Hukum Bagi Penghujat Agama

PERTANYAAN: “Bagaimana hukumnya orang-orang yang terbukti melakukan tindakan penghujatan terhadap ajaran Islam?”

JAWAB: Bismillahirrahmaanirrahim. Para penghujat agama haruslah benar-benar terbukti melakukan penghujatan agama. Hal itu misalnya dibuktikan dengan pernyataan di media massa, rekaman ceramah, rekaman video, karya tulis, foto perbuatan, buku, dan lain-lain. Harus ada bukti otentik terlebih dulu.

Jika sudah ada bukti otentik, perlu diverifikasi, apakah suatu perbuatan masuk kategori penghujatan atau tidak. Apakah disana ada kata-kata, kalimat, atau perbuatan yang melecehkan, menghina, menghujat Allah, Rasulullah Saw, Islam, Al Qur’an, As Sunnah, para Shahabat Ra, dan sebagainya. Kalimat seperti, “Menurut saya, kitab suci yang paling porno di dunia adalah Al Qur’an.” Ini merupakan contoh nyata perbuatan menghujat agama. Kalimat seperti, “Al Qur’an harus diedit lagi,” ini juga contoh sikap menghujat agama. Diperlukan verifikasi untuk memastikan apakah suatu perbuatan masuk kategori penghujatan agama.

Sanksi bagi penghujat agama adalah LAKNAT ALLAH. Mengapa demikian? Hal itu sesuai dengan kejadian di masa Nabi Saw. Waktu itu beliau masih berdakwah di Makkah. Beliau pernah mengundang para pemuka Quraisy Makkah untuk bertemu di Bukit Shafa. Dalam pertemuan itu beliau bertanya, apakah hadirin dalam pertemuan itu percaya kepada beliau jika dikatakan bahwa di balik bukit ada musuh? Seluruh hadirin mengatakan percaya. Lalu beliau tegaskan bahwa dirinya adalah seorang Nabi yang diutus Allah untuk menyampaikan Laa ilaha illa Allah, wa Muhammad Rasulullah. Mendengar ucapan Nabi, Abu Lahab segera bangkit lalu mencela Nabi dengan ajakannya itu. Abu Lahab mementahkan dakwah Nabi seketika itu, dan menghina beliau dengan kekasaran sikapnya. Atas perbuatan ini, lalu Allah Ta’ala menurunkan Surat Al Lahab atau Al Massad. “Binasalah kedua tangan Abu Lahab, dan sesungguhnya dia akan binasa.” (Al Lahab: 1).

Siapapun yang menghujat Islam, apapun alasannya, dia mendapat laknat dari Allah Ta’ala. Bentuk laknat itu berbagai macam, berupa hal-hal yang menyusahkan, menyakitkan, kesempitan hidup, dan lain-lain yang menimpa mereka, keluarganya, dan kawan-kawannya yang sepakat dengan dirinya.

Contoh, ada orang yang terkenal permusuhannya kepada Islam. Dia pernah mengalami stroke dua kali, lalu menderita buta, menderita lumpuh. Kemana-mana selalu memakai kursi roda. Kalau berbicara otot pipinya bergerak-gerak, sikapnya meledak-ledak, tetapi tidak konsisten. Kalau dia bicara, manusia menanti-nanti lelucon yang keluar dari ucapannya. Mereka menanti dengan hati berdebar-debar, lalu geeerrr… Jadi akhirnya, seperti tontonan humor.

Allah berjanji akan menjaga agama ini dari serangan para penghujat. “Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, mereka akan dihinakan sebagaimana orang-orang sebelum mereka dihinakan. Dan sungguh telah Kami turunkan ayat-ayat yang jelas, dan bagi orang-orang kafir itulah adzab yang pedih.” (Al Mujaadilah: 5).

Hukum bagi pelaku penghujatan Islam ada dalam dua kondisi. Pertama, hukum ketika posisi kaum Muslimin kuat untuk menerapkan hukum Islam. Kedua, hukum ketika kaum Muslimin lemah dan tidak berdaya melaksanakan hokum Islam.

Dalam kondisi Ummat Islam kuat dan mampu menegakkan hukum Islam secara kaaffah, maka para penghujat agama itu dihukumi dengan HUKUMAN MATI. Hal ini sesuai dengan perbuatan Rasulullah Saw ketika dalam Futuh Makkah. Ketika penaklukan Makkah, Rasulullah menerapkan sanksi hukuman mati kepada 8 orang laki-laki dan 6 orang wanita yang pernah menghujat Islam. (Lihat Sirah Nabawiyyah, Al Mubarakfury, Pustaka Al Kautsar, cetakan 13, hal. 533-535).

Anda mungkin pernah ingat ketika KH. Athian Ali M. Da’i bersama FUUI (Forum Ulama Ummat Indonesia) mengeluarkan pernyataan, bahwa penghujat Islam, seperti pendeta Suradi Ben Abraham dan Ulil Abshar Abdala, menurut hukum Islam, sanksinya adalah dihukum mati. Apa yang beliau katakana tidak jauh dari kebenaran, sebab Rasulullah Saw pernah menerapkan hukum demikian.

Namun dalam kondisi Ummat Islam lemah, ketika tidak mampu menerapkan hukum Islam, maka kita harus secara sungguh-sungguh memanfaatkan sarana-sarana hukum, politik, lobi, dan apapun yang memungkinkan, untuk menghentikan penghujatan itu, dan memberikan sanksi yang akan membuat pelakunya jera, dan membuat orang lain tidak ikut-ikutan melakukan penghujatan.

Jika negara secara konsisten bisa mengambil beban urusan ini, dengan menjaga agama, melindungi kehormatan agama dari penistaan dan penghujatan, memberikan sanksi berat bagi pelaku penghujatan, serta melarang masyarakat melakukan perbuatan itu; maka sepenuhnya kita serahkan urusan ini kepada negara. Tetapi jika negara tidak bisa melindungi kehormatan Islam, kaum Muslimin lah yang harus melindunginya secara sungguh-sungguh.

Jika sampai para penghujat Islam dibiarkan merajalela di muka bumi, nantikanlah Allah akan mengaduk-aduk bumi itu dengan bencana-bencana. Tentu kita masih ingat ketika Nabi Saw dihinakan oleh penduduk Kota Thaif, dihina, dicaci maki, dikejar-kejar, dilempari batu. Atas perbuatan penduduk Thaif itu, mereka nyaris ditimbun dengan gunung oleh Malaikat, seandainya Nabi tidak memaafkan mereka. Bani Israil juga begitu. Ketika mereka melontarkan ucapan-ucapan keji yang menghina Musa dan Allah, mereka ditimpa kilat, dikutuk menjadi kera, dibiarkan kebingungan selama 40 tahun di Padang Tiih.

Jadi sanksi bagi penghujat agama itu amat sangat keras. Hanya saja, orang-orang terkutuk dari kalangan Liberaliyun, kerap kali tidak memahaminya. Semoga semua ini menjadi pelajaran. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: