Seorang Jimly Asshidiqi…

Beliau ini, Prof. Dr. Jimly Asshidiqi. Seorang ahli hukum tatanegara, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK). Baru-baru Pak Jimly diangkat menjadi salah satu anggota Watimpres (Dewan Pertimbangan Presiden), bersama 8 anggota lain. Dalam pernyataannya setelah diangkat sebagai Watimpres, Jimly mengatakan, bahwa wacana impeachment (menjatuhkan seorang Presiden) melalui mekanisme politik tidak dikenal dalam ranah hukum di Indonesia. Seorang Presiden hanya bisa dimakzulkan melalui keputusan pengadilan.

Apa perlunya membahas seorang Jimly Asshidiqi? Nah, itulah pertanyaannya.

Jujur saja, ada kebingungan tersendiri dalam diri saya, ketika mendengar Pak Jimly diangkat sebagai anggota Watimpres SBY. Karakter politik Pak SBY selama ini sangat memegang teguh prinsip, “Tidak ada kesetiaan tanpa kesetiaan.” Maksudnya, tidak ada kesetiaan dari atas, tanpa bukti keseatiaan dari bawahan. Sebuah prinsip yang sangat pragmatis.

Sejak lama, Prof. Jimly Asshidiqi dikenal baik oleh kalangan Islam di Indonesia. Beliau dikenal sebagai tokoh yang masih lurus. Saya masih ingat reputasi beliau pasca Kerusuhan Monas 1 Juni 2008. Waktu itu mencuat semangat kuat dari media-media massa dan tokoh-tokoh Liberal, yang menuntus supaya FPI dibubarkan saja. Tapi Pak Jimly memiliki pendapat berbeda, beliau tidak setuju FPI dibubarkan, tetapi cukup masalah itu diselesaikan lewat jalur pengadilan. Akhirnya, FPI lolos dari jebakan kaum Liberal -semoga Allah membimbing mereka agar bertaubat-.

Sebagai seorang Ketua MK, Pak Jimly cukup disegani. Beliau dianggap bisa bersikap lurus, tidak berpihak kepada kepentingan sempit. Ketika beliau mundur dari jabatan MK dan posisi diambil-alih oleh Mahfudh MD banyak orang pesimis. Banyak orang tidak yakin, Mahfudh akan seistiqamah Pak Jimly. Tetapi waktu kemudian membuktikan, ternyata Mahfudh memiliki komitmen moral yang cukup tinggi. Alhamdulillah.

Tapi seiring waktu, muncul keraguan-keraguan dari sikap Jimly Asshidiqi. Ketika Gus Dur meninggal, dia termasuk salah satu tokoh yang merasa sangat kehilangan. Melalui detik.com, dia mengusulkan agar Gus Dur diberi penghargaan sebagai “pahlawan demokrasi”. Padahal dalam masa kepemimpinan Gus Dur waktu itu, dia pernah mengeluarkan Dekrit Presiden yang isinya membubarkan lembaga DPR/MPR. Bayangkan, itu adalah mushibah akbar bagi sistem demokrasi (di mata para pendukung demokrasi). Jimly memuji-muji Gus Dur, meskipun yang dipuji pernah menghina Al Qur’an serendah-rendahnya. Ada penolakan di hati terhadap sikap Jimly tersebut.

Saat Gus Dur meninggal, kebetulan Frans Seda juga meninggal. Inilah tokoh anti Islam yang sangat terkenal dari kalangan komunitas Nashrani. Reputasi Frans Seda tidak bisa diremehkan. Dia pula yang ikut menjadi arsitek ekonomi jaman Orde Baru dan jaman Abdurrahman Wahid. Frans Seda bisa dianggap satu barisan dengan “Mafia Berkeley”. Saya masih ingat, Frans Seda ini pernah menjadi provokator kerusuhan sosial di Kupang, sebagai “balas dendam” atas kerusuhan kecil yang terjadi di Jakarta. Saat Frans Seda meninggal, lagi-lagi Jimly merasa kehilangan besar. Dia sangat bersedih. Dia mengaku menjadi sahabat baik Gus Dur dan Frans Seda. Dua orang itu dianggap sebagai putra terbaik bangsa. Tetapi tentu “yang terbaik” bukan dalam kacamata kepentingan Islam.

Kini Jimly diangkat sebagai salah satu anggota Watimpres SBY. Padahal Pemerintah SBY baru saja menyetujui realisasi perdagangan bebas ASEAN-China. Dengan keputusan itu makin menambah daftar panjang reputasi SBY sebagai pemimpin pro Liberalisasi (Neolib). Sektor riil masih acak-acakan, sudah menyetujui perdagangan bebas.

Saya beritahu Anda sekalian. Perdagangan bebas ASEAN-China ini belum terlalu terasa untuk satu dua tahun pertama. Dampaknya belum terlalu terasa, sebab para “penjarah ekonomi” dari negara lain harus membuat infrastruktur dulu untuk mengguyur pasar domestik dengan produk-produk mereka. Tetapi setelah tahun ke-3, nanti rasakan sendiri akibatnya! Rasakan sendiri! Rasakan sendiri akibatnya!

Hadirnya Jimly Asshidiqi di lingkaran kekuasaan, dengan background sebagai ahli tatanegara, mungkin dalam rangka menacapai dua tujuan: a. Mematahkan agenda impeachment yang ingin diacapai oleh lawan-lawan politik SBY; b. Untuk memudahkan proses amandemen UUD yang memberi batasan kepemimpinan Presiden hanya dua kali saja. Bisa saja, batasan itu nanti akan dianulir, menjadi 3 kali, 4 kali, dan seterusnya. (Ya, ada ahli tatanegara inilah. Semua bisa diatur-atur. Gampang lah).

Seorang Muslim harus berdoa meminta khusnul khatimah, akhir yang baik. Jangan sebaliknya, awalnya bagus, lalu akhirnya berantakan, su’ul khatimah. Na’udzubillah min dzalik.

AMW.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: