Arogansi ELIT POLITIK Indonesia… Luar Biasa

Luar biasa, luar biasa…. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Di hari ini kita disuguhi tontonan kehidupan yang amat sangat memilukan. Orang-orang berakal pada memegangi kepalanya, karena khawatir mereka telah salah dalam berpikir, analisis, atau merasa. Jika ternyata mereka tidak salah berpikir, akhirnya “mengurut dada” menjadi amal shalih yang paling banyak dilakukan saat ini.

Lihatlah 3 hal berikut ini:

[ 1 ] Fenomena perang anti terorisme yang terus-menerus berjalan, serialnya sangat panjang, meskipun korban demi korban terus berjatuhan. Polisi selalu mengatakan, “Tidak berarti masalah terorisme sudah berakhir, sebab masih ada Si Anu dan Anu yang masih berkeliaran. Mereka memiliki kemampuan yang tak kalah hebatnya dengan Nordin M. Top dan Dr. Azahari.” Ini pertanda drama perang anti terorisme masih “panjang umur”.

[ 2 ] Bencana demi bencana alam yang terus terjadi. Sejak Pilpres pada bulan Juli lalu sampai saat ini telah terjadi berkali-kali bencana, baik gempa bumi, longsor, atau banjir. Bencana paling parah terjadi di Sumatra Barat yang menghancurkan Kota Padang dan Padang Pariaman. Menurut data, korban meninggal sekitar 1120 jiwa orang (bisa bertambah kalau ada data update terbaru).

[ 3 ] Suasana pemilihan pejabat negara dan menteri-menteri. Pemilihan pejabat ini telah menempatkan SBY sebagai pemegang kartu kunci. Semua orang, termasuk Taufik Kiemas dri PDIP, harus mendapat restu SBY, jika ingin lolos sebagai pejabat negara. Belum pernah dalam sejarah Indonesia, proses pemilihan menteri-menteri berjalan begitu birokratis, panjang proses, berbelit-belit, dan penuh sensasi media, kecuali saat ini. Tokoh-tokoh elit di Indonesia seperti sedang berebut mendapatkan “durian” dari tangan SBY. Sampai diceritakan, di antara mereka ada yang sering melakukan shalat malam, sambil menunggu “ditelepon”. Padahal seharusnya, kalau mereka beriman, mereka harus takut memikul jabatan dan benci menjadi pejabat.

Elit-elit politik di Indonesia saat ini seperti orang-orang tidak berakal. Rasa malunya, integritasnya, posisinya sebagai politisi, ustadz, pakar, praktisi, profesional, akademisi, dll. seperti mereka acuhkan begitu saja. Apapun kondisi tidak menjadi halangan, selama “durian SBY” bisa didapat. Laa ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah. Apa mereka tidak malu, punya anak-isteri, teman-teman, kerabat, kolega, dll. Diri mereka dihambakan hanya untuk meraih jabatan. Kalau perlu, manuver paling konyol pun akan dilakukan, asal “sukses ditelepon”.

Kalau ternyata mereka tidak jadi ditelepon, tidak dipanggil SBY, tidak menjadi pejabat, mereka secepat kilat berubah haluan. Mereka menjadi orang-orang paling kritis kepada SBY. Mereka mulai bicara, “Politik sekarang aneh. Presiden terlalu kuat, DPR/MPR tidak berdaya. Bagaimana bisa demokrasi berjalan baik, kalau tidak ada keseimbangan kekuasaaan? Tidak ada check and balance. Ini berbahaya, ini tidak demokratis, menyalahi amanah Reformasi.” Mendadak mereka menjadi oposisi, hanya karena tidak sukses menjadi pejabat.

Tetapi ketika suatu saat nanti orang seperti itu mendadak ditelepon SBY, tiba-tiba suara mereka melunak. “Oh ya, Pak. Baik, Pak. Kami ada di belakang Bapak. Tenang saja, kami akan bekerja all out untuk sukses Bapak. Kita semua senang, gembira, dan ridha dengan kepemimpinan Bapak. Kami siap, hidup mati membela misi pembangunan Bapak yang mulia. Kami semua sudah tahu, Bapak adalah Presiden paling berhasil sepanjang sejarah Persatuan Bangsa Bangsa (PBB).” Malu dan sangat memalukan. Tapi apa daya, kita hanya orang biasa?

Jadi yang memimpin urusan masyarakat saat ini adalah syahwat belaka. Hanya syahwat inilah tujuan tertinggi keberadaan pejabat-pejabat dan departemen yang dia pimpin. Maka masyarakat harus mempersiapkan kesaabarannya yang panjang, untuk menghadapi semua ini. Jangan berharap ada pahlawan di jaman seperti ini; yang ada hanyalah orang-orang oportunis yang menghamba syahwat.

Jabatan itu adalah amanah. Demikianlah Islam mengajarkan. Namun dalam suasana “dagang syahwat” (bukan “dagang sapi”) seperti ini, apa artinya amanah? Semua dianggap sepi. Semua dianggap retorika moral yang tidak ada artinya. “Makan tuh khotbah-khotbat lo,” serang orang-orang penghamba syahwat itu ketika dinasehati. Arogansi sudah sedemikian rupa meliputi seluruh sendi kepemimpinan negara.

Dulu, kalau saya melihat wajah Hatta Radjasa, saat masih menjadi anggota DPR dari PAN di jaman Gus Dur, jujur saja, ada nuansa optimisme, harapan, dan sikap integritas. Namun saat ini, kalau melihat Hatta Radjasa, bawaannya mau muntah saja. Orang ini seperti dagelan paling tidak lucu. Dia mengalami metamorfosis hebat, dari semula paling anti Gus Dur; maka sekarang, paling melayani SBY.

Begitu juga orang-orang PKS. Dulu mereka selalu membanggakan diri. “Kami partai moral. Kami tidak meminta-minta jabatan. Justru kader-kader kami sangat takut kalau diberi jabatan. Belum pernah ada di Indonesia, ada partai politik yang kader-kadernya saling dorong-dorongan karena takut ditunjuk jadi pejabat. Hanya di kami fenomena seperti itu ada. Kami partai dakwah, partai moral, harapan baru Indonesia.” Tapi dalam konteks saat ini, semua orang tahu bagaimana komitmen moral elit-elit PKS itu. Bukan hanya ambisi jabatan, PKS sering “mengancam” orang lain, karena ingin mengamankan posisi yang dibidiknya.

Padahal bencana-bencana sudah mengingatkan bangsa ini. Istana negara itu lho pernah bergunjang, sehingga SBY buru-buru ngacir ke Cikeas. Sri Mulyani itu lho saat menggelar jumpa press di gedung Departemen Keuangan, merasakan goncangan gempa yang kuat. Bahkan hebatnya, Sri Mulyani masih berlaagak seperti insinyur sipil yang paham konstruksi bangunan gedung Departemen Keuangan. Dia beralasan, katanya fondasi gedung Departemen Keuangan tidak terlalu kokoh. Wih, wih, wih, hebat. Masih sempat-sempatnya Sri Mulyani mengukur kekokohan fondasi bangunan gedung di departemennya.

Perhatikan ayat ini:

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al Israa’: 16).

Syarat-syarat arogansi itu sudah terpenuhi di Indonesia. Para elit politik merasa dirinya berkuasa, merasa dirinya bisa mencengkramkan kuku kekuasaan seperti yang mereka inginkan. Agama Allah tidak dihiraukan, tanda-tanda bencana diacuhkan, malah kaum Muslimin difitnah terus-menerus dengan isu TERORISME. Ini semua adalah praktik arogansi yang terang-benderang.

Ya, bersiaplah bangsa Indonesia, persiapkan kesabaranmu yang panjang. Saat ini sedang tiba musim “panen raya” bagi orang-orang munafik untuk mengurus urusan negerimu; sementara ia menjadi masa “paceklik” bagi orang-orang bermoral untuk membimbing Ummat menuju Keridhaan Allah Ta’ala.

Bersiaplah kawan…siapkan kesabaranmu. Allah tidak mengingkari janji-Nya. Gempa yang di Padang kemarin, bukan akhir dari semua episode nestapa ini. Ya Ilahi ya Rabbi, kami titipkan diri dan kehidupan kami, serta orang-orang beriman ke Tangan-Mu. Hanya Engkau yang kuasa merahmati kami, menyelamatkan kami, serta menjaga kehidupan Islam. Amin Allahumma amin.

== AMW ==

Iklan

2 Responses to Arogansi ELIT POLITIK Indonesia… Luar Biasa

  1. runcing sadewa berkata:

    menurut saya, ungkapan ini sangat cocok, bahwa demokrasi akan hancur dengan demokrasi itu sendiri. tunggu saatnya!

  2. disan berkata:

    Setiap orang atau partai politik pasti menginginkan jabatan. Masalahnya bukan itu, tapi digunakan untuk apa jabatan itu. Itu yang paling penting. Ada yang untuk kepentingan sendiri, ada yang untuk kemaslahatan umat. jika untuk sendiri itu yang tidak boleh. Tapi kalo untuk kemaslahatan umat, itu malah wajib kita mendapatkannya. Masalahnya kan kita tidak berada di posisi itu, sehingga kita bisa seenaknya mengatakan ‘astaghfirulloh’, padahal siapa tau mereka bener2 sedang berusaha memperjuangkan itu. sapa yg tau…? hayooo….Apakah mau posisi yg seharusnya dipegang umat Islam malah diduduki oleh musuh2 Islam. Bukankah umat Islam itu kholifah fil ardh, lalu kenapa kalo ada saudara kita yg berusaha mengamankan posisi itu selalu disangka sebagai orang yg rakus jabatan. Saya heran, apa sih yg membuktikan kalo mereka itu gila jabatan. apakah hanya karena statment mereka yg kurang berkenan dihati kita lantas kita blg mereka gila jabatan. Aneh bin ajaib…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: