Antara “Salafi” dan Demokrasi

Pihak yang dimaksud Salafi ini adalah siapa saja yang berbangga menyebut diri sebagai Salafi, dan merasa yakin mendapat pahala dengan memakai sebutan itu. Jadi Salafi yang dimaksud bukan setiap Muslim yang berkeyakinan bahwa dalam beragama ini kita harus mengambil teladan Salafus Shalih, yaitu Nabi Saw dan para Shahabat, Tabi’in, serta Tabiut Tabi’in radhiyallahu anhum.

Kalau mau jujur, para Salafiyun sebenarnya juga memahami mana yang benar dan mana yang salah dalam sistem perpolitikan. Ya, kalau kajian mereka sudah membahas sedemikian detail tentang “celana panjang dalam shalat”, “mengangkat celana”, “hukum memakai pantalon”, “hukum memakai dasi”, “hukum cadar wanita”, dll. tentu mereka sudah memahami urusan yang lebih besar dari itu. Iya kan.

Satu bukti, tentang isu DEMOKRASI. Sejak dulu sampai saat ini, para Salafiyun memiliki sikap yang tegas dalam masalah demokrasi ini. Majalah As Sunnah, Salafy (dulu), Al Furqan, Adz Dzakhirah, Asy Syariah, dll. mereka seragam memberi penilaian terhadap demokrasi. Di mata mereka, demokrasi itu: Haram, tasyabbuh dengan perilaku orang kafir, duduk-duduk dengan orang munafik, mempermainkan ayat-ayat Allah, menyekutukan Allah dalam soal penetapan hukum, dll.

Intinya, demokrasi itu haram total. Tidak ada toleransi. Secara tinjauan Syar’i, sebenarnya kita sepakat dengan pandangan itu. Sama sepakatnya dengan kritik tajam Abul A’la Al Maududi rahimahullah terhadap sistem demokrasi. Tetapi dalam amaliyah siyasah, ada hal-hal tertentu yang masih bisa dimanfaatkan dari sistem demokrasi. Tetapi hal itu sifatnya dharuriyyah (darurat), bukan dalam situasi normal.

Dalam tulisan di majalah, buku, situs-situs internet, blog-blog, dll. betapa sangat tegasnya sikap Salafiyun terhadap demokrasi. Hal itu telah menjadi rahasia umum yang tidak perlu diragukan lagi.

Untuk memperkuat sikap ini, muncullah buku Madarikun Nazhar Fis Siyasah (pandangan tajam terhadap politik). Buku ini ditulis oleh Abdul Malik Ramadhani Al Jazairi. Ia seolah menjadi legitimasi penguat tentang sikap tegas Salafi terhadap sistem demokrasi. Dalam buku itu, demokrasi bukan saja dikritik habis, tetapi FIS Aljazair juga mendapatkan serangan-serangan luar biasa.

Salah satu contoh. Penulis buku Madarikun Nazhar menyebutkan sepucuk surat yang ditulis oleh Ustadz Ali bin Hajj yang isinya memerintahkan anggota FIS untuk melawan penindasan yang dilakukan oleh regim militer Aljazair. Surat itu dokumen resmi, disebutkan copy-nya oleh Abdul Malik dalam buku tersebut. Tetapi yang sangat menyakitkan dari bukti yang disebutkan Abdul Malik adalah: Dia menuduh Ali bin Hajj bertanggung-jawab atas pembantaian kaum Muslimin Aljazair yang menewaskan puluhan ribu manusia (ada yang menyebutkan sampai 50.000 pemuda dan warga Aljazair).

Lihatlah, betapa kejinya seorang Abdul Malik yang diklaim sebagai ulama hadits itu. Sangat keji dan keji sekali. Sangat memalukan, orang seperti ini dikaitkan-kaitkan dengan As Sunnah Nabawiyyah yang suci. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Mari kita bahas tuduhan Abdul Malik terhadap Ali bin Hajj:

[1] Menyebutkan dokumen rahasia seperti itu di depan umum, secara terbuka, tentu bukan yang diinginkan oleh si pengirim surat (Ali bin Hajj). Dan bagi Ummat Islam, hal itu juga tidak bermanfaat diketahui, malah bisa menimbulkan fitnah di kalangan Ummat sendiri. Kalau seorang ulama itu wira’i, dia akan hati-hati menyebut dokumen seperti itu, sekalipun dirinya berada di atas kebenaran. (Seperti misal, seseorang melihat hilal Idul Fithri secara sendirian, sedangkan negara sudah memutuskan besok tetap puasa. Alangkah baik, dia membatalkan puasa sendiri, tanpa memaksakan hasil penglihatannya untuk menggugurkan keputusan negara).

[2] Darimana Abdul Malik bisa menyimpulkan bahwa Ali bin Hajj bertanggung-jawab terhadap pembantaian itu? Siapakah Ali bin Hajj? Apakah dia sebuah negara? Apakah dia sebuah kekuatan militer hebat? Apakah dia setangguh NATO? Apakah dia setangguh Saddam Husein, Muammar Khadafi, Hafezh Assad, dll.? Siapa ini Ali bin Hajj? Apakah suratnya mampu menimbulkan gelombang aksi bersenjata yang hebat? Laa haula wa laa quwwata illa billah. Ali bin Hajj itu hanya pribadi, seorang orator, atau pemimpin FIS. Sementara FIS sendiri bukanlah kekuatan bersenjata. Mereka hanya partai politik Islam di Aljazair. Korban pembantaian sampai 50.000 itu dalam sejarah manusia hanya mungkin dilakukan oleh kekuatan senjata yang hebat. Tidak mungkin FIS yang melakukannnya, juga Ali bin Hajj. Mereka terlalu jauh untuk itu. Andai mereka memiliki kekuatan militer hebat, mengapa harus ikut Pemilu segala? Sudah saja, gunakan kekuatan mereka untuk berkuasa. Iya kan.

[3] Betapa piciknya pandangan Abdul Malik ketika menimpakan kesalahan penyebab pembantaian Aljazair ke pundak Ali bin Hajj. Sementara dia tidak menyinggung sama sekali tangan-tangan regim militer Aljazair dan Perancis yang berlumuran darah kaum Muslimin. Itukah yang dinamakan keadilan? Kesalahan dilimpahkan ke punggung Ali bin Hajj, sementara tangan-tangan keji yang merengut nyawa-nyawa kaum Muslimin dari kaum pendosa yang ditolong orang kafir, mereka sama sekali tidak disinggung. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

[4] Adalah menjadi hak Ali bin Hajj dan tokoh-tokoh FIS untuk membela diri, menghentikan kezhaliman regim militer, atau apa saja yang memungkinkan, untuk menyelamatkan tujuan perjuangan Islam. Mereka bukanlah pihak yang memulai, tetapi menjadi korban kezhaliman regim militer Aljazair. Mereka hanya berusaha sekuat kemampuan membela diri dan mengamankan kemenangan politik yang sudah diraih. Dalam Surat An Nahl 126, kalau kita mendapat serangan oleh suatu kaum, kita boleh membalas dengan serangan setimpal. Jadi ini tindakan REAKSI, bukan AKSI.

[5] FIS dipersalahkan dengan segala salah yang melampaui batas. Banyak sekali tuduhan-tuduhan keji dialamatkan atas mereka. Buku Madarikun Nazhar itu salah satu contoh terbaik cara membukukan tuduhan-tuduhan keji kepada FIS. Okelah, FIS memiliki banyak kesalahan dan kelemahan. Ya, tidak kita pungkiri. Namun jangan pula, kita malah menghukum saudara yang bersalah, tertimpa mushibah besar, lalu dicaci-maki secara keji. Laa haula wa laa quwwata illa billah. Dalam hadits, Nabi Saw melarang para Shahabat memukuli atau menyumpah-nyumpah seseorang yang selalu berdosa meminum khamr. Nabi mengatakan, “Janganlah kalian menolong syaitan.” Sudah jelas, dia bersalah minum khamr, dan berulang-ulang. Tapi tidak boleh dihina-dinakan. Apalagi ini, saudara-saudara kita yang berniat membela Islam, lalu ditindas sangat kejam. (Ya Allah ya Rabbi, aku tidak ridha dengan segala hujatan kepada FIS. Andai Abdul Malik Ramadhani saat ini hadir di Indonesia, aku akan mendatanginya. Akan aku tantang dirinya, dengan segala keterbatasan ilmu yang kumiliki).

[6] Mengapa perjuangan FIS berakhir menjadi mushibah di Aljazair? Apakah ini salah FIS, salah niat mereka, salah tokoh-tokohnya? Tidak, wahai Akhi dan Ukhti. Ya, secara manusiawi siapapun punya salah, tidak terkecuali anggota FIS. Tapi kesalahan terbesar adalah SIKAP DIAM DIRI kaum Muslimin dan para ulamanya. Ketika kemenangan FIS di Alajzair dirampas, semua negara-negara Arab berdiam diri. Mereka tidak mau menolong atau membantu. Mesir, Maroko, Sudan, Libya, Saudi, Kuwait, dll. semua berdiam diri. Termasuk Indonesia dan kaum Muslimin disini. Padahal FIS bukanlah kekuatan bersenjata, sehingga tak akan sanggup menghadapi militer Aljazair yang didukung oleh Perancis. FIS itu partai politik Islam biasa, berbeda dengan Hamas di Palestina.

Setidaknya, sebagai sesama bangsa Muslim Aljazair, Abdul Malik Ramadhani malu untuk membuka aib-aib saudaranya sendiri. Membuka aib mereka sehingga tersiar ke seluruh dunia, bukan hanya mempermalukan FIS, tetapi mempermalukan dirinya juga. Bagi seorang ulama Sunnah sejati, mustahil akan melakukan hal-hal seperti ini.

Buku Madarikun Nazhar itu semacam dokumentasi sikap tegas Salafiyun terhadap demokrasi. Ya, ini adalah fakta yang tak terbantah lagi. Pendek kata, dalam masalah demokrasi, Salafi sudah ijma’ mengharamkannya. Bahkan terlibat dalam urusan itu saja, dilarang.

Pertanyaannya, dengan dalil apa mereka mengharamkan praktik demokrasi dengan segala hiruk-pikuknya?

Jawabnya, tentu dengan dalil-dalil Syar’i, yang bersumber dari pandangan Kitabullah, As Sunnah, dan pendapat para ulama. Intinya, dengan pandangan Syariat Islam mereka menolak demokrasi. Hal ini menjadi bukti besar, bahwa sebenarnya Salafi tidak terlalu buta masalah politik. Mereka mengerti juga. Buktinya, ya pandangan mereka terhadap demokrasi itu sendiri.

Hanya nanti akan muncul IRONI ketika kita ajukan kepada mereka urusan-urusan politik yang lain. Misalnya, soal kepemimpinan, sistem negara, penegakan Syariat Islam, hukum positif, sistem Islami, dan sebagainya. Nanti, tiba-tiba pendapat mereka muter-muter, tidak karuan. Nanti mereka akan otomatis mengeluarkan “senjata pamungkas”, yaitu: Taat Ulil Amri.  Ini sudah menjadi lagu lama yang diulang-ulang terus.

Dalam konteks demokrasi, mereka bisa memahami dengan baik hukum demokrasi itu, dan pendapat mereka benar. Tetapi saat bicara kepemimpinan, penegakan Syariat, sistem daulah, sistem Islmi, dan sebagainya, mereka seperti “mati kutu”. Semua dalil-dalil yang semula dipakai untuk mengkritik demokrasi, tiba-tiba lenyap.

Nah, ini ada apa sebenarnya? Itulah misteri yang selalu menjadi pertanyaan kita selama ini. Kadang di satu sisi sangat tegas memegang dalil Syar’i, tetapi di sisi lain amat sangat longgar, bahkan mencari-cari pembenaran.

Secara pribadi saya khawatir, teman-teman Salafi ini, mereka dikendalikan oleh suatu maksud untuk menghalangi segala upaya perjuangan kebangkitan Islam. Coba saja Anda perhatikan secara jeli, hampir semua isu yang laku di kalangan Salafi, cenderung berefek negatif bagi usaha kebangkitan Islam.

Setidaknya, sifat-sifat kaum Shufi banyak berkembang di kalangan mereka. Cenderung eksklusif, merasa benar sendiri, memakai atribut tertentu, sangat patuh ustadz/syaikh, sikap kritis tidak berjalan, fanatisme kelompok, acuh dengan masalah Ummat, dan sebagainya. Sifat-sifat ini mirip sekali dengan perilaku kaum Shufi di masa lalu.

Alhamdulillah Rabbil ‘Alamin. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan

30 Responses to Antara “Salafi” dan Demokrasi

  1. kahfi berkata:

    ya harus diulang-ulng terus lah… dicapai aja belum, udah gitu masih banyak penentangnya lagi

    “Dalam konteks demokrasi, mereka bisa memahami dengan baik hukum demokrasi itu, dan pendapat mereka benar” akhirnya anda mengakui juga….
    Penegakan syariat? tegakkan dulu syariat dirumah-rumah kalian, sudah belum? Mau ngomong menegakkan syariat tapi celananya masih menyelisihi syariat? Ngaca tho ya… syariat mana yang mau ditegakkan

  2. abisyakir berkata:

    @ Kahfi…

    Lho, sebenarnya sejak awal kita sudah sepakat bahwa demokrasi bukan sistem Islam. Ini pendapat yang benar. Sama saja seperti HTI yang gigih menolak demokrasi. Mereka memiliki landasan untuk itu.

    Lalu perkataan Anda: “Penegakan syariat? tegakkan dulu syariat di rumah-rumah kalian, sudah belum? Mau ngomong menegakkan syariat tapi celananya masih menyelisihi syariat? Ngaca tho ya… syariat mana yang mau ditegakkan?

    Jawaban saya:

    = Cara Nabi menegakkan Syariat itu bagaimana? Apakah seketika sempurna, seperti yang Anda inginkan itu? Tidak sama sekali. Prosesnya tadarruj, bertahap. Persis seperti riwayat Aisyah Ra tentang pelarangan khamr.

    = Anda perlu ingat, penghapusan ribawi secara sempurna baru dilakukan ketika Nabi melaksanakan Haji Wada’. Itu adalah riba dari Abbas. Begitu pula, balas dendam darah dengan darah, juga baru disempurnakan ketika itu. Lihat, saat Haji Wada’ baru disempurnakan. Padahal tentu hukum riba sangat berat ketimbang “mengangkat celana”.

    = Logika yang selalu Anda yakini kan begitu, “mengangkat celana” (meskipun alhamdulillah, saya selalu melakukannya) dianggap lebih utama dari masalah darah manusia, harta manusia, kehormatan manusia, dan sebagainya. Ini contoh produk orang “tersesat” dalam belajar agama. Hal-hal kecil didahulukan, sementara yang utama di kebelakangkan. Padahal dalam amal itu ada fiqih aulawiyah-nya (fiqih prioritas).

    = Andaikan, metode Anda benar, bahwa ketika hendak menegakkan Syariat, kita harus sempurna dulu dalam segala sisinya, dalam pelaksanaan Syariat itu, lalu bagaimana langkah Anda dalam usaha menegakkannya? Pasti Anda akan mengatakan, “Ya, kita ngaji dulu. Melingkar dulu di majlis taklim. Membahas kitab-kitab kuning. Patuh arahan ustadz. Menyuruh isteri memakai cadar, karena teman-teman isterinya memakai cadar semua. Serang sana serang sini, cela sana cela sini, bantah ahli bid’ah, dan seterusnya.” Lalu kapan Syariat itu akan tegak? Sementara orang-orang murtad semakin bertambah, orang-orang fasiq semakin menggila, pelaku kriminal semakin merajalela, wanita-wanita semakin ancur, dan sebagainya. “Oh, tenang aja. Nanti kalo sudah bertauhid semua, semurni-murninya, urusan negara akan selesai dengan sendirinya. Tenang sajalah.” Demi Allah, cara berpikir seperti itu SESAT. Tauhid Anda dan ustadz Anda tidak akan sebaik Nabi Saw dan para Shahabat Ra. Tetapi mereka berjuang sangat gigih, tak kenal rasa lelah. Nabi berjuang dengan tarbiyyah, tabligh, siyasah, ekonomi, hijrah, hingga qital. Sementara orang-orang itu hanya duduk-duduk saja di majlis taklim, sambil mencela orang-orang di luar kelompoknya. Persis seperti perilaku orang-orang Yahudi yang mengatakan, “Pergilah kalian berdua berperang, kami duduk-duduk saja disini.”

    = Saya menasehatkan, “Berhati-hatilah dari kebencian terhadap upaya penegakan Syariat Islam, apapun alasannya. Berhati-hatilah saudara dari hal-hal tersembunyi yang tidak Anda sadari. Jika Anda membiarkan hati Anda membenci upaya penegakan Syariat, saya khawatir Anda akan murtad tanpa disadari.” Biarpun alasan-alasan mereka seolah shahih dan ditempeli dalil-dalil tertentu. Perbedaan dalam cara menegakkan Syariat, tidak masalah, selama hal itu menyangkut ijtihad. Tetapi membenci penegakan Syariat dalam hati adalah kufur, apapun alasannya.

    AMW.

  3. kahfi berkata:

    Sekarang wahyu sudah ditutup, gak ada perubahan syariat yang bertahap-tahap lagi, jadi tinggal lakasanakan yang udah jadi. Agama Islam sudah sempurna!!!!!!!!!!

    siapa yang bilang riba lebih ringan dosanya ketimbang isbal? MAtau masalah mengangkat celana lebih utama ketimbang masalah darah manusia??? bok ya dicermati… Saya cuma menyoroti orang-orang seperti anda yang getol menegakkan pemerintahan Islam yang menegakkan syariat tapi kebanyakan mereka masih melanggat syariat yang tentunya mudah untuk dilaksanakan… Ga usah jauh2… itu pimpinan kalian.. makin lama kok jenggotnya makin tipis aja ya… lalu celanyanya masih isbal. Bagaimana itu? Padahal bagi seorang lulusan s3 pendidikan agama di saudi tentu tidak samar bagi dia tentang dalil2 larangan isbal!! tapi karena pengan cari simpatisan (maklum, politik….) ya jadinya bagitu.. Rusak, sak, sak

    Anda itu memukul rata bahwa semua salafiyyun berbandangan wajib memakai cadar (persis seperti masyarakat awam yang suka hantam rata semua masalah). Padahal kalo anda mau adil tentu anda gak melakukannya. Lihat saja majalah Asy Syariah (salah satu majalah salafi di Indoensia) ketika membahas masalah jilbab syar’i.. Apa disitu diwajibkan cadar?

    Memang perkara tauhid adalah perkara yang terpenting di antara perkara2 penting. Mungkin anda masih belum paham juga tentang dakwah salafiyah. Kalau anda baca artikel2 salafi, baik di buletin2nya atau majalahnya…. atau mendengar pengajian2 salafi, apa semuanya membahas tauhid saja? Mbok ya dicermati…

    Dicermati…. wahai pak AMW!!! apakah majlis ta’lim salafi hanya digunakan untuk mencela ahlul bida’ saja… Saya mengikuti majlis ta’lim di jogja dalam satu minggu sebagian besarnya membahas masalah akhlaq dan adab, pemuliaan terhadap Al Qur’an…..dan bab-bab lain yang sangat cocok bagi orang-orang awam… hampir-hampir saya tidak pernah mendengan celaan kepada tokoh bid’ah kecuali dengan penyebutan kasus secara global… Bersikap adil lah…,
    Hanya saja mentahdzir penyimpangan itu merupakan satu di antara hal-hal yang penting

    Siapa yang bilang tauhid salafiyyun menyamai tauhid para salaf?? Kita sudah memang tidak bisa lagi menyamai keutamaan mereka. Pepatah arab mengatakan “sesuatu yang tidak bisa dicapai seluruhnya bukan berarti harus ditinggalkan seluruhnya”
    Tapi yang menjadi masalah adalah apakah metode kita sejalan dengan para salaf??

    Mohon dicermati lagi….. anda mengesankan kepada pembaca kalau salafi membenci penegakkan syariat. Orang mana yang didalam hatinya ada minimal setetes keimanan yang tidak menyukai kalau di negaranya ditegakkan syariat Islam… tentu sangat suka, alih-alih membenci…. tapi yang membedakan kami dengan kalian yaitu kami menerapkan tashfiyyah dan tarbiyyah (bukan cuma tarbiyah, tapi juga tashfiyyah), sedangkan kalian menempuh cara kuffar meski menamakan pergerakan kalian dengan “tarbiyah”…

  4. kahfi berkata:

    tamabahan…. sepertinya anda menilai bahwa isbal adalah “hal kecil” (maaf kalau saya salah paham)

    Perlu diketahui bahwa anda itu adlah perkataan besar (pertanggungjawabannya), karena pada dasarnya setiap syariat yang datang dari lisan Nabi shallallahu alaihi wa sallam itu adalah hal yang besar (walaupun ada yang terbesar, yakni tauhid dan aqidah)..

    Ingat perkataan ibnu Abbas “jangan lihat kecilnya pelanggaran, tapi lihatlah BESARNYA yang kau ingkari”
    Yang jadi masalah bukan mengangkat celanyanya. Sebagian orang mungkin tidak mengamalakan hadits isbal karena ketidak tahuan atau merasa lemah dalam mengamalkan. …. Akan tetapi yang jadi masalah adalah sikap seorang muslim terhadap perkataan Nabi (dalam hal ini adalah “Apa yang dibawah matakaki dari pakaian itu adalah di neraka”)… inilah yang jadi masalah… Sebagian orang seolah tidak percaya dengan sabda ini lantaran banyaknya orang yang tidak mengamalkannya, seakan berkata “Masak…. cuma menutupi mata kaki…Fin Naaarrr???” Kalau masalahnya seperti ini tentu sudah masuk dalam bab aqidah dan masalahnya bisa menjadi besar…

    “Oh, tenang aja. Nanti kalo sudah bertauhid semua, semurni-murninya, urusan negara akan selesai dengan sendirinya. Tenang sajalah.”
    lagi-lagi anda tidak adil dalam memposisikan perkataan

    Perlu dicatat:
    – Janji Allah Ta’ala akan mengangkat pemimpin yang adil adalah jika para penduduk negerinya bertauhid (tidak syirik) dan mengerjakan amal-amal shalih. Dan yang namanya amal shalih adalah amal yang ikhlash dan sesuai dengan tuntunan nabi (sesuai penafsiran FUdhayl bin Iyadh dalam tentang ayat “ahsanu amalan” dalam surah Mulk). Paling ikhlas…. lagi-lagi tauhid… dan tauhid yang paling baik adalah yang paling murni… Perlu diketahui juga bahwasanya termasuk aqidah ahlussunnah, bahwa perbuatan2 maksiat itu mengurangi bobot Tauhid (lhat syarh hadits Bithathaqah….)… lagi-lagi tauhid….

    Saya akhiri komentar ini dengan meningatkan bahwa:
    JIka anda pernah membaca siroh nabawiyah, maka anda dapati disitu Nabi shallallahu alaihi wa sallam di awal2 dakwahnya di Makkah pernah ditawari oleh bangsawan Quraisy untuk menjadi pemimpin kaumny (MasyaAllah…) dengan syarat beliau menghentikan dakwah beliau yang menyeru kepada peribadahan kepada Allah saja. Apa sikap beliau? Apa beliau menerimanya? Yang kalau menurut logika kebanyakan orang, selayaknya beliau akan menerimanya. Nanti gampang kalau sudah terangkat jadi pemimpin, baru diteruskan dakwahnya.

    Ini yang ditawari orang paling shaliiih… kepercayaan Dzat yang ada di langit.. yang sudah dipersaksikah keshalihannya dan keikhlashannya dalam memimpin oleh Dzat yang Maha Benar dan seluruh kaum muslimin… bukan lagi sekedar “shalih” menurut rekomendasi manusia (yang sering dikendalikan oleh hawa nafsu) dan untuk menempuh kepemimpinan itu justru menempuh cara kotor kaum kuffar!!!!!

    Apa sikap beliau alaihi sholatu wa sallam terhadap tawaran itu???? Baca lagi sirah nabawiyah nya….

  5. kahfi berkata:

    Maaf ada tamabhan lagi…

    “Coba saja Anda perhatikan secara jeli, hampir semua isu yang laku di kalangan Salafi, cenderung berefek negatif bagi usaha kebangkitan Islam”

    Itu adalah ra’yu (pandangan) anda yang berbicara…
    Dalam Al Qur’an, Allah menjajikan untuk mengambalikan kejayaan islam dengan syarat “jika mereka mau kembali kepada agama mereka”. Sekarang kita tanya agama kita sumbernya dari mana? Qur’an dan Sunnah!!! Bagaimana kita bisa kembali kepada ajaran agama yang benar jika kita tidak berilmu tentangnya??? Bagaimana cara kita agar berilmu…. apakah sibuk aksi??? rapat2 ornganisasi??? sibuk mengikuti perkembanga2n politik??? membuat siyasah(baca: siasat politik)??? pergerakan2??? pergolakan menggulingkan kekuasaan???

    Tentunya dengan mempelajari ilmu dan tidaklah ilmu itu didapat kecuali dengan menuntut ilmu …. ini yang dilakukan oleh para ulama disetiap jamannya.
    Kaum muslimin yang semangat berjuang yang jauh dari ilmu akan melahirkan orang2 seperti Usamah bin Laden (lulusan ekonomi yang disebut sebagai ulama mujahid) dan orang2 menyimpang lainnya… mereka akan cenderung mengikuti perasaan dan anggapan baik, atau bahkan mengimpor cara-cara kuffar terlaknat (na’udzubillah….)

    Jika kaum muslimin di suatu negara telah berilmu, sesuai janji Allah, tidak akan terangkat padanya kecuali pemimpin yang berilmu mapan, yang mengerti Kitabullah dan Sunnah dan mengerti bagaimana harus menerapkan sistem yang Islamy.

  6. kahfi berkata:

    Ya, kalau kajian mereka sudah membahas sedemikian detail tentang “celana panjang dalam shalat”, “mengangkat celana”, “hukum memakai pantalon”, “hukum memakai dasi”, “hukum cadar wanita”, dll. tentu mereka sudah memahami urusan yang lebih besar dari itu. Iya kan

    Itu kewajiban yang dibebankan kepada kita Pak, disetiap waktunya kita tidak terlepas dari hal itu. Dan alhamdulillah kajian2 salafi selalu ilmiah dan detail dalam setiap masalah dari masalah Aqidah, politik, muamalah, akhlaq… sampai masalah ahkam yang sifatnya ijtihadiyah. Dan bukannya sibut berdetail-detail dalam mengamati situasi politik..

  7. AMW berkata:

    @ Kahfi:

    “Sekarang wahyu sudah ditutup, gak ada perubahan syariat yang bertahap-tahap lagi, jadi tinggal lakasanakan yang udah jadi. Agama Islam sudah sempurna!!!!!!!!!!”

    Jawab: Ya Allah ya Rabbi, betapa bodohnya kesimpulan ini. Mau bukti? Bagaimana hukum mencuri dalam Islam? Haram hukumnya, sanksi bagi pencurian yang telah mencapai kadar, dipotong tangan. Lalu, di masyarakat kita, bisakah saat ini kita terapkan hukum ini? Bisakah ujug-ujug diterapkan hukum potong tangan?

    Nabi Saw pernah memerintahkan Muadz bin Jabal dakwah ke Yaman. Beliau memberikan bimbingan agar Mu’adz berdakwah secara bertahap, dari Syahadat, lalu shalat, lalu zakat.

    “Saya cuma menyoroti orang-orang seperti anda yang getol menegakkan pemerintahan Islam yang menegakkan syariat tapi kebanyakan mereka masih melanggar syariat yang tentunya mudah untuk dilaksanakan… Ga usah jauh2… itu pimpinan kalian.. makin lama kok jenggotnya makin tipis aja ya… lalu celanyanya masih isbal. Bagaimana itu? Padahal bagi seorang lulusan s3 pendidikan agama di Saudi tentu tidak samar bagi dia tentang dalil2 larangan isbal!! tapi karena pengan cari simpatisan (maklum, politik….) ya jadinya bagitu.. Rusak, sak, sak…”

    Jawab: Lho, siapa yang Anda maksud pemimpin kalian? Hidayat Nur Wahid maksudnya? Lho itu kan pimpinan PKS. Saya bukan anggota PKS. Lagi pula, apa kamu baca selama ini PKS punya agenda menegakkan Pemerintahan Islam? Maka buktinya?

    “Anda itu memukul rata bahwa semua salafiyyun berpandangan wajib memakai cadar (persis seperti masyarakat awam yang suka hantam rata semua masalah). Padahal kalo anda mau adil tentu anda gak melakukannya. Lihat saja majalah Asy Syariah (salah satu majalah salafi di Indoensia) ketika membahas masalah jilbab syar’i.. Apa disitu diwajibkan cadar?”

    Jawab: Iya, saya juga tidak menyamaratakan kok. Lha wong Syaikh Al Albani saja tidak mewajibkan hal itu. Apa yang saya sebut hanya gambaran zhahir saja, bukan inti masalahnya. Cobalah, tetap memahami “benang merah” masalah utamanya. Jangan ke pinggir-pinggir seperti itu. Tidak akan selesai-selesai dialognya.

    “Memang perkara tauhid adalah perkara yang terpenting di antara perkara2 penting. Mungkin anda masih belum paham juga tentang dakwah salafiyah. Kalau anda baca artikel2 salafi, baik di buletin2nya atau majalahnya…. atau mendengar pengajian2 salafi, apa semuanya membahas tauhid saja? Mbok ya dicermati…”

    Jawab: Iya, saya tahu itu. Tulisan Salafiyun tidak hanya tentang tauhid. Tetapi tauhid di mata orang-orang ini just theory (lebih banyak teorinya). Jadi “tauhid kitabi”, tauhid text book, tidak mau dihidupkan secara nyata dalam kehidupan masyarakat. Anda dkk sangat sibuk mengkritik Hasan Al Banna dalam masalah tafwidh. Tetapi tauhid yang lebih jelas, nyata, besar, seperti pemurtadan, kemelaratan Ummat yang membuat mereka berbuat syirik, penjajahan ekonomi yang membuat Ummat rusak iman, dll. Anda abaikan hal itu. Lha wong sibuknya dengan isu tafwidh terus…

    “Dicermati…. wahai pak AMW!!! apakah majlis ta’lim salafi hanya digunakan untuk mencela ahlul bida’ saja… Saya mengikuti majlis ta’lim di jogja dalam satu minggu sebagian besarnya membahas masalah akhlaq dan adab, pemuliaan terhadap Al Qur’an…..dan bab-bab lain yang sangat cocok bagi orang-orang awam… hampir-hampir saya tidak pernah mendengan celaan kepada tokoh bid’ah kecuali dengan penyebutan kasus secara global… Bersikap adil lah…,
    Hanya saja mentahdzir penyimpangan itu merupakan satu di antara hal-hal yang penting.”

    Jawab: Iya, mohon maaf kalau saya salah dan keliru. Sekali lagi mohon maaf. Tulisan saya hanya bersifat penggambaran umum saja. Sama seperti kalau ustadz-ustadz Antum membuat penggambaran tentang “kelompok hizbiyyah”. Nah, disana kan sifatnya general, umum. Tidak sampai detail seperti fakta yang Anda sebutkan itu. Lagi pula, ini kan bukan tema inti tentang tulisan di atas. Mohon jangan “dibawa lari” ke arah lain.

    “Siapa yang bilang tauhid salafiyyun menyamai tauhid para salaf?? Kita sudah memang tidak bisa lagi menyamai keutamaan mereka. Pepatah arab mengatakan “sesuatu yang tidak bisa dicapai seluruhnya bukan berarti harus ditinggalkan seluruhnya”. Tapi yang menjadi masalah adalah apakah metode kita sejalan dengan para salaf??”

    Jawab: Ya, itu tadi. Klaim kelompok Anda ini sudah begitu hebatnya. Seolah yang namanya “Salafus Shalih” ya kalian itu. Buktinya, kalian memperlakukan orang di luar kelompok kalian dengan cara-cara tercela: Tahdzir, hajr, jarah, dan sejenisnya. Kalau kalian tawadhu’, merasa diri bagian dari Ummat yang selalu memperbaiki diri, kalian akan jauh dari cara-cara tercela.

    “Mohon dicermati lagi….. anda mengesankan kepada pembaca kalau salafi membenci penegakkan syariat. Orang mana yang didalam hatinya ada minimal setetes keimanan yang tidak menyukai kalau di negaranya ditegakkan syariat Islam… tentu sangat suka, alih-alih membenci…. tapi yang membedakan kami dengan kalian yaitu kami menerapkan tashfiyyah dan tarbiyyah (bukan cuma tarbiyah, tapi juga tashfiyyah), sedangkan kalian menempuh cara kuffar meski menamakan pergerakan kalian dengan “tarbiyah”…”

    Jawab: Halah ini hanya alasan saja… Hanya alasan untuk berkelit. Hai manusia, rasa di hati itu bisa tercermin dari sikap yang tampak. Anda tidak usah menyembunyikan sesuatu, sebab perilaku Anda dan kawan-kawan akan membuktikan hal itu.

    Mau tahu contoh? Kelompok Anda ini kan paling senang menyerukan rakyat agar taat Ulil Amri. Iya kan? Coba, lihat di Palestina! Hamas itu sekarang menjadi Ulil Amri, menurut definisi kalian. Harusnya, kalian mendukung, membantu, mendoakan Hamas. Tapi pada 27 Desember 2008 lalu Salafi seluruh dunia menyalahkan Hamas karena membuat marah Israel, sehingga Ghaza dibombardir oleh Israel. Menyalahkan di depan umum, di depan masyarakat dunia lagi, man.

    Coba baca tulisan-tulisan Salafi seputar “kufrun duna kufrin”. Sebagian besar mencerminkan kebencian di hati terhadap penegakan Syariat itu sendiri. Meskipun lisannya tidak mengakui. Apa buktinya? Kalau mereka tulus dalam mendukung penegakan Syariat, pasti mereka akan bersikap lembut kepada sesama saudaranya. Kalau pun mengoreksi, dilakukan secara santun, sebab berniat menasehati. Tetapi tidak, mereka bermaksud menjelek-jelekkan, melemahkan, atau mencegah Ummat mendukung gerakan penegakan Syariat.

    Hai, kamu berani mengatakan, cara penegakan Islam selama ini dengan metode orang kafir. Tolong sebutkan bukti-bukti kamu! Tolong sebutkan bukti-bukti kamu! Disini.

    = AMW =

  8. abisyakir berkata:

    @ Kahfi…

    Itu kewajiban yang dibebankan kepada kita Pak, disetiap waktunya kita tidak terlepas dari hal itu. Dan alhamdulillah kajian2 salafi selalu ilmiah dan detail dalam setiap masalah dari masalah Aqidah, politik, muamalah, akhlaq… sampai masalah ahkam yang sifatnya ijtihadiyah. Dan bukannya sibuk berdetail-detail dalam mengamati situasi politik..

    Jawab: Lha, iya kalau dalam perkara-perkara seperti itu kalian bisa detail, masak dalam masalah hukum negara yang mengatur soal darah, harta, kehormatan, jiwa, agama, dan sebagainya, kalian seperti “kerupuk kesiram air”. Ini aneh sekali. Kok dalam masalah perincian ubudiyyah bisa sedemikian teliti, namun untuk hal-hal yang jelas -melok-melok di depan mata- mereka seperti impoten?

    Ini menunjukkan, bahwa proses tarbiyah yang mereka dapatkan salah kaprah. Yang perincian didahulukan, yang ushul dikebelakangkan. Ini salah.

    Contoh, saat Raja Ibnu Saud mendirikan Kerajaan Saudi. Dari buku yang saya baca, beliau pintar, pemberani, nalurinya sebagai pemimpin politik sangat kuat. Beliau juga cerdik dalam mengelola masyarakat Badui dan menghadapi musuh-musuh politiknya. Tidak terbayangkan kalau Ibnu Saud ketika itu sangat sibuk memikirkan hukum fiqih seputar celana pantalon, shalat dengan celana, menggulung lengan baju, cadar kaum Muslimah, menggerak-gerakkan jari saat shalat, bagaimana cara berdiri dalam shalat (siku dulu atau tangan dulu?), dan sebagainya. Dijamin, Kerajaan Saudi tidak akan berdiri sampai saat ini.

    Nabi Saw sendiri pernah menerima seorang Madinah ikut dalam Perang Uhud, meskipun dia belum pernah shalat sekali pun. Malah dia baru masuk Islam, ketika menjelang wafatnya sesudah perang. Nabi saw tidak mencecar orang itu dengan pertanyaan: “Isteri kamu sudah bercadar? Celana kamu sudah diangkat? Kamu sudah pakai gamis, bukan sirwal Eropa?” Nabi menerima orang beramal, sesuai keadaannya. Bahkan Nabi Saw pernah memaafkan Badui yang kencing dalam masjid. Bayangkan, kencing dalam masjid Nabawi?

    AMW.

  9. abisyakir berkata:

    @ Kahfi…

    Dalam Al Qur’an, Allah menjajikan untuk mengambalikan kejayaan islam dengan syarat “jika mereka mau kembali kepada agama mereka”. Sekarang kita tanya agama kita sumbernya dari mana? Qur’an dan Sunnah!!! Bagaimana kita bisa kembali kepada ajaran agama yang benar jika kita tidak berilmu tentangnya??? Bagaimana cara kita agar berilmu…. apakah sibuk aksi??? rapat2 ornganisasi??? sibuk mengikuti perkembanga2n politik??? membuat siyasah(baca: siasat politik)??? pergerakan2??? pergolakan menggulingkan kekuasaan???

    Jawab: Nah, ini dia bukti kesesatan pikir untuk kesekian kalinya. Entahlah, kesesatan itu sepertinya banyak. Semakin diungkap, semakin ketahuan satu per satu.

    Maksud saya, isu yang berefek negatif bagi perjuangan Islam, misalnya: Tuduhan ahli bid’ah, hizbiyyah, khawarij, secara serampangan. Dengan indikasi-indikasi sedikit, seseorang bisa kena tuduhan itu. Lalu kebiasaan tahdzir, hajr, jarah secara sepihak, dari mereka sendiri. Sementara mereka tidak menyadari, bahwa orang di luar kelompoknya juga memiliki hak melakukan tahdzir, hajr, jarah, kalau mereka mau. Begitu juga menganggap perkara-perkara tampilan zhahir sebagai masalah terpenting dalam agama, misalnya soal memakai celana, memakai jins, memakai kaos T shirt, cadar Muslimah, mengangkat celana, dan sebagainya.

    Benar, kita harus memulai segala sesuatu dari ilmu. Ilmu ini fondasi pemahaman. Tetapi jangan pula menganggap bahwa semua kalangan Islam bersikap seperti PKS. Banyak yang berbeda, baik dalam sikap, pendirian, maupun metode dakwah.

    Terus, menuntut ilmu seperti Anda dan kawan-kawan selama ini, sebenarnya perjuangan Islam tidak hanya sebatas menuntut ilmu, tetapi juga ada amal, bergerak, bersatu, membangun kekuatan, membangun keteguhan iman, dsb. Ya, Anda lihat Shirah Nabawiyyah lah. Apakah ketika Nabi Saw di Makkah, setiap hari acaranya “majlis taklim” melulu? Tidak sama sekali. Beliau menasehati para Shahabat agar Shabar, beliau mengorbankan harta-benda, beliau menziarahi tokoh-tokoh Makkah, beliau menerapkan siyasah, beliau hijrah, beliau meminta perlindungan, beliau menawarkan Islam kepada jamaah Haji, beliau menjalin ikatan dengan orang-orang Madinah. Jadi, acaranya “tidak majlis taklim melulu” seperti kelompok Anda selama ini.

    Perlu dicatat, Abdullah bin Mubarak rahimahullah, beliau pernah mengirim surat kepada Fudhail bin Iyadh rahimahullah di Haramain. Beliau menasehati ulama tersebut agar tidak hanya sibuk ibadah, tetapi juga ribath di perbatasan-perbatasan negara. Kalau ilmu hanya sebatas teori, atau menjadi “permata majlis” saja, akibatnya Ummat ini tertimpa WAHN yang parah, seperti saat ini.

    Soal Usamah bin Ladin, mohon tanyakan ke keluarganya. Saya tidak kenal beliau. Tidak ada nomer HP-nya lagi.

    Jika kaum muslimin di suatu negara telah berilmu, sesuai janji Allah, tidak akan terangkat padanya kecuali pemimpin yang berilmu mapan, yang mengerti Kitabullah dan Sunnah dan mengerti bagaimana harus menerapkan sistem yang Islamy.

    Inilah arogansi majlis-majlis ilmu. Benar ilmu itu fondasi amaliah kita, fondasi pemahaman. Tetapi ingat, ilmu juga ada fitnah-fitnahnya. Fitnahnya apa? Contoh, menyombongkan ilmu, ilmu dicari tapi tak diamalkan, kaya ilmu miskin kepedulian, ilmu nambah ibadah merosot, sibuk berdebat soal ilmu, komersialisasi ilmu, fanatisme ilmu, dan sebagainya. Jadi mohon, Anda jangan terlalu lugu saat bicara soal ilmu.

    Saya khawatir, Anda dan kawan-kawan bersembunyi di balik “majlis ilmu”. Padahal hakikatnya mungkin seperti Yahudi, tidak mau melaksanakan ilmu-ilmu itu dalam kehidupan nyata. Cukup pintar ilmu, tapi miskin kemajuan amal.

    AMW.

  10. abisyakir berkata:

    @ Kahfi…

    tambahan…. sepertinya anda menilai bahwa isbal adalah “hal kecil” (maaf kalau saya salah paham). Perlu diketahui bahwa anda itu adlah perkataan besar (pertanggungjawabannya), karena pada dasarnya setiap syariat yang datang dari lisan Nabi shallallahu alaihi wa sallam itu adalah hal yang besar (walaupun ada yang terbesar, yakni tauhid dan aqidah)..

    ==> Soal isbal bukan perkara sepele. Tidak ada yang sepele dalam Syariat Nabi. Maksudnya, perkara isbal itu kalau dibandingkan dengan menjaga jiwa, agama, harta, akal, keturunan kaum Muslimin, ia bisa diletakkan dalam prioritas berikutnya. Ini bukan soal sepele atau tidak, tapi masalah prioritas.

    Mau tahu buktinya? Ketika seorang Muslimah dilecehkan kaum Yahudi di sebuah pasar mereka di Madinah, lalu seorang laki-laki Muslim dibunuh karena membela Muslimah itu. Nabi Saw segera menetapkan hukuman, kelompok Yahudi itu diusir dari Madinah. Contoh lain, ketika Ka’ab bin Malik Ra dan ketiga temannya tidak ikut dalam Perang Tabuk, mereka diboikot selama 40 hari oleh Nabi dan Shahabat Ra. Tetapi ketika ada manusia di jaman Nabi yang memakai celana sampai menutupi mata kaki, Nabi tidak menghukumnya, tidak menangkap, tidak memerangi, tidak mengusirnya keluar Madinah. Sama-sama ada pelanggaran, tetapi sanksinya berbeda.

    Dalam sejarah fiqih Islam, tidak pernah ada sebuah kaum diperangi, karena mereka celananya isbal. Coba deh, cari bukti-buktinya! Lagi pula, hal ini menjadi khilaf sejak lama. Ibnu Hajjar rahimahullah termasuk yang tidak menetapkan haramnya melabuhkan kain sampai menutup mata kaki, kecuali kalau dilakukan dengan khuyala’ (sombong). Kami sendiri alhamdulillah, selama ini tidak isbal.

    Ingat perkataan ibnu Abbas “jangan lihat kecilnya pelanggaran, tapi lihatlah BESARNYA yang kau ingkari”
    Yang jadi masalah bukan mengangkat celanyanya. Sebagian orang mungkin tidak mengamalakan hadits isbal karena ketidak tahuan atau merasa lemah dalam mengamalkan. …. Akan tetapi yang jadi masalah adalah sikap seorang muslim terhadap perkataan Nabi (dalam hal ini adalah “Apa yang dibawah matakaki dari pakaian itu adalah di neraka”)… inilah yang jadi masalah… Sebagian orang seolah tidak percaya dengan sabda ini lantaran banyaknya orang yang tidak mengamalkannya, seakan berkata “Masak…. cuma menutupi mata kaki…Fin Naaarrr???” Kalau masalahnya seperti ini tentu sudah masuk dalam bab aqidah dan masalahnya bisa menjadi besar…

    Jawab: Wahai fulan, mohon Anda tunjukkan sebuah bukti saja kepada kami, kepada para pembaca disini! Pernahkah dalam sejarah Islam, sejak jaman Salaf sampai saat ini, ada suatu kaum diperangi karena mereka melabuhkan celana sampai menutupi mata kaki? Mohon tunjukkan bukti-bukti kamu, kalau kamu adalah orang yang benar.

    Selama ini menjadi khilaf, ada yang mengharamkan isbal secara mutlak, ada yang mengharamkan isbal kalau disertai sombong di hati. Malah ada yang mengatakan, “Semua kesombongan haram. Termasuk yang mengangkat celana dengan hati sombong.” Anda harus memahami khilaf ini, sehingga bisa mendapatkan pelajaran yang bermanfaat.

    Janji Allah Ta’ala akan mengangkat pemimpin yang adil adalah jika para penduduk negerinya bertauhid (tidak syirik) dan mengerjakan amal-amal shalih. Dan yang namanya amal shalih adalah amal yang ikhlash dan sesuai dengan tuntunan nabi (sesuai penafsiran FUdhayl bin Iyadh dalam tentang ayat “ahsanu amalan” dalam surah Mulk). Paling ikhlas…. lagi-lagi tauhid… dan tauhid yang paling baik adalah yang paling murni… Perlu diketahui juga bahwasanya termasuk aqidah ahlussunnah, bahwa perbuatan2 maksiat itu mengurangi bobot Tauhid (lhat syarh hadits Bithathaqah….)… lagi-lagi tauhid….

    Jawab: Iya benar. Tauhid ini merupakan awal dari semua keberkahan. Tetapi orang bertauhid dalam pemahaman kelompok Anda kan: Setiap pekan sekali ikut pengajian Salafi, celana diangkat, isteri bercadar, tidak peduli urusan politik, ekonomi, sosial, patuh ke ustadz, berteman dengan kelompok sendiri, senang memojokkan kelompok lain. Istilah Tauhid yang Anda pakai itu benar, tapi aplikasinya yang salah. Sama saja seperti orang Syiah katanya mencintai Ahlul Bait, tapi sebenarnya mereka menghujat Ahlul Bait. Sama seperti LDII yang mengklaim mencintai hadits, tetapi juga mengkafirkan orang lain.

    Istilah Tauhid itu benar, tapi aplikasinya salah kaprah. Nabi Saw itu lho, membina Ummat dengan aqidah Tauhid sekitar 13 tahun di Makkah, setelah itu Islam memiliki fondasi peradaban yang kuat. Masalahnya, kita-kita ini kerap memahami “dakwah tauhid” dengan kemauan kita sendiri, bukan dengan ukuran seperti Nabi Saw dan Shahabat. Di mata kita, tauhid yang murni itu suatu tujuan “utopia” yang sangat abstrak, tidak akan mampu dicapai, sampai kapanpun. Sebab selalu merasa tidak murni-murni terus.

    Saya sebutkan salah satu kesalahan fundamental tarbiyah Salafi: “Mereka memahami tauhid itu teoritis sekali, hanya sebatas majlis taklim, kajian ilmu, bantah sana bantah sini. Mereka tidak mengeluarkan komitmen tauhid itu keluar dari lingkaran majlis taklim. Nabi Saw dulu mendakwahkan tauhid di Makkah disertai aplikasi langsung. Para Shahabat langsung dibenturkan dengan tantangan-tantangan di lapangan. Maka itu Allah Ta’ala menambahkan hidayah, taufiq kepada mereka. Tapi di mata salafi, setelah ngaji kitab tauhid, segala urusan diserahkan kepada Allah, agar Allah sendiri yang menyelesaikan semua masalah kehidupan ini. Nah, ini dia kesalahan fatalnya.” Dengan cara seperti itu, sampai Hari Kiamat pun tidak akan pernah tercapai kemurnian tauhid, sebab segalanya teori melulu. Tidak ada benturan dalam mengemban tauhid itu sendiri.

    Ironisnya, katanya mengemban Tauhid, tapi membenci gerakan penegakan Syariat Islam. Ini aneh bin ajaib. Padahal salah satu materi terpenting dari Syariat Islam adalah Tauhid itu sendiri.

    Saya akhiri komentar ini dengan meningatkan bahwa: JIka anda pernah membaca siroh nabawiyah, maka anda dapati disitu Nabi shallallahu alaihi wa sallam di awal2 dakwahnya di Makkah pernah ditawari oleh bangsawan Quraisy untuk menjadi pemimpin kaumny (MasyaAllah…) dengan syarat beliau menghentikan dakwah beliau yang menyeru kepada peribadahan kepada Allah saja. Apa sikap beliau? Apa beliau menerimanya? Yang kalau menurut logika kebanyakan orang, selayaknya beliau akan menerimanya. Nanti gampang kalau sudah terangkat jadi pemimpin, baru diteruskan dakwahnya.

    Ini yang ditawari orang paling shaliiih… kepercayaan Dzat yang ada di langit.. yang sudah dipersaksikah keshalihannya dan keikhlashannya dalam memimpin oleh Dzat yang Maha Benar dan seluruh kaum muslimin… bukan lagi sekedar “shalih” menurut rekomendasi manusia (yang sering dikendalikan oleh hawa nafsu) dan untuk menempuh kepemimpinan itu justru menempuh cara kotor kaum kuffar!!!!! Apa sikap beliau alaihi sholatu wa sallam terhadap tawaran itu???? Baca lagi sirah nabawiyah nya….

    Jawab: Saya mau tertawa rasanya… Kita sama-sama berdalil dengan Shirah Nabawiyyah, tapi kesimpulan berbeda. Kok bisa ya? He he he…

    Kesalahan dalam membaca Shirah Nabawiyyah bagian yang Anda sebutkan itu, kurang lebih sebagai berikut: “Anda menganggap pemerintahan itu tidak perlu, makanya Nabi menolak diberi kepemimpinan. Tapi masalahnya, orang Quraisy waktu itu memberi pemerintahan dengan syarat, Nabi tidak melanjutkan dakwahnya. Artinya, mereka memberi kekuasaan, tapi tidak tulus ikhlas. Berbeda dengan pemuka-pemuka Madinah yang memberi Nabi kekuasaan dengan komitmen sami’na wa atha’na (Baiat Aqabah I & II). Maka Pemerintahan yang ditawarkan orang Quraisy dianggap bukan solusi, hanya jebakan, atau fitnah belaka. Tetapi setelah Nabi membangun pemerintahan di Madinah, beliau melindungi pemerintahan itu dengan segenap jiwa raganya. Jadi pemerintahan itu sangat penting. Kalau tidak, buat apa Nabi sampai berperang membela negara Islam Madinah?”

    “Adapun masalah yang dihadapi Ummat Islam selama ini, berbeda. Ummat Islam sudah Muslim, meskipun kualitasnya jelek. Tidak bisa persis diperlakukan seperti kaum Muhajirin hijrah ke Madinah. Kalau Anda mau memakai pendekatan seperti dalam Shirah itu secara mutlak, berarti: Ummat Islam di Indonesia dianggap minoritas, harus hijrah ke negara lain, harus mencari tempat lain untuk membangun negara. Padahal seharusnya, Ummat Islam di Indonesia ini diperbaiki akidah, amaliyah, dan muamalahnya. Bukan dengan hijrah ke luar negeri.”

    Kalau Anda komitmen dengan Shirah secara mutlak, dalam arti dibuat persis seperti itu, ya mau tidak mau, kita harus memperbaiki akidah Ummat Islam sebaik-baiknya, lalu hijrah ke negeri lain. Iya kan?

    Yo wis segitu dulu, nanti disambung lagi. Walhamdulillah Rabbil ‘alamin. Wallahu A’lam bisshawaab.

    AMW.

  11. kahfi berkata:

    semangat sekali… saya sampai terpancing mendebat anda
    sayangnya saya sekarang sadar betapa jelek dan percumanya orang yang berbantah-bantahan. Anda malah menyambut baik bantah-bantahan ini

  12. abisyakir berkata:

    @ Kahfi…

    Semangat sekali… saya sampai terpancing mendebat anda. Sayangnya saya sekarang sadar betapa jelek dan percumanya orang yang berbantah-bantahan. Anda malah menyambut baik bantah-bantahan ini.

    Ya Allah ya Rabbi, kamu ini pintar saja memojokkan orang lain. Masya Allah, kamu pintar sekali mencari-cari celah untuk memojokkan. Seakan, di matamu, memojokkan orang lain tanpa hak, itu sebuah kenikmatan tersendiri.

    Coba lihat dengan hati adil, wahai kawan! Kamu memberi komentar berpanjang-panjang, berseri, sampai 4 komentar sekaligus. Waktu itu saya tidak lagi online, jadi tidak tahu kalau komentarmu masuk. Pas ada kesempatan online, saya jawab kritik-kritik kamu dengan argumen-argumen yang ada. Bukannya kamu bersyukur telah ditunjukkan jawabnya, malah berkelit, berkelit, berkelit lagi.

    Kini kamu pura-pura “tidak suka berdebat”, lalu kamu menuduh saya “suka berdebat”. Padahal kamu yang memulai membuat komentar panjang-panjang itu. Bukannya kamu menanggapi isi utama tulisan, malah lari ke pinggir-pinggir, ke hal-hal yang bukan substansi utama tulisan tersebut.

    Berdebat di segala tempat adalah jelek, tetapi berdebat pada forumnya adalah diperbolehkan. Ini kan forum berdebat, silakan kalau kamu memiliki sekian argumen yang bisa diajukan. Silakan sampaikan. Jangan berpura-pura “suci”, padahal hatinya penuh debu.

    AMW.

  13. abisyakir berkata:

    @ Kahfi…

    Masih ingat sebuah slogan kaum Khawarij, “kalamul haq yuridu bihil bathil” (perkataan yang haq, tapi dipakai untuk kebathilan).

    Inilah yang saya lihat dari orang-orang seperti @ kahfi, salafy.or.id, majalah Asy Syariah, eks LJ, dan kawan-kawan. Mereka berperilaku seperti Khawarij.

    Lho, apa benar? Apa buktinya?

    Saya ungkap sebuah bukti. Itu baca tulisan yang disebutkan oleh @ kahfi dalam blognya di atas (Jeleknya Berdebat dan Berbantahan Mengenai Agama). Kalau Anda masuk kesana, nanti akan disebutkan riwayat-riwayat, perkataan para Salaf, intinya: “Berdebat itu jelek, jelek.”

    Tetapi sekarang dia bisa ngomong seperti itu, ketika kesesatan-kesesatan mereka mulai dibantahi satu per satu. Ketika kebathilan akidah mereka mulai terkuak satu per satu. Ketika kebobrokan ustadz-ustadznya mulai dipahami masyarakat.

    Tetapi lihatlah pada 10 tahun, 7 tahun, atau setidaknya 5 tahun lalu! Lihatlah bagaimana congkaknya mereka dengan segala kesesatan yang ada di pundaknya! Masya Allah, saya masih ingat di salafy.or.id ada kavling khusus untuk menjelek-jelekkan manusia, organisasi, lembaga Islam, dan sebagainya. Majalah Salafy, Asy Syariah, dan sejenisnya banyak memuat tulisan-tulisan “tahdzir ahli bid’ah”. Malah blog-blog setan seperti fakta, tuk pencari kebenaran, dsb. mereka setiap hari mempublikasikan fitnah-fitnah mengerikan.

    Nah, itulah amal-amal mereka. Mereka beramal untuk mencari ridha ustadz-ustadznya, untuk kebanggaan kelompok karena dikenal sebagai “salafy”, karena rasa malu dan setia kawan kepada teman-teman pengajian. Mereka meneruskan cara-cara seperti itu dengan segala kepentingan yang tidak jelas.

    Ketika mereka terdesak di segala lini, mendadak sekarang omongannya berubah, “Kami tidak suka berdebat. Kami tidak suka jidal. Debat itu jelek, jelek. Tinggalkan debat, terus menuntut ilmu.” Ya Allah, mereka kini bicara seperti ini, tetapi sebelumnya sangat haus untuk mencela, memfitnah, menyerang, memboikot, membuka aib-aib manusia, memecah-belah, dan sebagainya.

    Nah, inilah salah satu watak Khawarij. Ekstrem dalam amal. Kalau diberi kesempatan mendebat, mereka seperti manusia yang tidak memiliki hati nurani. Tetapi ketika giliran terdesak, mereka memakai atsar Salaf sebagai tameng. Atsar Salaf dikangkangi untuk memenuhi hawa nafsu mereka sendiri. Sangat memalukan!!!

    Bayangkan, orang-orang seperti ini katanya “tidak suka debat”. Tapi bacaannya masih sama, buku Qutbiyyah, Adhwa Islamiyyah, Mathain Sayyid Quthb, Madarikun Nazhar, Jamaah Wahidah, dan sejenisnya. Padahal isi-isi buku seperti itu sangat membahayakan akal manusia (Muslim). Orang bodoh akan sangat mudah terpengaruh buku-buku seperti itu.

    AMW.

  14. abu naura berkata:

    …..makanya ya ustadz tak heran jika keluar ungkapan “khowarij teriak khowarij”

    sedikit -sedikit, kilaaabunnar , killaaabunnar,….astaghfirullah ….

    mereka ini selalu gampang sekali dengan gegabah menyamakan / menuduhkan sabda dari Nabi MUHAMMAD Saw kepada orang-orang di luar kelompoknya , sehingga jatuhlah vonis itu.

    aduhai… saudaraku siapakah engkau ini , malaikatkah ??

    persis saat jatuhnya vonis kafir dari orang -orang khowarij ketika menuduh shohabat ‘ali dengan mengkafirkan beliau karena dianggap tidak bertahkim dengan hukum allah , ya..allah.. kalimatul- haq tapi di tafsirkan seenak- nya sendiri sesuai hawa nafsu mereka ,. ya allah ya robby dimanakah keadilan…..

  15. ikhwan berkata:

    @ kahfi
    golongan antm itu memecahbelah umat!!

  16. tsauri berkata:

    ngga ada persatuan dalam kebatilan titikkek emang pekaes bersatu dg orang kafir

  17. Anonim berkata:

    oh salafy……!

  18. purwa.adi berkata:

    assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh

    terimaksih pada penulis
    dan mudah2an kita semua selalu dalam jalan yang diridhoi oleh Alloh..SWT

  19. Mail berkata:

    astaghfirulloh. saya hanya bingung sendiri, mana yang bener.. Ya Alloh tunjukkan hamba jalan lurus-Mu, amin. bagi orang-orang yang tak paham ilmu bahasa arab seperti saya, hanya bisa berharap pertolongan-Nya. masyaAlloh..

  20. Si'Ardjuna berkata:

    @.mail…

    aamiin..^_^..

    yakinlah , sesungguhnya saya sangat yakin bahwa Allah subhanahu wata’ala pasti bakal membimbing kita, mengampuni kita, menyayangi kita & memberikan kebaikan2 kpd kita..
    sungguh, dia sangat baik sekali…^_^…

  21. Difan berkata:

    Assalamu’alaykum Wr.Wb..

    Numpang komen ya?
    Saya suka blog ini, hampir semua artikel disini saya baca, Alhamdulillah bertambah wawasan dan semangat Islam saya yang awam ini.

    Cukup adil, dan ilmiah komentar penulis/admin blog ini dalam merespon setiap bantahan dari para komentatornya.

    Blog ini mewakili apa yang selama ini mengganjal di hati saya. Beberapa artikel disini ada yang saya copy ke blog saya, mohon izin ya buat admin/penulis, jangan khawatir saya cantumkan sumbernya.
    Semoga Allah Ta’ala memberi kebaikan kepada penulis..

  22. abisyakir berkata:

    @ Difan…

    Alhamdulillah, syukran jazakumullah atas apresiasinya, alhamdulillah. Silakan boleh copy paste kok, semoga bermanfaat, amin Allahumma amin.

    Admin.

  23. Airul Iqwan berkata:

    assalamu’alaikum abi syakir

    bi, jadi initinya kita wajib gk taat sama pemerintah di indonesia ini?

    mohon dijawab ya bi

  24. abisyakir berkata:

    @ Airul Iqwan…

    Wa’alaikumsalam wr wb. Pemerintah Indonesia itu sebenarnya BUKAN Ulil Amri yang kaum Muslimin wajib taat kepadanya, setelah taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena taat kepada Ulil Amri itu kan urusan agama; dalam urusan agama, niatnya harus ikhlas, caranya harus benar (sesuai Syariat Islam). Kalau UU yang jadi acuan kehidupan bukan Syariat, ya tidak cukup untuk ditaati.

    Meskipun begitu, tidak juga semua yang datang dari Pemerintah RI otomatis batil, rusak, dan harus ditolak. Pada sisi-sisi tertentu yang baik, bermanfaat, tidak bertentangan dengan tujuan Syariat Islam; itu boleh didukung, dibantu, disukseskan; tanpa harus mendukung ideologi dan UU-nya yang tidak Islami.

    Semoga bermanfaat.

    Admin.

  25. Abu Mumtazah berkata:

    Ini artikel kok kesana-sini g fokus..
    Ya kalau mau membanta satu masalah fokus bantah dengan dalil..bukan dengan pemikiran sendiri dan dengan data yang ada di angan-angan antum..
    Terlihat sekali baasa politiknya.. ga fokus dan terkesan kebanyakan bubuhan pemikiran sendiri yang ga jelas kebenarannya..

  26. Anonim berkata:

    saya suka perdebatan ini asalkan ilmiah mudah2an bisa mneydarkan keangkuhan orang yg selama ini merasa paling benar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: