Menghargai Kerja Pansus Hak Angket…

Kalau melihat berita-berita dan diskusi di TV, koran, internet, sepertinya saat ini ada gejala “kanibalisme politik”. Pemberitaan media yang mengkritisi kerja Pansus Hak Angket DPR seputar Bank Century sangat berlebihan. Sepertinya, media-media itu ingin memaksakan kehendaknya, tanpa rasa sopan santun sama sekali.

Ini bukan soal kita bersuara seperti Demokrat. Sama sekali tidak. Sejak sebelum Pansus terbentuk, kita sudah tidak setuju dengan bailout Bank Century itu. Bahkan sebelum dilakukan penyelidikan pun, kita sudah jengah dengan “dua tanda mata kapitalisme”, Si Boed dan Sri Mul.

Tetapi masalahnya, media-media massa, sepertinya ingin merasa dirinya paling suci. Merasa dirinya malaikat yang sempurna, tidak melakukan tindak kecacatan apapun. Contoh nyata, lihatlah edisi-edisi Editorial Media Indonesia (atau MetroTV). Pada sebagian isi Editorial itu, kita bisa rujuk dan setuju. Tetapi pada sebagian yang lain, tidak.

Kalau mendengar paparan Editorial Media Indonesia, rasanya media ini seperti paling benar sendiri, paling mengerti masalah, paling peduli, paling memiliki hati nurani, paling mewakili rakyat, paling pro kemajuan Indonesia, dan seterusnya. Padahal titik-tolak analisis Editorial hanyalah berdasarkan asumsi-asumsi yang bersifat sesaat. Kadang bilang A, nanti berganti B, nanti C, dan seterusnya.

Kita masih ingat, bagaimana Media Indonesia dulu sangat mengelu-elukan SBY dengan Obama minded-nya. Namun sekarang, lain lagi pandangan mereka. Kalau dicermati dalam kurun waktu bertahun-tahun, isi Editorial Media Indonesia itu akan tampak “jungkir-balik”, satu analisis mematahkan analisis yang lainnya.

Kembali ke Pansus Hak Angket DPR tentang Bank Century…

Saudaraku, lihatlah secara jujur kerja Pansus DPR ini! Mereka itu sudah kerja keras, sudah mengerahkan tenaga, pikiran, dan seterusnya. Mereka sudah bekerja keras, siang-malam. Meskipun kita tahu juga, bahwa setiap anggota Pansus dipasok bahan-bahan dari para staf ahlinya.

Tetapi memang mereka sudah bekerja keras, selama 3 bulan terakhir ini. Saya sendiri membayangkan, kalau menelusuri data-data kejahatan perbankan dalam kasus Bank Century, tentu keteteran juga. Rumit masalahnya. Cakupan perkaranya sangat luas. Bayangkan, kasus yang melibatkan Gubernur BI, Deputi BI, KSSK, Menkeu, LPS, manajemen Bank Century, dan seterusnya, tentu bukan masalah kecil.

Bukan hanya kerja keras, secara politik pun fraksi-fraksi di DPR itu sudah berkorban besar. Contoh, PKS. PKS saat ini disebut-sebut sebagai “lawan” oleh Partai Demokrat. Bahkan 4 posisi kementrian mereka terancam disikat habis oleh Partai Demokrat, pasca pandangan akhir Pansus Bank Century kemarin. Tegasnya sikap PKS sama dengan tegasnya sikap PDIP, padahal seacara politik keduanya berada dalam domain berbeda. PKS koalisi, PDIP oposisi.

Saya pribadi terus terang kesal melihat cara-cara pemberitaan media, terutama MetroTV. Mereka sampai membuat istilah “skor 7 : 2”, bahkan terakhir membuat istilah “skor 5 ; 4”. Istilah-istilah seperti ini kan merupakan “kanibalisme politik”. Sangat kejam dan tidak manusiawi. Siapapun yang memahami hikmah perjuangan politik, pasti tidak akan memakai kata-kata kanibalis seperti itu. Masih banyak kok istilah lain yang manusiawi.

Bayangkan saja, media-media massa itu kan hanya bisa MENILAI, MENGOMENTARI, MEMBUAT ANALISIS, MENUDUH, MEMPROVOKASI, dan seterusnya. Coba Andaikan posisinya ditukar, wartawan-wartawan senior media menjadi anggota Pansus, apakah mereka akan sesempurna citra keagungan seperti yang mereka tuntut selama ini?

Terus terang ada rasa kesal di hati. Kita ini kan terlibat dalam politik. Seperti saya juga berpolitik kecil-kecilan, lewat blog. Tujuan berpolitik kan untuk kemaslahatan masyarakat Indonesia, secara umum. Jadi bukan untuk gagah-gagahan, untuk bersaing menjadi “TV berita” nomer satu, atau untuk berlomba mengeruk jatah iklan TV paling besar. Tidak. Tujuan berpolitik adalah demi kemaslahatan hidup masyarakat Indonesia. Jika demikian, ya mengertilah bahwa dalam politik pun ada adab-adabnya. Tidak bisa main sikat saja, main obral analisis temporal.

Alhamdulillah, Pansus DPR sudah bekerja keras selama beberapa bulan terakhir. Ada memang yang punya niat politik, ingin nampang keren, dan seterusnya. Ya, ada lah. Tetapi secara umum, kerja Pansus Bank Century ini layak dihargai. Kerja dan pengorbanan mereka layak diberi apresiasi.

Dan alhamdulillah juga, mayoritas fraksi di Pansus akhirnya menyimpulkan, bahwa ada pelanggaran UU dalam bailout Bank Century. Ada yang terang-terangan menyebut nama pelaku yang bertanggung-jawab, dan ada yang menyebut inisial, bahkan ada yang tidak menyebut nama.

Tetapi intinya, bailout Bank Century melanggar hukum dan pihak yang berperan dalam bailout harus bertanggung-jawab secara hukum. Dan tentu nama-nama seperti Boediono, Sri Mulyani, Miranda Goeltom, dan seterusnya perlu segera diproses oleh pihak kepolisian, kejaksaan, atau KPK. Dalam menghadapi proses hukum Boediono, Sri Mulyani, dkk. berlaku prinsip JK, “Lebih cepat lebih baik!”

Dalam berpolitik, kita harus memiliki PRINSIP, dan KONSISTEN dengan prinsip tersebut. Tetapi selain itu, kita juga harus memiliki ADAB (moraliatas). Nah, adab inilah yang membedakan seorang negarawan dan pemain politik kacangan.

Kalau kita tidak memiliki empati untuk menghargai kerja politik orang lain, dan inginnya mekanisme instan, asal “cespleng” saja. Itu akan membuat bangsa ini “bunuh diri”. Nanti, kita akan seperti kejadian tahun 1998 lalu ketika bangsa ini mengadili Soeharto sampai ke akar-akarnya. Segala yang berbau Orde Baru ingin disikat habis. Padahal, di samping keburukan-keburukannya, Orde Baru juga memiliki banyak kebaikan, yang semestinya kita pertahankan dan kembangkan.

Saat ini, betapa banyak kebaikan-kebaikan yang hilang dari masyarakat ini. Kita dengar dengan jelas, bagaimana Surya Paloh teriak-teriak tentang Nasionalisme, teriak-teriak kepedulian terhadap masa depan Indonesia, melalui ormas Nasional Demokrat. Dulu, bangsa Indonesia memiliki keberpihakan kepada bangsanya sendiri. Namun akibat LIBERALISME PERS, semua itu terkikis. Saat ini masyarakat semakin pragmatis, oportunis, materialis, akibat doktrin media-media massa yang selalu “mau cepat” itu. Harus ada dalam diri kita kepekaan untuk menghargai kerja keras orang lain, sebelum mereka berputus-asa; karena selalu disalahkan oleh media, dan tidak dihargai jasa-jasa baiknya.

Kita harus terus mengawal kerja Pansus, sampai tuntas. Bahkan kalau perlu, sampai bangsa ini bisa membersihkan perekonomian nasional dari tangan operator-operator Liberalisme. Tentu untuk itu membutuhkan “nafas panjang”. Maka, menghargai kerja Pansus Hak Angket Bank Century, merupakan kemestian dalam proses panjang ini.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kehidupan yang lebih baik kepada masyarakat Indonesia. Dan semoga Dia meringankan beban masyarakat yang saat ini tertimpa bencana banjir, tanah longsor, dll. Allahumma amin.

(Politische).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: