Sebuah Foto Kenangan

Akhi dan Ukhti rahimakumullah…

Ini ada sebuah foto menarik yang saya dapatkan ketika melihat-lihat album foto milik sebuah TK Islam. Foto ini kalau dilihat secara sekilas, tidak memiliki makna istimewa. Tetapi ia menjadi sangat bermakna kalau dikaitkan dengan pengalaman kami selama ini. Sebelumnya, silakan Anda cermati foto di bawah ini!

Foto Jerapah

Anak TK Terpana Melihat "Si Leher Panjang"

 

Foto yang tampak di atas adalah foto seekor jerapah di Kebun Binatang Bandung (KBB). Dalam foto ini terlihat beberapa anak TK sedang berkunjung ke KBB dan terpana melihat jerapah. Sekali lagi saya ulangi, ia adalah foto JERAPAH di Kebun Binatang Bandung. Tidak ada penafsiran lain. (Tidak dibutuhkan analisis Roy Suryo untuk memastikan kebenaran informasi yang saya sampaikan).

Lalu dimana sisi keistimewaan foto ini?

Jujur saja, saat melihat foto di atas, saya mendadak merasa ngilu, merasa sesak di dada. Ini bukan berkaitan dengan apapun, tetapi menyadari pengalaman kami selama ini bersama anak-anak. Biar Anda tidak semakin bingung, silakan dibaca secara runut poin-poin di bawah ini!

[o] Saya dan isteri sudah belasan tahun tinggal di Bandung. Alhamdulillah kami dikarunia sekian anak-anak. Selama di Bandung kami menyadari bahwa kota ini tidak terlalu banyak tempat-tempat wisatanya. Memang ada tempat wisata mall-mall, factory outlet, belanja HP, komputer, dll. Tapi jujur saja, kami tidak terlalu suka dengan wisata semacam itu, terlalu “mekanikal dan konsumtif”. Kebanyakan obyek wisata natural terletak di Kabupaten Bandung atau luar kota.

[o] Tapi Bandung memiliki satu obyek wisata yang mengagumkan kami selama ini. Ia terletak di “hutan kota” dekat Kampus ITB, yaitu: Kebun Binatang Bandung. Bagi kami, KBB itu seperti sebuah anugerah besar yang masih tersisa di tengah Kota Bandung. Kami dan anak-anak senang datang ke KBB untuk melihat binatang-binatang langka. Meskipun hal itu sudah dilakukan berulang-ulang kali. Kami senang membawa bekal dari rumah, menggelar tikar, lalu makan bersama di bawah pepohonan pinus di KBB itu. Hampir dipastikan, anak-anak selalu gembira dan puas, setelah berwisata ke KBB. Maklum, daripada sumpek melihat tingkah aneh manusia di berita-berita TV, lebih baik melihat binatang-binatang di KBB.

[o] Kebun Binatang Bandung memiliki beberapa kelebihan. Koleksi hewan-hewannya cukup lengkap, penataan tempatnya berdekatan satu hewan dengan lainnya. Sementara kalau di Ragunan Jakarta, karena terlalu luasnya area, jarak satu lokasi hewan ke lokasi lain berjauhan. [Udah keburu capek duluan jalan kesana kemari]. Selain itu, KBB itu bersih dan rapi. Pihak pengelola KBB tampak komitmen menjaga kebersihan tempat itu. Dan satu lagi, disana ada mushalla yang cukup lebar dan bersih. Anak-anak biasanya menjalankan Shalat Zhuhur atau Ashar disana. Hanya untuk fasilitas WC masih agak sulit, harus antre.

[o] Berkali-kali kami datang ke KBB, kami seperti hafal tempat-tempat binatang itu. Dimana burung-burung, dimana beruang madu, dimana monyet (and his friends), dimana akuarium, dimana gajah, dimana buaya, ular, onta, dan termasuk jerapah. Pendek kata, kami tahu tempat-tempatnya. Seperti contoh, anak-anak setiap ke KBB selalu penasaran ingin melihat ular-ular. Tetapi anehnya, ketika sudah dekat lokasi ular, mereka sering “kabur” ketakutan. Itulah situasi “aneh” yang sering terjadi. Penasaran, tapi ketakutan.

[o] Di antara koleksi KBB yang sangat menarik bagi kami adalah JERAPAH. Letak jerapah lebih ke dalam, dekat dengan tunggangan gajah, atau pohon-pohon pinus. Kalau datang ke KBB, hampir dipastikan kami akan selalu datang untuk melihat jerapah. Seolah jerapah itu seperti “hidangan menjelang penutup” sebelum kami sudahi jalan-jalan melihat berbagai koleksi binatang di KBB. Jerapahnya sendiri tinggi, dewasa, dan jinak. Kadang orang memberikan kacang atau makanan lain ke jerapah itu. Kepala jerapah itu bisa mendekat ke tempat kami berdiri di jalanan. Tetapi ia jinak, tidak menyerang pengunjung.

[o] Beberapa tahun lalu, kami berkunjung ke KBB, dan kami kecewa. Saya termasuk yang cukup kecewa. Mengapa? Sebab saat kami kesana, kami tidak lagi mendapati jerapah disana. Entah kemana jerapah waktu itu, tidak ada di kandangnya. Saya sendiri hanya berprasangka, jerapah itu mungkin sedang dibawa oleh petugas KBB untuk suatu urusan perawatan. Sebab tidak mungkin ia akan dilibatkan dalam sirkus. Setahu kami, KBB tidak memiliki akses pertunjukan sirkus. Murni sifatnya koleksi binatang dan wisata fauna langka.

[o] Kerisauan kami dengan melihat hilangnya jerapah dari kandang terbawa sampai ke rumah. Dalam obrolan sering saya sampaikan kepada isteri atau anak-anak, bahwa saya kecewa jerapah tidak ada di kandangnya. Suatu hari kami dengar berita, katanya jerapah KBB itu sudah mati. Dia mati karena memakan plastik, lalu tersumbat saluran pencernaannya karena plastik yang termakan. Nah, disini kekecewaan kami semakin menggumpal. “Oh, sayang sekali. Siapa pula yang memberi hewan itu bungkus plastik? Oh sayang sekali.”

[o] Secara anatomis, jerapah lehernya panjang. Makanan masuk ke perutnya setelah melewati kerongkongan yang cukup panjang. Kalau ada plastik yang masuk ke saluran pencernaannya, jelas akan membuat binatang itu sangat kesulitan, sehingga akibatnya bisa mati. Plastik bisa dari pengunjung yang memberi kacang dan lupa membuka bungkusnya. Atau dari jerapah itu sendiri yang memakan sampah plastik di sekitarnya. Yang jelas, kami kecewa dengan hilangnya koleksi jerapah dari KBB.

[o] Sejak KBB kehilangan koleksi jerapah, kami seperti hilang semangat. Meskipun pada dasarnya masih banyak koleksi hewan lain disana. Entahlah, apakah kami terlalu fanatik dengan jerapah? Mungkin saja.

Kalau melihat foto di atas, rasanya ada NGILU di hati. Ya Allah, itu kan hewan favorit kami di KBB. Itu adalah foto jerapah saat dia masih hidup. Tapi itulah dunia. Kadang di dunia ini kita diberi aneka hiburan oleh Allah yang Maha Pemurah. Namun ia bersifat tidak abadi. Hiburan di dunia tidak ada yang abadi, apapun bentuknya. Yang abadi, murni, dan sempurna, hanya ada di sisi-Nya, di dalam Jannah-Nya. Alhamdulillah.

Benarlah yang dikatakan oleh Allah kepada Adam As dan isterinya dalam Surat Al Baqarah, tentang dunia ini: “Qulnahbithu, ba’dhukum li ba’dhin ‘aduwwu, wa lakum fil ardhi mustaqarrun wa mata’un ila khiin” (keluarlah kalian dari syurga, sebagian kalian akan menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Dan di bumi itu ada tempat berdiam bagi kalian dan ada kesenangan yang sampai batas waktu tertentu).

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiiin.

AMW.

One Response to Sebuah Foto Kenangan

  1. Yogi berkata:

    Di AS dan Eropa, ada aturan keras – selain dilarang membuang sampah – bahwa pengunjung dilarang memberi makan hewan koleksi kebun binatang. Mungkin kunjungan menjadi kurang menarik, terutama bagi anak-anak, tapi bisa mencegah hal-hal yang membahayakan hewan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: