Bank Century dan Moralitas Pejabat

Skandal Bank Century merupakan TRAGEDI BESAR dalam sistem keuangan negara kita. Tentu saja Skandal BLBI masih jauh lebih besar dari skandal Bank Century. Tetapi modusnya sangat mirip. Disini uang negara dengan seenaknya dipakai untuk mem-bailout sebuah bank yang sebenarnya sakit dan kriminal. Alasannya dibuat macam-macam; bahkan pihak-pihak yang bertanggung-jawab, seolah berusaha memainkan “melodi” yang sama. “Bela, dan bela terus bailout Century. Logis gak logis, urusan belakang!” Seolah begitu prinsip yang dianut.

Skandal Bank Century masalah besar dan berat. Selain dana yang dipakai disana mencapai 6,7 Triliun. Modus serupa pernah terjadi dalam jumlah lebih mengerikan pada tahun 1997-1998 lalu. Pelaku utamanya adalah pejabat-pejabat keuangan negara berkolaborasi dengan bankir-bankir kriminal. Jika modus seperti ini tidak dihentikan, alamat hancur masa depan negara ini. Nanti semua pejabat negara dengan seenaknya bisa mengacak-acak keuangan negara. Mereka bisa beralasan, “Sikat dulu duitnya, soal alasan bisa dicari-cari!” Ini sangat mengerikan, sebab menyangkut hidup rakyat Indonesia semua.

Tanggal 13 Januari 2010, Sri Mulyani dipanggil oleh Pansus DPR. Dalam sesi dialog dengan Pansus, Sri Mulyani sangat percaya diri, sebagaimana pembawaannya selama ini. Bu Menteri ini memang termasuk istimewa; smart, percaya diri, karakter suara jelas, dan penampilan selalu simpatik. Sri seolah memiliki manajemen “citra diri” khusus, di luar keahliannya di bidang moneter.

Apa yang disampaikan oleh Sri Mulyani dalam pemeriksaan Pansus, tidak ada yang baru. Dia kembali mengulang-ulang argumen yang sama seperti sebelumnya. Malah Sri Mulyani mengatakan secara verbal, kalimat-kalimat yang sebenarnya tidak layak diucapkan seorang pejabat negara. Sri mengatakan, bahwa bailout kepada Bank Century tidak merugikan keuangan negara. Malah katanya, LPS untung dengan mengambil-alih Bank Century tersebut.

Seperti sudah sama-sama kita ketahui, argumen yang dibangun oleh semua pendukung bailout Bank Century, termasuk “pahlawan baru” Christianto Wibisono, kurang lebih sebagai berikut:

“Bank Century harus diselematkan, tidak boleh ditutup. Kalau ditutup, khawatir akan menimbulkan dampak sistemik ke seluruh sistem perbankan nasional. Penutupan Bank Century bisa memicu keresahan seluruh nasabah bank di Indonesia, lalu mereka menarik dananya beramai-ramai dari semua bank tempat mereka menyimpan uang (istilahnya, rush). Kekhawatiran itu beralasan, sebab pada tahun 1997 lalu perbankan Indonesia pernah hancur-lebur, ketika 16 bank nasional ditutup oleh Pemerintah. Perlu diingat, kondisi ketika penutupan Bank Century, Indonesia berada dalam situasi yang mengkhawatirkan, akibat pengaruh Krisis Moneter Global. Data-data moneter, seperti indeks saham, kurs rupiah, likuiditas perbankan, indeks emiten, dll. sudah menunjukkan penurunan. Waktu itu harus dilakukan langkah berani, demi menyelamatkan sistem perbankan nasional, agar tidak terjadi lagi kehancuran sistem perbankan seperti tahun 1997. Ibaratnya, seperti seseorang yang sakit jantung, perlu tindakan operasi. Di kemudian hari, bisa saja pasien itu merasa sehat, setelah lewat masa kritisnya. Ketika saat kritis, jika tidak dioperasi, dia mungkin sudah mati.”

Sebenarnya malas juga bantah-bantahan seperti ini. Sebab meskipun sudah diberi alasan seperti apapun, para pendukung bailout Bank Century akan tetap membenarkan bailout tersebut. Seperti seorang terdakwa korupsi yang tertangkap basah melakukan tindakan korupsi, dia tetap akan membela diri. Mereka akan beralasan, “Apa gunanya ada penasehat hukum, kalau tidak bisa membela diri?” Sementara di jaman kita ini, “kebenaran hukum” itu bisa diperjual-belikan.

Sedih memang. Hidup di jaman seperti ini serba bergantung kepada uang. Siapa yang memiliki akses keuangan besar, bisa melakukan apa saja. Soal alasan-alasan hukum, itu bisa dicarikan kemudian. “Pokoknya sikat aja dulu. Urusan hukum, nanti dipikirkan,” begitu prinsip yang banyak dianut. Jadi masyarakat sulit mendapatkan cercah kebenaran yang bisa menuntun hidup mereka, sebab kebenaran itu kemudian terkait dengan loyalitas uang. Siapa memberi uang, siapa memberi bonus, siapa yang mengancam karier; akan menjadi sasaran pengabdian hidup.

Disini kita akan coba buka lagi debat “skandal bank”. Tujuannya, untuk lebih meningkatkan wawasan seputar kasus-kasus perbankan ini. Insya Allah, ada sisi-sisi tambahan pengetahuan dibandingkan perdebatan sebelumnya. Semoga bermanfaat. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

[1] Logika Sri Mulyani: “Bailout kepada Bank Century harus dilakukan, kalau tidak akan berdampak sistemik merusak sistem perbankan nasional.”

JAWAB: Ketika Bank Indovert di Belanda dan Bank IFI ditutup pada April 2009, hal itu tidak menimbulkan dampak apa-apa bagi bank nasional. Padahal semula penutupan itu juga dikhawatirkan akan berdampak sistemik. Perlu disadari nilai Bank Century dalam perbankan nasional hanya sekitar 0,5 % aset bank nasional. Ibaratnya, Bank Century itu seperti jari kaki yang terinfeksi parah dan harus diamputasi. Jika diamputasi, tidak akan membunuh jiwa orang tersebut. Kerugian jelas ada, tetapi tidak akan sampai mematikan seluruh tubuh.

Masalahnya, Sri Mulyani, Boediono, para politisi, dan ekonom pendukung mereka, semuanya mendramatisasikan kasus Bank Century ini. Dramatisasi menjadi metode inti mereka untuk membela diri. Sama saja seperti seseorang yang sakit batuk-batuk, lalu divonis: “Awas, sakitmu ini bisa mematikan. Kamu bisa kena stroke karena batuk-batuk itu!”

Justru analisis yang mengatakan, bahwa Bank Century jika tidak di-bailout, akan membunuh seluruh sistem perbankan nasional, ini mencerminkan suatu kenyataan, betapa rapuhnya fondasi sistem perbankan di Indonesia. Hanya gara-gara bank yang nilainya 0,5 % bisa hancur berantakan. Jika demikian, apa saja kerjaan Bank Indonesia, sehingga struktur perbankan nasional bisa begitu rapuh?

Maka disini muncul pertanyaan, “Apakah para pendukung bailout Century itu sepakat bahwa sistem perbankan nasional begitu rapuh, sehingga hanya digoyang oleh sebuah bank kecil, bisa hancur-berantakan?” Jika mereka mengatakan, “Ya! Perbankan kita memang rapuh!” Nah, kalau keluar pernyataan seperti ini dari mereka, barulah seluruh nasabah bank boleh cemas. Ternyata, mereka menyimpan uang di bank-bank yang sangat rapuh.

Dan satu lagi pertanyaan, “Andaikan dampak sistemik itu ada, berapa nilai pengaruhnya bagi sistem perbankan?” Harus jelas dong! Apakah dampak sistemik itu bisa menghancurkan 100 % perbankan nasional, apakah 50 % perbankan nasional, apakah 10 %, atau 5 %, atau bahkan hanya 0,5 % sesuai nilai Bank Century itu sendiri? Baik Sri, Boed, Christianto “IMF” Wibisono, dll. harus bisa menjawab secara pasti perkiraan dampak sistemik itu.

Mereka bukan “anak SD” yang menempuh kebijakan keuangan negara hanya berdasar perasaan-perasaan. Harus ada parameter kuantitatifnya!

[2] Logika Sri Mulyani: “Tahun 2008 waktu itu ekonomi Indonesia menghadapi tekanan serius, akibat Krisis Moneter dunia. Berbagai parameter makro ekonomi menunjukkan kemerosotan itu. Waktu itu situasinya sulit, banyak usaha gulung tikar, ribuan karyawan di-PHK. Jadi, lihat situasi ketika itu, jangan hanya dilihat situasi sekarang!”

JAWAB: Betul, ketika itu memang situasi ekonomi Indonesia sulit, sebagai dampak Krisis Global. Betul, shahih, sepakat! Justru nilai indeks yang macam-macam itu yang menunjukkan, bahwa ekonomi kita memang sedang tertekan kuat. Ini fakta! Tidak bisa diingkari lagi. Tapi harus dicatat, semua negara mengalami kondisi yang sama. Sekalipun China, juga mengalami tekanan. Permintaan barang ke negara itu merosot, seiring Krisis Global. Eropa apalagi, tekanannya lebih hebat. Jadi, Krisis Global itu suatu fenomena umum, menimpa siapa saja.

Letak kesalahan Sri, Boed, dan kawan-kawan, mereka membela bailout Century dengan “membonceng” isu Krisis Global. Padahal keduanya, dua kasus berbeda, pada domain berbeda. Berbeda wilayahnya, berbeda pula sifatnya.

Bank Century rusak bukan karena Krisis Global, tetapi karena kejahatan keuangan di dalam bank itu sendiri. Bank Century bahkan sudah bermasalah sejak menjadi bank hasil merger. Bank ini sudah dibicarakan sejak lama, jauh-jauh hari sebelum terjadi Krisis Global pada tahun 2008. Tanpa Krisis Global pun, Bank Century sudah sakit. Mengaitkan kasus Century dengan Krisis Global sungguh tidak tepat.

Logika yang ditempuh para pembela bailout Century: “Pertengahan 2008 lalu kondisi ekonomi Indonesia tertekan, akibat Krisis Global. Jika menutup Bank Century ketika itu, khawatir terjadi rush yang akan menghancurkan sistem perbankan nasional. Jadi penyelamatan Bank Century bisa dianggap sebagai patriotisme dalam rangka menyelamatkan sistem bank nasional. Ini bukan kesalahan kebijakan, justru merupakan kepahlawanan yang hebat.”

Tetapi Krisis Global menimpa semua negara, menimpa seluruh sisi kehidupan bangsa Indonesia, bukan hanya sektor perbankan. Bahkan menimpa semua bank, bukan hanya Century. Nah, mengapa di mata Bank Indonesia, Menteri Keuangan, dan KSSK, yang terlihat hanya Bank Century? Ada ribuan entitas nasional, baik berupa bank, institusi, komisi negara, organisasi, lembaga, perusahan bisnis, dan sebagainya. Nah, mengapa yang mendapat perlakuan khusus hanya Bank Century saja, padahal semua pihak terkena dampak Krisis Global?

Tampak jelas ada kecurangan pada pembela bailout Century. Mereka menjadikan alasan Krisis Global untuk membenarkan tindakan bailout, sekalipun tindakan itu sangat tidak logis. Andaikan para pembaca ketika tahun 2008 lalu gagal menikah, atau gagal lulus kuliah, atau gagal menjadi PNS, atau gagal membuat proyek, atau gagal studi ke luar negeri, dll. Apakah atas kegagalan itu, Anda juga akan membuat alasan atas nama Krisis Global? “Maklum ketika itu lagi Krisis Global. Jadi saya mengalami kegagalan.” Begitukah cara berpikirnya? Ini sama dengan “mencuri kesempatan di tengah kesempitan”. Nanti semua penjahat di tahun 2008, mereka bisa membuat alasan yang sama untuk membenarkan kejahatan mereka?

Andaikan bailout Century dianggap sah dan benar, pertanyaannya: “Mengapa dana bailout itu membengkak lebih dari 10 kali lipat?” Semula bailout disepakati Rp. 632 miliar rupiah. Ternyata realisasi Rp. 6,7 triliun rupiah. Membengkak 10 kali lipat (atau 1000 %) menandakan disini terjadi kecurangan besar.

OK-lah, Sri Mulyani dan kawan-kawan boleh beralasan dengan dampak sistemik. Katakanlah, kita terima alasan itu. Tetapi ingat, itu untuk bailout yang nilainya Rp. 632 miliar rupiah. Lalu bagaimana dengan dana bailout yang akhirnya menjadi Rp. 6,7 triliun? Mengapa terjadi pembengkakan 10 kali lipat?

Saya rasa pertanyaan itu semakin mengerucut: “Mengapa dana bailout membengkak dari 632 miliar menjadi 6,7 triliun?” Sebab kasus Bank Century menjadi kasus raksasa, karena alasan 6,7 triliun itu. Andaikan bailout itu hanya 632 miliar rupiah, mungkin masyarakat luas tidak akan terlalu care, meskipun tetap saja ada kemungkinan suara-suara protes. Apalagi BPK sudah membuat analisis, ada penggunaan dana ilegal senilai 2,8 triliun rupiah dalam kasus bailout Bank Century.

[3] Logika Sri Mulyani: “Kita harus belajar dari kasus 1997 lalu. Ketika itu terjadi rush akibat penutupan 16 bank nasional.”

Kasus tahun 1997 berbeda sekali dengan kasus November 2008. Berbeda sekali. Kalau tidak tahu bedanya, sebaiknya mundur saja dari jabatan Menteri Keuangan, atau Wakil Presiden. Katanya “ahli keuangan”, mengapa tidak bisa membedakan dua kondisi tahun 1997 dan 2008 itu? Sangat aneh.

PERTAMA, tahun 1997 bank yang ditutup ada 16. Sementara tahun 2008, bank yang beresiko ditutup, sehingga akhirnya harus diselamatkan dengan bailout, hanya Bank Century. Angka 1 berbeda dengan angka 16. Harus dicatat itu. Kalau belum yakin, tanyakan pada anak SD kelas I.

KEDUA, 16 bank waktu itu ditutup paksa oleh Pemerintah, melalui pengumuman Menkeu Mar’i Muhammad. Bank-bank itu sebenarnya masih operasi, masih eksis, tetapi memang dianggap bank kecil. Namun Pemerintah memaksa menutup bank-bank yang masih operasional itu, atas desakan IMF. Jadi, ini ada 16 bank masih operasional dengan normal, meskipun mungkin ada masalah-masalah tertentu. Tiba-tiba, tidak ada angin, tidak ada hujan, diminta ditutup seketika. Sedangkan kasus Century, ia sudah bermasalah sejak proses merger. Maka itu Century masuk dalam mekanisme pengawasan khusus Bank Indonesia. Kalau tahun 1997, ada 16 bank masih operasional diminta ditutup paksa, maka tahun 2008 ada Bank Century yang nyaris kolaps karena tindak kriminal pengurus dan pemiliknya.

KETIGA, pada tahun 1997, tidak ada mekanisme penjaminan uang nasabah bank. Waktu itu tidak ada mekanisme tersebut, sehingga terjadi rush. Sementara tahun 2008 sudah ada LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) yang salah satu fungsinya menalangi keuangan perbankan yang bermasalah.

KEEMPAT, ini yang sangat penting, tahun 1997 bangsa Indonesia belum memiliki pengalaman menghadapi penutupan bank. Sedangkan tahun 2008, kita sudah memiliki pengalaman lebih dari 10 tahun. Jadi resiko rush sangat kecil, sebab para nasabah sudah jauh lebih pintar dalam mengelola uangnya di bank.

Jadi menyamakan kondisi tahun 1997 dan 2008, adalah sangat konyol. Sebaiknya Sri Mulyani, Boed, dll. didepak saja dari posisinya. Mereka terbukti tidak terlalu pintar untuk mengurus masalah ekonomi. Dalam kasus Century betapa sangat jelas, mereka tampak seperti orang bodoh tentang sistem keuangan. Harus dicatat, orang bodoh sangat berbahaya untuk mengurus uang dan ekonomi.

[4] Logika Sri Mulyani: “Dalam kasus bailout Bank Century, negara tidak dirugikan kok. Uang itu tidak hilang, tetapi sifatnya modal penyertaan. Jadi kami tanam modal sekian triliun di Bank Century, dengan konsekuensi kami mendapat porsi saham bank tersebut.”

JAWAB: Ini juga bukti kebodohan untuk kesekian kalinya. Sebenarnya, orang seperti ini tidak terlalu bodoh. Tetapi memaksakan diri membela sesuatu yang salah. Dalam pepatah Arab, diibaratkan seperti orang yang mencari kayu bakar di malam hari. Mereka meraba-raba dalam gelap, kalau ada batang kayu diambilnya. Bisa saja, suatu saat dia akan mengambil sesuatu yang dikiranya batang kayu, padahal sebenarnya  tubuh seekor ular berbisa. Mereka melakukan pembelaan membabi-buta, sampai tidak menengok apakah pembelaan itu logis atau tidak.

Disini, tingkat kebodohan Sri Mulyani sudah sedemikian parah. Parah sekali. Dia sampai mengingkari prinsip-prinsip akuntansi yang paling elementer, yang dulu pernah saya pelajari saat masih SMP.

PERTAMA, dalam teori finansial modern, yang namanya kerugian itu tidak selalu berarti kehilangan uang. Tetapi salah dalam melakukan belanja, juga bisa berarti kerugian. Misalnya, seseorang memiliki dana Rp. 10 juta. Dana itu bisa digunakan untuk biaya sekolah anak, membuka usaha kios, menyewa sebidang tanah untuk menanam padi, untuk biaya operasi isteri, untuk membeli motor bekas, atau sekedar dihabiskan untuk konsumsi sehari-hari. Apa jadinya, jika dana 10 juta itu dibelikan alat-alat fitness seharga 8 juta rupiah? Meskipun uang itu tidak hangus, tetapi cara belanja keliru, ia disebut juga sebagai kerugian.

KEDUA, kerugian juga bisa terjadi dalam kasus, membeli sesuatu lebih mahal dari harga semestinya. Misalnya, harga sebuah rumah idealnya Rp. 150 juta. Tetapi karena kebodohan informasi, rumah itu dibeli dengan harga Rp. 450 juta. Ini juga kerugian, meskipun wujud rumahnya masih ada.

KETIGA, kerugian juga bisa terjadi pada pembelian aset-aset yang mengandung muatan kriminalitas. Misalnya, membeli sebuah Kijang Inova baru dengan harga Rp. 50 juta. Harga ini sangat murah. Tetapi jika ia adalah mobil curian, masalahnya akan sangat panjang. Kita bisa berurusan dengan polisi, bisa dituduh sebagai “penadah”, bisa diklaim oleh pemilik barang, kesulitan untuk menjual kembali, dan sebagainya. (Dalam kasus Bank Century, kenyataan seperti ini terjadi).

KEEMPAT, kerugian juga bisa terjadi dalam kasus, pembiayaan proyek yang akhirnya berhenti di tengah jalan. Proyek itu tidak tuntas, padahal biaya-biaya sudah terlanjur bnyak dikeluarkan. Contoh, proyek Monorail di Jakarta. Tiang-tiang yang sudah dipancang, desain proyek, biaya konsultan, alat-alat yang sudah dibeli, biaya tenaga kerja yang sudah dibayar, dll. seperti menguap sia-sia. Sementara fasilitas Monorail yang diinginkan tidak pernah terwujud. Ini kerugian, meskipun uang itu tidak sama sekali hilang, tetapi berubah menjadi tiang-tiang “aneh” yang semakin mengotori pemandangan.

KELIMA, disebut kerugian juga, jika investasi yang ditanamkan di suatu usaha tidak memberikan manfaat maksimal. Misalnya, dana Rp. 20 juta jika ditanamkan di usaha roti kukus, akan membuahkan keuntungan Rp. 400 ribu per hari. Tetapi jika ditanamkan di usaha bengkel motor, keuntungan hanya 100 ribu per hari. Kondisi semacam ini disebut kerugian. (Ini hanya sekedar contoh, lho).

Dalam akuntasi elementer, dikenal istilah “barang bergerak”, dan “barang tak bergerak”. Barang bergerak misalnya dana liquid yang bisa dipakai kapan saja; sedangkan barang tak bergerak bisa berupa tanah, bangunan, dan aset serupa itu. Bahkan dalam akuntansi dikenal nilai “penyusutan”. Ini lebih abstrak lagi, sebab kerugian nominal tidak tampak, tetapi ia tetap dihitung sebagai kerugian.

Sangat menakjubkan, Sri Mulyani memandang kerugian semata-mata dari hilangan uang dalam jumlah nominal tertentu. Ya Allah, itu adalah definisi kerugian paling kuno dalam keuangan. Tidak pantas seorang Menteri Keuangan RI memiliki pemikiran seperti itu. Ada baiknya, Pansus DPR secara serius mempertanyakan keahlian Sri Mulyani di bidang keuangan. Kalau seorang Menteri Keuangan sangat bodoh, alamat hancur urusan ekonomi Indonesia.

Dan lebih parah lagi klaim yang mengatakan, bahwa dana bailout 6,7 dari LPS bukan keuangan negara. Itu hasil keuntungan LPS. Ini betul-betul parah. Mereka disebut ahli keuangan, praktisi keuangan, pejabat institusi keuangan, tetapi untuk hal-hal mendasar seperti itu, tidak tahu. Tidak ada salahnya dibentuk Pansus DPR baru, yaitu untuk menyelidiki kompetensi pejabat-pejabat keuangan negara.

[5] Logika Sri Mulyani: “Bailout Bank Century adalah kebijakan terbaik yang harus ditempuh Pemerintah ketika itu.

JAWAB: Ini juga klaim yang salah. Untuk menyelesaikan kasus Bank Century sebenarnya ada pilihan-pilihan. Bailout hanya salah satu cara saja, dan itu bukan cara terbaik. Cara paling ekstrim untuk menyelesaikan Century ada 2, yaitu: (1) Bank Century diberi bailout penuh, dengan konsekuensi kepemilikan Bank Century berpindah tangan ke LPS (negara). Kasusnya sama seperti pengambil-alihan Bank BCA dulu dari tangan Salim Group. (2) Bank Century ditutup secara tegas, dan masalah-masalah yang ada diselesaikan lewat jalur hukum. Secara ekstrim ada dua pilihan itu. Tinggal diperhitungkan secara cermat manfaat dan mudharatnya. Ada yang mengatakan, kalau Bank Century ditutup, biaya yang dibutuhkan hanya sekitar Rp. 1 triliun rupiah. Jauh lebih kecil dari 6,7 triliun.

Selain cara ekstrim, ada juga cara moderat dengan resiko kerugian keuangan negara lebih kecil. PERTAMA, aset Bank Century dijual kepada investor yang mau membelinya. Tentu dengan kesiapan investor tersebut menanggung segala kerugian-kerugian yang ada dalam bank tersebut. Menjual Bank Century ibaratnya menjual suatu barang yang mengandung kerusakan di dalamnya. Harganya tentu lebih murah dari harga normal. KEDUA, Bank Century diambil-alih oleh bank-bank besar nasional. Bisa saja, bank itu dibeli putus, atau manajemennya diambil alih. Katanya, bank itu bisa diambil-alih oleh Bank Mandiri.

KETIGA, penyelesaian Bank Century ditangguhkan sampai batas waktu tertentu. Maksudnya, ia belum ditutup, tetapi juga belum diberikan suntikan modal. Sementara waktu Bank Century dinyatakan dalam kondisi “stagnan”, sampai kondisi tekanan yang melanda perekonomian nasional mereda. Hal ini sangat mungkin dilakukan. Bank Indonesia atau KSSK memiliki dalih apa saja untuk memberlakukan suatu kebijakan. Mengeluarkan uang besar Rp. 6,7 Triliun dalam kondisi Krisis terhadap satu bank kecil seperti Century adalah sangat berbahaya. Bagaimana jika ketika itu ada 10 bank yang meminta diselamatkan juga? Apakah LPS akan mengeluarkan dana Rp. 67 Triliun (10 kali 6,7 Triliun) demi menyelamatkan 10 bank tersebut? Sementara uang LPS tidak sebesar 67 Triliun? Bagaimana jika dana LPS habis, sampai modal-modalnya, untuk melakukan penyelamatan seperti kepada Bank Century itu, lalu bank-bank lain meminta penjaminan kepada LPS?

Bank Indonesia bisa beralasan, pengucuran dana talangan untuk Century ditangguhkan, karena negara tidak bisa spekulasi mengucurkan dana besar dalam suasana Krisis seperti itu. Belajar dari kejadian tahun 1997, pengucuran BLBI sampai 500-an Triliun justru nyaris membunuh bangsa Indonesia. Seharusnya, Bank Indonesia sangat hati-hati mendukung kebijakan talangan dalam kondisi Krisis itu.

Jika penyelesaian Bank Century ditangguhkan, sampai kondisi Krisis mereda. Maka tidak ada alasan lagi bagi Bank Indonesia untuk beralasan dengan Krisis Global. Jadi, Sri Mulyani, Boed, dan kawan-kawan tidak usah ngeyel membuat bantahan-bantahan atas nama Krisis Global. Penyelesaian tuntas Bank Century bisa dilakukan setelah tekanan ekonomi mereda.

[6] Logika Sri Mulyani: “Tetapi waktu itu, saat tekanan Krisis Global sangat kuat, tajuk media massa, pernyataan pakar ekonomi, desakan anggota DPR, mereka meminta supaya Pemerintah bertindak cepat dan tepat untuk menyelamatkan sistem perekonomian nasional.”

JAWAB: Iya benar. Kondisi ekonomi sedang tertekan. Krisis Global melanda dunia. Semua negara gelisah memikirkan situasi itu. Tetapi tentu yang dibutuhkan adalah pengamanan ekonomi secara umum, bukan tindakan-tindakan yang bersifat khusus seperti penyelamatan Bank Century itu. Salah satu contoh tindakan, Bank Indonesia harus menurunkan suku bunga, agar modal mengalir ke masyarakat, sehingga sektor riil bergairah. Bukannya terus menempuh kebijakan uang ketat, seperti pada tahun 2008 tersebut. Jadi sifat tindakannya umum, bukan melulu memelototi Bank Century terus. Masih ada ratusan atau ribuan institusi-institusi perekonomian di Indonesia, mengapa hanya Century yang dilihat? Itu sih bukan pengamanan ekonomi nasional, tapi gatel dengan Bank Century.

[7] Logika Sri Mulyani: “Meskipun ukuran Bank Century kecil, kalau ditutup khawatir menimbulkan kepanikan nasabah-nasabah bank lainnya. Ini yang kami sebut dengan transmisi kepanikan.”

JAWAB: Mula-mula harus dijelaskan dulu, apa itu “transmisi kepanikan”? Apakah istilah itu dikenal dalam praktik dan UU perbankan yang dianut di Indonesia? Jika dikenal, bagaimana parameter “transmisi kepanikan” itu secara kuantitatif? Apakah cukup transmisi kepanikan itu dikira-kira dengan perasaan? Misalnya perkataan, “Menurut feeling gue, ini bakal bermasalah. Feeling gue berkata, rasanya gak enak kalau kita tidak melakukan bailout? Lalu gimana feeling kawan-kawan sekalian? Mari kita sejenak diam diri, bermeditasi, untuk memusatkan kekuatan feeling masing-masing? Oceh?” Kalau urusan perbankan diselesaikan dengan feeling-feelingan begini, alamat kacau.

Harus dipahami, Bank Century itu bank kecil. Secara popularitas ia tidak ada apa-apanya di dunia perbankan nasional. Jadi Bank Century mau ambruk, mau tercerai-berai, mau berguling-guling, masyarakat tidak terlalu care, sebab popularitasnya memang kecil. Di sisi lain, kasus Bank Century sudah bergulir sejak beberapa tahun lalu. Berita-berita seputar Century sudah menghiasi media-media massa sejak beberapa tahun. Artinya, kekisruhan di bank itu sudah diketahui masyarakat, meskipun detailnya tidak banyak yang tahu. Buktinya, nasabah bank yang lain biasa-biasa saja. Kecemasan berlebihan itu tidak perlu, sebab dengan pengalaman kejadian 1997, otoritas moneter sudah mengantisipasi kemungkinan rush dengn membentuk LPS (Lembaga Penjamin Simpanan).

KESIMPULAN

Kasus Bank Century membuka hal-hal lain yang tidak terduga. Di balik kasus ini, kita menyaksikan betapa parahnya kompetensi pejabat-pejabat keuangan negara. Mereka nyaris tidak mengerti masalah-masalah keuangan elementer. Padahal Boediono itu seorang ekonom alumni UGM, bergelar Profesor Doktor. Begitu juga Sri Mulyani, dia seorang ekonom tersohor alumni UI, bergelar Doktor, mantan pejabat IMF. Sungguh mengerikan, menyaksikan ketidak-mengertian tentang masalah-masalah keuangan mendasar itu. Anda masih ingat, bagaimana Boed dan Sri Mulyani sempat berdebat dengan Yusuf Kalla soal penangkapan Robert Tantular? Katanya, penangkapan itu tidak ada dasar hukumnya. Tetapi Robert akhirnya tetap ditangkap dan diadili.

Bagaimana urusan ekonomi nasional akan dipercayakan kepada orang-orang yang tidak memiliki integritas keilmuwan dan moral? Bayangkan, mereka meragukan apakah dana bailout yang dikeluarkan oleh LPS itu termasuk keuangan negara? Tetapi di sisi lain, mereka juga mengklaim, bahwa dana bailout itu tidak hilang, sehingga negara tidak disebut mengalami kerugian apapun.

Mungkin, mereka sebenaranya mengerti dengan semua detail masalah itu. Bahkan sangat tidak layak mereka disebut “bodoh”. Tetapi tekanan politik yang membuat mereka melakukan hal-hal bodoh seperti itu. Nah, tekanan politik ini bagaimana wujudnya dan siapa pelakunya? Wallahu A’lam.

Sebaiknya masyarakat jangan mau memiliki pejabat-pejabat publik yang tidak memiliki kompetensi! Ingat, ini masalah ekonomi, masalah uang, masalah kehidupan kita semua. Jangan percayakan urusan ekonomi kepada orang-orang yang –maaf- bodoh. Coba pikirkan: “Jika dana LPS dianggap bukan uang negara, jika bailout Bank Century dianggap tidak merugikan keuangan negara, jika sebuah bank gurem 0,5 % disebut berdampak sistemik; maka nanti para pejabat itu bisa melakukan tindakan-tindakan keuangan apa saja yang lebih membahayakan ekonomi kita. Jangan-jangan nanti mereka akan menjual Bank Indonesia, lalu mereka sebut hal itu tidak merugikan keuangan negara. Malah untung, sebab dapat duit.”

Setiap pejabat negara setidaknya memiliki 2 karakter utama: Keahlian dan integritas moral. Kedua-duanya harus dimiliki. Ahli saja, tanpa moral, akibatnya rusak; moral saja, tanpa keahlian, akibatnya kelemahan.

Selamat berpikir, memilih, dan berjuang. Semoga Allah menolong hamba-hamba-Nya yang ingin membangun perbaikan. Amin ya Karim.

(AMW).

Iklan

6 Responses to Bank Century dan Moralitas Pejabat

  1. Fai berkata:

    quote : Kasus Bank Century membuka hal-hal lain yang tidak terduga. Di balik kasus ini, kita menyaksikan betapa parahnya kompetensi pejabat-pejabat keuangan negara. Mereka nyaris tidak mengerti masalah-masalah keuangan elementer. Padahal Boediono itu seorang ekonom alumni UGM, bergelar Profesor Doktor. Begitu juga Sri Mulyani, dia seorang ekonom tersohor alumni UI, bergelar Doktor, mantan pejabat IMF.

    nampaknya anda merasa lebih cerdas dari mereka, dan secara tidak langsung anda mengatakan alumni UI dan UGM tidak kompeten (mereka adalah dosen di masing-masing universitas tersebut).

  2. kumpulanhukum berkata:

    menarik mengamati kasus bank century ini. dan sekali lagi rakyat Indonesia kebanyakan masih belum mengerti arti uang pajak yang mereka bayarkan

  3. nizaminz berkata:

    Mudah2an kasus Bank Century ini berakhir dengan baik serta hukum dan keadilan dapat ditegakkan tanpa pandang bulu.

    Bank Century: Perampokan Sistemik atau Dampak Sistemik?

    Hiruk-pikuk kasus Bank Century cukup heboh. Rp 6,7 trilyun sudah dialirkan ke Bank Century, nyatanya banyak nasabah Bank Century (terutama nasabah kecil) yang merasa belum mendapat penggantian.

    Mantan Kabareskrim Polri Komjen Susno Duadji menyatakan bahwa “Manajemen bank yang baru kenapa mengganti uang nasabah Rp4,31 triliun, padahal uang nasabah yang dirugikan hanya Rp 1,298 triliun,” jelasnya. Kemudian Susno yang melakukan penyidikan kasus itu mempertanyakan meski dana penggantian berlebih, kok ada nasabah kecil yang belum dapat penggantian?

    Wapres JK mengatakan kasus Bank Century adalah perampokan dan menyuruh Boediono untuk menangkap pemilik Bank Century, Robert Tantular. Namun Boediono berkilah bahwa itu tidak ada dasar hukumnya.

    Akhirnya JK memerintahkan Polri untuk menangkap Robert, dalam 3 jam saja Robert sudah ditahan polisi. Robert kemudian divonis 4 tahun karena merampok uang nasabahnya sendiri.

    Baca selengkapnya di:
    http://polhukam.kompasiana.com/2009/12/24/bank-century-perampokan-sistemik-atau-dampak-sistemik/

    Bagaimana pun mereka yang membuat trilyunan uang negara yang harusnya buat fakir miskin tapi akhirnya jatuh ke tangan orang2 berduit bertanggung-jawab atas meningkatnya angka kemiskinan dan kejahatan.

    http://kabarislam.wordpress.com/2010/01/20/qishash-hukuman-mati-untuk-pembunuh/

  4. abisyakir berkata:

    @ Fai

    nampaknya anda merasa lebih cerdas dari mereka, dan secara tidak langsung anda mengatakan alumni UI dan UGM tidak kompeten (mereka adalah dosen di masing-masing universitas tersebut).

    Bukan begitu Bro. Maksudnya, sikap mereka tidak selaras dengan title mereka yang tinggi. Kalau FE UI semua orang sudah pada tahu, Mafia Berkeley “lahir” dari sana kan. Kalau UGM itu kan idealis-idealis.

    Sama sekali tidak membuat generalisir. Maaf kalau ada intepretasi begitu. Sebab memang tujuannya bukan kesana. Maksudnya sederhana sekali, “Sikap para pejabat itu tidak sepadan dengan kehormatan ilmiah yang mereka raih.” Itu saja. Tapi saya juga pernah dengar kritik dari seorang alumni ITB terhadap almamaternya, kata dia, kurang lebih, “ITB itu sarang koruptor. Kenapa? Sebab banyak koruptor yang ditangkap polisi, ternyata alumni ITB.”

    Singkat kata, ya memang sistem pendidikan kita bermasalah. Maklum, pendidikan sekuler, hanya mendidik otak manusia, tidak mendidik hati dengan Tarbiyah yang benar.

    Maaf, kalau ada salah paham.

    AMW.

  5. agus berkata:

    Terkait kasus BO century saya hanya berpikiran simple aja, yaitu saya pribadi selaku masyarakat bawah tidak merasa adanya gejolak setelah di keluarkannya BO century

  6. prof.x berkata:

    @amw:
    kl saya sih tdk paham ekonomi seperti bung, cuma

    ketika mulai ramai kasus bail-out century maka saya

    coba mencari tahu ttg century, hasilnya cmiiw century

    tdk termasuk dlm top ten bank2 di indonesia, lantas

    mengapa smp dilakukan bail-out ? eh rupanya para

    pengambil kebijakan takut akan hantu yg bernama

    ‘dampak sistemik’, baru2 ini jg ketua bankir

    mengucapkan hal yg sama, takut kl century ditutup

    akan berakibat seperti ketika lehman brothers di us

    sono ditutup, kira2 cocok gk bung kl century dianggap

    sekelas dgn lehman brothers ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: