Antara Amal Jama’i dan Tuduhan Hizbiyyah

ألحمد لله رب العلمين و الصلا ة و السلا م على ر سو ل الله محمد و على أله و أصحا به أجمعين أ ما بعد

Selama ini ada kerancuan dalam persepsi sebagian Ummat tentang Amal Jam’i dan Hizbiyyah. Kedua hal ini sebenarnya merupakan hakikat yang berbeda, tetapi seringkali dicampur-adukkan. Amal jama’i yang dilakukan sebagian Muslim dituduh sebagai hizbiyyah, sehingga harus dijauhi sejauh-jauhnya. Sementara praktik hizbiyyah yang seharusnya dijauhi malah diklaim sebagai amal jama’i, sehingga dibela secara membabi-buta, disertai penolakan terhadap nasehat dalam bentuk apapun. Jelas kedua sikap ini sama-sama salahnya.

Kalau Anda berbicara dengan kelompok pengajian tertentu, pengikut majelis taklim tertentu, pembaca majalah tertentu, atau fanatikus ustadz dan syaikh tertentu; mereka sangat sering menyebut kata hizbiyyah. Bukan hanya menyebut kata, tetapi sering menuduh orang lain sebagai hizbiyyah, lalu menerapkan sanksi sosial atasnya, berupa celaan, peringatan, boikot, dan seterusnya.

Jika pihak-pihak yang menjadi sasaran celaan, peringatan, boikot itu adalah kalangan Muslim yang ikhlas melaksanakan amal jama’i, persoalannya menjadi sangat serius. Para penuduhnya akan terkena kesalahan, memusuhi amal Islami, menjauhkan manusia dari jalan Allah, serta ikut memadamkan cahaya Allah di muka bumi. Hal-hal demikian ini bukan masalah kecil, tapi sangat serius. Ia mencerminkan amal perbuatan musuh-musuh Allah dari kalangan orang-orang kafir. Na’udzubillah min dzalik, zhahiran wa bathinan.

Begitu pula, sikap hizbiyyah (fanatik buta) yang sebenarnya merupakan penyimpangan dalam agama, hal itu kerap diklaim sebagai amal jama’i. Tentu saja, klaim demikian merupakan kesalahan besar. Bahkan ia termasuk sikap membohongi Ummat dengan pemikiran-pemikiran palsu.

Kita perlu memahami amal jama’i dan hizbiyyah secara jernih, serta mengenal batasan-batasannya, sehingga tidak timbul kerancuan pemikiran yang merugikan Islam, sekaligus menyesatkan Ummat. Hanya kepada Allah Ta’ala kita memohon ilmu, hidayah, dan taufiq untuk menempuh jalan yang diridhai-Nya. Amin.

KONTEKS AMAL JAMA’I

Amal jama’i bisa didefinisikan sebagai: amal kebajikan yang dikerjakan oleh kaum Muslimin secara berjamaah, demi mencapai tujuan kebaikan Islami. Sifat amal jama’i itu merupakan amal shalih, yang ditunaikan secara bersama-sama, demi mencapai tujuan kebaikan.

Contoh amal jama’i, antara lain: Shalat berjamaah di masjid, menunaikan Shalat Jum’at, mengurus Zakat kaum Muslimin, mengurus hewan kurban, melaksanakan majelis taklim, melakukan bimbingan Manasik Haji, dan sebagainya. Amal-amal ini baik seluruhnya, dilaksanakan secara bersama-sama, demi menunaikan perintah Allah dan mencapai keridhaan-Nya.

Contoh lain, misalnya: Kerjasama menyalurkan bantuan untuk korban bencana, membentuk lembaga pendidikan Islam, membuat lembaga pengajaran bahasa Arab, membangun media Islami, membuat lembaga pelatihan SDM Muslim, membuat lembaga anti pemurtadan, membuat lembaga penelitian aliran-aliran sesat, membangun rumah sakit Islam, membangun jaringan usahawan Muslim, membangun dewan perjuangan politik Islam, dan sebagainya. Karakternya jelas, berupa amal shalih, dilakukan secara bersama-sama, untuk mencapai tujuan-tujuan kebaikan. Ini semua adalah amal jama’i.

Amal jama’i dalam wujudnya yang sempurna ialah Hayatul Islamiyyah tahta zhilalid Daulatil Islamiyyah (kehidupan Islami di bawah naungan sebuah negara Islami). Ini adalah amal jama’i dalam bentuknya yang sempurna, kolektif, dan meliputi segala bidang kehidupan Ummat. Ia dilaksanakan oleh Rasulullah Saw, para Khulafaur Rasyidin Ra., serta imam-imam kaum Muslimin yang istiqamah menempuh jalan mereka rahimahumullah jami’an.

DALIL AMAL JAMA’I

Banyak dalil-dalil yang bisa diutarakan untuk membenarkan amal jama’i, serta melaksanakannya dalam kehidupan ini. Di antara dalil-dalil tersebut adalah sebagai berikut:

[1] Perintah Allah, “Dan berpeganglah kalian dengan tali (agama) Allah secara bersama-sama, dan janganlah kalian berpecah-belah.” (Ali Imran: 103). Ini adalah dalil Syar’i terkuat dalam perkara ini. Ayat ini memerintahkan kita berpegang kepada agama Allah secara berjamaah, dan kita sekaligus dilarang untuk berpecah-belah. Lalu dikuatkan dengan ayat lain, “(Allah) telah mensyariatkan atas kalian dalam agama ini, sesuatu yang telah Dia mewasiatkan kepada Nuh, dan apa yang Dia wahyukan kepadamu, dan yang Dia wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama ini dan janganlah berpecah-belah di dalamnya.” (Asy Syura: 13). Disini dijelaskan, bahwa menegakkan agama dan bersatu-padu di atasnya merupakan karakter agama Allah sejak masa Nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa As dan sampai kepada Nabi Muhammad Saw.

[2] Allah memerintahkan kita taat kepada pemimpin, dan larangan mengambil orang kafir sebagai pemimpin. “Wahai orang-orang beriman, taatlah kalian kepada Allah, taatlah kepada Rasul-Nya, dan ulil amri di antara kalian.” (An Nisaa’: 59). Ayat ini merupakan perintah agar kita mengangkat seorang pemimpin yang akan memandu Ummat dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya. Sekaligus Allah melarang orang beriman mengambil orang kafir sebagai pemimpin. “Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin, dengan meninggalkan orang-orang beriman. Dan siapa yang melakukan hal itu, niscaya lepaslah ia dari (pertolongan) Allah dalam bentuk apapun.” (Ali Imran: 28). Hikmah dari ayat-ayat ini mengharuskan kita bersekutu, berserikat, berjamaah. Sebab, tidak mungkin muncul pemimpin, kecuali di atas suatu persekutuan.

[3] Nabi Saw pernah bersabda, “Jika dibaiat dua khalifah, maka bunuhlah khalifah yang terakhir dibaiat.” (HR. Muslim dari Abu Sa’id Al Khudri Ra). Dalam lafadz yang lain, “Siapa yang telah membaiat seorang imam, lalu memberikan kepadanya apa yang disenanginya, maka hendaklah dia mentaati imam itu semampunya. Maka jika datang orang lain hendak merebut posisi imam itu, maka penggallah leher imam terakhir itu.” (HR. Muslim dari Abdurrahmah Ra). Hadits ini menjadi hujjah, bahwa Ummat ini harus bersatu di bawah satu kepemimpinan Islam. Jika ada yang berniat menduakan kepemimpinan, pemimpin yang kedua harus disingkirkan.

[4] Sebagian besar ayat-ayat dalam Al Qur’an yang berkaitan dengan perintah dan larangan kepada orang-orang beriman, disampaikan dengan menggunakan khithab jama’ (plural), misalnya dengan kata “Ya aiyuhalladzina amanu” atau dengan kata “Ya aiyuhan naas”. Hal ini menunjukkan, bahwa Allah Ta’ala lebih ridha berbicara kepada kaum Muslimin sebagai jamaah, bukan sebagai pribadi-pribadi. Hingga dalam hadits dijelaskan, bahwa Shalat berjamaah pahalanya lebih afdhal 27 kali dibandingkan shalat sendiri-sendiri.

[5] Banyak amal-amal yang tidak bisa dilaksanakan melainkan hanya dengan cara berjamaah, misalnya Shalat berjamaah, Shalat Jum’at, mengurus jenazah, akad jual-beli, Jihad Fi Sabilillah, pernikahan, musyawarah, shilaturahim, dan sebagainya. Amal-amal ini tidak mungkin dilaksanakan sendiri-sendiri. Bahkan dalam fiqih, kita mengenal istilah Fardhu Kifayah. Ia adalah amal-amal fardhu yang harus ditunaikan secara kolektif. Jika sudah ada yang menunaikan, yang lainnya gugur kewajiban.

[6] Demi menjaga persatuan Ummat, seseorang yang telah melihat hilal Idul Fithri secara munfarid (sendirian), dia dipersilakan membatalkan puasanya. Sementara Ummat Islam yang lain tetap berpuasa sesuai dengan pengumuman yang disampaikan oleh negara.

[7] Shirah perjuangan Nabi Saw di Makkah menjadi bukti besar tentang amal jama’i. Para Shahabat Ra bergerak, bertindak, dan berjuang dengan petunjuk dari Nabi Saw. Mereka tidak berani mendurhakai perintah Nabi Saw. Nabi memerintahkan mereka berdakwah, bersabar, bantu-membantu, berhijrah, dan sebagainya. Hingga Abu Bakar As Shiddiq Ra, beliau tidak berani menempuh hijrah ke Madinah, meskipun para Shahabat yang lain sudah berhijrah, melainkan setelah diijinkan oleh Nabi. Komando perjuangan ketika itu ada di tangan Nabi, dan para Shahabat taat kepada beliau, mengikuti perintah-perintahnya.

[8] Sudah menjadi ijma’ kaum Muslimin selama ribuan tahun tentang wajibnya menegakkan kepemimpinan Islam, serta membelanya dari berbagai rongrongan musuh-musuh Islam. Atas itu pula kaum Muslimin menempuh Jihad Fi Sabilillah secara berkesinambungan dari satu generasi ke generasi lain. Tujuannya untuk menegakkan tatanan Islam, memperluas wilayah Islam, menyebarkan dakwah Islam, serta melindungi kehidupan Islam.

Dalam riwayat juga dijelaskan, “Yadullah ‘alal ja’amaah” (Tangan Allah ada di atas jamaah). Maka kehidupan Islami, di bawah pemimpin Muslim, berdasarkan hukum Islam, dan menegakkan nilai-nilai Islam, hal itu kerap disebut sebagai Jamaatul Muslimin (jamaah orang-orang Islam).

Maka tidak diragukan lagi, amal jama’i adalah kewajiban dalam islam, sesuai kondisi-kondisi yang menyertainya. Lenyapnya amal jama’i menjadi pertanda lenyapnya agama ini. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

TIGA FAIDAH BESAR

Sejauh berbicara tentang amal jama’i dalam Islam, kita akan mendapati bahwa amal jama’i merupakan kebajikan besar dalam agama ini. Setidaknya ia terwujud dalam 3 keadaan di bawah ini, yaitu sebagai berikut:

Pertama, amal-amal shalih yang tidak mungkin bisa dikerjakan sendiri-sendiri, seperti Shalat berjamaah, Shalat Jum’at, mengurus jenazah, Jihad Fi Sabilillah, jual-beli, pernikahan, mengumpulkan Zakat, menentukan awal Ramadhan, menunaikan Shalat ‘Ied, mengembangkan ilmu, dan sebagainya.

Kedua, proses perjuangan untuk menegakkan Kalimah Allah di muka bumi. Nabi Saw dan para Shahabat Ra menempuh amal jama’i, maka siapapun yang komitmen dengan Sunnah-nya, pasti akan menempuh amal jama’i juga. Meskipun seorang Muslim sanggup berjuang sendiri, dia pasti akan menempuh amal jama’i, sebab hal itu lebih berkah dan lebih dekat kepada kemenangan.

Ketiga, kehidupan kaum Muslimin, di bawah naungan pemimpin Islam, berdasarkan hukum Islam, dengan menjalankan nilai-nilai Islam secara konsisten. Itulah kehidupan yang dikenal sebagai Jama’atul Muslimin.

Sebaik-baik kehidupan Muslim adalah dalam naungan kepemimpinan dan sistem Islam. Jika hal itu tidak terwujud, setidaknya ada upaya sungguh-sungguh untuk menegakkan Islam secara kaffah. Jangan sampai kita wafat dalam keadaan lalai atau fasiq. Na’udzubillah min dzalik. Paling minimal, kita tetap melaksanakan amal-amal fardhu kifayah dengan apapun kondisi yang ada.

REALITAS HARAKAH ISLAMIYYAH

Selama ini muncul gerakan-gerakan Islam yang memiliki missi untuk menegakkan ajaran Islam secara kaaffah. Sebagian mereka bercita-cita mendirikan Daulah Islamiyyah, sebagian lain bercita-cita menegakkan Syariat Islam, bahkan ada juga yang berjuang membangun kepemimpinan Islam global (Khilafah Islamiyyah). Secara haqqul yakin, semua missi itu adalah baik seluruhnya. Bahkan seperti itulah harapan yang dikehendaki oleh Syariat Islam.

Untuk mewujudkan harapannya, gerakan Islam melakukan pengaturan-pengaturan tertentu. Disana ada pemimpin, ada sistem pembinaan, ada aturan yang diterapkan, ada disiplin yang dipegang-teguh, ada kerja-kerja kolektif, dan lainnya. Bahkan seringkali, gerakan Islam tersebut memiliki nama tertentu yang dikenalkan kepada kalangan internal maupun eksternal.

Kadang-kadang muncul sikap salah paham dari kelompok tertentu. Mereka menuduh gerakan Islam tersebut bersikap hizbiyyah (fanatik buta). “Buktinya, mereka punya nama tertentu, punya logo, punya sistem kaderisasi, punya materi tarbiyah tertentu. Mereka membuat aturan-aturan internal, punya kartu keanggotaan, punya struktur DPP, DPW, cabang-cabang, dsb. Tidak diragukan lagi, semua ini adalah hizbiyyah yang dilarang oleh agama,” begitu alasan para penuduh itu.

Tuduhan-tuduhan ini kerap kali kasar, menjurus fitnah, dan menyesatkan pemahaman. Akibatnya, banyak kaum Muslimin kebingungan. Satu sisi, mereka melihat gerakan-gerakan Islam memiliki tujuan mulia, tetapi di sisi lain gerakan Islam dituduh hizbiyyah, seperti perilaku orang-orang musyrikin. Atas dasar minimnya ilmu, dan sikap “tidak mau ambil resiko” banyak orang termakan oleh tuduhan-tuduhan itu. Maka dengan sendirinya, para penuduh telah menyebarkan fitnah, kesesatan, dan keresahan di kalangan Ummat Islam. Na’udzubillah min kulli dzalik.

Untuk menilai hizbiyyah atau tidaknya suatu gerakan Islam, maka harus dilihat asal munculnya gerakan itu. Mengapa gerakan itu muncul dan apa tujuan eksistensi mereka? Jika tujuannya adalah duniawi, menuruti hawa nafsu, menyebarkan kesesatan, berbuat makar terhadap Ummat, serta menolong orang-orang kafir dalam memerangi kaum Muslimin, maka hakikat gerakan itu jelas HARAM!!! Contoh, gerakan Syiah, Shufi anti Syariat, Ahmadiyyah, LDII, NII KW9, Lia Eden, Liberalisme, Pluralisme, Orientalisme, Salafi Ekstrim, dll. Gerakan-gerakan seperti ini tidak menambah kesembuhan bagi Ummat, justru menjadi kanker merusak di tengah-tengah kehidupan kaum Muslimin. Nas’alullah al ‘afiyah.

Namun jika tujuannya mulia, luhur, dan Islami, misalnya memperkuat kehidupan Ummat, menegakkan Syariat Islam, membangun Daulah Islamiyyah, membangun Khilafah Islamiyyah; maka kondisi yang ada dalam gerakan itu, kelebihan atau kekurangannya, kembali kepada tujuan awal gerakan tersebut.

Dalam kaidah fiqih disebutkan, “Al amru ma’a maqashidihi” (suatu urusan itu tergantung tujuannya). Hal ini sesuai dengan sabda Nabi Saw, “Bahwa setiap amal itu tergantung niatnya, maka bagi setiap orang mendapatkan pahala sesuai apa yang dia amalkan.” (HR. Bukhari-Muslim).

Pengaturan-pengaturan internal yang ditempuh oleh gerakan Islam, bukanlah ditujukan untuk iftiraq (berpecah-belah), tetapi untuk membangun kekuatan gerakan itu sendiri. Semakin kuat konstruksi gerakan, semakin dekat kepada tujuan yang diharapkan. Bagaimana mungkin kita akan menegakkan Islam dengan cara-cara serampangan, dengan kerja seenaknya, tanpa perencanaan, koordinasi, pengaturan dan sebagainya? Padahal sebagian orang sekedar untuk membuka warung Warteg saja, mereka membutuhkan pengaturan. Bahkan para pengemis sengaja melakukan pengaturan untuk mendapatkan hasil uang maksimal.

Adalah suatu kebodohan yang mengerikan, ketika untuk menegakkan nilai-nilai Islam agar hidup di tengah-tengah masyarakat, kita tidak membutuhkan pengaturan. Jelas semua itu hanyalah omong kosong belaka. Apalagi Nabi Saw bersabda, “Kataballahu al ihsana ‘ala kulli syai’in” (Allah telah mewajibkan al ihsan dalam segala urusan).

Ketika gerakan-gerakan Islam dicela sebagai hizbiyyah, maka pada saat yang sama orang-orang kafir menyempurnakan gerakan mereka. Mereka bukan saja melakukan pengaturan, tetapi juga memilih pemimpin yang tangguh, menerapkan aturan ketat, mendidik kader sehebat-hebatnya, melakukan studi, penelitian, bahkan meneliti aspek Sosisologi, Antropologi, serta Psikologi masyarakat. Tentu saja, mereka mengerahkan dana, teknologi, fasilitas, serta metode-metode canggih.

Gerakan Islam kerap menerapkan prinsip bai’at, yaitu komitmen kesetiaan anggota untuk tetap berada di atas missi dakwah dan mencegah segala bentuk intervensi dari unsur-unsur eksternal yang memusuhi. Bai’at seperti ini diilhami oleh perbuatan Nabi Saw ketika meminta para Shahabat Ra berbai’at di bawah pohon. Bai’at itu kemudian dikenal sebagai Bai’atur Ridhwan. Begitu pula dengan Bai’atul Aqabah, dimana utusan-utusan dari Madinah siap hidup-mati membela dakwah dan risalah Nabi Saw. Jadi intinya, meminta kepastian komitmen seorang Muslim untuk teguh dan amanah dalam mengemban missi perjuangan Islam. Hal demikian ini Syar’i, sebab dilakukan dengan bercermin pada perbuatan Nabi Saw sendiri.

Namun oleh kalangan pengajian tertentu, ia sering dituduh sebagai “membuat bai’at baru” di luar bai’at kepada pemimpin politik yang berkuasa. Padahal konteks bai’at-nya berbeda, satu untuk komitmen perjuangan, satu lagi untuk mendukung kepemimpinan politik. Lagi pula, dalam sistem sekuler, tidak dikenal istilah bai’at. Pemimpin sekuler yang diangkat, dia sama sekali tidak peduli apakah warganya akan mati dalam keadaan Islam atau mati jahiliyyah. Pemimpin sekuler tidak memiliki komitmen dalam perkara seperti itu.

Dan lebih aneh lagi, ketika kaum Muslimin berselisih tentang kedudukan bai’at gerakan Islam, di bawah sistem sekuler, maka orang-orang Freemasonry telah menerapkan 33 tingkatan bai’at dalam gerakan mereka. Untuk tingkatan ke-2 atau ke-3 saja, seorang kader Mason harus siap menyerahkan nyawa demi membela missi Freemasonry. Dalam bai’at lebih lanjut, mereka harus rela menyerahkan harta-benda, keluarga, bahkan agama, untuk digadaikan dengan missi Freemasonry. Orang kafir sangat komitmen membangun kekuatan, sementara kalangan Islam terus sibuk dengan perselisihan-perselisihan yang rancu.

Dalam gerakan apapun, jika tidak ada jaminan komitmen dari pendukungnya, jelas akan mudah dirusak oleh orang-orang yang membenci. Makanya dalam militer dikenal istilah “Sumpah Prajurit”, dan setiap pejabat hendak dianggkat sebagai pejabat, dia harus melakukan “Sumpah Jabatan”. Terserah apapun namanya, apakah al bai’at, al ‘aqdu, al qasam (sumpah setia), al wa’id (janji), al mitsaqan ghalizhah (prjanjian yang teguh), dll. Intinya, komitmen dengan missi perjuangan Islam dan tidak mengkhianati amanah orang-orang beriman.

Di bawah kepemimpinan dan sistem Islami, memang tidak diperkenankan ada bai’at-bai’at lain, selain bai’at resmi kepada pemimpin Islam. Tetapi di bawah sistem sekuler yang tidak mendukung Islam, bahkan bersikap memusuhi, hukum bai’at itu otomatis gugur. Tidak mungkin kaum Muslimin diperintahkan membai’at pemimpin yang tidak mau menegakkan hukum Allah dan Rasul-Nya. Bai’at kepada pemimpin sekuler sama saja dengan mendukung sekularisme itu sendiri.

Memang tidak dipungkiri bahwa di kalangan gerakan Islam sendiri kadang ada masalah-masalah, misalnya sikap anggotanya yang fanatik, mau menang sendiri, enggan bekerjasama, dan lain-lain. Hal itu tentu saja merupakan kesalahan-kesalahan yang harus diperbaiki. Tetapi kesalahan tersebut tidak boleh menghanguskan semua kebaikan yang ada disana, termasuk tujuan mulia di balik berdirinya gerakan-gerakan itu. Kesalahan-kesalahan individu atau parsial, hendaknya dihadapi secara proporsional, bukan divonis secara membabi-buta.

MARI BERSIKAP HIKMAH

Amal jama’i adalah amal yang disyariatkan dalam Islam. Siapapun yang secara sengaja memusuhi atau menguji amal jama’i kaum Muslimin dengan berbagai fitnah, hendaklah mereka khawatir dengan cobaan yang akan menimpa diri mereka sendiri. “Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan bagi orang-orang beriman lak-laki dan wanita, kemudian mereka tidak bertaubat, bagi mereka adzab Jahannam, dan bagi mereka adzab yang membakar.” (Al Buruuj: 10).

Untuk meluruskan pandangan kita terhadap gerakan-gerakan Islam yang menerapkan amal jama’i, serta menghindari pertikaian antar sesama Muslim, disini ada beberapa perkara penting yang perlu dipahami, antara lain:

[a] Amal jama’i adalah perkara Syar’i dalam Islam. Nabi Saw menempuh amal jama’i dalam perjuangan di Makkah. Mencela amal jama’i secara mutlak, sama saja dengan mencela perbuatan Nabi. Bahkan sejujurnya, banyak amal-amal dalam Islam yang bersifat Fardhu Kifayah yang tidak bisa dikerjakan sendiri-sendiri.

[b] Gerakan Islam bukanlah kumpulan manusia-manusia suci. Mereka tidak ma’shum, sehingga berpeluang memiliki kebenaran dan jatuh dalam kesalahan. Terhadap kesalahan-kesalahan gerakan Islam perlu disampaikan nasehat-nasehat, sebagaimana diwasiatkan dalam Surat Al ‘Ashr. Ijtihad pemimpin gerakan Islam bisa salah, bisa benar. Hanya Kitabullah dan Sunnah yang bersifat mutlak.

[c] Eksistensi gerakan Islam sangat ditentukan oleh tujuan awal dan metode gerakannya. Jika tujuannya awalnya Islami, dan mereka menempuh metode perjuangan sesuai Syariat Islam, maka amal-amal mereka akan dinilai sebagai menolong agama Allah. Jika tujuannya menyimpang dan sesat, maka pelakunya akan tertimpa dosa dan kebinasaan. Na’udzubillah min dzalik. Kecuali orang-orang yang tidak tahu atau tertipu di antara mereka.

[d] Beragamnya gerakan-gerakan Islam yang komitmen berjuang mewujudkan cita-cita Islami, janganlah disikapi secara negatif. Misalnya, mereka dituduh sesat, hizbiyyah, ahli bid’ah, khawarij, dan sebagainya. Justru keberadaan gerakan-gerakan Islam dalam rangka Ishlahul Ummat itu harus disyukuri. Pada suatu titik, ketika keberadaan gerakan Islam sangat bermanfaat dalam melestarikan agama dan menunaikan missi perjuangan Islam, maka eksistensi gerakan seperti itu bisa dihukumi WAJIB. Tetapi keragaman gerakan Islam kadang menimbulkan pertikaian antar sesama Ummat. Untuk mengatasinya, gerakan-gerakan Islam perlu menyepakati tujuan bersama, bersikap toleran dalam batas-batas perbedaan ijtihadiyyah, serta saling bantu-membantu satu sama lain.

[e] Setiap Muslim berhak terlibat dalam gerakan Islam, baik laki-laki maupun wanita. Prinsipnya, siapa yang menolong Allah, maka Allah akan menolongnya. Sebelum terlibat, sebaiknya seseorang memahami keadaan gerakan Islam yang ingin dia terjuni, mulai dari tujuan, metode, sarana, dll. Gerakan Islam tidak boleh menyembunyikan metode mereka, sebab hal itu merupakan hak Ummat untuk memahami apa yang mereka perjuangkan. Dulu para Shahabat Ra, mereka memahami dengan jelas missi perjuangan Nabi Saw. Soal struktur gerakan Islam, hal itu bisa saja tersembunyi, tetapi dalam metode gerakan harus tampak.

[f] Seorang Muslim boleh berpindah-pindah dari satu gerakan ke gerakan lain, dalam rangka mencari gerakan terbaik, menurut Syariat Islam. Sejauh gerakan itu masih dalam koridor Ahlus Sunnah Wal Jamaah, seorang Muslim tidak boleh menghina atau menjelek-jelekkan gerakan yang pernah dia ikuti. Hal demikian akan sangat memicu perselisihan dan konflik di kalangan Ummat. Jika ada sisi-sisi keberatan yang dia rasakan, sebaiknya disampaikan kepada yang bersangkutan. Berpindah gerakan, dalam rangka mencari kebenaran, sama seperti berpindah madzhab fiqih. Jika seorang Muslim boleh beralih kiblat ijtihad fiqih, beralih majlis ilmu, atau beralih madrasah; maka dalam mengikuti gerakan Islam, juga ada kebebasan.

[g] Gerakan Islam pada dasarnya adalah wasilah (sarana) untuk mencapai tujuan perjuangan Islam. Maka jika tujuan itu telah tercapai, dengan sendirinya gerakan Islam melebur bersama Jamaatul Muslimin. Tidak diperkenankan membangun gerakan fanatik yang menerapkan loyalitas mutlak kepada pemimpinnya, setelah kaum Muslimin memiliki kepemimpinan bersama yang sah. (Ingat hadits Nabi tentang dua kepemimpinan yang dibaiat, lalu pemimpin yang dibaiat terakhir harus disingkirkan).

[h] Sebuah gerakan Islam boleh bergiat mencari pendukung, dengan alasan untuk memperkuat missi gerakan tersebut. Namun hendaklah mereka bersikap bijak dalam mencari pendukung. Jangan menyerang gerakan-gerakan Islam lain yang memiliki tujuan sama, sebab hal itu sama saja dengan menyerang tujuan gerakan itu sendiri. Utamakan pemberian informasi yang jujur, hujjah yang memuaskan, serta keikhlasan hati orang-orang yang diajak. Sikap tergesa-gesa dalam mencari pendukung, pada suatu saat akan menimbulkan masalah ketika orang-orang itu sudah berada di tengah gerakan Islam. Proses yang buruk akan membuahkan hasil buruk pula. Juga jangan kecil hati jika kesulitan mencari pendukung, sebab tujuan gerakan ini bukan untuk banyak-banyakan pengikut, tapi untuk membela Islam. Dengan orang sedikit atau banyak, kita tetap bisa menolong agama ini.

[g] Penting kiranya gerakan-gerakan Islam memperingatkan orang-orang yang selalu menyebarkan “fitnah hizbiyyah” ke tengah-tengah Ummat. Mereka perlu diajak berdiskusi, bermusyawarah, atau berdialog. Tujuannya, untuk menyampaikan bayan, meminta dalil, serta mendengar pandangan-pandangan mereka. Jika dengan segala niat baik dan cara yang mulia, mereka tetap menyebarkan “fitnah hizbiyyah”, maka tidak salah lagi untuk menempatkan orang-orang seperti itu sebagai penghalang gerakan Islam. Hal ini bisa disikapi sebagaimana penghalang-penghalang lainnya, seperti kaum Liberal, Ahmadiyyah, Syiah, dan lainnya.

Kaidah-kaidah seperti ini sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan missi gerakan Islam, untuk mengharmonisasikan hubungan antar gerakan Islam, serta untuk menjernihkan kerancuan-kerancuan. Permusuhan terhadap amal jama’i gerakan Islam harus dihentikan, sebagaimana sikap fanatik buta anggota gerakan-gerakan itu juga harus ditertibkan.

SIKAP SEORANG MUSLIM

Bagi seorang Muslim, terlibat dalam gerakan Islam bersifat keutamaan, yaitu bagi mereka yang ingin terlibat menolong agama Allah. Siapa yang suka menempuhnya, silakan ditempuh; siapa yang enggan menempuh, silakan pula memilih jalannya. Jika seorang Muslim ingin terlibat, hendaklah hal itu karena kesadaran diri dan ilmu yang mantap. Jangan karena ikut-ikutan atau merasa dipaksa. Begitu pula, jika seseorang tidak ingin terlibat, hendaklah berdasarkan alasan yang mantap juga. Dalam Al Qur’an, “Dan janganlah engkau mengikuti apa-apa yang tidak ada ilmu tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggung-jawabannya.” (Al Isra’: 36).

Jika ada yang tidak mau terlibat gerakan Islam, janganlah hal itu karena takut tidak mendapat kerja, takut gagal kuliah, takut karier terhambat, takut bisnis bangkrut, takut tidak mendapat isteri cantik, takut harta berkurang, takut dikejar-kejar intelijen, takut menghadapi kebatilan, dan berbagai ketakutan sejenis. Ketakutan seperti itu tidak sepadan dengan kemuliaan cita-cita Islam. Begitu pula, jangan menjauhi gerakan Islam karena ingin mencari pengajian yang aman, mencari ustadz “cinta damai”, mencari majelis taklim “bebas resiko”, mencari pengajian yang “dijamin 100 % masuk syurga”, mencari pengajian yang toleran dengan sekularisme-pluralisme, mencari pengajian yang isinya “ilmu melulu” (sehingga seperti Bani Israil, banyak ilmunya, tapi miskin aplikasi), dll. Semua alasan-alasan seperti itu adalah WAHN, cinta dunia dan takut mati. [Atau bisa juga disebut sebagai: Wahn yang dibungkus dalil-dalil agama. Ini tabiat khas Bani Israil].

Jadilah Muslim yang komitmen di segala keadaan. Itulah Muslim yang berpegang kepada Al ‘Urwatul Wutsqa, tali agama Allah yang sangat kokoh. “Dan siapa yang mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah, maka sungguh dia telah berpegang dengan simpul tali (agama Allah) yang sangat kokoh, yang tidak akan terputus selamanya.” (Al Baqarah: 256).

Demikianlah paparan yang bisa disampaikan. Semoga menjadi pengetahuan dan manfaat, bagi diri saya sendiri, bagi para pembaca semua, serta bagi kaum Muslimin. Amin Allahumma amin. Mohon maaf atas segala kesalahan dan kekurangan. Mohon diampunkan jika ada hal-hal yang tidak berkenan di hati. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan

6 Responses to Antara Amal Jama’i dan Tuduhan Hizbiyyah

  1. abu naura berkata:

    assalamu’alaikum warrahmatullohiwabarokaatuh

    ….menjadi seorang pengikut atau anggota jama’ah pengajian/ majlis ta’lim pun sesungguhnya secara tak sadar kita sudah ikut andil dalam sebuah “pergerakan islam” itu sendiri.
    ….jadi jangan takut dijuluki serorang HIZBI SAUDARAKU SELAMA TETAP MENGGIGIT KUAT DENGAN GERAHAM KALIAN SUNNAH RASUL KITA MUHAMMAD SAW , PERGERAKAN = DAKWAH TIADA HENTI

    walaupun faktanya kita ini adalah kaum muslimin terbesar di dunia saat ini namun seolah hidup di dunia “maya” / ilusi karena tidak mempunyai jenis kelamin yang jelas;negara agama bukan sekuler total juga bukan.

    Yang pasti jauuuh sekali dari penerapan syariat Islam, alias hidup di bawah naungan “kehidupan yang menyingkirkan nilai-nilai agama dari seluruh dimensi kehidupan manusia” / sistem sekuler dalam setiap lini kehidupan, walaupun kadang masih sering tersanjung dengan sebutan negara agamis.

    Dan parahnya lagi kenyataan tak terbantahkan ini oleh sebuah kelompok “pengajian tertentu” yang sering mengadakan berbagai DAUROH di negara ini, justru dikesampingkan bahkan dibutakan.

    Naifnya lagi realita ini seolah di ilustrasikan oleh mereka bahwa umat islam negeri ini telah mempunyai ulil amri yang wajib dan syah diikuti oleh umat Islam tanpa reserve ,maka harus tunduk , taat bahkan kalau dicambukin sekalian harus tetap patuh walaupun dengan sistem yang tidak mengambil contoh dari nabi Muhammad dan para sahabat yang mulia sekalipun..

    aduhay…alangkah semakin jauh akal manusia berjungkir-balik,
    innalillahi wa innailahi rooji’uun

    dari kami kepada para penuduh : ketahuilah kalian jika KAMI BERLAKU AMAL< BERAMAR MA'RUF NAHI MUNGKAR < beramal secara berkelompok karena mengharap ridho allah kalian anggap sebagai HIZBY maka berharap tetap istiqomah sampai ajal menjemput roh kami adalah lebih baik bagi kami

    wassalamu'alikum

  2. abuabyan berkata:

    integralitas dakwah! mungkin inilah yg kurang diperhatikan oleh aktivis dakwah.
    ada kelompkok yg sibuk memperdalam standar keilmiyahan, tapi melupakan amal nyata, mereka merasa diri paling pintar, sehingga sering menuduh kelompok lain sebagai kumpulan orang2 bodoh yang beramal tanpa ilmu.
    ada jg kelompok yg sibuk beramal nyata, tapi lemah dalam segi penguasaan ilmu, mereka sering merasa diri paling berkontribusi dalam hal kebangkitan islam, sehingga sering menuduh kelompok lain sebagai kumpulan orang2 malas yg tidak berbuat apa2 untuk umat.
    padahal kl kedua potensi tersebut digabungkan, maka ini akan menghasilkan suatu kekuatan yg dashyat.

  3. abisyakir berkata:

    @ Abuabyan…

    “padahal kl kedua potensi tersebut digabungkan, maka ini akan menghasilkan suatu kekuatan yg dashyat.”

    Ya, setuju 100 % Akhi. Syukran jazakumullah khair.

    AMW.

  4. bahtiar berkata:

    panjang amir … 😦

  5. Bagoes Al Cirebony berkata:

    Setuju akhi….

  6. Antara Tidak Bai’at D’zaman S’karang dan Tuduhan Tidak Komitmen Dengan Jama’ah atau Sendiri-sendiri, Tidak Punya Imam dan Belum Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: