Pergilah Ke Minang Saudaraku! Saat Ini Juga!!!

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Allahumma shalliy wa sallim wa baarik ‘alan Nabi Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabih ajma’in. Amma ba’du.

Bencana gempa bumi di Ranah Minang yang baru lalu sangatlah dahsyat. Bencana itu telah merusak infrastruktur jalan, jembatan, listrik, telepon, air, dll. Bencana itu telah menghancurkan gedung-gedung, menimbun ribuan manusia, meruntuhkan masjid, RS, rumah-rumah penduduk, instalasi umum, dan sebagainya. Bila di Yogya rumah-rumah yang hancur rata-rata terbuat dari bambu, kayu, dan semi permanen, maka di Minang semua gedung-gedung berfondasi kokoh telah berserakan. Fondasi terangkat, tulang-tulang besi putus, dinding roboh, hingga kampung-kampung tenggelam ditimbun tanah longsor.

Laa haula wa laa quwwata illa billah. Hanya dalam hitungan 1 atau 2 menit, Kota Padang yang telah berusia ratusan tahun, telah dibangun selama berabad-abad, runtuh bak kota mati. Laa ilaha illa Allah. Padahal disana adalah wilayah yang terkenal dengan semboyan, “Adat basandi Syara’. Syara’ basandi Kitabullah.” Kalau daerah yang religius saja sedemikian hebat guncangan bencananya, apalagi dengan Jakarta, sebuah kota bermandi maksiyat dan durhaka? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Saudaraku…

Kini saudara-saudara kita di Ranah Minang sedang membutuhkan kita semua. Masih ratusan orang atau ribuan yang tertimbun reruntuhan bangunan. Ada mayat-mayat yang harus dievakuasi. Ada nyawa-nyawa yang sedang berjuang bertahan di tengah himpitan dinding dan batu-batu. Ada ribuan Muslimin yang kebingungan, trauma, ketakutan, sangat kekurangan. Bau mayat telah menyebar dimana-mana, korban luka-luka butuh pertolongan. Anak-anak Muslim, termasuk balita, mereka dalam situasi mengkhawatirkan. Saat-saat seperti ini, biasanya srigala-srigala Kristenisasi akan datang untuk mengulurkan bantuan, dengan imbalan MURTAD dari Islam. Na’udzubillah wa na’udzubillahbi ‘ Izzatillah  minal kufri wal kuffar.

Gedung Kokoh Hancur Berantakan. Afalaa tadzakkaruun?

Gedung kokoh hancur berantakan. Afalaa tadzakkaruun?

Kalau Anda memiliki harta, sampaikan bantuannya. Kalau ada makanan, obat-obatan, popok bayi, susu bayi, pembalut wanita, pakaian dalam, dll. sampaikan juga. Kalau ada barang bekas, layak pakai, masih bermanfaat, sampaikan juga. Atau berdoalah, mohonkan rahmat Allah, ampunan-Nya, dan petunjuk-Nya agar memperbaiki jiwa-jiwa kaum Muslimin, baik di Minang atau di Indonesia pada umumnya. Setidaknya lakukan shalat ghaib, sebab banyak saudaramu yang meninggal tanpa dikafani, dimandikan, dishalati. Di antara mereka langsung tertimbun tanah, dengan kecil peluang akan diangkat ke atas.

Saudaraku…

Cobalah hayati beberapa petunjuk Allah Ta’ala. “Bahwasanya orang-orang beriman itu bersaudara.” Begitu pula, “Bahwasanya orang-orang Mukmin laki-laki dan wanita, sebagian mereka adalah pelindung sebagian lainnya.”

Nabi Saw juga mengatakan, “Tidaklah seseorang di antara kalian beriman, sampai dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri.” Begitu pula beliau mengatakan, “Orang-orang Mukmin itu saling menguatkan satu sama lain.”

Marilah kita bantu saudara-saudara kita, sekuat kemampuan dan kesmpatan yang kita miliki. Kalau diminta berdoa, berdoalah sungguh-sungguh, jangan selalu mengatakan “Insya Allah, insya Allah” lalu engkau acuhkan permintaan saudaramu. Kalau ada kelebihan harta, tunaikan hak-hak saudaramu. Harta yang engkau berikan secara ikhlas itu semoga menjadi “tolak bala” bagi diri, keluarga, dan masyarakatmu. Amin Allahumma amin.

Kemudian, engkau jangan selalu menjadikan urusan PEKERJAAN, BISNIS, TUGAS KANTOR, TUGAS KULIAH, NAFKAH ANAK-ISTERI, “TIDAK PUNYA UANG”, dan lainnya sebagai alasan. Sudah ribuan atau jutaan kali alasan seperti itu disampaikan manusia, sejak bencana-bencana alam dulu, seperti Tsunami di Aceh. Justru alasan-alasan seperti itu bisa mematikan hati, membuat kita menjadi munafik, membuat iman semakin rusak, dan seterusnya. Aku menduga, wallahu A’lam bisshawaab, bencana-bencana alam ini selalu menimpa orang-orang yang sering menjadikan semua alasan di atas sebagai TAMENG. Mungkin suatu saat, bencana itu akan mengubur manusia-manusia yang selalu punya “1001 alasan” tersebut. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Ya, secara Syar’i, ada alasan-alasan yang bisa diterima. Ada alasan-alasan haq yang bisa menggugurkan tanggung-jawab seorang Muslim. Tetapi yang dimaksud disini adalah alasan dibuat-buat, hanya karena kefasikan diri. Na’udzubillah min dzalik. Kalau bicara soal REPOT, BANYAK URUSAN, NAFKAH ANAK-ISTERI, PEKERJAAN, dll. mana ada di dunia ini manusia yang tidak repot? Wong, kambing dan kucing saja setiap hari repot mencari makan, masak manusia ada yang tidak repot?

Ayolah saudaraku…berangkatlah saat ini ke Bumi Minang. Mintalah restu ayah-ibumu. Kalau diijinkan, berangkatlah dengan niat baik. Bawahlah IMAN di dadamu, bawalah UKHUWWAH di dadamu, bawalahTAAT-mu kepada Allah, bawalah semua itu kesana. Imanmu lebih utama daripada sekardus Indomie; Amal shalihmu lebih utama daripada botol-botol infus; Ibadahmu lebih utama daripada gelontoran dana miliaran rupiah. Akhi, dimanapun dirimu berada, berdiri kokoh dengan iman di dadamu, dengan amal shalihmu, maka disana Allah akan menaungi tempatmu berpijak. Allah akan meridhai langkah-langkahmu dan lingkungan di atas mana kakimu berpijak dalam ikhlas, kesabaran, dan istiqamah.

Singkirkan OMONG KOSONG orang-orang yang katanya korban bencana hanya membutuhkan Indomie, obat-obatan, popok bayi, atau pakaian dalam wanita. Bukan karena semua barang-barang itu tak berguna, tapi kaum Muslimin LEBIH BUTUH hati-hati saudaranya yang ikhlas, istiqamah, dan shalih. Hati-hati itulah yang akan menghibur mereka, meringankan beban mereka, mengasihi mereka, mendengarkan keluh-kesah mereka, dan sebagainya. Adapun popok bayi dan Indomie, apa yang bisa dilakukan keduanya?

Ingatlah pelajaran besar saat bencana Tsunami di Aceh lalu. Ketika itu ratusan atau ribuan pemuda Islam, dengan ikhlas, semata mengharap ridha Allah, dengan tekun dan mujahadah mereka megevakuasi satu demi satu mayat kaum Muslimin. Hal itu merupakan keberkahan besar yang akan selalu diingat oleh manusia-manusia yang adil. Para pemuda Islam yang kerap dituduh “garis keras” atau “ekstrem” itu, mereka tidak butuh ekspose media-media massa untuk mengabadikan amal-amal mereka. Walhamdulillah, mereka ikhlas semata karena Allah, karena panggilan iman, karena Ukhuwwah Islamiyyah.

Saudaraku…pergilah kini ke Ranah Minang. Disana ribuan saudaramu sedang memanggilmu, menanti kehadiranmu. “Ya Akhi, dimanakah engkau? Ya Akhi, tolonglah kami! Ya Akhi, tolonglah anak-anak kami! Ya Akhi, lindungi wanita-wanita kami! Ya Akhi, tegakkan surau-surau kami yang runtuh! Ya Akhi, kumandangkan adzan di Ranah Minang! Ya Akhi, selamatkan Islam di Tanah ini!”

Ya Akhi, pergilah kini ke Minang. Bawalah apa yang layak dibawa. Mintalah restu ayah-ibumu, jangan membantahnya jika engkau tidak diijinkan. Carilah rombongan untuk serta di dalamnya, jangan berangkat munfarid (sendiri-sendiri). Inilah khuruj Syar’i yang telah dibuka di depan mata kita. Tinggallah di Minang barang satu bulan, atau lebih jika engkau menginginkan. Tampakkan RAHMAT ISLAM ke hadapan saudara-saudaramu yang menderita. Yakinkan ke mereka, bahwa ISLAM MASIH TEGAK DI BUMI NUSANTARA INI !!!

Pergilah Akhi, Ranah Minang menantimu.

Malang, 3 Oktober 2009.

== AM. Waskito ==

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: