Metode Perjuangan Islam

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Tulisan ini bukan sesuatu yang baru. Sudah banyak ulama, cendekiawan, penulis Muslim membahasnya. Saya sekedar berusaha menyegarkan kembali memori kita. Bahkan dalam blog ini sebenarnya ia diungkap juga, hanya saja “tercecer” dalam banyak tempat. Disini akan coba ditulis secara ringkas, namun padat.

Banyak kaum Muslimin bertanya-tanya, “Bagaimana cara kita membangun kembali kejayaan Islam, setelah kaum Muslimin terpuruk seperti saat ini?” Demikian tema besarnya.

Para ulama menyampaikan jawaban masing-masing, bahkan hal itu kemudian menjadi ijtihad mereka. Kalau benar diberi pahala dua, kalau salah diberi pahala satu. Ada ijtihad yang hanya menjadi ijtihad, menjadi wacana kitab, menjadi pendapat ilmiah, tapi ada juga ijtihad yang menjadi pangkal bangkitnya gerakan-gerakan Islam modern. Gerakan Syaikh Ibnu Abdul Wahhab, gerakan Sanusi di Afrika Utara, gerakan Al Ikhwan dengan perintisnya Syaikh Hasan Al Banna, gerakan Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dengan Hizbut Tahrir, gerakan Syarikat Islam di Indonesia, dan sebagainya. Semua ini muncul sebagai jawaban atas pertanyaan di atas. Syaikh Nashiruddin Al Albani juga peduli dengan isu ini. Beliau menyerukan Tarbiyah Wa Tashfiyyah (pembinaan dan pembersihan kitab-kitab ilmiah dari unsur kelemahan dan kesesatan).

Namun ada pendapat yang menarik. “Kalau Ummat ini ingin bangkit, ikutilah metode Nabi Saw, karena beliau adalah sebaik-baik teladan,” demikian inti pemikirannya.

Untuk memahami Metode Nabi Saw, mau tidak mau kita harus membaca Shirah Nabaiwiyyah, gambaran perjuangan beliau dalam menegakkan Islam. Namun kitab-kitab Shirah Nabawiyyah banyak bercampur dengan riwayat-riwayat yang tidak shahih. Bagaimana solusinya? Ya, setidaknya baca kitab Shirahnya Syaikh Shafiyurrahman Al Mubarakfury. Kitab Shirah tulisan beliau diakui oleh Rabithah Alam Islamy sebagai kitab shirah terbaik yang ditulis di jaman kontemporer ini. Lagi pula, kejadian-kejadian dalam Shirah yang menjadi dasar hikmah perjuangan itu rata-rata sudah diakui secara ijma’ oleh para muarrikh (ahli Tarikh Islam).

Disini kita akan membahas secara ringkas tentang momentum-momentum Shirah Nabawiyyah yang bisa menjadi pijakan untuk memahami metode perjuangan Islam, yaitu sebagai berikut:

[01] Nabi Saw sebelum menjadi Nabi, beliau amat sangat peduli dengan kerusakan moral-spiritual yang menimpa bangsa Arab ketika itu. Selain itu beliau percaya, bahwa solusinya hanya dengan Wahyu dari langit. Oleh karena itu, beliau ber-tahanuts untuk mencari petunjuk ke gua Hira’. Beliau bersepi-sepi, mencari petunjuk dari langit. Padahal kalau melihat gua Hira’ sendiri, selain jaraknya cukup jauh dari keramaian Makkah, untuk menuju lokasi itu diperlukan perjuangan tidak mudah.

(Catatan: Jadi awal kebangkitan Islam dimulai oleh dua hal = Kepedulian terhadap kondisi masyarakat, dan kerinduan besar kepada Wahyu dari langit).

[02] Nabi Saw setelah mendapatkan Wahyu pertama, beliau ketakutan sehingga meminta diselimuti oleh isterinya. Hal ini mencerminkan suatu sifat manusiawi. Nabi sangat rindu dengan petunjuk dari langit, tetapi saat petunjuk itu datang, beliau pun ketakutan pada awalnya. Namun isteri beliau menenangkan, dan menyebutkan kebaikan-kebaikan Nabi kepada manusia, seperti menyambung shilaturahim, menolong orang kesusahan, menunaikan hajat manusia, dan sebagainya. Hal itu menentramkan hati beliau. Ternyata, reputasi perbuatan baik itu bisa menjadi benteng untuk menghadapi guncangan sebesar apapun.

(Catatan: Seharusnya kaum Muslimin sangat menghargai Al Qur’an sebagai Wahyu yang sangat berharga. Jangan meremehkan Al Qur’an, sebab pada awalnya Ia dinanti kedatangannya ke muka bumi dengan penantian yang amat sangat berat).

[03] Nabi Saw mendapat Wahyu secara setahap-setahap. Begitupun beliau ajarkan Wahyu itu kepada orang-orang terdekat juga setahap demi setahap. Beliau berdakwah dari kalangan yang paling dekat terlebih dulu.

(Catatan: Manusia adalah pribadi, tetapi juga bagian dari sebuah keluarga. Dakwah tidak bisa dijalankan individualis, tetapi harus juga melibatkan orang-orang terdekat terlebih dulu).

[04] Dengan turunnya Surat Al Mudatstsir, Nabi Saw diperintahkan untuk mulai berdakwah secara terbuka. Beliau diperintahkan mulai menyiarkan ajaran Islam kepada masyarakat di luar keluarga dan kerabatnya. Menurut ahli sejarah, masa dakwah terbuka itu dimulai sekitar 3 tahun setelah Nabi mendapat Wahyu. Tentu saja, beliau harus siap menghadapi apapun resiko yang muncul.

(Catatan: Hal ini menunjukkan, bahwa dakwah Islam kalau dijalankan dengan benar, ia ada kemajuannya. Tidak jalan di tempat. Munculnya perintah dakwah terbuka, itu menandakan fondasi dakwah Ummat ketika itu sudah kuat untuk bertarung dengan realitas umum).

[05] Seruan dakwah Nabi Saw intinya ada dua: Mentuhidkan Allah dan mengikuti Syariat Nabi. Inilah hakikat Syahadat. Kalau mengikuti Syahadat, manusia dijanjikan syurga, kalau mengingkari mereka dijanjikan adzab yang pedih. Sangat sederhana konsepnya. Tetapi karena masyarakat jahiliyyah waktu itu merupakan akumulasi dari kebobrokan moral selama berabad-abad lamanya, sejak bangsa Arab meninggalkan Syariat Ibrahim As, maka bisa dipahami terjadinya benturan keras antara masyarakat jahiliyyah Makkah dengan dakwah Nabi. Bisa diibaratkan seperti air kolam yang sangat keruh, kotor, hitam. Lalu datang tetesan-tetesan air bening ke kolam itu. Lama-lama semakin banyak air bening yang tercurah dari langit. Jelas, antara air kotor dan air jernih itu terjadi pertarungan, siapa yang paling dominan dari keduanya.

(Catatan: Jika dakwah suatu kaum benar, maka dakwah itu pasti berlawanan dengan ajaran syaitan. Akibatnya, pasti terjadi benturan-benturan sosial, antara pembela Al Haq dengan pembela nilai-nilai jahiliyyah. Jadi dalam dakwah Islam tidak boleh selalu “mencari aman”).

[06] Benturan-benturan dakwah semakin lama semakin sengit. Secara pribadi, Nabi mendapat celaan, hinaan, kekasaran, perlakuan buruk dari orang-orang jahiliyyah. Para pengikut Nabi dari kalangan orang-orang kaya, kuat, dan mapan, mereka mendapat hambatan bisnis, hambatan hubungan keluarga, kesulitan pertemanan, dsb. Sedangkan pengikut Nabi dari kalangan orang lemah, mereka disiksa, diintimidasi, diteror, sampai ada yang dibunuh, seperti keluarga Yassir Ra.

(Catatan: Ini pertanda dakwah Islam ketika itu menjadi sebuah kekuatan solid. Ketika mendapat perlakuan buruk, semua merasakannya, sejak Nabi dan keluarga, sampai kaum lemah. Disana tumbuh rasa solidaritas, saling tolong-menolong, menghadapi tantangan yang sama. Kalau saat ini, istilahnya, menghadapi “common enemy”).

[07] Dalam dakwah di Makkah, Nabi Saw menggelar multi perjuangan. Beliau terus mendapat Wahyu secara bertahap, beliau mengajarkan Wahyu, beliau menyampaikan dakwah, beliau memantau para pengikutnya, beliau melakukan lobi-lobi untuk mengatasi berbagai masalah. Beliau mendukung upaya Abu Bakar As Shiddiq untuk membeli budak-budak yang disiksa tuannya, seperti Bilal bin Rabah Ra. Nabi juga melakukan usaha-usaha siyasah, seperti mengutus para Shahabat hijrah ke Habasyah, beliau mencoba hijrah ke Thaif, beliau meminta perlindungan Muth’im bin ‘Ady untuk masuk Makkah, beliau menghadapi boikot total kaum musyrikin selama 3 tahun. Bahkan Nabi Saw selalu mengingat-ingat tokoh-tokoh kaum musyrik yang berjasa menolong dakwah beliau, sekalipun mereka tetap berada dalam kekafiran.

(Catatan: Dakwah itu bukan hanya “ngaji”, membuat majlis taklim, menyebar buletin, membuat blog, dan sejenisnya. Dakwah cakupannya sangat luas. Segala hal yang halal dan bermanfaat bagi dakwah silakan ditempuh. Jika haram atau merugikan, tinggalkan!).

[08] Tanpa disadari, berbagai ujian, cobaan, fitnah, musibah, dan sebagainya yang menimpa Nabi Saw dan para Shahabat di Makkah ketika itu, ternyata ia adalah sebuah upaya penggemblengan iman sekuat-kuatnya, setangguh-tangguhnya, semurni-murninya. Para Shahabat Muhajirin, ternyata di kemudian hari menjadi pilar-pilar peradaban Islam ketika peradaban itu dibangun di Madinah. Intinya, semua itu merupakan tahapan persiapan kader-kader peradaban Islam yang mumpuni. Namun belum, ujian belum selesai. Ujian terberat sebagai ujian keimanan final, adalah HIJRAH para Shahabat ke Madinah. Inilah ujian final, sebelum kaum Muslimin siap membangun peradaban “air jernih” di atas bimbingan langit.

(Catatan: Dakwah Islam termanifestasikan dalam kehidupan Islami di bawah payung kedualatan agama Allah. Untuk itu dibutuhkan kader-kader terbaik yang akan memikul amanah peradaban Islam. Kualitas kader terbaik, iman mereka sangat kokoh. Hal itu tercapai, tidak karena “ngaji melulu”, tetapi disertai ketabahan, ikhtiar, dan perjuangan menghadapi segala tantangan).

[09] Hijrah Nabi Saw ke Madinah, memiliki banyak makna. Di antaranya, segala hasil jerih payah manusia di jalan Allah, tidak disia-siakan. Selalu ada hasilnya. Penerimaan masyarakat Madinah terhadap seruan dakwah Islam, adalah kemenangan gilang-gemilang. Selain itu hijrah merupakan momentum penyatuan dua kekuatan, Muhajirin dan Anshar. Muhajirin adalah kader-kader terbaik Islam, sedangkan Anshar adalah penolong-penolong paling tangguh terhadap misi peradaban Islam. Bila telah bertemu dua kekuatan ini (kader dan para penolong tangguh), maka kemenangan Islam terealisasikan disana.

(Catatan: Dari sisi tarbiyah akidah, kaum Muhajirin jauh lebih mapan mendapat gemblengan dari Nabi Saw. Sedangkan kaum Anshar, baru dua tahun Nabi hijrah ke Madinah, mereka sudah diajak berperang dalam Perang Badar. Jadi, harus dibedakan dengan jelas proses pembentukan kader dengan pengerahan kekuatan-kekuatan pendukung. Keduanya berbeda, namun sering disalah-pahami).

[10] Setelah Nabi Saw dan kaum Muslimin memiliki wilayah di Madinah, mereka pun membangun peradaban Islam, rahmatan lil ‘alamiin. Mula-mula Nabi berusaha mengamankan posisi politik kaum Muslimin dengan membuat Piagam Madinah yang ditanda-tangani bersama kabilah-kabilah Yahudi dan kabilah-kabilah Arab Madinah. Posisi Islam masih lemah, jadi tidak mungkin bersikap ofensif. Piagam Madinah ini memiliki dua makna penting: Pertama, sebagai upaya efektif melindungi tunas peradaban Islam yang baru tumbuh; Kedua, sebagai suatu akad hukum untuk menyingkirkan siapa pun yang di kemudian hari terbukti melanggar. Piagam Madinah ternyata sangat bermanfaat untuk mengusir Yahudi di kemudian hari dari Madinah.

(Catatan: Adalah suatu kebohongan pemikiran yang mengatakan, bahwa untuk membangun peradaban Islam, suatu kaum harus Islami semuanya terlebih dulu, harus shalih semuanya, harus berakidah tauhid semurni-murninya semuanya. Buktinya, saat membangun Islam di Madinah, Nabi menghadapi masyarakat Madinah yang awam Islam, kaum Badui, orang Yahudi, bahkan orang-orang munafik. Tetapi misi penegakan Islam terus berjalan, tanpa menunggu semua “bersih dulu”).

[11] Setelah peradaban Islam tumbuh di Madinah, Allah menguji peradaban ini dari luar dan dalam. Dari luar, kaum Muslimin harus menghadapi serangan-serangan orang musyrik Makkah. Dari dalam, kaum Muslimin menghadapi pengkhianatan Yahudi, pengkhianatan kaum munafik, kelemahan keimanan sebagian Shahabat, perselisihan antar kaum Muslimin, dan sebagainya. Namun dengan bimbingan Nabi, serta pertolongan Allah, semua masalah berhasil dihadapi dengan sangat baik. Alhamdulillah.

(Catatan: Banyak orang meremehkan urusan komando, padahal sejak awal Islam sampai tegak di Madinah, Nabi menerapkan hal itu. Dalam hadits-hadits kita membaca, sampai urusan sekecil-kecilnya, misalnya “cara wanita menghentikan darah nifas yang terus keluar”, semua itu dikonsultasikan kepada Nabi Saw. Imamah dalam Islam itu sangat jelas posisinya, seperti imamah dalam shalat jamaah. Tapi tentu bukan “konsep imamah” seperti yang diyakini kaum Syiah).

[12] Perkara lain yang sangat penting, yaitu melindungi peradaban Islam dari kaum kapitalis yang menguasai pundi-pundi harta benda. Mereka adalah kaum Yahudi. Mereka memiliki kekuatan maal besar, yang dengan kekuatan itu, mereka bisa melakukan apa saja untuk merongrong peradaban Islam. Maka dengan kecerdikan siyasah luar biasa, walhamdulillah, Nabi berhasil mengusir kaum Yahudi dari Madinah, mulai dari Bani Qainuqa, Bani Nadzir, Bani Quraidhah, sampai menaklukkan benteng Khaibar milik Yahudi.

(Catatan: Islam tak akan tegak dengan benar di suatu negeri, selama kaum kapitalis itu menguasai pundi-pundi kekayaan dahsyat. Mereka pun sesumbar, “Dengan uang, kami bisa membeli apa saja.” Termasuk membeli hukum, dukungan politik, media massa, bahkan fatwa ulama).

[13] Setelah peradaban Islam di Madinah kokoh, mampu menghadapi rongrongan dari luar dan dalam, akhirnya kemenangan demi kemenangan Islam berdatangan. Kemenangan monumental ialah dengan takluknya Kota Makkah ke tangan kaum Muslimin. Disini berlaku prinsip, “Pertahanan terbaik adalah menyerang.” Kemenangan-kemenangan ini malah dilanjutkan oleh Khulafur Rasyidin di masa setelahnya.

(Catatan: Jadi tabiat peradaban Islam itu sangat dinamis. Tidak seperti kehidupan kaum Muslimin saat ini, egois dengan profesi, ambisi mencari keuntungan materi, senang-senang dengan hiburan, lebih mengutamakan pribadi dari agama, dan sebagainya. Di jaman modern, budayawan-budayawan Yahudi berhasil mengubah orientasi budaya Ummat, dari budaya dinamis, penuh perjuangan, menjadi budaya hedonis, mementingkan kesenangan sendiri).

[14] Di puncak kemenangan Islam, salah satunya turun Surat An Nashr. Dalam Surat ini dijelaskan, bahwa setelah kita mendapat kemenangan, kita harus bertasbih dan memuji Allah atas segala nikmat-Nya, lalu kita istighfar memohon ampunan atas segala dosa-dosa selama berjuang.

(Catatan: Jadi, di atas sifatnya yang sangat dinamis, Islam itu tetap merupakan agama penghambaan kepada Allah Ta’ala. Islam bukan agama imperialis, kolonialis, materialis, dan semacamnya. Islam adalah agama ibadah kepada Allah Al Wahid. Di puncak-puncak kegagahan prajurit-prajurit Islam, mereka harus bersujud, berlinang air-mata, memohon ampunan Allah. Pada akhirnya, perjuangan kita hanyalah suatu sarana untuk membuktikan Sifat Rahmaan Allah kepada alam semesta ini).

Demikian sekilas ringkas tentang tadabbur Shirah Nabawiyyah. Banyak hal-hal keliru selama ini dalam memahami Shirah, lalu melahirkan penyimpangan-penyimpang, kemudian berujung kekalahan Ummat.

Sebenarnya, jalan untuk mencapai kemenangan itu mudah dipahami. Allah tidak menyembunyikan jalan tersebut dalam teori-teori yang rumit. Hanya masalahnya, “Maukah kita berjuang? Siapkah kita terjun membela Islam? Siapakah kita berkorban total untuk kemenangan Islam?”

Nah, disinilah masalah utamanya. Yahudi telah berhasil mengamputasi kekuatan Ummat dengan menyediakan segala bentuk budaya hidup masa kini, yang sebenarnya semua itu hanyalah WAHN belaka. Wahn inilah yang telah mematikan jalan kebangkitan Islam.

Tetapi Wahn itu milik siapa? Milik siapa, Akhi dan Ukhti?

Wahn, itu ternyata milik Anda, milik teman-teman kita, milik ulama-ulama kita, milik ustadz-ustadz kita, milik yayasan-yayasan kita, milik semua kaum Muslimin, dan tentu saja milik saya juga. Inilah masalah utama kita.

Alhamdulillah, Allah telah menampakkan jalan terang. Hanya memang, hati kita berat untuk memikul resikonya.  Kita merindukan kemenangan Islam, tapi tak mau membayar harganya. (Bisa tidak ya kita memenangi pertarungan peradaban, tanpa harus berjuang? Misalnya cukup dengan membaca komik, main facebook, atau nonton TV di rumah?).

Demikian yang bisa dikemukakan. Mohon maaf  atas semua salah dan kekurangan. Kepada Allah jua saya memohon ampunan, hidayah, dan rahmat-Nya. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan

7 Responses to Metode Perjuangan Islam

  1. kopral cepot berkata:

    inspiratif n kontemplatif … moga 2010 tetep bejuang 😉

  2. killua berkata:

    subhanallah

    menambah wawasan euy..

    juga keyakinan.. insyaAllah ^^

    sip sudah…

    entar lagi, sambutlah kemenangan yang ‘dekat’ ini.. tergantung pada usaha yang kita lakukan saat ini…

  3. AJO berkata:

    Assalamu’alaikum.. KRITIK: Ustadz, siapkah Anda berjuang?? Apakah perjuangan Anda sebatas ‘nulis blog’ dan menyalah2kan semua gerakan?
    Atau Anda ingin membuat ‘kelompok’ tersendiri?

  4. abisyakir berkata:

    @ AJO…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Syukran Akhi, syukran atas kritiknya. Insya Allah setiap kritik akan diterima dengan lapang dada. Semoga Allah Ta’ala mengampuni saya, Anda, dan kita semua atas dosa-dosa yang kita lakukan. Amin.

    Ya, menulis blog seperti ini merupakan bagian dari perjuangan juga. Ya, berjuang dengan media, menyampaikan informasi, pandangan, wawasan, inspirasi pemberdayaan, dan lain-lain sebagaimana yang Allah ijinkan hal itu terjadi. Ya, ini perjuangan juga.

    Mohon maaf kalau saya menyalah-nyalahkan semua gerakan. Ya, tujuannya tentu bukan untuk menyalahkan, tetapi meluruskan penyimpangan, siapapun pelakunya. Termasuk kalau saya sendiri salah, ya silakan salahkan. Kan, tujuan kita semua agar Kitabullah dan As Sunnah berdaulat dalam kehidupan ini. Tetapi kalau kesan yang muncul, saya terkesan suka menyalahkan, mohon dimaafkan. Semoga ke depan hal itu bisa diperbaiki, dengan pertolongan Azza Wa Jalla. Amin.

    Apakah ingin membuat gerakan tersendiri?

    Intinya begini: Marilah kita saling bekerjasama dari berbagai arah, menuju satu tujuan: Menegakkan kalimah Allah di muka bumi. Silakan siapapun berjuang di jalan-jalan kebajikan, dengan tujuan memuliakan agama ini. Bisa dengan media, bisnis, pendidikan, kesehatan, penjagaan akidah, menolak pemurtadan, menolak Liberalisasi, dsb. Dalam amal ini tentu setiap Muslim silakan terlibat, sesuai kemampuan dan kesempatan yang ada. Amal Islami adalah wilayah yang luas, tidak boleh dimonopoli siapapun, atas alasan apapun.

    Usaha blog seperti ini juga merupakan dedikasi untuk berdakwah di jalan Islam, sekuat kemampuan. Jadi sifatnya mengembangkan wawasan, pemahaman, serta menunaikan amar makruf nahi munkar. Tetapi tentu dibatasi oleh kelemahan-kelemahan media blog itu sendiri, dan tentu kelemahan diri saya dengan segala daya-upaya yang ada.

    Kalau ditanya, apa saya mau membuat kelompok tersendiri? Kelompok dalam pengertian “jamaah dakwah” tidak. Tetapi kelompok dalam pengertian usaha-usaha pemberdayaan, iya. Saya terobsesi, dengan mengharap pertolongan Allah Ta’ala, ingin banyak berkecimpung membangun usaha-usaha bisnis Muslim. Jujur saja, selama ini Ummat kurang memiliki kekuatan maal untuk menjaga eksistensi agamanya.

    Nah, itu sudah dijawab apa-adanya. Syukran atas masukannya. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

    AMW.

  5. AJO berkata:

    Syukron ustadz atas jawabannya

  6. aku bodoh berkata:

    Ustadz, menurut ‘penerawanganku’ yang bodoh ini, biang kehancuran negeri yg katanya adalah negeri berpenduduk muslim TERBESAR DUNIA ini adalah karena MENCAMPAKKAN SYARI’AT ISLAM dan menggantinya dgn hukum taghut yaitu Ideologi Sekularisme-kapitalisme. Menurut saya yg bodoh ini, sudah selayaknya kita kembali ke pangkuan ISLAM dgn penerapan syariat ISLAM secara TOTAL.. Untuk melindungi jiwa, harta, dan kehormatan kaum muslimin maka diperlukan adanya eksistensi Daulah/negara Islam sebagaimana baginda Rasulullah membangun daulah Islam di madinah setelah beliau hijrah. Beliau sendirilah yang menjadi kepala negaranya. Dengan ini, konsep jihad , dan dakwah kepada bangsa2 yg belum menerima cahaya Islam dapat terlaksana dgn sempurna. Lebih jauh lagi, melalui daulah Islam inilah syari’at Islam yang sempurna itu dapat diterapkan sebagaimana yg DIWAJIBKAN oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an.
    Menurut saya yg bodoh ini, arah dakwah kita adalah Isti’nafil hayatul Islam (mengembalikan kehidupan Islam) dan dakwah menyeru manusia kepada Islam. Mengembalikan kehidupan Islam yaitu dgn PENYADARAN kaum muslimin atas realitas yg terjadi pada diri mereka, bahwa mereka telah dijauhkan dari ISLAM melalui upaya2 sistematis, dan dicekoki dgn isme2 yg bertentangan dgn Islam: Sekularisme-kapitalisme , pluralisme, nasionalisme dan sebagainya…
    Semuanya tak berhenti pada penyadaran saja, tetapi juga usaha dalam rangka membangun kembali daulah Islam dalam rangka memenuhi kembali kewajiban kita kpd ALLAH SWT untuk menerapkan Syari’at ISLAM scr SEMPURNA…

    Wallahu a’lam bishshawab…

  7. abisyakir berkata:

    @ Alexa…

    Ya, apa yang Anda katakan tidak jauh dari kebenaran, insya Allah. Tapi mohon jangan memakai nama “aku bodoh”. Kadang nama demikian sebagai bentuk tawadhu’ kita kepada Allah. Tapi khawatir juga hal itu akan membuat kita semakin minder, tidak percaya diri. Lebih baik memakai nama-nama yang wajar, seperti “anak manusia”, “putra zaman”, “kesatria”, “pejuang”, dan semisalnya. Syukran.

    AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: