Pemimpin Tidak Berkah

Dalam Islam, berkah itu dari kata ‘barakah’. Arti kata barakah sendiri banyak, antara lain kebaikan, rizki, kebahagiaan, karunia, dan sebagainya. Tetapi para ulama menjelaskan makna barakah sebagai: ziyadatul khair (bertambahnya kebaikan).

Rizki yang berkah, kalau dimakan/dipakai akan membuat kita ringan untuk berbuat kebaikan, atau akan mendatangkan kebaikan-kebaikan lain. Misalnya, Anda diberi motor oleh seorang teman secara ikhlas. Maka sejak Anda memiliki motor itu, ia begitu banyak membantu urusan Anda. Membantu berangkat kerja, membantu mengantar isteri belanja, membantu mengantar anak-anak, membantu bepergian ke majlis taklim, membantu menolong orang sakit, dll. Kalau motor itu tidak berkah, ia justru semakin menambah masalah. Sering macet, mogok, membuat urusan kacau, sering tabrakan, dimaki-maki orang, dll.

Contoh Keberkahan

Saya pernah dibelikan tiket bis malam jurusan Bandung oleh seseorang. Dalam hati sebenarnya “tidak enak”. Tetapi karena tidak mau menolak kebaikan orang, saya pakai juga tiket itu. Ternyata di jalan, saat mampir ke sebuah restoran, saya ijin ke kondektur mau shalat dulu. Masya Allah, saat saya kembali, saya telah ditingggal oleh bis itu. Padahal saya duduk persis di belakang kursi sopir. Perjalanan masih jauh, saya baru di Jawa Tengah. Tas dan barang-barang saya masih ada di bis itu. Alhamdulillah dompet masih saya pegang. Akhirnya saya ikut bis serupa itu yang menuju Jakarta, lalu turun saat dini hari di Cirebon.

Keesokan harinya, sesampai di Bandung saya kejar ke pol bis itu. Alhamdulillah tas dan barang-barang masih ada. Rasanya mau murka. Tetapi ironisnya, pengurus bis itu tidak ada ucapan tanggung-jawab yang bisa melegakan hati. Sepertinya pada “cuci tangan”. Saya pun tak mendapat ganti rugi apapun, termasuk ongkos tambahan yang saya keluarkan dari Cirebon. Yang lebih menyayat hati, makanan yang dibawakan ibu dari Malang basi, karena terlalu lama di jalan. Sedih-sedih sekali. Betapa ibu sangat menyayangi anaknya, tetapi makanan buatannya tidak bisa dikonsumsi, sehingga berakhir di tempat sampah. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Maka dapat disimpulkan, tiket yang dibelikan itu bukan tiket berkah. Ia tiket pembawa masalah. Sebab selama ini kami tidak  mengalami kesulitan-kesulitan seperti itu dalam perjalanan. Berbeda dengan rice cooker yang diberikan seorang teman kepada kami. Luar biasa, rice cooker itu diberikan bertahun-tahun yang lalu. Ia sangat handal, tidak pernah mengalami kerusakan berarti. Kalau rusak, paling dudukan kakinya. Telah bertahun-tahun kami memakainya untuk memasak nasi. Hasil nasinya bagus, sebagus masak di tungku biasa. Tetapi cara masaknya sendiri lebih simpel, tidak berproses panjang seperti masak di tungku. Sampai anak-anak kami biasa memasak nasi memakai rice cooker itu. Sungguh, saya sering memuji rice cooker itu sebagai pemberian yang penuh berkah. Alhamdulillahil Karim ‘ala nia’mihil wasi’.

Apa saja yang kalau ditekuni, dinikmati, dipakai, membawa banyak manfaat, mendorong perbuatan baik, membuat kita semakin bersyukur kepada Allah, maka ia adalah perkara berkah. Sebaliknya, apa saja yang mendatangkan masalah, menambah kerepotan, menyakitkan hati, membuat hati semakin keras, membuat jiwa resah, membuat diri tidak tahu malu, membuat kita malas berbuat kebaikan, membuat urusan semakin sempit, dapat dipastikan bahwa ia adalah perkara munqathi’ (terputus) dari berkah.

Agar mendapat berkah, kuncinya sederhana, yaitu: al imanu wat taqwa. Iman berarti mengibadahi Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan siapapun, sedangkan taqwa berarti mentaati aturan-aturan Allah dan Rasul-Nya sekuat kesanggupan. “Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa kepada Allah, maka benar-benar akan Kami bukakan atas mereka barakah-barakah dari langit dan bumi.” (Al A’raaf: 96).

Berkah dalam Kepemimpinan

Berkah itu menjangkau semua urusan manusia. Ia tidak terbatas pada soal makan-minum saja. Baju yang kita pakai bisa berkah, sendal yang kita pakai bisa berkah, isteri di sisi kita bisa berkah, anak-anak kita bisa berkah, pekerjaan kita bisa berkah, rumah, kebun, kendaraan, pensil, komputer, pisau, gelas, piring, dan sebagainya. Keberkahan bisa masuk ke urusan rumah-tangga, persahabatan, organisasi, perusahaan, bisnis, jual-beli, manajemen, pengelolaan masjid, dll. Termasuk keberkahan bisa masuk urusan kepemimpinan.

Pemimpin yang berkah mendatangkan banyak kebaikan. Rakyatnya sehat, hidup tentram, dicukupi rizki, keadilan ditegakkan, mushibah menyingkir, musuh takut mengganggu, perselisihan mudah ditemukan solusinya, moral rakyat semakin baik, semangat ibadah mereka baik, praktik ribawi semakin sepi, perzinahan dan perbuatan keji semakin jauh, dan lain-lain. Bahkan, dengan pemimpin yang berkah, hawa/cuaca semakin ramah, saat musim kering tidak mematikan tumbuh-tumbuhan, saat hujan tidak menimbulkan banjir.

Namun pemimpin yang tidak berkah, dia menjadi pintu kesengsaraan bagi rakyatnya. Rakyat semakin sengsara, ekonomi semakin sulit, ribawi merajalela, perzinahan, pelacuran, homoseks merajalela. Rakyat miskin semakin banyak, konflik dimana-mana, kejahatan/kriminalitas pesta pora, hukum diperjual-belikan, birokrat korupsi, sistem selalu buruk dan tumpang tindih. Orang munafik berkeliaran, kebohongan menjadi makanan sehar-hari, orang asing menjarah kekayaan negeri, kehormatan dilecehkan, rakyat putus-asa, para pemuda stress, dan sebagainya. Termasuk datangnya bencana dari segala arah, bencana alam, kecelakaan transportasi, kekeringan, kelaparan, wabah penyakit, skandal korupsi, dan sebagainya.

Itulah beda antara pemimpin berkah dan pemimpin munqathi’ (terputus berkahnya). Jika seorang pemimpin beriman dan bertakwa, insya Allah kepemimpinannya akan berkah. Kalau pemimpin hanya “saleh lisannya saja”, atau “hanya saleh retorikanya”, dijamin rakyatnya akan menderita.

Pemimpin apabila munafik lebih buruk dari pemimpin kafir, sebab dia membawa dua keburukan sekalgus: (1) Buruk hatinya karena kafir kepada Allah; (2) Buruk sikapnya karena menyembunyikan kekafiran, menampakkan kesalehan.

Realitas Aktual

Ada contoh bagus, seorang pemimpin yang sangat tidak berkah. Sejak menjadi pemimpin selama bertahun-tahun, dia memberi makan rakyatnya dengan “penampilan oke” dan “retorika memukau”. Seolah kehidupan masyarakat yang komplek itu bisa diselesaikan dengan pidato-pidato yang “arif bijaksana”. Banyak cakapnya, tetapi sedikit kerja nyatanya. Mudah memuji orang-orang tertentu yang disukainya, dan mudah pula membuang orang itu kalau sudah tidak bisa dipakai. Terlihat sangat “pro perdamaian”, padahal di bawah permukaan selalu menimbulkan konflik di antara manusia. Berbangga dengan bahasa asing, dan lupa memperbaiki bahasa rakyatnya sendiri. Meneguhkan diri untuk melayani kepentingan orang asing, melupakan rakyatnya sendiri.

Memakai istilah-istilah seperti “Alhamdulillah”, “Masya Allah”, “Insya Allah”, “Allah Subhanahu Wa Ta’ala”, dan lain-lain untuk menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Tidak segan-segan menampakkan simbol-simbol religiusitas, tetapi sebatas simbol untuk menarik simpati. Sikapnya sangat keras kepada para dai, serangannya tajam kepada pemuda-pemuda Islam, mencari keridahaan asing dengan menyerang kalangan dakwah, memperlakukan sesepuh Ummat Islam seperti memperlakukan pencuri ayam, terus menyakiti Ummat dengan isu-isu terorisme yang penuh misteri, dll.

Di tangan pemimpin seperti ini, hidup rasanya begitu panjang. Waktu bergerak begitu lambat. Ummat harus bersabar di bawah tekanan demi tekanan yang terus berkesinambungan.

Salah satu contoh aktual ialah soal kasus hukum Bibit-Chandra dan Bank Century. Maksud hati, pemimpin seperti itu ingin dipuji masyarakat sebagai sosok pro hukum, pro keadilan, setidaknya dalam masa 100 hari kepemimpinannya. Maka dia pun membentuk Tim 8 untuk mencari fakta-fakta hukum tertentu. Setelah tim bekerja dan menghasilkan sekian rekomendasi, lalu dia berjanji akan menyampaikan keputusan untuk mengakhiri semua polemik itu. Senin malam 23 November 2009 dia pidato di depan seluruh rakyat Indonesia. Apa hasilnya? Apakah kasus semakin selesai dan tuntas? Sebaliknya, justru semakin merebak kebingungan dimana-mana.

Apa buktinya bahwa masalah ini semakin rumit dan tumpang-tindih? Buktinya antara lain sebagai berikut:

[-] Dia mengklaim tidak mencampuri hukum, tetapi pernyataan dia di Senin malam itu benar-benar mencampuri proses hukum yang sedang dijalankan Polri dan Kejaksaan.

[-] Bibit-Chandra tidak diuntungkan dengan pernyataan itu, sebab kasus mereka toh tetap dijalankan oleh Polri dan Kejaksaan. Malah kedua institusi terakhir mengklaim, kasus Bibit-Chandra siap dilimpahkan ke proses selanjutnya. Ada yang menyebut, “Siap di-P21”.

[-] Pihak Polri dan Kejaksaan juga sangat bingung. Mereka normalnya bekerja by case (berdasarkan kasus), tetapi setelah pidato pemimpin itu, mereka harus bekerja keras by order (atas pesanan politik tertentu).

[-] Kalangan tokoh-tokoh, LSM, masyarakat luas, yang sekian lama mengharapkan penyelesaian tuntas masalah ini juga bingung. Mereka bertanya-tanya, “Jadi Bibit-Chandra mau diapakan? Kalau memang itu kasus kriminalisasi, seharusnya dituntut pihak-pihak yang mengkriminalisasikan keduanya.”

Maksud hati membentuk Tim 8 untuk meraih pujian publik. Tetapi akhirnya, malah bonyok. Sebenarnya, yang diinginkan masyarakat itu penghentian kasus Bibit-Chandra, sebab dalam rekaman di MK, jelas-jelas disana tampak praktek kriminalisasi itu sendiri. Untuk membebaskan Bibit-Chandra tidak perlu membentuk Tim 8, menanti rekomendasi Tim 8, atau memberikan tanggapan. Semua itu bisa diselesaikan secara politik, tanpa harus menempuh cara berbelit-belit. Seorang pemimpin bisa menekan bawahannya agar menuruti kebijakan politik dia untuk menuruti aspirasi masyarakat luas. Kalau bawahan tidak mau menurut, tinggal dicopot saja! Cara demikian lebih simple, tidak sampai masuk pusaran konflik hukum, juga murah. Bandingkan dengan pembentukan Tim 8! Berapa biaya yang sudah dikeluarkan negara untuk mengongkosi tim itu? Padahal hasil kerja tim itu tidak jauh beda dengan tuntutan masyarakat selama ini, sebelum tim itu sendiri dibentuk.

Tampak benar, bahwa pemimpin itu “tidak berani” menghadapi bawahannya (Kapolri dan Jaksa Agung). Pertanyaannya, ada apa di balik ketidak-beranian itu, sehingga harus “menyewa tangan” Tim 8 segala? Apakah pemimpin yang dimaksud memang terlibat dalam permainan ini? Wallahu A’lam.

Kontroversi Tim 8

Kebanyakan masyarakat suka dengan hasil rekomendasi Tim 8. Iya, secara umum kita suka, sebab dianggap lebih mewakili rasa keadilan. Tetapi pembentukan tim seperti ini yang terlalu jauh masuk ke dalam kasus hukum tertentu bisa menjadi bom waktu. Mengapa? Ke depan Presiden RI akan bisa mencampuri semua kasus-kasus hukum yang menjadi perhatian luas masyarakat. Nanti kalau ada kasus-kasus hukum tertentu, akan dibentuk tim serupa, lalu Presiden akan ikut campur menentukan hasil akhir kasus itu sendiri. Ya, orang-orang yang paham hukum seharusnya malu ketika bicara soal Tim 8 ini. Bukan karena hasil rekomendasinya bagus, tetapi nanti bisa memberi jalan kepada Presiden untuk mengacak-acak dunia hukum (Yudikatif).

Tapi kan hasil rekomendasi Tim 8 itu bagus buat Bibit-Chandra?

Iya, karena kebetulan bagus. Bagaimana kalau hasilnya tidak jauh dari sikap Polri dan Kejaksaan? Hayo, bagaimana kalau hasil rekomendasi Tim 8 justru memojokkan Bibit-Chandra? Anda mau apa? Itu kebetulan saja hasilnya sesuai harapan masyarakat. Kalau tidak? Wah, kekacauan masalahnya bisa tambah besar lagi.

Bagi Adnan “Si” Buyung sendiri, adalah suatu ironi sangat mengerikan. Dia jelas-jelas mengerti hukum, maklum praktisi hukum, mantan Ketua LBHI. Antara “Si” Buyung dan hukum seolah seperti “sendok dan garpu”. Dimana ada Buyung di situ ada kasus hukum. Tapi mengapa “Si” Buyung ini seperti orang tidak mengerti hukum? Mengapa dia mau menjadi Ketua Tim 8? Bahkan mengapa hasil rekomendasi timnya sifatnya bukan “hasil pencarian fakta”, tetapi malah “rekomendasi intervensi hukum”? Apa “Si” Buyung tidak tahu bedanya jabatan Presiden dengan aparat hukum? Sungguh sangat amat ironis. Tim 8 itu -terlepas hasil rekomendasinya menguntungkan- seperti jurang yang menghancurkan reputasi hukum Buyung sendiri.

Kalau Presiden RI cerdas, dia pasti akan menempuh cara politik yang lebih murah cost-nya daripada membentuk Tim 8 seperti itu. Bagi siapa yang tidak setuju dengan pandangan ini ada pertanyaan sederhana: “Bagaimana kalau nanti Presiden membentuk tim-tim pencari fakta lain untuk mencampuri kasus-kasus hukum lain? Apa kerja Presiden itu menegakkan hukum? Apakah pembentukan tim-tim seperti itu tidak butuh anggaran?”

Berkah Pemimpin

Kalau pemimpin berkah, pasti keadaannya tidak akan rumit seperti di atas. Ini menunjukkan bahwa yang memimpin Indonesia saat ini bukan tangan yang diberkahi, tetapi munqathi‘. Keimanan dan taqwa tidak menjadi landasan hidupnya, dan landasan kepemimpinannya. Apapun yang jauh dari iman-taqwa hasilnya pasti sakit. Tinggal kita sendiri, harus banyak shabar, istghfar, dan memohon pertolongan Allah.

Sistem sekularisme pasti akan menimbulkan lautan masalah kehidupan. Seharusnya sistem Islami yang kita anut, agar hidup berkah. Tetapi pemimpin sekuler yang curang lebih buruk dari pemimpin sekuler yang jujur, sebab keburukannya berganda. Sudah buruk sistemnya, buruk pula moral pengemban sistem itu.

Semoga kita belajar dari sekian banyak pelajaran-pelajaran hidup di sekitar kita. Belajarlah, untuk membangun hidup yang lebih baik. Insya Allah. Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin, wallahu A’lam bisshawaab.

= Mine =

7 Balasan ke Pemimpin Tidak Berkah

  1. anakwarung mengatakan:

    Pendapat yang bagus sekali.

  2. abuabyan mengatakan:

    Assalamualaikum, diagnosa yg cukup menarik, akan ttpi tetap saja dibangun diatas dugaan bkn fakta.
    Telah begitu bnyk artikel2 yg antm buat untk mengkritisi/menasehati para pemimpin, akan ttpi efektifkah cara tsb?
    Atau malah menghabiskan energi, waktu dan tenaga antm! Smkn membuat antm kesal!
    Trus sampaikah nasehat2 antm tsb kpd pemimpin yg dimaksud?
    Atau ini hanya sekadar curhat atas kekecewaan antum trhdp pemimpin, bkn nasehat? krn trkdng ana merasa ada pemaksaan opini yg senantiasa antm pupuk disini.

  3. abisyakir mengatakan:

    @ Abu Abyan

    Maaf sebelumnya, saya mau tanya. Anda Abu Muhammad Al ‘Asyari yang kemarin-kemarin memberikan komentar disini? Coba katakan dengan jujur, tidak usah malu. Kalau Anda bukan orang yang saya maksud, anggap saja pertanyaan saya tidak penting.

    Tentang komentar Anda:

    Assalamualaikum, diagnosa yg cukup menarik, akan ttpi tetap saja dibangun diatas dugaan bkn fakta.

    => Wa’alaikumsalam warahmatullah. Fakta seperti apa yang Anda inginkan? Fakta berupa bencana-bencana alam? Fakta berupa kejahatan sistem Neo-Liberal? Fakta berupa kecurangan dalam Pemilu? Fakta kecelakaan transportasi? Fakta liberalisme ajaran Islam dan aliran sesat yang dilindungi? Fakta berupa semangat pro Amerika, loving to Obama, dan lain-lain? Fakta apa yang Anda inginkan?

    => Anda merasa bahwa Pemimpin RI selama ini pribadi yang shaleh, muttaqin, khasyi’un lillah, zuhud lid dunya, rahimun lil mustadh’afin, dan sebagainya? Kalau begitu, sebutkan bukti-buktinya bahwa Pemimpin RI itu orang yang layak disebut pemimpin berkah?

    Telah begitu bnyk artikel2 yg antm buat untk mengkritisi/menasehati para pemimpin, akan ttpi efektifkah cara tsb?

    => Lho, tujuan diadakan blog ini sendiri untuk apa? Anda baca tidak moto blog ini? Ini saya sebutkan: “Wahana Berbagi Wawasan Muslim Indonesia”. Adapun kalimat Leca Leca…Holi Holi, hanya sekedar ingatan saya terhadap awal kemunculan blog ini. Jadi, saya menulis utamanya dalam rangka berbagi wawasan dengan sesama Muslim di negeri ini. Kalau kemudian blog ini dibaca orang banyak dan dapat berpengaruh mengadakan perbaikan, alhamdulillah. Tetapi tujuan utamanya memang berbagi wawasan.

    => Anda sendiri punya blog, punya situs, punya tulisan, punya buku, atau apa saja yang berbentuk publikasi? Isi tulisannya bisa apa saja, mulai dari akidah, ibadah, akhlak, dll. Lalu tanyakan ke diri sendiri: “Apakah efektif publikasi Anda itu untuk mencapai apa yang Anda tuju?”

    Atau malah menghabiskan energi, waktu dan tenaga antm! Smkn membuat antm kesal!

    => Ya tentu, semua usaha pasti ada energinya. Jangankan membuat blog seperti ini. Mengeluarkan serat daging yang terselip di gigi saja butuh energi. Hidup tanpa keluar energi adalah nonsense.

    => Saya tidak merasa sia-sia dengan blog seperti ini, dan tidak pula merasa rugi dengan energi yang dikeluarkan. Blog ini misinya adalah pemberdayaan wawasan Muslim (takwin tsaqafah Ummat). Karena merajalelanya kebodohan itulah yang telah melemahkan Ummat ini dan membuat mereka tidak berdaya dan hina. Di sisi lain, blog ini untuk amar makruf nahi munkar juga. Setidaknya, nahyul munkar dengan lisan, jika dengan tangan tidak mampu melakukan.

    => Apakah membuat saya tambah kesal? Ya, kesal terhadap kemungkaran. Tetapi bukan kesal dalam menekuni amanah membela Ummat, sekuat kesanggupan. Kalau masih sensitif dengan soal kesal tidak kesal, jangan bicara tentang perjuangan Ummat. Menyingkirlah dari arena. Sejak Nabi Saw dan para Shahabat Ra, mereka banyak menghadapi resiko tekanan batin karena menghadapi kekafiran, kemusyrikan, kemungkaran.

    => Dalam Al Qur’an diceritakan tentang Fir’aun di beberapa tempat. Saat membaca tentang Fir’aun, hati kita kesal, marah, benci kepadanya. Tetapi apakah karena kekesalan itu, lalu Allah tidak memandang penting menceritakan kisah Fir’aun? Bisa jadi kaum Murji’ah menginginkan agar dalam kehidupan ini damai sajalah, aman sajalah, tenteram sajalah; biarpun jahiliyyah merajalela. Murji’ah telah tertipu oleh talbis iblis dengan perasaannya sendiri.

    Trus sampaikah nasehat2 antm tsb kpd pemimpin yg dimaksud?

    => Kalau sampai, kemudian dia mau melakukan perbaikan, alhamdulillah. Itulah yang diharapkan. Kalau tidak sampai, tulisan-tulisan ini tidak digubris sama sekali oleh dia, ya tidak apa-apa. Wong memang tujuannya, berbagi wawasan.

    Atau ini hanya sekadar curhat atas kekecewaan antum trhdp pemimpin, bkn nasehat? krn trkdng ana merasa ada pemaksaan opini yg senantiasa antm pupuk disini.

    => Anda itu aneh. Namanya juga blog, jadi sangat mungkin pemilik blognya curhat di blog itu. Lho, bagaimana sih awalnya muncul media blog? Bagaimana historisnya? Coba kaji lagi deh hal itu. Lagi pula nama blog ini sangat jelas “abisyakir.wordpress.com”. Masak Anda tidak tahu hal ini? Kalau mau lebih jelas, coba baca halaman “Seputar Blog”. Baca disana ya, baru komenter dimari.

    => Kecewa melihat pemimpin sekuler, pemimpin anti Islam, pemimpin pelindung aliran liberal dan aliran sesat, pemimpin yang tidak peka dengan kerusakan moral generasi muda, pemimpin yang pro neolib kapitalis, pemimpin yang mabuk Amerika, pemimpin yang menganiaya Ummat Islam dengan isu terorisme, pemimpin yang cuma jual tampang, dll. Kecewa seperti ini BENAR dan HAQ. Justru kalau Anda simpati, mendukung, merasa muthmainnah, selalu mentaati, menghormati, mendoakan kebaikan, dsb. masya Allah, kemungkinannya hanya dua: Anda mengikuti ajaran sesat atau tidak ada iman di hati, walau seberat biji sawi. Seharusnya, tarbiyah Al Qur’an, As Sunnah, akidah, fiqih, dll. telah cukup membuat kita sensitif terhadap kemungkaran-kemungkaran di sekitar kita.

    Mungkin, nanti saya akan coba kaji secara tersendiri tentang Sekte Murji’ah dan pengaruhnya dalam merusak jiwa para pemuda Islam. Semoga Allah menolong kita untuk berbuat kebaikan yang diridhai-Nya. Allahumma amin.

    == AMW ==

  4. abuabyan mengatakan:

    Afwan, kl ada kata2 ana yg salah.
    Memang metode dlm menasehati pemimpin itu berbeda-beda, ada yg sangat hati2 sekali [dlm bahasa antm “murjiah”], ada yg terlalu berlebihan sekali [orang2 salafy bilang “khawarij”] dan ada yg pertengahan. Mudah2an kita termasuk yg pertengahan tsb.
    Ana sendiri sependapat dg antm akan perlunya menasehati para pemimpin.
    Ana hanya merasa antm terlalu srng membuat artikel2 ttg hal tsb, dan jarang membahas masalah yg lain, setiap ada berita hangat seputar pemimpin kita, antm lantas membahasnya, bermanfa’at sih! Tp kl keseringan bosen jg.
    Sekali lagi ana mohon maaf bila ada salah kata, terimakasih atas penjelasannya.

  5. abisyakir mengatakan:

    @ abu abyan…

    Ya Akhi, saya ingin memberi penjelasan jujur tentang sikap saya yang “anti SBY” selama ini. Meskipun saya sama dengan beliau, sama-sama asal Jawa Timur.

    Untuk memudahkan memahami, coba dirunut masalahnya, yaitu sbb.:

    [1] Mayoritas penduduk Indonesia itu Muslim. (Ini tandanya bahwa saya tidak mengkafirkan kaum Muslimin di negeri ini. Hanya prihatin dengan jahilnya mereka dari ilmu agama). Kalau kita peduli dengan masalah-masalah sosial di Indonesia, pada dasarnya kita peduli dengan urusan kaum Muslimin. Hal itu pula yang menjadi niat kita dalam kepedulian ini.

    [2] Baik-buruknya kehidupan sosial Ummat Islam di Indonesia sangat berpengaruh bagi keimanan mereka. Contoh, orang-orang yang miskin harta dan miskin ilmu, mereka lebih besar peluangnya untuk rusak keimanannya. Di antara mereka ada yang bekerja di tempat2 haram, ada yang menjadi koruptor, menjadi petugas ribawi, membuka aurat untuk cari uang, menjual kehormatan, berbuat syirik, sihir, memuja syaitan, dll. sampai menjual agama demi mendapat penghasilan dan beasiswa (lewat Kristenisasi). Jadi, keadaan sosial masyarakat erat kaitannya dengan keimanan.

    [3] Kondisi sosial masyarakat sangat dipengaruhi oleh pemimpin dan sistem kepemimpinan. Paling mudah, kita bisa bedakan keadaan di jaman Soekarno yang cenderung pro Komunis, di jaman Soeharto yang militeristik, di jaman Reformasi yang menganut sistem ekonomi liberal. Di tiga keadaan ini situasinya berbeda. Dan fakta berbicara, kerusakan moral dan keimanan di jaman SBY saat ini sangat serius.

    [4] Idealnya, sistem kepemimpinan yang ada adalah sistem Islami dengan pemimpin yang shalih. Inilah sistem yang benar menurut Kitabullah dan Sunnah, bahkan hukumnya wajib bagi kaum Muslimin untuk menegakkannya. Namun andai sistem seperti itu tidak ada, setidaknya kita bisa menjaga 5 URUSAN UMMAT (menjaga agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan kaum Muslimin). Minimal menjaga 5 perkara ini, meskipun sistem yang berlaku buruk atau jauh dari nilai-nilai Islam.

    [5] Untuk menjaga 5 Urusan Ummat itu bisa dilakukan dengan: Pemberdayaan, peringatan agar waspada, mencegah kemungkaran, mencegah kezhaliman, menolak penjajahan, menasehati pemimpin, dan sebagainya. Caranya, kalau mampu dengan tangan, kalau tidak dengan lisan, kalau tidak cukup membenci di hati saja.

    [6] Pemerintah SBY sangat merugikan kepentingan kaum Muslimin. Itu tidak diragukan lagi. SBY mengangkat Boediono, Sri Mulyani, Marie Pangestu, Purnomo Yusgiantoro, dll yang bermadzhab liberalis-kapitalis. Selama 5 tahun Pemerintahan SBY hutang luar negeri Indonesia melonjak, bertambah sekitar 400 triliun. Menurut sebagian politisi (Prabowo) harta masyarakat Indonesia yang dibawa ke luar negeri setiap tahun sekitar 20 miliar dollar (200 triliun). Dan banyak data yang selama ini beredar seputar Neoliberal. Sistem seperti ini sangat membahayakan kehidupan kaum Muslimin. Bahkan sebagian orang menyebut keadaan seperti ini sebagai penjajahan gaya baru (new colonialism).

    [7] Tentu dengan memperingatkan, menolak kezhaliman, membangun opini, tidak otomatis masalah “penjajahan baru” itu akan teratasi. Ya, tidak seimbang lah. Saya memakai blog, sementara imperialis-kapitalis memakai mesin apapun yang mereka miliki. Tetapi perjuangan membela kepentingan Ummat tidak boleh lesu karena perbedaan kekuatan. Toh, kita hanya berusaha, kepada Allah juga mengharap balasan.

    Anda dan umumnya “Salafi” kan terjebak dalam KESALAHAN PEMAHAMAN yang sangat serius. Pemerintah sekuler yang tidak berpihak kepada Ummat, yang melayani kepentingan asing dengan mengorbankan kepentingan Ummat, malah Anda bela dengan pemahaman: “Tidak boleh dicela, dinasehati diam-diam, tidak boleh di-ghibahi, selalu ditaati setelah Allah dan Rasul-Nya, tidak boleh dicela di depan umum, selalu didoakan, didukung, dihormati, dll.” Ini salah dalam menempatkan dalil-dalilnya. Kepada sekularis yang anti Islam malah diberi kemurahan seperti itu. Allahu Akbar.

    Kita seperti meletkkan mahkota emas di kepala srigala. Seharusnya, mahkota itu diletakkan di kepala sultan Islam, ‘ala nizhamil Islami, bukan diletakkan di atas kaum sekuler liberalis yang anti Islam. Ini adalah kesesatan yang amat sangat. Ini kesesatan yang jelas, tidak diragukan lagi.

    Saya sarankan kepada @ Abu Abyan dan lain-lain, sekarang coba deh belajar hal-hal sederhana saja. Misalnya, belajarlah di rumah cara meletakkan tutup panci di atas pancinya. Atau belajar menutup botol dengan tutupnya yang sesuai. Atau belajar memakai sarung tangan di tangan, jangan di kaki. Cobalah belajar hal-hal sederhana seperti itu. Insya Allah kalau Anda memahami, Anda akan bisa keluar dari jerat paham Murji’ah yang berbahaya itu.

    Kalau saya umpamakan dua kelompok, kaum Liberaliyun dan Murji’ah.

    => Liberaliyun, mereka menyerang daar-dasar Islam, bahkan konsep Islam itu sendiri. Mereka menyerang Islam secara frontal.

    => Murji’ah, mereka menyerang ruh penegakan Sistem Islam. Mereka menyerang spirit kaum Muslimin untuk menegakkan sistem Islami (baca: Kalimah Allah) di muka bumi. Di mata mereka, hidup di atas sistem apapun tidak masalah, selama hatinya tetap bertauhid. Bagi mereka, tanggung-jawab seorang Muslim adalah terhadap hatinya sendiri, tidak perlu ikut campur urusan sosial/kemasyarakatan. Dengan keyakinan seperti ini, maka sistem Islam tidak akan pernah bangkit, sistem jahiliyah terus mendominasi, hingga akhirnya Kalimah Allah redup dikalahkan kalimah syaitan.

    Maka itu, kalau Anda perhatikan kesibukan orang-orang “Salafi” itu, mereka seperti kaum Shufi di masa lalu yang selalu kompromi dengan kekuasaan, hatta itu adalah kekuasaan para penjajah. Ingat, yang selalu menggunting perjuangan Ummat Islam di masa lalu, masa kolonial Barat, termasuk masa sekarang, adalah orang2 seperti ini. Mereka mengklaim mewarisi Salafus Shalih, padahal Salaf yang mulia mengingkari amal dan pemahaman mereka.

    Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

    AMW.

  6. Rahmad mengatakan:

    Waah ana baru kenal murjiah ..Bisa di kasih refrensinya. Kitab atau penjelasan yg panjang.. Sepertinya bayak sekali orang berfaham seperti itu

  7. abisyakir mengatakan:

    @ Rahmad…

    Akhi, banyak artikel di internet yang membahas masalah paham Murji’ah. Coba cari deh dengan search engine. Misalnya “paham Murji’ah”, “kesesatan Murji’ah”, “mengenal Murji’ah”, dan sebagainya. Cobalah cari, moga mendapat informasi yang cukup. Amin.

    Betul, memang sangat banyak penganut paham ini. Bahkan yang dinamakan “fenomena Wahn” di dunia Islam saat ini adalah akibat merajalelanya paham Murji’ah ini. Bukan hanya di Indonesia, bahkan di Mesir, Pakistan, Malaysia, Yaman, dll. dimana Ummat Islam disana tidak konsisten menegakkan sistem Islami seacara kaaffah, itu karena paham Murji’ah. “Yang penting akidah sudah tauhid, sistem apapun yang berlaku di muka bumi, biar sekuler, nasionalis, kapitalis, atau apapun, asal hatinya bertauhid, itu sudah cukup. Dijamin masuk syurga.” Nah, begitu itu keyakinan Murji’ah yang membatasi tauhid hanya di hati saja, tidak ingin menegakkan Islam secara sempurna.

    Nabi Saw dan Khulafaur Rasyidin Ra, mereka jelas berlepas diri dari paham Murji’ah itu. Mereka menegakkan Islam secara KAAFFAH, tidak hanya keyakinan tauhid di hati saja. Bahkan sudah menjadi maklum, bahwa iman itu pembenaran dengan hati, ikrar dengan lisan, dan amal dengan perbuatan. Iman itu harus utuh, tidak terpecah-pecah. Yang mengaku beriman di hati, tetapi perbuatannya menyalahi keimanannya, dia fasiq. Yang melakukan perbuatan baik, tetapi hatinya ingkar, dia munafiq.

    AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: