Mencapai Impian Kita

Di dunia ini banyak orang tidak bahagia. Salah satunya, mereka merasa hidupnya gagal. Mengapa? Sebab, mereka gagal meraih cita-cita yang diinginkan.

Misalnya, cita-cita semula ingin menjadi dokter, tetapi akhirnya menjadi petugas penjaga sekolah; cita-cita menjadi diplomat, akhirnya menjadi tukang pos; cita-cita menjadi anggota DPR, ternyata hanya menjadi Ketua RW; cita-cita menikah dengan model wanita yang cantik, ternyata menikah dengan anak tetangga, sehingga setiap hari kalau berdiskusi dengan isteri selalu membahas Surat An Nisaa’ ayat 3; cita-cita menjadi dosen PT bonafid, ternyata hanya menjadi tukang fotokopian, dan lain-lain.

Kegagalan meraih cita-cita membuat manusia kecewa terhadap hidupnya, lalu menjalani hidup selalu dalam gelisah, tidak percaya diri, uring-uringan, dan seterusnya.

Lalu pertanyaannya, bagaimana cara kita agar sukses meraih cita-cita? Bagaimana kiatnya agar berhasil meraih impian? Bisakah setiap cita-cita kita tercapai seperti harapan, tidak meleset?

Ya, cita-cita atau impian yang kita inginkan bisa tercapai, bisa diraih, bisa digenggam. Hanya tentu, untuk sampai kesana ada jembatan (thariqah) yang harus kita lalui. Kesalahan banyak orang, mereka percaya, bahwa dengan usaha apapun juga, sesuka hatinya, dia akan sukses meraih impian. Tidak benar itu.

Perhatikan, untuk memakan pisang saja ada caranya. Mula-mula petik pisang dari tangkainya. Pilih yang sudah matang, karena pisang kalau matang sering “tidak kompak”. Setelah itu, kupas satu helai demi helai kulitnya. Setelah basamalah, baru makan. Itu pun dengan tangan kanan.

Untuk makan pisang saja ada etikanya, masak untuk menjadi doktor, profesor, menjadi ustadz yang alim, ahli bahasa, penulis sukses, guru teladan, perwira militer, dll. masak tidak membutuhkan suatu thariqah? Jelas semua itu membutuhkan jalan/jembatan yang harus ditempuh.

Lalu bagaimana dengan umur yang sudah telat, bisakah meraih cita-cita tinggi?

Jawabnya, bisa saja. Tetapi tentu nilai cita-cita atau impian itu tidak bisa maksimal dibandingkan cita-cita yang diraih sejak kecil. Jadi kita harus tahu diri untuk mencapai cita-cita yang “lebih realistik” disesuaikan keadaan usia dan segala keterbatasan yang dimiliki.

Lalu bagaimana metode mencapai cita-cita ini? Bagaimana thariqah-nya?

PERTAMA, Anda harus memastikan bahwa cita-cita Anda adalah sesuatu yang baik, bukan impian/cita-cita buruk. Jangan sekali-kali memiliki cita-cita misalnya, ingin menjadi penjahat profesional, ingin menjadi koruptor bertampang ustadz, ingin menjadi presiden zhalim, ingin menjadi pelayan syaitan, ingin menjadi “kolektor” wanita cantik, dan sebagainya. Sejak awal cita-cita itu harus baik, positif, setidaknya halal. Sebab, siapapun yang membangun keburukan, akibatnya hanya akan menimpa dirinya sendiri. (Lihat An Nisaa’: 111).

KEDUA, jika Anda telah memilih suatu cita-cita tertentu, maka kaitkan cita-cita itu dengan pengabdian Anda kepada Allah Ta’ala. Misalnya, Anda ingin menjadi seorang dokter. Maka kuatkan keinginan itu dengan mencari alasan-alasan positif di balik profesi dokter tersebut. “Kalau aku menjadi dokter, aku akan merawat kedua orangtuaku dengan baik. Menjaga kesehatan mereka. Aku akan memanfaatkan profesiku untuk membantu Ummat Islam yang sakit, tapi tak memiliki biaya berobat. Aku akan mendukung pengembangan pengobatan cara Nabi. Aku akan tulus melayani pasien, demi menyebarkan rahmat ke seluruh alam.” Cari sebanyak-banyak sandaran spiritual, sampai hati Anda mantap dengan cita-cita yang diinginkan.

Sandaran ke arah pengabdian kepada Allah, akan menjadi fondasi yang sangat kuat. Tidak akan terputus. Apapun yang dikaitkan dengan Keridhaan Allah, akan menancap kuat di bumi. (Lihat Al Baqarah: 256).

KETIGA, mulai berjalan, bekerja, dan berjihad menuju cita-cita yang dituju. Ya, siapapun yang ingin apapun, harus bekerja meraih impiannya itu. Segala macam usaha, kerja, dan jerih-payah yang mendekatkan ke arah cita-cita, harus dilakukan. Anak kecil yang ingin menjadi dokter, perlu sering-sering diajak datang ke Puskesmas, Klinik, RS, atau bahkan kampus Kedokteran. Kalau perlu dikenalkan dengan dokter tertentu. Jadi, sejak awal, kesungguhan ke arah cita-cita harus ada. Ibaratnya, siapa yang ingin memetik hasil tanaman, dia harus menanam benih tanaman yang dimaksud. Jangan bersikap, “Biarlah nanti!” Tidak. Harus ada usaha. Terlepas apapun yang nanti akan kita peroleh sebagai hasil perjuangan. (Lihat Ali Imran: 145).

KEEMPAT, kita harus berani memilih. Dalam kehidupan ini, nanti seseorang akan mendapat banyak ujian, dalam perjalanannya meraih cita-cita. Ujian yang paling sulit, adalah ketika di hadapan kita dihamparkan beberapa pilihan yang tampak indah. Misalnya, saat ingin menjadi dokter, lalu ada tawaran menjadi sarjana teknik, ada peluang menjadi penguasa makanan, ada ajakan menjadi staf keuangan, ada peluang menjadi atlet profesional, ada ajakan main film, dan sebagainya. Nah, dalam kondisi seperti itu, adalah salah kalau Anda selalu ingin mendapatkan setiap tawaran yang enak-enak. Ini pemikiran yang salah. Yang benar, kita harus konsisten dengan satu tujuan, pahit atau manis, pokoknya tetap melaju dengan satu tujuan.

Adanya pilihan beragam yang enak-enak di depan mata Anda, itu bukan suatu jalan sukses bagi Anda. Tetapi itu hanyalah penguji ketabahan hati Anda. Andai Anda tergiur dengan pilihan yang enak-enak, lalu keluar dari jalur semula, yakinlah di tempat baru itu pun Anda akan gagal. Mengapa? Sebab Anda tidak konsisten. Sejujurnya, banyak orang gagal meraih cita-cita karena ujian “memilih” ini.

KELIMA, tabah dengan dunia yang dijalani. Jika Anda ingin sesuatu yang baik, Allah akan memberi. Tetapi pemberian yang bermanfaat itu membutuhkan fondasi yang kuat. Banyak orang bisa ini itu, menjadi pejabat ini itu, tetapi pekerjaan mereka tidak berkah, sebab fondasinya salah. Untuk menjadi dokter sukses, dunia Akhirat, profesional, tetapi amal-amal shalihnya juga melimpah, seseorang harus memiliki fondasi yang kuat. Nah, fondasi itu akan teruji dengan berbagai ujian yang banyak. Misalnya, suatu ketika muncul aturan kedokteran yang merugikan; atau suatu ketika berkembang opini negatif tentang dokter; atau misal kenal dengan dokter brengsek, yang membuat hati semakin kecil; atau suatu saat kesulitan pembiayaan, karena biaya kuliah sangat tinggi. Dan aneka ujian akan menimpa orang yang ingin sukses. Tapi yakinlah, “Innallaha ma’as shabirin” (Allah itu bersama orang-orang yang sabar). Jangan lemah karena ujian-ujian tersebut.

KEENAM, jangan bersikap tanggung. Maksudnya, kalau Anda ada kesempatan menjadi dokter terbaik, ahli terbaik, bahkan dokter kelas dunia, jangan ragu-ragu untuk menceburkan diri kesana. Perkataan-perkataan seperti, “Alaa, sudahlah biasa-biasa saja. Santai saja, nanti juga lulus. Tenang saja, kalem saja, Belanda masih jauh. Sudahlah, jadi dokter biasa saja, tidak usah yang muluk-muluk. Rasul suka orang sederhana.” Begitulah suara-suara yang kerap menguji kemantapan hati Anda. Anda diajak bersikap malas, santai, tenang, padahal seharusnya selalu giat, bekerja maksimal, tak kenal menyerah. Adapun kata-kata yang membawa nama Rasul, yakinlah itu hanya retorika orang-orang malas saja, untuk membenarkan kemalasananya. Kalau ada kesempatan, raih kesempatan itu; kalau tidak ada, ya kita bersabar, tidak memaksakan diri. Dalam hadits, “Innallah kataba al ihsana ‘ala kulli syai’in” (Allah telah mewajibkan amal terbaik dalam segala sesuatu).

KETUJUH, jika sudah berhasil meraih impian, bersikaplah sebagai orang-orang yang bersyukur. Ingat, tugas kita hanya menanam benih, serta merawat tanaman. Sedang yang “bekerja” membuat benih itu tumbuh, berdaun, berbunga, dan menghasilkan buah, adalah Allah Ta’ala. Kita ini seperti para pemancing, sementara yang menghantarkan ikan mengenai kail kita, adalah Allah. Jika menjadi dokter, jadilah dokter yang pandai bersyukur. Jangan dokter brengsek yang tak tahu diri, tak tahu syukur. Menjadi apapun, maka kunci kemantapan posisi itu adalah dengan Syukur kepada Allah Ta’ala. Dalam Al Qur’an, “Wasykuru lillah in kuntum iyyahu ta’budun” (bersyukurlah kamu kepada Allah, jika kamu benar-benar mengabdi kepada-Nya).

Dalam Surat Ali Imran ayat 145 disebutkan, “Dan siapa yang menghendaki pahala dunia, Kami akan berikan kepadanya (pahala dunia itu). Dan siapa yang menghendaki pahala Akhirat, Kami akan berikan kepadanya (pahala Akhirat tersebut). Maka Kami benar-benar membalasi orang yang bersyukur.”

Ayat di atas menjadi jaminan, bahwa cita-cita kita akan tercapai, kalau kita menempuh thariqah-nya. Dan hasil terbaik akan diberikan kepada siapapun yang pandai bersyukur.

Pertanyaan, mungkinkah cita-cita kita meleset dari harapan? Misal ingin A, tetapi lalu mendapat B.

Jawab: Mungkin saja. Terutama kalau cita-cita Anda itu menurut pandangan Allah akan menjadi keburukan bagi hidup Anda. Atau cita-cita itu tidak maksimal, padahal Anda memiliki kekuatan yang lebih besar dari itu. Bisa saja, Allah memilihkan kepada Anda prosesi yang lebih baik dari cita-cita Anda.

Maka kuncinya, selama Anda telah menempuh thariqah yang benar, jangan khawatir dengan hasilnya, apapun hasilnya. Sebab Allah Maha Mensyukuri amal-amal hamba-Nya. Anda pasti akan diberi balasan nikmat lebih tinggi dari harapan Anda, selama Anda telah menempuh thariqah yang benar.

Bagaimana kalau seseorang meninggal sebelum tercapai cita-citanya?

Jawab: Tidak masalah. Sebab hidup ini pada hakikatnya adalah untuk beramal. Iya kan. Kalau seseorang sudah berusaha sekuat tenaga, sebaik-baiknya, lalu saat memetik hasil dia wafat. Maka amal-amalnya tidak lenyap. Amal-amalnya telah tetap, mantap, dan berkembang-biak di sisi Allah Ta’ala.

Soal kita bisa menikmati buah dari perjuangan kita atau tidak, bukan hak kita untuk menentukan. Tugas kita hanya beramal, beramal, beramal, sedangkan Allah akan membalas amal-amal itu dengan sempurna. Ketika semua pekerjaan kita telah ditunaikan dengan baik, tinggal memetik hasil, lalu wafat. Itu tandanya, amal-amal kita telah sampai, sedangkan kita tidak diberi ruang untuk menjalani episode amal selanjutnya.

Coba Anda pikirkan! Kalau seseorang sudah berhasil meraih impiannya. Maksud impian itu apa sih? Apakah ia berupa kehidupan penuh kesenangan, foya-foya, glamour, pelesir, dunia syahwat, dll.? Tidak sama sekali. Hidup orang beriman itu ya perjuangan terus-menerus. Sekolah SD berjuang, sekolah SMA berjuang, masuk UMPTN berjuang, kuliah berjuang, coast berjuang, wisuda berjuang, menjadi profesional berjuang, dan seterusnya. Jadi, tidak ada waktu bermandi kesenangan.

Seseorang berhasil meraih cita-cita, pada hakikatnya, dia berhasil beramal di dunia yang dia inginkan. Itu saja. Kalau tidak sukses dengan satu cita-cita, dia bisa beralih ke cita-cita lain. Toh, dunia ini adalah ladang untuk Akhirat, kata Al Ghazali rahimahullah. Jangan dikira, jika sudah menjadi dokter teladan, lalu amal-amal akan berhenti. Justru, bisa jadi, amal-amal baru dimulai disana!

Tapi, bagaimana dengan semua biaya, pengorbanan, yang sudah dikeluarkan? Masak percuma begitu saja, karena seseorang wafat?

Allah Ta’ala Maha Adil. Buah perjuangan siapapun akan diberi balasan sempurna. Pasti ada kompensasi dari semua pengorbanan itu. Sebelum kita berpikir kompensasi, Allah sudah meletakkan kompensasi itu. Hanya saja, apa bentuknya? Itu terserah Allah Ta’ala.

Demikian, semoga menjadi INSPIRASI bagi kita semua. Semoga bermanfaat. Allahumma amin ya Karim. Walahamdulillah Rabbil ‘alamiin.

Abi Syakir.

Iklan

3 Responses to Mencapai Impian Kita

  1. @ndie berkata:

    Alhamdulillah…Insyaallah sangat bermanfaat..

  2. Ashley hii berkata:

    I had read this a few times.It’s a very good article indeed.Good job

  3. Fauzi berkata:

    Bisa jadi bahan renungan dan evaluasi bagi diriku…. Aku skrg jg tengah berjuang.. Trims atas tulisannya ustadz, 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: