Andrea Hirata dan Kartun Spongebob

Setelah suntuk memikirkan yang berat-berat. Mari kita rehat sebentar, membahas yang mudah-mudah saja, yang ringan-ringan saja. Alhamdulillah, dengan segala nikmat Ar Rahmaan.

Anda pasti tahu ya Andrea Hirata? Ya, siapa lagi kalau bukan Ical, yang namanya berkibar-kibar, setelah menulis Tetralogi: Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov. (Kalau salah judul, mohon koreksi ya).

Karya terpopuler Andrea bisa dikatakan, Laskar Pelangi. Pada mulanya, buku ini sempat membuat bingung para sastrawan dan penikmat buku-buku fiksi. Ini masuk genre buku apa ya? Sebagian orang menyebutnya Novel, tetapi Andrea sendiri mengaku bukan seorang Novelis. Dia lebih suka, buku Laskar Pelangi itu diklaim sebagai semacam Memoar, Catatan Harian. Sejujurnya, saya setuju dengan sebutan Andrea tersebut. Benar, buku itu memang lebih mirip Memoar, catatan harian seseorang. Mencatat apa saja yang berserak dalam kehidupan yang pernah dialaminya.

Tetapi sebagai memoar, ia juga tidak murni. Mengapa? Sebab Andrea juga menerapkan cara penulisan seperti yang umum ditempuh pada Novelis. Muatan-muatan fiksi, imajinasi, dialog, dll. dikembangkan disana. Bahkan lebih menarik lagi, Laskar Pelangi itu memiliki missi: kepedulian terhadap dunia pendidikan kampung. Atau khususnya, sistem pendidikan sekolah Muhammadiyyah yang salah satu muatan andalannya, adalah ilmu budi pekerti (Etika Kemuhammadiyahan).

Jadi, 3 hal bercampur dalam satu karya buku: Catatan harian, sentuhan Novelis, dan kepedulian terhadap dunia pendidikan. Nah, inilah yang akan menyulitkan memasukkan Laskar Pelangi dalam genre satra apa?

Kalau Ayat Ayat Cinta kan sudah jelas, novel murni, romantika berlatar-belakang santri. AAC itu murni novel romantis, sebab dinamika utama dalam novel tersebut memang “cinta-cintaan” antara Fahri dengan wanita-wanita pengagumnya. Ada Maria, Kristen Koptik, asli Mesir; ada Aisyah, wanita berdarah Turki-Jerman, anak seorang konglomerat; ada wanita Mesir lagi, putri Bahadur, siapa itu namanya (maaf lupa)?; juga ada wanita Indonesia, mahasiswi di Mesir, putri seorang kyai di Jawa. Pendek kata, isi utama AAC adalah “memanjakan” Fahri dengan cinta yang meluap-luap dari wanita-wanita di sekitarnya. Modelnya mirip dengan romantisme Rano Karno di jaman dulu, hanya setting-nya kaum santri. (Mungkin, bisa disebut sebagai romantisme ala “Rano Karno Ngaji”).

Pada novel AAC, alur ceritanya jelas, sejak awal sampai akhir. Tetapi pada Laskar Pelangi, alur itu tidak tampak. Jadi hanya kelihatan “celoteh” yang berserakan disana-sini. Kadang pelan, kadang agak ramai, kadang tiba-tiba tinggi. Begitulah. Novel AAC dan Laskar Pelangi, memiliki pendekatan berbeda.

Ketika Laskar Pelangi diangkat ke film, Anda perhatikan, disana ia tampak seperti sebuah cerita dengan alur novel. Iya kan? Maka untuk menambal kekurangan-kekurangan tertentu pada novel aslinya, dimasukkanlah “greget klimaks” dan “anti klimaks”. Memang cerita fiksi rata-rata harus membawa klimaks-anti klimaks itu. Kalau tidak ada, katanya “tidak seru”. Maka dalam film Laskar Pelangi, tokoh Pak Harfan “diwafatkan”.

Tetapi untuk kategori film di Indonesia, Laskar Pelangi memang luar-biasa. Suasana 70-an di Belitong seolah bisa “dihidupkan kembali”. Anak-anak itu berekspressi lepas, seperti tanpa beban, padahal mereka benar-benar anak kampung yang tadinya tak kenal sama sekali dunia kamera. Pemilihan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar, juga merupakan ide yang cerdas. Pembuat film itu seperti tidak takut dengan kendala bahasa, di hadapan konsumen nanti. Tetapi pemilihan bahasa Melayu justru membuat “kredit poin” tersendiri bagi film ini. Luar biasanya, film ini diproduksi hanya dalam waktu beberapa bulan saja. Waktu surve dan castingnya yang agak lama. Tapi syutingnya sebentar.

Beberapa waktu lalu, film Laskar Pelangi mendapat penghargaan sebagai film terbaik di Asia Pasifik. Wah, suatu penghargaan yang sangat bergengsi. Padahal kalau mau jujur, nuansa pesan-pesan Islam dalam film itu sangat kuat. (Kan katanya, setiap film yang membawa pesan Islam, akan sepi di pasaran? Buktinya tidak. Malah, ada informasi, produsen film “Lord Of The Rings” sedang diajak menggarap film tentang Rasulullah oleh pemodal dari Timur Tengah).

Oh ya…kok jadi ngelambar kemana-mana. Kita kembali ke fokus, seputar Andrea Hirata.

Saya mencatat ada beberapa inti kekuatan Laskar Pelangi, yang membuatnya unik dan mendapat respon besar dari masyarakat Indonesia:

[1] Ide yang unik. Tentang pendidikan di kampung, pendidikan dengan alam natural, kesederhanaan, dan konsistensi dengan nilai-nilai moral. Inilah uniknya.

[2] Kritik sosial yang dikemukakan Andrea terhadap berbagai masalah. Kadang, kritik ini dibawa “jalan-jalan dulu” ke dunia sains yang dipahami Andrea.

[3] Penggunaan penggambaran bombastik terhadap detail-detail obyek yang dibahas. Banyak ilustrasi bombastik yang dikemukakan Andrea, yang penggambaran itu membuat orang tertawa.

(Contoh, kalau ada seseorang mengatakan, “Saya menemukan seekor burung di sawah.” Dijamin, informasi itu sifatnya biasa-biasa saja. Tapi kalau dibumbui dengan ilustrasi bombastik, misalnya, “Saya baru menemukan anak burung garuda, bersayap merah, bermata kuning. Burung ini sangat suka bermain facebook.” Meskipun penggambaran itu fantastik, tetapi orang tertawa geli, sebab penggambarannya sangat mustahil).

Ketika membaca Laskar Pelangi, bagian keahlian Andrea dalam bulu tangkis. Jujur, saya tertawa geli. Sebab penggambarannya bombastik sekali. Dan Andrea seperti “merasa tak bersalah” ketika bercerita seperti itu. Banyak orang membuat humor dengan hal-hal bombastik, tetapi dirinya sendiri tertawa. Malah, lebih dulu tertawa sebelum orang lain tertawa. Tetapi Andrea seperti sangat “berdarah dingin” ketika menceritakan hal-hal bombastik itu.

Kalau melihat kartun Spongebob. Kartun ini juga banyak mengandung hal-hal lucu. Meskipun pada sisi-sisi tertentu, kita melihat hal-hal yang tidak Islami. Nah, metode kartun Spongebob dalam menghibur dengan kelucuan-kelucuan, persis seperti yang ditempuh Andrea dalam bukunya, Laskar Pelangi.

Kartun Spongebob itu isinya banyak berupa sindiran-sindiran, kritikan-kritikan sosial. Banyak sekali. Tetapi penggambarannya juga dengan ilustrasi-ilustrasi bombastik. Coba saja perhatikan! Kritik sosial dan ilustrasi bombastik. Disana ada kemiripan pendekatan.

Tapi untuk novel-novel Andrea lainnya, saya belum membaca. Baru Laskar Pelangi. Itu pun harus sabar membaca. Sebab kita harusa sabar mengikuti metode “jalan-jalan dulu” ala Andrea Hirata. Ketika membahas suatu topik, seringkali tiba-tiba “jalan-jalan kemana gituh”.

Ya, ini sekedar rehat. Sekalian berbagi analisis bacaan karya sastra. Silakan dinikmati tulisan seadanya ini! Kalau tidak nikmat, dipaksa-paksakan agar terasa nikmat. Kalau belum nikmat juga, coba cari pembenaran biar terasa nikmat. Kalau masih belum nikmat juga, berarti Anda “salah kamar”. Kenapa you masuk sini? He he he…

AMW.

Iklan

One Response to Andrea Hirata dan Kartun Spongebob

  1. Fauzi berkata:

    Wah, ustadz juga bisa nulis tentang hal2 ‘mikro’ begini ya.. Tapi tetap dgn analisis yang bagus.. Saya jd penasaran ttg film tentang Rasulullah yg akan digarap oleh sutradara LOTR itu. Gmana ya hasilnya? Oya, boleh request gak ustadz? Tolong ustadz ulas mengenai negara Islam global, benarkah itu adalah hal yang dijanjikan Allah SWT? Wah, saya juga mau hidup dlm negara Islam global itu, saya sudah jenuh dgn kehidupan zaman sekarang yg rasanya banyak sekali bertentangan secara blak-blakan dgn ajaran Islam.. Kalau kita renungkan, kelihatannya pantas saja Indonesia yg katanya mayoritas muslim kayak gini, karena gak sesuai dgn ajaran Islam, contohnya: zina kok dilegalkan atas nama HAM, pake lokalisasi segala, kampanye kondom, atm kondom, iklan2 kondom yg gak bener.. i r o n i s…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: