Risalah Ramadhan: “Islam dan Negara”

Alhamdulillahil A’la laa haula wa laa quwwata illa billah. Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa Rasuluh. Shalatan wa salaman ‘alaihi wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Kalau kita menyaksikan kondisi kaum Muslimin saat ini, maka disana kita jumpai begitu banyak masalah-masalah berat yang menimpa Ummat ini. Permasalahan itu seperti “benang kusut” yang sangat rumit, komplek, dan tidak jelas ujung-pangkalnya. Banyak orang membuat sintesa tentang solusi semua persoalan ini. Ada yang menyerukan, “Kita kembali kepada majelis ilmu dan kajian akidah.” Ada yang menyerukan, “Kita terjun ke dunia politik praktis.” Ada yang menyerukan, “Mari kita membangun ekonomi berbasis Syariah.” Ada pula yang menyeru, “Ummat membutuhkan media massa cerdas.” Begitu banyak seruan-seruan itu, sehingga Ummat seperti berada di persimpangan jalan. Dan setiap penyeru itu mengklaim jalan yang dipilihnya adalah cara terbaik yang harus ditempuh. Tidak lupa, mereka mengejek jalan yang lain, mengkritisi, atau menghinanya.

Disini kita akan mencoba merunut masalahnya, memahami pemikiran-pemikiran, memperhatikan realitas, melakukan diskusi, sampai menemukan kesimpulan akhir yang diharapkan. Insya Allah.

<>MASALAH KOMPLEK <>

Masalah yang dihadapi Ummat Islam saat ini, dalam skala Indonesia maupun dunia, amat sangat komplek, rumit, dan sulit menemukan ujung-pangkalnya. Di antara masalah-masalah itu adalah sebagai berikut:

Masalah Eksternal: Budaya Barat merajalela. Media massa Barat mendominasi. Tekanan politik negara-negara Barat membelenggu negara Muslim. Dominasi ekonomi negara atau lembaga kapitalis dunia. Merajalelanya sistem ekonomi ribawi. Penyusupan agen-agen asing. Provokasi agen asing untuk menciptakan perpecahan di Dunia Islam. Gerakan Kristenisasi. Gerakan Zionisme dan kekejaman Israel di Palestina. Invasi negara-negara Barat ke dunia Islam. Peredaran narkoba, miras, perjudian, pelacuran skala internasional. Penyebaran wabah-wabah penyakit berbahaya. Sistem pendidikan Barat yang menerapkan metode “cuci otak” terhadap pelajar-pelajar Muslim. Stigma terorisme dan penghancuran aset-aset Ummat karena tuduhan terorisme. Dan lain-lain.

Masalah Ineternal: Kebodohan Ummat dalam segala sisinya. Kemiskinan dan lemahnya ekonomi. Perpecahan antar jamaah, komunitas, organisasi, dan lembaga Islam. Perselisihan pendapat dalam berbagai macam masalah. Kerusakan moral, khususnya di kalangan generasi muda. Fenomena korupsi di lembaga-lembaga pemerintahan dan bisnis swasta. Aneka macam kasus kriminal dengan segala modusnya. Perasaan inferior (minder) sebagai Muslim. Pertentangan antara gerakan Islam dengan pemerintah-pemerintah berkuasa. Konflik politik internal. Bercokolnya ideologi-ideologi sekuler. Berkembangnya aliran-aliran sesat yang membahayakan agama. Lemahnya kualitas SDM. Minimnya perhatian terhadap kebutuhan informasi. Sikap materialisme masyarakat. Sikap phobia terhadap dakwah. Dan lain-lain.

Banyak sekali masalah yang kita hadapi, baik dari dalam maupun luar. Begitu banyaknya, sampai kita hampir putus-asa, “Bagaimana cara memperbaiki semua ini? Bisakah semua ini diperbaiki? Atau memang jaman sudah dekat Hari Kiamat, sehingga kita lebih baik menanti Imam Mahdi saja?” Padahal yang disampaikan di atas masih sebagian masalah, belum seluruhnya.

Kalau mencermati satu demi satu masalah itu, pasti kita akan keletihan. Waktu kita pasti habis untuk memikirkan semua masalah ini, sebelum ia berhasil diperbaiki. Akibatnya, kita akan putus-asa. Tetapi kalau kita mampu melihat INTI MASALAH-nya, insya Allah akan tumbuh optimisme dalam hati.

Lalu dimana inti masalah itu?

Saudaraku rahimakumullah jami’an. Apa yang Anda saksikan berupa beribu-ribu masalah yang menimpa Ummat ini, pada dasarnya semua itu adalah “MASALAH HILIR” belaka. Ia adalah masalah akibat, bukan pemicu dari semua masalah itu. Jadi, sejak semula telah ada “MASALAH HULU”, kemudian ia terus berkembang menimbulkan beribu-ribu “masalah hilir”. Ibarat aliran sungai, ketika di hulu sudah kotor, maka sampai ke hilir airnya semakin kotor.

Jadi, beribu-ribu masalah yang kita hadapai saat ini pada hakikatnya adalah AKIBAT dari suatu persoalan tertentu. Kalau Anda ingin menghabiskan waktu untuk memperbaiki satu demi satu masalah itu, sampai Hari Kiamat pun Anda tidak akan sanggup melakukannya. Jika air di hilir kotor, jangan habiskan energi Anda untuk menjernihkan air itu. Tetapi segeralah berangkat ke hulu, lalu perbaiki sumber masalah yang mengotori air disana.

Masalah ekonomi, media, pendidikan, kesehatan, hubungan sosial, pergaulan, budaya, keilmuwan, perselisihan pendapat, ibadah, syiar, dakwah, perjuangan, kepemimpinan, politik, keamanan, dan seterusnya; jika semua itu diselesaikan satu per satu, yakinlah sampai Hari Kiamat pun tidak akan selesai-selesai. Solusinya harus menyeluruh, integral, dan menukik ke inti masalahnya.

<> KUNCI SEGALA MASALAH<>

Dalam Islam ada sebuah urusan yang sangat besar pengaruhnya. Jika urusan itu baik, seluruh urusan lainnya akan baik. Jika urusan itu buruk, maka seluruh urusan akan ikut buruk. Ia adalah urusan PEMERINTAHAN.

Baik buruknya keadaan suatu negeri, tergantung SISTEM PEMERINTAHAN yang berlaku di negeri itu. Sistem pemerintahan meliputi: Kepemimpinan, UU, sistem manajemen, kinerja aparat (SDM), penegakan hukum, dan kebijakan politik. Jika di semua sisi urusan itu berlaku tata-nilai Islami, maka hasilnya adalah maslahat besar. Sebaliknya, jika di semua sisi urusan itu diterapkan tata nilai jahiliyyah (non Islami), maka akibatnya adalah kekacauan, penderitaan, dan kesengsaraan hidup yang meluas.

Jika suatu negeri menganut sistem Islami, itu berarti mereka telah menjernihkan air di hulu. Sehingga hasilnya mereka bisa berharap akan mendapati air jernih di hilir. Dengan menerapkan sistem jahiliyyah, maka sampai Hari Kiamat pun, jangan pernah berharap negeri itu akan hidup adil, makmur, damai, dan sentosa. Semua itu hanyalah omong kosong yang tidak ada wujudnya.

Lalu apa dalilnya, bahwa sistem Islami mutlak dibutuhkan suatu negara jika mereka menginginkan meraih kejayaan lahir-batin, dunia Akhirat?

Banyak ayat-ayat Al Qur’an yang bisa menjelaskan hal itu. Di antaranya adalah ayat berikut ini: “Maka jika datang kepada kalian dari sisi-Ku berupa petunjuk, maka siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada ketakutan atas mereka dan tidak pula mereka akan bersedih hati.” (Al Baqarah: 38). Dengan mengikuti petunjuk Allah Ta’ala (sistem Islami) secara konsisten, dijamin suatu negeri akan dibebaskan dari rasa takut dan kesedihan.

Maka ibadahilah Rabb (Pemilik) Rumah ini (Ka’bah), yaitu (Rabb) yang telah memberi makan mereka untuk menghilangkan kelaparan, dan mengamankan mereka dari ketakutan.” (Al Quraisy: 3-4). Dengan menyembah Allah, Dia akan menyempurnakan nikmat-Nya, dengan memberi manusia kecukupan pangan dan memberi mereka rasa aman dari marabahaya.

Dan siapa yang mencari selain Islam sebagai agamanya, maka tidak diterima (amal-amal) darinya, dan kelak di Akhirat dia termasuk orang yang merugi.” (Ali Imran: 85). Ayat ini tidak hanya bicara tentang pilihan agama seseorang, tetapi juga tentang pilihan sistem kehidupan yang dianut suatu bangsa. Bangsa yang memilih sistem non Islami, maka amal-amal penduduk negeri itu akan diangkat berakahnya. Akibatnya, setiap nikmat yang mereka peroleh tidak memberi kepuasan; sementara musibah dan bencana terus-menerus menimpa mereka.

Nabi Saw sendiri amat sangat menekankan, agar kaum Muslimin komitmen dengan sistem Islami seperti yang beliau contohkan, dan dicontohkan pula oleh para Khulafaur Rasyidin Ra. Dalam hadits yang terkenal dari ‘Irbath bin Sariyyah Ra, Nabi Saw bersabda: “Dan siapa yang masih hidup (dalam usia panjang) dari kalian, dia akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Maka cukuplah bagi kalian mengikuti Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat pimpinan (dari Allah Ta’ala). Gigitlah Sunnah itu dengan gigi geraham kalian. Berhati-hatilah kalian dari segala urusan yang diada-adakan (bid’ah), sebab setiap bid’ah itu adalah kesesatan. “ (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi).

Sistem kehidupan yang dicontohkan Nabi adalah sistem Islami. Begitu pula dengan sistem yang dianut para Khulafaur Rasyidin Ra. Maka seharusnya Ummat Islam konsisten dan istiqamah dengan sistem ini. Bukan sebagaimana yang kita saksikan saat ini, ketika Ummat Islam menempuh sistem jahiliyyah, demokrasi, parlementer, nasionalisme, sekularisme, liberalisme, kapitalisme, dan sebagainya. Semua sistem semacam itu hanya membuat manusia SAKIT saja.

Selama ribuan tahun, sejak jaman Nabi Saw sampai tahun 1924 saat Khilafah Utsmaniyyah di Turki runtuh, kaum Muslimin tidak pernah sekali pun mengambil sistem jahiliyyah. Ummat berada di atas jalan Islam, meskipun kondisi mereka mengalami masa pasang-surut. Justru setelah era nasionalisme berlaku di dunia Islam, dan lenyapnya sistem Islami, kaum Muslimin hidup terlunta-lunta. Mereka seperti anak-anak ayam yang kehilangan induk. Bahkan ada yang menyebut, kondisi Ummat Islam seperti gelandangan yang tidak karuan nasibnya.

<> KESESATAN BERPIKIR <>

Allah telah menjelaskan pentingnya sistem Islami untuk melindungi kehidupan Ummat, serta membuka seluas-luasnya barakah. Begitu pula Nabi Saw telah memerintahkan kita agar konsisten di atas jalan beliau dan Khulafaur Rasyidin Ra. Nabi memerintahkan kita agar memegang ajaran itu sekuat-kuatnya, kalau perlu ia digigit dengan gigi geraham. Tetapi sejak runtuhnya Khilafah Turki Utsmani kaum Muslimin terombang-ambing dalam berbagai pemikiran sesat. Alih-alih mereka ingin menghidupkan kembali sistem Islami, mereka justru terjerumus dalam sistem jahiliyyah. Lebih celakanya, mereka mengklaim sistem jahiliyyah itu sebagai sistem Islami. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Sebagian orang mengatakan, bahwa Islam tidak mengenal sistem negara. Kata mereka, dalam Al Qur’an tidak ada istilah daulah (negara). Ini adalah alasan orang-orang dungu yang tidak perlu didengar. Kalau dalam Al Qur’an tidak disebutkan istilah “madrasah”, “majlis taklim”, “kitab fiqih”, “tafsir Al Qur’an”, “kitab hadits”, “lughah ‘Arabiyyah”, dll. apakah itu berarti bahwa semua semua urusan itu dianggap bathil atau tidak dibutuhkan Ummat?

Sebagian yang lain mengklaim bahwa misi menegakkan negara Islam sudah tidak relevan lagi. Mereka mengganti upaya itu dengan gerakan politik melalui sistem demokrasi. Mereka sangat serius bekerja di lapangan demokrasi, seakan ia amal shalih yang paling agung nilainya di sisi Allah. Namun dalam perjalanan waktu, para politisi itu mengalami kerusakan iman yang parah. Sikapnya mencla-mencle. Mereka anti dikritik, omongannya selalu manis, janji-janjinya terus berbunga-bunga. Di mata mereka “citra politik” lebih agung daripada mengikuti ajaran agama itu sendiri. Orang-orang ini semakin lama semakin tampak kesamaan sikapnya dengan kaum jahiliyyah di Makkah dulu. Hanya saja mereka enggan mengakuinya. Na’udzubillah wa na’udzubillah min kulli dzalik.

Sebagian lain mengklaim bahwa kebutuhan kepada nasionalisme lebih kuat ketimbang kepada sistem Islami. Di mata mereka, kondisi negeri yang tidak Islami, nilai-nilai Islam diabaikan, syiar-syiar Islam meredup, dll. tidak masalah; asalkan kualitas nasionalisme terus terjaga dan berkembang. Tidak jarang, mereka memandang kondisi dirinya lebih tinggi daripada Islam itu sendiri. Sebagian mereka ada yang mengatakan, “Saya ini Muslim, tetapi saya orang Indonesia.” Seharusnya, kalau seseorang itu benar-benar beriman, dia akan membalik ungkapan itu menjadi, “Saya ini orang Indonesia, tetapi saya Muslim.”

Sebagian lain menyebut misi perjuangan negara Islam sebagai terorisme. Alasannya sederhana, misi negara Islam dianggap memusuhi proses penjajahan, praktik kapitalisme, dan liberalisme. Label terorisme itu memang ciptaan para penjajah untuk menyingkirkan pihak-pihak yang memusuhi ambisi penjajahan mereka. Para penjajah inginnya diberi kesempatan yang luas, lapang, dan damai untuk terus mengeruk kekayaan suatu negeri, tanpa diganggu oleh siapapun. Ibarat perampok, mereka ingin merampok secara enak, dilindungi aparat keamanan, dilindungi UU, serta didukung anggaran. Kalau ada pihak-pihak yang merah dengan penjajahan mereka, seketika itu langsung dilabeli sebagai TERORIS. Dan lucunya, sebagian besar kaum Muslimin setuju dengan definisi teroris versi para penjajah ini.

Sebagian lain lagi mengatakan, “Urusan terpenting dalam agama ini adalah akidah, tauhid, bersih dari syirik. Kalau Ummat Islam sudah berakidah tauhid semua, maka negara Islam akan muncul secara otomatis. Sudahlah, jangan sok pintar ingin mendirikan negara Islam. Cukup dirikan majlis-majlis taklim di setiap kampung, nanti negara Islam akan muncul sendiri setelah itu.”

Atas pemikiran di atas, saya ajukan beberapa pertanyaan berikut: “Bagaimana cara Anda membangun akidah yang bersih di atas sistem jahiliyyah? Percayakah Anda bahwa tujuan itu akan berhasil? Bukankah lebih mudah membangun akidah yang bersih kalau negara ikut mendukung? Bukti sederhananya di Saudi. Pemerintah Saudi aktif menetapkan aturan perlindungan akidah bagi Ummat. Lalu bandingkan dengan negeri-negeri Muslim lain? Lalu dalam perjuangan Nabi Saw di Madinah, apakah ketika Nabi membangun negara Islami, beliau mensyaratkan seluruh penduduk Madinah akidahnya bersih murni seluruhnya bebas dari kesyirikan? Bukankah di Madinah sendiri masih banyak orang-orang munafik, masih banyak orang yang lemah iman, bahkan masih banyak orang Yahudi? Dalam perang Hunain pun, orang-orang musyrik Makkah yang belum masuk Islam, mereka diijinkan ikut serta dalam peperangan. Bahkan kemudian mereka mendapatkan jatah pembagian ghanimah sangat besar dibandingkan kaum Anshar.”

Akidah tauhid adalah urusan besar dalam kehidupan ini. Ia adalah sebesar-besar urusan dimana Allah Ta’ala kelak akan mengadili manusia dengan patokan urusan itu. Tetapi perlu diingat, MASALAH TAUHID ITU TIDAK BERDIRI SENDIRI. Ia sangat erat hubungannya dengan masalah-masalah lain. Tidak seperti pemahaman orang-orang bodoh selama ini. Mereka beranggapan, masalah tauhid itu berdiri sendiri. Urusan tauhid itu berkaitan dengan wawasan ilmu, pekerjaan, ekonomi, budaya, tradisi, pergaulan sosial, kebijakan politik, dll. Segala sisi kehidupan manusia ada kaitannya dengan keyakinan hatinya (akidah tauhid).

Sebuah bukti, ialah kisah Musa As dan Bani Israil. Musa diperintahkan oleh Allah untuk menyelamatkan Bani Israil dari cengkeraman Fir’aun di Mesir. Fir’aun telah melampaui batas, sampai mengklaim dirinya sebagai tuhan yang maha tinggi (Surat An Naaziat: 24). Musa As diperintahkan Allah bukan untuk meruntuhkan imperium Fir’aun, tetapi untuk menyelamatkan Bani Israel dari kezhaliman sistem Fir’aun di Mesir. Sistem itu sangat kuat pengaruhnya bagi akidah Bani Israil. Hingga setelah selamat dari Fir’aun, Bani Israil suatu ketika meminta Musa membuatkan mereka berhala seperti penduduk suatu kampung (Surat Al A’raaf: 138). Bahkan pengaruh berhala-berhala Mesir itu sampai saat ini masih kuat di jiwa-jiwa anak keturunan Bani Israil (Yahudi). Kalau Anda pelajari simbol-simbol yang dipergunakan kaum Yahudi modern, rata-rata semua itu digali dari keyakinan syirik bangsa Mesir kuno. Lihatlah dengan hati ikhlas dan pikiran jujur, bahwa sistem politik sangat kuat pengaruhnya bagi akidah manusia. Pemaksaan ideologi Pancasila di jaman Soeharto juga sangat besar pengaruhnya bagi akidah Ummat Islam Indonesia. Betapa banyak orang yang marah saat Pancasila dihina orang-orang tertentu; tetapi mereka tidak marah ketika Islam dan ajarannya dihina oleh orang-orang kafir.

Demi Allah, tujuan mencapai akidah tauhid yang murni, bersih dari syirik, adalah perkara yang mulia. Namun hal itu akan jauh lebih mudah dicapai di bawah naungan sistem Islami daripada di bawah sistem jahiliyyah. Begitu besarnya pengaruh kekuasaan ini, sampai para ulama Salaf dulu mengatakan, “Andaikan kami memiliki doa yang mustajab, tentu akan kami doakan para penguasa (sultan).” Menurut mereka, kalau sultannya baik, maka rakyatnya akan menjadi baik. Begitu pula, kalau sultannya rusak, maka rakyatnya juga akan rusak.

<> TEGAKKAN DAULAH DI HATIMU! <>

Sebagian ulama menetapkan ungkapan dakwah yang terkenal, “Aqimu daulatal Islamiyyati fi qulubikum, takun lakum fi ardhikum” (tegakkan daulah Islamiyyah di hati-hati kalian, maka ia akan tegak di negeri kalian). Ungkapan ini disepakati, dipuji, bahkan disebut-sebut bagaikan wahyu yang turun dari langit.

Untuk memperkuat keyakinan di atas, mereka menyebutkan dalilnya berupa Shirah Nabawiyyah. “Nabi selama 13 tahun di Makkah fokus berdakwah tauhid. Beliau pernah diberi tawaran kekuasaan, tapi beliau tolak. Itu tandanya, Nabi belum membutuhkan kekuasaan. Setelah beliau sabar berdakwah tauhid, beliau diberi kemenangan ketika penduduk Madinah bersedia memeluk Islam dan membela Nabi dengan harta dan jiwanya. Jadi, dalam dakwah itu yang penting tauhid dulu. Nanti kemenangan akan datang secara otomatis,” begitu dalih mereka.

Menurut saya, semua ini adalah cara yang salah dalam memahami Shirah Nabawiyyah. Kita sama-sama berdalil dengan Shirah Nabawiyyah, tetapi kesimpulan akhirnya berbeda. Perhatikan penjelasan-penjelasan di bawah ini:

[1] Sudah sewajarnya bahwa dakwah itu dimulai dengan akidah dulu. Sebelum seseorang diajak untuk beramal ini dan itu, sudah wajar jika terlebih dulu diajarkan keyakinan-keyakinan kepadanya. Nanti keyakinan itulah yang akan mendorong timbulnya amal-amal sebagaimana yang dikehendaki. Karena keyakinan Islam adalah Tauhid, maka ia merupakan ajaran fundamental (mendasar) yang diajarkan terlebih dulu. Nabi Saw sendiri telah mencontohkan dakwah seperti ini.

[2] Kalau disebutkan bahwa dakwah Nabi di Makkah selama 13 tahun fokus pada akidah, bukan berarti hanya masalah akidah-akidah saja yang diperhatikan. Tidak sama sekali. Nabi juga memperhatikan masalah jihad harta. Buktinya dengan pengorbanan harta Khadijah, Abu Bakar, Utsman, dan lainnya. Nabi juga mengajarkan tentang shalat. Bahkan perintah shalat malam itu di awal-awal turunnya wahyu (Surat Al Muzammil). Nabi juga aktif melaksanakan komunikasi dakwah, salah satunya ketika beliau mengumpulkan tetua-tetua Quraisy di Bukit Shafa (asbabun nuzul Surat Al Lahab). Nabi juga melakukan gerakan-gerakan politik, seperti melindungi Shahabat, memerintahkan sebagian Shahabat hijrah ke Habasyah, beliau menawarkan dakwah ke Thaif, beliau menolak tawaran-tawaran pemuka Quraisy, beliau bersabar dalam boikot selama 3 tahunan, termasuk beliau menetapkan Bai’ah Aqabah kepada sebagian warga Madinah. Puncaknya, beliau dan Shahabat menetapkan hijrah ke Madinah. Jadi sangat naïf kalau ada yang menyimpulkan, kerja dakwah Nabi di Makkah hanya membuat taklim kajian akidah saja.

[3] Kenyataan yang sering dilupakan, bahwa dakwah Nabi di Makkah tidak hanya menyebarkan nilai-nilai Islam saja. Beliau juga mengingkari sistem jahiliyyah yang berlaku di Makkah, misalnya sistem ideologi, peribadahan, politik, moralitas, tradisi, dll. Buktinya, dakwah Nabi membuat marah pembesar-pembesar Quraisy. Andaikan dakwah itu hanya berupa “majlis taklim rutin”, tentu para pembesar Quraisy tidak merasa terancam posisinya. Penolakan Nabi terhadap sistem jahiliyyah berlaku secara menyeluruh, sehingga beliau pun dimusuhi secara menyeluruh pula. Nabi dituduh sebagai tukang sihir, dukun, orang gila, pendongeng, penyair, sampai dituduh murtad dari tradisi Quraisy, untuk menjelek-jelekkan citra dakwah beliau. Boikot selama 3 tahun terhadap Bani Hasyim, merupakan cara orang Quraisy untuk memotong jalur ekonomi dan relasi sosial yang menopang dakwah Nabi. Rencana pembunuhan Nabi yang dirumuskan di Daarun Nadwah, merupakan puncak makar politik orang-orang musyrikin Makkah terhadap Nabi Saw.

[4] Nabi Saw pernah ditawari kaum musyrikin Makkah dengan harta, kedudukan, singgasana raja, dan pengobatan penyakit. Ada juga yang mengatakan, beliau ditawari isteri yang ingin dinikahinya. Kalau beliau ingin menjadi raja, masyarakat Makkah bersedia mengangkatnya sebagai raja. Tawaran itu disampaikan oleh pemuka Quraisy, Utbah bin Rabi’ah. Sebagian orang mengatakan, bahwa riwayat ini merupakan bukti bahwa Nabi tidak membutuhkan politik (kekuasaan). Itu adalah kesimpulan keliru. Nabi menolak tawaran orang Quraisy, sebab mereka tidak tulus menerima Islam. Mereka mau menjadikan Nabi sebagai raja, tetapi dengan syarat Nabi tidak lagi meneruskan dakwahnya. Jadi, tawaran singgasana raja itu semata tawaran dunia saja; Nabi menjadi raja dengan tata-nilai jahiliyyah. Berbeda ketika pemuka-pemuka Madinah melakukan Bai’at Aqabah I dan II, mereka sepenuhnya pasrah kepada Nabi Saw. Mereka sami’na wa atha’na kepada beliau. Nah, sikap pasrah total kepada hukum Allah dan Rasul-Nya itulah yang tidak bisa diberikan oleh kaum musyrikin Makkah. Mereka menawari singgasana raja bukan karena mengimani Nabi, tetapi justru untuk menghentikan dakwah beliau.

[5] Dakwah tauhid yang dilakukan oleh Nabi Saw tidaklah seperti yang dibayangkan, misalnya dengan mengadakan “majlis taklim rutin”, kumpul-kumpul di masjid, membahas kitab, membahas perdebatan isu akidah, membahas perincian topik-topik akidah, dan lainnya seperti yang kita ketahui selama ini. Dakwah tauhid itu di masa Nabi ditanamkan secara integral. Disana ada pembacaan wahyu, ada proses pemahaman dan hafalan, ada pengamalan, konsistensi, sabar menghadapi ujian, patuh dengan arahan Nabi, pengorbanan, dan lain-lain. Jadi menanamkan tauhid itu bukan hanya secara TEORITIK (tekstual), tetapi langsung diterapkan di lapangan. Sedikit teori, banyak praktik. Dan tauhid itu sendiri tidak terlepas dari urusan-urusan lain, bahkan ia menjangkau segala macam masalah, sebab akidah seorang Muslim melandasi seluruh amal-amalnya.

[6] Kesalahan lain yang tidak kalah seriusnya, yaitu memahami bahwa akidah para Shahabat harus sempurna (mumtaz) dulu, baru kemudian beramal. Kesempurnaan akidah itu terbentuk justru dengan amalan-amalan. Orang-orang beriman akan ditambahkan keimanannya, kalau mereka beramal shalih. Al imanu ya’zidu wa yanqushu. Keimanan itu bertambah dan berkurang; bertambah dengan amal shalih, dan berkurang dengan maksiyat. Kalau menanti iman sempurna dulu, akidah bersih murni dulu, baru berjuang, jelas hal itu bertentangan dengan ajaran Islam dan teladan Nabi Saw. Dalam Al Qur’an disebutkan, “Fattaqullaha mas-tatha’tum” (bertakwalah kalian sekuat kesanggupan kalian). Harus diingat, di jaman Nabi, tidak semua Shahabat memiliki ilmu seluas Ibnu Mas’ud Ra, Muadz bin Jabal Ra, Umar bin Khattab Ra, Ali bin Abi Thalib Ra., Ibnu Abbas Ra, Abdullah bin Umar Ra, Abu Hurairah Ra, atau Ubay bin Ka’ab Ra. Di antara puluhan ribu Shahabat di masa Nabi, para ulama di antara mereka jumlahnya tidaklah banyak.

[7] Sebagian orang memahami, bahwa Nabi Saw tidak berkepentingan terhadap kekuasaan politik. Ini adalah pandangan yang salah, bahkan sesat. Bahkan di dalamnya mengandung tuduhan keji terhadap Nabi Saw. Nabi diutus ke dunia untuk membimbing manusia dari jahiliyyah menuju Islam, dalam segala aspek kehidupan (kaaffah). Aturan Islam tidak akan bisa terlaksana dengan baik, kalau tidak mendapat legalitas negara. Bahkan kalau negaranya bersikap memusuhi, mereka bisa memusnahkan Islam itu sendiri. Nabi Saw sangat sungguh-sungguh dalam mengusahakan perlindungan negara terhadap Islam ini. Bayangkan, untuk tujuan itu Nabi dan Shahabat berhijrah ke Madinah, ke tempat baru dengan meninggalkan kampung halaman sendiri, berikut semua harta bendanya. Nabi di Madinah menyepakati Piagam Madinah dengan kabilah-kabilah di Madinah, termasuk kabilah-kabilah Yahudi. Nabi dan Shahabat bertempur berdarah-darah dalam Perang Badar, Uhud, dan Ahzab, demi mempertahankan eksistensi peradaban Islam Madinah. Sesat dan benar-benar sesat, siapapun yang beranggapan bahwa Nabi Saw tidak berhajat kepada kekuasaan politik. Faktanya, beliau berjuang berdarah-darah untuk itu. Hanya bedanya, kalau orang sekuler berkuasa untuk memuaskan ambisi dunia atau hawa nafsu. Maka Nabi memperlakukan kekuasaan itu untuk menegakkan Kalimat Allah, melindungi Islam dan kaum Muslimin, serta menyebarkan rahmat ke seluruh penjuru alam.

Saya menasehatkan kepada saudara-saudara Muslim agar berhati-hati saat membahas tentang Shirah Nabawiyyah, ketika dikaitkan dengan perjuangan Ummat. Jangan sampai, maksudnya ingin berdalil, tetapi akibatnya malah MENYESATKAN UMMAT. Bagi mereka yang merasa punya hujjah atas keyakinannya, bahwa Islam tidak membutuhkan kekuasaan politik, saya mengajak mereka untuk berdiskusi terbuka. Mari kita berdiskusi untuk membuktikan, siapa yang benar dan siapa yang sesat berpikir?

Kembali kepada ungkapan, “Tegakkan daulah di hatimu, maka ia akan tegak di tengah masyarakatmu.” Dalam memahami ungkapan ini, kita harus bijaksana.

Pertama, kita mesti bertanya, kira-kira batasan telah “tegak daulah di hati” itu seperti apa? Harus jelas batasannya. Jangan sampai, ia merupakan utopia yang tidak pernah sampai-sampai untuk dicapai. Sebab ungkapan seperti ini sangat disukai oleh orang-orang sesat yang ingin menyingkirkan spirit perjuangan (Jihad) dari kehidupan Ummat Islam.

Kedua, secara umum setiap amal Islami selalu dimulai dengan akidah. Tidak dimulai dari titik lain. Buktinya, sebelum seseorang menjadi Muslim, terlebih dulu harus mengucapkan Dua Kalimah Syahadah. Dua Kalimah Syahadah adalah Al Madkhal (pintu masuk) ke dalam Islam. Jadi sebelum kita bicara amal-amal Islami, apapun bentuknya, kita harus berada di atas landasan akidah Islamiyyah. Tidak bisa tidak, hal itu mutlak. Sudah sewajarnya menegakkan akidah tauhid, sebelum berjuang di jalan Islam. Bahkan misi perjuangan itu sendiri pada hakikatnya adalah untuk mengukuhkan komitmen ibadah tauhid kita kepada Allah Ta’ala. Apa lagi tujuan hidup seorang Muslim, kalau bukan mengibadahi Ar Rahmaan Ar Rabbul ‘Alamiin dengan tanpa menyekutukan-Nya?

Ketiga, pembinaan akidah tauhid tidak boleh dipersempit hanya sebagai “kajian teori”. Dalam pembinaan tauhid kita memang membutuhkan ilmu, dan ilmu itu pada awalnya selalu teori (informatif). Tetapi yang bertanggung-jawab menjadikan ilmu itu masuk ke dalam hati dan terbawa dalam kehidupan kita, adalah Allah Ta’ala. Sedangkan Allah akan menambahkan keimanan ke dalam hati, jika kita banyak berbuat amal ketaatan. Agar akidah tauhid terbentuk, kita harus mengkaji ilmu-ilmu yang benar, lalu mengamalkan konsekuensi ilmu itu dalam kehidupan nyata. Jangan sampai Ummat ini “pakar ilmu tauhid”, tetapi hatinya tidak bertauhid. Nanti kita bisa seperti Yahudi yang banyak ilmu, tapi amal-amalnya menyelisihi ilmunya. Na’udzubillah min dzalik.

Keempat, konsentrasi pembinaan tauhid tidak boleh melupakan kita dari berbagai masalah Ummat lainnya. Hal ini salah dan tidak sesuai dengan Sunnah Nabi Saw. Salah satu contoh, ketika di Makkah, Nabi dan Shahabat diboikot oleh musyrikin Quraisy. Hal itu merupakan bagian dari boikot terhadap Bani Hasyim. Para Shahabat Ra mengerti tujuan boikot itu. Mereka paham, bahwa boikot itu untuk mematikan Islam. Nabi dari Bani Hasyim; Bani Hasyim cenderung melindungi Nabi, meskipun tidak semua mengimaninya; kalau Bani Hasyim diboikot secara total, diharapkan dukungan kepada Nabi akan berhenti. Kalau perlu, sesama Bani Hasyim sendiri terlibat konflik. Lihatlah dengan mata jujur, bahwa persoalan yang dihadapi Nabi di Makkah sangat komplek. Tidak hanya sekedar masalah “kajian ilmu” saja, tetapi menjangkau berbagai masalah-masalah riil. Padahal itu baru di Makkah yang disebut-sebut sebagai periode perjuangan akidah.

Kelima, harus diingat bahwa kaum Muslimin selama ini bukan seperti orang-orang Arab jahiliyyah yang total menolak ajaran Islam. Benar bahwa Ummat ini sedang sangat buruk kondisinya. Syaikh Abul Hasan Ali An Nadwi menulis buku yang bertema, “Apa saja kerusakan dunia akibat kebodohan kaum Muslimin.” Namun kita tidak bisa mengkafirkan kaum Muslimin. Paling kondisi Ummat ini bisa dianggap sebagai fenomena kefasikan yang meluas. Ummat Islam membutuhkan arahan, bimbingan, atau gebrakan agar kembali ke jalan Rabb-nya. Kondisi ini sebenarnya lebih menguntungkan daripada mereka kafir secara mutlak, seperti orang kafir pada umumnya. Maksudnya, dalam dakwah Islam kita jangan menganggap Ummat ini bodoh 100 %, seperti orang kafir yang tidak mengerti sama sekali ajaran Islam. Di sisi lain, jika ada peluang-peluang untuk melakukan “percepatan dakwah” jangan disia-siakan. Jangan karena merasa sedang “periode dakwah tauhid”, lalu kita tidak mau memanfaatkan peluang-peluang yang ada.

Memahami kalimat “Tegakkan daulah Islam di hatimu” haruslah bijaksana. Tidak boleh dengan hawa nafsu, atau sekedar ingin mencari aman. Seorang Muslim kalau sudah mengerti ilmu, mereka memikul beban yang lebih berat dari orang biasa. Mereka harus memiliki kontribusi dalam menegakkan Kalimat Allah di muka bumi, meskipun kontribusinya kecil atau dianggap remeh oleh manusia.

<> LANGKAH PERBAIKAN <>

Kerusakan hebat yang menimpa kehidupan kaum Muslimin selama ini adalah karena Ummat hidup tanpa dilindungi oleh institusi Negara Islam. Ummat hidup terombang-ambing, tanpa bimbingan, tanpa pemimpin, tanpa penjagaan, tanpa perlindungan, tanpa jaminan. Ibaratnya seperti anak-anak ayam yang kehilangan induk.

Kalau kita ingin agar kehidupan ini menjadi baik, keimanan menguat, ilmu menjadi pelita, akidah Ummat terlindungi, ekonomi mereka terjaga, kehormatan mereka terangkat, serta kejayaan mereka kembali, solusinya hanya satu: Tegakkan SISTEM ISLAM dalam kehidupan Ummat ini!!! Hanya itu solusinya, tidak ada solusi lain. Alasannya sangat jelas: “Bahwa Islam tidak bisa dipisahkan dari urusan negara.” Ajaran Islam tidak akan terlaksana secara kaffah, tanpa dukungan legalitas negara. Orang-orang kafir dan pendosa akan leluasa menyerang Islam, jika agama ini tidak dilindungi oleh pedang penguasa. Akibatnya, ajaran Islam hanya terlaksana setengah-setengah, tidak secara total. Jika demikian, dampaknya bukan kebaikan, malah kesengsaraan besar seperti saat ini.

Dalam Al Qur’an: “Apakah kalian hendak mengimani sebagian isi Al Kitab, dan kalian hendak kafir kepada sebagian lainnya? Maka tidaklah balasan bagi yang melakukan perbuatan seperti itu dari kalian, melainkan kehinaan dalam kehidupan dunia, dan kelak di Hari Kiamat mereka akan dikembalikan dalam sepedih-pedihnya siksa. Dan tidaklah Allah lalai dari amal perbuatan kalian.” (Al Baqarah: 85).

Fakta sejarah telah berbicara dengan sangat jelas. Ketika di tengah kaum Muslimin masih tegak sistem negara Islami, maka kehidupan mereka menjadi baik. Jika karena tegaknya negara Islami itu lalu kaum Muslimin tidak menghadapi masalah apapun, jelas tidak mungkin. Selama kita hidup di dunia yang fana ini, pasti akan banyak menghadapi masalah. Hanya saja, secara umum seluruh masalah-masalah itu terkendali, tidak keluar dari garis KEIMANAN kepada Allah Ta’ala. Tidak seperti selama ini, berbagai permasalahan tidak terpecahkan, keimanan rusak pula.

Dalam salah satu bukunya Syaikh Hasan Al Bana rahimahullah, pernah mengatakan bahwa hukum menegakkan Khilafah Islamiyyah itu fardhu kifayah. Kalau seluruh kaum Muslimin tidak ada yang berjuang menegakkannya, mereka semua berdosa. Pandangan ini sangat berharga untuk diperhatikan oleh setiap Muslim.

Namun perlu ditambahkan, bahwa hukum meyakini kebenaran sistem Islam dan kebatilan sistem jahiliyyah, adalah fardhu ‘ain bagi setiap Muslim yang telah sampai ilmu kepadanya. Dalam memperjuangkan Islam, memang tergantung kesanggupan setiap Muslim yang menjalaninya. Tetapi dalam meyakini kebenaran sistem Islam dan wajibnya sistem itu tegak di muka bumi, hukumnya fardhu ‘ain. Dalilnya, adalah sikap Nabi Saw yang memilih hijrah ke Madinah untuk menegakkan sistem Islam yang murni, daripada menerima tawaran kekuasaan dari orang-orang musyrik Quraisy, dengan toleransi beliau harus menerima ajaran jahiliyyah dan menghentikan dakwah Islam. Bahkan dalam Al Qur’an disebutkan perinngatan keras Allah kepada kaum Muslimin di Makkah yang enggan berhijrah. Kecuali bagi mereka yang lemah dan tidak tahu jalan untuk berhijrah.

Sebagai upaya perbaikan kondisi Ummat, disini ada beberapa langkah strategis yang ingin disarankan kepada Ummat, yaitu:

[Satu]: Meyakini dalam hati tentang kebenaran, kesempurnaan, serta keadilan SISTEM ISLAM dan wajibnya mengingkari sistem jahiliyyah. Hal ini merupakan konsekuensi dari akidah seorang Muslim yang meyakini Allah dan Rasul-Nya.

[Dua]: Meneruskan upaya dakwah dan pembinaan Ummat sebagaimana yang selama ini aktif diselenggarakan oleh gerakan-gerakan dakwah Islam. Alhamdulillah ‘ala kulli ni’matih. Kita bukan hanya perlu meyakinkan Ummat bahwa Islam itu benar, tetapi juga memberikan solusi-solusi kongkrit atas permasalahan mereka. Jangan sampai kita menuntut Ummat harus begini dan begitu, sementara Ummat ini sendiri belum merasakan MANFAAT dari agama yang diyakininya. Hendaklah para dai menjadi perpanjangan dari “Tangan Allah” untuk menyantuni hamba-hamba-Nya.

[Tiga]: Perlunya sikap aktif, kritis, dan efektif dalam meluruskan pemahaman-pemahaman keliru seputar isu sistem Islami. Jangan dibiarkan isu itu berkembang luas meracuni akal masyarakat, lalu mereka di kemudian hari menjadi musuh “potensial” dakwah. Pemikiran-pemikiran sesat jangan dibiarkan menggelinding, kecuali dijelaskan kesalahan-kesalahannya, agar Ummat mengambil pelajaran.

[Empat]: Ummat Islam perlu mengembangkan kemampuan tekniknya di berbagai bidang apapun yang bermanfaat. Jika ada kesempatan mendalami sesuatu yang bermanfaat, jangan disia-siakan. Kita tidak tahu saat agama ini membutuhkan kemampuan tersebut. Yang jelas, Islam tidak pernah menolak kontribusi Ummatnya di bidang apapun yang bermanfaat.

[Lima]: Sebagian dai-dai Muslim, yang memiliki kemampuan analisis, perlu mengikuti perkembangan dinamika politik. Perlu ada yang mencermati perkembangan politik aktual, agar mengetahui celah-celah peluang yang bisa dimanfaatkan Ummat. Namun jangan semuanya masuk ke bidang ini, sebab bidang politik itu membutuhkan kecerdasan tinggi, kesabaran, keahlian dalam retorika, kesabaran dalam proses, dsb. Jangan menyepelekan peluang demokrasi, tetapi jangan juga terjerumus jauh di dalamnya. Bahkan kita masih tetap bisa berpolitik, hatta tidak ada peluang demokrasi sama sekali.

Dan terakhir, saya sebutkan ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam kitabnya yang terkenal, As Siyasah As Syar’iyyah fi Ishlahir Ra’i war Ra’iyyah. Disana beliau mengatakan sebagai berikut:

“Ini adalah dua jalan yang rusak: Jalan pertama yaitu orang yang mengikatkan diri dengan agama ini (Muslim), namun tidak ingin menyempurnakan agama itu dengan apa yang dibutuhkan, berupa kekuasaan, jihad, dan harta. Jalan kedua adalah orang yang menerima pentingnya kekuasaan, harta, dan peperangan, namun tidak bermaksud dengan semua itu untuk menegakkan agama ini. Keduanya adalah jalan orang-orang yang dimurkai dan jalan orang sesat. Jalan pertama adalah jalan orang sesat dari kalangan Nashrani dan jalan kedua adalah jalan orang-orang yang dimurkai dari kalangan Yahudi.

Sedangkan jalan Shirat al Mustaqim, yaitu jalan orang-orang yang Allah berikan nikmat dari kalangan para Nabi, Shiddiqin, Syuhada’, dan Shalihin, maka ia adalah jalannya Nabi kita Muhammad Saw, dan jalan para Khalifah dan Shahabatnya, dan siapa yang meniti jalan mereka. Dan mereka adalah orang-orang yang mula pertama masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka dengan ihsan, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya, dan Allah menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya, dan itulah kemenangan yang besar.

Maka wajib bagi Muslim untuk berijtihad dalam masalah itu, sekuat kemampuannya. Siapa yang diberi kekuasaan, hendaknya memanfaatkannya untuk mentaati Allah, menegakkan apa saja yang mungkin dari agamanya, mengusahakan kemaslahatan bagi kaum Muslimin, dan menegakkan apa saja yang mungkin baginya dalam hal meninggalkan perkara-perkara haram, dan dia tidak perlu mengusahakan apa yang dia tidak sanggup melakukannya. Maka sesungguhnya kepemimpinan orang-orang yang shalih lebih baik bagi Ummat daripada kepemimpinan orang-orang jahat. Dan siapa yang lemah untuk menegakkan agama ini dengan kekuasaan dan jihad, maka kerjakan apa saja yang dia sanggup, yaitu memberi nasehat dengan hati, memanjatkan doa untuk Ummat, dan mencintai kebaikan. Maka dia beramal dengan apa yang dia mampu berupa kebaikan, dan tidak dibebani terhadap apa yang dia lemah padanya.” (As Siyasah As Syar’iyyah, Ibnu Taimiyyah).

Demikian tulisan cukup panjang tentang “Islam dan Negara”. Semoga bermanfaat dan menjadi tambahan wawasan bagi kita semua. Tidak lupa, secara pribadi saya ingin mengucapkan: “Selamat menyempurnakan Shaum Ramadhan, selamat menunaikan I’tikaf di 10 hari terakhir Ramadhan, dan akhirnya: Selamat Menyambut Hari Raya Idul Fithri 1430 H. Mohon dimaafkan atas segala kesalahan dan kekhilafan.

Semoga Allah Ta’ala mencurahkan barakah, rahmat, ampunan, dan ridha-Nya kepada Anda, saya, dan kita semua. Semoga Allah meyatukan kita dalam cinta Islami, di dunia Akhirat. Sesungguhnya orang yang saling mencintai di dunia, kelak akan kembali mencintai di hadapan Allah Ta’ala. Amin Allahumma amin.

Sekali lagi, SELAMAT MENYAMBUT IDUL FITHRI 1430 H.

Bandung, 11 September 2009.

Abu Muhammad Waskito.

Iklan

6 Responses to Risalah Ramadhan: “Islam dan Negara”

  1. jay otorit berkata:

    hidup NII konstitusi

  2. wahyu berkata:

    hidup NII konstitusi

  3. Imam Samudra berkata:

    Indonesia dari awal memang memposisikan diri sebagai negara kafir (sekuler edt.). Panitya 9 yang membuat konstitusi negeri ini 8 orang di antaranya adalah orang mengaku beragama Islam dan yang satu adalah orang Nasoro. Satu diantara kedelapan orang yang mengaku Islam itu adalah kakeknya GusDur yang juga adalah kakeknya Hasyim Muzadi, dia adalah pendiri NU, seperti halnya juga sekarang Hasyim Muzadi sebagai Ketua NU.
    Panitya 9 yang mayoritas mengaku beragama Islam itu dengan sepakat, dengan mufakat bulat menolak menegakkan Islam di negara yang bernama Indonesia.
    DPR dan pemerintah (eksekutif) Indonesia kini dikuasai oleh orang2 NU. Jadi dari dulu hingga sekarang, jelas, Indonesia adalah negara yang menegakkan nilai jahiliyah (negara sekuler).
    Dengan demikian yang diberikan Allah kepada negeri ini dari masa ke masa adalah azab dan siksaNYA, bukan barokahNYA.

    Ya Allah, berikanlah pertolongan-Mu kepada mereka Ikhwah kami yang istiqomah berJihad diatas jalan-Mu, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir yang bersikap lemah lembut terhadap sesama mu`min, yang tidak pernah lemah dengan celaan dari orang yang suka mencela.

    AMW:

    Mohon hati2 kalau komentar. Komentar Anda sudah saya edit. Jangan “sok suci”, lalu berjihad serampangan. Kalau Nabi Saw mau, semua orang musyrik akan beliau bunuh sampai anak-anaknya, ketika Fathu Makkah. Tapi beliau Nabi yang rendah hati, beliau mengatakan: “Antum tulaqa” (kalian semua dibebaskan).

    Jangan merasa jihad Anda yang paling benar, yang lainnya dianggap tidak jihad. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

  4. killua berkata:

    hmm…
    bersabar dalam meraih kemenangan yang pasti datngnya…
    ^^

  5. […] [o] Risalah Ramadhan: “Islam dan Negara”. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: