Nilai Kekuatan Uang

Desember 31, 2009

Uang, dana, atau harta itu sangat penting. Ia sangat menentukan. Gerakan apapun yang tidak ditopang oleh dana, pasti akan kalah. Termasuk gerakan kaum Muslimin yang menginginkan kemajuan hidup.

Sebagian orang bersikap negatif terhadap masalah harta-benda ini. Mereka berdakwah, berceramah, menyebarkan buku, tulisan, menggelar majlis taklim, dan lain-lain dalam rangka mengajak kaum Muslimin menjauhi urusan harta (dana).

Alasan mereka sangat klise, sudah berulang-ulang. “Ya Akhi, hendaklah Anda menjauhi dunia. Dunia itu di mata Allah lebih rendah dari bangkai binatang. Wahai Akhi, sibukkan dirimu dengan ilmu dan ibadah, lupakan harta-benda. Harta hanya akan menyusahkanmu di Akhirat nanti. Berzuhudlah terhadap dunia, kurangi mimpi-mimpi tentang harta, sibukkan dirimu dengan dzikir, ilmu, ibadah. Wahai Akhi, jangan tertipu oleh harta-benda. Semua itu akan membinasakanmu, membuatmu rakus, jauh dari Allah, membuatmu terlibat konflik dengan sesama saudaramu!” Dan nasehat-nasehat sejenis.

Banyak sekali orang berpikir salah-kaprah seperti itu. Itu adalah pemikiran-pemikiran yang salah dalam menempatkan. Zuhud dunia adalah benar, tetapi tidak di semua keadaan berlaku prinsip zuhud dunia. Misalnya, dalam transaksi muamalah dengan non Muslim, tidak berlaku kaidah Zuhud dunia.

Duit setumpuk... Mauk?

Saudaraku, demi Allah harta-benda itu sangat berpengaruh dalam kehidupan kaum Muslimin. Mengapa? Sebab fitrah manusia itu LAHIR-BATIN. Batin manusia dicukupi dengan agama, lahirnya dicukupi dengan harta-benda (materi). Ini seperti dua sisi pada sekeping mata uang. Dimanapun berada, urusan kita tidak akan lepas dari urusan: agama dan harta (baca: urusan lahir-batin).

Coba pahami beberapa hal di bawah ini:

==> Ketika Ummat Islam fakir dari harta-benda, mereka tidak bisa mendirikan perusahaan-perusahaan. Akhirnya perusahaan didirikan oleh orang-orang kafir. Akibatnya, mereka bebas menentukan aturan apapun dalam perusahaan mereka, termasuk melarang karyawan memakai jilbab dan menjalankan Shalat.

==> Kalau seorang Muslim yang shalih memiliki harta, lalu mendirikan pabrik garmen. Insya Allah, dia akan memproduksi pakaian-pakaian yang baik, sopan, menutup aurat, atau setidaknya pakaian pantas. Tetapi kalau yang mendirikan pabrik garmen itu orang-orang yang memuja hawa nafsu, mereka membuat pakaian seksi-seksi, membuat pakaian amoral, dll sehingga akibatnya menyusahkan kita semua.

==> Ketika Ummat Islam fakir, maka mereka akan selalu mencari kerja, mencari penghasilan ke perusahaan-perusahaan tertentu, termasuk perusahaan milik non Muslim. Ya, bagaimana lagi, tidak ada perusahaan milik Muslim kok? Kalaupun ada, itu untuk keluarga mereka sendiri dan kawan-kawannya. Akhirnya, tenaga kaum Muslimin terpakai untuk membesarkan bisnis orang lain.

==> Ada ratusan ribu wanita Muslimah saat ini bekerja di luar negeri, sebagai TKW. Mereka bekerja seperti ini jelas membahayakan diri, keluarga, dan orang lain. Mereka bisa diperkosa, dianiaya, sampai dibunuh. Suaminya di rumah bisa selingkuh, anak-anaknya bisa terlantar. Bahkan keluarga majikannya bisa terjerumus seks haram, karena ada wanita lain di tengah-tengah keluarga mereka.

==> Ketika kaum Muslim fakir, media massa dikuasai orang-orang non Muslim atau sekuler. Media adalah sarana pendidikan juga. Saban hari masyarakat “dicuci otak” dengan informasi atau hiburan-hiburan rusak. Akibatnya, mereka pun lemah, semakin jauh dari agama.

==> Ketika Ummat fakir, mereka tidak bisa membuat perusahaan makanan, kue, snack, susu, biskuit, bumbu masak, dll. Semua diserahkan ke tangan non Muslim. Akibatnya, non Muslim bebas memberikan makanan-makanan berbahaya, mengandung pengawet, perasa, pewarna buatan, dsb. Untuk anak Muslim, kita tidak bisa menjaga asupan konsumsi yang sehat dan baik.

Ini adalah FAKTA yang ada di tengah-tengah masyarakat kita selama ini. Jangan berlagak pilon dengan mengatakan, bahwa harta-benda tidak dibutuhkan Ummat. Itu adalah pemikiran sesat yang harus dibuang dari akal Ummat ini.

Harta itu salah satu pilar ajaran Islam. Menjaga harta, menjadi 1 dari 5 prinsip dasar Syariat Islam. Harta sangat besar pengaruhnya bagi agama seorang Muslim. Contoh sederhana, ketika kurs rupiah anjlok, bisnis-bisnis Muslim banyak yang gulung tikar. Akibatnya, banyak orang menjadi pelaku kriminal, datang ke dukun, melakukan perbuatan syirik, menjual produk pornografi, melupakan shalat, terlilit rentenir, bahkan sampai ada yang murtad karena kesusahan ekonomi. Lihat saudara, akibat kurs rupiah turun, agama pun turun!

Lalu bagaimana dengan seruan Zuhud, meninggalkan dunia, mencintai Akhirat, tidak sibuk dengan harta-benda? Bukankah semua itu juga ajaran Islam?

Iya benar, semua itu ajaran Islam. Tapi jangan salah dalam menempatkan ajaran-ajaran itu. Kita harus menempatkan segala sesuatu pada PROPORSI-nya. Jangan dicampur aduk!

Harta itu memiliki setidaknya 4 fungsi, yaitu: (1) Kebutuhan fitrah; (2) Sarana kemudahan; (3) Fitnah; dan (4) Kekuatan.

Sebagai kebutuhan fitrah, setiap manusia membutuhkan harta, agar tetap survive dalam kehidupan. Tanpa harta, kita akan mati, atau kelaparan, atau sengsara, karena tidak memiliki uang untuk membeli kebutuhan-kebutuhan hidup.

Sebagai sarana kemudahan (fasilitas), harta mempermudah urusan manusia. Manusia bisa kemana-mana dengan jalan kaki, tapi kalau memiliki harta bisa membeli motor. Manusia bisa menulis dengan tangan, tapi kalau memiliki harta bisa membeli komputer. Manusia bisa mengiris singkong secara manual, tapi kalau punya harta bisa membeli mesin pengiris singkong. Manusia bisa lebih mudah bekerja, belajar, memperbaiki rumah, bepergian, memasak, dan sebagainya dengan fasilitas yang dimiliki. Semua itu butuh harta untuk membeli fasilitas.

Sebagai fitnah, yaitu ketika nilai harta yang dimiliki seseorang jauh lebih besar dari kebutuhan layaknya, lalu orang itu sibuk dan terlena bermain-main dengan harta-bendanya. Nah, sikap seperti inilah yang sebenarnya dilarang dalam Islam.

Sebagai quwwah atau kekuatan, harta adalah penentu kemenangan dalam kompetisi antar keyakinan. Orang Yahudi memiliki slogan, “Dengan harta, kami bisa membeli apa saja.” Mereka bukan hanya membeli fasilitas, tetapi juga bisa membeli opini, hukum, jabatan, serangan militer, kebenaran ilmiah, bahwa fatwa keagamaan. Malah mereka bisa membeli “nyawa” manusia.

Cara mudah memahaminya sebagai berikut: “Untuk urusan kesenangan pribadi dan keluarga, silakan Anda bersikap zuhud sebaik-baiknya. Tetapi untuk urusan kemuliaan Ummat, dilarang kita bersikap zuhud, sebab sama saja hal itu dengan membiarkan Ummat tertimpa kefakiran, kelemahan, serta kerusakan iman.” Semua hal yang menyebabkan Ummat ini rusak, hukumnya haram.

Kaidah Zuhud itu beredar dalam masalah pribadi (privacy), bukan dalam konteks masyarakat kaum Muslimin. Secara pribadi, kalau seseorang ingin hidup semiskin-miskinnya, agar kelak di Akhirat hisabnya mudah, silakan saja, welcome man! Tetapi dalam konteks masyarakat Ummat Islam, wajib kita menguasai aset-aset kekayaan. Kalau kita tidak menguasai aset kekayaan itu, eksistensi agama kita tidak akan selamat dari rongrongan orang kafir.

Dalam Islam itu ada hukum ghanimah, baitul maal, zakat, nafkah, warits, shadaqah, diyat, dan sebagainya. Betapa banyak hukum-hukum seputar harta-benda. Sampai urusan susuan (radha’ah) diatur dalam Islam, padahal ini menyangkut hak-hak bnafkah bagi ayi. Ini menandakan, bahwa Islam sangat besar perhatiannya terhadap urusan harta-benda.

Kalau Anda saksikan, bagaimana wajah peradaban modern? Ya, kita sudah sama-sama tahu. Wajah dunia modern telah dikangkangi oleh selera Yahudi dan kepentingan mereka.

Lalu pertanyaannya, “Mengapa Yahudi begitu merajalela?”

Ya, karena mereka didukung oleh sumber dana yang amat sangat besar. Ada yang pernah menyebut harta milik Yahudi internasional saat ini sekitar 5000 triliun dollar. Entahlah, saya tidak tahu tepatnya. Andai benar jumlahnya senilai itu, ya wajar kalau mereka mampu membiayai jaringan New World Order di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Para Freemason dkk tidak akan kehabisan suplai dana untuk membiayai aksi-aksi mereka.

Sementara itu, dakwah kaum Muslimin baru beredar dalam urusan kencleng, sumbangan koin, pengumpulan zakat, infaq, shadaqah, bisnis kitab, bisnis minyak wangi, membuat mukena, kerudung, dan sebagainya. Alhamdulillah, sekarang ada item-item baru, misalnya sari korma, habbatussauda’, bekam, dan sebagainya.

Ya, tidak menyalahkan semua itu. Ini memang realitas. Tidak mengapa kecil dulu. Tapi prinsip dasar yang harus dipahami: “Wajib bagi kaum Muslimin memikirkan pertarungan kepemilikan aset ekonomi, untuk menjaga agama kita ini.

Tidak mengapa jualan kitab, minyak wangi, madu, dan sebagainya. Teruskan saja semua itu. Tapi mohon pahami masalah “pertarungan aset” itu. Siapapun yang paling menguasai aset, mereka akan berkesempatan membesarkan agamanya.

Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan

Seorang Tokoh Meninggal…

Desember 31, 2009

Sore kemarin saya ikuti berita di TV, “Suara Anda”. Tapi lucu juga. Pertama-tama, TV itu salah menempatkan berita. Tertulis di teks pilihan berita soal buku “Gurita Cikeas”. Tapi tayangan yang muncul, tentang Kejaksaan mau banding kasus Prita.

Kelucuan kedua, belum juga acara “Suara Anda” dilanjutkan, presenter “disela” oleh telepon dari belakang (pengarah acara). Katanya, kondisi Abdurrahman Wahid di RSCM kritis. Perhatian tiba-tiba diarahkan ke topik “Gus Dur” ini. Maka semua skema berita pada “Suara Anda” itu langsung diganti “Breaking News”. Waktu saya ganti channel ke TV lain, disana sudah dikhabarkan dengan status “wafat”.

Begitu tergopoh-gopohnya media massa, sampai seperti kehilangan kontrol. Semua agenda yang mau diberitakan mendadak diganti. Bahkan “pemukulan George Aditjondro” kepada Ramadhan Pohan sampai dilupakan. Mungkin George “Gurita Cikeas” Aditjondro saat ini lagi bersyukur berkali-kali. “Syukur, syukur, syukur ada berita lain… Jadi orang-orang lupa dengan ‘jurus sabet buku’ yang kemarin baru saya peragakan.” Mungkin begitu ‘kali kata hati George.

Oh ya, kembali ke topik Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Media-media massa seperti merasa sangat terpukul dengan meninggalnya tokoh satu ini. Mereka sebut Gus Dur sebagai tokoh yang gigih memperjuangkan prinsip Egaliter, Humanis, Pluralis.  Maka berbagai ungkap duka nestapa segera tumpah, mengantar kematian Gus Dur. Media-media massa berdatangan ke Jombang. Pesantren Tebu Ireng seketika menjadi perhatian luas, setelah sebelumnya kampung Ponari di Jombang menjadi perhatian juga.

Lalu, siapakah Gus Dur ini? Mengapa bangsa Indonesia harus berduka karena kepergiannya?

Helmi Faisal, menantu Gus Dur sekaligus pejabat Menteri Pemberdayaan Daerah Tertinggal (atau apa ya tepatnya?), berkali-kali mengatakan, bahwa: “Gus Dur adalah manusia besar.”

Apa yang dikatakan Helmi itu bukan isapan jempol. Gus Dur memang tokoh besar. Betapa tidak, dia pernah menjadi Ketua PBNU selama puluhan tahun. Juga pernah menjadi Ketua Dewan Syura PKB, juga pernah menjadi Presiden RI. Memang, dia adalah orang besar. Tidak bisa dipungkiri lagi.

Sumber foto: http://akhdian.net/

Hanya mungkin persoalannya, “Besar dilihat dari kepentingan siapa?” Kalau dari kepentingan Ummat Islam di Indonesia, wah sangat keliru menyebut Gus Dur sebagai orang besar. Gus Dur itu hampir tidak memiliki kontribusi berarti bagi kemajuan kehidupan kaum Muslimin Indonesia. Jika jasanya diakui, paling di kalangan NU. Bukan di mata Ummat Islam Indonesia secara keseluruhan.

Tapi kan Gus Dur ini tokoh demokrasi?

Iya, seorang demokrat yang aneh. Katanya demokrat, tapi mengingkari kenyataan bahwa mayoritas rakyat Indonesia adalah Muslim. Demokrasi itu pasti menghargai suara mayoritas. Di Italia, German, Inggris, Perancis, dan sebagainya suara mayoritas Katholik/Kristen/Aglikan diakui kok. Tapi di Indonesia, dimarginalkan.

Tapi kan Gus Dur tokoh humanis?

Kalau humanis sejati, tentu tidak akan mengabaikan nasib ratusan juta Muslim Indonesia. Mereka manusia juga kan? Masak yang disebut manusia hanya orang-orang minoritas saja?

Gus Dur itu sangat hebat peranannya di forum-forum diskusi, di kalangan LSM, partai politik, pengusaha keturunan China, komunitas gereja, dll. Mana pernah Gus Dur turun ke gang-gang sempit di perumahan-perumahan kumuh, di rumah-rumah tikus di bantaran kali Ciliwung, di pasar-pasar tradisional di desa-desa, masuk ke pelosok-pelosok kampung, dll.

Kalau humanis sejati, dia tidak akan lepas hidupnya dari mengurusi orang-orang miskin. Contoh, Madame Theresia di India, selain sebagai penginjil, dia juga dekat rakyat miskin di India. Atau seperti Lady Di, dia turun langsung ke daerah-daerah yang banyak konflik, mengkampanyekan perang anti ranjau.

Ya, kalau gaulnya sama wartawan melulu, itu sih bukan humanis sejati. Tapi humanis “on air”.

Tapi kan Gus Dur itu pembela hak-hak minoritas?

OK, kita tanya, pembela apa dia? Apa dia membela minoritas etnis Madura yang dibantai di Sampit dan Sambas? Apa dia membela pemuda-pemuda Tanjung Priok yang dibantai militer tahun 1984? Apa dia pembela ratusan ribu korban DOM di Aceh? Apa dia pembela kaum gelandangan, pengemis, pengamen, WTS, dan sebagainya? Apa dia pembela petani, nelayan, pedagang pasar yang usaha mereka menjadi mainan para kapitalis?

Dia menjadi pembela minoritas, hanya dalam isu, opini, atau wacana saja. Pendek kata, yang berhubungan dengan media massa lah. Kalau tidak ada ekspose media massa, sepertinya dia tidak bisa berbuat banyak. Antara Gus Dur dan media massa itu seperti hubungan antara ikan dan air; keduanya saling membutuhkan.

Tapi bagaimanapun dia kan tokoh Muslim, kyai haji lagi?

Ya, di jaman sekarang sih, kalau mau menjadi “orang besar”, tergantung bagaimana peran media massa. Kalau media ekspose seseorang besar-besaran, dalam sebulan dia bisa menjadi tokoh besar. Kalau media memboikot seseorang, jangan harap akan menjadi tokoh besar. Besar atau kecilnya tokoh Indonesia saat ini, bukan karena kualitas dirinya atau sumbangan-sumbangan pemikiran dan ilmunya, tetapi karena popularitas dia di mata media massa. Itu saja kuncinya.

Secara jujur, Gus Dur itu memang pintar. Kalau tidak pintar, mustahil dia akan diangkat menjadi sebuah “maskot”. Tetapi kepintaran Gus Dur tidak berarti kalau dibandingkan peranan media massa yang membesarkan dirinya. Dari keluarga KH. Hasyim Asyari dan anak-cucunya, bukan hanya ada Gus Dur, tapi ada banyak orang lainnya. Tapi kan yang “mencorong” hanya tokoh satu ini. Sekali lagi, media massa telah membesarkan dia, sehingga menjadi tokoh besar, karena popularitas yang melimpah-ruah.

Sebuah fakta yang sangat unik. Menurut informasi media, jam 16.30 SBY datang ke RSCM menjenguk Gus Dur. Jam 16.45, dia meninggal. Maka vivanews.com menulis berita: Gus Dur Meninggal di Depan SBY.

Fakta yang unik juga. Gus Dur meninggal menjelang tutup tahun 2009. Menjelang tahun baru 2010. Ini jelas “menyulitkan” posisi orang-orang. Mereka mau seneng-seneng, ada orang meninggal. Tidak seneng-seneng, masak harus menunggu setahun lagi? Begitu deh.

Yang mau sedih, silakan sedih. Tapi saya menghimbau Ummat Islam, agar tidak terbawa kepada irama emosi yang dimainkan media-media massa. Ya, Anda tahu sendirilah. Media massa kan seperti itu. Mereka bekerja untuk suatu kepentingan; sedangkan posisi kepentingan itu dengan missi Islam, terpisah jauh.

Nabi Saw pernah mengatakan kepada seseorang yang mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya, beliau mengatakan, “Innaka ma’a man ahbabta” (engkau akan bersama orang yang engkau cintai).

Maka berhati-hatilah dalam mencintai. Cintailah orang yang benar, yaitu pribadi Muslim yang shalih, alim, berakhlak mulia, dan muttaqin. Jangan mencintai orang yang salah, sekalipun dia -misalnya- dikenal sebagai tokoh pejuang egalitarian, humanis, pluralis. (Apalagi prinsip-prinsip egaliter, humanis, pluralis itu mengingatkan kita kepada slogan-slogan yang banyak dipakai Freemasonry).

Selamat jalan wahai tokoh… Pengadilan kubur telah menanti di depan! Semoga engkau diberi balasan, sesuai amal-amalmu! Amin.

AMW.


Metode Perjuangan Islam

Desember 29, 2009

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Tulisan ini bukan sesuatu yang baru. Sudah banyak ulama, cendekiawan, penulis Muslim membahasnya. Saya sekedar berusaha menyegarkan kembali memori kita. Bahkan dalam blog ini sebenarnya ia diungkap juga, hanya saja “tercecer” dalam banyak tempat. Disini akan coba ditulis secara ringkas, namun padat.

Banyak kaum Muslimin bertanya-tanya, “Bagaimana cara kita membangun kembali kejayaan Islam, setelah kaum Muslimin terpuruk seperti saat ini?” Demikian tema besarnya.

Para ulama menyampaikan jawaban masing-masing, bahkan hal itu kemudian menjadi ijtihad mereka. Kalau benar diberi pahala dua, kalau salah diberi pahala satu. Ada ijtihad yang hanya menjadi ijtihad, menjadi wacana kitab, menjadi pendapat ilmiah, tapi ada juga ijtihad yang menjadi pangkal bangkitnya gerakan-gerakan Islam modern. Gerakan Syaikh Ibnu Abdul Wahhab, gerakan Sanusi di Afrika Utara, gerakan Al Ikhwan dengan perintisnya Syaikh Hasan Al Banna, gerakan Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dengan Hizbut Tahrir, gerakan Syarikat Islam di Indonesia, dan sebagainya. Semua ini muncul sebagai jawaban atas pertanyaan di atas. Syaikh Nashiruddin Al Albani juga peduli dengan isu ini. Beliau menyerukan Tarbiyah Wa Tashfiyyah (pembinaan dan pembersihan kitab-kitab ilmiah dari unsur kelemahan dan kesesatan).

Namun ada pendapat yang menarik. “Kalau Ummat ini ingin bangkit, ikutilah metode Nabi Saw, karena beliau adalah sebaik-baik teladan,” demikian inti pemikirannya.

Untuk memahami Metode Nabi Saw, mau tidak mau kita harus membaca Shirah Nabaiwiyyah, gambaran perjuangan beliau dalam menegakkan Islam. Namun kitab-kitab Shirah Nabawiyyah banyak bercampur dengan riwayat-riwayat yang tidak shahih. Bagaimana solusinya? Ya, setidaknya baca kitab Shirahnya Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury. Kitab Shirah tulisan beliau diakui oleh Rabithah Alam Islamy sebagai kitab shirah terbaik yang ditulis di jaman kontemporer ini. Lagi pula, kejadian-kejadian dalam Shirah yang menjadi dasar hikmah perjuangan itu rata-rata sudah diakui secara ijma’ oleh para muarrikh (ahli Tarikh Islam).

Disini kita akan membahas secara ringkas tentang momentum-momentum Shirah Nabawiyyah yang bisa menjadi pijakan untuk memahami metode perjuangan Islam, yaitu sebagai berikut:

[01] Nabi Saw sebelum menjadi Nabi, beliau amat sangat peduli dengan kerusakan moral-spiritual yang menimpa bangsa Arab ketika itu. Selain itu beliau percaya, bahwa solusinya hanya dengan Wahyu dari langit. Oleh karena itu, beliau ber-tahanuts untuk mencari petunjuk ke gua Hira’. Beliau bersepi-sepi, mencari petunjuk dari langit. Padahal kalau melihat gua Hira’ sendiri, selain jaraknya cukup jauh dari keramaian Makkah, untuk menuju lokasi itu diperlukan perjuangan tidak mudah.

(Catatan: Jadi awal kebangkitan Islam dimulai oleh dua hal = Kepedulian terhadap kondisi masyarakat, dan kerinduan besar kepada Wahyu dari langit).

[02] Nabi Saw setelah mendapatkan Wahyu pertama, beliau ketakutan sehingga meminta diselimuti oleh isterinya. Hal ini mencerminkan suatu sifat manusiawi. Nabi sangat rindu dengan petunjuk dari langit, tetapi saat petunjuk itu datang, beliau pun ketakutan pada awalnya. Namun isteri beliau menenangkan, dan menyebutkan kebaikan-kebaikan Nabi kepada manusia, seperti menyambung shilaturahim, menolong orang kesusahan, menunaikan hajat manusia, dan sebagainya. Hal itu menentramkan hati beliau. Ternyata, reputasi perbuatan baik itu bisa menjadi benteng untuk menghadapi guncangan sebesar apapun.

(Catatan: Seharusnya kaum Muslimin sangat menghargai Al Qur’an sebagai Wahyu yang sangat berharga. Jangan meremehkan Al Qur’an, sebab pada awalnya Ia dinanti kedatangannya ke muka bumi dengan penantian yang amat sangat berat).

[03] Nabi Saw mendapat Wahyu secara setahap-setahap. Begitupun beliau ajarkan Wahyu itu kepada orang-orang terdekat juga setahap demi setahap. Beliau berdakwah dari kalangan yang paling dekat terlebih dulu.

(Catatan: Manusia adalah pribadi, tetapi juga bagian dari sebuah keluarga. Dakwah tidak bisa dijalankan individualis, tetapi harus juga melibatkan orang-orang terdekat terlebih dulu).

[04] Dengan turunnya Surat Al Mudatstsir, Nabi Saw diperintahkan untuk mulai berdakwah secara terbuka. Beliau diperintahkan mulai menyiarkan ajaran Islam kepada masyarakat di luar keluarga dan kerabatnya. Menurut ahli sejarah, masa dakwah terbuka itu dimulai sekitar 3 tahun setelah Nabi mendapat Wahyu. Tentu saja, beliau harus siap menghadapi apapun resiko yang muncul.

(Catatan: Hal ini menunjukkan, bahwa dakwah Islam kalau dijalankan dengan benar, ia ada kemajuannya. Tidak jalan di tempat. Munculnya perintah dakwah terbuka, itu menandakan fondasi dakwah Ummat ketika itu sudah kuat untuk bertarung dengan realitas umum).

[05] Seruan dakwah Nabi Saw intinya ada dua: Mentuhidkan Allah dan mengikuti Syariat Nabi. Inilah hakikat Syahadat. Kalau mengikuti Syahadat, manusia dijanjikan syurga, kalau mengingkari mereka dijanjikan adzab yang pedih. Sangat sederhana konsepnya. Tetapi karena masyarakat jahiliyyah waktu itu merupakan akumulasi dari kebobrokan moral selama berabad-abad lamanya, sejak bangsa Arab meninggalkan Syariat Ibrahim As, maka bisa dipahami terjadinya benturan keras antara masyarakat jahiliyyah Makkah dengan dakwah Nabi. Bisa diibaratkan seperti air kolam yang sangat keruh, kotor, hitam. Lalu datang tetesan-tetesan air bening ke kolam itu. Lama-lama semakin banyak air bening yang tercurah dari langit. Jelas, antara air kotor dan air jernih itu terjadi pertarungan, siapa yang paling dominan dari keduanya.

(Catatan: Jika dakwah suatu kaum benar, maka dakwah itu pasti berlawanan dengan ajaran syaitan. Akibatnya, pasti terjadi benturan-benturan sosial, antara pembela Al Haq dengan pembela nilai-nilai jahiliyyah. Jadi dalam dakwah Islam tidak boleh selalu “mencari aman”).

[06] Benturan-benturan dakwah semakin lama semakin sengit. Secara pribadi, Nabi mendapat celaan, hinaan, kekasaran, perlakuan buruk dari orang-orang jahiliyyah. Para pengikut Nabi dari kalangan orang-orang kaya, kuat, dan mapan, mereka mendapat hambatan bisnis, hambatan hubungan keluarga, kesulitan pertemanan, dsb. Sedangkan pengikut Nabi dari kalangan orang lemah, mereka disiksa, diintimidasi, diteror, sampai ada yang dibunuh, seperti keluarga Yassir Ra.

(Catatan: Ini pertanda dakwah Islam ketika itu menjadi sebuah kekuatan solid. Ketika mendapat perlakuan buruk, semua merasakannya, sejak Nabi dan keluarga, sampai kaum lemah. Disana tumbuh rasa solidaritas, saling tolong-menolong, menghadapi tantangan yang sama. Kalau saat ini, istilahnya, menghadapi “common enemy”).

[07] Dalam dakwah di Makkah, Nabi Saw menggelar multi perjuangan. Beliau terus mendapat Wahyu secara bertahap, beliau mengajarkan Wahyu, beliau menyampaikan dakwah, beliau memantau para pengikutnya, beliau melakukan lobi-lobi untuk mengatasi berbagai masalah. Beliau mendukung upaya Abu Bakar As Shiddiq untuk membeli budak-budak yang disiksa tuannya, seperti Bilal bin Rabah Ra. Nabi juga melakukan usaha-usaha siyasah, seperti mengutus para Shahabat hijrah ke Habasyah, beliau mencoba hijrah ke Thaif, beliau meminta perlindungan Muth’im bin ‘Ady untuk masuk Makkah, beliau menghadapi boikot total kaum musyrikin selama 3 tahun. Bahkan Nabi Saw selalu mengingat-ingat tokoh-tokoh kaum musyrik yang berjasa menolong dakwah beliau, sekalipun mereka tetap berada dalam kekafiran.

(Catatan: Dakwah itu bukan hanya “ngaji”, membuat majlis taklim, menyebar buletin, membuat blog, dan sejenisnya. Dakwah cakupannya sangat luas. Segala hal yang halal dan bermanfaat bagi dakwah silakan ditempuh. Jika haram atau merugikan, tinggalkan!).

[08] Tanpa disadari, berbagai ujian, cobaan, fitnah, musibah, dan sebagainya yang menimpa Nabi Saw dan para Shahabat di Makkah ketika itu, ternyata ia adalah sebuah upaya penggemblengan iman sekuat-kuatnya, setangguh-tangguhnya, semurni-murninya. Para Shahabat Muhajirin, ternyata di kemudian hari menjadi pilar-pilar peradaban Islam ketika peradaban itu dibangun di Madinah. Intinya, semua itu merupakan tahapan persiapan kader-kader peradaban Islam yang mumpuni. Namun belum, ujian belum selesai. Ujian terberat sebagai ujian keimanan final, adalah HIJRAH para Shahabat ke Madinah. Inilah ujian final, sebelum kaum Muslimin siap membangun peradaban “air jernih” di atas bimbingan langit.

(Catatan: Dakwah Islam termanifestasikan dalam kehidupan Islami di bawah payung kedualatan agama Allah. Untuk itu dibutuhkan kader-kader terbaik yang akan memikul amanah peradaban Islam. Kualitas kader terbaik, iman mereka sangat kokoh. Hal itu tercapai, tidak karena “ngaji melulu”, tetapi disertai ketabahan, ikhtiar, dan perjuangan menghadapi segala tantangan).

[09] Hijrah Nabi Saw ke Madinah, memiliki banyak makna. Di antaranya, segala hasil jerih payah manusia di jalan Allah, tidak disia-siakan. Selalu ada hasilnya. Penerimaan masyarakat Madinah terhadap seruan dakwah Islam, adalah kemenangan gilang-gemilang. Selain itu hijrah merupakan momentum penyatuan dua kekuatan, Muhajirin dan Anshar. Muhajirin adalah kader-kader terbaik Islam, sedangkan Anshar adalah penolong-penolong paling tangguh terhadap misi peradaban Islam. Bila telah bertemu dua kekuatan ini (kader dan para penolong tangguh), maka kemenangan Islam terealisasikan disana.

(Catatan: Dari sisi tarbiyah akidah, kaum Muhajirin jauh lebih mapan mendapat gemblengan dari Nabi Saw. Sedangkan kaum Anshar, baru dua tahun Nabi hijrah ke Madinah, mereka sudah diajak berperang dalam Perang Badar. Jadi, harus dibedakan dengan jelas proses pembentukan kader dengan pengerahan kekuatan-kekuatan pendukung. Keduanya berbeda, namun sering disalah-pahami).

[10] Setelah Nabi Saw dan kaum Muslimin memiliki wilayah di Madinah, mereka pun membangun peradaban Islam, rahmatan lil ‘alamiin. Mula-mula Nabi berusaha mengamankan posisi politik kaum Muslimin dengan membuat Piagam Madinah yang ditanda-tangani bersama kabilah-kabilah Yahudi dan kabilah-kabilah Arab Madinah. Posisi Islam masih lemah, jadi tidak mungkin bersikap ofensif. Piagam Madinah ini memiliki dua makna penting: Pertama, sebagai upaya efektif melindungi tunas peradaban Islam yang baru tumbuh; Kedua, sebagai suatu akad hukum untuk menyingkirkan siapa pun yang di kemudian hari terbukti melanggar. Piagam Madinah ternyata sangat bermanfaat untuk mengusir Yahudi di kemudian hari dari Madinah.

(Catatan: Adalah suatu kebohongan pemikiran yang mengatakan, bahwa untuk membangun peradaban Islam, suatu kaum harus Islami semuanya terlebih dulu, harus shalih semuanya, harus berakidah tauhid semurni-murninya semuanya. Buktinya, saat membangun Islam di Madinah, Nabi menghadapi masyarakat Madinah yang awam Islam, kaum Badui, orang Yahudi, bahkan orang-orang munafik. Tetapi misi penegakan Islam terus berjalan, tanpa menunggu semua “bersih dulu”).

[11] Setelah peradaban Islam tumbuh di Madinah, Allah menguji peradaban ini dari luar dan dalam. Dari luar, kaum Muslimin harus menghadapi serangan-serangan orang musyrik Makkah. Dari dalam, kaum Muslimin menghadapi pengkhianatan Yahudi, pengkhianatan kaum munafik, kelemahan keimanan sebagian Shahabat, perselisihan antar kaum Muslimin, dan sebagainya. Namun dengan bimbingan Nabi, serta pertolongan Allah, semua masalah berhasil dihadapi dengan sangat baik. Alhamdulillah.

(Catatan: Banyak orang meremehkan urusan komando, padahal sejak awal Islam sampai tegak di Madinah, Nabi menerapkan hal itu. Dalam hadits-hadits kita membaca, sampai urusan sekecil-kecilnya, misalnya “cara wanita menghentikan darah nifas yang terus keluar”, semua itu dikonsultasikan kepada Nabi Saw. Imamah dalam Islam itu sangat jelas posisinya, seperti imamah dalam shalat jamaah. Tapi tentu bukan “konsep imamah” seperti yang diyakini kaum Syiah).

[12] Perkara lain yang sangat penting, yaitu melindungi peradaban Islam dari kaum kapitalis yang menguasai pundi-pundi harta benda. Mereka adalah kaum Yahudi. Mereka memiliki kekuatan maal besar, yang dengan kekuatan itu, mereka bisa melakukan apa saja untuk merongrong peradaban Islam. Maka dengan kecerdikan siyasah luar biasa, walhamdulillah, Nabi berhasil mengusir kaum Yahudi dari Madinah, mulai dari Bani Qainuqa, Bani Nadzir, Bani Quraidhah, sampai menaklukkan benteng Khaibar milik Yahudi.

(Catatan: Islam tak akan tegak dengan benar di suatu negeri, selama kaum kapitalis itu menguasai pundi-pundi kekayaan dahsyat. Mereka pun sesumbar, “Dengan uang, kami bisa membeli apa saja.” Termasuk membeli hukum, dukungan politik, media massa, bahkan fatwa ulama).

[13] Setelah peradaban Islam di Madinah kokoh, mampu menghadapi rongrongan dari luar dan dalam, akhirnya kemenangan demi kemenangan Islam berdatangan. Kemenangan monumental ialah dengan takluknya Kota Makkah ke tangan kaum Muslimin. Disini berlaku prinsip, “Pertahanan terbaik adalah menyerang.” Kemenangan-kemenangan ini malah dilanjutkan oleh Khulafur Rasyidin di masa setelahnya.

(Catatan: Jadi tabiat peradaban Islam itu sangat dinamis. Tidak seperti kehidupan kaum Muslimin saat ini, egois dengan profesi, ambisi mencari keuntungan materi, senang-senang dengan hiburan, lebih mengutamakan pribadi dari agama, dan sebagainya. Di jaman modern, budayawan-budayawan Yahudi berhasil mengubah orientasi budaya Ummat, dari budaya dinamis, penuh perjuangan, menjadi budaya hedonis, mementingkan kesenangan sendiri).

[14] Di puncak kemenangan Islam, salah satunya turun Surat An Nashr. Dalam Surat ini dijelaskan, bahwa setelah kita mendapat kemenangan, kita harus bertasbih dan memuji Allah atas segala nikmat-Nya, lalu kita istighfar memohon ampunan atas segala dosa-dosa selama berjuang.

(Catatan: Jadi, di atas sifatnya yang sangat dinamis, Islam itu tetap merupakan agama penghambaan kepada Allah Ta’ala. Islam bukan agama imperialis, kolonialis, materialis, dan semacamnya. Islam adalah agama ibadah kepada Allah Al Wahid. Di puncak-puncak kegagahan prajurit-prajurit Islam, mereka harus bersujud, berlinang air-mata, memohon ampunan Allah. Pada akhirnya, perjuangan kita hanyalah suatu sarana untuk membuktikan Sifat Rahmaan Allah kepada alam semesta ini).

Demikian sekilas ringkas tentang tadabbur Shirah Nabawiyyah. Banyak hal-hal keliru selama ini dalam memahami Shirah, lalu melahirkan penyimpangan-penyimpang, kemudian berujung kekalahan Ummat.

Sebenarnya, jalan untuk mencapai kemenangan itu mudah dipahami. Allah tidak menyembunyikan jalan tersebut dalam teori-teori yang rumit. Hanya masalahnya, “Maukah kita berjuang? Siapkah kita terjun membela Islam? Siapakah kita berkorban total untuk kemenangan Islam?”

Nah, disinilah masalah utamanya. Yahudi telah berhasil mengamputasi kekuatan Ummat dengan menyediakan segala bentuk budaya hidup masa kini, yang sebenarnya semua itu hanyalah WAHN belaka. Wahn inilah yang telah mematikan jalan kebangkitan Islam.

Tetapi Wahn itu milik siapa? Milik siapa, Akhi dan Ukhti?

Wahn, itu ternyata milik Anda, milik teman-teman kita, milik ulama-ulama kita, milik ustadz-ustadz kita, milik yayasan-yayasan kita, milik semua kaum Muslimin, dan tentu saja milik saya juga. Inilah masalah utama kita.

Alhamdulillah, Allah telah menampakkan jalan terang. Hanya memang, hati kita berat untuk memikul resikonya.  Kita merindukan kemenangan Islam, tapi tak mau membayar harganya. (Bisa tidak ya kita memenangi pertarungan peradaban, tanpa harus berjuang? Misalnya cukup dengan membaca komik, main facebook, atau nonton TV di rumah?).

Demikian yang bisa dikemukakan. Mohon maaf  atas semua salah dan kekurangan. Kepada Allah jua saya memohon ampunan, hidayah, dan rahmat-Nya. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.


Antara “Salafi” dan Demokrasi

Desember 24, 2009

Pihak yang dimaksud Salafi ini adalah siapa saja yang berbangga menyebut diri sebagai Salafi, dan merasa yakin mendapat pahala dengan memakai sebutan itu. Jadi Salafi yang dimaksud bukan setiap Muslim yang berkeyakinan bahwa dalam beragama ini kita harus mengambil teladan Salafus Shalih, yaitu Nabi Saw dan para Shahabat, Tabi’in, serta Tabiut Tabi’in radhiyallahu anhum.

Kalau mau jujur, para Salafiyun sebenarnya juga memahami mana yang benar dan mana yang salah dalam sistem perpolitikan. Ya, kalau kajian mereka sudah membahas sedemikian detail tentang “celana panjang dalam shalat”, “mengangkat celana”, “hukum memakai pantalon”, “hukum memakai dasi”, “hukum cadar wanita”, dll. tentu mereka sudah memahami urusan yang lebih besar dari itu. Iya kan.

Satu bukti, tentang isu DEMOKRASI. Sejak dulu sampai saat ini, para Salafiyun memiliki sikap yang tegas dalam masalah demokrasi ini. Majalah As Sunnah, Salafy (dulu), Al Furqan, Adz Dzakhirah, Asy Syariah, dll. mereka seragam memberi penilaian terhadap demokrasi. Di mata mereka, demokrasi itu: Haram, tasyabbuh dengan perilaku orang kafir, duduk-duduk dengan orang munafik, mempermainkan ayat-ayat Allah, menyekutukan Allah dalam soal penetapan hukum, dll.

Intinya, demokrasi itu haram total. Tidak ada toleransi. Secara tinjauan Syar’i, sebenarnya kita sepakat dengan pandangan itu. Sama sepakatnya dengan kritik tajam Abul A’la Al Maududi rahimahullah terhadap sistem demokrasi. Tetapi dalam amaliyah siyasah, ada hal-hal tertentu yang masih bisa dimanfaatkan dari sistem demokrasi. Tetapi hal itu sifatnya dharuriyyah (darurat), bukan dalam situasi normal.

Dalam tulisan di majalah, buku, situs-situs internet, blog-blog, dll. betapa sangat tegasnya sikap Salafiyun terhadap demokrasi. Hal itu telah menjadi rahasia umum yang tidak perlu diragukan lagi.

Untuk memperkuat sikap ini, muncullah buku Madarikun Nazhar Fis Siyasah (pandangan tajam terhadap politik). Buku ini ditulis oleh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi. Ia seolah menjadi legitimasi penguat tentang sikap tegas Salafi terhadap sistem demokrasi. Dalam buku itu, demokrasi bukan saja dikritik habis, tetapi FIS Aljazair juga mendapatkan serangan-serangan luar biasa.

Salah satu contoh. Penulis buku Madarikun Nazhar menyebutkan sepucuk surat yang ditulis oleh Ustadz Ali bin Hajj yang isinya memerintahkan anggota FIS untuk melawan penindasan yang dilakukan oleh regim militer Aljazair. Surat itu dokumen resmi, disebutkan copy-nya oleh Abdul Malik dalam buku tersebut. Tetapi yang sangat menyakitkan dari bukti yang disebutkan Abdul Malik adalah: Dia menuduh Ali bin Hajj bertanggung-jawab atas pembantaian kaum Muslimin Aljazair yang menewaskan puluhan ribu manusia (ada yang menyebutkan sampai 50.000 pemuda dan warga Aljazair).

Lihatlah, betapa kejinya seorang Abdul Malik yang diklaim sebagai ulama hadits itu. Sangat keji dan keji sekali. Sangat memalukan, orang seperti ini dikaitkan-kaitkan dengan As Sunnah Nabawiyyah yang suci. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Mari kita bahas tuduhan Abdul Malik terhadap Ali bin Hajj:

[1] Menyebutkan dokumen rahasia seperti itu di depan umum, secara terbuka, tentu bukan yang diinginkan oleh si pengirim surat (Ali bin Hajj). Dan bagi Ummat Islam, hal itu juga tidak bermanfaat diketahui, malah bisa menimbulkan fitnah di kalangan Ummat sendiri. Kalau seorang ulama itu wira’i, dia akan hati-hati menyebut dokumen seperti itu, sekalipun dirinya berada di atas kebenaran. (Seperti misal, seseorang melihat hilal Idul Fithri secara sendirian, sedangkan negara sudah memutuskan besok tetap puasa. Alangkah baik, dia membatalkan puasa sendiri, tanpa memaksakan hasil penglihatannya untuk menggugurkan keputusan negara).

[2] Darimana Abdul Malik bisa menyimpulkan bahwa Ali bin Hajj bertanggung-jawab terhadap pembantaian itu? Siapakah Ali bin Hajj? Apakah dia sebuah negara? Apakah dia sebuah kekuatan militer hebat? Apakah dia setangguh NATO? Apakah dia setangguh Saddam Husein, Muammar Khadafi, Hafezh Assad, dll.? Siapa ini Ali bin Hajj? Apakah suratnya mampu menimbulkan gelombang aksi bersenjata yang hebat? Laa haula wa laa quwwata illa billah. Ali bin Hajj itu hanya pribadi, seorang orator, atau pemimpin FIS. Sementara FIS sendiri bukanlah kekuatan bersenjata. Mereka hanya partai politik Islam di Aljazair. Korban pembantaian sampai 50.000 itu dalam sejarah manusia hanya mungkin dilakukan oleh kekuatan senjata yang hebat. Tidak mungkin FIS yang melakukannnya, juga Ali bin Hajj. Mereka terlalu jauh untuk itu. Andai mereka memiliki kekuatan militer hebat, mengapa harus ikut Pemilu segala? Sudah saja, gunakan kekuatan mereka untuk berkuasa. Iya kan.

[3] Betapa piciknya pandangan Abdul Malik ketika menimpakan kesalahan penyebab pembantaian Aljazair ke pundak Ali bin Hajj. Sementara dia tidak menyinggung sama sekali tangan-tangan regim militer Aljazair dan Perancis yang berlumuran darah kaum Muslimin. Itukah yang dinamakan keadilan? Kesalahan dilimpahkan ke punggung Ali bin Hajj, sementara tangan-tangan keji yang merengut nyawa-nyawa kaum Muslimin dari kaum pendosa yang ditolong orang kafir, mereka sama sekali tidak disinggung. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

[4] Adalah menjadi hak Ali bin Hajj dan tokoh-tokoh FIS untuk membela diri, menghentikan kezhaliman regim militer, atau apa saja yang memungkinkan, untuk menyelamatkan tujuan perjuangan Islam. Mereka bukanlah pihak yang memulai, tetapi menjadi korban kezhaliman regim militer Aljazair. Mereka hanya berusaha sekuat kemampuan membela diri dan mengamankan kemenangan politik yang sudah diraih. Dalam Surat An Nahl 126, kalau kita mendapat serangan oleh suatu kaum, kita boleh membalas dengan serangan setimpal. Jadi ini tindakan REAKSI, bukan AKSI.

[5] FIS dipersalahkan dengan segala salah yang melampaui batas. Banyak sekali tuduhan-tuduhan keji dialamatkan atas mereka. Buku Madarikun Nazhar itu salah satu contoh terbaik cara membukukan tuduhan-tuduhan keji kepada FIS. Okelah, FIS memiliki banyak kesalahan dan kelemahan. Ya, tidak kita pungkiri. Namun jangan pula, kita malah menghukum saudara yang bersalah, tertimpa mushibah besar, lalu dicaci-maki secara keji. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Dalam hadits, Nabi Saw melarang para Shahabat memukuli atau menyumpah-nyumpah seseorang yang selalu berdosa meminum khamr. Nabi mengatakan, “Janganlah kalian menolong syaitan.” Sudah jelas, dia bersalah minum khamr, dan berulang-ulang. Tapi tidak boleh dihina-dinakan. Apalagi ini, saudara-saudara kita yang berniat membela Islam, lalu ditindas sangat kejam. (Ya Allah ya Rabbi, aku tidak ridha dengan segala hujatan kepada FIS. Andai Abdul Malik Ramadhani saat ini hadir di Indonesia, aku akan mendatanginya. Akan aku tantang dirinya, dengan segala keterbatasan ilmu yang kumiliki).

[6] Mengapa perjuangan FIS berakhir menjadi mushibah di Aljazair? Apakah ini salah FIS, salah niat mereka, salah tokoh-tokohnya? Tidak, wahai Akhi dan Ukhti. Ya, secara manusiawi siapapun punya salah, tidak terkecuali anggota FIS. Tapi kesalahan terbesar adalah SIKAP DIAM DIRI kaum Muslimin dan para ulamanya. Ketika kemenangan FIS di Alajzair dirampas, semua negara-negara Arab berdiam diri. Mereka tidak mau menolong atau membantu. Mesir, Maroko, Sudan, Libya, Saudi, Kuwait, dll. semua berdiam diri. Termasuk Indonesia dan kaum Muslimin disini. Padahal FIS bukanlah kekuatan bersenjata, sehingga tak akan sanggup menghadapi militer Aljazair yang didukung oleh Perancis. FIS itu partai politik Islam biasa, berbeda dengan Hamas di Palestina.

Setidaknya, sebagai sesama bangsa Muslim Aljazair, Abdul Malik Ramadhani malu untuk membuka aib-aib saudaranya sendiri. Membuka aib mereka sehingga tersiar ke seluruh dunia, bukan hanya mempermalukan FIS, tetapi mempermalukan dirinya juga. Bagi seorang ulama Sunnah sejati, mustahil akan melakukan hal-hal seperti ini.

Buku Madarikun Nazhar itu semacam dokumentasi sikap tegas Salafiyun terhadap demokrasi. Ya, ini adalah fakta yang tak terbantah lagi. Pendek kata, dalam masalah demokrasi, Salafi sudah ijma’ mengharamkannya. Bahkan terlibat dalam urusan itu saja, dilarang.

Pertanyaannya, dengan dalil apa mereka mengharamkan praktik demokrasi dengan segala hiruk-pikuknya?

Jawabnya, tentu dengan dalil-dalil Syar’i, yang bersumber dari pandangan Kitabullah, As Sunnah, dan pendapat para ulama. Intinya, dengan pandangan Syariat Islam mereka menolak demokrasi. Hal ini menjadi bukti besar, bahwa sebenarnya Salafi tidak terlalu buta masalah politik. Mereka mengerti juga. Buktinya, ya pandangan mereka terhadap demokrasi itu sendiri.

Hanya nanti akan muncul IRONI ketika kita ajukan kepada mereka urusan-urusan politik yang lain. Misalnya, soal kepemimpinan, sistem negara, penegakan Syariat Islam, hukum positif, sistem Islami, dan sebagainya. Nanti, tiba-tiba pendapat mereka muter-muter, tidak karuan. Nanti mereka akan otomatis mengeluarkan “senjata pamungkas”, yaitu: Taat Ulil Amri.  Ini sudah menjadi lagu lama yang diulang-ulang terus.

Dalam konteks demokrasi, mereka bisa memahami dengan baik hukum demokrasi itu, dan pendapat mereka benar. Tetapi saat bicara kepemimpinan, penegakan Syariat, sistem daulah, sistem Islmi, dan sebagainya, mereka seperti “mati kutu”. Semua dalil-dalil yang semula dipakai untuk mengkritik demokrasi, tiba-tiba lenyap.

Nah, ini ada apa sebenarnya? Itulah misteri yang selalu menjadi pertanyaan kita selama ini. Kadang di satu sisi sangat tegas memegang dalil Syar’i, tetapi di sisi lain amat sangat longgar, bahkan mencari-cari pembenaran.

Secara pribadi saya khawatir, teman-teman Salafi ini, mereka dikendalikan oleh suatu maksud untuk menghalangi segala upaya perjuangan kebangkitan Islam. Coba saja Anda perhatikan secara jeli, hampir semua isu yang laku di kalangan Salafi, cenderung berefek negatif bagi usaha kebangkitan Islam.

Setidaknya, sifat-sifat kaum Shufi banyak berkembang di kalangan mereka. Cenderung eksklusif, merasa benar sendiri, memakai atribut tertentu, sangat patuh ustadz/syaikh, sikap kritis tidak berjalan, fanatisme kelompok, acuh dengan masalah Ummat, dan sebagainya. Sifat-sifat ini mirip sekali dengan perilaku kaum Shufi di masa lalu.

Alhamdulillah Rabbil ‘Alamin. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.


Memahami Kepemimpinan Islam

Desember 23, 2009

Masalah imarah, imamah, khilafah, atau sulthan sudah lama menjadi pembicaraan Ummat Islam. Intinya, ini adalah masalah kepemimpinan politik di suatu negara. Ada kalanya, pemimpin itu adalah seorang Khalifah, atau seorang Sulthan, atau seorang Malik (raja), atau seorang Presiden, dan lainnya. Tetapi semua merujuk pada makna imamah/imarah, kepemimpinan Ummat.

Kalau kaum Syiah memahami imamah sebagai tokoh-tokoh suci, selalu benar, fatwa-fatwanya diikuti secara mutlak. Mereka dimuliakan luar biasa, bahkan diberikan sifat-sifat ‘uluhiyyah (ketuhanan) kepada para imam mereka. Para imam Syi’ah katanya menentukan syurga dan nerakanya manusia, diridhai atau dimurkainya seseorang oleh Allah, dan lain-lain. Maka maksud imamah itu bukanlah versi Syi’ah ini, melainkan kepemimpinan Ummat secara umum saja. Siapapun yang diamanahi tugas memimpin dan mengurus hajat hidup kaum Muslimin.

Orang-orang Shufi dan Murji’ah memandang bahwa setiap penguasa adalah Ulil Amri yang harus ditaati setelah mentaati Allah dan Rasul-Nya. Tidak peduli pemimpin itu menganut ideologi sekuler, nasionalis, demokrasi, kapitalis, liberalis, dan sebagainya. Selama pemimpin itu diketahui KTP-nya Islam, dia didaulat sebagai Ulil Amri. Sementara itu, kaum Khawarij justru anti terhadap kepemimpinan Ummat. Jangankan pemimpin-pemimpin Muslim biasa, Khalifah Utsman Ra dan Khalifah Ali Ra, mereka lawan. Di jaman Khalifah Ali, beliau memerangi kaum Khawarij di daerah Nahrawan. Di mata Khawarij, yang berhak menjadi pemimpin adalah mereka, dengan akidah seperti mereka pula.

Kedua pandangan di atas sama-sama ekstremnya, sama-sama salahnya. Adapun Ahlus Sunnah berdiri di tengah-tengah kedua pandangan di atas. Kalau semua kepemimpinan dianggap Ulil Amri, tidak peduli akidah yang menjadi fondasi bagi kepemimpinan itu, maka hal ini sama saja dengan merusak kaidah-kaidah agama. Berarti tidak ada artinya Islam mengatur hukum halal-haram dalam segala perkara (termasuk dalam kepemimpinan)? Berarti perjuangan Nabi Saw dan para Shahabat dengan segala peperangan (Jihad) yang mereka tempuh, untuk membangun kepemimpinan Islam dan menjaganya dari segala rongrongan, semua itu dianggap kosong belaka. Kalau semua kepemimpinan politik dianggap Ulil Amri, berarti kita telah “mengislamisasikan” nilai-nilai jahiliyyah. Kekuasaan yang salah, mungkar, tidak Islami, lalu diklaim sebagai urusan Islam (Ulil Amri).

Pandangan Khawarij juga salah. Dalilnya, sederhana saja, yaitu kepatuhan para Shahabat Ra. terhadap kepemimpinan Nabi Saw dan para Khulafaur Rasyidin Ra. Itu dalilnya. Para Salafus Shalih mentaati pemimpin Islam, shalat di belakang mereka, berjihad bersamanya, berhari raya bersamanya juga. Kalau para Shahabat Ra membenarkan para Amirul Mukminin di masanya, bagaimana sampai Khawarij mengingkarinya?

Perlu dimaklumi juga, masalah imamah/imarah itu pada dasarnya adalah masalah MUAMALAH. Namun ia adalah muamalah yang amat sangat penting, sangat menentukan kehidupan kaum Muslimin. Sebagai masalah muamalah, ia terikat hukum halal-haram. Kalau kepemimpinan itu sesuai Kitabullah dan Sunnah, ia adalah kepemimpinan yang halal. Kalau bertentangan dengan Kitabullah dan Sunnah, ia adalah haram. Jadi, kepemimpinan adalah salah satu obyek dalam pembahasan Syariat Islam. Ia bukan subyek yang menentukan hitam-putihnya hukum yang berlaku.

Sekali lagi ingat, kepemimpinan itu obyek Syariat Islam, ia bukan subyek penentu hukum. Kepemimpinan dalam Islam hanyalah OPERATOR HUKUM Syariat, bukan PEMBUAT HUKUM. Dalam Islam, seorang pemimpin tidak boleh menyimpang dari Syariat Islam. Dalilnya, adalah pidato Khalifah Umar bin Khattab Ra ketika diangkat menjadi Khalifah. Beliau memohon diluruskan, jika dirinya menyimpang dari Syariat. Maka ada seseorang yang mengacungkan pedang, akan meluruskan Khalifah dengan pedang, jika beliau menyimpang.

Sebagian orang begitu SENSITIF membahas masalah-masalah seperti shalat memakai celana panjang, shalat memakai baju lengan pendek, laki-laki memakai baju “Nashrani” bukan baju jubah, wanita harus bercadar, tidak boleh memakai jins, mencela orang menjadi PNS, mencela orang masuk dinas TNI, mempermasalahkan hukum mentaati “lampu merah”, dan sebagainya. Terhadap hal-hal seperti itu mereka sangat sensitif.

Tetapi ketika bicara tentang Penegakan Syariat Islam, Sistem Islami, Kepemimpinan Islami, Khilafah Islamiyyah, Kedaulatan Islam, Ekonomi Islam, Sains Islam, dan sebagainya, mereka seperti “kerupuk kesiram air”. Jangankan peduli, mendukung, atau setidaknya toleransi. Mereka malah menuduh kaum Muslimin lain yang sungguh-sungguh memperjuangkan Syariat Islam dengan tuduhan: Hizbiyyah, ahli bid’ah, khawarij, pemberontak, tergesa-gesa, terjerumus urusan politik, dsb.

Padahal urusan penegakan Syariat Islam itu berhubungan dengan masalah darah, harta, jiwa, agama, keimanan, ibadah, kehormatan, keselamatan, serta kehidupan Ummat Islam. Secara akal sehat, kita pasti bisa membedakan, mana yang lebih penting antara urusan “shalat dengan celana panjang” dengan “menjaga darah, harta, kehormatan” Ummat Islam. Ya, orang berakal bisa membedakan keduanya secara jelas.

Banyak orang yang mengaku berilmu, penuntut ilmu, ashabul hadits, ashabus Salafiyyah, ahlul ilmi, dan sebagainya. Mereka tidak bisa membedakan kepemimpinan Islami dan kepemimpinan sekuler. Ini adalah musibah besar. Jadi, ibarat seperti seorang profesor ahli fiqih, tetapi ketika ditanya hukum daging babi, dia ragu-ragu. Apa ya hukumnya? Mungkin ada khilaf disana? Ini masih didiskusikan? Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Anak kecil itu lho bisa membedakan “ini orang shalat di masjid”, dan ini “orang sembahyang di gereja”. Anak-anak SD itu bisa memahami hal itu dengan mudah. Adapun, ini ada serombongan “para ahli ilmu”, tetapi tidak bisa membedakan dengan jelas, mana itu Sultan Islami? Dan mana itu Sultan Jahiliyyah?

Dalam sejarah kaum Muslimin, kita mengenal ada EMPAT MACAM kepemimpinan. Secara teori ia ada, dan secara fakta sejarah ia terbukti. Ke-empat macam kepemimpinan itu pernah dialami Ummat Islam.

[1] Sultan Islami yang bersikap adil. Dia adalah pemimpin Islami di atas sistem Islami, dan berlaku adil dalam kepemimpinannya. Contoh, Rasulullah Saw, Khulafaur Rasyidin Ra, Umar bin Abdul Aziz, Harun Al Rasyid, Muhammad Nuruddin Zanki, Shalahuddin Ayyubi, Muhammad Al Fatih, dll.

[2] Sultan Islami yang bersikap zhalim. Dia adalah pemimpin Muslim, di atas sistem Islami, tetapi berlaku zhalim kepada kaum Muslimin. Contoh, Hajjaj Ats Tsaqafi, Al Ma’mun di jaman Imam Ahmad yang memaksakan akidah “Al Qur’an adalah makhluk”, Abbas pendiri Daulah Abbassiyyah yang membantai keluarga Umayyah, dll. pemimpin zhalim yang menyengsarakan Ummat.

[3] Rais Daulah yang bersikap adil. Dia adalah pemimpin bagi kaum Muslimin, tidak menegakkan hukum Allah dan Rasul-Nya, tetapi bersikap baik kepada kaum Muslimin. Contoh Raja Najasyi Ra, Mahathir Muhammad di Malaysia (sebelum ada konflik dengan Anwar Ibrahim), Ziaul Haq di Pakistan, pemimpin-pemimpin Eropa yang bersikap adil kepada kaum Muslimin yang hidup sebagai minoritas di negerinya. Jadi kepemimpinan disini bersifat umum, bukan kepemimpinan Islami, tetapi sang pemimpi menghargai hak-hak Ummat.

[4] Rais Daulah yang bersikap zhalim. Banyak pemimpin seperti ini, di jaman modern ini. Mereka sekuler, sekaligus Anti Islam. Banyak korban berjatuhan akibat kepemimpinan semacam itu, baik di Indonesia, Pakistan, Mesir, Aljazair, Syria, Libya, Irak, Iran, Libanon, dsb. Sudah tidak Islami, zhalim lagi. Kegelapan di atas kegelapan.

Ini adalah perkara yang jelas, bagi siapapun yang mau menggunakan akal dan hatinya. Ketentuan yang berlaku dalam Islam adalah: “Athiullah wa athiurrasula wa ulil amri minkum” (Taatilah Allah, dan taatilah Rasul-Nya, dan pemimpin di antara kalian. An Nisaa’ 59). Ketika menjelaskan ayat ini Ibnu Katsir mengutip beberapa hadits yang menceritakan tentang komandan yang memerintahkan apapun kepada prajurit di bawahnya, termasuk memerintahkan perbuatan yang membinasakan (masuk gua penuh api). Maka Nabi Saw memberi kaidah, “Innamat tha’atu fil ma’ruf” (bahwa ketaatan itu hanya dalam perkara makruf saja).

Pertanyaannya, apakah pemimpin-pemimpin sekuler di Dunia Islam (seperti contoh di Indonesia) menyerukan melakukan perbuatan makruf dan mencegah kemungkaran?

Untuk menjawabnya, kita harus menilai secara jujur kepemimpinan ini. Nilai dengan sejujur-jujurnya, tanpa kecenderungan memusuhi atau mencintai. Secara obyektif saja, tanpa tendensi apapun, selain hanya demi mencari kebenaran hakiki. Tentu dalam menilainya, kita menggunakan pedoman Kitabullah dan Sunnah. Sebab, itulah pedoman asasi kehidupan orang-orang beriman. “Jika kalian berbeda pandangan dalam suatu perkara, kembalikanlah perkara itu kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Akhirat.” (An Nisaa’ 59).

Cobalah berani secara jujur melakukan analisis terhadap kehidupan di Indonesia. Sebagian fakta yang saya peroleh dari penelitian tentang kepemimpinan ini, antara lain:

[=] Tidak ada satu pun hukum negara yang mengatakan, bahwa syarat menjadi pemimpin formal adalah Muslim dan shalih secara agama.

[=] Agama resmi negara ada 5, salah satunya Islam. Negara memandang semua agama sama benarnya, tidak ada keistimewaan tertentu pada agama tertentu.

[=] Semua warga negara memiliki kedudukan sama di mata hukum.

[=] Syiar Islam tidak menjadi azas kebudayaan nasional.

[=] Negara tidak bertanggung-jawab secara khusus memikirkan tentang keselamatan jiwa, harta, agama, akal, keturunan Ummat Islam. Semua warga negara diperlakukan sama.

[=] Negara mengadopsi nilai-nilai Islam yang dianggap positif di bidang ekonomi, pendidikan, budaya, bahasa, dll. tetapi tidak menjadikan Islam sebagai rujukan utama.

[=] Negara tidak memandang setiap yang diharamkan oleh Islam, otomatis diharamkan oleh negara. Ribawi, pornografi, prostitusi, liberalisme akidah, kapitalisme ekonomi, dll. tidak dianggap haram sebagaimana Islam memandang perkara-perkara itu.

Dengan demikian jelas masalahnya. Tidak ada yang diragukan lagi. Sifat Imamah Islamiyyah seperti yang diajarkan dalam Islam tidak ada di negeri ini. Bisa jadi tidak ada karena tidak ada figurnya, atau karena tidak ada dasar hukumnya, atau karena kedua-duanya.

Namun bukan berarti kita harus memberontak, melawan penguasa, menghadang mereka di jalan-jalan, memusuhi mereka siang-malam. Tidak demikian. Sebab Nabi Saw saat di Makkah juga tidak berbuat seperti itu. Kita harus tekun menyampaikan dakwah kepada seluruh manusia, baik rakyat maupun penguasa. Sampaikan penjelasan dengan sebaik-baiknya, sehikmah-hikmahnya. Berdakwah sekuat kesanggupan untuk menyebarkan penerangan.

Semoga penjelasan seperti ini bermanfaat. Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.


Kejahatan Para Pengamat Ekonomi

Desember 22, 2009

Saudaraku…

Disini saya akan mengungkap luka lama yang tersimpan di hati selama lebih 10 tahun. Perlu Anda ketahui, alhamdulillah saya mengikuti perkembangan politik-ekonomi nasional sejak awal Reformasi. Sejak bulan Juli 1997, saat waktu itu mulai terjadi Krisis Moneter di Indonesia. Sedikit banyak saya memahami kondisi makro ekonomi negeri ini. (Semua terjadi hanya dengan nikmat dan pertolongan Allah belaka).

Di hati saya masih tersimpan luka parah yang sulit disembuhkan…

Luka itu terjadi karena kejahatan para pengamat ekonomi yang berlagak sok pintar. Padahal mereka seperti bandit-bandit yang dengan kejam ikut menghancurkan perekonomian masyarakat Indonesia. Mereka serupa dengan orang-orang yang terlibat dalam “The Economic Hit Man”. Mereka berpura-pura memberikan pandangan ekonomi, memberikan analisis, mengungkap fakta dan data. Padahal ujungnya, mereka hanyalah bandit-bandit bayaran yang diupah untuk menghancurkan ekonomi Indonesia.

Semula saya menganggap, dan banyak sekali masyarakat yang berpandangan sama dengan saya, bahwa para pengamat itu orang jujur, pakar murni, berbicara dengan hati nuraninya. Selama bertahun-tahun saya berprasangka baik kepada para pakar itu. Ternyata tidak. Mereka hanyalah bandit-bandit penipu yang telah menjerumuskan masyarakat Indonesia ke dalam nestapa penderitaan yang amat sangat seperti saat ini. Mereka hanyalah penipu, pedagang analisis, hanyalah centeng-centeng upahan.

Semua itu kita pahami sangat terlambat, setelah perekonomian Indonesia terperosok dalam ke sistem LIBERALIS, dan susah dikembalikan ke keadaan semula.

Saudaraku… harus Anda pahami dengan baik. Ekonomi Indonesia rusak bukan karena kita miskin, atau masyarakat kita malas, atau para pebisnis sektor riil tidak memiliki etos bisnis. Tidak sama sekali. Ekonomi kita hancur, karena dihancurkan secara sistematik.

Konseptor kehancuran ekonomi kita adalah IMF. Inilah biangnya kehancuran ekonomi Indonesia. Kemudian operator kehancuran itu adalah pejabat-pejabat Bank Indonesia, pejabat Departemen Keuangan, pejabat Departemen Ekuin (Ekonomi Keuangan Industri). Orang-orang ini sering disebut sebagai “Tim Ekonomi”. Konseptor dan operator bekerjasama, lalu ditunjang para pengamat ekonomi dan media massa. Empat elemen inilah yang sejak tahun 1997 bekerja keras menghancurkan ekonomi nasional. IMF, pejabat BI dan Tim Ekonomi, para pengamat ekonomi, dan media-media massa. Inilah “4 sekawan” monster ekonomi Indonesia.

Saya ingin membuka sebagian fakta, antara lain:

[1] Krisis Ekonomi 1997 menjadi berkah tersendiri bagi Dr. Sri Mulyani, pakar ekonomi, sekaligus dosen Fak Ekonomi UI. Krisis Ekonomi 1997 menjadi momentum dikenalnya Sri Mulyani dalam tataran perekonomian nasional. Kalau tanpa Krisis Ekonomi, mungkin dia akan ambles sampai sekarang. Waktu tahun 1997 dulu, Sri Mulyani sangat kritis komentar-komentarnya. Saya masih ingat, salah satu komentar dia. Untuk menyelamatkan perekonomian Indonesia, harus ditempuh cara-cara radikal, tidak bisa memakai resep biasa. Kurang lebih begitu.  Perlu diingat juga, Sri Mulyani tadinya juga mengkritik IMF secara tajam. Setelah masuk era Reformasi 1998, saya merasa heran, kemana Dr. Sri Mulyani. Suaranya jarang terdengar di media-media. Kemana dia? Setelah bertahun-tahun kita baru tahu, kalau Sri Mulyani bekerja sebagai supervisor IMF untuk wilayah Asia Pasifik. Ketika dia keluar dari IMF, dia menjadi orang yang direkomendasikan untuk posisi-posisi penting di bidang ekonomi. Setelah dia “lulus sebagai alumni IMF”, dia direkomendasikan menjadi pejabat ekonomi.

[2] Anda tahu Christianto Wibisono? Ya, dia baru muncul kembali ke tengah-tengah publik Indonesia. Dia muncul membela kebijakan bailout Century. Bertahun-tahun lamanya dia hilang dari peredaran. Saya dulu sangat kenal Christianto Wibisono, sebab dia adalah pengamat ekonomi yang sering menulis kolom di Jawa Pos, Surabaya. Saya sering membaca tulisan dia di Jawa Pos. Anda tahu kejahatan Christianto Wibisono? Perlu Anda ketahui, Christianto Wibisono, Hasnan Habib, Soedradjat Djiwandono (Gubernur BI ketika), mereka adalah sebagian orang yang sangat kencang menyerukan kepada Pemerintah Soeharto agar segera meminta tolong kepada IMF. Ingat saudaraku, konseptor kehancuran ekonomi kita adalah IMF. Maka para penyeru kebijakan IMF adalah orang-orang yang tangannya berdarah-darah menghancurkan ekonomi rakyat Indonesia. Lebih keji lagi, setelah di Indonesia terjadi kemelut Mei 1998, Christianto Wibisono dan keluarganya seketika kabur ke Amerika, untuk menyelamatkan diri. Tidak lupa dia memfitnah rakyat Indonesia, pemuda-pemuda di Jakarta, sebagai pelaku pemerkosaan dan segala kekejian terhedap etnis China, saat Kerusuhan Mei 1998 itu. Dia mengklaim, karena sangat takutnya ancaman yang menimpa etnis China, dia harus kabur ke Amerika menyelamatkan diri. PERHATIKAN Saudaraku: Satu, Christianto Wibisono -manusia terkutuk ini- telah menjerumuskan bangsa Indonesia ke dalam skenario IMF. Dua, Si terkutuk ini juga memfitnah para pemuda Jakarta sebagai pelaku pemerkosaan etnis saat Kerusuhan Mei 1998. Padahal sampai saat ini pemerkosaan etnis itu sangat tidak jelas bukti-buktinya. (Bahkan isu “pemerkosaan etnis China” sebenarnya hanyalah pengalihan dari kejahatan besar penguasa-pengusaha China yang menguras harta BLBI ke luar negeri. Itu hanya isu pengalihan saja).

[3] IMF lah biang kerok segala kehancuran ekonomi kita ini. IMF merekomendasikan kepada Soeharto untuk melakukan Likuidasi 16 Bank Nasional. Akibatnya terjadi rush, penarikan uang besar-besaran dari bank-bank. Bagaimana tidak, masyarakat takut uangnya di bank hilang seperti pada 16 bank itu. Akibat rush, industri bank Indonesia hancur-lebur. Hancur bagai debu. Urusan bisnis dalam negeri, ekspor-impor, transaksi perbankan, dll. hancur berkeping-keping. Untuk menahan kehancuran itu, Soeharto mengeluarkan kebijakan BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia). Itu terjadi ketika BI dipimpin Soedradjat Djiwandono. Nilai BLBI amat sangat besar, sekitar 500 triliun rupiah. Ada yang menyebut sampai 600 triliun. BLBI inilah yang menimpakan luka berat kemiskinan ekonomi di Indonesia yang susah sembuh, sampai saat ini. Dampak lain, kurs rupiah yang tadinya turun ke level Rp. 4.500,- per dollar, ambles ke angka Rp. 12.000,-. Bahkan pernah menyentuh angka sekitar Rp. 17.000,- per dollar. Jadi, IMF telah melakukan 3 kejahatan besar: Pertama, menghancurkan industri perbankan nasional melalui rekomendasi Likuidasi 16 Bank Nasional; Kedua, menghancurkan kurs rupiah jauh di bawah Rp. 4.500,- sebelum Pemerintah RI menjalin kerjasama dengan IMF. Bahkan saat ini pun masih sekitar Rp. 10.000,- jauh di bawah level Rp. 4.500, ketika Soeharto belum menanda-tangai letter of intend dengan IMF; Ketiga, IMF menyebabkan terjadinya ultra mega skandal BLBI dimana uang negara sekitar 500 triliun dibawa kabur penguasa-pengusaha keturunan China ke luar negeri. Kasus bank Century tidak ada apa-apanya dibandingkan mega skandal BLBI.

[4] Kita harus ingat juga kejahatan yang dilakukan Gubernur BI, Soedradjat Djiwandono. Waktu itu, ketika Krisis Moneter di Indonesia kurs rupiah mencapai level Rp. 4.500,- per dollar, Pak Harto ingin cepat menyelamatkan ekonomi nasional dengan cara menerapkan Sistem CBS. Melalui sistem ini, kurs rupiah nilainya ditentukan oleh sebuah dewan khusus (Currency Board). Jadi tidak dibiarkan mengambang mengikuti pasar seperti saat ini, seperti yang disyaratkan oleh IMF itu. Bahkan dengan sistem dipatok (Fixed Rate) Arab Saudi tetap stabil mata uangnya, sampai saat ini. Tetapi Soedradjat Djiwandono menolak keras usulan itu. Dia tetap merekomendasikan agar Indonesia manut dengan agenda yang dibawa IMF. Alasan Djiwandono ketika itu, “Cadangan devisa Indonesia tidak cukup untuk memback up sistem CBS.” Padahal menurut pakar ekonomi Amerika, Steve Henke, “Kondisi ekonomi Indonesia jauh lebih baik daripada Argentina atau Hungaria ketika mereka menerapkan sistem CBS.” Kurang lebih seperti itu kata Henke. Saya masih ingat, Kwik Kian Gie sendiri waktu itu sangat setuju dengan sistem Fixed Rate, yang lebih ekstrem daripada CBS. Akhirnya, sistem CBS disingkirkan, Indonesia memakai resep IMF. Akibatnya kita hancur lebur sampai saat ini. Dan suatu kekejian yang tak terkira kejinya, setelah kemudian muncul ultra mega skandal BLBI. Kata Djiwandono, “Cadangan devisa nasional tidak cukup untuk memback up sistem CBS.” Tetapi setelah terjadi rush, Bank Indonesia setuju mengeluarkan kebijakan BLBI yang membuat uang rakyat Indonesia, 500 triliunan, hilang tak berbekas. Semua hilang dirampok setan-setan berdasi ke luar negeri. Katanya, cadangan devisa tidak cukup, mengapa BI bisa mengeluarkan suntikan BLBI yang memiskinkan rakyat sampai saat ini tersebut?

Demi Allah, hati saya masih terluka, terluka sekali….

Ekonomi Indonesia hancur bukan karena kemiskinan alamnya, kemalasan pekerja dan pedagangnya, tetapi karena DIHANCURKAN SECARA SISTEMATIK oleh setan-setan ekonomi. Mereka adalah IMF, pejabat-pejabat BI, pejabat-pejabat “Tim Ekonomi”, para pengamat politik, dan media-media massa. Merekalah manusia paling terkutuk, paling hancur, paling keji di muka bumi ini. Semoga Allah melaknati mereka, melaknati keluarganya, melaknati rumah, kekayaan, dan simpanan mereka. Amin Allahumma amin. (Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in).

Betapa tidak kita akan terluka wahai saudaraku…

Kehancuran ekonomi itu telah menghancurkan kehidupan ratusan juta kaum Muslimin di Indonesia, ia telah merampas hak-hak anak-anak kita, ia telah menyebabkan puluhan ribu wanita-waniata kita menjadi babu di negeri orang, ia telah merengut masa depan bangsa ini, ia telah membuat Indonesia semakin rusak, moralnya bobrok, pejabat-pejabatnya korup, dan sebagainya. Ia telah menyebabkan kemiskinan, kebodohan, kejahilan, rusaknya iman, rusaknya rumah-tangga, rusaknya kesehatan fisik, telah menyebabkan banyak manusia tersesat dalam penderitaan. Luar biasa, luar biasa, luar biasa pedihnya.

Hanya orang bodoh, manusia sesat, dan setan saja, yang dimaklumi kalau hatinya tidak bersedih. Bayangkan, sebuah media di Hongkong, Asian Wall Street Journal (AWSJ) pernah menyayangkan ketika Indonesia tidak mau menerapkan sistem CBS, sehingga ekonominya kacau-balau. Dan lebih keji lagi, Si Dradjat Djiwandono dengan “gagah berani” menyanggah tulisan di Asian Wall Street Journal Hongkong itu. Rupanya, manusia terkutuk satu itu tidak sadar-sadar akan kejahatan yang telah dia lakukan. Padahal tulisan di AWSJ Hongkong itu berlalu sekian lama dari masa Krisis Moneter. Orang non Muslim pun menyayangkan kehancuran ekonomi Indonesia karena mengikuti resep IMF.

Saat ini, kalau mendengar omongan para pengamat seperti Christianto Wibisono, Aviliani, Ichsan Fauzi, Khatib Bisri, Hasan Basri, dan lain-lain yang mendukung Bailout Century. Saya hanya mengelus dada. Orang-orang semacam ini sama seperti centeng-centeng IMF di masa lalu.

Perlu diingat juga peran media-media massa. Mereka juga berdaarah-darah ikut menghancurkan ekonomi Indonesia. Media massa sebenarnya sangat tahu kondisi yang sebenarnya. Mereka tahu hakikat kebenaran itu. Mereka tahu, niat Soeharto dengan sistem CBS adalah baik, mereka tahu betapa buruknya kebijakan Likuidasi 16 Bank, mereka tahu betapa jahatnya kebijakan BLBI yang disetuji BI, dan banyak lagi. Tetapi media-media selalu mendiamkan saja, terutama media-media TV. Mereka tidak tergerak untuk menolong masyarakat. Bahkan untuk media seperti Kompas, mereka hanya omong doang. Mereka bisanya kritik sana kritik sini, tanpa ada kemauan untuk menolong masyarakat. Nanti kalau masyarakat sudah menjerit-jerit, baru mereka peduli. “Ini kasihan mereka. Ini salah Pemerintah,” begitu omongan mereka yang selalu diulang-ulang.

Saudaraku… tidak ada yang bisa menentukan masa depan ekonomi Anda semua, selain hanya tekad Anda sendiri. Apapun masa depan Anda nanti, hal itu akan sangat dipengaruhi kondisi ekonomi nasional. Suram-tidaknya masa depan Anda, sangat dipengaruhi kondisi perekonomian nanti. Maka itu, selamatkanlah masa depan Anda dengan menyelamatkan aset perekonomian sisa-sisa yang kita miliki. Jangan biarkan lagi antek-antek IMF menghancurkan ekonomi bangsa ini!

Kini terbuka pintu untuk menuntut kedaulatan ekonomi kita dari tangan kapitalis penindas, melalui kasus Bank Century. Kalau kasus ini bisa diselesaikan secara tuntas, ada kesempatan kita menggugat Ultra Mega Skandal BLBI. Lebih jauh dari itu, kita harus “thalaq tiga” dengan sistem ekonomi Liberalis, sebab ia amat sangat menyengsarakan rakyat. Dengan cara demikian, masa depan kita diharapkan menjadi lebih baik.

Semoga Allah Ta’ala menuntun Ummat Islam, menolong, dan menyelamatkannya dari segala kejahatan dajjal-dajjal ekonomi. Allahumma amin.

WeAre.


Menggugat Analisis “Dampak Sistemik” Sri Mulyani

Desember 12, 2009

Seperti kita maklumi, kasus bailout Bank Century telah merugikan negara 6,7 triliun rupiah. Kerugian muncul karena negara harus nomboki keuangan Bank Century yang nyaris bangkrut. Malah kemudian negara (LPS) harus mengambil alih Bank Century, memperbaiki, dan mengelolanya, untuk suatu saat nanti dijual lagi ke investor.

Dana negara 6,7 triliun yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal lain yang produktif akhirnya tersesat di seputar Bank Century (kini namanya Bank Mutiara). Konyolnya, Bank Century itu nyaris bangkrut bukan karena apapun, tetapi karena ulah pemiliknya sendiri. Pemilik Bank Century merampok uang bank itu, lalu dilarikan ke luar negeri. Mereka juga sangat maniak dengan judi (berspekulasi) sehingga posisi keuangan bank itu nyaris ambruk. Kasus Bank Century tidak jauh beda dengan Mega Skandal BLBI tahun 1997-1998 dulu yang merugikan negara sampai 600 triliun rupiah. Kedua-duanya sama perampokan yang menyengsarakan rakyat Indonesia.

Menarik mencermati alasan Pemerintah ketika menyelamatkan Bank Century pada Nomvember 2008 lalu. Melalui Menkeu sekaligus Ketua KSSK (Komite Stabilisasi Sistem Keuangan), Sri Mulyani, Pemerintah menyatakan bahwa penyelamatan Bank Century merupakan pilihan yang harus diambil. Alasannya, kalau Bank Century tidak diselamatakan dengan dana talangan (bailout), ia akan menimbulkan DAMPAK SISTEMIK bagi sistem perbankan di Indonesia secara keseluruhan. Alasan “sistemik” ini diulang-ulang terus oleh Bulek Sri Mulyani di berbagai kesempatan, dengan gaya khas-nya yang seolah paling tahu soal keuangan negara.

Dari analisis yang saya tempuh, di dapat kesimpulan bahwa alasan “dampak sistemik” yang dilontarkan Sri Mulyani itu merupakan KEBOHONGAN PUBLIK yang sangat menyesatkan. Ia adalah argumentasi dicari-cari yang seolah ilmiah, padahal landasannya sangat lemah. Para pakar banyak mempertanyakan analisis “dampak sistemik” itu. Menurut mereka, yang menjadi pertimbangan utama analisis “dampak sistemik” itu hanyalah masalah psikologis yang tidak bisa diukur. Singkat kata, analisis itu hanya berdasarkan perasaan saja. (Sangat memalukan, seorang ekonom UI bergelar doktor, mantan pejabat IMF, membuat analisis berdasarkan perasaan. Memalukan!!!).

Secara umum, berikut alasan Sri Mulyani Cs yang membela kebijakana bailout Bank Century:

<=> Bailout Bank Century adalah tindakan legal, sebab memakai data-data dari Bank Indonesia, dan telah disetujui oleh Gubernur Bank Indonesia sendiri (waktu itu dijabat oleh “Si Boed” Boediono).

<=> Jika Bank Century tidak diselamatkan, dikhawatirkan akan terjadi rush (penarikan uang secara besar-besaran dari bank) yang bisa merusak sistem perbankan nasional sendiri. [Kekhawatiran terhadap rusaknya sistem perbankan nasional inilah yang kemudian dikenal sebagai “dampak sistemik”].

<=> Penyelamatan Bank Century dilakukan saat terjadi krisis finansial global, sekitar November 2008 lalu. SBY dalam pidatonya juga menyinggung alasan ini. Kata dia, “Penyelamatan Bank Century harus dilihat pada kondisi waktu itu ketika dunia mengalami krisis finansial. Jadi jangan dilihat dengan ukuran sekarang.” Begitu kira-kira isi pernyataan SBY pada pidato Senin malam terkait masalah Century dan Bibit-Chandra.

<=> Beberapa praktisi pasar saham aneh dan pengamat ekonomi aneh, yang suaranya selalu mendukung kebijakan Pemerintah SBY. Mereka menambahkan alasan, waktu itu data-data makro ekonomi menunjukkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia memang negatif. Kurs rupiah turun dari angka Rp. 9.800 menjadi Rp. 12.000 per dollar. Indeks saham gabungan turun, dan lain-lain. Jadi benar, ada potensi ancaman sistemik.

Kalau kita memandang alasan-alasan yang dikemukakan Sri Mulyani Cs di atas, seakan semua itu sangat logis dan legal. Tetapi alhamdulillah, melalui audit BPK terbukti bahwa dalam penanganan Bank Century terdapat 9 indikasi pelanggaran hukum dan pengabaian aturan perbankan. BPK juga mencatat ada penggunaan 2,8 triliun dana yang tidak jelas payung hukumnya alias ilegal. Jadi, dengan dasar audit BPK ini saja sudah cukup untuk melemparkan alasan “dampak sistemik” ke tong sampah.

Tetapi untuk menguatkan kembali argumentasi, disini ada beberapa bantahan terhadap analisis “dampak sistemik” yang selalu disuarakan Sri Mulyani Cs di berbagai kesempatan. Argumentasi-argumentasi ini sekaligus menguatkan tuduhan telah terjadi kebohongan publik yang dilakukan Sri Mulyani Cs.

PERTAMA, Bank Century adalah bank kecil yang tidak berarti dalam sistem perbankan nasional. Andaikan bank yang ditutup seperti BNI, Bank Mandiri, BRI, BCA, dan yang sekelas itu, bolehlah dikhawatirkan terjadi dampak sistemik. Century itu terlalu kecil untuk mempengaruhi sistem perbankan nasional.

KEDUA, harus diingat asal-muasal terjadinya kolaps keuangan di tubuh Bank Century. Mereka nyaris bangkrut secara keuangan bukan karena kesalahan Pemerintah, bukan karena kesalahan nasabah, bukan karena bencana alam, dan alasana-alasan lain yang bisa dimaklumi. Bank Century kolaps karena kebejatan pejabat bank itu dan para pemilik sahamnya. Pejabat Century doyan “bermain judi” melalui transaksi-transaksi keuangan spekulatif. Kemudian banyak dana nasabah dari anak perusahaan Century yang dibawa kabur oleh pemilik bank itu.

KETIGA, Sri Mulyani beralasan bahwa penutupan Bank Century bisa menimbulkan rush (penarikan uang besar-besaran dari bank-bank). Alasan ini hanya dibuat-buat, tidak ada contohnya. Coba, Sri Mulyani sebutkan contoh penarikan uang dari bank secara besar-besaran karena sebuah bank kecil ditutup? Di Indonesia tidak ada contoh seperti itu. Dulu pernah ada rush tahun 1997, setelah kejadian “Likuidasi 16 Bank Nasional“. Kalau ada 15 atau 20 bank ditutup secara bersamaan, barulah kita boleh khawatir terjadi rush.

KEEMPAT, kondisi keuangan global tidak bisa dijadikan alasan untuk membenarkan bailout Bank Century. Mengapa? Sebab tidak nyambung. Kondisi krisis global tidak ada sangkut pautnya dengan nasib sebuah bank kecil seperti Century. Krisis global memang berpengaruh terhadap makro ekonomi Indonesia. Berpengaruh juga bagi perbankan. Tetapi semua bank terkena dampaknya, bukan hanya Century.

Bank Century dan krisis global ada dalam domain berbeda. Logikanya, seperti seseorang yang mendadak terkena gejala demam berdarah. Baru gejala, belum jatuh sakit demam berdarah. Pada saat yang sama, salah satu jari orang itu terluka karena pisau dapur. Gejala demam berdarah, jika dibiarkan bisa berakibat fatal. Tetapi, luka terkena pisau, meskipun terasa sakit, dampaknya tidak berpengaruh serius. Krisis global itu seperti gejala demam berdarah, sedang kasus Bank Century seperti jari terkena pisau. Keduanya sama-sama sakit, tetapi ada dalam domain berbeda. Jangan lalu orang mengatakan, “Luka pisau ini bisa menimbulkan kematian, sebab yang bersangkutan sedang mengalami gejala demam berdarah.” Ini logika orang aneh bin letoy.

KELIMA, bukti kedustaan Sri Mulyani, juga kebohongan SBY dalam pidato “Senin malam”. Mereka mengklaim, bahwa krisis global mengharuskan Pemerintah menyelamatkan Bank Century. Ini adalah bohong sebohong-bohongnya alasan. Mengapa? Dalam situasi krisis global, Pemerintah justru harus sangat hati-hati dalam mengucurkan dana negara. Situasi sedang krisis, kok malah seenaknya menggelontorkan dana 6,7 triliun untuk bank yang sejak awal memang dibuat rusak oleh pemiliknya sendiri? Dimana logikanya? Situasi krisis kok malah sebar-sebar uang seenak perutnya.

Kedustaan alasan krisis global itu makin terang-benderang kalau kita ingat kebijakan tight money (uang ketat) yang ditempuh Bank Indonesia selama 2004-2009. BI di bawah “Si Boed” menerapkan kebijakan uang ketat. Masyarakat bisnis sektor riil menjerit-jerit karena susahnya mendapatkan pinjaman modal dari bank. Untuk mendapat pinjaman modal 5 juta rupiah dari bank, syarat-syaratnya “minta ampun deh”. Tetapi lihatlah, betapa konyok-nya pejabat-pejabat BI itu. Mereka seenaknya sendiri menggelontorkan dana 6,7 triliun saat sedang krisis global. Betapa kejam, culas, dan biadabnya mereka. Na’udzubillah min dzalik.

KEENAM, fakta kemudian berbicara, bahwa perbankan Indonesia ternyata aman dari ancaman “dampak sistemik”. Ya, saat ini kita bisa melihat, bahwa sistem perbankan di Indonesia masih anteng-anteng saja. Andaikan alasan Sri Mulyani itu benar, pasti posisi Bank Century akan menjadi perhatian utama para bankir di negeri ini. Mereka akan menjadikan masalah Bank Century sebagai agenda masalah mereka. Buktinya, tidak ada sama sekali. Coba cari dalam notulen-notulen rapat para pejabat bank-bank nasional, adakah mereka menjadikan masalah Century sebagai problem serius? Kalau kini masyarakat peduli dengan Century, bukan karena peduli posisi dia dalam perbankan nasional, tetapi peduli dengan tindak kezhaliman yang terjadi padanya.

Mungkin pihak Depkeu atau BI akan beralasan, “Ya, sekarang kondisi perbankan aman, sebab kami sudah menyelamatkan Bank Century. Kalau tidak diselamatkan, tentu kondisi perbankan tidak akan seperti ini.” Maka jawaban atas klaim seperti ini, “Sekarang Anda keluarkan dasar hitung-hitungannya, lalu beberkan ke masyarakat luas, bahwa penyelamatan Bank Century berpengaruh significant menyelamatkan sistem perbankan nasional!” Mohon Anda keluarkan hitung-hitungannya! Tetapi bukan alasan “psikologis” lho!

KETUJUH, kita perlu bercermin pada kasus pembobolan Bank BNI yang pernah merugikan negara triliunan rupiah juga. Apakah setelah itu terjadi “dampak sistemik” terhadap perbankan nasional? Ada dampaknya, tetapi tidak seberapa. Padahal BNI adalah bank besar di Indonesia.

Sebagai tambahan, Ketua LPS pernah mengatakan, bahwa uang yang dipakai untuk bailout Century bukanlah uang negara. Kata dia, LPS mewarisi modal awal 4 triliun rupiah dari sisa modal di BPPN pada periode Pemerintahan sebelumnya. Lalu selama operasinya LPS mendapat keuntungan dari premi asuransi bank-bank, sehingga modal LPS menjadi 17 triliun. Jadi, uang yang dipakai LPS itu bukan dari negara, tetapi dari keuntungan bisnis yang dikembangkan LPS.

Apa yang dikemukakan pejabat LPS dan diamini politisi-politisi Demokrat itu benar-benar SANGAT KONYOL. Mereka tidak layak menjadi pejabat negara. Mereka harus diganti pejabat lain, karena moralnya rendah dan cara berpikir sistematiknya kacau. Sangat memalukan mengatakan dana LPS “bukan uang negara”.

LPS itu lembaga apa? Ia milik pribadi, milik pengusaha, milik asing, atau milik partai politik? Jelas-jelas LPS adalah lembaga negara. Maka dia berhak mendapat modal awal dari negara, operasinya dilindungi UU negara, dan eksistensianya diakui lembaga-lembaga negara lainnya.

Meskipun, dana yang dipakai LPS dari keuntungan usaha LPS setelah beroperasi, itu tetap dicatat sebagai dana negara. Misalnya, Departemen Kelautan mengembangkan bisnis pengolahan ikan laut. Dana modal awal diperoleh dari Departemen Keuangan. Setelah bisnis berjalan, Departemen Kelautan mendapat banyak keuntungan. Maka keuntungan yang diperoleh itu tetap dihitung sebagai uang negara. Lho, mau disebut uang apa dong? Keuntungan yang diperoleh lembaga-lembaga negara, menjadi uang negara juga. Andaikan dalam operasinya KPK bikin bisnis fotokopi, lalu mendapat keuntungan. Ia tetap diklaim sebagai uang negara, bukan uang milik Pak Bibit-Chandra.

Ini benar-benar memalukan. Ada elit-elit birokrasi, tetapi cara berpikirnya sangat buruk. Apalagi ingat, keuntungan LPS diambil dari premi asuransi bank-bank nasional. Bagaimana kalau nanti bank-bank nasional ada masalah, darimana mereka akan berharap mendapat pertolongan asuransi kalau uang LPS dipakai urusan lain? Justru praktik konyol seperti ini bisa berdampak sistemik bagi perbankan nasional.

Maka dapat disimpulkan, klaim “dampak sistemik” adalah kebohongan publik yang disebarkan Sri Mulyani Cs. Tidak ada argumentasi obyektif yang dijadikan alasan, selain perasaan doang. Adapun hasil analisis praktisi saham atau pengamat ekonomi yang membenarkan bailout Bank Century, mereka itu hanyalah “juru bicara politik” yang tidak memiliki pilihan. Hidupnya sudah ditawan oleh “amplop tebal”. Kacian deh…

Terus kejar Sri Mulyani dan “Si Boed” !!! Semoga di balik itu ada perbaikan significant bagi kehidupan masyarakat Indonesia. Allahumma amin.

AMW.