Memahami Masalah Besar

Januari 30, 2010

Saudaraku rahimakumullah…

Kalau kita membaca Kitabullah, As Sunnah, dan sejarah Ummat, nyatalah di mata kita, betapa terpuruknya Ummat ini di masa-masa dewasa ini. Antara gambaran “Khairu Ummah”, kemegahan sejarah, serta kontribusi Islam bagi peradaban dunia, seakan tidak tampaknya jejak-jejaknya dalam kehidupan Ummat masa kini. Ibarat pepatah “Ke Barat dan Ke Timur”; kemegahan ajaran Islam berjalan ke Barat, sementara realitas Ummat berjalan ke Timur.

Sedih, sedih, dan tentu sangat sedih. Berbahagialah kita yang masih bisa bersedih. Itu pertanda masih ada keimanan di hati. Jika kemungkaran berhasil mengangkangi Al Haq, lalu kita diam saja, tidak berkomentar apapun, selain hati yang kosong melompong. Itu tandanya tidak ada iman, walau “sebiji sawi” saja.

Pertanyaan, “Mengapa Ummat sedemikian menderita nasibnya?”

JAWABAN PERTAMA: Karena tidak ada satu pun negara di dunia yang mau mengemban amanah Islam. Tidak ada satu pun pemimpin di dunia ini yang mau menjadi pemimpin Ummat. Tidak ada satu pun kekuatan negara yang mau mem-back up pilar-pilar ajaran Islam. Inilah yang membuat agama ini seperti impoten.

Islam tidak bisa ditegakkan secara individu atau kelompok. Islam hanya bisa ditegakkan secara kaffah dengan ditunjang kekuatan negara, anggaran negara, UU negara, militer negara, dan sebagainya. Bisa saja, secara individu, keluarga, jamaah, kita menegakkan Islam, tetapi hanya sebagian kecil ajaran Islam itu sendiri. Tidak bisa kaffah, seperti yang diamanahkan oleh Syariat.

Bayangkan, untuk membuat manusia menjadi shalih butuh UU negara, program kebijakan yang mendukung, pengamanan alat negara, anggaran, dan sebagainya. Begitu pula untuk menertibkan media massa, mencegah kriminalitas, mengatasi pornografi, seks bebas, narkoba, perjudian, dll. jelas semua itu butuh kekuatan negara. Maka sudah ijma’ di kalangan kaum Muslimin, wajib hukumnya menegakkan Pemerintahan Islam. Ya, dengan apa lagi agama akan bisa dilaksanakan dengan baik, kalau bukan dukungan negara?

Memang ada negara-negara tertentu yang kelihatan “agak Islami”. Tetapi mereka lebih concern dengan nasionalisme sendiri. Tidak berani tegak mengemban amanah Ummat ini. Tentu saja, mereka tidak berani menghadapi tekanan-tekanan negara non Muslim.

JAWABAN KEDUA: Kemerosotan pemahaman dan moralitas kaum Muslimin sendiri. Baik masyarakat kaum Muslimin, para ulama, para aghniya, para cendekiawan, kaum wanita, dsb. Mereka semakin jauh dari tuntunan ajaran Islam itu sendiri. Buktinya, mereka akan amat sangat takut untuk mengatakan, “Aku mencintai negara Islam!” Untuk mengatakan hal demikian saja, takutnya setengah mati. Takut disangka teroris! Para ulama, penuntut ilmu, para aktivis Islam, juga sibuk terlibat dalam ikhtilaf yang tidak selesai-selesai. Malah di antara mereka ada yang susah-payah, melakukan pembenaran atas konsep sekularisme. Menyedihkan!

Akibat kemerosotan yang hebat itu, mayoritas kaum Muslimin kehilangan kenangannya terhadap kesejukan dan keindahan kehidupan di bawah Syariat Nabi. Mereka malah terjerumus menjadi penggemar budaya Barat yang memandang manusia seperti hewan. (Di Barat, manusia dianggap sama seperti derajat binatang. Malah, binatang-binatang itu tidak boleh disakiti dalam acara-acara TV. Tapi kalau tubuh manusia, boleh dimutilasi seperti bapak-bapak memotong daging korban). Kita mengambil petunjuk filosofi hewani, meninggalkan filosofi Nubuwwah. Ummat yang seperti ini sangat sulit diajak membanggakan konsep Islam.

JAWABAN KETIGA: Orang-orang kafir berdiri dalam barisan yang teguh, solid, dan kokoh untuk mematikan bangkitnya kembali peradaban Islam di muka bumi. Orang-orang kafir di Eropa, Amerika, Asia, Afrika, dll. mereka telah melihat kemegahan sejarah Islam selama sekitar 1300 tahun. Ya, mereka belajar dari pengalaman itu. “Jangan beri Islam kesempatan lagi, atau Islam akan menguasai negeri-negerimu,” begitu prinsip mereka. Bayangkan, orang-orang buta huruf di Afghanistan saja mampu membuat Soviet bubar, Amerika kuwalahan, apalagi kalau Islam telah menjadi sebuah negara kuat. Jelas mereka sangat ngeri. Maka, apapun agenda untuk melemahkan Islam, mereka akan biayai, berapapun harganya.

Pertanyaan selanjutnya, “Adakah jalan praktisnya?”

Alhamdulillah, kita tidak pernah kesepian dengan petunjuk Allah, dengan bimbingan-Nya yang terus mengalir. Segala puji dan syukur, hanya kepada-Nya.

Tulisan seperti ini dan semisalnya, adalah bukti bahwa pertolongan Allah itu ada dan nyata. Hanya mungkin selama ini, ia tampak sayup-sayup tidak jelas. Tetapi secara hakiki Allah tetap menolong Ummat ini. Disini kita menemukan “benang merah” dari semua kekacauan yang melanda Ummat ini. Tapi sejujurnya, ini bukan masalah lama, ini sering juga diungkap. Hanya saya sifatnya, memperbaharui “rasa” saja.

Metodenya sebagai berikut, saudaraku:

==> Fokus utama tetap pada sistem negara. Kalau negara baik, pemimpin baik, rakyat akan mudah diarahkan menjadi baik. Kalau negara buruk, sistem buruk, sulit pula masyarakat hidup baik. Pemimpin itu disebut Rais (kepala). Ia seperti kepala pada tubuh kita. Kalau kepala bonyok, seluruh tubuh sakit; kepala sehat, seluruh tubuh menjadi sehat pula. Diperlukan usaha-usaha lobi siyasah yang intensif dan kontinue, untuk mencari celah bagi tumbuhnya benih-benih peradaban Islam.

==> Memberi perhatian kepada sistem negara bukan berarti, kita mengabaikan tarbiyah Ummat. Justru salah. Sebab kalau sistem diperbaiki, tanpa didukung masyarakat, lama-lama sistem itu akan mereka ingkari juga. Idenya, “Sebelah atas diperbaiki, di bawah juga diperbaiki.”

==> Waspadai kelompok lobi-lobi “Freemasonry” yang terus menempel ke pusat-pusat kekuasaan, pusat hukum, bisnis, keuangan, alat negara. Mungkin nama mereka macam-macam, bisa Freemasonry, bisa Lions Club, Rotary Club, dan aneka jenis organisasi lobi. Mereka inilah yang terus berjuang agar para pemimpin yang terpilih selalu bermadzhab sekuler, anti Islam, pro hedonisme, liberalis, dan sebagainya.

==> Harus ada saling pengertian dan persaudaraan di kalangan lembaga-lembaga Islam, organisasi Islam, jamaah dakwah, dan sebagainya. Jangan senang diadu terus-menerus, sebab semua itu akhirnya meletihkan diri kita sendiri. Betapa banyak energi hilang hanya untuk perdebatan yang terus berulang-ulang.

Insya Allah dengan metode seperti di atas, ada jalur yang bisa kita lewati untuk menuju kebangkitan peradaban Islam, seperti mana ia pernah bangkit di muka bumi selama 1300 tahun lalu. Mari kita bekerja sesuai posisi masing-masing, menuju titik sasaran yang sama: Izzul Islam wal Muslimin!!!

Wallahu Waliyyut taufiq, fanshurna Rabbana innaka Khairun Nashirin. Amin.

AMW.

Iklan

Hartamu Adalah Hidupmu!

Januari 28, 2010

Saudara-saudaraku rahimakumullah, semoga Allah selalu membimbingmu di atas jalan kebenaran, keyakinan yang lurus, dan kehidupan yang berkah. Allahumma amin.

Untuk kesekian kalinya bangsa Indonesia tertimpa MUSHIBAH BESAR. Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Belum lama lalu Pemerintah RI sepakat menanda-tangani perjanjian perdagangan bebas China-ASEAN. Ini merupakan “prestasi liberalisasi klas 1” di masa 100 hari kepemimpinan jilid II.

China selama ini disebut-sebut sebagai raksasa ekonomi baru. China bukan hanya unggul bersaing dengan negara-negara Asia, tetapi China juga mampu menggoyang dominasi Jepang, Amerika, dan Eropa dalam kancah perdagangan dunia. China membelalakkan dunia dengan ekspansi dagangnya yang “brutal”. Maksudnya, mereka menggempur pasar dunia dengan barang-barang yang harganya sangat njomplang. Misalnya, sepotong roti harga standar 1000 rupiah. Maka roti produk China bisa seharga 200 rupiah, dengan penampilan sama.

Tidak tahulah, bagaimana cara China bisa menekan harga semurah-murahnya itu. Mungkin, disana bahan baku banyak, upah pekerja bisa ditekan semurah-murahnya (kalau perlu tidak dibayar, asal diberi makan), menggunakan bahan-bahan berbahaya (seperti kasus melamin pada produk susu, dan timbal pada mainan anak-anak), serta mereka menggenjot produksi dengan melupakan kelestarian lingkungan  sama sekali. Ya, bisa murah memang dengan cara begitu. Cara menipu dan zhalim.

Nah, kini Indonesia mau disuruh bertanding dengan China. Jepang, Amerika, Eropa saja gemetar menghadapi ekspansi China, apalagi kita bangsa Indonesia? Dengan modal apa kita akan memenangkan pertarungan bisnis ini? Sejak Reformasi, bangsa Indonesia lebih concern dengan “pertumbuhan ekonomi”, bukan dengan sektor riil, bagaimana akan siap bertarung melawan produk-produk “sampah” dari China? Ya mushibah dan mushibah belaka kebijakan perdagangan bebas China-ASEAN itu.

Seharusnya kita belajar dari petani-petani Korea Selatan. Saya pernah menyaksikan di TV, ketika pemerintah Korea berniat mendatangkan produk beras dari Amerika, sebagai konsekuensi perjanjian APEC, ribuan petani Korea protes keras. Mereka menentang keras masuknya beras impor dari Amerika. Bahkan salah seorang petani Korea, dia datang ke gedung Parlemen sambil membawa belati. Dia mengancam akan menusukkan belati itu ke tubuhnya, kalau aturan impor beras tidak dicabut. Benar saja, dia “harakiri” demi menolak impor beras dari Amerika. (Maksudnya tentu, tidak menyuruh kita “harakiri”, tetapi perlu sangat militan dalam membela hak-haknya. Petani Korea saja mengerti konsekuensi perdagangan bebas, masak kita tidak?).

Dalam konferensi internasional tentang produk-produk pertanian. Amerika meminta India dan Brasil agar membuka pasar domestiknya agar produk-produk pertanian dari Amerika bisa masuk kesana. India dan Brasil bersedia membuka pasar domestiknya, dengan catatan, Amerika harus mencabut subsidinya untuk para petani Amerika. Maksudnya, di dalam negeri Amerika, Pemerintah setempat memberikan banyak subsidi kepada para petani, sehingga hasil produksi pertanian Amerika menjadi murah, sebab dibantu subsidi. Nah, produk murah itu kalau sampai masuk India dan Brasil, bisa mematikan produk pertanian setempat. Dan Amerika menolak mencabut subsidi bagi petaninya. Bagaimana sikap India dan Brasil? Mereka berdua juga menolak membuka pasar domestiknya.

Lalu bagaimana dengan Marie Elka Pangestu yang ikut dalam konferensi itu mewakili Indonesia. Ternyata, dia hanya bisa menjadi penonton dan bersikap wait and see. Kalau waktu itu seluruh anggota peserta konferensi setuju membuka pasar bagi produk-produk Amerika, saya yakin Marie Pangestu akan setuju juga. Wong, orang kayak begitu tidak memiliki reputasi apapun yang layak dibanggakan, selain menjadi pendukung Liberalisasi.

Saudaraku, Anda harus mulai berani bersikap, untuk menentukan hidup Anda sendiri. Caranya, dengan secara kritis memikirkan cara-cara untuk menyelamatkan harta-benda kita, lalu memanfaatkan harta itu untuk menjalani hidup sebaik-baiknya. Benar, kita tidak berambisi menumpuk-numpuk kekayaan, dan hidup berfoya-foya di atasnya, tetapi kita sangat butuh menyelamatkan harta-benda itu agar bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Jangan sampai, ratusan ribu wanita Indonesia menjadi babu-babu di luar negeri, demi mencari penghasilan; sementara di negeri sendiri, kekayaan diobral untuk orang asing.

Saudaraku, ubahlah hidup Anda saat ini juga! Jika sekarang Anda tidak sungguh-sungguh berperan menyelamatkan harta-benda bangsa ini, nanti Anda sendiri yang akan hidup menderita. Anda akan hidup di bawah telapak kaki orang-orang yang menghargai Anda hanya sebagai “sampah”. Lalu Anda teriak-teriak, lalu menyumpah-nyumpah, lalu Anda menangis berlinang air mata karena menyesal; sementara tidak ada seorang pun peduli dengan tangisanmu. Ketika itu semua sudah terlambat. Ya, karena engkau telah membunuh masa depanmu sendiri!

ISLAM MEMANDANG HARTA

Harta adalah amanah dari Allah Ta’ala untuk kita semua. Harta merupakan rizki yang diberikan kepada kita agar digunakan untuk hidup sebaik-baiknya. Harta adalah energi yang akan menyambung nafas eksistensi hidup kita. Harta bukanlah tujuan, bukan ambisi, bukan pula ideologi. Namun harta adalah ALAT yang diberikan oleh Allah kepada kita, agar kita hidup mulia dengan sarana alat tersebut.

Masalah harta bukanlah masalah kecil, ia sangat serius. Bayangkan, sebagian besar penjajahan, peperangan, serta konflik di dunia modern, pencetus utamanya adalah: Harta! Demi harta pula, bangsa-bangsa Eropa, Amerika, dan Jepang terlibat dalam Perang Dunia I dan II. Selama ratusan tahun (meskipun tidak harus ditulis sebagai 350 tahun) bangsa Indonesia dijajah kolonial, karena alasan harta. Bangsa Asia, Afrika, dan Pasifik menderita penjajajahan Barat, karena harta pula. Apakah kedudukan seperti ini sepele di matamu?

Betapa pentingnya masalah harta ini, Rasulullah Saw pernah ditanya oleh Shahabat Ra tentang kedudukan harta. Jika seseorang memiliki harta, lalu ada yang berniat merampas harta itu, lalu dia lawan, sehingga orang itu meninggal karena membela hartanya. Nabi Saw menegaskan, bahwa dia mati syahid. Dari sini kemudian dipahami bahwa setiap Muslim yang meninggal dalam rangka menentang penjajahan, dia mati syahid.

Hal ini perlu ditegaskan untuk kesekian kalinya, bahwa harta yang kita miliki amat sangat berharga. Bukan untuk dibuat foya-foya, untuk bergelimang kesenangan, untuk berbangga-bangga dengan kekayaan, bukan untuk menumpuk harta, lalu mati sebagai orang bakhil. Bukan sama sekali. Harta merupakan ENERGI yang kita butuhkan untuk survive dalam hidup dan menjadi khalifah di muka bumi.

Para dai, muballigh, ustadz, syaikh, kyai, dll. sering berceramah yang isinya mengecam harta, mengajak para pemuda  melupakan urusan dunia, mengajak Ummat berbangga dengan kemiskinan dan faqir, menyeru hidup zuhud secara total, serta mengancam siapapun yang terlalu sibuk bicara tentang dunia. Pemikiran orang-orang ini sungguh sempit, sungguh pendek, dan kurang berwawasan.

Memang dalam konteks KONSUMSI PRIBADI atau KELUARGA, silakan saja kalau seseorang ingin hidup semiskin-miskinnya, agar kelak tidak memberatkan hisab saat di Akhirat. Itu pilihan pribadi, boleh dipilih, jika memang ingin demikian. Tetapi dalam konteks Islam sebagai AGAMA KAFFAH, adalah TERLARANG agama ini jatuh dalam kemiskinan dan kefaqiran. Kemiskinan-kefaqiran yang menimpa Ummat secara umum, akan membukakan pintu-pintu kekufuran, kefasikan, kemunkaran, kezhaliman, bahkan kemusyrikan. Ini adalah sangat terlarang, dan kaum Muslimin tidak boleh membiarkan agama ini lemah karena kemiskinan-kefaqiran.

Peradaban Islam memiliki konsep Baitul Maal. Betapa banyak ajaran Islam yang bicara tentang harta, misalnya Zakat, nafkah, mahar, mut’ah, harta anak yatim,  shadaqah, warits, waqaf, hibah, jual-beli, hutang-piutang, ghanimah, fai, jizyah, dll. Bisa dikatakan, urusan harta mendapat porsi perhatian sangat kuat. Sehingga para ulama menyebutkan salah satu dari 5 tujuan Syariat, ialah Hifzhul Maal (menjaga harta).

