi rekaman orasi Bung Tomo yang banyak beredar di internet-internet.

    Jadi yang Antum katakan itu tidak berdasar sama sekali. Antum menyebut elit-elit politik asal Jawa yang sekuler, lalu antum hendak salahkan orang Jawa semuanya. Kalau antum ada di darat, pas ketemu saya, tak tantang debat semalam suntuk untuk membuktikan ucapan-ucapan Antum.

    Sekali lagi, orang manapun, baik Jawa, Melayu, atau apapun, kalau sekuler, tidak ada harganya. Contoh Mahathir Muhammad. Dia pernah menuduh teman sejawatnya (Anwar Ibrahim) melakukan Sodomi. Apa Mahathir sudah sedemikian bodoh akalnya, sampai tidak bisa menemukan alasan lain untuk menjatuhkan saudaranya sendiri di mata dunia dengan tuduhan Sodomi? Sepanjang membaca masalah politik, belum pernah saya mendengar tuduhan Sodomi semacam itu dialamatkan ke para politisi. Hatta di negeri-negeri non Muslim.

    == AMW ==

  12. Ardisyam berkata:

    Sabar, sabar. Saya tidak menyalahkan orang Jawa semuanya. Istri saya orang Banyuwangi. Saya orang Sumatra. Saya mengalami pernikahan antar suku yang sangat banyak tantangannya. Hampir-hampir tidak jadi menikah karena perbedaan suku. Saya pun pernah kuliah di Malang selama 5 tahun. Jadi saya juga tahu beda arek-arek ngalam, dengan orang Surabaya, Jokja atau Solo.

    Pengamatan saya itu bukan berdasarkan pengamatan yang ilmiah. Tapi perbandingan secara kasar antara gaya pemerintah Indonesia dengan pemerintah Malaysia, berdasarkan komentar-komentar yang saya baca di media-media massa. Salah satu hipotesa saya mungkin karena corak pemerintahan Indonesia banyak dipengaruhi oleh budaya Jawa. Saya tahu, orang Jawa banyak sifatnya juga. Tapi saya berbicara secara umum.

    Masalah tuduhan sodomi oleh Mahatir, itulah salah satu contoh kenapa orang Melayu kalau berbicara langsung ke tujuannya. Saya sendiri bisa mengatakan bahwa politik di Malaysia jauh lebih kejam dari politik di Indonesia. Tidak ada basa-basi, tidak ada menahan ucapan, langsung tabrak saja. Tidak ada memaki saudaranya di belakang, langsung saja di depannya.

    Saudara AMW, apabila ada orang bersikap lemah-lembut, tidak pernah marah, kalau bicara berusaha menghindari konfrontasi, menurut saya, mereka jauh lebih berbahaya daripada orang yang bicara blak-blakan. Orang yang berbicara blak-blakan, cenderung tidak menyimpan dendam. Orang yang terlalu menahan diri, biasanya lama-lama akan meledak dan tindaknnya jauh lebih berbahaya daripada orang yang bicara blak-blakan. Jadi saya tidak heran, gerakan-gerakan kekerasan banyak tumbuh di daerah Jawa Tengah dibandingkan dengan daerah lain seperti Sulawesi atau Sumatra Utara. Saya kecualikan Aceh, karena mereka memiliki sifat yang unik.

    Untuk hubungan luarnegeri, dibutuhkan diplomasi yaitu kemampuan berbicara yang bagus dan lugas sehingga mampu mengalahkan hujah lawan. Indonesia perlu pemimpin yang seperti itu. Pada saat ini Indonesia sangat lemah dalam diplomasi-diplomasi luar negerinya.

    Saudara AMW tahu kenapa bisa terwujud perdamaian antara orang Aceh dan jakarta? Itu karena diplomasi lugas dari orang-orang Sulawesi yang dikomandoi oleh Yusuf Kalla.

    Jadi kesimpulannya, saya tidak perlu berdebatlah dengan saudaralah.

  13. abisyakir berkata:

    @ Ardisyam:

    Sebenarnya dengan jawaban saya itu, ingin memberi tahu Anda, bahwa orang Jawa (misalnya saya) tidak selalu “sulit berkata blak-blakan”. Malah kami-kami di Malang, Surabaya, Pasuruan, Sidoarjo, dll. itu biasa juga bicara terbuka. Meskipun sifat kejawaannya masih ada. Maksudnya begini lho, sebaiknya dalam melihat masalah seperti ini jangan melihat etnisnya, tapi sisi pengamalan agamanya. Siapapun yang komitmen dengan Islam, insya Allah akan baik sikapnya, dari etnis manapun dia. Buktinya, Nabi Saw pernah mengatakan, “Siapa yang melihat kemungkaran hendaknya mengubah dengan tangannya. Jika tak mampu, dengan lisannya. Jika tak mampu, dengan hatinya. Maka yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.”

    Hadits ini kan jadi petunjuk. Kalau ada penyimpangan dalam bentuk apapun, segera ubah sejak dengan tangan sampai dengan hati. Kalau seseorang misal selalu mengubah penyimpangan “dengan hati”, itu pertanda lemah iman. Siapapun dirinya, dan darimanapun etnisnya.

    Jazakumullah khair. Maaf lho ya. Jawaban saya itu “tidak sebenarnya”. Hanya sekedar memberi bukti nyata, bahwa orang Jawa tak selamanya “main hati” terus. Sungguh, seperti itu niatnya.

    AMW.

  14. Yogi berkata:

    Di kalangan sunda, barangkali Abu Syakir pernah mendengar, ada istilah “jawa koek”. Sampai kadang terdengar celetuk “dasar jawa”. Sebagai orang sunda, saya tidak pernah mendengar ungkapan-ungkapan seperti itu terhadap etnis lain. Saya kira akarnya cukup panjang, misalnya,

    – trauma pembantaian oleh Majapahit terhadap karuhun Sunda di Bubat masih dikenal luas dikalangan sunda tradisional. Dampak formalnya masih terlihat sampai sekarang: tidak ada nama jalan berbau majapahit di tanah sunda – apakah itu Gajah Mada, Hayam Wuruk atau Majapahit sekalipun. Juga ada resistansi dikalangan tertentu untuk merestui pernikahan jawa-sunda.

    – trauma sejarah ini diperkuat oleh dominasi etnik Jawa di ranah politik pasca kemerdekaan. Orang sunda dikenal bukan loyalis Soekarno, meski bukan penentang. Di masa Soeharto, filosofi Jawa-sentris beliau dan terlalu lamanya beliau menjadi presiden juga memupuk sentimen negatif.

    Idealnya memang seseorang harus memilah-milah, tidak main pukul rata. Pendekatan ini hanya bisa dikalangan mereka yang “bisa berpikir dengan norma dan rasio melihat kehidupan”. Tapi tidak semua orang bisa. Mereka yang tidak berpikir, mencari jalan gampang dengan pukul rata.

    Yang saya sayangkan, melihat Pemilu kemarin saja misalnya, saya justru melihat kedewasaan pada masyarakat non Jawa dibandingkan Jawa. Pernyataan-pernyataan elit seperti: “JK tidak memahami kultur jawa SBY” atau penilaian budaya lain dengan kacamata jawa: “seperti Kalla yang disamakan dengan Betara Kala”, tidak menyanggah kenyataan bahwa jawanisasi Indonesia memang ada, meski magnitudenya tidak terukur. Akan lebih fair jika dikatakan juga “SBY seharusnya belajar memahami kultur bugis Pak JK”.

    Bisa disurvey di ITB, dari setiap 100 mahasiswa etnik Jawa, berapa banyak yang saat lulus memahami bahasa Sunda. Sebaliknya, dengan etnis non Jawa di UGM atau ITS. Outward looking orang Jawa yang saya lihat sangat lemah.

  15. abisyakir berkata:

    @ Saudara Yogi:

    Sebelumnya terimakasih atas komentar yang Anda sampaikan. Memang, saat memasuki area ini, saya merasa bahasan ini SANGAT SENSITIF. Tetapi hal itu juga bukan berarti TABU untuk didiskusikan. Sebab, masalah yang “sensitif” kalau terus-menerus ditutupi tanpa ada kemauan membahasnya secara jujur, akibatnya justru berbahaya. Seperti di Papua. Saat sekarang ini ajakan untuk melepaskan diri dari Indonesia begitu kuat (menurut data Sabili). Itu karena kita tidak mau membahasnya secara jujur, secara adil, melepaskan diri dari fanatisme.

    Intinya begini: Saya membedakan rakyat Indonesia dalam tiga kategori berdasarkan KEIMANAN: (1) Orang yang imannya kuat; (2) Orang yang imannya lemah; (3) Orang non Muslim.

    Di mata orang Mukmin yang kuat imannya, perbedaan kesukuan tidak jadi masalah. Mereka selalu melihat kualitas keimanan. Kalau imannya baik, dijamin moralitasnya akan baik. Yang imannya lemah, dijamin moralitasnya akan buruk. Adapun soal orang non Muslim, tidak ada yang perlu dibahas lagi. Mereka berada di luar pagar keimanan.

    Selama ini ada orang shalih yang berbuat kebaikan. Tentu saja, dia bisa orang Sunda, Bugis, Tapanuli, Aceh, Jawa, Palembang, dan lainnya. Namanya juga orang shalih, dari berbagai suku pasti ada. Hanya saja, saat masyarakat melihat orang shalih itu, mereka kaitkan dengan Islam, tanpa menghubungkan dengan latar-belakang etnisnya.

    Sebaliknya, kalau ada koruptor, penjahat, pemimpin zhalim, preman, bonek, dan lain-lain pelaku perbuatan buruk; begitu cepatnya masyarakat kaitkan masalah perbuatan itu dengan latar-belakang etnisnya. Entah mengapa demikian. Kebetulan etnis terbesar di Indonesia adalah Jawa, sehingga koruptor, penjahat, pemimpin zhalim, penindas, penipu, dan sebagainya segera dikaitkan dengan Jawa. Andai etnis terbesar di Nusantara ini Bugis, Sunda, atau Minang, mungkin mereka akan menjadi bulan-bulanan tuduhan. Anehnya, di atas perbuatan-perbuatan buruk itu, masyarakat lupa sama sekali dengan keimanan para pelaku perbuatan buruk itu. Aneh sekali. Kita punya agama, tetapi nilai-nilainya tidak dipakai untuk mengukur segala sesuatu.

    Lebih aneh lagi, banyak masyarakat di Indonesia ini lebih suka menuduh orang Jawa, Sunda, Minang, Aceh, Palembang, dst. sebagai pihak-pihak yang berperilaku buruk, zhalim, menindas, dsb. Mereka tidak pernah menuduh etnis China, India, orang Amerika, Jepang, Korea, Jerman, Inggris, dsb. Tuduhan hanya dialamatkan ke sesama etnis Nusantara. Sementara kezhaliman, korupsi, penindasan, penjajahan, penjarahan, dsb yang dilakukan orang-orang kafir asing, sama sekali tidak disentuh. Kalau coba-coba disentuh, akan segera dituduh: “Lo, ngomong SARA ya? Lo menghasut masyarakat dengan isu SARA ya?”

    Orang Jawa sebagai etnis terbesar di negeri ini menjadi sasaran sentimen sejak dulu. Tetapi pihak-pihak etnis asing yang rata-rata non Muslim, mereka bebas berbuat zhalim, korupsi, menindas, menjajah, dsb. Karena dilindungi “isu SARA”. Enak betul ya mereka, sementara malang betul ya orang Jawa.

    Tetapi apapun, saya tetap yakin dengan sebuah prinsip, “Saya ini orang Jawa, tapi saya Muslim.” Jawa adalah takdir saya sebagai manusia, dan Islam adalah agama saya di hadapan Allah. Terserah orang mau mengatakan apapun, saya tidak peduli. Siapa saja yang paling bertakwa, dia lebih baik, apapun etnis dan latar-belakang sukunya. Itulah prinsip universal Islam.

    Setiap manusia bisa dinilai baik dan jahat; tergantung kualitas kebaikan agamanya. Bukan latar-belakang etnisnya.

    == AMW ==

  16. Ardisyam berkata:

    ====== Abisyakir menulis ======
    Orang Jawa sebagai etnis terbesar di negeri ini menjadi sasaran sentimen sejak dulu. Tetapi pihak-pihak etnis asing yang rata-rata non Muslim, mereka bebas berbuat zhalim, korupsi, menindas, menjajah, dsb. Karena dilindungi “isu SARA”. Enak betul ya mereka, sementara malang betul ya orang Jawa.
    ===============================

    Itulah resiko menjadi mayoritas. Selalu menjadi sasaran tembak. Saya kira ini bukan hanya terjadi di Indonesia.

    ====== Abisyakir menulis ======
    Setiap manusia bisa dinilai baik dan jahat; tergantung kualitas kebaikan agamanya. Bukan latar-belakang etnisnya.
    ===============================

    Suatu prinsip yang sangat bagus. Saya setuju itu. Sayangnya kebanyakan masyarakat berpikir sebaliknya. Itu bukan terjadi di Indonesia saja, tapi di negara-negara lain.

  17. abisyakir berkata:

    @ Ardisyam:

    Yo wis Pak Ardisyam, kita “damai” ya. Damai, damai, peace man! He he he…

    Ya Pak, makasih komentarnya. Moga baik-baik hidup di negeri orang dengan keluarga. Kata orang Minang, “Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung.” Intinya, memahami situasi-kondisi tempat dimana kita tinggal di dalamnya. Tetapi tetap berpikir untuk menyebarkan kebajikan, dengan cara-cara sehikmah mungkin.

    Syukran jazakumullah khair.

    AMW.

  18. evi berkata:

    saya tinggal di Pontianak. Penyebab dari sentimen Anti jawa, menurut saya awalnya bukan sentimen etnis. Tapi masalah ketidakAdilan, semua tahu daerah paling maju di Indonesia ini di Jawa, Mayoritas pemimpin negara dari Jawa, Universitas Universitas paling bermutu di jawa, Mayoritas Tentara dan Polisi dari Jawa, seterusnya, setrusnya, always Jawa.

    Yang pernah belajar sejarah tahu, betapa besar sumbangan orang aceh di awal republik ini berdiri. Seperatisme muncul saat exploitasi hasil bumi di sana, dan terjadi ketidakadilan. semua pun tahu OPM mulai muncul saat terjadi ketidakadilan bumi Papua.

    Akar dari semua itu adalah KetidakAdilan, bukan etnis. KetidakAdilan ini yang memicu sentimen etnis.

  19. agus berkata:

    memang benar, sentimen anti orang jawa memang meningkat belakangan ini. mengapa? ini karena arogansi mereka dan tampak semakin merajala mengembangkan KKN, tapi paling merasa Indonesia, selalu menggunakan tameng persatuan dan kesatuan bangsa, kepentingan nasional, dll. tapi mereka benar-benar merendahkan suku lain, contoh nyata, orang Sunda benar-benar tak suka dengan kelakuan para jawa (memang mereka sama-sama ciptaan Allah SWT, tapi kelakuannya itu yg dipersoalkan).

  20. dwi berkata:

    ha.ha..ha.., jadi inget…ada dongeng berjudul “pertemuan tiga bangsa dalam kereta api di Banjar”. syahdan..zaman dahulu..dalam perjalanan sebuah gerbong kereta api dari Kota Banjar, Ciamis…ada penumpang orang Amerika, Australia, dan orang Sunda…tiba2 orang Amerika mengeluarkan sekaleng Coca-Cola dari tasnya, namun hanya seteguk langsung dibuang..si orang Sunda bengong sambil bertanya,”Mister, kenapa langsung dibuang coca-colanya?” si Amerika menjawab ringan “wah sudah biasa, karena negara kami pusat produksi Coca-Cola”, lalu si Australia pun tak mau kalah, dikeluarkannya apel Australia dari tasnya, cuma digigit sedikit langsung dibuang lagi. Kembali si orang Sunda bengong, tapi dia sudah tahu kalau Australia memang sangat dikenal produsen apel utama dunia. Tentu saja, si Orang Sunda pun tak mau kalah gertak..tiba-tiba ia menangkap seorang Jawa dalam kereta itu yang rupanya sedang dalam perjalanan menuju Jakarta atau Bandung untuk mencari makan, lalu dilemparkannya si orang Jawa ke luar kereta. Si Amerika dan si Australia langsung kaget luar biasa dan seperti biasa sambil membawa-bawa urusan HAM segala. Si orang Sunda dengan sangat kalem berkata “Kami juga punya ‘kebanggaan nasional’, sangat banyak orang Jawa di sini dan di mana-mana”. ***

  21. surya berkata:

    abi manyu @ dari tulisannya, anda justru terlihat sangat tidak suka kepada orang Sunda. Nah..sekarang tinggal dibalik..siapa sebenarnya yang duluan sentimen.

  22. abisyakir berkata:

    @ Dwi…

    Silakan berkomentar, tapi hati-hati, jangan masuk area primordialisme (kesukuan), atau ashabiyah. Sebab tujuan saya bukan untuk memenangkan suku ini dan suku itu. Berkali-kali saya ulangi pernyataan ini, “Saya adalah Jawa, tetapi saya Muslim.” Saya menerima dan hormat dengan segala pranata adat Jawa, selama hal itu sesuai dengan nilai-nilai Islam. Kalau bertolak-belakang, saya campakkan.

    Mohon jangan memprovokasi hal-hal yang negatif. Andai Anda bersikap obyektif saja, itu sudah cukup.

    AMW.

  23. agus berkata:

    abisyakir@terimakasih atas komentar anda yang saya nilai cukup santun..saya cuma iseng mendongen saja..Memang ada benarnya, jika masalah kesukuan agar dapat dikesampingkan karena kita sama-sama Muslim.
    Hanya saja, kami masih banyak ganjalan dengan sikap orang jawa (ini memang tak semuanya) yang kami nilai masih umum, yaitu kurangnya penghargaan atas budaya dan adat istiadat masyarakat lokal, kendati orang jawa sedang mencari makan di negeri orang. Mereka seringkali memaksakan adat istiadat dan kelewat bangga dengan kebudayaan dan bahasanya sendiri, tanpa melihat sedang berada di mana.
    Contoh kejadian yang sangat mengecewakan kami, pernah suatu kali, saat masa kampanye Pemilu lalu oleh saat kader partai islam tertentu, yang merupakan favorit saya. saat kader calon legislatif berkampanye menggunakan bahasa lokal (ini logis, sesuai pepatah “di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung), beberapa kader lain yang orang jawa berteriak-teriak “gak ngerti-gak ngerti!”, sehingga kami masyarakat lokal merasa tersinggung. tapi satu menit kemudian, para kader dari orang jawa tersebut, dengan asyiknya mengobrol dengan bahasa mereka sendiri, dengan keras dan tanpa memperdulikan sekeliling. nah..tentunya, jika kita sesama muslim, hal-hal ini patut selalu diperhatikan. dapat dibalik situasinya, bagaimana jika orang-orang Sunda, Sumatra, kalimantan, dll, berlaku seperti itu di daerah orang Jawa. tentunya sang tuan rumah pun sewot bukan? terima kasih.

  24. abisyakir berkata:

    @ Akhi Agus….

    Anda mengatakan: “Contoh kejadian yang sangat mengecewakan kami, pernah suatu kali, saat masa kampanye Pemilu lalu oleh saat kader partai islam tertentu, yang merupakan favorit saya. saat kader calon legislatif berkampanye menggunakan bahasa lokal (ini logis, sesuai pepatah “di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung), beberapa kader lain yang orang jawa berteriak-teriak “gak ngerti-gak ngerti!”, sehingga kami masyarakat lokal merasa tersinggung. tapi satu menit kemudian, para kader dari orang jawa tersebut, dengan asyiknya mengobrol dengan bahasa mereka sendiri, dengan keras dan tanpa memperdulikan sekeliling.”

    Kang, jangankan Anda, kalau saya melihat hal seperti itu ya kecewa. Jujur saja, saya sering lho melihat egoisme kesukuan dari sesama kami, orang-orang Jawa. Mereka sering berbahasa daerah dimanapun berada. Bahkan di forum resmi sekalipun. Masih ingat rekaman Artalita Suryani, rekaman Anggodo, dll.

    Perlu saya beritahu, meskipun ini sifatnya tidak mutlak. Di antara masyarakat kami banyak juga yang belum santun. Salah satunya, terlalu egois, tidak mau membaur secara bahasa, ingin selalu berbahasa daerah bersama teman-temannya. Ini kenyataan. Biasanya, orang seperti itu belum lancar bahasa Indonesianya, atau minder dengan bahasa Indonesia-nya. Jujur, masih banyak masyarakat kami yang gagap dengan bahasa Indonesia.

    Ada sebuah sikap unik di kalangan kami. Kalau menghadapi situasi tekanan lingkungan yang keras, mereka tidak mau minder, tetapi mereka “lawan” keadaan itu dengan sikap PD-nya. Meskipun hal ini kurang bagus di mata orang lain. Bukan hanya di Indonesia lho, di luar negeri pun, kalau mereka tertekan oleh lingkungan, mereka cuek dengan kondisi sekitar. Malah mereka berani “menertawakan” orang-orang asing di daerah orang asing itu sendiri. Hanya saja, hal itu dilakukan untuk bercanda, di depan kawan sendiri. Saya kenal sikap demikian dari kawan-kawan sejak kecil dulu.

    Yo wis, kalau ada yang bersikap seperti itu, anggaplah ini permohonan maaf dari saya mewakili mereka. Bagaimanapun, kata Nabi Saw, “Akmalul mu’minina imanuhum, ahsanuhum khuluqa” (seutama-utamanya orang beriman, keimanannya, adalah yang paling mulia akhlaknya).

    Hatur nuhun nya’.

    AMW.

  25. agus berkata:

    abisyakir@terima kasih..dengan penjelasan anda yang terlihat dengan maksud baik. Semoga ini menjadi awal yang baik bagi kita sesama Muslimin.

  26. Kermit berkata:

    Di jaman Nabi Saw, tidak semua Shahabat beretnis Arab, atau dari bangsa Quraisy Makkah. Shuhaib bin Sinan Ar Rumi disebut-sebut dari Romawi. Tapi ada yang mengatakan bahwa beliau orang Persia, bukan Romawi. Salman Al Farisi jelas-jelas dari Persia. Bilal bin Rabbah Al Habsyi, dari Ethiopia. Abdullah bin Salam dari kalangan Yahudi Madinah. Hudzaifah Al Yamani dari Yaman, Abu Dzar Al Ghifari dari suku Ghifar, Sa’ad bin Muadz dari Anshar Madinah, dan lain-lain. Tidak semuanya orang Arab, dan tidak semuanya dari Quraisy Makkah.

    emang Abu Dzar Al Ghifari dari suku Ghifar (anak kabilah Quraisy), Sa’ad bin Muadz dari Anshar Madinah anak kabilah Ghassan dari Yaman bukan orang arab ya

  27. abisyakir berkata:

    @ Kermit…

    Emang Abu Dzar Al Ghifari dari suku Ghifar (anak kabilah Quraisy), Sa’ad bin Muadz dari Anshar Madinah anak kabilah Ghassan dari Yaman bukan orang arab ya…

    Semoga Allah memberikan hidayah kepadamu, melembutkan hatimu, dan menjadikan sikapmu lembut sebagai sesuatu yang dicintai Allah Al Halim. Di antara komentarmu itu ada yang dipotong karena tidak sesuai adab seorang Muslim.

    Di awal paragraf itu sudah saya sebut, tidak semua Shahabat Nabi Saw adalah orang Arab atau dari suku Quraisy Makkah. Sa’ad bin Muadz termasuk Arab, tetapi bukan suku Quraisy Makkah. Apa yang salah dari kalimat itu, wahai saudara yang budiman?

    = Me =

  28. andi berkata:

    Mengapa pulau jawa lebih dahulu dijajah?
    1. Karena belanda saat itu melihat masyarakat jawalah yang lebih mudah untuk ditundukan karena kebodohan masyarakatnya dan keluguan para rajanya saat itu, yang mudah diiming-imgingi. (Baca buku “Nusantara”)

    2. Karena banyak pelabuhan di jawa saat itu tidak dijaga, para raja di pulau jawa entah mengapa lebih suka mendirika kerajaan di pedalaman dan bukan di pesisir pantai seperti kerajaan-kerajaan lainnya di luar pulau jawa.

    Tapi dengan dijadikannya pulau jawa sebagai pusat penjajahan, maka pemimpin besar kemungkinan pula beasal dari pulau ini. Maka jangan berpikir bahwa sukarno bisa memimpin negara ini karena pintar, bukan…. itu karena kondisi saat ini mendukung untuk itu. Coba seandainya kita sedikit berpikir bahwa saat itu pemimpin bukan dari jawa…. bisa jadi negara ini sekarang melebihi kemajuan negara tetangga, malaysia misalnya yang dipimpin oleh suku melayu…

  29. abisyakir berkata:

    @ Andi…

    Tapi dengan dijadikannya pulau jawa sebagai pusat penjajahan, maka pemimpin besar kemungkinan pula beasal dari pulau ini. Maka jangan berpikir bahwa sukarno bisa memimpin negara ini karena pintar, bukan…. itu karena kondisi saat ini mendukung untuk itu. Coba seandainya kita sedikit berpikir bahwa saat itu pemimpin bukan dari jawa…. bisa jadi negara ini sekarang melebihi kemajuan negara tetangga, malaysia misalnya yang dipimpin oleh suku melayu…

    Respon: Masalah seperti itu memang pelik. Mau menolak, ya ada realitasnya; mau menerima, nanti jadi sentimen kesukuan; padahal seorang Muslim meletakkan urusan agama di atas urusan etnik. Tapi saya mendapat pelajaran berharga. Etnik apapun, kalau menolak TAUHID, menolak SYARIAT Nabi, dan menolak ILMU (Al Qur’an dan Sunnah), mereka akan kalah dan dikalahkan. Itu intinya. Terimakasih atas komentarnya.

    AMW.

  30. dildaar80 berkata:

    Artikel yg bagus akhi!

    Diskusinya pun berisi, bagus dan santun.

    Sy sbg org jawa menganggap ini bahan refleksi dan instrospeksi yg bagus.

  31. Anonim berkata:

    kata kuncinya adalah ketidakadilan.
    banyak sarana pendidikan berkualitas (kampus-kampus bagus,sekolah-sekolah bermutu) yang dibangun di tanah jawa, sebaliknya di daerah kami (luar jawa) sekolah ambruk macam laskar pelangi itu banyak.
    Harusnya, bangun sarana pendidikan yang berkualitas tidak terpusat di tanah jawa, tapi tersebar dan merata di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi,Papua & Maluku.
    Di daerah-daerah itu perlu dibangun Universitas top yang mendapat dana besar dari Pemerintah Pusat

  32. dildaar80 berkata:

    Bersabarlah akhi dr luar pulau jawa,

    Menteri Perekonomian Hatta Rajasa menyampaikan sebanyak 18 proyek besar dalam program Masterplan Percepatan, Perluasan, dan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) sudah diresmikan terhitung semenjak Kwartal II 2011 sampai 2012. Hatta mengatakan akan ada 65 proyek lagi yanfg nantinya
    siap dicanangkan pad Kuartal III-2012.

    Hal ini disampaikan Hatta jumpa pers seusai mengadakan rapat koordinasi pembahasan MP3EI di kantornya, Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (26/8/2011).

    “Untuk proyek-proyek di kuartal II 2011-2012 adalah sebanyak 18 proyek besar yang sudah diresmikan,” ungkapnya.

    Hatta melanjutkan, selanjutnya, pada kwartal III 2011-2012 akan ada sebanyak 65 proyek yang siap dicanangkan. Dimana proyek tersebut akan digarap masing-massing oleh BUMN atau swasta.

    “Di bulan ini pun seharusnya kita meresmikan proyek di Kalimantan Timur tapi kita geser ke September. Dan di Oktober nanti ada peresmian bandara di Lombok dan Kawasan Ekonomi Khusus di Lombok yang bernama Mandalika,” tuturnya.

    Hatta menyatakan pihak pemerintah masih akan melakukan banyak ground breaking serta peresmian proyek-proyek infrastruktur di waktu dekat.

    Selain itu, pihaknya juga mengaku telah merampungkan beberapa kendala yang
    masih menghambat MP3EI di sisi regulasi.

    “Jadi kita sudah ada regulasi yang beres dan masih diproses. Kita optimis
    seluruhnya akan selesai, jika masih ada yang menghambat, itu adalah beberapa
    UU yang ditargetkan rampung di 2012,” lanjut Hatta.

    Dirinya juga berjanji RUU Pengadaan Lahan juga dapat rampung tahun ini. Dimana pihaknya akan melakukan perubahan serta sinkronisasi regulasi yang
    ada supaya nantinya bisa searah dengan MP3EI.

    “Jadi, di masing-masing koridor ekonomi, akan dilakukan singkronisasi aturan dan perubahan regulasi yang masih menghambat MP3EI,” tegasnya.

    Sedangkan dari sisi konektifitas, pihaknya sedang melakukan identifikasi apa saja yang dibutuhkan untuk menyiapkan infrastruktur pendukung seperti pembangunan pelabuhan, jalan tol, jembatan, hingga pusat pertumbuhan, dan transportasi.

    Kemudian, dari sisi Sumber Daya Manusia dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, juga sudah disiapkan dan ditetapkan kebutuhannya dalam tiap-tiap koridor.
    “Itu sudah disiapkan blueprintnya sampai 2025 nanti,” katanya.

    Melanjutkan pernyataan Hatta, Wakil Kepala Bappenas, Lukita Dinarsyah Tuwo mengatakan ada beberapa proyek penghubung MP3EI yang akan rampung dalam waktu dekat.

    “Di Koridor Jawa akan ada pembangunan Double Track lintas Utara Jawa. Kita targetkan rampung di 2013. Kita juga siapkan di Sumatera untuk proyek jalan tol Kualanamu bisa operasi di 2012,” janjinya.

    Selain itu akan ada pembangunan ekspansi Bandara Ngurah Rai yang saat ini sudah berjalan. Selain itu, ekspansi pelabuhan Tanjung Priok diharapkan akan segera ditenderkan.

    “Kita juga siapkan 24 ruas jalan tol Trans Jawa di 2014 supaya semua jalan tol tersambung semua. Kita juga siapkan lagi proyek kereta Sei Mangkei di Sumatera. Kita harus siapkan itu untuk MP3EI,” ungkap Lukita.

  33. Anonim berkata:

    dari dulu sabar melulu…sumber daya alam kami dah habis sedangkan pembangunan tidak ada…Saya pernah pergi ke Jawa sama teman saya dari Kaltim keturunan suku dayak..Begitu dia sampai daerah Nganjuk..bus turun teman saya tiduran sambil nangis, temanku berkata koq jalan di jawa lebar dan mulus ya..padahal hasil alamnya nggak bigitu banyak. sedangkan ditempat kita kaltim sudah kecil dan rusak..Inilah bukti bahwa Indonesia lebih mementingkan jawa..Saat ini mana pernah jawa kekurangan pasokan BBM padahal pemakaian BBM di Jawa 20 kali di kalimantan. Kami kadang harus antri beli BBM. Belum listrik sering mati karena pemangkit dah tua. Padahal batu bara kami di keruk untuk tanah jawa.

  34. pelosok berkata:

    penulis menyebutkan sisi lain bahwa Rakyat jawa banyak juga yang hidupnya miskin, tidak adil kalau kambing hitam ditimpakan kesalahan kepada jawa, itu provokasi penjajah Jaman sekarang bahwa jawa adalah penjajah.
    ————————————————————————————
    Kebijakan para pemimpin selama setengah abad lebih, terang-terangan menganakemaskan daerah tertentu itu, adalah fakta ketidakadilan..beberapa beberapa presiden terbukti secara sah dan meyakinkan menganakemaskan daerah mereka sendiri dan menganaktirikan daerah lain.
    Pada thn 2001 dibentuk Kementerian Indonesia Timur/DAERAH TERTINGGAL.artinya apa ini? apa mafhum mukhalafahnya?
    lucunya Menterinya 90 % diisi oleh orang jawa pula, mana nyambung pula..

    Siapa bilang ada provokasi segala, wong pembangunan infrastuktur sangat tidak adil kok..
    Lihatlah di pelosok-pelosok. Lihatlah indonesia ada 30 lebih provinsi, jangan yang disuburkan hanya tiga atau 4 saja.

    Kesenjangan pendidikan dan pembangunan inilah yang menyuburkan sentimen anti suku tertentu

  35. deleted berkata:

    Realita telah berkata..saat ini kayaknya ada gerakan suku jawa untuk bisa menduduki suatu wilayah secara utuh. dan kayaknya terorganisir..Sering kali mereka buat persatuan..intinya adalah KKN bagaimana anaknya Bisa jadi PNS di suatu daerah.. bisa jadi pejabat di suatu daerah..

  36. abisyakir berkata:

    @ Anonymous…

    Saya lihat sendiri fakta tentang DETERMINASI/ketangguhan kerja masyarakat Jawa Timur. Di Jatim itu hampir tidak ada barang tambang yang berarti. Tetapi masyarakatnya giat menjadi petani, menjadi penggiat usaha kecil, bekerja di perusahaan, atau menjadi PNS. Mereka memiliki dedikasi. Meskipun barang tambang sedikit, tetapi mereka gunakan kekuatan SDM untuk membangun. Kalau tidak percaya, Anda kompetisikan SDM masyarakat Jatim dengan daerah lain? Lalu lihat hasilnya.

    Ya memang ini susahnya. Kita menyarankan Islam, tidak diterima. Saat memakai sistem non Islami, lalu hasilnya tidak benar; ujung-ujungnya membawa sentimen etnis. Ya, kalau bukan sistem Islami, sampai kapanpun tak akan memuaskan. Tapi masalahnya, Anda tidak mau melihat konsep Islam, sedang hati Anda sudah dibakar rasa amarah besar karena alasan kesukuan. Andaikan suku Anda menguasai keadaan, namun tidak memakai sistem Islam; akibatnya tidak akan lebih baik.

    AMW.

  37. abisyakir berkata:

    @ Pelosok…

    Ya memang ini susahnya. Kita menyarankan Islam, tidak diterima. Saat memakai sistem non Islami, lalu hasilnya tidak benar; ujung-ujungnya membawa sentimen etnis. Ya, kalau bukan sistem Islami, sampai kapanpun tak akan memuaskan. Tapi masalahnya, Anda tidak mau melihat konsep Islam, sedang hati Anda sudah dibakar rasa amarah besar karena alasan kesukuan. Andaikan suku Anda menguasai keadaan, namun tidak memakai sistem Islam; akibatnya tidak akan lebih baik.

    AMW.

%d blogger menyukai ini: