Seorang Tokoh Meninggal…

Sore kemarin saya ikuti berita di TV, “Suara Anda”. Tapi lucu juga. Pertama-tama, TV itu salah menempatkan berita. Tertulis di teks pilihan berita soal buku “Gurita Cikeas”. Tapi tayangan yang muncul, tentang Kejaksaan mau banding kasus Prita.

Kelucuan kedua, belum juga acara “Suara Anda” dilanjutkan, presenter “disela” oleh telepon dari belakang (pengarah acara). Katanya, kondisi Abdurrahman Wahid di RSCM kritis. Perhatian tiba-tiba diarahkan ke topik “Gus Dur” ini. Maka semua skema berita pada “Suara Anda” itu langsung diganti “Breaking News”. Waktu saya ganti channel ke TV lain, disana sudah dikhabarkan dengan status “wafat”.

Begitu tergopoh-gopohnya media massa, sampai seperti kehilangan kontrol. Semua agenda yang mau diberitakan mendadak diganti. Bahkan “pemukulan George Aditjondro” kepada Ramadhan Pohan sampai dilupakan. Mungkin George “Gurita Cikeas” Aditjondro saat ini lagi bersyukur berkali-kali. “Syukur, syukur, syukur ada berita lain… Jadi orang-orang lupa dengan ‘jurus sabet buku’ yang kemarin baru saya peragakan.” Mungkin begitu ‘kali kata hati George.

Oh ya, kembali ke topik Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Media-media massa seperti merasa sangat terpukul dengan meninggalnya tokoh satu ini. Mereka sebut Gus Dur sebagai tokoh yang gigih memperjuangkan prinsip Egaliter, Humanis, Pluralis.  Maka berbagai ungkap duka nestapa segera tumpah, mengantar kematian Gus Dur. Media-media massa berdatangan ke Jombang. Pesantren Tebu Ireng seketika menjadi perhatian luas, setelah sebelumnya kampung Ponari di Jombang menjadi perhatian juga.

Lalu, siapakah Gus Dur ini? Mengapa bangsa Indonesia harus berduka karena kepergiannya?

Helmi Faisal, menantu Gus Dur sekaligus pejabat Menteri Pemberdayaan Daerah Tertinggal (atau apa ya tepatnya?), berkali-kali mengatakan, bahwa: “Gus Dur adalah manusia besar.”

Apa yang dikatakan Helmi itu bukan isapan jempol. Gus Dur memang tokoh besar. Betapa tidak, dia pernah menjadi Ketua PBNU selama puluhan tahun. Juga pernah menjadi Ketua Dewan Syura PKB, juga pernah menjadi Presiden RI. Memang, dia adalah orang besar. Tidak bisa dipungkiri lagi.

Sumber foto: http://akhdian.net/

Hanya mungkin persoalannya, “Besar dilihat dari kepentingan siapa?” Kalau dari kepentingan Ummat Islam di Indonesia, wah sangat keliru menyebut Gus Dur sebagai orang besar. Gus Dur itu hampir tidak memiliki kontribusi berarti bagi kemajuan kehidupan kaum Muslimin Indonesia. Jika jasanya diakui, paling di kalangan NU. Bukan di mata Ummat Islam Indonesia secara keseluruhan.

Tapi kan Gus Dur ini tokoh demokrasi?

Iya, seorang demokrat yang aneh. Katanya demokrat, tapi mengingkari kenyataan bahwa mayoritas rakyat Indonesia adalah Muslim. Demokrasi itu pasti menghargai suara mayoritas. Di Italia, German, Inggris, Perancis, dan sebagainya suara mayoritas Katholik/Kristen/Aglikan diakui kok. Tapi di Indonesia, dimarginalkan.

Tapi kan Gus Dur tokoh humanis?

Kalau humanis sejati, tentu tidak akan mengabaikan nasib ratusan juta Muslim Indonesia. Mereka manusia juga kan? Masak yang disebut manusia hanya orang-orang minoritas saja?

Gus Dur itu sangat hebat peranannya di forum-forum diskusi, di kalangan LSM, partai politik, pengusaha keturunan China, komunitas gereja, dll. Mana pernah Gus Dur turun ke gang-gang sempit di perumahan-perumahan kumuh, di rumah-rumah tikus di bantaran kali Ciliwung, di pasar-pasar tradisional di desa-desa, masuk ke pelosok-pelosok kampung, dll.

Kalau humanis sejati, dia tidak akan lepas hidupnya dari mengurusi orang-orang miskin. Contoh, Madame Theresia di India, selain sebagai penginjil, dia juga dekat rakyat miskin di India. Atau seperti Lady Di, dia turun langsung ke daerah-daerah yang banyak konflik, mengkampanyekan perang anti ranjau.

Ya, kalau gaulnya sama wartawan melulu, itu sih bukan humanis sejati. Tapi humanis “on air”.

Tapi kan Gus Dur itu pembela hak-hak minoritas?

OK, kita tanya, pembela apa dia? Apa dia membela minoritas etnis Madura yang dibantai di Sampit dan Sambas? Apa dia membela pemuda-pemuda Tanjung Priok yang dibantai militer tahun 1984? Apa dia pembela ratusan ribu korban DOM di Aceh? Apa dia pembela kaum gelandangan, pengemis, pengamen, WTS, dan sebagainya? Apa dia pembela petani, nelayan, pedagang pasar yang usaha mereka menjadi mainan para kapitalis?

Dia menjadi pembela minoritas, hanya dalam isu, opini, atau wacana saja. Pendek kata, yang berhubungan dengan media massa lah. Kalau tidak ada ekspose media massa, sepertinya dia tidak bisa berbuat banyak. Antara Gus Dur dan media massa itu seperti hubungan antara ikan dan air; keduanya saling membutuhkan.

Tapi bagaimanapun dia kan tokoh Muslim, kyai haji lagi?

Ya, di jaman sekarang sih, kalau mau menjadi “orang besar”, tergantung bagaimana peran media massa. Kalau media ekspose seseorang besar-besaran, dalam sebulan dia bisa menjadi tokoh besar. Kalau media memboikot seseorang, jangan harap akan menjadi tokoh besar. Besar atau kecilnya tokoh Indonesia saat ini, bukan karena kualitas dirinya atau sumbangan-sumbangan pemikiran dan ilmunya, tetapi karena popularitas dia di mata media massa. Itu saja kuncinya.

Secara jujur, Gus Dur itu memang pintar. Kalau tidak pintar, mustahil dia akan diangkat menjadi sebuah “maskot”. Tetapi kepintaran Gus Dur tidak berarti kalau dibandingkan peranan media massa yang membesarkan dirinya. Dari keluarga KH. Hasyim Asyari dan anak-cucunya, bukan hanya ada Gus Dur, tapi ada banyak orang lainnya. Tapi kan yang “mencorong” hanya tokoh satu ini. Sekali lagi, media massa telah membesarkan dia, sehingga menjadi tokoh besar, karena popularitas yang melimpah-ruah.

Sebuah fakta yang sangat unik. Menurut informasi media, jam 16.30 SBY datang ke RSCM menjenguk Gus Dur. Jam 16.45, dia meninggal. Maka vivanews.com menulis berita: Gus Dur Meninggal di Depan SBY.

Fakta yang unik juga. Gus Dur meninggal menjelang tutup tahun 2009. Menjelang tahun baru 2010. Ini jelas “menyulitkan” posisi orang-orang. Mereka mau seneng-seneng, ada orang meninggal. Tidak seneng-seneng, masak harus menunggu setahun lagi? Begitu deh.

Yang mau sedih, silakan sedih. Tapi saya menghimbau Ummat Islam, agar tidak terbawa kepada irama emosi yang dimainkan media-media massa. Ya, Anda tahu sendirilah. Media massa kan seperti itu. Mereka bekerja untuk suatu kepentingan; sedangkan posisi kepentingan itu dengan missi Islam, terpisah jauh.

Nabi Saw pernah mengatakan kepada seseorang yang mengaku mencintai Allah dan Rasul-Nya, beliau mengatakan, “Innaka ma’a man ahbabta” (engkau akan bersama orang yang engkau cintai).

Maka berhati-hatilah dalam mencintai. Cintailah orang yang benar, yaitu pribadi Muslim yang shalih, alim, berakhlak mulia, dan muttaqin. Jangan mencintai orang yang salah, sekalipun dia -misalnya- dikenal sebagai tokoh pejuang egalitarian, humanis, pluralis. (Apalagi prinsip-prinsip egaliter, humanis, pluralis itu mengingatkan kita kepada slogan-slogan yang banyak dipakai Freemasonry).

Selamat jalan wahai tokoh… Pengadilan kubur telah menanti di depan! Semoga engkau diberi balasan, sesuai amal-amalmu! Amin.

AMW.

Iklan

37 Responses to Seorang Tokoh Meninggal…

  1. zulkhaidir berkata:

    Mantap………….

    Sukses selalu

  2. ioezhe berkata:

    so… itu menurut anda…. yg memandang hanya dari sudut anda sendiri [islam]……….

  3. Pecinta Gus Dur berkata:

    Mas.. hati kalo komentar, kalu belum kenal jgn sok tau.. Gus Dur bisa berbau r dg pemimpin2 dunia di kota2 besar dunia.. tp jgn salah Beliau juga bisa ke dusun2.. jalan setapak yg becek.. gak heran Gus Dur meninggal begitu byk berduka.. dr RSCM menuju ciganjur orang berbaris disepanjang buncit secara spontan utk melihat iring2an.. kynya sampeyan sendirian yg mengingkari itu…

  4. Ana Jiddan berkata:

    Dulu tokoh seperti Ibnu Taimiyah yang banyak pengiringnya ketika beliau meninggal,sekarang zaman sudah terbalik,tokoh “nyeleneh” seperti Mbah Dur malah dipuja2 dan banyak pengiringnya ketika meninggal.

  5. Ana Jiddan berkata:

    Wajar,kemampuan berpikir kritis ummat sudah menurun,mereka lupa kalo Mbah Dur ini pernah bilang Al-Qur’an itu kitab yang porno,tak perlu dihormati tokoh yang pernah bicara seperti itu.

  6. Shadowlight berkata:

    ana muslim, maka ana memandang dari sudut keislaman. dari yang ana dapat, ana poahami dan ana baca dari berbagai media, buku, dll. kesimpulannya, “biarlah Alloh Bertindak kepada hamba yang telah dia ciptakan, dan membalas amalan sebagaimana apa yang telah hamba tersebut kerjakan semasa dimuka bumi…”

  7. Aman berkata:

    Ana Jiddan:
    Apa tidak sadar, Bung. Bukankah tulisan ini sudah sama dng Al-Qur’an bagi Anda sehingga harus pasti dipercaya.

    Bagaimana kalau kalau saya sebutkan, Alquran itu adalah tulisan ini? Kalau tidak suka, tanya saja pada diri sendiri.

  8. riri berkata:

    sepakat … !!
    berkurang 1 sudah ..

  9. Ana Jiddan berkata:

    @Aman
    “Apa tidak sadar, Bung. Bukankah tulisan ini sudah sama dng Al-Qur’an bagi Anda sehingga harus pasti dipercaya.”

    Perasaan saya tidak menganggap tulisan ini sm sperti Al-Qur’an,saya hanya mencela sikap Gus dur yang pernah mengatakan AL-Qur’an itu kiab yang paling porno

    “Bagaimana kalau kalau saya sebutkan, Alquran itu adalah tulisan ini? Kalau tidak suka, tanya saja pada diri sendiri.”

    Ya itu urusan Anda,bainaka wa bainallah (antara dirimu dan Allah).Saya hanya menyarankan Anda tidak perlu berkata seperti itu.

  10. luthfi berkata:

    bukankan islam adalah rahmat bagi seluruh alam……………
    terus apa lagi yang saudara perdebatkan….

  11. asrul berkata:

    assalamualaikum

    semoga kita tidak terjerumus pada pendapat pribadi yang tidak berdasar kebenaran dan mengarah ke fitnah.

    Semoga kita diridloi Allah dalam memperjuangkan Islam dengan kita selalu berlandaskan Al-Quran da Hadist.

  12. habsy berkata:

    1. kenapa gus dur di hormati?

    beliau adalah guru, guru para santri, pejabat, org awwam bahkan orang non-muslim. beliau bisa menempatkan diri menyesuaikan sudut pandangx melihat siapa yang diajarx.

    2. kenapa banyak yg merasa kehilangan?

    kembali ke poin 1 semua orang NU mengganggap beliau seorang guru (hitung aja warga NU brp juta?), jadi wajar aja banyak yg merasa kehilangan dan sedih. trus knapa anda syirik, dan knapa ngurusin orang2 yg sedang berduka dengan posting seperti ini?

    saya analogikan ortu si A meninggal banyak yg berduka, banyak yg bersimpati eh malah muncul si B yg mengumbar2 kesalahan ortu si A apa itu pantas? apa islam mengajarkan yg demikian? bgaimana islam memandang manusia seperti si B?

    jangan harap aliran2 anda yg seperti ini dapat menguasai indonesiaku tercinta…. perjuangan wali songo, wali2 dan para habaib mengislamkan indonesia seenakx aja anda klaim dgn doktrin2 wahabi….

  13. abisyakir berkata:

    @ Habsyi….

    Dari Anda: “Jangan harap aliran2 anda yg seperti ini dapat menguasai indonesiaku tercinta…. perjuangan wali songo, wali2 dan para habaib mengislamkan indonesia seenakx aja anda klaim dgn doktrin2 wahabi….”

    Komentar: Yo wis terserah Anda, Mas. Mau menguasai Indonesia, mau menguasai Asia, atau dunia sekalian…terserah lah. Kok, seakan-akan hidup ini missinya hanya untuk “kuasa-menguasai”. Lagi pula, kalau suatu kaum ingin berkuasa, itu bukan tergantung tangan Anda atau tangan kelompok Anda. Tetapi tergantung Tangan Allah Ta’ala.

    AMW.

  14. zacky berkata:

    “undur ma qaal,,walaa tandur man qaal”,,,begitu pun tulisan,,lihatlah isi dari tulisan, tapi jangan lihat yang menulis,

    kelemahan Islam saat ini terletak pada enggannya umat Islam membaca hal-hal yang berbau barat. kenapa? apa umat Islam sekarang begitu lemah sehingga gak berani menerima hal baRU?

    “al-muhaafadzatu ‘alalqodim al-sholih, wal akhdzu bil jadiid ashlah”
    kalau belum tahu gusDur jangan asal ngomong, istilahe kayak becak tanpa sopir, waton njeplak tanpa dipikir….., baca dulu pemikiran beliau, baca dulu buku_buku beliau, baca dulu biografi beliau. baru bicara soal beliaU………

    selama ini kemana aja? kog berani nulis beliau ini itu setelah beliau wafat?
    ini juga termasuk salah satu penyakit umat Islam saat ini,,,katanya suruh tabayyun?hahahaha,,,,,gak tabayyun ma beliau dulu tapi asal ngomong……..

    saya sarankan anda baca dulu biografi beliau,,,pemikiran_pemikiran beliau………itu pun kalau anda mau,,,

    kalau masalah beliau bilang al-Qur’an itu porno, lantas ada yang langsung mengklaim beliau itu kafir atau yang sejenisnya itu,,,mohon dicari dulu kebenarannya,,,,,beliau itu dah mengklarifikasi,,,sungguh,,,,,,tulisan blog ini,pada tema ini agak disayangkan,,,,,,melihat sesuatu hanya dari satu sudut pandang,,,,,,,,padahal tuhan memberi kita dua mata…….

  15. Progus... berkata:

    setiap orang punya pendapat tersendiri…. yang anda ungkapkan nampaknya.. mewakili orang-orang yang kontra dengan gus dur.

    Lantas bagaimana dengan orang-orang yang PRO dengan gus dur? lebih baik tuliskan keduanya.. antara pro dan kontra… biar pembaca yang memutuskan. postingan anda menunjukkan bagaimana anda

  16. abisyakir berkata:

    @ Progus…

    Ya, tulisan yang memuja/mengagung-agungkan Gusdur sudah banyak, mengapa kami harus ikut-ikutan selera itu? Masak semua orang harus ikut Si Gus semua? Aneh tentu…

    Saya jelas bukan pro Gus, bahkan sangat anti. Kalau mau membaca yang “pro Gus”, jangan disini. Ini bukan tempatnya. Kami konsisten dengan spirit Syariat Islam, alhamdulillah. Kalau kaum “pro Gus” phobia dengan Syariat, ya kami hanya perlu ingatkan, seperti pesan Al Qur’an: “Wa laa tamutunna illa wa antum Muslimun” (janganlah kalian meninggal, kecuali dalam keadaan Islam —maksudnya pro Syariat, bukan pro manusia anti Syariat seperti Si Gus—).

    Moga anda paham…

    AMW.

  17. abisyakir berkata:

    @ Zacky…

    “undur ma qaal,,walaa tandur man qaal”,,,begitu pun tulisan,,lihatlah isi dari tulisan, tapi jangan lihat yang menulis..

    Respon: Ya, kita sepakat.

    kelemahan Islam saat ini terletak pada enggannya umat Islam membaca hal-hal yang berbau barat. kenapa? apa umat Islam sekarang begitu lemah sehingga gak berani menerima hal baru?

    Respon: Terus menurut anda, apa sih yang menarik dari peradaban Barat. (1) Apakah demokrasi di Amerika, yang jumlah partainya CUMA DUA, dan sering menghalangi calon presiden dari unsur independen menjadi presiden Amrik? (2) Apakah teknologinya yang banyak menyebabkan pencemaran udara, air, tanah, dan suara? Produksi CO2 di Amrik itu menjadi penyumbang besar “pemanasan global” dan “mencairnya es di kutub”; (3) Teknologi militer AS yang hanya dipakai untuk menghancurkan negeri-negeri Muslim seperti Irak, Afghanistan, Bosnia, Libya, Pakistan. Apakah itu yang mau ditiru?; (4) Budaya hedonis Barat yang memandang manusia seperti binatang, boleh hubungan seks dimana saja, dengan siapa saja, asal suka sama suka. Itukah yang mau ditiru?; (5) UU keamanan nasional Amerika yang dipakai untuk “war on terror”. Melalui UU itu, ada ribuan manusia dibunuh dan dilenyapkan demi “keamanan nasional”. Ini adalah pelanggaran HAM sangat berat; (6) Apakah sistem ekonomi kapitalis Amrik yang menyebabkan negeri itu berhutang sebanyak US$ 14,5 triliun (kalikan saja dengan Rp. 9000,-); (7) Apakah perguruan tinggi Amrik yang lebih tepat disebut sebagai “peternakan manusia” karena disana menghalalkan seks bebas, sehingga puluhan ribu atau jutaan bayi mati setiap tahun akibat aborsi? Dll.

    Menurut anda, apa yang mesti ditiru dari budaya Barat itu? Sampahnya kah? Dosa-dosa besarnya kah? Ribawi nya kah? Atau penindasannya?

    “al-muhaafadzatu ‘alalqodim al-sholih, wal akhdzu bil jadiid ashlah” kalau belum tahu gus Dur jangan asal ngomong, istilahe kayak becak tanpa sopir, waton njeplak tanpa dipikir…..

    Respon: Omong kosong, dusta besar! Saya tantang Anda dan siapapun dari kalangan NU. Tunjukkan kepada kita: Mana bukti-bukti yang bisa dipegang, bahwa Si Gus telah menjalankan kalimat itu dengan baik? Mana buktinya? Omong kosong…

    Si Gus itu ialah manusia “pencekik leher” rakyat Indonesia. Tahun 1999 dia mulai jadi Presiden RI. Seharusnya dia senang, sebab BJ Habibie sudah meratakan jalan. BJ Habibie sudah membawa Indonesia keluar dari kegentingan krisis ekonomi. Tetapi hanya dalam waktu 2 tahun, hasil-hasil capaian baik Habibie dihancurkan oleh Si Gus “al fasid” itu. Akhirnya, rakyat Indonesia hidup menderita lagi. Bagaimana akan sukses memimpin Indonesia, wong kerjanya ketika nglencer melulu. Kalau ngelencer, bisa membawa 400 anggota rombongan. Bisanya cuma menghambur-hamburkan dana negara.

    , baca dulu pemikiran beliau, baca dulu buku_buku beliau, baca dulu biografi beliau. baru bicara soal beliau…..

    Respon: Kamu kan tipe manusia seperti “katak di bawah tempurung”. Kamu tak mau melihat kenyataan, tak mau melihat kebenaran di luar duniamu. Di mata kamu, Si Gus itu sudah “setengah tuhan” sehingga harus disembah-sembah seperti Fir’aun. Orang seperti kamu tak akan berani melihat kebenaran, sebab kebenaran itu sangat berat diterima oleh hawa nafsu. Kamu dibohongi para pemuja Si Gus, dan kamu pun senang di tengah-tengah “ritual pemujaan” itu.

    selama ini kemana aja? kog berani nulis beliau ini itu setelah beliau wafat? ini juga termasuk salah satu penyakit umat Islam saat ini,,,katanya suruh tabayyun? hahahaha,,,,,gak tabayyun ma beliau dulu tapi asal ngomong……..

    Respon: Saya termasuk ikut dalam upaya menjatuhkan Si Gus. Meskipun tidak pernah ikut demo di Senayan. Saya sudah menulis kritik ke orang ini sejak dia masih menjadi presiden. Hanya saja, mungkin tulisan itu gak nyampe ke kamu. Sebelum SU MPR buat memilih presiden, Oktober 1999, aku menulis tulisan ke Republika. Isinya mendukung BJ Habibie jadi presiden lagi, bukan Si “fasid” Gus itu. Tapi sayang tulisanku tak dimuat Republika. Ya, aku sudah berusaha. Republika dkk. telah membuat dosa besar kepada rakyat karena tidak sungguh2 menahan pencalonan Si Gus.

    Ini sudah dilakukan, dul. Kamu aja yang gak tahu. Makanya, hiduplah di atas tempurung. Jangan diem di bawah tempurung terus!

    saya sarankan anda baca dulu biografi beliau,,, pemikiran_pemikiran beliau………itu pun kalau anda mau,,,

    Respon: Maaf ya, sebelum aku menulis buku ttg Si Gus, aku sudah baca biografi dia di tokohindonesia.com. Aku baca juga majalah-majalah yang mengupas profil dia. Kamu jangan sok pintar lah…

    kalau masalah beliau bilang al-Qur’an itu porno, lantas ada yang langsung mengklaim beliau itu kafir atau yang sejenisnya itu,,,mohon dicari dulu kebenarannya,,,,,beliau itu dah mengklarifikasi,,,sungguh,,,,,,

    Respon: Itu ada di situs JIL. Itu ada. Ada yang menyimpan file-nya. Cuma setelah mendapat reaksi keras Ummat Islam, kalimat Si Gus itu dihapus oleh admin web JIL. Kamu saja yang selalu berburuk sangka kepada aktivis Islam. Seolah kami ini orang-orang gadungan yang maunya marah terus. Tidak wahai kawan…kami berusaha bertanggung-jawab.

    tulisan blog ini,pada tema ini agak disayangkan,,,,,,melihat sesuatu hanya dari satu sudut pandang,,,,,,,,padahal tuhan memberi kita dua mata…….

    Respon: Aku yakin Si Gus itu orang kafir, aku yakin seyakin-yakinnya. Tidak ragu-ragu lagi. Alasannya antara lain:

    = Dia menghina Al Qur’an.
    = Dia sangat anti Syariat Islam.
    = Dia benci muslim fundamentalis, dan cinta orang-orang Nashrani, Hindu, Budha, dll.
    = Dia menjadi anggota laskar kristus, dibaiat di Sulawesi.
    = Dia melakukan ruwatan meminta tolong nyi roro kidul, untuk mempertahankan kekuasaan.
    = Dia bersahabat dengan Yahudi, mendirikan Shimon Perez Institute.
    = Dia diberkati oleh para pendeta dan ribuan umat Protestan di Senayan.
    = Dia dekat dengan orang PKI, mau cabut tap MPRS tentang PKI.
    = Dia mencabut larangan organisasi Freemasonry di Indonesia.
    = Dan lain-lain.

    Jadi, Si Gus itu benar-benar ORANG KAFIR terlaknat. Semoga Allah melaknat dia dan orang-orang yang selalu memujanya, tanpa mau menerima kebenaran. Amin Allahumma amin.

    AMW.

  18. zacky berkata:

    “Jadi, Si Gus itu benar-benar ORANG KAFIR terlaknat. Semoga Allah melaknat dia dan orang-orang yang selalu memujanya, tanpa mau menerima kebenaran. Amin Allahumma amin. ”

    tahukah anda, tulisan anda itu mendahului kehendak Allah, sangat disayangkan, anda yang ilmunya lebih tinggi dari saya dan lebih tinggi dari gus Dur,menulis hal seperti itu, yakinkah anda kalau anda itu manusia suci hingga membenar-benarkan pendapat anda tentang beliau. saya merinding baca tulisan itu, sungguh tak habis pikir, saya bersyukur sekali bahwa Nabi dulu bukan seperti anda, nabi gak pernak melaknat siapapun, tp ini, dengan begitu Pede anda melaknat beliau. saya gak mau mengamini doa anda (dan semoga tidak ada orang yang BERAKAL dan mempunyai HATI mengamini doa tersebut),

    tolong di jawab,,, hukum membicarakan aib orang yang sudah meninggal apa? mengapa anda menulis ini setelah beliau wafat? lantas, kalau menurut anda beliau sudah sesat, kenapa anda membiarkan kesesatan itu, buknKh membiarkan kesesatan itu sama dengan melakukan kesesatan itu sendiri?

    oh ya, berkaitan pencekik leher indonesia. meskipun saya jabarkan panjang lebar tentang sepak terjang beliau di politik, saya yakin anda tetap tidak akan percaya. bukan bermaksud mengalihkan pembicaraan, saya tanya, seberapa jauh anda mencoba mengentaskan krisis di Indonesia ini, apa pula solusi yang anda tawarkan? syariat Islam? syariat Islam yang bagaimana? apa kontribusi anda terhadap upaya pemberantasan korupsi? Indonesia sekarang tidak hanya di cekik, tapi sudah sekarat. apakah hanya sejedar menulis keburukan-keburukan saja yang terjadi di pemeritah?

    anda selalu membawa syari’at Islam, standar syari’at Islam sendiri itu apa?(harapan saya jawabnnya lebih spesifik, kalau jawaban anda hanya al-Qur’an Hadist, lebih baik saya tak mendapat jawabn itu untuk kesekian kalinya) lantas langkah konkritnya seperti apa? jangan-jangan itu hanya sebatas utopia belaka…..

    ya allah, jika aku memang slah atas anggapanku ini semoga kau ampuni dosaku, jika saudaraQ ini yang slah, semoga kau ampuni dia, kKau lah yang berhak menentukan siapa yang kafir dan siapa yang tidak, Engkau yang lebih tau siapa yang benar, siapa yang kurang benar, dan siapa yang tidak benar, maka aku mohon padamu, jauhkanlah dariku sikap membenar2kan diri sendiri,,amiiiiiin

  19. zacky berkata:

    Demokrasi itu pasti menghargai suara mayoritas. Di Italia, German, Inggris, Perancis, dan sebagainya suara mayoritas Katholik/Kristen/Aglikan diakui kok. Tapi di Indonesia, dimarginalkan.

    ada yang ingin saya tanyakan berkaitan tulisan anda yanguitu:
    1) “Demokrasi itu pasti menghargai suara mayoritas.” anda yakin dengan tulisan anda ini? apa ada referensi yang valid berkenaan dengan pandangan anda tentang demokrasi. apa memang benar demikian? sekali lagi anda menggunakan kata “pasti”….jadi ingin tahu,anda ini hakim, rasul, nabi atau hamba keasayangan Tuhan, kog bs masti2in gt……
    2)” Di Italia, German, Inggris, Perancis, dan sebagainya suara mayoritas Katholik/Kristen/Aglikan diakui kok. Tapi di Indonesia, dimarginalkan.” apa kalimat tersebut menujukkan ke-IRI-an umat Islam atas non muslim? sebenarnya yang jadi pertanyaan sekarang, kalau memang mayoritas, knapa bs di marginalkan?

  20. abisyakir berkata:

    @ Zacky…

    1) “Demokrasi itu pasti menghargai suara mayoritas.” anda yakin dengan tulisan anda ini? apa ada referensi yang valid berkenaan dengan pandangan anda tentang demokrasi. apa memang benar demikian? sekali lagi anda menggunakan kata “pasti”….jadi ingin tahu,anda ini hakim, rasul, nabi atau hamba keasayangan Tuhan, kog bs masti2in gt……

    Respon: Wah, jangan begitu. Untuk masalah sekecil itu, ya tak usah sulit-sulit. Kan, dalam demokrasi itu ada ungkapan, “Vox populi vox dei” (suara rakyat suara Tuhan). Begitulah ide dasarnya. Tapi maaf, saya bukan berdalih dengan demokrasi-nya lho. Tapi mempertanyakan, apakah Si Gus itu punya rasa demokrasi? Sekali lagi, bukan berdalih dengan demokrasi, tapi sekedar menguji apakah Si Gus bisa dikatakan sebagai tokoh demokrasi? Buktinya, dia sangat benci kalau kaum Muslimin dominan di Indonesia.

    2)” Di Italia, German, Inggris, Perancis, dan sebagainya suara mayoritas Katholik/Kristen/Aglikan diakui kok. Tapi di Indonesia, dimarginalkan.” apa kalimat tersebut menujukkan ke-IRI-an umat Islam atas non muslim? sebenarnya yang jadi pertanyaan sekarang, kalau memang mayoritas, knapa bs di marginalkan?

    Respon: Sebenarnya bukan soal IRI, tapi sikap FAIRNESS (rasa keadilan). Masak kalau di Eropa, agama Nasrani boleh mendominasi, sementara di Indonesia Islam tidak boleh? Seharusnya keadaan negara tergantung kondisi rakyatnya. Kita tak menyalahkan di Timor Leste dibuat patung Yesus yang besar, sebab mereka kan mayoritas Katholik. Tapi kita kecewa, mengapa Si Gus begitu benci kalau ajaran Islam bisa berjaya di negeri Indonesia ini. Padahal Si Gus itu dihormati orang juga karena Islam. Tanpa Islam (embel-embel keturunan Sunan Ampel), Gus Dur tak akan dipandang sebagai apapun.

    Mengapa kok dimarginalkan? Hal itu sering terjadi. Rakyat Kashmir dimarginalkan oleh penguasa Hindu. Rakyat Mindanao Selatan dimarginalkan oleh penguasa Katholik Filipina. Rakyat Pattani dimarginalkan oleh penguasa Thai yang Budha. Begitu juga rakyat muslim Palestina dimarginalkan oleh Yahudi. Rakyat Irak dan Afghan, dimarginalkan oleh Amerika.

    Intinya, marginalisasi itu menyangkut kekuasaan (power), bukan soal realitas mayoritas-minoritas. Nah, Si Gus sudah membuktikan dirinya sebagai karib dekat orang-orang kufar, dan menjadi musuh pemuda-pemuda Islam.

    Semoga Anda bisa mengambil pelajaran…selama masih bisa mengambil pelajaran. Allahumma amin.

    AMW.

  21. zacky berkata:

    anda mengatakan “tapi sekedar menguji apakah Si Gus bisa dikatakan sebagai tokoh demokrasi?” anda yakin ingin menguji kedemokratisannya gus dur? apa anda yakin anda itu ahli dalam ketata negaraan? jika memang anda ahli dalam hal ini silahkan, tapi jika anda bukan ahlinya, diam adalah lebih bijaksana…….bukankah ketika sesuatu ditangani bukan ahlinya, maka tinggal tunggu krusakan dunia ini? saya mohon, jangan lah mempercepat kahancuran dunia ini

    anda mengatakan “Nah, Si Gus sudah membuktikan dirinya sebagai karib dekat orang-orang kufar, dan menjadi musuh pemuda-pemuda Islam.”
    saya jadi ragu – atau bisa dikatakan sedikit heran – kalau anda bilang sudah membaca buku serta biografi gusdur, kalau saya boleh tau, buku yang anda baca karangan siapa? pernahkah anda membaca buku karangan mahfud MD?
    oke, kembali ke kata2 anda di atas. dari mana anda menyimpulkan gusdur adalah musuh pemuda-pemuda islam, pemuda-pemuda islam yang mana? bukankah kita dilarang menilai dari luarnya saja? dari beberapa buku beliau (Islam kosmopolitan, Tuhan tidak perlu dibela, Islamku-Islam anda-Islam kita,dll) dan buku-buku biografi (mulai dari puluhan halamn s/d ratusan/bhkan ribuan), saya tidak SEDIKIT pun menemukan RaSa kebencian gusdur terhadap Islam, khusunya di Indonesia. gus dur ingin orang Islam indonesia kuat, orang Islam indonesia tetap puasa meskipun dari kota A-Z berjajar warung-warung yang menyajikan masakan yang begitu menggoda, kalau memang orang islam kuat imannya, tak perlulah susah2 menutup paksa – atau bahkan membongkar warung2 yg buka di siang hari bulan puasa -, kalau memang yang dimusuhi gusdur itu pemuda-pemuda yang brutal itu, yang dengan pedenya mengatas namakanAllah untuk kekerasan, maka saya pun ikut gusdur – yakni memeusuhi pemuda-pemuda itu.

    gusdur tidak ingin orang Islam di Indonesia manja, mentang2 mayoritas,,,,,,kalau gusdur bertenman karib dengan nonMuslim (saya lebih suka istilah nonMuslim daripada kuffar) itu adalah hal yang wajar, nabi pun tidak memilih2 teman..

    oh ya….anda juga mengatakan “buktinya, dia sangat benci kalau kaum Muslimin dominan di Indonesia. ”
    hampir sama dengan yang telah saya tanggapi di atas…….darimana anda mendapatkan kesimpulan itu? apakah dari diri anda sendiri?

    anda mengatakan “sebenarnya bukan soal IRI, tapi sikap FAIRNESS (rasa keadilan)”
    adil yg bagaimana yg anda inginkan? kalau bicara keadilan, negara kita sudah kehilangan ruh keadilan.

    oh iya,,,kog saya blum lihat tanggapan dari komentar saya tertanggal 25 oktober 2011 pukul 03.09 PM …..saya tunggu,,,terimakasih atas doanya,,,saya adalah pengagum gusdur (yang kemarin sudah anda laknat, dan mungkin, saya ikut kena laknat itu) meskipun demikian, jika anda tak keberatan, ijinkan saya mendoakan anda “Jazakallaahu ahsanal jaza'”aminnnnnnn

  22. zacky berkata:

    ketika setiap muslim saling mengkafirkan yang lain,ketika ego mengendalikan akal dan hati setiap muslim,,,,,,Na’dzubillaahi min dzaalik

    “akih kang hafal, qur’an hadist e
    seneng ngafirke marang liyane,
    kaffire dewe gak di gatikne
    yen isih kotor ati akale”

    “(banyak yang hafal qur’an hadist nya,
    suka mengkafirkan yang lainnya
    kafirnya sendiri tak diperhatikan
    jika masih kotor hati dan akalnya”

    tu syi’iran yg dibuat oleh gusdur, terserah bagi anda (dan yang sepaham dengan anda – berkaitan tentang gusdur) tidak suka atau menganggap sya’ir di atas hanya sekedar bunyi bedug yang isi nya kosong mlompong,,,,,,

    “pendapat saya benar, namun memungkinkan salah, pendapat anda salah, namun ada kemungkinan benar, begitu pun sebaliknya”
    (Imam Syafi’i)

    akhirnya, hanya Allah lah yang tahu siapa yang benar, siapa yang kurang benar dan siapa yang slah. hanya Allah pula lah yang dapat membenarkan yang slah, manusia hanya sekedar ikhtiyar,,,,,
    Wallaahu a’lam bish showaab…..

  23. abisyakir berkata:

    @ Zacky…

    anda yakin ingin menguji kedemokratisannya gus dur? apa anda yakin anda itu ahli dalam ketata negaraan? jika memang anda ahli dalam hal ini silahkan, tapi jika anda bukan ahlinya, diam adalah lebih bijaksana…….bukankah ketika sesuatu ditangani bukan ahlinya, maka tinggal tunggu krusakan dunia ini? saya mohon, jangan lah mempercepat kahancuran dunia ini

    Respon: Ha ha ha… Anda menggunakan metode jidal “asal menang”. Apapun dalih, selemah apapun, selama bisa dipakai menyerang, Anda gunakan saja. Kalau dirunut dari awal, kan Anda sendiri yang bertanya soal demokrasi, soal mayoritas-minoritas, saya hanya memberi respon. Sekarang, Anda alihkan lagi perdebatan ini ke masalah lain. Nanti kalau dijawab, akan Anda alihkan lagi ke masalah selanjutnya. Begitu saja seterusnya. Anda ingin terus dilayani, sambil dadanya terasa sumpek untuk menerima kebenaran. Padahal kata Rasulullah, yang disebut sombong itu adalah: menolak kebenaran dan memandang rendah orang lain.

    oke, kembali ke kata2 anda di atas. dari mana anda menyimpulkan gusdur adalah musuh pemuda-pemuda islam, pemuda-pemuda islam yang mana? bukankah kita dilarang menilai dari luarnya saja? dari beberapa buku beliau (Islam kosmopolitan, Tuhan tidak perlu dibela, Islamku-Islam anda-Islam kita,dll) dan buku-buku biografi (mulai dari puluhan halamn s/d ratusan/bhkan ribuan), saya tidak SEDIKIT pun menemukan RaSa kebencian gusdur terhadap Islam, khusunya di Indonesia.

    Respon: Buktinya, Anda baca buku saya, “Cukup 1 Gusdur Saja”. Nah, silakan baca sekian banyak daftar dosa-dosa dan kezhaliman Gusdur terhadap Islam dan kaum muslimin di negeri ini. Silakan dibaca disana.

    gus dur ingin orang Islam indonesia kuat, orang Islam indonesia tetap puasa meskipun dari kota A-Z berjajar warung-warung yang menyajikan masakan yang begitu menggoda, kalau memang orang islam kuat imannya, tak perlulah susah2 menutup paksa – atau bahkan membongkar warung2 yg buka di siang hari bulan puasa -, kalau memang yang dimusuhi gusdur itu pemuda-pemuda yang brutal itu, yang dengan pedenya mengatas namakanAllah untuk kekerasan, maka saya pun ikut gusdur – yakni memeusuhi pemuda-pemuda itu.

    Respon: Tahun 1990 ICMI berdiri. Gusdur diajak masuk ICMI, dia menolak. Alasannya, ICMI itu organisasi orang sektarian (kalangan khusus Islam). Gusdur dan kawan-kawan lalu mendirikan Fordem (Forum Demokrasi), biar tidak sektarian. Padahal yang menjadi anggota ICMI salah satunya ialah Prof. Ali Yafie, tokoh besar NU sendiri. Nah, sekarang ICMI itu menurut Anda apakah kumpulan orang2 muda yang suka berbuat kekerasan? Apakah Bank Muamalat itu berbuat kekerasan? Apakah Adi Sasono itu tukang buat kekerasan? Apakah ucapan “assalamu’alaikum” itu memprovokasi kekerasan? Dan lain-lain…

    gusdur tidak ingin orang Islam di Indonesia manja, mentang2 mayoritas,,,,,,kalau gusdur bertenman karib dengan nonMuslim (saya lebih suka istilah nonMuslim daripada kuffar) itu adalah hal yang wajar, nabi pun tidak memilih2 teman..

    Respon: Omong kosong… omong kosong. Ini hanyalah fantasi yang anda buat. Gusdur itu tidak alim secara ilmu agama, tidak pandai memimpin shalat, tidak pandai berdoa di tengah Ummat, tidak pandai mengelola pendidikan Islam, tidak pandai menyambung shilaturahim dengan sesama tokoh-tokoh Islam… Coba, Anda sebutkan, siapa teman akrab Rasulullah Saw dari kalangan orang kafir? Coba Anda sebutkan, siapa teman-teman Nabi Saw dari kalangan SEPILIS, pemabuk, kriminal, atheis, dll.? Itu pun kalau mulut dan hatimu tidak dipenuhi oleh dusta dan kebohongan…

    oh ya….anda juga mengatakan “buktinya, dia sangat benci kalau kaum Muslimin dominan di Indonesia. ” hampir sama dengan yang telah saya tanggapi di atas…….darimana anda mendapatkan kesimpulan itu? apakah dari diri anda sendiri?

    Respons: Kelakuan Gusdur itu sudah banyak ditulis, diulas, dan dijadikan materi ceramah oleh banyak dai. Hal seperti ini sangat terkenal. Apalagi ketika dia memimpin Indonesia sejak Oktober 1999 sampai 2001. Apakah Anda tidak membaca semua itu? Apakah Anda tidak membaca, alasan apa saja yang membuat Gusdur digusur dari posisi RI-1? Kalau tidak Anda baca, wah kasihan sekali…

    oh iya,,,kog saya blum lihat tanggapan dari komentar saya tertanggal 25 oktober 2011 pukul 03.09 PM …..saya tunggu,,,terimakasih atas doanya,,,saya adalah pengagum gusdur (yang kemarin sudah anda laknat, dan mungkin, saya ikut kena laknat itu) meskipun demikian, jika anda tak keberatan, ijinkan saya mendoakan anda “Jazakallaahu ahsanal jaza’”aminnnnnnn

    Respon: Tidak semua komentar otomatis akan dijawab. Saya jawab yang memang perlu saja. Mohon dimaklumi. Baik, dengan memohon karunia Allah, saya doakan Anda, dan semoga diaminkan oleh para pembaca blog ini dan para Malaikat ‘alaihimsalam.

    “Allahumma ya Rahmaan ya Rahiim…berilah hidayah kepada kami, juga saudara kami ini, Al Akh Al Karim Zacky. Berilah ilmu yang manfaat kepada kami, juga kepadanya. Berilah terang hati, berilah kejujuran hati, berilah rasa khusyu’ untuk munajat kepada-Mu. Berilah kami dan dirinya rasa cinta kepada-Mu, melebihi cinta kami kepada makhluk-Mu. Jadikanlah hati kami dan hati-nya, selalu mengagungkan-Mu melebihi mengagungkan manusia yang penuh salah dan dosa. Ya Allah, besarkan nama-Mu di hati kami dan hati-nya; perbaiki hidup kami; luruskan arah jalan kami; sampaikan kami kepada ridha-Mu. Ya Allah bersihkan hati saudara kami Zacky ini dari belenggu yang membuatnya mengagungkan makhluk-Mu melebihi keagungan-Mu; bersihkan hatinya (juga hati kami), teteskan manisnya keimanan, istiqamah, kelurusan ilmu, dan ikhlas ke dalam jiwa dan hidupnya (juga jiwa dan hidup kami, serta para pembaca muslim di blog ini).

    Amin Allahumma amin, wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.”

    —— kadang engkau menganggapku keras, tetapi ia adalah keras karena mencintaimu; mengkhawatirkan jatuhmu dirimu di tangan manusia-manusia berhati gelap—–

    AMW.

  24. abisyakir berkata:

    @ Zacky…

    “akeh kang hafal, qur’an hadiste
    seneng ngafirke marang liyane,
    kaffire dewe gak di gatikne
    yen isih kotor ati akale”

    Respon:

    == Al Qaradhawi pernah mengatakan, bahwa Ummat Islam cenderung ekstrem; antara yang senang mengkafirkan, dan tidak mau mengkafirkan. (Jalan yang benar, tidak mudah-mudah mengkafirkan, tanpa alasan. Dan tidak segan mengkafirkan, kalau memang sudah banyak bukti-buktinya. Nah, itulah sikap Ahlus Sunnah).

    == Gusdur pernah mengatakan di situs JIL, “Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Al Qur’an. Ha ha ha…” Ini adalah salah satu bukti nyata perkataan KUFUR Gusdur.

    == Seorang tokoh NU di Singosari Malang, KH. Luthfi Bashori, dalam wawancara dengan majalah Sabili, dengan perkataan di atas Gusdur telah mengucapkan kata-kata yang berkonsekuensi kekafiran. Beliau merujuk kitab panduan akidah kaum NU, Sulami Taufiq.

    == Dan masih banyak lagi alasan-alasan yang haq untuk menyebutkan jatuhnya Gusdur dalam kekufuran. Hanya masalahnya. Dalam diri banyak kaum muslimin Indonesia, mereka lebih takut kepada Gusdur, daripada kepada Allah. Sangat menyedihkan.

    AMW.

  25. zacky berkata:

    tanggapan hari ini, saya terkejut,,,ternyata anda yang menulis buku “Cukup 1 gus Dur saja”,,,,,,,,,,

  26. zacky berkata:

    “anda yakin ingin menguji kedemokratisannya gus dur? apa anda yakin anda itu ahli dalam ketata negaraan? jika memang anda ahli dalam hal ini silahkan, tapi jika anda bukan ahlinya, diam adalah lebih bijaksana…….bukankah ketika sesuatu ditangani bukan ahlinya, maka tinggal tunggu krusakan dunia ini? saya mohon, jangan lah mempercepat kahancuran dunia ini”

    saya akui kalau untuk tulisan di atas memang slah, seharusnya saya lebih bisa menghargai pendapat orang lain,,,,,,,

    “menolak kebenaran dan memandang rendah orang lain. ”
    jika saya menolak kebenaran, semoga Allah menluruskanku,,,,karena Allah lebih tahu yang benar atau salah, kata-kata anda – sekali lagi – mendahului ketentuan Allah. anda secara sadar atau tak sadar seakan-akan merasa begitu PD jika kebenaran ada pada pihak anda…….meminjam puisi gusmus:

    “Kau memarahi mereka yang berusaha mendekatiku,
    seolah-olah Aku sudah menjadi kekasihmu.
    apakah karena kau cemburu buta,
    atau takut karena mereka lebih tulus mencintaiku?………”

    berkaitan dengan Buku Cukup 1 gusDur saja, saya sudah punya buku anda, mencengangkan memamng,,buku-buku yang anda tulis sudah sekian banyak, tapi kenapa pada buku gusdur tersebut banyak sekali pembahasan yang terulang-ulang……tulisan anda bernada geram,,selalu beristighfar seolah-olah andalah yang paling benar,,,,
    maaf ya pak,, sebodoh-bodohnya saya, saya tetap ingat bahwa kita sebagai manusia ini hanyalah tercipta dari tanah, yang hanya dibuat berak, buang ludah dan paling mulia hanya dibuat ladang pemuas nafsu, tapi tulisan anda tentang gusdur dalam buku anda itu seakan-akan merendahkan orang lain.

    “Omong kosong… omong kosong. Ini hanyalah fantasi yang anda buat. Gusdur itu tidak alim secara ilmu agama, tidak pandai memimpin shalat, tidak pandai berdoa di tengah Ummat, tidak pandai mengelola pendidikan Islam, tidak pandai menyambung shilaturahim dengan sesama tokoh-tokoh Islam…”
    terserah anda mau bilang fantasi atau apalah itu, dan saya kira, semakin debat ini berlanjut, maka tak akan ketemu titik temu,,,,,,,anda dengan beribu macam argumen (yang terkadang saya melihat ada unsur memaksakan argumen tersbut) dan saya pun melontarkan berbagai argumen (yang saya yakin menurut anda argumen saya terlalu bertele-tele dan memaksa) yang saling bertentangan,,,,,saya yang sebelum mendapat penjelasan dari anda tentang gusdur sampai sekarang yang sudah membaca tulisan-tulisan anda tetaplah sama, tetap mengagumi sosok gusdur. begitu pun dengan anda, kalaupun argumen yang saya kemukakan berasal dari sumber-sumber yang jelas, saya yakin anda tetaplah bpk “Abu Muhammad Waskito” yang tetap membenci gusDur.
    maaf, jangan artikan saya terlalu pengecut untuk melanjutkan diskusi ini, tap jika memang diskusi ini hanya – menurut saya seperti – debat kusir ini dilanjutkan, sampai kiamat tinggal dua hari pun tak akan selesai.

    terimakasih atas ilmu yang sudah anda berikan pada saya, dan terima kasih pula atas doanya,,,,,,,,semoga Allah mengabulkan doa anda yang termasuk hambanya yang benar dan berkeimanan tinggi dan (merasa) dekat dengan Allah SWT,,,,,,,,,,
    amiin allaahummaa aamiiin,, wa shallaahu ‘ala sayyidinaa wa habiibina wa maulaanaa Muhammad, wa’alaa aalihi wa ash haabihii ajma’iiin…..

  27. abisyakir berkata:

    @ Zacky…

    maaf ya pak,, sebodoh-bodohnya saya, saya tetap ingat bahwa kita sebagai manusia ini hanyalah tercipta dari tanah, yang hanya dibuat berak, buang ludah dan paling mulia hanya dibuat ladang pemuas nafsu, tapi tulisan anda tentang gusdur dalam buku anda itu seakan-akan merendahkan orang lain.

    Respons: Mengapa kita tidak boleh merendahkan Gusdur? Sedangkan dia telah merendahkan: SYARIAT ISLAM, MORAL ISLAM, EKONOMI ISLAM, DAKWAH ISLAM, AKIDAH ISLAM, bahkan MERENDAHKAN AL QUR’AN. Bagaimana mungkin kita akan menghormati manusia zhalim seperti itu?

    Terserah anda mau bilang fantasi atau apalah itu, dan saya kira, semakin debat ini berlanjut, maka tak akan ketemu titik temu,,,,,,,anda dengan beribu macam argumen (yang terkadang saya melihat ada unsur memaksakan argumen tersbut) dan saya pun melontarkan berbagai argumen (yang saya yakin menurut anda argumen saya terlalu bertele-tele dan memaksa) yang saling bertentangan,,,,,

    Respons: Dalam kondisi seperti ini, kita boleh mengatakan: “Lakum dinukum wa liya din” atau “Lakum a’malukum wa lana a’malana”. Kita menempuh jalan sendiri-sendiri saja dah. Toh, alasan sudah disampaikan. Mau menerima atau tidak, menjadi tanggungan masing-masing. Iya kan, begitu kaidahnya?

    saya yang sebelum mendapat penjelasan dari anda tentang gusdur sampai sekarang yang sudah membaca tulisan-tulisan anda tetaplah sama, tetap mengagumi sosok gusdur. begitu pun dengan anda, kalaupun argumen yang saya kemukakan berasal dari sumber-sumber yang jelas, saya yakin anda tetaplah bpk “Abu Muhammad Waskito” yang tetap membenci gusDur.

    Respons: Oh ya, Rasulullah Saw pernah berkata ke seorang Shahabat, “Innaka ma’a man ahbabta” (engkau kelak di Akhirat akan bersama orang yang engkau cintai di dunia). Saya memohon kepada Allah Ta’ala agar selalu istiqamah mencintai hamba-hamba-Nya yang shalih, ‘alim, dan berkah dengan aneka amal-amal shalih. Juga aku memohon agar Allah Ta’ala selalu mengistiqamahkan hatiku untuk membenci dan anti kepada musuh-musuh-Nya, musuh Islam, musuh Syariat, musuh dakwah Islam. Amin Allahumma amin.

    Sungguh… Di jaman seperti ini, banyak orang muda seperti Anda, wahai Saudara @ Zacky. Saya lihat mereka ada di kalangan PKS, partai sekuler, kaum Jihadis, kaum Salafi Ekstrem, kaum Nahdhiyyin, Gusduriyin, dan sebagainya. Mereka hidup dengan menjadikan PAHAM kaumnya sebagai TAFSIR atas agamanya. Bukan sebaliknya, menjadikan ISLAM sebagai koridor atas paham kaumnya. Islam dianggap obyek, bukan subyek; Islam dianggap sekunder, bukan primer. Kalau dalam istilah ada ungkapan, “Al Islamu qabla kulli syai’in” (Islam dulu, sebelum yang lain-lainnya). Kalau mereka dibalik, “Syai’un awwalun, wa ba’dahu Islam” (sesuatu lebih dulu, baru kemudian Islam).

    Berhentilah dari cara-cara seperti itu…sebab semua itu tak akan memberi kebajikan, dalam urusan dunia maupun Akhirat. Berhentilah, karena Islam ini menjadi AWAL kehidupan setiap Muslim. Islam dulu, baru paham kelompok. Dengan demikian, kita akan sampai di titik tujuan yang dituju, bi idznillah. Berhentilah, sebelum keletihan jiwamu menghukum hidupmu…

    semoga Allah mengabulkan doa anda yang termasuk hambanya yang benar dan berkeimanan tinggi dan (merasa) dekat dengan Allah SWT,,,,,,,,,,

    Respons: Ya, begitulah diri Anda. Anda mengeluh dengan adanya doa laknat. Lalu saya ganti dengan doa yang baik, karena merasa sayang kepada diri Anda. Namun kemudian, komentar Anda berbeda lagi.

    Ya…begitulah (sebagian) manusia. Bila engkau berbuat baik kepadanya, atau berusaha berbuat baik, selalu ada celah baginya untuk mencelamu. Bukan kebaikan yang mereka tunggu, tetapi kejatuhan dirimu yang bisa membuat mereka tertawa puas.

    Jazakumullah khair.

    AMW.

  28. giza azzahra berkata:

    @abi..innaka la tahdi man akhbabta wa lakin Allah yahdiy man yasaa’u…makasih ya abiy..bersedia jawab komentnya zaky..zaky itu temanku,tau blog antum jg dari ana…alhmduliliah ana bisa belajar banyak dari antum nd zaky..hanya menjadi pengamat tu kadang menyenangkan bisa belajar banyak dan mengambil pendapat yang mendekati kebenaran…ana sepakat ma antum abiy..ketika sesuatu itu da data,fakta dan nash jg,,why not di percaya..klo ana gt..yang penting nahnu duaat qobla alla kulli syaen ..hhe.barakaAllah lakum wa lanaa

  29. Liong berkata:

    Oleh: Adian Husaini

    Dalam bukunya yang terkenal, Islam at the Crossroads, Muhammad Asad/Leopold Weiss mengingatkan umat Islam, bahwa: ”The Imitation – individually and socially – of the Western mode of life by Muslims is undoubtedly the greatest danger for the existence – or rather , the revival – of Islamic civilization.”

    Jadi, kata Asad, penjiplakan kaum Muslim – baik secara individual maupun sosial – terhadap gaya hidup Barat tanpa diragukan lagi adalah bahaya terbesar dari eksistensi dan kebangkitan kembali peradaban Islam. Buku Asad ini terbit pertama tahun 1934 dan telah ditejemahkan ke dalam berbagai bahasa. Buku kecil ini memberikan gambaran yang tajam tentang hakekat peradaban Barat yang disebut oleh Asad, sebagai peradaban yang memuja materi dan anti-agama (irrelegious in its very essence).

    Lihatlah nilai-nilai peradaban Barat yang kini menyerbu rumah-rumah kita melalui media hiburan. Film-film, lagu, sinetron yang dijejalkan kepada generasi muda kita dipenuhi dengan urusan seputar syahwat jasadiah, baik menyangkut makanan maupun urusan seksual. Peradaban ini sangat mengagungkan unsur-unsur fisik. Jangan heran, jika dalam peradaban ini, wanita lebih dihargai karena unsur-unsur fisiknya. Kontes nyanyi dan loma kecantikan menjadi upacara yang sangat diagungkan, disiarkan ke seluruh penjuru dunia, tanpa peduli urusan moral.

    Dalam kontes-kontes kecantikan seperti itu, setiap jengkal tubuh wanita diukur, ditelaah, dan dinilai untuk selanjutnya dipaparkan kepada publik. Bahwa si A memiliki tubuh terseksi di dunia. Media-media hiburan sibuk membuat ranking tentang wanita yang memiliki tubuh terindah. Bahkan, konon di suatu negara, ada majalah yang khusus menyajikan berita seputar alat kelamin wanita. Kata mereka, semua itu adalah ekspresi keindahan. Semua itu tidak ada hubungannya dengan pornografi, tetapi ekspresi seni.

    Salah satu buah dari reformasi di Indonesia adalah kebebasan dalam kontes-kontes kecantikan. Sudah beberapa tahun, Putri Indonesia senantisa tampil dalam acara pemilihan Miss Universe. Meskipun harus tampil secara vulgar dalam pakaian bikini, kontes seperti itu tetap dilakukan, dan televisi di Indonesia pun berlomba menyiarkan acara tersebut. Tidak ada rasa malu lagi untuk tampil dengan membuka aurat. Tujuan utamanya tentu saja adalah untuk mendapatkan penghargaan sebagai ”Ratu Kecantikan”.

    Dengan cara itu, mungkin mereka ingin membuktikan, bahwa ternyata wanita Indonesia tidak kalah cantiknya dengan wanita negara lain? Lalu untuk apa? Katanya, untuk pariwisata. Biar turis mau datang. Biar diakui, bahwa negara Indonesia banyak wanita cantik. Setelah itu?

    Aneh! Inikah negara yang mayoritas penduduknya Muslim? Inikah negara yang menginginkan mendapat berkah dari Allah? Beginikah cara memajukan bangsa yang sedang terpuruk? Naif! Naif sekali! Akal yang sederhana pun tahu, bahwa bangsa ini akan bangkit jika rakyatnya mau belajar dan bekerja keras. Bangsa ini memerlukan pemimpin yang berani berpikir besar dan berani melakukan tindakan besar, bukan dengan mengirimkan wanita untuk mengumbar aurat di kontes ratu kecantikan. Para ulama sudah berteriak-teriak minta agar acara semacam itu dihentikan. Tetapi, pemerintah diam saja. DPR diam saja. Barangkali takut dikecam media. Takut dibilang kolot. Takut dibilang sok-moralis. Takut dibilang melanggar HAM. Memang, di alam reformasi dan kebebasan seperti ini, protes tidak dilarang, tetapi tidak perlu didengarkan.

    Tokoh agama sudah teriak-teriak agar acara-acara yang menonjolkan unsur-unsur homoseksual dan lesbian dihentikan. Tetaoi, protes itu pun dianggap angin lalu. Televisi tetap saja menayangkan tontonan seperti itu. Ulama sudah berteriak, hentikan tayangan judi via SMS. Tapi, TV pun tidak peduli. Jalan terus! Yang penting dapat untung! Para ulama juga tidak menyerah untuk mengimbau agar tayangan-tayangan klenik dihentikan. Tapi, seruan itu juga diangap sebagai angin lalu. Yang penting untung, yang penting dapat duit banyak. Yang penting, acaranya laku, iklan banyak. Tidak peduli, apakah tayangan itu merusak moral atau tidak; tayangan itu meruntuhkan sendi-sendi kekuatan bangsa atau tidak. Tidak peduli!

    Sikap tidak peduli itu pula yang kini banyak menjangkiti banyak kalangan akademisi yang sudah tergila-gila untuk mem-Barat-kan Islam. Mereka tidak mau peduli dengan segala macam kritik. Banyak yang menganggap ini masalah remeh. Tidak peduli! Buku-buku yang merusak pemikiran Islam terus diterbitkan. Meskipun sudah diketahui sebagai buku yang salah. Tidak peduli!

    Meskipun sudah berulangkali kita paparkan bahaya pemikiran liberal gaya Nasr Hamid Abu Zaid, tetap saja mereka menganggap kritikan itu sebagai angin lalu. Tidak peduli! Meskipun paham multikulturalisme sudah kita kritik, tetap saja paham itu disebarkan ke tengah masyarakat. Tidak peduli! Meskipun sudah kita tunjukkan kekeliruan dalam penafsiran Al-Quran atau pun kita tunjukkan kekeliruan dalam mengungkap data-datanya, tetap saja tidak peduli. Berulangkali kita tunjukkan bahwa ada guru besar yang kerjaannya sebagai penghulu swasta dan mengawinkan pasangan beda agama, tetap saja para petinggi kampusnya tidak peduli. Meskipun tahu ada dosen yang kerjaannya mengkampanyekan kehalalan perkawinan sesama jenis, tetap saja hal itu dianggap sebagai ”wacana”. Tidak peduli!

    Jika sikap tidak peduli semacam itu sudah mejangkiti para elite negeri ini, baik kalangan pemerintah maupun akademisi, apalagi yang bisa kita harapkan? Jika suami tidak peduli lagi apa yang dilakukan istrinya, apakah pantas dia disebut suami? Jika pemimpin negara tidak peduli dengan perilaku rakyatnya, apakah pantas dia disebut pemimpin negara? Jika guru tidak peduli dengan perilaku siswanya, apakah pantas dia disebut sebagai guru? Jika cendekiawan dan ulama sudah tidak peduli dengan perilaku umatnya, apakah pantas dia disebut cendekiawan atau ulama?

    Dalam tradisi peradaban Barat, seseorang dibiasakan untuk tidak peduli dengan kemunkaran dalam soal aqidah dan pemikiran. Mereka hanya peduli dalam soal-soal yang fisik, karena Barat memang peradaban yang sangat memuja materi. Mereka tidak peduli dengan urusan agama. Mereka sangat peduli dengan urusan korupsi dan kerusakan lingkungan, tetapi tidak peduli apakah seseorang beriman atau kufur, apakah seorang berdosa atau tidak. Mereka tidak peduli dengan semua itu! Yang penting masyarakat menjalankan ketertiban atau tidak. Itu yang mereka peduli.

    Karakter masyarakat seperti itu tentu berbeda dengan masyarakat Islam. Sebab, dalam pandangan Islam, urusan terpenting dalam kehidupan adalah masalah keimanan. Maka, tugas pemimpin negara – disamping menyejahterakan kehidupan rakyatnya – juga melindungi aqidah masyarakat. Karena itu, dalam pandangan Islam, tugas utama seorang pemimpin Islam justru melindungi dan menegakkan Tauhid. Sebab, inilah tugas utama para nabi. Kita sudah sering membahas, bagaimana azab Allah akan turun ketika umat Islam melalaikan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar.

    Dalam kaitan soal kepedulian inilah, maka Allah pun sudah mengingatkan agar kita senantiasa menegakkan iman dan mengembangkan sikap kritis terhadap kaum Muslim dan terutama kepada para pemimpinnya. Kita sangat prihatin dengan masih adanya gejala kultus di antara sebagian kalangan Muslim terhadap tokoh dan pemimpinnya. Mereka tidak peduli, apakah pemimpinnya itu keliru atau tidak. Bahkan, mereka sudah meletakkan nasibnya di dunia dan akhirat kepada sang pemimpin. Padahal, pemimpin itu bukan nabi, dan mungkin saja keliru dalam pemikiran dan kebijakan yang diambilnya.

    Karena sikap kultus itu sudah begitu membudaya, sampai-sampai ada yang marah-marah jika pemimpinnya dikritik. Ada yang marah karena Amin Rais dikritik; ada pula yang tidak terima ketika Nurcholish Madjid dikritisi pemikirannya; dan ada yang tidak terima jika Abdurrahman Wahid dikritik. Tidak sedikit yang menjadi fanatik kepada seorang tokoh atau kelompoknya melebihi fanatiknya kepada Islam itu sendiri, sehingga dia sangat marah ketika kelompok atau pemimpinnya dikritik. Meskipun sang pemimpin jelas-jelas salah, dia tidak mau mengritiknya dan berusaha keras menutupinya, supaya pemimpin dan kelompoknya tidak jatuh martabat.

    Sikap kultus seperti ini tidak mendidik masyarakat. Rasulullah saw sama sekali tidak mencontohkan sikap semacam itu. Berkembangnya tradisi ilmu senantiasa diikuti dengan budaya kritis di tengah masyarakat, meskipun sikap kritis itu tetap berpijak kepada adab. Budaya kultus dan taqlid yang membabi buta justru bukan hanya merugikan masyarakat, tetapi juga akan merugikan sang pemimpin sendiri.

    Pada tahun 2008 ini, misalnya, terbit sebuah buku berjudul ”99 Keistimewaan Gus Dur.” Dalam kata pengantarnya untuk buku ini, Muhaimin Iskandar menulis, bahwa ”Sebagai pemimpin, Gus Dur mampu mengawal, mendampingi dan mengayomi masyarakatnya menuju proses pembentukan kemandirian dan kehidupan yang demokratis.” Masih menurut Muhaimin, ”Gus Dur merupakan bagian dari kekayaan yang dimiliki bangsa ini yang patut diteladani oleh siapa pun yang memiliki perhatian dan kepedulian terhadap persoalan-persoalan umat.”

    Tentu saja, kata pengantar Muhaimin itu dibuat sebelum dia dipecat oleh Abdurrahman Wahid sebagai ketua umum PKB. Pujian setinggi langit juga diberikan oleh Prof. Dr. KH Said Aqiel Siradj, M.A, dalam pengantarnya untuk buku ini. Aqiel mengisahkan, bahwa Gus Dur mampu mengenali seorang waliyullah. Suatu ketika, Gus Dur menemui seorang yang penampilannya sangat sederhana layaknya seorang ”gembel”. Ternyata, menurut Aqiel Siraj, yang ditemui Gus Dur itu adalah seorang wali yang sedang menyamar. Begitu ketemu, Gus Dur minta didoakan oleh orang tersebut. Aqiel menulis: ”Rupanya, Gus Durlah yang berhasil menyingkap sosok waliyullah tersebut. Sementara kewalian itu hanya diketahui oleh diri sendiri dan Allah.”

    Jadi, dengan cerita itu, apakah berarti Abdurrahman Wahid adalah seorang waliyullah? Wallahu a’lam. Hanya Allah yang tahu.

    Salah satu dari 99 keistimewaan Abdurrahman Wahid yang disebutkan dalam buku ini adalah kegigihannya dalam membela kaum tertindas. Contoh kaum tertindas yang dibela Abdurrahman Wahid adalah Ahmad Dani, Inul Daratista, kelompok Ahmadiyah, Tabloid Monitor, dan sejenisnya.

    Kita bisa bersikap kritis terhadap posisi Abdurrahman Wahid dalam soal-soal tersebut. Benarkah Inul merupakan seorang wanita yang tertindas? Benarkah Ahmad Dhani termasuk kaum yang tertindas? Dan sebagainya. Jika Inul dikatakan sebagai makhluk tertindas, bagaimana dengan ribuan ibu-ibu dan anak-anak yang ditindas oleh berbagai tayangan TV yang merusak moral? Mereka tertidas, dan mereka tidak berdaya. Inul justru bergelimang harta dan dibela habis-habisan oleh kekuatan industri hiburan yang sangat fasis. Kita pun bisa bertanya, dimana posisi Abdurrahman Wahid dalam kasus penindasan rakyat Palestina, di posisi Israel atau rakyat Palestina? Mengapa dia lebih memilih bersahabat dengan Shimon Peres?

    Kita maklum, bahwa para pendukung seorang tokoh kadangkala membuat pemaparan yang mengagungkan sang tokoh. Ketokohan Abdurrahman Wahid tidaklah diragukan. Banyak keistimewaan dimilikinya. Karena itulah, ketika akan mendeklarasikan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU), para kyai senior di NU pun seperti merasa perlu menerbitkan sebuah buku kecil berjudul ”9 Alasan Mengapa Kiai-kiai tidak (lagi) bersama Gus Dur.”

    Kita tunggu saja akhir dari semua ”permainan” semacam ini. Kita yakin, Allah Maha Tahu apa yang sebenarnya terjadi. Allah tahu siapa yang benar dan siapa yang dusta. Pasti akan ada balasan untuk masing-masing. Para tokoh itu akan mempartanggungjawabkan perbuatannya sendiri kepada Allah SWT. Kita pun demikian. Di akhirat nanti, mereka akan berlepas tangan, dan tidak mau menanggung dosa-dosa kita.
    Yang penting, kita tetap diwajibkan berdakwah dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Mudah-mudahan, kita tidak termasuk golongan orang-orang yang tidak tahu dan tidak peduli dengan berbagai persoalan umat. Sebab, kata Rasulullah saw, barangsiapa yang bangun pagi dan tidak peduli dengan urusan umat, maka dia bukan bagian dari umat Islam. Wallahu a’lam. [Depok, 21 Rajab 1429 H/24 Juli 2008

  30. d amonti berkata:

    situs gobal gabul, isinya ga mutu, yang lebih tau juga gak gini-gini amat…:(

  31. Manusia Netral berkata:

    Artikel hoak,, belajar sejarah dl baru ngomong… Gus Dur bukan org serendah yang km bayangin, dy tokoh besar. Kalau ga suka sm tokoh demokrasi g ush bt artikel busuk yg menghasut.

  32. abisyakir berkata:

    @ Manusia Netral…

    Ya Anda boleh berpendapat, dan orang lain boleh dong berpendapat lain. Masak harus sama sih?

    Admin.

  33. Fulane berkata:

    ya sudah lah,
    nyimak doang dengan perdebatan di atas.
    nilai orang lain sesat, waw jangan sampai ALLAH malah mensesatkan dirinya, *istighfar again

  34. Fulani berkata:

    satu lagi, semua orang berdakwah katanya haram hukumnya membicarakan keburukan orang lain, apakah ini efek indonesia negara demokrasi?
    yah jangan sampai ludah udah dibuang dijilat lagi, yang sudah almarhum sebaiknya didekatkan pada kebaikan beliau bukan malah di bahas keburukannya.
    juga, katanya islam tidak menganjurkan berdebat, lha artikel nya aja bersifat memancing perdebatan.

  35. abisyakir berkata:

    @ Fulane…

    Jangan ragu untuk menyatakan Gusdur sesat, jangan ragu dan takut; wong bukti-buktinya banyak sekali. Baca buku, Cukup 1 Gusdur Saja. Terimakasih.

    Admin.

  36. abisyakir berkata:

    @ Fulani…

    Kalau seorang Muslim meninggal, dia dijaga hak-hak dan kehormatannya. Tetapi dengan catatan, selama hidupnya dia baik-baik, tidak pernah bawa masalah, terutama soal agama. Kalau selama hidup punya kesalahan pribadi misal “suka ngomongin orang”, “suka bohong”, “suka mengambil harta orang”, “suka menipu dalam dagang”, dan sejenis itu; kita harus menutupinya, atau tidak terlalu menyiar-nyiarkannya, agar tidak menyusahkan urusannya di alam kubur.

    Tapi kalau dia: RAJIN MENYESATKAN UMAT, RAJIN MENGEJEK ALLAH & RASUL, RAJIN MENCELA PEJUANG ISLAM, RAJIN MENYAKITI HATI UMAT, RAJIN MEMBELA GOLONGAN KUFAR, RAJIN MENGHUJAT SYARIAT ISLAM, DAN SETERUSNYA…justru kita harus terus mengingati kejahatan orang ini, seperti Allah Ta’ala mengabadikan Fir’aun, Qarun, Abu Lahab, dan lain-lain…agar menjadi PELAJARAN bagi manusia semua.

    Admin.

  37. Posting opo iki???podo islame kok bgt???org2 non muslim uda nyampe bln & teknologinya hebat…..kok kita masih muter2 dsini sini aja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: