Selamat IDUL ADHA 1430 H

November 28, 2009

Selamat IDUL ADHA 1430 H. Taqabbalallah Minna Wa Minkum.

Alhamdulillah, kita masih bersua dengan IDUL ADHA. Allah Maha Pemurah, Dia memperpanjang dan memberkahi nikmat-Nya untuk kita. Allahu Akbar wa lillahil hamdu.

Setiap berjumpa hari ini, kita bergembira, berbahagia, merasakan besarnya syi’ar Allah di muka bumi. Mengenangi teladan penghulu Millah, yaitu Ibrahim As dan Ismail As.

Hari Idul Adha merupakan nikmat yang sangat unik. Di hari ini kaum Muslimin disyariatkan berkorban. Sebagian berkorban harta, fisik, dan mental, dengan ziarah ke ‘Arafah dan Baitullah. Sebagian berkorban hewan ternak sebagai ibadah taqarrub kepada-Nya. Bumi pun dibasahi cairan merah darah dari hewan-hewan yang tunduk melayani Sunnah QURBAN ini. Mereka rela dikorbankan oleh orang yang baik, dari harta yang baik, untuk tujuan TAQARRUB kepada Allah Rabbul ‘Alamiin.

Saat kapan Anda mendengar bacaan TAKBIR terdengar, saat itu pertanda Allah sedang mencurahkan nikmat-Nya luar biasa kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan mencintai-Nya.

Namun saudaraku… Berita yang sampai kepada kita dalam momen Idul Adha 1430 ini, tidak selalu menggembirakan. Ternyata, banyak juga peristiwa-peristiwa yang membuat kita bersedih hati. Setidaknya, ada kesedihan di sebagian sudut hati kita.

Beberapa warga masyarakat dihukum hanya karena kesalahan kecil. Ada yang diadili hanya karena nge-charge HP di apartemen; ada yang dihukum karena mengambil 2 butir buah kakao; ada yang dihukum karena luru (mengais sisa-sisa) panen kapuk randu; ada yang ditahan 2 bulan sampai saat ini hanya karena mengambil sebutir semangka.

Kemudian di Saudi terjadi banjir besar, lebih dari 50 orang meninggal. Ratusan ribu jamaah Haji Indonesia mengeluh, karena jauhnya jarak pemondokan di Makkah ke Masjidil Haram (sekitar 4-5 km). Kalau mereka mau ke Masjidil Haram, harus berjalan kaki sekian jauh, atau berebut naik bis yang jumlahnya terbatas. Itulah ujian untuk para jamaah Haji.

Sedih memikirkan Pemerintah Saudi saat ini. Mereka robohkan ratusan (atau mungkin ribuan) bangunan di sekitar Masjidil Haram, dibersihkan sampai rata dengan tanah. Di atas itu mereka akan membangun puluhan hotel-hotel pencakar langit, untuk melayani jamaah Haji. Atau dengan bahasa yang lugu, mereka hendak mengeksploitasi Masjidil Haram sebagai obyek wisata sedalam-dalamnya. Buktinya, mereka kini memperbolehkan jamaah Haji memakai paspor hijau (internasional) yang biasa dipakai para wisatawan dunia. Padahal semula, mereka sangat angkuh dengan aturan “wajib paspor coklat“. Ini tandanya, Masjidil Haram akan jadi pusat wisata spiritual yang tentu efeknya akan sangat jauh. Anda tahu sendiri, dimana ada pusat wisata, maka disana ada pusat maksiyat pula.

Mungkin, rizki yang mereka terima dan kuasai selama ini belum cukup, sehingga harus mengimpor nafsu Kapitalisme ke halaman Baitullah Al Haram. Masya Allah. Kepada Allah kita memohon agar Dia menghentikan tangan-tangan kotor yang akan merusak kesucian Haramain Syarifain. Ya Allah lindungi Baitullah dan ibadah kaum Muslimin dari tangan-tangan zhalim yang haus kekayaan. Amin Allahumma amin.

Di Indonesia sendiri, seperti telah menjadi “ritual tahunan”, yaitu rebutan hewan qurban. Yah, Anda semua sudah mengetahuinya. Sampai saat ini, masyarakat kita begitu miskin dan hidup susah. Mereka tidak malu mempertaruhkan kehormatan demi sekantung daging, tidak sampai setengah kilogram, itu pun banyak tulangnya.

Yah, itulah dampak nyata dari kehidupan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Di negeri sekuler yang tidak menghargai agama Allah, segala kemelaratan dan sengsara bisa terjadi.

Semoga semua ini bisa menjadi nasehat bagi kita untuk lebih bertanggung-jawab menolong agama Allah, sekuat kesanggupan. Mari kita berlatih menjadi militan, dalam arti semakin meneguhkan jiwa TADHIYAH (pengorbanan) demi kemuliaan Islam dan Muslimin.

Fakta berbicara: Islam mulia karena pengorbanan Ummat-nya, bukan karena egoisme yang menjadi panglima.

SELAMAT IDUL ADHA 1430 H.

= AMW =

Iklan

Pemimpin Tidak Berkah

November 26, 2009

Dalam Islam, berkah itu dari kata ‘barakah’. Arti kata barakah sendiri banyak, antara lain kebaikan, rizki, kebahagiaan, karunia, dan sebagainya. Tetapi para ulama menjelaskan makna barakah sebagai: ziyadatul khair (bertambahnya kebaikan).

Rizki yang berkah, kalau dimakan/dipakai akan membuat kita ringan untuk berbuat kebaikan, atau akan mendatangkan kebaikan-kebaikan lain. Misalnya, Anda diberi motor oleh seorang teman secara ikhlas. Maka sejak Anda memiliki motor itu, ia begitu banyak membantu urusan Anda. Membantu berangkat kerja, membantu mengantar isteri belanja, membantu mengantar anak-anak, membantu bepergian ke majlis taklim, membantu menolong orang sakit, dll. Kalau motor itu tidak berkah, ia justru semakin menambah masalah. Sering macet, mogok, membuat urusan kacau, sering tabrakan, dimaki-maki orang, dll.

Contoh Keberkahan

Saya pernah dibelikan tiket bis malam jurusan Bandung oleh seseorang. Dalam hati sebenarnya “tidak enak”. Tetapi karena tidak mau menolak kebaikan orang, saya pakai juga tiket itu. Ternyata di jalan, saat mampir ke sebuah restoran, saya ijin ke kondektur mau shalat dulu. Masya Allah, saat saya kembali, saya telah ditingggal oleh bis itu. Padahal saya duduk persis di belakang kursi sopir. Perjalanan masih jauh, saya baru di Jawa Tengah. Tas dan barang-barang saya masih ada di bis itu. Alhamdulillah dompet masih saya pegang. Akhirnya saya ikut bis serupa itu yang menuju Jakarta, lalu turun saat dini hari di Cirebon.

Keesokan harinya, sesampai di Bandung saya kejar ke pol bis itu. Alhamdulillah tas dan barang-barang masih ada. Rasanya mau murka. Tetapi ironisnya, pengurus bis itu tidak ada ucapan tanggung-jawab yang bisa melegakan hati. Sepertinya pada “cuci tangan”. Saya pun tak mendapat ganti rugi apapun, termasuk ongkos tambahan yang saya keluarkan dari Cirebon. Yang lebih menyayat hati, makanan yang dibawakan ibu dari Malang basi, karena terlalu lama di jalan. Sedih-sedih sekali. Betapa ibu sangat menyayangi anaknya, tetapi makanan buatannya tidak bisa dikonsumsi, sehingga berakhir di tempat sampah. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Maka dapat disimpulkan, tiket yang dibelikan itu bukan tiket berkah. Ia tiket pembawa masalah. Sebab selama ini kami tidak  mengalami kesulitan-kesulitan seperti itu dalam perjalanan. Berbeda dengan rice cooker yang diberikan seorang teman kepada kami. Luar biasa, rice cooker itu diberikan bertahun-tahun yang lalu. Ia sangat handal, tidak pernah mengalami kerusakan berarti. Kalau rusak, paling dudukan kakinya. Telah bertahun-tahun kami memakainya untuk memasak nasi. Hasil nasinya bagus, sebagus masak di tungku biasa. Tetapi cara masaknya sendiri lebih simpel, tidak berproses panjang seperti masak di tungku. Sampai anak-anak kami biasa memasak nasi memakai rice cooker itu. Sungguh, saya sering memuji rice cooker itu sebagai pemberian yang penuh berkah. Alhamdulillahil Karim ‘ala nia’mihil wasi’.

Apa saja yang kalau ditekuni, dinikmati, dipakai, membawa banyak manfaat, mendorong perbuatan baik, membuat kita semakin bersyukur kepada Allah, maka ia adalah perkara berkah. Sebaliknya, apa saja yang mendatangkan masalah, menambah kerepotan, menyakitkan hati, membuat hati semakin keras, membuat jiwa resah, membuat diri tidak tahu malu, membuat kita malas berbuat kebaikan, membuat urusan semakin sempit, dapat dipastikan bahwa ia adalah perkara munqathi’ (terputus) dari berkah.

Agar mendapat berkah, kuncinya sederhana, yaitu: al imanu wat taqwa. Iman berarti mengibadahi Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan siapapun, sedangkan taqwa berarti mentaati aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya sekuat kesanggupan. “Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa kepada Allah, maka benar-benar akan Kami bukakan atas mereka barakah-barakah dari langit dan bumi.” (Al A’raaf: 96).

Berkah dalam Kepemimpinan

Berkah itu menjangkau semua urusan manusia. Ia tidak terbatas pada soal makan-minum saja. Baju yang kita pakai bisa berkah, sendal yang kita pakai bisa berkah, isteri di sisi kita bisa berkah, anak-anak kita bisa berkah, pekerjaan kita bisa berkah, rumah, kebun, kendaraan, pensil, komputer, pisau, gelas, piring, dan sebagainya. Keberkahan bisa masuk ke urusan rumah-tangga, persahabatan, organisasi, perusahaan, bisnis, jual-beli, manajemen, pengelolaan masjid, dll. Termasuk keberkahan bisa masuk urusan kepemimpinan.

Pemimpin yang berkah mendatangkan banyak kebaikan. Rakyatnya sehat, hidup tentram, dicukupi rizki, keadilan ditegakkan, mushibah menyingkir, musuh takut mengganggu, perselisihan mudah ditemukan solusinya, moral rakyat semakin baik, semangat ibadah mereka baik, praktik ribawi semakin sepi, perzinahan dan perbuatan keji semakin jauh, dan lain-lain. Bahkan, dengan pemimpin yang berkah, hawa/cuaca semakin ramah, saat musim kering tidak mematikan tumbuh-tumbuhan, saat hujan tidak menimbulkan banjir.

Namun pemimpin yang tidak berkah, dia menjadi pintu kesengsaraan bagi rakyatnya. Rakyat semakin sengsara, ekonomi semakin sulit, ribawi merajalela, perzinahan, pelacuran, homoseks merajalela. Rakyat miskin semakin banyak, konflik dimana-mana, kejahatan/kriminalitas pesta pora, hukum diperjual-belikan, birokrat korupsi, sistem selalu buruk dan tumpang tindih. Orang munafik berkeliaran, kebohongan menjadi makanan sehar-hari, orang asing menjarah kekayaan negeri, kehormatan dilecehkan, rakyat putus-asa, para pemuda stress, dan sebagainya. Termasuk datangnya bencana dari segala arah, bencana alam, kecelakaan transportasi, kekeringan, kelaparan, wabah penyakit, skandal korupsi, dan sebagainya.

Itulah beda antara pemimpin berkah dan pemimpin munqathi’ (terputus berkahnya). Jika seorang pemimpin beriman dan bertakwa, insya Allah kepemimpinannya akan berkah. Kalau pemimpin hanya “saleh lisannya saja”, atau “hanya saleh retorikanya”, dijamin rakyatnya akan menderita.

Pemimpin apabila munafik lebih buruk dari pemimpin kafir, sebab dia membawa dua keburukan sekalgus: (1) Buruk hatinya karena kafir kepada Allah; (2) Buruk sikapnya karena menyembunyikan kekafiran, menampakkan kesalehan.

Baca entri selengkapnya »


Pidato Presiden dan “Tragedi Akal Sehat”

November 24, 2009

Semalam saya mengikuti secara penuh pidato Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono. Beliau menepati janjinya untuk segera merespon rekomendasi Tim 8 yang dibentuknya sendiri. Pak SBY bukan hanya bicara soal kasus Bibit-Chandra, tetapi juga menyinggung masalah Bank Century.

Poin-poin penting dari isi pidato SBY antara lain:

Terkait masalah Bank Century: (-) Menginstruksikan aparat hukum untuk memproses pejabat-pejabat Bank Century yang bersalah dalam pengelolaan bank itu; (-) Menugaskan Menkeu dan BI untuk menjelaskan kasus Bank Century sejelas-jelasnya, berdasarkan fakta, bukan rumor, apalagi fitnah; (-) Menugaskan pihak Kepolisian dan Kejaksaan untuk mengembalikan dana negara yang dipergunakan secara illegal dalam kasus Bank Century ke kas negara.

Terkait kasus Bibit-Chandra: (*) SBY menyarankan kepada Kepolisian dan Kejaksaan agar tidak membawa kasus itu ke pengadilan; (*) SBY meminta supaya dilakukan pembenahan internal di tubuh Polri, Kejaksaan, dan KPK.

Sebenarnya, sejak lama Pak SBY terkenal dengan cara-caranya yang seperti ini. Beliau sering meminta waktu untuk menyelesaikan kasus-kasus yang dihadapinya. Kemudian berjanji akan memberikan pernyataan resmi. Selanjutnya, saat pernyataan disampaikan, beliau berbicara sangat normatif, membela diri, bahkan berkeluh-kesah. Ini merupakan ciri pokok komunikasi politik SBY.

Kalau tidak percaya, coba review ulang pernyataan-pernyataan beliau di depan publik. Selalu begitu pakemnya. Masyarakat jadi cukup “didiamkan” dengan retorika memukau, bukan dengan solusi kongkret yang bisa mengakhiri segala polemik. Ke depan, 5 tahun ke depan, “drama pernyataan resmi” ini bisa jadi akan terus-menerus terulang. [Mungkin, hal ini terjadi karena Pak SBY selama menjadi militer, tidak pernah “pegang pasukan”, tetapi sebagai militer administratif. Jadi intuisi kepemimpinannya lemah].

Pusing Dibuat Sendiri

Dalam pidatonya yang berkisar 25 menit itu, Pak SBY berulang-ulang menyatakan tekadnya “untuk tidak mencampuri proses hukum”. Kalimat ini diulang-ulang, entah berapa kali.

Jelas suatu ironi yang sangat dahsyat. Pernyataan SBY malam kemarin itu, disaksikan seluruh rakyat Indonesia, bahkan dunia. Pernyataan itu jelas merupakan tindakan turut campur urusan hukum, baik langsung atau tidak. Tidak mungkin, pernyataan SBY mau dibawa ke urusan lain, misalnya ke urusan Gempa di Padang, gempa di Tasik, kekalahan timnas yunior Indonesia dalam piala Asia, tentang kesulitan transportasi jamaah Haji di Makkah, dll. Pernyataan itu jelas-jelas berkaitan dengan KASUS HUKUM Bibit-Chandra. Iya kan?

Bahkan SBY sudah salah langkah sejak awal. Why? Iya, dia membentuk Tim 8 yang diketuai Adnan Buyung (yang suka mengecat rambutnya dengan warna putih itu). Pembentukan Tim 8 berikut rekomendasinya, semua itu adalah bukti nyata bahwa SBY ikut campur soal hukum. Lho, mau ditafsirkan bagaimana lagi, Om? Apakah urusan yang dikerjakan Tim 8 itu berkaitan dengan masalah kesenian, olahraga, keagamaan, atau kuliner? Jelas-jelas ia berkaitan dengan hukum. Coba bayangkan, rekomendasi Tim 8 sendiri sangat jelas: Hentikan kasus hukum Bibit-Chandra.

Lha, apa orang Indonesia sudah pada bego-bego apa ya? (Maaf agak sarkas sedikit). Jelas-jelas kasus Bibit-Chandra itu masalah hukum. Kok katanya, “Tidak ikut campur soal hukum.” Pernyataan SBY, bahkan pembentukan Tim 8 sendiri adalah bagian dari tindakan mencampuri hukum, secara langsung atau tidak.

Sekarang kembali ke pernyataan SBY. Beliau meminta supaya Polri dan Kejaksaan tidak membawa kasus Bibit-Chandra ke pengadilan. Menurut Anda ini ada kaitannya dengan kasus hukum apa tidak? Jelas-jelas itu sangat berkaitan. Pertanyaan lain, menurut Anda ada tidak pengaruh dari pernyataan SBY ini bagi proses hukum Bibit-Chandra? Kalau Anda bilang, “Tidak!” Lalu apa gunanya SBY mengeluarkan pernyataan? Apa gunanya SBY membentuk Tim 8?

Ini benar-benar DRAMA KEBINGUNGAN luar biasa. Ini TRAGEDI AKAL SEHAT yang sangat menyayat hati. Kok bisa-bisanya SBY mengklaim tidak mau ikut campur soal proses hukum, sementara pernyataan dan tindakan-tindakan politiknya, sangat erat kaitannya dengan kasus hukum (Bibit-Chandra) yang sedang berjalan.

Kok bisa masyarakat Indonesia menerima sikap-sikap politik Pak SBY itu?

Sikap Konsisten

Kalau SBY benar-benar tidak mau ikut campur soal hukum, harusnya tidak usah membentuk Tim 8. Tidak usah menanti rekomendasi Tim 8. Tidak perlu membuat pernyataan-pernyataan politik seperti itu.

Lalu bagaimana dong seharusnya sikap Presiden?

Ketika muncul kasus Bibit-Chandra itu, cukuplah dia panggil Kepolisian dan Kejaksaan, lalu selesaikan secara politik, internal, secara diam-diam. Tidak perlu membuat pernyataan macam-macam. Kalau cara demikian masih gagal juga, SBY bisa copot Kapolri dan Jaksa Agung, ganti dengan tokoh lain yang bisa mengakomodir tujuan politik dia. Jadi, dia tetap bisa mengatasi masalah Bibit-Chandra itu dalam koridor posisinya sebagai RI, tanpa perlu ikut campur terlalu jauh.

Tetapi kan Pak SBY didesak disana-sini agar terlibat menuntaskan masalah ini?

Ya, itu tandanya SBY sangat mudah ditekan. Sangat mudah dikendalikan oleh opini yang berkembang. Atas dasar apa SBY menuruti tekanan-tekanan itu? Apakah ada aturan bahwa seorang Presiden harus menuruti opini yang berkembang di masyarakat?

Kalau memang tekanan itu sangat penting dan fundamental, mengapa dia tidak menempuh cara politik, misalnya membereskan masalah di Polri dan Kejaksaan Agung? Dengan cara ini, SBY bisa tetap memenuhi tuntutan publik, tanpa harus terlibat proses hukum.

SBY selama ini dikenal jago dalam “menundukkan orang” dengan cara diam-diam. Mengapa dia tidak melakukan hal yang sama saat membereskan masalah di Polri dan Kejaksaan? Bayangkan saja, saat pemilihan anggota Kabinet kemarin, SBY bahkan seperti mengadakan audisi “Cikeas Idol”. Bukti lain, Taufik Kiemas saja luluh dan mau menjadi Ketua MPR.

Mengapa Pak Beye, mengapa Anda tidak melakukan lobi-lobi “di bawah meja” saja? Mengapa Anda malah masuk begitu jauh ke urusan-urusan hukum? Anda hendak mendikte Polri dan Kejaksaan dengan menyarankan sesuatu yang sangat sulit bagi Polri dan Kejaksaan untuk menolak “saran” Anda. Namun atas semua ini, SBY masih mengklaim bahwa dia “tidak ikut campur proses hukum”.

Ini adalah kebohongan publik yang sangat terang-benderang. Jelas-jelas SBY turut campur kasus Bibit-Chandra. Malah sampai membentuk Tim 8 segala. Bagian mana yang membuktikan bahwa dia tidak ikut campur proses hukum Bibit-Chandra?

Game Politik SBY

Pernyataan SBY semalam sangat mencengangkan. Berkali-kali dia mengatakan, tidak akan mencampuri proses hukum. Tetapi pernyataan dia itu sendiri memiliki pengaruh bagi proses hukum Bibit-Chandra. Kasus Bibit-Chandra bisa dihentikan oleh Polri atau Kejaksaan, dengan dasar saran SBY tersebut.

Sekali lagi, saya menyebut masalah ini sebagai TRAGEDI AKAL SEHAT. Kok bisa-bisanya, wong jelas-jelas kasus ini hukum murni, dan hendak diselesaikan secara politik melalui pernyataan SBY, kok bisa disebut “tidak ikut campur proses hukum”.

Kenyataan seperti ini menjadi bukti nyata metode politik yang ditempuh SBY selama ini. Dari kasus “tragedi akal sehat” ini kita bisa membaca jelas bagaimana game politik yang dimainkan SBY selama ini.

PERTAMA, Pak SBY itu murni seorang politikus, bukan negarawan. Buktinya, dia dalam menghadapi berbagai persoalan, lebih kuat kalkulasi politiknya, daripada pertimbangan kepemimpinannya sebagai seorang negarawan.

Contoh simple, sebelum pidato tadi malam, sudah beredar pernyataan sebelumnya bahwa opsi yang akan ditempuh SBY adalah “out of court” (keluar dari mekanisme hukum). Pertanyaannya, mengapa SBY di berbagai kesempatan selalu menggunakan idiom-idiom bahasa Inggris (asing)? Apa dia tidak PD dengan bahasa Indonesia sendiri? Dulu waktu bicara di Kompas soal KPK, dia juga mengatakan, “KPK must not be unchecked” (KPK tidak boleh tidak dikontrol). Jujur saja, cara komunikasi SBY ini sangat mengecewakan dari sisi penggunaan bahasa Indonesia di negeri sendiri.

KEDUA, Pak SBY amat sangat “jaga image”. Bahkan sepertinya, modal politik utama dia adalah “jaga image” itu sendiri. Dia tidak mau disalahkan masyarakat karena mencuatnya kasus Bibit-Chandra. Ketakutan SBY sangat kuat, sehingga memutuskan untuk membentuk Tim 8. Padahal seharusnya, dia cukup memainkan lobi-lobi politik untuk menyelesaikan kasus Bibit-Chandra itu.

Toh, kalau mau jujur, dengan pertimbangan politik juga SBY bersikap diam saja atas Anggodo, tuntutan pencopotan Kapolri dan Jaksa Agung. Dia juga diam atas kasus pencatutan nama dia dalam rekaman Anggodo. Bahkan SBY terkesan membela diri dalam kasus Bank Century. Jadi, sikap politik SBY itu ada, tetapi tidak dipakai dalam kasus Bibit-Chandra. Hal ini semata demi image.

Akhirnya, silakan lihat masalah ke depan secara jernih. Pak SBY masih punya waktu sekian lama untuk memimpin negara ini. Tapi kalau cara-caranya tetap seperti yang kita saksikan ini, ya siap-siap saja bersabar. Salah satu amanah Konstitusi adalah “ikut mencerdaskan bangsa”. Semoga “TRAGEDI AKAL SEHAT” di atas tidak terulang lagi. Sangat memalukan! Masak seorang Presiden memberi contoh kepada rakyatnya cara MENGINGKARI perbuatannya sendiri.

= Mine =


Kritik Bagus Pro PKS

November 23, 2009

Selama ini ada kesan, setiap yang mengkritik PKS selalu “salah”, “iri hati”, “tidak mengerti realitas”, “ingin memecah-belah”, dll. Nah, ini ada sebuah tulisan bagus yang ditulis ORANG NETRAL. Tulisan ini karya Mas Herry Mohammad, wartawan senior majalah Gatra (masih di Gatra tidak ya?). Judulnya, “PKS 2014: Antara Bumi dan Langit“. Saya membaca tulisan ini di http://www.hidayatullah.com (sekaligus ijin copy-paste ya, maap tidak ijin dulu). Atau sumber link-nya adalah ini ==> PKS 2014: Antara Bumi dan Langit.

Sebelum dimuat disini, perlu dijelaskan, baik Mas Herry Mohammad atau majalah Suara Hidayatullah (sumber asli tulisan) adalah orang-orang yang bersikap netral kepada PKS. Lain dengan saya yang dianggap sudah “apriori”, atau ikhwan Salafiyin yang dianggap “sparing partner” kontinue. Jadi, mohon jangan kaitkan masalah seperti ini dengan interest pribadi. Terlalu kecil dan sepele, jika hanya itu tujuannya.

Akhirnya, selamat membaca. Atau silakan langsung masuk hidayatullah.com seperti dalam link di atas.

 

PKS 2014: Antara Bumi dan Langit

Oleh: Herry Mohammad.

Ketika reformasi mencapai puncak kemenangannya pada 21 Mei 1998 (Presiden Soeharto mundur dan digantikan oleh BJ Habibie), era baru perpolitikan nasional berawal. Habibie membuka keran, dengan memberi kebebasan kepada anak bangsa untuk mendirikan partai politik.

Euforia, begitulah kondisinya saat itu, menjelang Pemilu 1999. Partai-partai berbasis massa dan berasas Islam bermunculan. Di antaranya adalah Partai Keadilan (PK), dengan presiden pertamanya Nur Mahmudi Ismail (kini Walikota Depok). Kemunculan PK membawa angin tersendiri, menjelang Pemilu Legislatif 1999, Sebagai pendatang baru, banyak yang berharap PK akan bisa menjadi partai moderen dan berhasil memulung suara umat Islam.

Tapi apa yang terjadi? Pemilu Legislatif (Pileg) 1999, PK hanya mendapat suara 1,3 persen. Partai harapan ini otomatis tidak lolos electoral threshold sebesar 3 persen. Partai-partai yang tidak lolos tentu saja harus berganti nama agar bisa mengikuti Pileg 2004. Maka, PK berganti baju dan menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dengan Hidayat Nur Wahid sebagai presiden (20 April 2003).

Pada Pemilu Legislatif 2004, PKS mendapat suara 7,35 persen, sebuah lonjakan yang luar biasa. Padahal, waktu itu, kader PKS jumlahnya ditaksir sekitar 500 ribu orang. Banyak orang berdecak kagum, dari mana suara sebanyak itu? Jawabnya: simpatisan! Pada saat Pileg 2004, PKS sudah punya modal sumber daya insani di Senayan –dan juga di DPRD Provinsi, Kota/Kabupaten– yang kinerjanya cukup bagus dan bersih.

Berangkat dari kenyataan tahun 2004 yang mendapat lonjakan suara yang berlipat-lipat itulah, para elit partai mulai tergoda dengan perolehan suara yang lebih besar lagi. Dalam berbagai kesempatan, para elit partai, menargetkan perolehan suara PKS dalam Pileg 2009 sebesar 20 persen. Jumlah yang cukup fantastis. Dan ternyata jumlah itu bisa dilampaui, bukan oleh PKS, tapi oleh Partai Demokrat, dengan 20,85 persen. (Pada Pemilu 2004 Partai Demokrat memulung suara 8,04 persen)

Tanda-tanda bahwa capaian suara PKS yang jauh dari harapan sudah nampak pada awal April lalu. Waktu itu, berbagai lembaga survey merilis hasil jajak pendapat yang mereka lakukan. Hasil Survey Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) misalnya, menempatkan Partai Demokrat yang terunggul dengan perolehan 20,2 persen suara, sedangkan PKS mendapatkan 9,7 persen suara. Ini termasuk prediksi yang tak jauh beda dari lembaga survey lain. Pertanyaannya adalah, mengapa ambisi PKS tidak terwujud dalam Pileg 2009? (hanya mendapat 7,88 persen). Ada beberapa sebab, baik internal maupun eksternal yang perlu dijadikan bahan introspeksi.

Kendala Krusial

Pertama, ada kritik bermunculan dari dalam, di antaranya terhadap para politikus yang ‘berubah’ setelah berkantor di Senayan, maupun di tingkat daerah. Para pengkritik adalah para murobbi, ustad, yang masih berakar kuat pada idiologi langit dan punya massa.

Kedua, kecenderungan PKS untuk mendukung “mereka yang diprediksi menang” –dalam pilpres, pilgub, maupun pilkada– sering kali malah kontra-produktif. Kecenderungan itu akhirnya melonggarkan syarat untuk memilih pemimpin secara Islami. Ini membuat kekecewaan para kader dan banyak memilih mundur dari arena politik, dan tetap konsisten di jalur tarbiyah.

Ketiga, terlalu sibuk berpolitik, sehingga para kader waktunya habis untuk urusan yang satu ini. Umat nyaris tak terurus, liqo-liqo mulai kendor, aktivis dakwah kampus mulai diisi oleh komunitas yang getol mempelajari al-Qur’an dan Hadits, tapi mereka a politik.

Keempat, para kader di tingkat bumi, akar rumput, merasa hanya digunakan setiap kali menjelang Pileg, Pilbub, Pilgub dan Pilpres. Ibarat panjat pohon pinang, mereka hanya dipakai sebagai ancik-ancik (pijakan). Setelah itu, mereka tak diurus.

Selain faktor internal, ada pula pengaruh luar alias eksternal. Para kader PKS kurang menjalin komunikasi dan silaturahim dengan pimpinan partai atau ormas Islam yang lain. Kalau toh terjadi silaturahim, muatannya selalu politis. Padahal, hubungkan sesama umat sangat luas, dan politik adalah bagian kecil dari yang luas itu.

Mendengar dan Menghimpun

Lalu, bagaimana prospek partai dakwah ini di tahun 2014? PKS dilahirkan oleh para aktifis dakwah, dan mengklaim sebagai partai dakwah. Karena itu, orientasi aksinya mesti diarahkan untuk dakwah, tak sekedar memilih PKS. Tapi dakwah untuk menyebarkan Islam sebagai “Petunjuk Jalan”.

PKS jangan berhenti pada slogan “Peduli, Bersih, dan Profesional” saja. Masih banyak hal kreatif yang bisa dilakukan oleh para kader partai. Banyak persoalan di tengah-tengah masyarakat memerlukan advokasi langsung. Soal ekonomi, pendidikan murah berkualitas, kesehatan, dan pembelaannya pada umat yang masih harus terus dibuktikan. Kasus terorisme saja PKS tak banyak “berbunyi”. Di jamannya PKS masih PK, kehadiran kader-kader partai saat itu, cukup memberikan citra bahwa partai dakwah ini benar-benar peduli terhadap sesama. Mereka melakukan dakwah bil hal, tidak hanya bil lisan saja.

Para kader PKS mestinya tetap meluangkan waktunya untuk berdakwah, dengan bahasa yang sopan, tidak reaktif, tanpa harus membuat iklan populis seperti iklan Soeharto itu. PKS harus bisa mengelola komunikasi politik, mau mendengar pendapat orang lain, baik yang berseberangan maupun yang searah. Apa pun bentuk “serangan” yang mungkin ditujukan, hendaknya ditanggapi sebagaimana laiknya seorang pendakwah.

Sebagai partai dakwah yang berbasis kader, mestinya baik sikap maupun ucap tetap terjaga. Harus dibuktikan ketulusan dalam bersaudara sesama Muslim. Karena saudara Muslim itu juga pemilih potensial baginya. Oleh sebab itu, kader PKS mestinya tetap membuka mata dan telinga. Semua masukan itu dihimpun dan disaring, yang baik diambil dan yang jelek disortir. Apapun bentuk masukan itu, sebenarnya adalah rasa cinta mereka kepada partai ini. Untuk itu, jika ada kritikan pedas nan tajam dari saudara-saudara se-idiologi, tidak seharusnya dimasukkan bagian “hitam”. Kondisi sekarang, ada kesan di tingkat bawah, pengkritik adalah pembenci. Ini sama halnya menomorsatukan partai, menafikan umat.

Hal lain yang mesti dilakukan oleh para kader partai maupun institusi PKS, kurangnya menjalin komunikasi dengan baik kepada wartawan dan media-media Islam. Sejatinya, media-media Islam bisa dijadikan mitra, bukan malah dijauhi atau dilihat dengan sebelah mata, betapa pun kecilnya media tersebut. Beberapa media Islam punya kesan, PKS telah menjauhi dan tak membutuhkan mereka. Ini bisa berbahaya!

Terdongkraknya perolehan suara PKS pada Pileg 2004 tak bisa dilepaskan dari kinerja partai dan keteladanan para kader yang telah bekerja sejak 1999 (ketika masih PK). Begitu pula perolehan suara pada Pileg 2009 atau tahun 2014 mendatang. Performa partai 5-10 tahun ke depan, akan sangat ditentukan oleh akhlak kader mereka hari ini. Jika umat bisa merasakan akhlak yang indah itu, mereka akan tahu kepada partai apa aspirasi politiknya akan disalurkan! Wallahu a’lam.

*)Penulis adalah pemerhati Politik Umat Islam, dan wartawan senior

Tulisan menarik lainnya baca di Majalah Suara Hidayatullah edisi Nopember 2009.

Nah, demikian saja yang bisa disampaikan. Jazakumullah khair atas semua perhatiannya. Semoga tulisan ini bisa menjadi nasehat berharga, bagi semua pihak, khususnya bagi PKS. Amin.

(Politische).


Krisis Militansi Pemuda Islam

November 21, 2009

Bismillahi Allahu Akbar.

Apalah artinya suatu masyarakat, tanpa peranan para pemuda? Bagaimana agama akan tegak berdiri menatap segala tantangan, tanpa peranan pemuda? Mungkinkah Islam akan sampai ke hadapan kita, tanpa peranan pemuda? Betapa besar posisi para pemuda dalam kebangkitan. Tidak ada khilaf lagi.

Kalau ingin melihat masa depan sebuah masyarakat; kalau mau melihat masa depan sebuah bangsa; kalau mau menyaksikan eksistensi agama di masa nanti; kalau mau menyaksikan kemegahan sebuah peradaban; lihatlah semua itu dengan parameter keadaan para pemuda di hari ini. Bagaimana keadaan mereka? Menggembirakankah atau sangat mengecewakan?

Pemuda memiliki sifat istimewa dibandingkan generasi-generasi lainnya, yaitu MILITANSI-nya. Mereka bersemangat besar dalam beramal; mereka memiliki fitrah bersih untuk menolong kebenaran dan membela keadilan; mereka memiliki kekuatan berkorban, tanpa pamrih; mereka memiliki ketulusan hati, tidak dikotori oleh kepentingan-kepentingan sempit, baik uang, wanita, atau kekuasaan. Justru, sifat-sifat baik inilah yang selalu dilekatkan kepada para pemuda. Mereka disebut pemuda karena memiliki militansi tinggi, rasa pengorbanan kuat, optimisme menyala-nyala, serta ruh kebangkitan mengharukan.

Militansi tidak identik dengan aksi-aksi serangan bom disana-sini, atas nama jihad melawan Amerika. Militansi juga tidak selalu diterjemahkan sebagai kemampuan konflik, terlibat battle, sampai berdarah-darah. Militansi adalah kesiapan diri bekerja dan berkorban membela kebenaran yang diyakini. Militansi dalam Islam bisa dimaknai sebagai MUJAHADAH.

Contoh amal-amal yang mencerminkan militansi seorang Muslim, misalnya:

[o] Datang ke Masjid untuk mengajar Al Qur’an kepada anak-anak, meskipun jarak cukup jauh, meskipun hari sedang hujan, meskipun saat tiba di Masjid tidak ada satu pun anak yang dijumpainya.

[o] Pulang dari Masjid sambil telanjang kaki, karena sandal yang dipakainya diambil orang, dengan tidak ada niatan dalam hati untuk mengambil sandal orang lain.

[o] Menyerahkan sisa uang di tangan untuk orang lain yang sangat membutuhkan, meskipun dirinya sendiri juga membutuhkan.

[o] Tidak malu berjualan kalender di pinggir jalan raya, untuk mengumpulkan dana bagi rumah perlindungan anak yatim.

[o] Mengendarai motor dalam keadaan hujan deras, demi meyampaikan bulletin ke tangan pembaca, sesuai jadwal terbitnya.

[o] Menempuh perjalanan berkilo-kilo meter sambil jalan kaki, untuk menuntut ilmu-ilmu yang bermanfaat.

[o] Menyelesaikan tugas yang diamanahkan, meskipun harus bergadang sepanjang malam, sambil tubuh terhuyung-huyung menahan kantuk.

[o] Menepati janji, mengingat-ingat janji, sekalipun untuk hal-hal yang kecil.

[o] Tekun dan sabar menjalankan tugas yang berulang-ulang, meskipun hanya berupa menyapu lantai Masjid setiap sore hari. (Bukan kecilnya pekerjaan yang dilihat, tetapi konsistensinya mengerjakan tugas itu).

[o] Menolak pekerjaan yang mengkhianati Ummat. Atau menolak menerima suap, meskipun resikonya harus keluar meninggalkan pekerjaan.

[o] Berani meninggalkan penghasilan besar, demi terjun dalam urusan-urusan pelayanan Ummat. Dan tidak menangisi hilangnya penghasilan itu, ketika suatu hari hidupnya terpuruk dalam kesulitan.

[o] Bersikap solider kepada sahabat. Tidak menciderai hak-hak sahabat, menolongnya dalam kesusahan, menemaninya dalam keterasingan, menghiburnya dalam kesedihan. Berani mengakhirkan kepentingan diri demi kebaikan sahabat.

[o] Berani melindungi kehormatan Islam, ketika ada yang terang-terangan meghina simbol-simbol syi’ar Islam.

[o] Mengorbankan uang yang dimiliki untuk kepentingan Islam, dengan tidak mengingat-ingat kembali pengorbanan itu.

[o] Teguh menjaga amanah-amanah Ummat, sekalipun mengalami berbagai kesulitan dalam menjaga amanah tersebut.

[o] Membela hak hidup seorang Muslim yang terancam bahaya, meskipun jiwanya sendiri terancam.

[o] Menjaga kehormatan wanita, tidak menghinakannya, meskipun dengan cara-cara yang diminta sendiri oleh wanita itu.

[o] Berani membela orang-orang yang terzhalimi, sekalipun berhadapan dengan jaringan “mafia” yang memiliki kekuatan besar.

[o] Menghormati kaum tua, bersikap sopan kepada mereka, tidak merendahkan mereka, meskipun dirinya di atas kebenaran. (Kecuali kepada kaum tua yang telah terkenal kezhaliman dan kesesatannya).

[o] Jelas dalam meyakini suatu pendapat, terbuka dalam berdiskusi, berani mengakui kesalahan diri, serta tidak menzhalimi orang-orang lemah.

Al Qur’an menggambarkan militansi seorang pemuda, yaitu Nabi Yahya عليه السّلا م. Beliau tidak gentar menghadapi para tiran, meskipun resikonya adalah kematian. Beliau lembut hati, sehingga dicintai para makhluk, termasuk binatang-binatang. Begitu juga dengan pemuda-pemuda Al Kahfi. Mereka adalah orang-orang terpandang di kaumnya, namun rela meninggalkan gemerlap kehidupan demi membela keyakinan. Abu Bakar, Umar, Ali, Ibnu Mas’ud, Mush’ab, Sa’ad, dll.رضي الله عنهم    adalah para pemuda Mukmin yang tangguh di awal Islam. Mereka menjadi pilar kebangkitan agama ini.

Teringat ungkapan heroik dari seorang tokoh dakwah di Mesir. Beliau rahimahullah pernah mengatakan, “Datangkan kepadaku 5 orang pemuda Islam yang tangguh, maka dengan mereka aku akan menaklukkan dunia!”

Namun Saudaraku… Namun saat memandang realitas masa kini, kita seperti terpana. Kita seperti memandang sesuatu yang menakjubkan.

Saat menyaksikan wajah pemuda-pemuda Islam jaman sekarang, seketika hati kita diliputi berbagai kesedihan. Dada bergemuruh menahan beban kecemasan besar. Lisan pun tak henti-hentinya mengucapkan…astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah al ‘Azhim.

Ya Allah ya Rabbi, harapan kepada para pemuda itu begitu tingginya, tetapi kehidupan mereka sangat jauh. Mereka bukan hanya tidak mengenal kata militansi; bahkan mereka telah menjadi bagian terbesar dari budaya hedonisme yang merajalela saat ini. (Di dunia hedonisme, tidak dikenal istilah Tuhan. Tuhan mereka adalah kesenangan itu sendiri). Para pemuda telah memindahkan kata militansi dari kamus perjuangan dipindah ke kamus budaya permissif. Mereka ridha menjadi hamba hedonisme. Mereka rela menjadi sekrup-skrup mesin Kapitalisme, dengan segala loyalitas dan kemampuan yang dimiliki. Allahu Akbar!!!

Pemuda-pemuda hari ini bertingkah sangat mengecewakan. Mereka berbangga dengan bedak, lotion, cream, SPA, dan perawatan salon. Dari kaki sampai ujung rambut, mereka senang memamerkan merk-merk terkenal. Tubuhnya selalu wangi, berbangga dengan bilangan jumlah mandi setiap setiap hari. Mereka muntah mencium aroma keringat dari medan perjuangan. Mereka mengejek pakaian sederhana, meremehkan sandal jepit, membuang muka dari rambut kusut. Justru para pemuda itu menjadikan para banci sebagai idola. Takut melihat ular. Selalu mencari aman. Tidak mau menetes keringatnya, karena takut kehilangan “kecantikan”.

Potret Pemuda Masa Kini. Sebagian Besar Muslim.

Pemuda di hari ini menghabiskan waktunya untuk urusan-urusan yang tidak jelas. Di setiap sakunya ada HP, dengan merk berbeda-beda. Sangat hobi berfoto-foto, untuk menampakkan kegenitan diri. Tiada hari tanpa SMS romantis; tiada hari tanpa “taushiyah” berujung cinta; tiada hari tanpa meng-up date status di facebook; tiada hari tanpa diskusi sia-sia di forum internet (diskusi tanpa hasil, tanpa perubahan); tiada hari tanpa menghabiskan umur percuma.

Saat pagi mereka bangun, komik, novel romantis, dan majalah life style sudah menanti. Saat Dhuha sebelum keluar rumah, mereka berpantas-pantas diri di depan cermin, lebih satu jam. Saat siang bertemu kawan-kawan, segala obrolan tentang kesenangan dan menghabiskan umur, habis mereka telan. Saat sore, ketika mulai lelah, mereka buka media-media pornografi. Saat petang menjelang malam, nongkorng di kafe-kafe. Saat malam telah sempurna, mereka berduyun-duyun mendatangi arena-arena konser musik. Saat merebahkan badan di tempat tidur, mereka berfantasi hal-hal yang mesum. Ketika pagi bangun kembali, mereka siap mengulang-ulang “ibadah hedonisme” seperti itu.

Pemuda hari ini rupanya akan segera meniti jejak pemuda-pemuda sebelumnya. Mereka hidup, berjalan-jalan kesana-kemari sebagai raga tanpa jiwa, sebagai diri tanpa missi, sebagai hidup tanpa karya. Mereka hendak meniti sunnah orang-orang hina, menjalani hidup sekedar menghabiskan umur. Pembicaraan manusia seperti itu tidak lepas dari 3 urusan saja: cari uang, makan-minum, dan bersenang-senang. Dirinya dianugerahi kebaikan yang luas, tetapi disia-siakan. Masya Allah.

Pemuda hari ini bukanlah pemuda yang memiliki missi besar, yang berpandangan jauh ke depan, yang bertanggung-jawab memikul amanah peradaban Islam, yang siap meletakkan hidupnya sebagai sebuah bata di antara ribuan bata konstruksi kehidupan Islami. Pemuda hari ini bukanlah mereka yang berjalan meniti lintasan perjuangan para pendahulu Salaf yang shaleh. Mereka justru terkurung dalam penjara-penjara budaya syahwat yang diciptakan Yahudi. Mereka terpenjara dalam lautan hedonisme yang melemahkan iman dan merusak moral.

Keadaan yang lebih ironis, di antara pemuda itu ada yang “menghedonisasi” (terinspirasi dari istilah “kriminalisasi”) simbol-simbol perjuangan. Mereka berteriak tentang jihad, mengupas syiar peperangan, meng-capture aksi para mujahidin, membawa simbol-simbol para martir, dll. Tetapi semua itu sekedar kendaraan untuk bersenang-senang, sekedar alat untuk menghabiskan umur. Atau sekedar simbol untuk meraih gengsi tertentu di mata manusia yang lain. Adapun nilai perjuangan mereka sendiri, hampir tidak ada. Maklum, sebagian besar amal mereka geluti hanyalah having funs (bersenang-senang) atas nama kemuliaan para mujahidin.

Dalam kesepian jiwanya, di pojok kehampaan hidupnya, para pemuda itu bersenandung, “Ya, aku suka berjuang, aku militan, aku pembela keadilan. Tetapi aku lebih suka berjuang bersama akhwat, misalnya melalui SMS, chatting, e-mail, diskusi di internet, atau rapat bersama mereka sampai larut malam. Aku lebih enjoy berjihad bersama akhwat. Mereka memicu semangatku, membuatku termotivasi belajar, untuk mengejar nilai tinggi, serta mempersiapkan karier yang cemerlang. Inilah inti perjuanganku, inilah jihadku, demi mencapai Ridha Allah, demi fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah, waqina adzaban naar. Ya Allah ya Rabbi, semoga nanti karierku bagus, moga-moga bisa jadi anggota dewan, atau dipanggil jadi Menteri, buat membahagiakan ayah-ibuku, kakak-adikku, tante-tanteku. Jadi idola para akhwat, so pasti. Ya Allah ya Rasulullah, amin, amin, amin. Akhirnya, mari bersama-sama kita membaca Al Fatihah: ‘Audzubillah…”

Ngenes, ngenes, ngenes sekali… Sejauh itukah keadaan para pemuda kita? Hanya kepada Allah kita berharap karunia dan menyandarkan  pertolongan.

Betapa sulit saat ini mencari pemuda Islam yang militan. Kebanyakan pemuda telah terkurung dalam penjara-penjara hedonisme yang diciptakan Yahudi, baik mereka sadari atau tidak. Yahudi sangat mengenal tabiat mereka, meneliti relung-relung kepribadiannya sampai sedemikian mendalam. Kemudian Yahudi sukses menciptakan segala macam mainan (games) untuk menyibukkan pemuda-pemuda itu. Tanpa disadari, Yahudi laknatullah menggiring para pemuda itu dalam keadaan tangan dan kakinya diborgol, lehernya terikat, kepalanya diber nomer, mereke berjalan tertunduk lesu; menuju liang-liang penjara kehidupan. Dalam keseharian, para pemuda itu tampak hidup bebas lepas, tanpa kendali. Padahal sebenarnya jiwa mereka terkurung oleh penjara-penjara maya (invisible jails).

Selagi para pemuda itu tidak mau keluar dari dunia hedonismenya… Selagi mereka terus menghabiskan umur percuma… Selagi mereka tidak menyadari life style yang diciptakan Yahudi… Selagi mereka anti militansi untuk membela Islam… Selagi mereka menjalani hidup sebagai manusia-manusia tanpa jiwa… Maka akibatnya, suramlah masa depan Islam, suram nasib kehidupan manusia, bahkan suram juga masa depan mereka sendiri.

Tulisan ini sengaja ditulis, sebagai “BOM” untuk meledakkan penjara-penjara maya yang mencengkram akal para pemuda Islam. Mohon dimaafkan bila ada kalimat-kalimat yang tidak berkenan di hati. إن أريد إلا ألصلح ما إستطعت (tidaklah yang aku kehendaki melainkan melakukan perbaikan, sekuat kesanggupanku).

Bukan hanya Islam yang membutuhkan militansi para pemudanya. Ideologi apapun juga membutuhkan militansi pemuda, agar tetap eksis. Bahkan Yahudi bisa “mencengkram dunia”, juga karena militansi. Maka bangkitkan militansimu, untuk membela agamamu! Saat ini, atau tidak sama sekali!

Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin, wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.


Manfaat Segelas Air Putih

November 19, 2009

Ini adalah sebuah tip praktis yang insya Allah bermanfaat.

Mungkin Anda selama ini termasuk seseorang yang aktif bekerja, banyak keluar stamina setiap hari. Boleh jadi dalam sehari Anda aktif 8 jam atau lebih. Nah, mungkin saat aktifitas itu Anda pernah merasa lelah, merasa capek, merasa ngantuk, ingin tidur saja, dan lain-lain. Jika Anda istrahat atau tidur bisa jadi akan kehilangan banyak waktu, sementara Anda dipaksa oleh kondisi untuk terus aktf bekerja.

Bagaimana solusinya?

Biasanya, seseorang akan minum kopi, minum kopi ginseng, minum minuman energi, minum suplemen, dan lain-lain untuk memulihkan tenaganya. Kalau Anda mau, cobalah cara yang sangat sederhana ini, yaitu: Meminum air putih segelas penuh sampai habis. Tentu saja, sebelum minum jangan lupa membaca “Bismillahirrahmaanirrahiim” (atau “Bismillah” saja).

Sesegar Air Putih

Cara ini sangat sederhana dan murah, tetapi insya Allah efektif. Selama tubuh Anda belum rusak oleh radikal bebas, seperti rokok, alkohol, polusi berat, suplemen-suplemen kimiawi, dan sebagainya, maka meminum air putih akan menjadi obat mujarab untuk menyegarkan kembali tubuh yang lesu.

Dasar pemikirannya sederhana: “Kita bisa beraktifitas sehari-hari karena memiliki energi. Energi muncul sebagai hasil pengolahan makanan dan oksigen yang kita asup setiap hari. Sementara sari makanan dan oksigen itu beredar dalam tubuh kita dalam bentuk cairan. Maka ketika kita sering mengganti cairan tubuh, atau memberikan kepada tubuh cairan yang memadai, maka tubuh itu akan aktif memelihara stamina kita.”

Logikanya sangat persis dengan tanaman. Tanaman yang tidak disiram air, ia akan layu, bahkan lama-lama akan mati. Sementara kalau pasokan airnya cukup, ia akan tetap segar. Begitu pula tubuh kita.

Idealnya, dalam sehari kita minum 8 gelas air putih. Tapi saya sarankan, kalau kebiasaan seperti ini sulit dilakukan, cobalah biasakan minum air putih 2 gelas saat pagi, 2 gelas selesai Zhuhur, dan 2 gelas saat petang hari. Lakukan hal ini rutin setiap hari, sebagai upaya menjaga kebugaran tubuh kita.

Memang ada sedikit catatan yang perlu Anda ketahui. Kalau kita biasakan minum air putih dalam jumlah cukup, seperti yang disebut di atas, biasanya kita akan terdorong untuk lebih sering buar air kecil. Tetapi itu normal, dan tidak masalah. Ya, untuk mendapat stamina yang prima, tidak masalah sering-sering ke kamar kecil (WC).

Mau coba? Cobalah, insya Allah bermanfaat… Amin.

AMW.


Hukum Menonton Film “Kiamat 2012”

November 19, 2009

Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin. Wasshalatu wassalamu ‘ala man laa nabiya ba’dahu Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Bagaimana hukumnya menyaksikan film “2012” yang menghebohkan itu? Apakah halal, haram, atau tergantung penilaian masing-masing orang?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, tidak bisa diberi jawaban pendek, tetapi harus dirinci sesuai konteksnya, sehingga menghasilkan kesimpulan yang mantap. Di bawah ini beberapa catatan penting seputar film “2012”. Nanti pada ujungnya kita akan sampai pada kesimpulan akhir tentang film ini, insya Allah.

[01] Film “2012” dikeluarkan oleh Columbia Pictures dari Hollywood. Sebagaimana dimaklumi, Columbia Pictures adalah salah satu perusahaan film raksasa milik Yahudi. Mereka sudah puluhan tahun malang-melintang membentuk wajah budaya manusia, mengikuti garis-garis kepentingan Yahudi Internasional. Columbia Pictures, Warner Bros, Walt Disney, 20 Century, dll. sama saja. Mereka sangat pro dengan agenda westernisasi dan hedonisasi budaya manusia.

[02] Hukum asal nonton film sama dengan hukum menonton hiburan lain, yaitu pada awalnya BOLEH (mubah). Status kebolehan itu bisa berubah menjadi makruh, haram, atau afdhal, tergantung isi tontonan, cara menonton, serta akibatnya bagi kehidupan kaum Muslimin. Contoh, menyaksikan tontonan beladiri adalah boleh. Nabi Saw dan Aisyah Ra pernah menyaksikan adu beladiri di masjid, sampai Aisyah merasa bosan melihatnya. Tetapi menyaksikan tontonan beladiri di arena perjudian, campur-baur laki-laki dan wanita, disana banyak minuman-minuman keras, ada wanita pelacur berseliweran disana-sini, dll. maka tontonan seperti itu menjadi haram. Bukan karena beladirinya haram, tetapi karena kondisi arena tempat tontonan itu sendiri diadakan. Contoh lain, tontonan beladiri Smack Down. Tontonan ini penuh adegan rekayasa, penuh kekonyolan, penuh sikap hina dan menghinakan orang lain, menonjolkan kebengisan, tidak mengenal belas-kasih, hanya mengejar nafsu kesombongan. Maka tontonan Smack Down ini haram, karena isinya merusak akal-budi manusia. Jadi, hukum menonton film itu tergantung isi filmnya, cara menontonnya, serta akibatnya kemudian bagi kehidupan kaum Muslimin.

[03] Secara prinsip, film “Kiamat 2012” merupakan pelanggaran berat terhadap akidah Islamiyyah. Dalam film ini diceritakan bahwa Kiamat akan terjadi pada tahun 2012. Kalau sekarang tahun 2009, berarti Kiamat terjadi 3 tahun lagi. Memastikan waktu datangnya Kiamat pada tahun, bulan, atau tanggal tertentu (dengan kalender apapun) adalah kebathilan besar. Ini sangat tidak bisa diterima oleh akidah Islam. Dalilnya, Nabi Saw tidak pernah menyebutkan saat datangnya Kiamat dengan suatu kepastian waktu. Dalam Al Qur’an pun tidak ada petunjuk kepastian waktu itu. Dalam hadits panjang dari Umar bin Khattab Ra, tentang Islam, Iman, dan Ihsan. Ketika itu Nabi ditanya oleh Jibril As, “Kapan datangnya As Sa’ah (Hari Kiamat)?” Maka Nabi menjawab, “Tidaklah orang yang ditanya (yaitu Nabi) lebih tahu dari orang yang bertanya (Jibril). Akan tetapi akan aku sampaikan kepadamu tanda-tandanya.” (HR. Muslim). Disini jelas terlihat, bahwa momentum datangnya Kiamat tidaklah dapat dipastikan oleh manusia manapun, termasuk diri Nabi Saw sendiri. Nah, kalau Nabi saja tidak pernah memastikan momentum datangnya Kiamat, bagaimana dengan para pembuat film 2012 itu? Atas dasar apa kita akan mempercayai ucapan, pemikiran, dan bualan mereka?

[04] Kalau mencermati tanda-tanda Kiamat seperti yang dijelaskan oleh Nabi dalam hadits-hadits yang sangat banyak, disana akan kita dapati kesimpulan, bahwa saat Kiamat terjadi, tidak ada lagi orang-orang beriman. Ummat Islam ketika itu sudah wafat semua, tidak ada yang tersisa. Yang tersisa hanyalah orang-orang kafir, manusia keji, durhaka, fasid, zhalim, dan sebagainya. Sementara saat ini atau tahun 2012, masih banyak kaum Muslimin, masih banyak orang-orang beriman. Jadi, Kiamat versi 2012 bukanlah Kiamat seperti yang digambarkan oleh Islam, tetapi ia adalah Kiamat versi orang-orang kafir. Dengan sendirinya berlaku prinsip: “Lakum dinukum wa liya din” (bagi kalian agama kalian, bagiku agamaku).

[05] Tokoh-tokoh Islam angkat bicara tentang film “2012”. Seorang anggota MUI di Jakarta tidak mempermasalahkan film ini, dengan alasan sebelumnya sudah sering muncul ramalan-ramalan tentang Kiamat. Seorang ustadz dalam dialog di MetroTV mengatakan, bahwa dia tidak mendukung film itu, tetapi juga tidak melarang masyarakat menyaksikannya. Lembaga MUI di Jawa Barat tidak memandang serius munculnya film “2012”. Bantahan: Film “2012” tidak bisa diqiyaskan dengan ramalan-ramalan Kiamat sebelumnya. Ia berbeda konteksnya. Ramalan-ramalan Kiamat selama ini umumnya disampaikan oleh perorangan, atau diyakini oleh komuntas tertentu. Sementara film “2012” diedarkan ke seluruh dunia sebagai produk publik yang terbuka disaksikan siapa saja. Dalam film “2012” itu orang kafir secara sistematik ingin mendoktrinkan konsep Hari Kiamat menurut versi mereka. Hal ini adalah masalah serius. Menurut hemat saya, film 2012 ini jauh lebih berbahaya daripada film-film binatang yang dibintangi Maria Ozawa. Film 2012 ini bisa merusak pikiran, akidah, dan hati nurani kaum Muslimin. Adapun pandangan “jalan tengah”, tidak mendukung sekaligus tidak melarang, bukanlah pandangan Islami. Ia tidak memiliki landasan Syari’at apapun.

[06] Ada yang berpendapat, bahwa film “2012” bermanfaat juga, yaitu mengingatkan manusia tentang kedahsyatan Hari Kiamat. Kalau seseorang melihat film “2012”, lalu bertaubat dari dosa-dosanya, itulah yang diharapkan. Tetapi masalahnya, dalam film itu tidak ditunjukkan solusinya sebagaimana yang diajarkan dalam Islam. Para pembuat film itu tidak bermaksud mengajak manusia bertaubat, tetapi mengajak mereka ketakutan, lalu tak memberi solusi. Kecil kemungkinan seseorang akan bertaubat setelah melihat film itu, sebab disana gambaran kedahsyatan Kiamat dicampur-adukkan dengan simbol-simbol kemusyrikan (ramalan bangsa Maya atau fiksi sains hasil propaganda orang atheis).

Baca entri selengkapnya »