Sekali lagi, dalam konteks konsumsi pribadi, kalau mau hidup miskin semiskin-miskinnya, silakan saja. Tetapi terlarang bagi Islam (sebagai agama) untuk mengalami kemiskinan dan kefaqiran. Andai bukan karena harta Khadijah Ra, harta Abu Bakar Ra, harta Utsman bin ‘Affan Ra, harta Abdurrahman bin ‘Auf Ra, serta harta kaum Muslimin di masa Nabi dulu, bagaimana Allah akan menolong agama ini?

Tidakkah Anda bisa sedikit saja bahasa Arab, lalu mampu menerjemahkan ayat ini dengan benar: “Tu’minuna billahi wa Rasulilihi wa tujaahiduu fi Sabilillahi bi amwalikum wa anfusikum, dzalikum khairul lakum in kuntum ta’lamuun.” Hendak dipalingkan kemana lagi ayat ini?

Sungguh, kita tidak wajib makan dengan menu macam-macam, tapi kita wajib menjamin bahwa kaum Muslimin sehari-hari bisa makan; dan hal itu butuh harta. Sungguh, kita tidak wajib harus berpakaian indah-indah, tapi kita wajib memastikan bahwa Ummat ini bisa menutup auratnya dengan baik; dan hal itu butuh harta. Sungguh, kita tidak wajib membuat rumah megah, tapi kita wajib memastikan bahwa anak-anak kaum Muslimin dan kaum wanita Muslimah terlindungi di bawah atap rumah yang layak; dan hal itu butuh harta.

Ketika kaum Muslimin mengabaikan urusan harta-benda, karena para dai, ustadz, dan muballigh berlomba-lomba mengkampanyekan hidup miskin-faqir, maka lihatlah pintu-pintu kehancuran Ummat berdiri berbaris-baris di depan kita. Dalam urusan industri, banyak orang memproduksi barang-barang haram dan merusak; dalam urusan media, media-media sekuler terus merusak pikiran dan moral Ummat; dalam urusan pendidikan, anak-anak Muslim didoktrin dengan pemikiran dan budaya yang salah; dalam urusan profesi, wanita-wanita Muslimah disuruh memamerkan dada dan paha, demi gaji yang lebih tinggi; dalam urusan politik, para politisi menghamba kepentingan pemodal, melupakan aspirasi Ummat; dalam segala urusan, Ummat Islam kerap akali tidak sanggup berperan disana, karena mereka miskin dan faqir. Inikah yang diinginkan oleh para dai, ustadz, dan mubbaligh itu? Kehinaan seperti inilah yang mereka ingin capai?

Kita tidak berkepentingan untuk merebut kekuasaan politik, tidak berkepentingan untuk duduk di kursi DPR, Menteri, menjadi Gubernur, Walikota, dsb. Kita hanya berkepentingan menyelamatkan masa depan kehidupan ini. Pemerintah sangat diharapkan pro kebaikan rakyatnya, bukan menjadi pelayan asing. [Tapi perlu diingat juga, ketika Pilpres kemarin, seorang kandidat Wakil Presiden tertentu, dia masih tercatat sebagai anggota eksekutif IMF. Bahkan seorang menteri tertentu juga terkenal sebagai mantan pejabat IMF].

Harus engkau catat dengan tinta tebal: “Di antara negara-negara di Dunia Islam, hanya Indonesia satu-satunya negara kaya yang sangat loyal dalam melayani kepentingan asing.” (Kalau tidak peracaya, silakan luaskan pandangmu dan lihatlah realitas-realitas disana!).

Hartamu adalah hidupmu! Jagalah hartamu sebaik-baiknya demi kemuliaan hidupmu! Jika bukan engkau sendiri yang harus menjaga hidupmu, maka orang lain tidak akan peduli. Aku disini hanya sekedar memperingatkan, sekuat kesanggupanku!

= Mine =


Antara Amal Jama’i dan Tuduhan Hizbiyyah

Januari 28, 2010

ألحمد لله رب العلمين و الصلا ة و السلا م على ر سو ل الله محمد و على أله و أصحا به أجمعين أ ما بعد

Selama ini ada kerancuan dalam persepsi sebagian Ummat tentang Amal Jam’i dan Hizbiyyah. Kedua hal ini sebenarnya merupakan hakikat yang berbeda, tetapi seringkali dicampur-adukkan. Amal jama’i yang dilakukan sebagian Muslim dituduh sebagai hizbiyyah, sehingga harus dijauhi sejauh-jauhnya. Sementara praktik hizbiyyah yang seharusnya dijauhi malah diklaim sebagai amal jama’i, sehingga dibela secara membabi-buta, disertai penolakan terhadap nasehat dalam bentuk apapun. Jelas kedua sikap ini sama-sama salahnya.

Kalau Anda berbicara dengan kelompok pengajian tertentu, pengikut majelis taklim tertentu, pembaca majalah tertentu, atau fanatikus ustadz dan syaikh tertentu; mereka sangat sering menyebut kata hizbiyyah. Bukan hanya menyebut kata, tetapi sering menuduh orang lain sebagai hizbiyyah, lalu menerapkan sanksi sosial atasnya, berupa celaan, peringatan, boikot, dan seterusnya.

Jika pihak-pihak yang menjadi sasaran celaan, peringatan, boikot itu adalah kalangan Muslim yang ikhlas melaksanakan amal jama’i, persoalannya menjadi sangat serius. Para penuduhnya akan terkena kesalahan, memusuhi amal Islami, menjauhkan manusia dari jalan Allah, serta ikut memadamkan cahaya Allah di muka bumi. Hal-hal demikian ini bukan masalah kecil, tapi sangat serius. Ia mencerminkan amal perbuatan musuh-musuh Allah dari kalangan orang-orang kafir. Na’udzubillah min dzalik, zhahiran wa bathinan.

Begitu pula, sikap hizbiyyah (fanatik buta) yang sebenarnya merupakan penyimpangan dalam agama, hal itu kerap diklaim sebagai amal jama’i. Tentu saja, klaim demikian merupakan kesalahan besar. Bahkan ia termasuk sikap membohongi Ummat dengan pemikiran-pemikiran palsu.

Kita perlu memahami amal jama’i dan hizbiyyah secara jernih, serta mengenal batasan-batasannya, sehingga tidak timbul kerancuan pemikiran yang merugikan Islam, sekaligus menyesatkan Ummat. Hanya kepada Allah Ta’ala kita memohon ilmu, hidayah, dan taufiq untuk menempuh jalan yang diridhai-Nya. Amin.

KONTEKS AMAL JAMA’I

Amal jama’i bisa didefinisikan sebagai: amal kebajikan yang dikerjakan oleh kaum Muslimin secara berjamaah, demi mencapai tujuan kebaikan Islami. Sifat amal jama’i itu merupakan amal shalih, yang ditunaikan secara bersama-sama, demi mencapai tujuan kebaikan.

Contoh amal jama’i, antara lain: Shalat berjamaah di masjid, menunaikan Shalat Jum’at, mengurus Zakat kaum Muslimin, mengurus hewan kurban, melaksanakan majelis taklim, melakukan bimbingan Manasik Haji, dan sebagainya. Amal-amal ini baik seluruhnya, dilaksanakan secara bersama-sama, demi menunaikan perintah Allah dan mencapai keridhaan-Nya.

Contoh lain, misalnya: Kerjasama menyalurkan bantuan untuk korban bencana, membentuk lembaga pendidikan Islam, membuat lembaga pengajaran bahasa Arab, membangun media Islami, membuat lembaga pelatihan SDM Muslim, membuat lembaga anti pemurtadan, membuat lembaga penelitian aliran-aliran sesat, membangun rumah sakit Islam, membangun jaringan usahawan Muslim, membangun dewan perjuangan politik Islam, dan sebagainya. Karakternya jelas, berupa amal shalih, dilakukan secara bersama-sama, untuk mencapai tujuan-tujuan kebaikan. Ini semua adalah amal jama’i.

Amal jama’i dalam wujudnya yang sempurna ialah Hayatul Islamiyyah tahta zhilalid Daulatil Islamiyyah (kehidupan Islami di bawah naungan sebuah negara Islami). Ini adalah amal jama’i dalam bentuknya yang sempurna, kolektif, dan meliputi segala bidang kehidupan Ummat. Ia dilaksanakan oleh Rasulullah Saw, para Khulafaur Rasyidin Ra., serta imam-imam kaum Muslimin yang istiqamah menempuh jalan mereka rahimahumullah jami’an.

DALIL AMAL JAMA’I

Banyak dalil-dalil yang bisa diutarakan untuk membenarkan amal jama’i, serta melaksanakannya dalam kehidupan ini. Di antara dalil-dalil tersebut adalah sebagai berikut:

[1] Perintah Allah, “Dan berpeganglah kalian dengan tali (agama) Allah secara bersama-sama, dan janganlah kalian berpecah-belah.” (Ali Imran: 103). Ini adalah dalil Syar’i terkuat dalam perkara ini. Ayat ini memerintahkan kita berpegang kepada agama Allah secara berjamaah, dan kita sekaligus dilarang untuk berpecah-belah. Lalu dikuatkan dengan ayat lain, “(Allah) telah mensyariatkan atas kalian dalam agama ini, sesuatu yang telah Dia mewasiatkan kepada Nuh, dan apa yang Dia wahyukan kepadamu, dan yang Dia wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama ini dan janganlah berpecah-belah di dalamnya.” (Asy Syura: 13). Disini dijelaskan, bahwa menegakkan agama dan bersatu-padu di atasnya merupakan karakter agama Allah sejak masa Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa As dan sampai kepada Nabi Muhammad Saw.

[2] Allah memerintahkan kita taat kepada pemimpin, dan larangan mengambil orang kafir sebagai pemimpin. “Wahai orang-orang beriman, taatlah kalian kepada Allah, taatlah kepada Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kalian.” (An Nisaa’: 59). Ayat ini merupakan perintah agar kita mengangkat seorang pemimpin yang akan memandu Ummat dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya. Sekaligus Allah melarang orang beriman mengambil orang kafir sebagai pemimpin. “Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin, dengan meninggalkan orang-orang beriman. Dan siapa yang melakukan hal itu, niscaya lepaslah ia dari (pertolongan) Allah dalam bentuk apapun.” (Ali Imran: 28). Hikmah dari ayat-ayat ini mengharuskan kita bersekutu, berserikat, berjamaah. Sebab, tidak mungkin muncul pemimpin, kecuali di atas suatu persekutuan.

[3] Nabi Saw pernah bersabda, “Jika dibaiat dua khalifah, maka bunuhlah khalifah yang terakhir dibaiat.” (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al Khudri Ra). Dalam lafadz yang lain, “Siapa yang telah membaiat seorang imam, lalu memberikan kepadanya apa yang disenanginya, maka hendaklah dia mentaati imam itu semampunya. Maka jika datang orang lain hendak merebut posisi imam itu, maka penggallah leher imam terakhir itu.” (HR. Muslim dari Abdurrahmah Ra). Hadits ini menjadi hujjah, bahwa Ummat ini harus bersatu di bawah satu kepemimpinan Islam. Jika ada yang berniat menduakan kepemimpinan, pemimpin yang kedua harus disingkirkan.

[4] Sebagian besar ayat-ayat dalam Al Qur’an yang berkaitan dengan perintah dan larangan kepada orang-orang beriman, disampaikan dengan menggunakan khithab jama’ (plural), misalnya dengan kata “Ya aiyuhalladzina amanu” atau dengan kata “Ya aiyuhan naas”. Hal ini menunjukkan, bahwa Allah Ta’ala lebih ridha berbicara kepada kaum Muslimin sebagai jamaah, bukan sebagai pribadi-pribadi. Hingga dalam hadits dijelaskan, bahwa Shalat berjamaah pahalanya lebih afdhal 27 kali dibandingkan shalat sendiri-sendiri.

[5] Banyak amal-amal yang tidak bisa dilaksanakan melainkan hanya dengan cara berjamaah, misalnya Shalat berjamaah, Shalat Jum’at, mengurus jenazah, akad jual-beli, Jihad Fi Sabilillah, pernikahan, musyawarah, shilaturahim, dan sebagainya. Amal-amal ini tidak mungkin dilaksanakan sendiri-sendiri. Bahkan dalam fiqih, kita mengenal istilah Fardhu Kifayah. Ia adalah amal-amal fardhu yang harus ditunaikan secara kolektif. Jika sudah ada yang menunaikan, yang lainnya gugur kewajiban.

[6] Demi menjaga persatuan Ummat, seseorang yang telah melihat hilal Idul Fithri secara munfarid (sendirian), dia dipersilakan membatalkan puasanya. Sementara Ummat Islam yang lain tetap berpuasa sesuai dengan pengumuman yang disampaikan oleh negara.

[7] Shirah perjuangan Nabi Saw di Makkah menjadi bukti besar tentang amal jama’i. Para Shahabat Ra bergerak, bertindak, dan berjuang dengan petunjuk dari Nabi Saw. Mereka tidak berani mendurhakai perintah Nabi Saw. Nabi memerintahkan mereka berdakwah, bersabar, bantu-membantu, berhijrah, dan sebagainya. Hingga Abu Bakar As Shiddiq Ra, beliau tidak berani menempuh hijrah ke Madinah, meskipun para Shahabat yang lain sudah berhijrah, melainkan setelah diijinkan oleh Nabi. Komando perjuangan ketika itu ada di tangan Nabi, dan para Shahabat taat kepada beliau, mengikuti perintah-perintahnya.

[8] Sudah menjadi ijma’ kaum Muslimin selama ribuan tahun tentang wajibnya menegakkan kepemimpinan Islam, serta membelanya dari berbagai rongrongan musuh-musuh Islam. Atas itu pula kaum Muslimin menempuh Jihad Fi Sabilillah secara berkesinambungan dari satu generasi ke generasi lain. Tujuannya untuk menegakkan tatanan Islam, memperluas wilayah Islam, menyebarkan dakwah Islam, serta melindungi kehidupan Islam.

Dalam riwayat juga dijelaskan, “Yadullah ‘alal ja’amaah” (Tangan Allah ada di atas jamaah). Maka kehidupan Islami, di bawah pemimpin Muslim, berdasarkan hukum Islam, dan menegakkan nilai-nilai Islam, hal itu kerap disebut sebagai Jamaatul Muslimin (jamaah orang-orang Islam).

Maka tidak diragukan lagi, amal jama’i adalah kewajiban dalam islam, sesuai kondisi-kondisi yang menyertainya. Lenyapnya amal jama’i menjadi pertanda lenyapnya agama ini. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

TIGA FAIDAH BESAR

Sejauh berbicara tentang amal jama’i dalam Islam, kita akan mendapati bahwa amal jama’i merupakan kebajikan besar dalam agama ini. Setidaknya ia terwujud dalam 3 keadaan di bawah ini, yaitu sebagai berikut:

Pertama, amal-amal shalih yang tidak mungkin bisa dikerjakan sendiri-sendiri, seperti Shalat berjamaah, Shalat Jum’at, mengurus jenazah, Jihad Fi Sabilillah, jual-beli, pernikahan, mengumpulkan Zakat, menentukan awal Ramadhan, menunaikan Shalat ‘Ied, mengembangkan ilmu, dan sebagainya.

Kedua, proses perjuangan untuk menegakkan Kalimah Allah di muka bumi. Nabi Saw dan para Shahabat Ra menempuh amal jama’i, maka siapapun yang komitmen dengan Sunnah-nya, pasti akan menempuh amal jama’i juga. Meskipun seorang Muslim sanggup berjuang sendiri, dia pasti akan menempuh amal jama’i, sebab hal itu lebih berkah dan lebih dekat kepada kemenangan.

Ketiga, kehidupan kaum Muslimin, di bawah naungan pemimpin Islam, berdasarkan hukum Islam, dengan menjalankan nilai-nilai Islam secara konsisten. Itulah kehidupan yang dikenal sebagai Jama’atul Muslimin.

Sebaik-baik kehidupan Muslim adalah dalam naungan kepemimpinan dan sistem Islam. Jika hal itu tidak terwujud, setidaknya ada upaya sungguh-sungguh untuk menegakkan Islam secara kaffah. Jangan sampai kita wafat dalam keadaan lalai atau fasiq. Na’udzubillah min dzalik. Paling minimal, kita tetap melaksanakan amal-amal fardhu kifayah dengan apapun kondisi yang ada.

Baca entri selengkapnya »


Seorang Jimly Asshidiqi…

Januari 26, 2010

Beliau ini, Prof. Dr. Jimly Asshidiqi. Seorang ahli hukum tatanegara, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK). Baru-baru Pak Jimly diangkat menjadi salah satu anggota Watimpres (Dewan Pertimbangan Presiden), bersama 8 anggota lain. Dalam pernyataannya setelah diangkat sebagai Watimpres, Jimly mengatakan, bahwa wacana impeachment (menjatuhkan seorang Presiden) melalui mekanisme politik tidak dikenal dalam ranah hukum di Indonesia. Seorang Presiden hanya bisa dimakzulkan melalui keputusan pengadilan.

Apa perlunya membahas seorang Jimly Asshidiqi? Nah, itulah pertanyaannya.

Jujur saja, ada kebingungan tersendiri dalam diri saya, ketika mendengar Pak Jimly diangkat sebagai anggota Watimpres SBY. Karakter politik Pak SBY selama ini sangat memegang teguh prinsip, “Tidak ada kesetiaan tanpa kesetiaan.” Maksudnya, tidak ada kesetiaan dari atas, tanpa bukti keseatiaan dari bawahan. Sebuah prinsip yang sangat pragmatis.

Sejak lama, Prof. Jimly Asshidiqi dikenal baik oleh kalangan Islam di Indonesia. Beliau dikenal sebagai tokoh yang masih lurus. Saya masih ingat reputasi beliau pasca Kerusuhan Monas 1 Juni 2008. Waktu itu mencuat semangat kuat dari media-media massa dan tokoh-tokoh Liberal, yang menuntus supaya FPI dibubarkan saja. Tapi Pak Jimly memiliki pendapat berbeda, beliau tidak setuju FPI dibubarkan, tetapi cukup masalah itu diselesaikan lewat jalur pengadilan. Akhirnya, FPI lolos dari jebakan kaum Liberal -semoga Allah membimbing mereka agar bertaubat-.

Sebagai seorang Ketua MK, Pak Jimly cukup disegani. Beliau dianggap bisa bersikap lurus, tidak berpihak kepada kepentingan sempit. Ketika beliau mundur dari jabatan MK dan posisi diambil-alih oleh Mahfudh MD banyak orang pesimis. Banyak orang tidak yakin, Mahfudh akan seistiqamah Pak Jimly. Tetapi waktu kemudian membuktikan, ternyata Mahfudh memiliki komitmen moral yang cukup tinggi. Alhamdulillah.

Tapi seiring waktu, muncul keraguan-keraguan dari sikap Jimly Asshidiqi. Ketika Gus Dur meninggal, dia termasuk salah satu tokoh yang merasa sangat kehilangan. Melalui detik.com, dia mengusulkan agar Gus Dur diberi penghargaan sebagai “pahlawan demokrasi”. Padahal dalam masa kepemimpinan Gus Dur waktu itu, dia pernah mengeluarkan Dekrit Presiden yang isinya membubarkan lembaga DPR/MPR. Bayangkan, itu adalah mushibah akbar bagi sistem demokrasi (di mata para pendukung demokrasi). Jimly memuji-muji Gus Dur, meskipun yang dipuji pernah menghina Al Qur’an serendah-rendahnya. Ada penolakan di hati terhadap sikap Jimly tersebut.

Saat Gus Dur meninggal, kebetulan Frans Seda juga meninggal. Inilah tokoh anti Islam yang sangat terkenal dari kalangan komunitas Nashrani. Reputasi Frans Seda tidak bisa diremehkan. Dia pula yang ikut menjadi arsitek ekonomi jaman Orde Baru dan jaman Abdurrahman Wahid. Frans Seda bisa dianggap satu barisan dengan “Mafia Berkeley”. Saya masih ingat, Frans Seda ini pernah menjadi provokator kerusuhan sosial di Kupang, sebagai “balas dendam” atas kerusuhan kecil yang terjadi di Jakarta. Saat Frans Seda meninggal, lagi-lagi Jimly merasa kehilangan besar. Dia sangat bersedih. Dia mengaku menjadi sahabat baik Gus Dur dan Frans Seda. Dua orang itu dianggap sebagai putra terbaik bangsa. Tetapi tentu “yang terbaik” bukan dalam kacamata kepentingan Islam.

Kini Jimly diangkat sebagai salah satu anggota Watimpres SBY. Padahal Pemerintah SBY baru saja menyetujui realisasi perdagangan bebas ASEAN-China. Dengan keputusan itu makin menambah daftar panjang reputasi SBY sebagai pemimpin pro Liberalisasi (Neolib). Sektor riil masih acak-acakan, sudah menyetujui perdagangan bebas.

Saya beritahu Anda sekalian. Perdagangan bebas ASEAN-China ini belum terlalu terasa untuk satu dua tahun pertama. Dampaknya belum terlalu terasa, sebab para “penjarah ekonomi” dari negara lain harus membuat infrastruktur dulu untuk mengguyur pasar domestik dengan produk-produk mereka. Tetapi setelah tahun ke-3, nanti rasakan sendiri akibatnya! Rasakan sendiri! Rasakan sendiri akibatnya!

Hadirnya Jimly Asshidiqi di lingkaran kekuasaan, dengan background sebagai ahli tatanegara, mungkin dalam rangka menacapai dua tujuan: a. Mematahkan agenda impeachment yang ingin diacapai oleh lawan-lawan politik SBY; b. Untuk memudahkan proses amandemen UUD yang memberi batasan kepemimpinan Presiden hanya dua kali saja. Bisa saja, batasan itu nanti akan dianulir, menjadi 3 kali, 4 kali, dan seterusnya. (Ya, ada ahli tatanegara inilah. Semua bisa diatur-atur. Gampang lah).

Seorang Muslim harus berdoa meminta khusnul khatimah, akhir yang baik. Jangan sebaliknya, awalnya bagus, lalu akhirnya berantakan, su’ul khatimah. Na’udzubillah min dzalik.

AMW.


Kasihan Para BONEK Itu…

Januari 26, 2010

Bonek, dari kata bondo nekad, hanya bermodal nekad. Istilah ini semula dipakai masyarakat Jawa Timur untuk menyebut kegigihan usaha seseorang, tidak bermodal apa-apa, hanya kenekadan semata. Ada kerja keras, tetapi sekaligus kekonyolan disana. Ada kalanya usaha dengan bonek berhasil, tetapi ada kalanya gagal juga.

Tetapi akhir-akhir ini istilah BONEK seperti menjadi istilah yang bermakna khusus. Ia menjadi kata pengganti untuk para holigans brutal pendukung Persebaya Surabaya. Mereka disebut sebagai bonek, dengan segala ulah brutal dan vandalistiknya. Padahal semula, istilah bonek itu muncul untuk menyebut keadaan para suporter itu yang sering pergi ke Jakarta dengan tidak bermodal apa-apa, hanya bermodal nekad. Bayangkan, ke Jakarta hanya memakai sendal, celana, kaos oblong, tanpa membawa ongkos apapun. Ini jelas nekad. Tapi lama-lama, istilah BONEK dipakai untuk menyebut suporter Persebaya yang kerap melakukan kerusuhan di stadion maupun sepanjang jalur KA. Ada pergeseran dari makna semula.

Tapi soal terminologis itu tidaklah penting. Mari kita lihat perilaku sosial pemuda-pemuda “bonek” para suporter Persebaya ini. Dari data-data yang disebutkan media antara lain:

Ribuan bonek pergi ke Bandung dengan KA ekonomi, mendukung Persebaya yang akhirnya kalah 4 : 2 melawan Persib. Sepanjang jalan para bonek banyak membuat ulah, termasuk menjarah barang dagangan masyarakat di stasiun-stasiun KA. Mereka juga melempari batu orang-orang di jalan. Mereka mendapat perlawanan dari masyarakat. Dilempari batu sampai puluhan orang terluka terkena batu. Ada yang tewas karena tubuhnya membentur benda keras saat KA melaju. Jok-jok KA hancur, kaca-kaca pecah, berantakan. Konon akibat sikap anarkhis ini, suporter Persebaya mendapat sanksi dari PSSI. Serupa nasibnya dengan suporter Persib yang mendapat sanksi tidak boleh main di Bandung, setelah Bobotoh Persib merusak stadion Siliwangi yang baru direnovasi. Ya begitulah anak-anak muda kita.

Kalau melihat kenyataan seperti itu rasanya mau marah, kesal, ingin rasanya memaki-maki mereka. Tetapi sejujurnya, keadaan yang ada pada diri ribuan pemuda itu sangatlah menyedihkan. Bukan hanya mereka, tetapi juga keadaan jutaan generasi muda Indonesia saat ini, sangat menyedihkan.

Suporter "Bonek" Tiba di Surabaya. (Sumber foto: surabaya.detik.com).

Pernahkah Anda memikirkan, bahwa para pemuda itu sebenarnya ingin hidup normal, baik, ingin menjadfi warga masyarakat yang produktif, memiliki keluarga, memiliki masa depan, memiliki peran sosial, diterima di masjid, di sekolah, di masyarakat, di lingkungan profesi, dan sebagainya. “Para bonek juga manusia yang menginginkan hidup secara harmonis,” begitulah kira-kira ungkapannya.

Sebagian besar generasi muda di Indonesia, mereka menjadi manusia-manusia berandal, bengis, amoral, bukan karena keinginan dirinya sendiri. Mereka lebih sebagai “korban” akibat tatanan sosial yang sangat merusak. Birokrasi rusak, pergaulan rusak, persaahabatan rusak, lembaga keagamaan rusak, dunia bisnis rusak, dunia politik amat sangat rusak, media massa rusak, dunia hiburan rusak, dan sebagainya. Mereka hanyalah korban dari semua kerusakan itu.

Secara sederhana bisa dikatakan, tatanan yang ada selama ini hanya membuat sebagian kecil orang bisa hidup bak raja-raja berkuasa dengan segala kemewahan bagi keluarganya; sementara nasib masyaarakat mayoritas hanya dipandang sebagai “sampah merepotkan”. Inilah intinya. Inilah sistem EKSPLOITASI yang telah sukses menghancurkan moraliatas dan masa depan jutaan generasi muda Indonesia, sejak Sabang sampai Merauke. Mereka tidak sanggup keluar dari status sebagai “korban tatanan”, sebab kekuatan mereka sangat lemah. Tetapi sejujurnya, mereka amat sangat ingin keluar dari belenggu seperti itu.

Pernah, berkali-kali muncul orang-orang yang mengaku “pahlawan”. Katanya, mereka siap berjuang hidup-mati membela nasib mereka, membela aspirasi mereka, membela hidup mereka. Tetapi setelah para “pahlawan” itu mendapat jabatan, ternyata moralnya tidak kalah brutalnya dari pejabat-pejabat sebelumnya. Nah, suara para “pahlawan” ini sering muncul, dan sesering itu pula mereka mengecewakan hati generasi muda yang semula mempercayai kata-kata mereka. Generasi muda pun putus-asa. Mereka merasa tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari keadaan ini. Semua seolah sudah mati.

Sikap brutal para pemuda Bonek, para Bobotoh, dan lainnya, semua itu sebenarnya mengekspressikan ketidak-berdayaan mereka menghadapi situasi sosial di sekitarnya. Mereka tidak tahu harus bersimpati kepada siapa. Para politisi banyak bohongnya, para pengusaha bisnis sangat menindas, para agamawan sangat murah dalam menjual ayat-ayat, media-media massa hanya membingungkan akal, dan seterusnya.

Sejujurnya, sedih melihat kerusakan-kerusakan yang timbul karena ulah para Bonek. Tetapi lebih sedih lagi ketika kita melihat kerusakan moralitas yang menimpa hati ribuan para pemuda itu. Mereka tidak ingin mendapati semua itu, tetapi mereka tak berdaya untuk menghindarinya.

Ya Allah ya Rahmaan ya Nashir, tolonglah hamba-hamba-Mu ini. Tolonglah kami, tolonglah para Bonek dan kawan-kawan, tolonglah Ummat ini. Keluarkan kami dari kungkungan fitnah berat ini, kasihanilah kami, ampunilah kami ya Rabbi, innaka Ra’ufur Rahiim. Allahumma amin.

AMW.


Bank Century dan Moralitas Pejabat

Januari 19, 2010

Skandal Bank Century merupakan TRAGEDI BESAR dalam sistem keuangan negara kita. Tentu saja Skandal BLBI masih jauh lebih besar dari skandal Bank Century. Tetapi modusnya sangat mirip. Disini uang negara dengan seenaknya dipakai untuk mem-bailout sebuah bank yang sebenarnya sakit dan kriminal. Alasannya dibuat macam-macam; bahkan pihak-pihak yang bertanggung-jawab, seolah berusaha memainkan “melodi” yang sama. “Bela, dan bela terus bailout Century. Logis gak logis, urusan belakang!” Seolah begitu prinsip yang dianut.

Skandal Bank Century masalah besar dan berat. Selain dana yang dipakai disana mencapai 6,7 Triliun. Modus serupa pernah terjadi dalam jumlah lebih mengerikan pada tahun 1997-1998 lalu. Pelaku utamanya adalah pejabat-pejabat keuangan negara berkolaborasi dengan bankir-bankir kriminal. Jika modus seperti ini tidak dihentikan, alamat hancur masa depan negara ini. Nanti semua pejabat negara dengan seenaknya bisa mengacak-acak keuangan negara. Mereka bisa beralasan, “Sikat dulu duitnya, soal alasan bisa dicari-cari!” Ini sangat mengerikan, sebab menyangkut hidup rakyat Indonesia semua.

Tanggal 13 Januari 2010, Sri Mulyani dipanggil oleh Pansus DPR. Dalam sesi dialog dengan Pansus, Sri Mulyani sangat percaya diri, sebagaimana pembawaannya selama ini. Bu Menteri ini memang termasuk istimewa; smart, percaya diri, karakter suara jelas, dan penampilan selalu simpatik. Sri seolah memiliki manajemen “citra diri” khusus, di luar keahliannya di bidang moneter.

Apa yang disampaikan oleh Sri Mulyani dalam pemeriksaan Pansus, tidak ada yang baru. Dia kembali mengulang-ulang argumen yang sama seperti sebelumnya. Malah Sri Mulyani mengatakan secara verbal, kalimat-kalimat yang sebenarnya tidak layak diucapkan seorang pejabat negara. Sri mengatakan, bahwa bailout kepada Bank Century tidak merugikan keuangan negara. Malah katanya, LPS untung dengan mengambil-alih Bank Century tersebut.

Seperti sudah sama-sama kita ketahui, argumen yang dibangun oleh semua pendukung bailout Bank Century, termasuk “pahlawan baru” Christianto Wibisono, kurang lebih sebagai berikut:

“Bank Century harus diselematkan, tidak boleh ditutup. Kalau ditutup, khawatir akan menimbulkan dampak sistemik ke seluruh sistem perbankan nasional. Penutupan Bank Century bisa memicu keresahan seluruh nasabah bank di Indonesia, lalu mereka menarik dananya beramai-ramai dari semua bank tempat mereka menyimpan uang (istilahnya, rush). Kekhawatiran itu beralasan, sebab pada tahun 1997 lalu perbankan Indonesia pernah hancur-lebur, ketika 16 bank nasional ditutup oleh Pemerintah. Perlu diingat, kondisi ketika penutupan Bank Century, Indonesia berada dalam situasi yang mengkhawatirkan, akibat pengaruh Krisis Moneter Global. Data-data moneter, seperti indeks saham, kurs rupiah, likuiditas perbankan, indeks emiten, dll. sudah menunjukkan penurunan. Waktu itu harus dilakukan langkah berani, demi menyelamatkan sistem perbankan nasional, agar tidak terjadi lagi kehancuran sistem perbankan seperti tahun 1997. Ibaratnya, seperti seseorang yang sakit jantung, perlu tindakan operasi. Di kemudian hari, bisa saja pasien itu merasa sehat, setelah lewat masa kritisnya. Ketika saat kritis, jika tidak dioperasi, dia mungkin sudah mati.”

Sebenarnya malas juga bantah-bantahan seperti ini. Sebab meskipun sudah diberi alasan seperti apapun, para pendukung bailout Bank Century akan tetap membenarkan bailout tersebut. Seperti seorang terdakwa korupsi yang tertangkap basah melakukan tindakan korupsi, dia tetap akan membela diri. Mereka akan beralasan, “Apa gunanya ada penasehat hukum, kalau tidak bisa membela diri?” Sementara di jaman kita ini, “kebenaran hukum” itu bisa diperjual-belikan.

Sedih memang. Hidup di jaman seperti ini serba bergantung kepada uang. Siapa yang memiliki akses keuangan besar, bisa melakukan apa saja. Soal alasan-alasan hukum, itu bisa dicarikan kemudian. “Pokoknya sikat aja dulu. Urusan hukum, nanti dipikirkan,” begitu prinsip yang banyak dianut. Jadi masyarakat sulit mendapatkan cercah kebenaran yang bisa menuntun hidup mereka, sebab kebenaran itu kemudian terkait dengan loyalitas uang. Siapa memberi uang, siapa memberi bonus, siapa yang mengancam karier; akan menjadi sasaran pengabdian hidup.

Disini kita akan coba buka lagi debat “skandal bank”. Tujuannya, untuk lebih meningkatkan wawasan seputar kasus-kasus perbankan ini. Insya Allah, ada sisi-sisi tambahan pengetahuan dibandingkan perdebatan sebelumnya. Semoga bermanfaat. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

[1] Logika Sri Mulyani: “Bailout kepada Bank Century harus dilakukan, kalau tidak akan berdampak sistemik merusak sistem perbankan nasional.”

JAWAB: Ketika Bank Indovert di Belanda dan Bank IFI ditutup pada April 2009, hal itu tidak menimbulkan dampak apa-apa bagi bank nasional. Padahal semula penutupan itu juga dikhawatirkan akan berdampak sistemik. Perlu disadari nilai Bank Century dalam perbankan nasional hanya sekitar 0,5 % aset bank nasional. Ibaratnya, Bank Century itu seperti jari kaki yang terinfeksi parah dan harus diamputasi. Jika diamputasi, tidak akan membunuh jiwa orang tersebut. Kerugian jelas ada, tetapi tidak akan sampai mematikan seluruh tubuh.

Masalahnya, Sri Mulyani, Boediono, para politisi, dan ekonom pendukung mereka, semuanya mendramatisasikan kasus Bank Century ini. Dramatisasi menjadi metode inti mereka untuk membela diri. Sama saja seperti seseorang yang sakit batuk-batuk, lalu divonis: “Awas, sakitmu ini bisa mematikan. Kamu bisa kena stroke karena batuk-batuk itu!”

Justru analisis yang mengatakan, bahwa Bank Century jika tidak di-bailout, akan membunuh seluruh sistem perbankan nasional, ini mencerminkan suatu kenyataan, betapa rapuhnya fondasi sistem perbankan di Indonesia. Hanya gara-gara bank yang nilainya 0,5 % bisa hancur berantakan. Jika demikian, apa saja kerjaan Bank Indonesia, sehingga struktur perbankan nasional bisa begitu rapuh?

Maka disini muncul pertanyaan, “Apakah para pendukung bailout Century itu sepakat bahwa sistem perbankan nasional begitu rapuh, sehingga hanya digoyang oleh sebuah bank kecil, bisa hancur-berantakan?” Jika mereka mengatakan, “Ya! Perbankan kita memang rapuh!” Nah, kalau keluar pernyataan seperti ini dari mereka, barulah seluruh nasabah bank boleh cemas. Ternyata, mereka menyimpan uang di bank-bank yang sangat rapuh.

Dan satu lagi pertanyaan, “Andaikan dampak sistemik itu ada, berapa nilai pengaruhnya bagi sistem perbankan?” Harus jelas dong! Apakah dampak sistemik itu bisa menghancurkan 100 % perbankan nasional, apakah 50 % perbankan nasional, apakah 10 %, atau 5 %, atau bahkan hanya 0,5 % sesuai nilai Bank Century itu sendiri? Baik Sri, Boed, Christianto “IMF” Wibisono, dll. harus bisa menjawab secara pasti perkiraan dampak sistemik itu.

Mereka bukan “anak SD” yang menempuh kebijakan keuangan negara hanya berdasar perasaan-perasaan. Harus ada parameter kuantitatifnya!

[2] Logika Sri Mulyani: “Tahun 2008 waktu itu ekonomi Indonesia menghadapi tekanan serius, akibat Krisis Moneter dunia. Berbagai parameter makro ekonomi menunjukkan kemerosotan itu. Waktu itu situasinya sulit, banyak usaha gulung tikar, ribuan karyawan di-PHK. Jadi, lihat situasi ketika itu, jangan hanya dilihat situasi sekarang!”

JAWAB: Betul, ketika itu memang situasi ekonomi Indonesia sulit, sebagai dampak Krisis Global. Betul, shahih, sepakat! Justru nilai indeks yang macam-macam itu yang menunjukkan, bahwa ekonomi kita memang sedang tertekan kuat. Ini fakta! Tidak bisa diingkari lagi. Tapi harus dicatat, semua negara mengalami kondisi yang sama. Sekalipun China, juga mengalami tekanan. Permintaan barang ke negara itu merosot, seiring Krisis Global. Eropa apalagi, tekanannya lebih hebat. Jadi, Krisis Global itu suatu fenomena umum, menimpa siapa saja.

Letak kesalahan Sri, Boed, dan kawan-kawan, mereka membela bailout Century dengan “membonceng” isu Krisis Global. Padahal keduanya, dua kasus berbeda, pada domain berbeda. Berbeda wilayahnya, berbeda pula sifatnya.

Bank Century rusak bukan karena Krisis Global, tetapi karena kejahatan keuangan di dalam bank itu sendiri. Bank Century bahkan sudah bermasalah sejak menjadi bank hasil merger. Bank ini sudah dibicarakan sejak lama, jauh-jauh hari sebelum terjadi Krisis Global pada tahun 2008. Tanpa Krisis Global pun, Bank Century sudah sakit. Mengaitkan kasus Century dengan Krisis Global sungguh tidak tepat.

Logika yang ditempuh para pembela bailout Century: “Pertengahan 2008 lalu kondisi ekonomi Indonesia tertekan, akibat Krisis Global. Jika menutup Bank Century ketika itu, khawatir terjadi rush yang akan menghancurkan sistem perbankan nasional. Jadi penyelamatan Bank Century bisa dianggap sebagai patriotisme dalam rangka menyelamatkan sistem bank nasional. Ini bukan kesalahan kebijakan, justru merupakan kepahlawanan yang hebat.”

Tetapi Krisis Global menimpa semua negara, menimpa seluruh sisi kehidupan bangsa Indonesia, bukan hanya sektor perbankan. Bahkan menimpa semua bank, bukan hanya Century. Nah, mengapa di mata Bank Indonesia, Menteri Keuangan, dan KSSK, yang terlihat hanya Bank Century? Ada ribuan entitas nasional, baik berupa bank, institusi, komisi negara, organisasi, lembaga, perusahan bisnis, dan sebagainya. Nah, mengapa yang mendapat perlakuan khusus hanya Bank Century saja, padahal semua pihak terkena dampak Krisis Global?

Tampak jelas ada kecurangan pada pembela bailout Century. Mereka menjadikan alasan Krisis Global untuk membenarkan tindakan bailout, sekalipun tindakan itu sangat tidak logis. Andaikan para pembaca ketika tahun 2008 lalu gagal menikah, atau gagal lulus kuliah, atau gagal menjadi PNS, atau gagal membuat proyek, atau gagal studi ke luar negeri, dll. Apakah atas kegagalan itu, Anda juga akan membuat alasan atas nama Krisis Global? “Maklum ketika itu lagi Krisis Global. Jadi saya mengalami kegagalan.” Begitukah cara berpikirnya? Ini sama dengan “mencuri kesempatan di tengah kesempitan”. Nanti semua penjahat di tahun 2008, mereka bisa membuat alasan yang sama untuk membenarkan kejahatan mereka?

Andaikan bailout Century dianggap sah dan benar, pertanyaannya: “Mengapa dana bailout itu membengkak lebih dari 10 kali lipat?” Semula bailout disepakati Rp. 632 miliar rupiah. Ternyata realisasi Rp. 6,7 triliun rupiah. Membengkak 10 kali lipat (atau 1000 %) menandakan disini terjadi kecurangan besar.

OK-lah, Sri Mulyani dan kawan-kawan boleh beralasan dengan dampak sistemik. Katakanlah, kita terima alasan itu. Tetapi ingat, itu untuk bailout yang nilainya Rp. 632 miliar rupiah. Lalu bagaimana dengan dana bailout yang akhirnya menjadi Rp. 6,7 triliun? Mengapa terjadi pembengkakan 10 kali lipat?

Saya rasa pertanyaan itu semakin mengerucut: “Mengapa dana bailout membengkak dari 632 miliar menjadi 6,7 triliun?” Sebab kasus Bank Century menjadi kasus raksasa, karena alasan 6,7 triliun itu. Andaikan bailout itu hanya 632 miliar rupiah, mungkin masyarakat luas tidak akan terlalu care, meskipun tetap saja ada kemungkinan suara-suara protes. Apalagi BPK sudah membuat analisis, ada penggunaan dana ilegal senilai 2,8 triliun rupiah dalam kasus bailout Bank Century.

Baca entri selengkapnya »


Dilema Dakwah Islam Kita!

Januari 18, 2010

Kemarin sempat menyaksikan acara Damai Indonesiaku, di TVOne, siang hari. Dai yang berceramah, Ust. Jeffry Al Buchori. Biasanya ada Ust. Zainuddin MZ, Ust. Yusuf Mansyur, dan lainnya. Acara ini sering dimuati tema-tema politik, sedangkan para dainya -selain Ust. Zainuddin MZ.- rata-rata kurang sreg dengan topik politik. Mereka sering “muter-muter” kalau ditanya masalah politik, apalagi kalau isinya mengkritik penguasa. Dulu SCTV punya acara semisal, Indahnya Kebersamaan. Talent pengisinya hanya Aa Gym, dan materinya rata-rata tentang moral bangsa yang general, tidak tajam mengeritik regim berkuasa.

Saya mencatat hal menarik dari ceramah Jeffry Al Buchori, yaitu ketika menyinggung masalah Skandal Bank Century. Kurang lebih Ustadz Jeffry mengatakan:

“Kenapa bingung-bingung bicara soal Bank Century, prosesnya bagaimana, siapa yang bertanggung-jawab, dll. Kenapa tidak dikejar saja kemana uang 6,7 Triliun itu? Gampang kan? Daripada susah-susah mikir proses skandal Bank Century, mending cari saja siapa yang menerima aliran dana 6,7 T itu. Gampang kan. Make it simple, gitu loh!”

Kurang-lebih seperti itu yang beliau katakan. Maaf kalau tidak persis dengan ucapan aslinya. Intinya, dalam kasus Bank Century, kejar saja kemana dana 6,7 Triliun itu larinya, siapa saja penerimanya? Beres kan? Ustadz Jeffry meyakinkan kita, “Make it simple, gitu loh!

Sejujurnya, kasus Bank Century itu bukan masalah yang sederhana, bisa dijelaskan secara simple. Tidak sama sekali. Kasus skandal ini rumit, sangat komplek, kait-mengait satu fungsi dengan fungsi lain, tidak mudah dijelaskan dengan penjelasan-penjelasan simplisit.

MetroTV sampai membuat berbagai cara untuk menjelaskan kasus ini kepada masyarakat. Sampai pernah ada acara, “Bank Century For Dummies” (bank Century untuk orang awam). MetroTV menghadirkan Kwik Kian Gie dan Rizal Ramli, mereka diberi waktu eksklusif untuk menjelaskan kasus tersebut. Tetap saja, masyarakat luas, sik ora mudeng-mudeng (belum ngerti-ngerti). TVOne juga begitu. Dalam komentar Ichsanoeddin Noersy terkait pemeriksaan pejabat di Pansus DPR, berkali-kali penyiar TVOne meminta Ichsanoeddin menjelaskan masalah itu secara sederhana. Tetapi ya tetap saja, masih teoritik dan rumit.

Intinya, kasus Bank Century bukan masalah biasa, ia masalah rumit. Kalau dalam dakwah Islam kontemporer, mungkin sama seperti perselisihan antara Lajnah Da’imah Saudi dengan Ali Hasan Al Halabi tentang topik paham Murji’ah. Kata seorang ustadz kenalan baik, itu kasus “kelas berat”. (Lho, kok jadi jalan-jalan ke masalah Murji’ah ya?).

Kembali ke kasus Century…

Dalam pemahaman awam, kasus ini dipahami sebagai: “Negara mengeluarkan uang 6,7 Triliun rupiah ke Century, lalu uang itu amblas, dibawa lari oleh pemilik Bank Century. Sama seperti kasus Edy Tanzil dulu yang membawa kabur dana negara 1,3 Triliun.”

Kenyataannya tidak demikian. Kalau diterangkan secara sederhana, kurang-lebih kejahatan Bank Century itu sebagai berikut:

“Negara (dalam hal ini LPS) memberikan suntikan dana senilai 6,7 Triliun rupiah ke Bank Century. Tujuannya untuk menyelamatkan bank itu, agar tidak bangkrut, lalu ditutup. Mengapa bank itu harus disuntik? Sebab dia kekurangan uang. Mengapa kekurangan uang? Sebab dana nasabah yang ada di bank itu dibawa kabur para pemiliknya (setidaknya 3 tokoh, salah satunya Robert Tantular, dan 2 orang Arab). Setelah Century disuntik dana, ia akhirnya menjadi milik LPS, atau di bawah kendali LPS. Lalu namanya diubah menjadi Bank Mutiara.”

Jadi, dana Rp. 6,7 Triliun itu tidak hilang, seperti yang dibayangkan. Hanya saja, dana itu sekarang mengendap di Bank Mutiara. Dan menurut audit BPK, dalam kasus dana talangan ini, setidaknya ada indikasi transaksi ilegal senilai Rp. 2,8 Triliun.

Lalu mengapa dana talangan Bank Century dipermasalahkan, padahal uang itu sendiri tidak hilang sama sekali?

Pertama, kemungkinan dana yang masuk ke Bank Mutiara tidak utuh Rp. 6,7 Triliun. Tetapi ada yang dipakai untuk urusan-urusan lain, selain urusan penyelamatan Century sehingga kemudian menjadi Bank Mutiara. Kata BPK, ada transaksi ilegal sekitar Rp. 2,8 Triliun.

Kedua, mengapa negara harus mengeluarkan uang besar untuk bank yang dirusak sendiri oleh pemiliknya (Robert Tantular Cs)? Mengapa dana itu tidak dipakai urusan lain, atau untuk membantu bank lain yang lebih membutuhkan? Inilah yang disebut Jusuf Kalla sebagai “perampokan” itu. Uang besar dipakai membantu banak rusak.

Ketiga, mengapa rencana dana talangan yang semula disetujui Rp. 632 miliar untuk Century, lalu membengkak 10 kali lipat menjadi Rp. 6,7 Triliun? Sebagai perbandingan, kalau sebuah anggaran dalam proposal membengkak 30 % saja dari rencana, seorang manajer pengawas sebuah proyek bisa dimarah-marahi oleh atasannya. Nah, dalam kasus Cemtury, ia membengkak lebih dari 1000 %. Maka itu, pejabat Bank Indonesia, Menteri Keuangan, KSSK, LPS, dll. ketika itu bisa disebut sebagai: orang-orang dungu, karena memberi jalan bagi pembengkakan anggaran talangan Bank Century sampai 1000 % lebih.

Logika mudahnya: Kesalahan Bank Indonesia, Menteri Keuangan, KSSK, LPS, dan lainnya ketika itu, seperti seseorang yang mengeluarkan dana cash 20 juta rupiah untuk membeli motor bebek 70 yang sudah ringsek. Uang itu tidak habis sama sekali, toh ia berubah menjadi motor bebek ringsek itu. Tapi ini adalah jelas-jelas salah dalam membelanjakan uang. Apalagi ketika semula, rencana pembelian motor itu hanya 2 juta, tetapi akhirnya membengkak menjadi 20 juta rupiah.

Jadi, sekali lagi. Masalah Bank Century ini bukan soal: Dikemanakan saja uang Rp. 6,7 Triliun itu? Tidak sesederhana itu.

Lalu, apa kaitannya dengan dakwah Islam…

Ya, dalam dakwah ini, seringkali kita menemukan perkataan-perkataan, ucapan-ucapan yang tidak tepat. Sering para dai memetakan masalah masyarakat secara simple, tanpa mengerti duduk masalah sebenarnya. Hal itu sering terjadi, bukan hanya sekarang saja.

Dakwah di jaman sekarang itu sangat DILEMATIK. Mengapa dikatakan demikian? Penjelasannya sebagai berikut:

[o] Seseorang baru akan didengar dakwahnya oleh masyarakat, kalau dia sudah terkenal, sering tampil di TV, atau sering tampil di media-media. Kalau tidak terkenal, orang jarang mau mendengar ilmu darinya.

[o] Agar seseorang menjadi dai terkenal, sering dipanggil oleh media-media TV, dia harus banyak toleransi, harus sering kompromi, tidak menampakkan suara-suara kritis dan keras. Harus selalu cool, tidak menyinggung perasaan, pokoknya santai-santai ajah. Dai yang komitmen dengan Syariat Islam, hampir dipastikan akan di-black list oleh media.

[o] Dalam berdakwah sendiri, seorang dai yang ingin populer, harus sering-sering membuat lawakan (humor). Intinya, dakwah dia 70 % mengandung entertainment, 30 % berisi nasehat-nasehat moral yang sifatnya umum. Jadi, dai modern sekaligus penghibur (entertainist) juga.

[o] Yang lebih rumit lagi, arena dakwah kini telah menjadi “arena perebutan kekuasaan” antar para aktivis, dai, lembaga, jamaah, partai, dan lainnya. Bahasa yang sering muncul di arena dakwah ini, adalah “Kami dan mereka”. Pihak yang menguasai podium, menguasai masjid, menguasai fasilitas dakwah, adalah pemenang. Sedang pihak yang terus membuat “rapat rahasia” untuk menggulingkan dominasi pihak tertentu, disebut pecundang. Masuknya jamaah-jamaah dakwah dari luar negeri tahun 80-an, tidak membuat Ummat Islam Indonesia semakin bijak. Justru semakin menyuburkan konflik di antara elemen-elemen dakwah Islam itu sendiri.

Dulu, siapapun yang ikhlas, memiliki ilmu, dan peduli dengan Islam, mereka akan diterima di majlis-majlis Ummat, apakah di masjid, di majlis taklim, balai-balai dakwah, dan lainnya. Tetapi saat ini, rasa “memiliki bersama” itu sudah amat sulit ditemukan. Setiap kepala aktivis dakwah seolah sudah terdoktrin kuat untuk mencurigai orang-orang “luar”. Jika ada orang baru yang membawa pesan-pesan Islam, segera dilakukan “investigasi independen”, seperti perkataan, “Siapa dia? Orang mana? Ngajinya dimana? Dia orang Ikhwani, Salafi, Tabhlighi, Tahriri, Jihadi, atau siapa?”

Pertikaian di antara sesama Muslim, termasuk kalangan Islam fundamentalis begitu kuatnya. Sepertinya, ada orang-orang bayaran yang bertugas khusus menjadi “penyiram bensin”. Kalau bara api perpecahan mulai padam, mereka segera menyiramkan bensin, agar bertengkar terus. Begitu saja. Padahal kita telah belajar, bahwa dulu penjajah selama ratusan tahun menerapkan politik Devide Et Impera. Tapi di jaman ini, kita menjadi pengamal politik itu yang paling ISTIQAMAH. Sangat menyedihkan memang.

Nah, inilah berbagai kenyataan yang kita hadapi saat ini. Bukan berarti kita akan mundur, menyerah, atau mencela dakwah ini, tetapi itulah realitasnya. Betapa sangat sulitnya menanamkan kebaikan di jaman ini. Satu sisi, masyarakat sudah terlena dengan hedonisme. Di sisi lain, popularitas dianggap lebih penting dari ilmu itu sendiri. Bahkan, andai kedua masalah itu sudah terpecahkan, kita disandera oleh masalah “KANKER PERPECAHAN” yang amat sulit terapinya. inilah dilema, sekaligus tantangan dakwah Islam saat ini.

Semoga menjadi hikmah dan pelajaran berharga. Allahumma amin ya Karim.

AMW.