Pembunuhan Tokoh Hamas di Dubai

Maret 24, 2010

Beberapa waktu seorang tokoh militer Hamas, Mahmud Mabhuh, dibunuh agen-agen Mossad di Dubai. Pembunuhan ini dilakukan dengan operasi intelijen yang rapi dan sistematik. Termasuk dengan modus pemalsuan paspor dan pengecohan aparat keamanan Dubai.

Ada sebuah hikmah besar yang ingin disampaikan disini. Bukan soal kecanggihan operasi Mossad, bukan soal teledornya aparat keamanan di Dubai, bukan soal missi yang dibawa tokoh Hamas itu, dll. Intinya, jauh dari pembicaraan publik dunia selama ini seputar kematian Mahmud Mabhuh tersebut. Ini kaitannya dengan kita sendiri, sebagai bangsa Indonesia.

Coba perhatikan dengan cermat, secermat-cermatnya! Banyak tokoh-tokoh Hamas (perlawanan Islam) yang dibunuh oleh tentara Israel atau Mosad. Baik dibunuh karena tembakan bom/roket, ditembak mati, dihukum dipenjara, diracun, dan sebagainya. Kita masih ingat almarhum Yahya Ayasy, Imad Aql, Abdul Aziz Rantisi, Syaikh Ahmad Yasin, Fathi Syaqaqi, Syuhada ‘Ein Hilweh, dll. Kepala Biro Politik Hamas, Khalid Misy’al pernah akan dibunuh dengan suntikan beracun di Yordania, tetapi operasi Mosad ini gagal total. Bahkan agen Mosad berhasil ditangkap, lalu dibarter dengan penawar racun yang telah merasuk ke tubuh Misy’al.

Coba perhatikan, rata-rata target yang dibunuh Israel (Mosad) adalah tokoh-tokoh militer, pakar senjata, ahli perang, komandan pasukan, dan lain-lain. Rata-rata target selalu memiliki koneksi sangat kuat dengan dunia militer.

Adapun kalau tokoh-tokoh yang tidak berhubungan dengan militer, atau Israel tidak menemukan indikasi keterlibatan orang itu dalam operasi-operasi militer, biarpun tokoh tersebut sekritis apapun kepada Israel, mereka rata-rata aman. Israel hanya membidik target-target potensial yang berhubungan dengan militer. Adapun kalau kalangan kitikus yang “ngomong doang” tidak terlalu dihiraukan oleh Israel.

Oleh karena itu, Anda pasti merasa heran dengan melihat kritisnya tokoh-tokoh di Indonesia dalam mengecam perilaku brutal Zionis Israel. Tetapi mereka lempeng-lempeng saja, tidak ada resiko. Begitu pula, segala macam studi kritis tentang Freemasonry, akhir-akhir ini seperti membanjir, baik lewat buku, majalah, atau internet. Tetapi kalangan Freemasonry sendiri seperti tidak peduli. Mereka tidak cemas. Seperti sebuah ungkapan, everything must go on.

Mungkin pertanyaannya, mengapa hanya bidang MILITER yang menjadi perhatian? Mengapa bidang-bidang lain kurang menjadi perhatian? Bahkan, andai Israel menjumpai seorang teknolog Palestina, selama teknolog itu tidak berhubungan dengan senjata, atau tidak difungsikan untuk senjata, mereka tidak terlalu peduli. Contoh, seperti teknologi bedah, sipil bangunan, pertanian, transportasi, dll. yang tidak digunakan untuk senjata; para ahli Palestina di bidang itu tidak terlalu dihiraukan.

Intinya, keahlian seputar militer, strategi perang, senjata, dll. termasuk dalam kategori perkara “multiple effect”. Ia seperti sebuah pintu yang membuka berbagai pintu-pintu lainnya. Kalau Hamas memiliki kekuatan senjata, memiliki pasukan dengan disiplin prajurit tempur, apalagi sampai memiliki satuan intelijen sendiri, itu sama saja dengan kenyataan bahwa Hamas memiliki kekuasaan politik dan wilayah. Persis seperti Hizbullah di Libanon yang menguasai senjata, amunisi, dan memiliki banyak prajurit. Dengan kekuatan ini, sulit bagi Israel untuk merebut kembali Libanon Selatan.

Dalam konteks ini, dapat dimengerti jika negara-negara Barat sangat takut, ketika ada negara Muslim yang ingin membuat instalasi nuklir, seperti Irak, Pakistan, Libya, Indonesia, dan lainnya. Meskipun dalihnya, nuklir untuk perdamaian, bukan untuk senjata. Selain instalasi nuklir itu bisa dipakai untuk “menakut-nakuti” negara lain, ia juga berpotensi mendukung pengembangan senjata secara umum.

Kalau membaca sejarah Indonesia, ada satu fakta yang sangat sering dilupakan. Sejarawan Taufik Abdullah, Anhar Gongong, Asvi Warman, dll. dalam analisis-analisisnya pasti sering melupakan fakta ini. Ia adalah fakta tentang PETA (Pembela Tanah Air) dan pasukan-pasukan cadangan yang dibentuk Jepang seperti Heiho, Keybodan, Seinendan, dll. PETA dibentuk oleh Jepang, sebagai pasukan cadangan yang direkrut dari pemuda-pemuda pribumi, dalam rangka membela kepentingan militer Jepang. Pada mulanya seperti itu. Para pemuda pribumi disana diajarkan senam militer, baris-berbaris, kedisiplinan, menguasai senjata, kedisiplinan, dll. Maksud Jepang mempersiapkan pasukan untuk membela missi kolonialismenya menghadapi Perang Dunia melawan Blok Sekutu. Tetapi pasukan itu kemudian berbalik menjadi kekuatan militer yang menuntut Kemerdekaan.

Andaikan rakyat Indonesia waktu itu bergantung kepada tokoh-tokoh nasional hasil didikan Belanda, yang pintar otaknya, tapi tidak memiliki keahlian militer, dijamin bangsa ini tidak akan merdeka-merdeka. Untuk membedakannya sangat mudah. Lihatlah sosok Ir. Soekarno dan Jendral Soedirman. Keduanya mewakili pribadi yang sangat berbeda. Pak Dirman dilahirkan dari kultur tentara rakyat (militer), sementara Soekarno dari kalangan priyayi yang sangat terpengaruh pemikiran-pemikiran Barat (Belanda). Pak Dirman merupakan sosok anti perdamaian dengan Belanda, sedang Soekarno sangat senang berdamai, meskipun terus-menerus ditipu oleh trik-trik diplomasi Belanda. Perundingan KMB yang sebenarnya melecehkan Indonesia itu, juga merupakan hasil “ijtihad politik” Soekarno.

Bangsa Indonesia kalau mengikuti gaya pemikiran tokoh-tokoh didikan Belanda seperti Dr. Soetomo, Dr. Wahidin Soedirohoesodo, Ki Hajar Dewantoro, Setiabudhi, dan sejenisnya, pasti tidak akan memiliki kebanggaan sebagai bangsa berdaulat penuh. Hanya karena kita memiliki tokoh-tokoh berlatar-belakang militer (combatan), seperti Pak Dirman, Bung Tomo, eks PETA, Hizbullah, Fi Sabilillah, dll. maka kita diberi jalan menuju kemerdekaan. Ini fakta yang sering dilupakan. Andaikan Jepang tidak membentuk pasukan cadangan, lalu mendidik pemuda-pemuda Indonesia dengan segala keahlian militer, entah kapan bangsa kita akan merdeka. (Dan uniknya, kita tidak perlu terlalu berterimakasih kepada Jepang, sebab mereka sendiri memiliki tujuan politik di balik pelatihan-pelatihan militer yang mereka lakukan, yaitu untuk mengekalkan dominasi kolonialisnya di Indonesia).

Bangsa manapun yang kehilangan nyali militernya, dia akan lemah. Maka itu di negara-negara maju selalu ada instrumen WAJIB MILITER. Seperti di Indonesia, ketika wajib militer tidak ada, ketika urusan pertahanan murni diserahkan kepada TNI, lalu rakyat dibombardir budaya hedonistik; maka penjaga-penjaga kedaulatan negeri ini menjadi semakin lemah. Siapa yang diandalkan bangsa Indonesia sekarang? Paling hanya TNI. Sementara TNI sendiri saat ini berada dalam kondisi yang lemah, tidak seperti dulu.

Ada kesalahan berpikir yang komplek pada pengambil kebijakan politik di Indonesia. Mereka secara sistematik menjauhkan masyarakat luas dari akses kemiliteran, lalu memastikan bahwa hanya TNI/Polri saja yang berhak memikul masalah itu. Dulu istilahnya ABRI, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Maka karena TNI sudah memegang monopoli, rakyat kita menjadi lemah, segala masalah kemiliteran diserahkan urusannya kepada TNI. Pada saat yang sama, manajemen organisasi TNI kerap ditunggangi niat-niat buruk, di luar konteks menjaga kedaulatan bangsa. Misalnya, TNI dipakai untuk tujuan politik, untuk mengamankan kepentingan bisnis, untuk jenjang pejabat publik, dll. Maka tidak heran terjadi aneka kesewenang-wenangan. Ada kalanya kalangan militer menjadi backing perusahaan, melindungi perjudian, backing diskotik, dll. Ini jelas salah arah.

Betapa susahnya bangsa Indonesia berjuang untuk merdeka. Nah, setelah merdeka, kedaulatan kita harus dijaga sebaik-baiknya. Dijaga dengan kecanggihan politik, juga dengan kekuatan militer. Baiklah, TNI diberi tugas resmi sebagai pengemban amanah menjaga kedaulatan itu. Tetapi akses atau minat kemiliteran jangan dijauhkan dari masyarakat luas, sebab mereka adalah KEKUATAN CADANGAN yang sangat potensial. Yakinlah, kalau masyarakat memiliki mental sebagai prajurit, meskipun tidak pernah terjun dalam peperangan, mereka akan jauh lebih mampu menjaga KEDAULATAN bangsanya. Orang-orang asing akan berpikir seribu kali untuk menjajah kita, dalam segala bentuk dan modusnya. Tetapi dengan keadaan seperti saat ini, kedaulatan Indonesia adalah sesuatu yang lama-lama akan hilang dari kehidupan kita. [Ingat sekali lagi, perkara militer itu “multiple effect“].

Tetapi kalau kita bicara seperti ini, nanti agen-agen Liberal mulutnya pada nyolot. Mereka biasanya akan mengoceh, “Itu militerisme. Itu anti demokrasi. Itu sih menjurus ke sistem totaliter. Itu berpotensi melanggar HAM.” Ya, masalahnya, mereka tidak memiliki solusi untuk menjaga kedaulatan bangsanya. Kaum Liberal itu persis seperti Dr. Soetomo, Setiabudhi, Ki Hajar Dewantoro, dll. di masa lalu. Sama-sama berpikir pro asing.

Dalam perang modern, sebenarnya peperangan bukan hanya terjadi dalam konteks kontak senjata. Area perang bisa terjadi dalam bidang politik, ekonomi, budaya, informasi, opini media, dan sebagainya. Tetapi tetap saja, kata kuncinya, adalah kekuatan militer. Amerika Serikat membuang uang puluhan miliar dollar untuk memerangi terorisme di dunia. Sepintas lalu, Amerika seperti membawa missi luhur memerangi biang kerok keonaran dunia. Padahal sejatinya, target utama mereka adalah mematikan potensi kekuatan militer negara-negara yang menjadi sasaran perang anti teroris yang mereka gelar.

Pembunuhan tokoh militer Hamas bagi Israel, merupakan satu langkah strategis untuk mengeliminir kekuatan dan pengaruh politik Hamas di Palestina. Selama Hamas masih memiliki kekuatan militer, selama itu kekuasaan ada bersamanya. Maka Al Qur’an menyebut hal ini dengan istilah “al hadid” (kekuatan besi). Agar kita belajar, bahwa agama itu senantiasa dijaga dengan ilmu para ulama dan pedang para penguasa.

Wallahu A’lam bisshawaab.


Fatwa Merokok Haram

Maret 24, 2010

Status hukum merokok telah lama menjadi perdebatan, jauh hari sebelum Majlis Tarjih Muhammadiyyah mengeluarkan fatwa merokok haram. Dalam hal ini publik Indonesia terbelah dalam 3 kelompok: (a) Kalangan yang secara mutlak mengharamkan rokok dan perbuatan merokok; (b) Kalangan yang memakruhkan rokok dan tidak sampai mengharamkan; (c) Kalangan yang secara mutlak menghalalkan rokok dan menentang fatwa yang mengharamkannya. MUI sendiri pernah mengeluarkan fatwa merokok haram, tetapi dengan syarat dan kondisi tertentu. Misalnya, merokok haram bagi ibu hamil, anak-anak, di tempat umum, dll.

Dalam hal ini, masalah rokok bisa dikaji dalam dua ruang besar: Aspek kajian fiqih dan aspek dampak sosial. Dalam perdebatan seputar hukum merokok, dua aspek itu sering rancu, sehingga sulit ditemukan titik temu. Misalnya, kalangan yang mengharamkan rokok sering berdiri dalam perspektif fiqih, sedangkan para penentang fatwa haram rokok sering berdiri dalam perspektif sosial.

ASPEK KAJIAN FIQIH

Para penentang fatwa haram merokok sering berdalih dengan alasan-alasan antara lain: (1) Dalam Al Qur’an dan As Sunnah tidak ada larangan yang tegas/qath’i yang mengharamkan rokok atau perbuatan merokok; (2) Merokok memang merugikan, tetapi statusnya tidak sampai haram, namun makruh (tidak disukai). Sejauh yang saya ketahui, alasan para penentang fatwa haram merokok tidak adan keluar dari 2 argumentasi ini. Ada juga yang menambahkan alasan “pelengkap”, bahwa masih banyak para kyai/ustadz yang merokok, maka otomatis merokok dianggap halal. Tetapi alasan perbuatan kyai/ustadz ini tentu tidak bisa menjadi patokan.

Perlu dipahami, perbuatan merokok tidaklah haram karena dzat-nya, tetapi haram karena akibatnya yang menimbulkan madharat bagi diri sendiri dan orang lain. Merokok bukan perbuatan haram seperti berzina, minum khamr, membunuh, ribawi, menipu, mencuri, berjudi, dll. Jadi, dzat asalnya tidak haram, sebab bukan termasuk perbuatan-perbuatan yang diharamkan Syariat. Tetapi akibat buruk yang timbul karena perbuatan merokok itulah yang menjadi pangkal keharamannya.

Misalnya, ini hanya misalnya, merokok bisa membuat tubuh menjadi segar, metabolisme lancar, pernafasan membaik, kadar gula turun, kolesterol menyusut, mempertinggi kesuburan, mereduksi sel-sel kanker, dll. Jika demikian, maka merokok pasti diperbolehkan, halal, dianjurkan, bahkan bisa diwajibkan. Tetapi karena efeknya merugikan, maka para ulama menyimpulkan, perbuatan ini haram. Istilahnya, tahrim li aqibati mafsadatihi.

Dalilnya adalah kaidah fiqih yang terkenal, “Ad dinu jalbun lil masha-lih wa daf’un lil mafasid” [agama itu untuk mencapai maslahat dan menolak mafsadah (kerusakan)]. Dalam Al Qur’an disebutkan, “Dan Dia menghalalkan atas mereka yang baik-baik dan mengharamkan atas mereka yang buruk-buruk.” (Al A’raf: 157).

Kaidah demikian banyak sekali dipakai oleh para ulama dalam ijtihad mereka, terutama untuk menghukumi perbuatan, materi, transaksi, dll. yang tidak ditemukan realitasnya di jaman Salaf (Nabi dan Shahabat). Contoh, tentang media pornografi, kontrasepsi, bunga bank, asuransi, pakaian modern, alat komunikasi, kartu kredit, film, novel, soft drink, transpalantasi, operasi plastik, kloning, dll.

Jika suatu perbuatan tidak termasuk haram karena dzatnya, sebab tidak disebutkan secara jelas keharamannya melalui teks Al Qur’an dan Sunnah, ia bisa diharamkan karena akibatnya yang merugikan kehidupan Ummat. Status hukum merokok, bisa dipahami dari sudut pandang demikian. Sebagai perbandingan, jika merokok tidak bisa diharamkan, meskipun akibatnya sangat merugikan, dengan alasan tidak ada ayat/hadits yang tegas melarang perbuatan itu, maka perbuatan lain seperti menonton VCD porno, kebut-kebutan di jalan, menjadi suporter brutal, musik rock, bursa saham, dll. juga otomatis dihalalkan juga. Sebab semua perbuatan itu dulu di jaman Salaf juga tidak ada, dan tidak ditemukan larangan tegas tentangnya dalam Kitabullah dan As Sunnah.

ASPEK DAMPAK SOSIAL

Para pembela rokok/perbuatan merokok sering berdalih dengan alasan-alasan sosial, seperti: “Kasihan para petani tembakau. Nanti mereka akan menanam apa lagi? Kasihan buruh pabrik rokok, kasihan para pedagang pengecer rokok, kasihan para pengusaha yang sudah mengeluarkan modal miliaran rupiah, kasihan dinas pajak dan cukai, kasihan departemen tenaga kerja, dll.”

Bahkan lebih parah lagi, ketika ada yang mengatakan, “Kasihan para penonton bola, sebab tidak ada yang mau pasang iklan, selain iklan rokok. Kasihan para dokter dan rumah sakit, karena tidak ada yang merokok, jumlah pasien mereka menurun drastis. Dan sangat kasihan gerakan KB, sebab semakin jarang orang merokok, semakin sedikit laki-laki yang impotensi.” (He he he…ini hanya bercanda).

Ya, harus diakui, di Indonesia itu merokok telah masuk menjadi perilaku yang sangat membudaya. Sejak rakyat kecil sampai pejabat tinggi, orang awam sampai professor, tidak laki-laki tidak wanita, baik kalangan penjahat maupun kyai, baik santri maupun mahasiswa, banyak yang sudah hobi merokok.

Perilaku yang sudah membudaya otomatis ada konsekuensi ekonomisnya. Dalam masalah rokok ini, ia telah melahirkan jaringan ekonomi yang membentang sejak dari hulu sampai ke hilir. Sejak dari petani tembakau, sampai ke konsumen, dinas pajak, departemen perindustrian, departemen tenaga kerja, iklan TV, studio iklan, pertandingan sepakbola, dan sebagainya. Benar-benar telah menjadi “kanker sosial” yang sulit melepasnya dari kehidupan masyarakat.

Kondisi ini mirip dengan masyarakat Kuba di bawah Fidel Castro, meskipun tidak separah mereka. Di Kuba, karena sebagian besar masyarakatnya stress, negara bertanggung-jawab menyediakan jatah rokok bagi rakyatnya. Fidel Castro sendiri memiliki hobi menghisap cerutu kualitas istimewa. Padahal harga cerutu sangat jauh lebih tinggi disbanding rokok kretek biasa.

Menurut sebagian surve, katanya 70 % perokok adalah orang miskin. Merokok telah menjadi gaya hidup orang miskin, dan membuat mereka PASRAH sebagai orang miskin. Tidak ada daya kreatif, militansi, atau spirit perjuangan untuk mengubah nasib. Sebab, mereka sudah cukup merasa “berubah nasib” dengan kepulan asap rokok. Pada suatu titik, rokok telah menjadi “regim kebudayaan” yang efektif melestarikan status miskin, melarat, dan tidak berdaya, dalam kehidupan masyarakat kita.

Sebagai Muslim, kita harus memiliki komitmen untuk berhenti merokok. Tidak bisa sekaligus, tidak mengapa. Proses bertahap tidak masalah. Asalkan pada suatu waktu, benar-benar berhenti. Jika tidak mampu berhenti sekaligus, silakan berproses secara bertahap. Ketauhilah kawan, “Merokok bukan hanya akan membuatmu impoten secara syahwat, tetapi juga impoten dari sisi militansi!” Rokok ini ranjau sosial yang sengaja dipasang untuk memenjarakanmu dalam status kemiskinan, kemelaratan, dan ketidak-berdayaan.

“Ituh!” (sambil bergaya seperti Pak Mario Teguh).

AMW.


Terkulai Lemah

Maret 24, 2010

Saat kapan manusia bisa merasakan nikmat?” Jawabnya paling mudah: Saat kita kehilangan kenikmatan itu.

Beberapa hari terakhir saya mengalami flu berat. Bersin-bersin, keluar ingus banyak, batuk, badan lemas, dan sebagainya. Alhamdulillah, saat ini sudah mulai membaik. Ketika mengalami sakit seperti ini, rasanya seperti terhempas. Kalau biasanya banyak aktivitas dilakukan, akhirnya seperti mobil yang berhenti mendadak. Ya, saat-saat sakit merupakan momen yang paling indah untuk memahami makna sehat.

Selepas bedah buku di Jakarta, kondisi masih baik-baik. Tetapi setelah beberapa kali kehujanan sore, sambil mengendarai motor, fisik benar-benar drop. Ketika periksa ke dokter, dia memberi titik perhatian pada masalah STAMINA yang tidak menunjang. Satu sisi, fisik diforsir, sementara penyeimbang fisik itu (berupa nutrisi, istirahat, dan lainnya kurang). Akhirnya, tubuh kalah oleh potensi virus atau bakteri yang sudah ada dalam tubuh.

Intinya, tubuh manusia memiliki INNER MEDICINE (obat alami), yaitu IMUNITAS. Imunitas ini berfungsi menjaga kestabilan tubuh kita. Maka Anda mendapati, kadang seseorang bisa sembuh dari sakit, tanpa terapi pengobatan apapun. Ia sembuh, dengan tubuhnya sendiri.

Tetapi bagaimanapun, status imunitas tubuh kita, penyakit yang ada (potensial dalam diri), gaya hidup, dan sebagainya; semua itu sangat bergantung kepada nikmat SEHAT yang Allah tetapkan bagi setiap manusia. Imunitas, nutrisi, obat, dll. tadi hanya sebatas sarana saja. Adapun intinya adalah nikmat sehat ini. Inilah yang kita syukuri. Sebab banyak terjadi, seseorang sakit atau sembuh, tanpa bisa dijelaskan alur logisnya dengan metode-metode kesehatan.

Para dokter hanya memikirkan teknik pengobatan, mereka tidak bisa memberikan kesehatan itu sendiri. Pernah terjadi, ada kenalan isteri. Suami kenalan itu dokter spesialis tulang. Suatu saat dia mengalami flu tulang. Berbagai cara medis ditempuh, tetapi masih belum didapati kesembuhan. Akhirnya, dia dirawat di sebuah RS di Singapura dengan biaya perawatan miliaran rupiah. Itu pun tidak sembuh juga. Bahkan sang pasien itu akhirnya wafat. Nah inilah, faktor medis hanya sarana saja. Intinya tetap nikmat sehat dari Allah Ta’ala.

Andai para dokter bisa menjamin kesehatan manusia, tentu semua jenis pengobatan akan berhasil sempurna, setiap yang sakit dijamin sembuh, bahkan bisa jadi, tidak akan ada orang wafat di rumah-rumah sakit. Iya gak, man?

Ya sudah, mari kita berdoa dengan rasa syukur: Bismillahi Rabban naasi, adzhibil ba’sa, isyfi Anta Syafi laa syifa’a illa syifa’uka, syifa’an laa yughadiru saqama.

Dan terakhir, satu ungkapan yang perlu saya sampaikan. “Momentum terindah dalam kehidupan, adalah menikmati masa-masa peralihan ke arah kemajuan.”

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin ‘ala kulli shihhatin wal ‘afiyah.

AMW.


Bedah Buku: “Cukup 1 Gus Dur Saja”

Maret 16, 2010

Alhamdulillah, kemarin 14 Maret 2010, diadakan bedah buku bertema, “Membendung Pemikiran Kyai Liberal”, di Ruang Anggrek Senayan Jakarta, dalam momen Islamic Book Fair (IBF) 2010. Sebagai pemateri, saya sendiri dan Ustadz Hartono Ahmad Jaiz. Masing-masing membahas buku tulisannya sendiri. Saya membahas “Cukup 1 Gus Dur Saja“, sedangkan Ustadz Hartono membahas “Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal Cs“.

Acara dimulai sekitar pukul 16.00, berakhir sekitar pukul 18.00. Alhamdulillah respon pengunjung/hadirin sangat baik. Kursi-kursi yang disediakan penuh, malah ada yang berdiri dan duduk di lantai. Ini untuk pertama kalinya saya menyampaikan bedah buku di forum IBF. Biasanya di forum-forum umum, di luar agenda pameran.

Cover Buku "Cukup 1 Gus Dur Saja"

Secara umum bedah buku berjalan lancar, para pengunjung antusias. Apalagi dengan gaya “apa adanya” Ustadz Hartono Ahmad Jaiz. Beliau sempat menjelaskan hal-hal yang membutuhkan detail, misalnya soal Anand Khrisna, Darmo Gandul Gatoloco, pemikiran orang musyrik seputar bangkai, dan lain-lain. Adapun saya sendiri mengungkap sebagian sisi dari buku “Cukup 1 Gus Dur Saja“.

Ada hal menarik dalam bedah buku. Dalam sesi tanya-jawab, ada seorang Muslimah, sepertinya masih berusia sekitar 20-an tahun. Dia menanyakan suatu pertanyaan yang cukup membelalakkan mata. Betapa tidak, dia dengan segala penampilannya yang feminim, sempat bertanya, kurang-lebih, “Bagaimana kalau tokoh-tokoh penyesat Ummat ini diberi sanksi dibunuh saja? Bagaimana pandangan ustadz?” Itu muslimah sangat feminim, tapi pertanyaannya “sangat jantan”. (Jadi teringat iklan sebuah kopi, “dikira lemah padahal kuat”. He he he…). Para pengunjung juga geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan seperti itu.

Ustadz Hartono merujuk buku “Bahaya JIL dan FLA”, menjelaskan bahwa hukuman bagi penghujat agama, memang hukuman mati. Adapun saya mengomentari pendek pertanyaan Muslimah itu. Kira-kira, “Tentang perlu apa tidak tokoh seperti Gus Dur dibunuh, saya rasa tidak perlu, sebab…” Belum juga dijawab para hadirin sudah pada menjawab, “Sebab dia sudah meninggal.” Akhirnya, geeerrr…

Terus terang, saya tercenung juga dengan momen bedah buku di IBF pada 14 Maret 2010 kemarin itu. Pasalnya, tanggal 14 adalah hari terakhir pameran. Wah, ada ribuan orang hadir di Senayan. Sampai untuk berjalan dari satu stan ke stan lain kadang harus sabar, sebab pengunjung berjubel di berbagai sisi. Ada niat untuk melihat-lihat, tetapi akhirnya tidak kesampaian. Praktis saya datang ke Senayan, langsung dari Bandung, hanya benar-benar untuk bedah buku saja. Tak sempat melihat-lihat stan pameran. Jangankan ke stan buku lain, ke stan Pustaka Al Kautsar saja, hanya menengok sebentar, tidak bisa leluasa.

Berangkat dari Bandung jam 10.30 pagi, tiba di Jakarta sekitar pukul 14.00. Lalu naik kendaraan (Busway) dari Jatiwaringin ke Senayan, tiba disana sekitar jam 15.10. Tiba di lokasi pameran langsung ke toilet, sekalian untuk berwudhu, karena belum shalat Zhuhur dan Ashar. Setelah itu menuju stan Al Kautsar, kemudian ke mushalla. Setelah dari mushalla langsung ke ruang Anggrek, lokasi bedah buku. Pasca bedah buku, ramah-tamah dulu dengan panitia dari Al Kautsar sampai saat Isya’. Setelah itu langsung pulang ke Bandung lagi. Benar-benar perjalanan “kilat”, just for bedah buku only.

Oh ya, harga pasaran buku ini Rp. 28.000,- per eksemplar. Kalau di pameran IBF kemarin ada discount sampai 30 %, sehingga jatuhnya menjadi sekitar Rp. 21.000,-.

Dalam buku ini banyak yang saya ungkap, antara lain: Riwayat hidup Gus Dur; berbagai pujian publik kepadanya; rekam jejak pelanggaran Gus Dur terhadap Syariat Islam; bantahan klaim Gus Dur sebagai “Bapak Demokrasi”, “Bapak Pluralisme”,  “Bapak Humanisme, “Pembela Kaum Tertindas”, “Tokoh Ulama dan Wali”, “Bapak Bangsa”, dan sebagainya; mengungkap penipuan media dalam membuat kebohongan seputar Gus Dur; mengungkap kaitan antara paham Liberal dan missi penjajahan ekonomi; dan lain-lain. Termasuk, membantah tuduhan kaum sekuler selama ini, bahwa seolah kalangan Islam berniat menghancurkan NKRI. Padahal dalam kajian ini disebutkan, justru kaum Liberal itulah penghancur kehidupan bangsa sesungguhnya.

Ya, ini informasi permulaan tentang buku “Cukup 1 Gus Dur Saja“. Nanti akan diberikan versi “thriller”-nya di blog ini. (Kayak film bioskop saja…). Semoga bermanfaat bagi kita semua. Allahumma amin.

AMW.


Isu Terorisme dan Para “Selebritis”

Maret 12, 2010

“Di setiap musim selalu ada ahlinya.”

Itulah ungkapan yang paling tepat untuk diucapkan. Di Indonesia ini, pada waktu-waktu tertentu ada MUSIM TERORISME. Ini nyata dan benar-benar faktual, sebab hampir setiap tahun sejak 2002, selalu ada MUSIM TERORISME. Saat musim ini tiba, seluruh pikiran masyarakat seperti “dicuci otak” untuk mengikuti berita, opini, peredabatan seputar terorisme. Dan ketika musim ini tiba, muncul pula “pendekar-pendekar” yang merasa paling ahli bicara tentang terorisme, jihad fi sabilillah, ajaran Islam, hak-hak non Muslim, dan sebagainya. Para “selebritis terorisme” ini muncul dengan segala kepakaran, kegagahan, dan penampilannya di layar-layar TV.

Celakanya, yang selalu menjadi “selebritis” itu orangnya ya itu itu saja. Dari sejak dulu sampai sekarang, tidak akan keluar dari nama-nama seperti: Al Chaidar, Umar Abduh, Wawan Prayitno, Abdurrahman Assegaf (namanya “Assegaf” tetapi tidak tampak seperti keturunan Arab), Nur Huda, dan lain-lain. Tentu raja dari segala “selebritis terorisme” ini adalah: NASIR ABBAS!

Coba kita bertanya kepada kaum Muslimin di Indonesia dengan pertanyaan berikut: “Orang-orang itu sebenarnya selama ini berpendapat mewakili kepentingan siapa? Apakah mereka wakil dari MUI, atau wakil dari ormas Islam, wakil dari MMI, wakil dari JI, atau wakil siapa?” Sama sekali, pendapat, ucapan, opini orang-orang itu tidak mewakili pandangan kaum Muslimin di negeri ini. Jika demikian, mengapa mereka selalu menjadi “selebritis” ketika muncul musim terorisme? Apa kapasitas mereka bicara tentang terorisme? Kalau Ansyad Mbay bisa dimaklumi, sebab dia ketua Desk Anti Teror. Atau Hendropriyono, sebagai mantan Ketua BIN. Sedangkan orang-orang di atas, sangat tidak jelas mewakili Ummat Islam yang mana?

Contoh menarik, pandangan Abdurrahman Assegaf (namanya “Assegaf” tetapi wajah seperti orang Muslim lokal). Dia mengklaim bahwa para pelaku terorisme itu memiliki ideologi ekstrim, bahkan disebut menganut aliran sesat. Kemudian dia menegaskan bahwa, “Islam itu rahmatan lil ‘alamiin.”

Persoalannya, banyak orang mengklaim Islam sebagai agama “Rahmatan Lil ‘Alamiin”, lalu menafsirkannya sebagai agama yang hanya berisi etika sopan satun, sikap ramah, menyayangi sesama, toleransi terhadap perbedaan, tidak memaksakan kehendak, patuh pada kebijakan politik, pasrah dengan sistem ekonomi yang berlaku, dan sebagainya. Orang-orang ini tidak mau mengembalikan tafsir Rahmatan Lil ‘Alamiin itu kepada sikap beragama Nabi Saw dan para Shahabat Ra. Padahal tentu yang paling mengerti tafsiran dan aplikasi Rahmatan Lil ‘Alamiin itu adalah Nabi dan para Shahabat. Sedangkan, di jaman Nabi beliau berjihad menegakkan sistem Islam secara konsisten, berkesinambungan, dan komprehensif. Ya, buktinya adalah negara Islam Madinah Al Munawwarah itu sendiri. Itulah negara Islam pertama yang didirikan kaum Muslimin yang terus dilestarikan selama ribuan tahun.

Jadi konsep Rahmatan Lil ‘Alamiin versi Nabi Saw sangat berbeda dengan konsep Rahmatan Lil ‘Alamiin yang dicetuskan oleh Abdurrahman Assegaf Cs. Di mata Abdurrahman ini, yang namanya ajaran Islam hanya berisi akhlak baik kepada orangtua, akhlak baik kepada guru, menyayangi teman, rajin belajar, rajin olah-raga, makan makanan bergizi, membuang sampah pada tempatnya, memakai helm di jalan raya, dan semacamnya. Ya, itulah tafsiran Rahmatan Lil ‘Alamiin yang mereka ingin paksakan agar diterima oleh Ummat Islam.

Berjihad Melawan Panser Yahudi dengan Batu.

FITNAH TERHADAP JIHAD

Terus terang ada rasa muak ketika mendengar opini-opini busuk yang dikembangkan oleh media-media massa. Dalam berita di Trans7 berkali-kali saya mendengar, mereka menyebut istilah “jaringan terorisme”, “sekolah teror dunia”, para teroris, dan sebagainya. Semua istilah itu ditujukan kepada amal-amal Jihad kaum Muslimin di seluruh dunia, termasuk di Afghanistan, Mindanao, Irak, dan sebagainya. Afghanistan disebut sebagai “sekolah teror dunia”. Laa haula wa laa quwwata illa billah. [Bila tuduhan Trans7 itu salah, semoga orang-orang yang melontarkan tuduhan keji itu dikutuk oleh Allah, dirusak kehormatannya, dibangkrutkan bisnisnya, dipecah-belahkan keluarganya, disesatkan hidupnya, sampai mati binasa. Amin Allahumma amin].

Harus dipahami perkara ini…

Jihad dalam Islam itu ada dua, Jihad Ofensif dan Jihad Defensif. Jihad ofensif dilakukan oleh negara-negara Islam dalam rangka memukul mundur musuh-musuhnya, mengusir para agressor, serta menaklukkan negara-negara jahiliyyah. Syaratnya, harus memiliki negara Islam yang berdaulat dan dipimpin seorang imam. Adapun jihad defensif, bisa dilakukan Ummat Islam dimanapun dan kapanpun, dalam rangka membela diri, menolak agressi musuh, menolak penjajahan, menolak kezhaliman orang kafir, dsb. Jihad yang terjadi di Palestina, Irak, Afghanistan, Kashmir, Chechnya, Mindanao, Bosnia, dll. semua itu adalah jihad defensif untuk mempertahankan diri.

Kedua jenis Jihad di atas adalah Syar’i, berdasarkan dalil-dalil Syariat Islam. Tidak satu pun ulama Ahlus Sunnah menolak konsep jihad seperti itu, sejak dulu sampai saat ini. Nabi Saw dalam peperangan Badar, Uhud, dan Ahzab, bersifat Jihad Defensif. Tetapi dalam perang Hunain, perang Khaibar, perang Tabuk, Fathu Makkah, dan lainnya bersifat Jihad Ofensif.  Kedua jenis jihad tersebut dilakukan oleh Nabi dan para Shahabat.

AKSI BOM MANUSIA

Adapun soal aksi-aksi pengeboman target sipil di daerah aman seperti Indonesia, dengan sasaran warga sipil, dengan tidak membedakan agama mereka, seperti dalam kasus Bom Bali I, Bom Bali II, bom JW Marriot, bom Kuningan, bom JW Marriot-Ritz Carlton, dengan menggunakan bom manusia atau bom mobil; semua ini adalah perkara baru dalam konteks Jihad Fi Sabilillah. Baru populer sejak tahun 80-an di dunia Islam. Khususnya sejak Usamah bin Ladin menyerukan jihad global melawan Amerika tahun 1996.

Jihad sebelum tahun 80-an tidak pernah menggunakan bom manusia atau bom mobil. Teknik bom manusia dimulai oleh seorang wanita Tamil, ketika meledakkan dirinya untuk membunuh PM India, Rajiv Ghandi. Teknik bom mobil banyak digunakan oleh Mafia, kelompok Abu Nidal dan Hizbullah di Libanon, IRA di Irlandia, Basque di Spanyol, dan sebagainya. Kedua cara ini benar-benar bukan berasal dari khazanah perjuangan para Mujahidin Islam. Jihad Fi Sabilillah yang dilakukan para Mujahidin Islam sejak lama menggunakan cara-cara kontak militer biasa.

Hanya ketika Hamas memulai menerapkan teknik bom manusia, yang kemudian disebut sebagai bom istisyhad, dan juga menerapkan teknik bom mobil, ia segera diadopsi oleh gerakan-gerakan Jihad kaum Muslimin, khususnya oleh kelompok Al Qa’idah dan Usamah bin Ladin. Padahal dalam perang di Saudi, jihad Syaikh Hasan Al Banna menyerang Israel, jihad Panglima Soedirman di Indonesia, jihad Syaikh Umar Mukhtar As Sanusi di Libya, dan lain-lain semuanya tidak memakai bom manusia atau bom mobil.

Entahlah, mengapa kemudian teknik “bom manusia” dan “bom mobil”, dengan target sasaran-sasaran sipil tak bersenjata menjadi TREND di kalangan gerakan-gerakan perlawanan Islam? Ini sangat mengherankan dan aneh. Satu sisi, “bom manusia” dan “bom mobil” itu metode yang dimulai oleh orang kafir; di sisi lain, para pendahulu Mujahidin Islam di masa sebelumnya tidak mengenal cara-cara seperti itu.

Dan celakanya, cara “bom manusia” yang diadopsi dari cara perjuangan gerakan Macan Tamil Srilangka itu, kemudian didalili dengan seabreg-abreg dalil. Intinya, dalam jihad, seorang Muslim boleh membinasakan dirinya, dalam rangka menimpakan kerugian besar kepada musuh. Tetapi membinasakan diri dengan cara menempelkan bom dalam tubuh seorang pejuang Islam, adalah sangat berbeda. Tubuh itu bisa hancur berkeping-keping, seperti daging tanpa arti sama sekali. Padahal Allah Ta’ala sudah mengatakan, “Wa laqad karamna Bani Adama” (dan sungguh telah Kami muliakan anak-keturunan Adam. Al Isra’: 70).

Dalam hati saya meyakini, cara-cara Jihad yang mengadopsi cara orang Tamil Srilangka inilah yang telah membuat ruwet amal-amal Jihad Fi Sabilillah di dunia Islam. Para mujahidin itu dilarang menyerang target sipil, dilarang menyerang rumah ibadah, dilarang menyerang ternak-ternak, menyerang lahan pertanian, bahkan mengejar musuh yang melarikan diri saja tidak perlu. Jihad Fi Sabilillah aslinya sangat luhur, sangat mulia. Tetapi setelah muncul aneka rupa BID’AH yang mencontoh cara wanita Tamil saat menyerang Rajiv Ghandi itu, kehidupan Jihad di Dunia Islam mulai morat-marit. Makanya Allah Ta’ala sudah berpesan, “Wa jahidu fillahi haqqa jihadih” (dan berjihadlah kalian di jalan Allah dengan jihad yang benar).

Mudah-mudahan ke depan tidak akan ada lagi aksi bom manusia atau bom mobil yang dikendarai manusia itu. Ini adalah cara-cara salah dalam jihad. Memang benar bahwa kita boleh meniru teknik berperang orang kafir, seperti Nabi Saw meniru teknik perang parit bangsa Persia. Tetapi lihatlah bedanya disana dengan teknik “bom manusia” yang meniru cara wanita Tamil itu! Dalam perang parit di masa Nabi, tidak aksi yang merendahkan martabat dan nilai kehidupan seorang Muslim. Tidak ada sama sekali. Sedangkan “bom manusia” itu justru jelas-jelas telah menghancurkan tubuh seorang Muslim, seperti daging cincang yang biasa dipakai membuat baso itu.

Kalau seorang Muslim dalam jihad kejatuhan bom milik musuh, sehingga tubuhnya hancur lebur akibat ledakan bom itu, tidak masalah. Itu resiko perjuangan. Toh, bukan dia penyebabnya. Tetapi kalau menempelkan rompi bom dalam tubuh lalu meledakkan diri sendiri, atau diledakkan dari jauh, ini benar-benar cara SESAT yang harus ditinggalkan. Kaum Muslimin jangan lagi memakai cara-cara seperti itu sebab sangat merendahkan martabat seorang Muslim. Allah telah memuliakan kita dengan firman-Nya, “Wa laa tahinu wa laa tahzanu, wa antumul a’launa in kuntum mu’minin” (janganlah merasa hina dan merasa sedih, kalian adalah yang tertinggi derajatnya, kalau kalian benar-benar beriman). Apa artinya ayat ini diturunkan dari langit, ketika ada serombongan para Mujahidin Islam sangat bernafsu menghinakan dirinya sendiri dengan memakai rompi berisi bom, lalu secara pengecut membidik target-target sasaran sipil yang sangat lemah? Inikah moral Islami?

Saya menghimbau kepada para alim-ulama, para ustadz, para guru, dan sebagainya agar menghapuskan konsep “bom manusia” atau “bom mobil yang dikendarai manusia” dari kamus Jihad Fi Sabilillah. Cara-cara keji, menghinakan diri, dan pengecut itu tidak layak dimasukkan dalam kamus Jihad Fi Sabilillah.

KEMATIAN SAUDARA DUL MATIN

Ketika mendengar terbunuhnya Saudara Dul Matin, tentu sebagai sesama Muslim kita mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun.” Kita turut berduka atas wafatnya seorang pemuda Muslim, mendoakan kebaikan baginya, dan memintakan ampunan atas dosa-dosanya. Begitu pula atas terbunuhnya rekan-rekan Dul Matin. Allahummaghfirlahum warhamhum wa ‘afihim wa’fuanhum. Amin Allahumma amin.

Dalam hal ini ada dua kondisi yang harus dilihat:

[1] Keterlibatan Dul Matin dalam aksi-aksi pengeboman sasaran sipil di Indonesia, dengan memakai bom manusia atau bom mobil yang dikendarai manusia. Jelas aksi seperti ini salah, dan tidak bisa diklaim sebagai Jihad Fi Sabilillah. Kesalahan demikian harus dipahami, dihentikan, dan tidak diulangi lagi oleh pemuda-pemuda Islam lainnya. Ingat, Allah memerintahkan kita berjihad dengan cara yang benar, seperti para pendahulu kita para Mujahidin yang lurus, bukan dengan meniru teknik “bunuh diri” wanita Tamil ketika membunuh Rajiv Ghandi. (Saya menantang semua pembela paham “bom istisyhad” untuk menghadirkan bukti-bukti, coba Anda sebutkan siapa orang pertama dari kalangan kaum Muslimin yang memulai teknik bom manusia itu? Pasti tidak ada, sebab bom seperti itu memang dirintis oleh gerakan Tamil Elam di Srilangka).

[2] Keterlibatan Al Akh Dul Matin dan kawan-kawan dalam Jihad Defensif membela kaum Muslimin yang tertindas di negeri-negeri Muslim, seperti di Afghanistan, Mindanao, Pattani, dan lainnya. Maka perbuatannya adalah benar, sah, dan dinilai sebagai Jihad Fi Sabilillah. Peranan Dul Matin di Mindanao dalam rangka membela kepentingan Ummat Islam disana menghadapi militer Filipina yang didukung Amerika Serikat, adalah bagian dari Jihad Defensif yang diakui sah dalam Syariat Islam. Pelaku Jihad Defensif adalah Mujahid, meninggalnya dalam membela kaum Muslimin, adalah Syahid.

Siapapun, pemerintah manapun, kepolisian manapun, tidak akan bisa menghapuskan hukum Jihad Fi Sabilillah ini, sebab ia adalah RISALAH yang TURUN DARI LANGIT. Jihad itu bukan rekayasa Usamah, bukan doktrinasi Mullah Umar, bukan milik Hamas, tetapi milik Islam, milik kaum Muslimin, dan diperintahkan oleh Allah Ta’ala. Jihad yang lurus -sebelum tersusupi cara-cara dari luar Islam- adalah amal mulia, bukan terorisme.

CATATAN AKHIR

Kepolisian, Densus88, Amerika Serikat, Australia, dan siapapun, mereka sanggup menyerang target-target pelaku terorisme, seperti menyerang sasaran sipil dengan bom manusia, meledakkan bom mobil di tengah-tengah keramaian masyarakat umum (non kombatan). Tetapi mereka tak akan sanggup menghadapi Jihad Fi Sabilillah yang sebenarnya, yaitu Jihad yang sesuai kaidah dan etika Islami. Meskipun mereka hendak menyamakan Jihad dengan terorisme, maka Allah akan tetap menjernihkan agama-Nya dari kotoran-kotoran kesesatan.

Jihad tidak akan sanggup dikalahkan oleh siapapun, sebab ia adalah RISALAH yang turun dari langit. Jihad dalam rangka menyebarkan hidayah Islam dan Jihad dalam membela kaum Muslimin yang teraniaya, akan selalu hidup dan ada di muka bumi, sampai akhir sejarah Ummat Islam. Jihad yang Syar’i ini tidak akan mampu dikalahkan oleh siapapun, dengan cara apapun, sebab Allah-lah backing-nya. Sesuatu yang di-backing-i oleh Allah Ta’ala, tidak akan mampu dikalahkan oleh siapapun.

Dan kita harus mewaspadai adanya konspirasi dari orang-orang durjana untuk merusak ajaran Islam, merusak keimanan Ummat, serta mengacaukan opini dunia dengan aksi-aksi terorisme yang mereka lakukan sendiri, lalu diklaim sebagai perbuatan para Mujahidin Islam. Hal-hal demikian kerap terjadi, demi kepentingan rendah, dengan mengorbankan kemuliaan agama. Islam kerap dijadikan kendaraan oleh orang-orang tertentu untuk menodai Islam itu sendiri. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Keberadaan para “selebiritis terorisme” sungguh membuat mual orang-orang yang menyaksikannya. Mereka ini sok tahu dan merasa paling mengerti. Padahal analisis mereka saling berbenturan satu sama lain. Ya, maklumlah, di jaman modern, segala sesuatu bisa dibisniskan. Setiap musim ada ahlinya… Setiap datang musim isu terorisme, para “selebritis terorisme” segera bermunculan dengan segala opininya.

Segala puji bagi Allah Ta’ala yang telah menjadikan Jihad Fi Sabilillah sebagai pelindung ajaran Islam dan kehidupan kaum Muslimin. Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AMW.


Standar Keadilan di Indonesia!

Maret 11, 2010

Kemarin seorang pejabat kepolisian membuat konferensi pers, terkait kontak senjata di Aceh Besar dan penggerebekan teroris di Pamulang Tangerang. Dalam konferensi pers itu “sang jendral polisi” menjelaskan banyak hal, terutama tewasnya buronan teroris paling dicari Dul Matin. Kepastian sang terbunuh ialah Dul Matin katanya sangat kuat, peluang kesalahannya hanya 1 banding 100.000 triliun (jadi seluruh nol-nya ada 17).

Atas sukses kerja kepolisian ini, seorang pejabat tinggi tertentu dalam pidatonya di depan Parlemen Australia, secara terbuka mengklaim keberhasilan tersebut. Tak lama kemudian, dia mendapat puji-pujian dari berbagai pihak, khususnya dari PM Australia. Padahal katanya Dul Matin sangat dicari-cari aparat keamanan Amerika, kepalanya dihargai US$ 10 juta. (Kalau tidak salah, seharga kepala Usamah ya?).

Kasus seperti ini sudah sering terjadi di Indonesia, sejak tahun 2002 lalu. Berulang terjadi, dan modusnya cenderung sama. Seperti sudah ada “SOP”-nya dalam pengembangan opini di tengah masyarakat. Sejak awal kita sudah mengkhawatirkan hal ini. Silakan baca artikel berikut: Khawatir Teror Bom! Jadi masalah terorisme seperti sebuah “adat istiadat” yang dipelihara demi keuntungan-keuntungan politik tertentu.

Tapi ada satu masalah yang sangat mengusik hati, terkait dengan pemberantasan para tertuduh teroris itu. Kalau kita lihat sikap tegas kepolisian atau Pemerintah, tidak sebanding dengan sikap-sikap mereka yang amat sangat DEFENSIF dalam kasus korupsi, khususnya skandal Bank Century.

Mari kita lihat masalahnya:

[=] Sampai saat ini pihak kepolisian belum secara giat menyelesaikan kasus hukum skandal Century, padahal desakan ke arah itu sangat kuat. Bahkan sejak lama sebelum ada hasil Sidang Paripurna DPR yang menghasilkan “Opsi C”, kepolisian sudah lama didesak untuk terjun ke kasus Century.

Lalu bandingkan dengan sikap tegas dan tanpa kompromi yang dilakukan aparat kepolisian, khususnya Densus88, ketika memberantas teroris. Disini tidak memerlukan waktu lama, kepolisian segera menurunkan tim-nya dan melakukan gerakan “sapu bersih”. Mengapa sikap “sapu bersih” itu tidak diterapkan dalam kasus-kasus korupsi, terutama skandal Bank Century? Ini sangat mengherankan.

[=] Presiden RI dalam pidatonya menanggapi hasil Paripurna DPR yang telah memutuskan “Opsi C”, dia jelas-jelas membela posisi dua pejabatnya yang sering disebut dalam Pansus Bank Century. Dalam pidato itu dia menceramahi rakyat Indonesia dengan prinsip “presumption of innocence” (azas praduga tak bersalah). Biarpun BPK sudah menjelaskan hasil audit, biarpun Pansus sudah memberi rekomendasi “Opsi C”, dia tetap saja membela bawahannya dengan alasan “praduga tak bersalah”.

Tetapi dalam kasus yang mereka klaim sebagai terorisme, mereka bersikap main sergap, tangkap, bunuh, tanpa memberi kesempatan pembelaan di depan hukum. Bahkan, kebanyakan sasaran Densus88 mati tertembak. Kejadian di Pamulangan itu, target sedang di Warnet tetapi ditembak mati juga. Mengapa ya kalau kepada koruptor atau pejabat-pejabat yang bersalah dalam kejahatan perbankan, tidak dilakukan tindakan “main sikat” seperti itu? Bukankah para tersangka eroris itu juga rakyat, memiliki hak-hak hukum, memiliki kedudukan yang sama untuk diperlakukan seacara adil di depan hukum?

[=] Ada sesuatu yang mengherankan dalam penegakan hukum di Indonesia ini. Dalam masalah-masalah korupsi, skandal, kejahatan perbankan, semuanya selalu menggunakan standar hukum normal, bahkan mungkin istimewa. Tetapi kalau dalam kasus terorisme, hukumnya hanya satu, yaitu “hukum Densus88”. Istilahnya seperti perkataan Rambo, “No one can stop me!”

Hal-hal demikian sangat jelas mencerminkan sikap tidak fair dalam menegakkan hukum. Hukum bersifat tebang pilih, terhadap siapa ia dilunakkan, dan terhadap siapa dikeraskan? Tergantung persepsi penguasa itu sendiri terhadap hukum yang ditegakkan.

Satu hal yang saya kagumi dari penampilan Jendral Polisi Bambang Hendarso Danuri. Setiap akan pidato selalu membaca “Bismillahiirrahmaanirrahiim”, “Assalamu’alaikum warahmatullah…”, “Alhamdulillah…”, dan sebagainya. Retorikanya kalem, tenang, sistematik. Tentu dengan wajah beliau yang memelas, tampak seperti orang saleh, cerdas, penuh empati, penuh bijaksana, dan seterusnya.

Tapi ya itu tadi, semua itu hanya penampilan saja. Kalau beliau ditanya, “Mengapa kepolisian tidak memperlakukan para koruptor sekeras Densus88 menyerang target-target terorisme? Bukankah korban akibat korupsi, skandal keuangan, kejahatan perbankan sangat hebat pengaruhnya dalam menyengsarakan ratusan juta rakyat Indonesia?” Kira-kira apa jawaban Jendral Polisi yang “tampak saleh” itu? …ya tanyakan saja kepada beliau!

AMW.


Logika Politik Munafik

Maret 8, 2010

Ada suatu kenyataan yang sangat disesalkan dari kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Banyak orang bersikap munafik, terutama elit-elit politik, birokrator, media-media massa, para pakar, dan lain-lain.

Dimana sisi kemunafikan itu dan bagaimana bentuknya? Seperti biasa, mari kita runut masalahnya. Mohon sabar mengikuti!

Harus jujur diakui, bahwa kehidupan ekonomi di Indonesia ini semakin lama semakin LIBERAL. Banyak orang menyebutnya sebagai madzhab NEOLIB. Bukti-bukti sistem ekonomi Liberal itu antara lain:

[=] Penandatanganan kesepakatan CAFTA (China ASEAN Free Trade Agreement). Ini jelas-jelas merupakan produk kebijakan liberalis.

[=] Sistem outsorcing dalam ketenagakerjaan. Sistem ini sangat menyengsarakan para pegawai/buruh. Kontribusi mereka selama bertahun-tahun di dunia kerja dipenjara oleh sistem kontrak. Kalau kontrak habis, diperbaharui lagi, dengan nilai kontribusi kerja di-nol-kan lagi.

[=] Otoritas Bank Indonesia yang menerapkan kebijakan “uang ketat”. BI menetapkan suku bunga tinggi, sehingga kalangan perbankan lebih suka menyimpan uang di BI untuk mengejar untung (bunga bank). Sementara, kredit untuk UKM amat sangat sulit diakses. Selain karena bunganya tinggi, juga karena birokrasi yang menyulitkan. Katanya, suku bunga BI saat ini sekitar 6 %. Itu terjadi setelah BI dan Pemerintah diserang habis-habisan dengan kasus Bank Century. Kalau tidak ada kasus Century, besar kemungkinan mereka tetap akan ngeyel dengan kebijakan “uang ketat”.

[=] Sistem kurs kita bersifat mengambang (floating), ditentukan oleh pasar. Padahal sebagai negara merdeka, kita bisa menempuh sistem yang lebih protektif untuk melindungi ekonomi nasional. Lho, apa artinya nilai kedaulatan, kalau mengatur sistem kurs saja kita tidak boleh mandiri? Semua harus dicocokkan dengan kepentingan IMF/Bank Dunia.

[=] BI dan Pemerintah banyak menyerap dana masyarakat dengan instrumen obligasi (SBI dan SUN). Obligasi ini sifatnya HUTANG, harus dikembalikan, bahkan harus dibayarkan bunganya. Katanya, setiap tahun negara harus menyediakan dana sekitar Rp. 60 triliun hanya untuk membayar bunga SBI atau SUN itu. Setelah lolos dari IMF, Pemerintah mengikatkan dirinya dengan jebakan hutang dalam bentuk lain, SBI dan SUN. Apa bedanya hal ini dengan hutang-hutang asing waktu itu?

[=] Kebijakan memotong aneka macam subsidi sosial untuk masyarakat. Harap dicatat, baru di jaman ini masyarakat kecil membeli minyak tanah seharga Rp. 8.000,- per liter. Atau hampir dua kali lipat harga bensin (premium). Banyak subsidi-subsidi yang mestinya diberikan negara kepada rakyatnya, tetapi kemudian dipangkas oleh otoritas moneter.

[=] Lihatlah betapa pesatnya serbuan bisnis asing di negeri kita! Luar biasa! Sangat dahsyat! Setahun lalu saat pulang ke Malang, saya belum mendengar ada Carefour disana. Baru-baru ini sanak-keluarga memberitahukan, secara tak sengaja, Carefour sudah menjadi pusat rekreasi belanja masyarakat Malang. Bukan hanya bidang retail, tetapi juga makanan, minuman, pakaian, komunikasi, otomotif, produk sandang, elektronik, dan sebagainya. [Menurut seorang TKI yang baru pulang dari Korea Selatan, katanya disana sangat sulit menjumpai mobil-mobil produk non Korea. Kebanyakan didominasi oleh KIA, Hyundai].

NEOLIB Merajalela

Banyak dan banyak fakta LIBERALISASI ekonomi yang telah melanda Indonesia ini. Sekedar sebagai catatan, baru-baru ini raja pialang valas dunia berdarah Yahudi, George Soros diterima secara terhormat di kantor Wakil Presiden. Apalagi agendanya kalau bukan investasi di Indonesia. Soros malah menyebut Indonesia jelas terpantau dalam radar investasi dunia. Fakta lain, pihak penguasa kerap mengklaim, bahwa Indonesia masuk dalam skema negara G20. Padahal sejujurnya, posisi Indonesia disana bukanlah sebagai pemain dominan, tetapi lebih sebagai “obyek pelengkap penderita”.

Bahkan pemberian bailout kepada Bank Century, hal itu mencerminkan sikap negara yang terlalu pro swasta, lalu mengabaikan hak-hak dunia usaha riil, UKM, yang selama ini kesusahan untuk mencari kredit perbankan.

Pertanyaannya: “Apakah sistem ekonomi Liberal ini tidak ada dampaknya bagi kehidupan masyarakat luas?

Ya jelas, amat sangat nyata dampaknya. Bayangkan saja, pemain bisnis UKM ingin dikompetisikan dengan jaringan bisnis internasional, seperti Coca Cola, Danone, Unilever, Carefour, Nestle, McDonald, Sony, Yamaha, Honda, Samsung, KIA, Nokia, dan seterusnya. Jelas tidak sebanding.

Dalam sistem Liberal, semua pemain bisnis bebas melakukan pertarungan pasar. Prinsipnya, “Siapa kuat, dia menang. Siapa lemah, dia hancur.” Ya, seperti itu. Sistem Liberal itu identik dengan sistem “Hukum Rimba”, tetapi dalam konteks persaingan bisnis.

Sangat tidak salah kalau saat ini di tengah masyarakat beredar ungkapan populer, “Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.” Ungkapan yang diadopsi dari lagu “Bang Haji” ini (halah…pake Bang Haji segala) makin dipercaya kebenarannya. Para investor kaya, konglomerat, industri-industri asing, waralaba internasional, dll. semakin kuat menancap dalam sistem ekonomi nasional. Sementara bisnis masyarakat kecil, pasar tradisional, kerajinan rakyat, UKM, dan seterusnya semakin tersisih.

Ya gimana Pak, masak kita akan mengadu gajah dengan kelinci? Sang kelinci jelas akan mati diinjak-injak gajah. Iya tho? Ini realitas yang amat sangat nyata dan sudah banyak berguguran korban dari sistem seperti ini.

Nah, Pemerintah selama ini jelas-jelas telah memerosokkan negara ke dalam pusaran sistem Liberal yang sangat menakutkan, dan sekaligus membahayakan masa depan rakyat Indonesia. Mungkin, bagi kalangan elit yang duitnya banyak, miliaran rupiah, mereka akan santai saja, sebab mampu eksis dalam kondisi ekonomi seperti apapun. Apalagi kalau kalangan elit itu ternyata selama ini menjadi agen, supervisor, makelar, jongos, atau centeng dari jaringan bisnis asing. Ya, mereka tentu bisa enak-enak saja meletakkan urusan “asap dapur” keluarga mereka di atas skema bisnis asing. Tetapi bagi masyarakat mayoritas, yang lemah, kurang informasi, kurang koneksi, kurang akses politik, kurang modal, dan seterusnya. Mereka jelas akan kelimpungan harus bersaing dengan Unilever, Sony, Nokia, McDonald, Yamaha, dan seterusnya.

Saya menyangka, negara kita ini nanti dalam ke depan, tidak akan semakin aman. Mengapa? Sebab saat ini ada fenomena “api dalam sekam“. Mengapa demikian? Sebab masyarakat dipaksa untuk diam saja, nurut, nerimo, patuh kepada Pemerintah, taat aturan hukum, dan seterusnya, tetapi secara riil kehidupan ekonomi mereka ditindas oleh bisnis asing dan kepentingan Liberal. Saya yakin, dalam beberapa waktu, masyarakat bisa nerimo kenyataan itu, karena tak berdaya. Tapi kalau ada momentumnya, segala amarah, kebencian, rasa ketertindasan yang berada di diri mereka, semua itu bisa meledak.

Kita harus sangat ingat karakter masyarakat kita! Orang Indonesia, kalau dalam soal perbedaan politik atau pendapat fiqih, mereka bisa berdamai, atau saling toleransi. Tetapi kalau sudah menyentuh masalah ekonomi, masalah “asap dapur” rumah-tangga, kesabaran mereka bisa meledak. Apalagi kalau sudah melihat anak-isterinya sengsara karena sistem yang ada. Buktinya, saat tahun 1998 masyarakat mendukung mahasiswa untuk menggulingkan Soeharto. Sebelum itu, sudah sering terjadi kerusuhan-kerusuhan berdarah dengan korban ribuan orang.

Nah, disinilah kita melihat betapa munafiknya para elit politik, penguasa, para pakar, media-media massa, dan sebagainya.

Mereka meminta supaya para mahasiswa jangan demo anarkhis, para pemuda jangan terlibat kerusuhan, para suporter bola harus tertib, para LSM jangan memprovokasi, dan sebagainya. Mereka berkoar-koar, “Kita ini bangsa beradab. Kita taat hukum. Mari berdemo dengan santun. Demokrasi tidak boleh liar. Demokrasi harus tetap taat hukum.” Dan sebagainya.

Tetapi di sisi lain…MEREKA MEMBIARKAN SISTEM EKONOMI LIBERAL MERAJALELA DI SELURUH INDONESIA. Nah, itu sisi KEMUNAFIKAN mereka. Rakyat kecil, generasi muda, para mahasiswa, UKM, koperasi, pasar tradisional, dll. dibiarkan berkompetisi bebas dengan jaringan bisnis internasional, tetapi mereka juga dipaksa menjadi warga yang sopan, santun, taat hukum, sabar, ikhlas, tawakkal, dan sebagainya.

Ini adalah KETIDAK-ADILAN yang nyata. Masyarakat Indonesia tidak boleh anarkhis, tidak boleh rusuh, tidak boleh konflik. Masyarakat harus menjadi warga yang baik, taat hukum, ikhlas, nerimo saja, tidak usah banyak menuntut, tidak usah ngomong politik, harus menerima takdir sebagai “bangsa tolol”. Masyarakat Indonesia harus menghormati orang asing yang cari makan di negeri ini, mereka harus sopan kepada orang asing, mendoakan orang asing, mendoakan anak-isteri orang asing agar sehat wal ‘afiat selalu, mendoakan bisnis asing supaya lancar di Indonesia. Masyarakat Indonesia harus menerima takdirnya sebagai “bangsa tolol” selama-lamanya.

Laa haula wa laa quwwata illa billah. Masya Allah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

Ya Rabbi ya Rahmaan, ampuni kami ya Rahmaan. Maafkan kami ya Allah. Maafkan para pemuda Muslim, maafkan para ulama kaum Muslimin. Maafkan ustadz-ustadz kami, guru-guru kami, anak-anak kami, sahabat-sahabat kami. Ya Allah, bagaimana kami harus menatap kehidupan ini? Jiwa kami adalah jiwa yang lembut, toleran, bersaudara, membuka tangan lebar-lebar kepada siapapun yang ingin berbuat baik. Tetapi bagaimana kami akan menatap masa depan ini? Dimana akan kami letakkan nasib anak-anak dan isteri kami? Apakah benar, bahwa bangsa Indonesia ini memang ditakdirkan menderita selama-lamanya? Benarkah itu ya Rabbi? Atau semua ini karena kesalahan kami sendiri?

Ya Allah, ampuni kami, maafkan kami, welas asihlah kepada kami. Tunjukkan jalan yang lurus, tunjukkan jalan petunjuk-Mu, tunjukkan arah yang Engkau ridhai. Amin Allahumma amin.

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.


“Berjihad” Demi Asing

Maret 4, 2010

Membela negara, membela masyarakat, membela kaum pribumi, membela tanah-air, membela rakyat kecil, membela masa depan anak-cucu, membela bangsa, dan lain-lain, tentu semua itu adalah KEBAIKAN. Sebagian orang menyebutnya sebagai PATRIOTISME. Kalau patriotisme diniati Lillahi Ta’ala, maka nilainya menjadi amal Jihad yang mulia.

Tetapi sangat lucu, kalau ada yang “berjihad” demi melayani kepentingan asing, yang tidak ada hubungannya dengan kepentingan rakyatnya sendiri. Orang asing yang berjiwa rakus, zhalim, semena-mena, hedonis, egois, dan seterusnya dibela; sementara rakyat sendiri yang terlantar, fakir-miskin berjuta-juta, pemuda-pemudi nganggur, kaum lemah, masyarakat marginal, dan seterusnya diabaikan. Rakyat lemah itu dianggap “sampah” yang membebani APBN, sehingga berbagai subsidi sosial yang seharusnya sudah wajar mereka terima, diamputasi dimana-mana.

Orang-orang asing tidak memiliki belas kasih, mereka tidak peduli dengan anak-anak dan isteri kita, mereka tidak peduli dengan keutuhan kita, persaudaraan, budaya konstruktif, martabat, serta posisi kita sebagai manusia yang mulia -selaku hamba Allah-. Mereka tidak peduli, sebab mereka datang selalu membawa missi kolonialisme, baik dulu atau sekarang. Hanya kemasannya saja berbeda, sedang esensinya sami mawon.

Kok bisa ya… ada yang berjihad mati-matian membela kepentingan asing, berjihad menipu rakyat sendiri, berjihad membiarkan pengerukan kekayaan nasional, berjihad merampas masa depan ekonomi, berjihad memperbesar beban hutang, berjihad menyelamatkan pejabat-pejabat kapitalistik, berjihad mengamankan bisnis asing, berjihad melindungi debitor-debitor penjarah harta negara, dan seterusnya. Kok bisa itu lho…

Kalau berjihad demi keadilan bagi masyarakat; berjihad demi kemuliaan martabat Ummat; berjihad demi kesejahteraan yang merata; berjihad menyelamatkan masa depan generasi; berjihad menyelamatkan lingkungan; berjihad memperbaiki moral publik; berjihad memuliakan kaum mustadh’afin, dan sebagainya yang semisal itu, ya dimaklumi. Tapi berjihad kok melayani kepentingan asing… Aneh.

Lihatlah hanya demi menyelamatkan dua pejabat tertentu, “JIHAD MAKSIMUM” digelar sejak berbulan-bulan, sampai menjelang “ketok palu”, sampai menjelang “voting”, bahkan sampai di ranah media. Banyak orang  menjelek-jelekkan wakil masyarakat yang sudah berjuang habis-habisan demi menuntut keadilan atas kasus bank tertentu. Namun semua itu semena-mena dicela. Katanya, “Wakil rakyat miskin etika. Tidak beradab. Memalukan! Memuakkan!” dan seterusnya. Tetapi kalau misalnya yang terpilih akhirnya “Vitamin A” (bukan Vitamin C), mereka pasti akan “berjihad” dengan cara lain, yaitu memuji-muji wakil masyarakat yang sukses memilih “Vitamin A” itu. Ya, di sekitar kita banyak dagelan yang mencla mencle.

Sungguh, sulit dimengerti. Kok ada manusia yang mau berjihad membela kepentingan kaum asing zhalim yang sudah terkenal kejahatan-kejahatan mereka kepada rakyat negeri ini? Kok bisa ya…

Kemungkinannya:

[1] Mereka hanyalah para “pencari kerja” belaka. Kebetulan basis profesinya di bidang itu. Kalau ada “majikan” lain yang bisa memberi gaji lebih baik, meskipun ide politiknya berbeda 180 derajat, ya akan mereka terima juga. Ya, ini sebenarnya domainnya Menteri Ketenaga Kerjaan.

[2] Mereka bagian dari gerakan kebatinan Freemasonry. Dulu perintis-perintis gerakan itu di Jawa, mereka bercita-cita ingin membangun Indonesia yang berbudaya Belanda. Raga pribumi, hati Belanda. Itu cita-cita ideologis. Sepertinya, sampai saat ini masih banyak penerus cita-cita seperti itu.

[3] Mereka bagian dari missi asing itu sendiri. Intinya, majikan mereka memang orang asing sono. Mereka digaji sebagai komprador (atau bahasa keren-nya, jongos). [Lho ada itu, seorang tokoh kandidat wakil presiden tertentu. Saat mencalonkan diri sebagai calon wakil presiden, dia masih tercatat sebagai anggota dewan eksekutif IMF. Ini nyata, tidak mengada-ada].

Ternyata, yang berjihad itu bukan hanya para pejuang di Irak, Afghanistan, Palestina, dan lainnya. Bukan hanya Diponegoro, Imam Bonjol, Jendral Soedriman, Bung Tomo, dan lainnya. Bukan hanya ormas Islam, jamaah dakwah, pesantren Islam, aktivis mahasiswa, media Islam dan seterusnya. Ternyata, yang berjuang untuk asing banyak juga.

Kedua arus itu NYATA dan ADA. Mereka memiliki kekuatan, ideologi, sekaligus memiliki sejarah masing-masing. Para pejuang Islam di masa lalu melahirkan anak-keturunan pejuang; sedang para pengkhianat masa lalu, juga melahirkan pengkhianat-pengkhianat juga. Tetapi ada kalanya juga, dari rahim pejuang Islam masa lalu, lahir keturunan pengkhianat; begitu pula dari rahim pengkhianat di masa lalu, lahir perjuang Islam. Ya Allah Ta’ala berbuat apapun yang dikehendaki-Nya.

Kalau mau merasakan HIDUP SEBENARNYA, jadilah para pejuang yang ikhlas menolong urusan-urusan Ummat Islam. Fokuslah dalam bidang ini, maka Allah akan menolongmu dengan segenap karunia dan rahmat-Nya. La yanshurullahu man yanshuruhu (Allah benar-benar akan menolong siapa yang menolong-Nya). Tolonglah Allah, maka engkau akan ditolong-Nya! Apapun profesi dan kedudukanmu, tolonglah Allah, maka engkau akan ditolong-Nya. Itu pasti dan mutlak!

Jangan pernah lelah dan menyesal meniti perjuangan. Maka Allah akan selalu sedia menyantunimu, saat engkau membutuhkan-Nya.

AMW.


Kisah Para “Pecundang”

Maret 2, 2010

Hidup itu tidak mudah. Kita berlomba menjadi manusia yang lurus, mulia, dan banyak kebaikan. Hal itu dilakukan bukan hanya setahun dua tahun, tetapi sepanjang hayat, sampai mati.

Kadangkala, ada rasa takjub melihat prestasi keshalihan orang-orang tertentu. “Wih, hebat sekali hafalan Al Qur’annya. Amboi, sangat meyakinkan kefasihan bahasa Arabnya. Masya Allah, mengagumkan ketekunan ibadahnya. Oh lihatlah, betapa konsistennya dia dengan Jihad Fi Sabilillah.” Kerap kita melontarkan kata-kata seperti ini. Tetapi hidup bukanlah “potongan-potongan gambar”. Hidup adalah deretan kejadian-kejadian panjang, sejak lahir sampai mati. Sebuah “potongan gambar” mungkin tampak sangat indah, namun belum tentu keseluruhan gambar itu senantiasa indah sampai sang pemilik gambar wafat. Belum tentu indah selalu, sampai akhir hayat.

Jujur, betapa hati kita sangat gembira saat melihat seseorang bertubat dari kesalahan dan kehidupananya yang buruk. Alhamdulillah syukur, ada hamba Allah yang bertaubat. Tetapi hati kita juga merasa ciut, ketika membayangkan, bahwa di balik taubat itu akan ada hari-hari panjang yang harus dihadapi. “Apakah akan terus konsisten dengan semangat taubat, sampai mati?” Inilah harapannya, harapan mulia kita kepada Allah Ta’ala. Amin ya Mujib.

Dalam konteks kehidupan keindonesiaan, kita menyaksikan betapa banyak fragmen-fragmen kehidupan yang menyedihkan hati. Banyak bunga-bunga mekar yang berguguran; banyak prestasi-prestasi mulia yang berganti bentuk menjadi aib-aib memalukan; banyak kisah-kisah kepahlawanan yang instan, menjadi pahlawan sebentar, kemudian konsisten sebagai bandit; banyak puji-pujian luhur di muka, kemudian menjadi caci-maki berkepanjangan di hari kemudian. Tentu kita sering mendengar ucapan, “Dasar munafik!” Ungkapan ini sering diucapkan, di berbagai kesempatan. Sembari yang mengucapkannya juga akan menjadi “munafik”, jika ada kesempatan. (Hanya karena tidak ada peluang saja, akhirnya sebagian orang tetap terjaga “tidak munafik”).

Layu sebelum berkembang...

Setahu saya, bangsa Indonesia itu tidak perlu memiliki pemimpin yang terlalu pintar, banyak teori, konseptor ulung, teknokrat sejati, dan seterusnya. Tidak perlu seideal itu. Cukuplah, bangsa ini dipimpin oleh orang yang BISA JUJUR terhadap dirinya sendiri. Cukup itu saja! Tidak usah kriteria fit and proper yang berliku-liku. Keahlian teknik itu bisa dibentuk, tetapi karakter kejujuran sulit dibangun. Ia lahir sebagai hasil jumlah dari sekian variabel-variabel kehidupan, sejak kecil sampai dewasa.

Kalau menyaksikan kenyataan selama ini, terlalu banyak orang pintar di kalangan elit bangsa. Hanya sayangnya, mereka pintar secara intelektual atau track akademik. Sedangkan moralitasnya buruk. Lihatlah, mereka pintar menipu rakyat kecil, pintar berkelit dengan bahasa diplomasi, pintar mengkhianati cinta anak-isteri, pintar memelintir dalil sebagai kendaaraan syahwat, pintar kolaborasi dengan media-media pembohong, dan lain-lain. Mencari pemimpin yang jujur dan konsisten, sangat sulit.

Kehidupan ini seperti arena ujian yang membentang panjang. Ada banyak titik persimpangan jalan di hadapan hati setiap manusia. Kadang kala, seseorang selalu mengikuti hati nuraninya untuk mengatakan YES terhadap pilihan-pilihan yang baik; dan mengatakan NO terhadap bad choice. Tetapi tidak sedikit yang sebaliknya. Hingga keshalihan, kejujuran, komitmen itu, akhirnya menjadi semacam “mimpi tak nyata”.

Mari kita buka sebagian catatan-catatan menarik…

Ada seorang pemuda. Dulu dia aktivis gerakan Sosio-Marxis. Tentu saja, dia sangat pro rakyat. Sehari-hari, hidupnya hanya berjuang demi rakyat belaka. Para petani, kaum buruh, nelayan, serta orang-orang tertindas. Tetapi kemudian sejarah berubah. Ada seorang pejabat tinggi negara yang simpati dengannya, lalu memberikan pemuda itu peluang menjadi orang kepercayaan sang pejabat. “Saudaraku, Anda selama ini sudah berjuang keras membela rakyat. Sampai Anda melupakan hak-hak anak isteri. Kalau mau, Anda menjadi staf ahli saya. Ini juga perjuangan untuk membela rakyat. Ayolah, ikut bersama kami! Ikut perahu besar kami. Insya Allah, nanti kebutuhan anak-isterimu kami jamin 100 %. Sudahlah, tak usah malu-malu. Tak usah sungkan. Besok datang ke kantor saya. Ada surat kontrak yang harus Anda tanda-tangani. Oh ya, ini ada sekedar uang saku untuk memperbaiki penampilan. Tolong, besok ke kantor dengan penampilan rapi ya! Oke, sampai ketemu besok! Salam perjuangan, demi rakyat!” Mungkin, konteks narasinya seperti itu. Kata-kata seperti itu sangat memukau hati pejuang pro rakyat. Tetapi ia tak boleh sama sekali terdengar oleh “rakyat tertindas” yang ada disana. No, no. Itu kata-kata rahasia.

Dulu pejuang pro rakyat, kini menjadi pejuang pro kekuasaan. Dulu selalu di sisi rakyat. Kini, selalu di sisi kekuasaan, di manapun ia berada. Dulu membodoh-bodohkan penguasa, kini membodoh-bodohkan rakyat. Dulu teriak-teriak, “Revolusi, revolusi, revolusi!” Kini beda lagi, “Mercy, Ferrari, Black Berry!”

Ada juga seorang politisi. Terkenal dengan rambutnya yang memutih. Mungkin, tadinya, setiap batang rambut itu menjadi “korban” kesibukan sang politisi dalam membela rakyat. Karena sibuknya memperjuangkan nasib rakyat, sampai rambutnya lebih cepat tua dari usianya. Anak-anak muda berbisik, “Dia suka dengan cat rambut warna putih. Sungguh unique!” Kiprah politisi ini sangat mengagumkan, sehingga setiap media massa akan terasa hambar, kalau sehari saja tidak memajang foto atau mengutip pernyataannya. Puncak sukses politiknya tercapai saat dia bersama politisi-politisi lain mampu menghentikan jabatan presiden tertentu di tengah jalan.

Anehnya, setelah dia menjadi seorang menteri, segalanya seakan berubah. Sikap kritis padam, pernyataan tegas mati, naluri pejuang pro rakyat tiba-tiba kempes, keberanian membela kebenaran menguap entah kemana, logika-logika publik yang menawan seperti berubah menjadi statement-statement menjengkelkan. Revolusi karakter, ya revolusi karakter; dari pejuang pro rakyat, menjadi priyayi yang klimis.

Hatta seorang raja biasa pun… mungkin tidak akan mengalami kemalangan seperti ini. Semangat keberpihakan kepada kebenaran, berganti baju seacara revolusioner menjadi semangat bersenang-senang dengan kekuasaan. Hingga, menjadi “budak politik” pun tak apa, asal tidak menderita, fakir-miskin, seperti orang kebanyakan. Bayangkan, begitu berubahnya karakter diri itu, sampai sekedar jabatan “ketua ikatan alumni” pun diambil juga.

Ada lagi yang lain. Masih soal elit politik, kebetulan rambutnya memutih juga. Lawyer kawakan, penentang Soeharto sejak era Orde Baru. Konon, disebut-sebut sebagai tokoh demokrasi nomor wahid. Sikap kritis tokoh satu ini tak diragukana lagi. Beberapa waktu lalu dia mengeluarkan pernyataan sangat mencengangkan, “Jangan takut sama S…” Sambil menunjuk inisial seorang pejabat presiden. Orang mendadak sangat kritis, sangat vokal dalam menyuarakan kebenaran. Itu terjadi, setelah dia tidak menjabat anggota dewan pertimbangan presiden lagi. Saat masih menjabat, suaranya tenggelam sama sekali. Mungkin, ketika itu dia sibuk membisiki pejabat presiden agar menangkapi orang-orang kritis tertentu. Ini sekadar dugaan ya. Ketika tidak mendapat jatah jabatan menjadi kritis; ketika sedang menjabat lupa dengan amanah rakyat. Jadi bagaimana ya…

Ada juga elit lain yang tidak kalah menariknya. Masyarakat menyebutnya sebagai “bapak reformasi”. Ya, begitulah. Atau, “lokomotif reformasi” bisa juga. Singkat kata, kemegahan sosok satu ini kemudian menjadi “standar kebenaran”. Siapa yang sesuai pemikirannya, dianggap Reformis; siapa yang tidak sesuai pemikirannya, dianggap pro status quo. Hebat kan? Iya lah. Wong, pemikirannya menjadi standar kebenaran.

Tetapi seiring perjalanan waktu, sang “komandan reformasi” mulai berliku-liku. Omongannya berganti-ganti. Kata orang Jawa, “Esok tempe, sore dele.” (Pagi ngomong tempe, sore ngomong kedelai). Tidak konsisten dengan ucapan-ucapannya. Sampai puncaknya, menjelang Pemilu Presiden 2009 lalu, dia meminta partainya koalisi dengan partai penguasa. Alasannya, “Kita harus realistik. Kita harus melihat siapa yang berpeluang paling besar memenangkan Pemilu.” Ya Ilahi ya Rabbi, begitu jauhnya konsistensi itu terjerumus, sampai ke dasar jurang terdalam. Padahal semula, tokoh satu ini menyerang keras pemimpin partai penguasa itu, sambil menunjukkan dokumen bukti aliran dana dari Washington ke partai penguasa itu.

Bahkan yang lebih menakjubkan, demi menyetir partainya agar mau kolaborasi dengan partai penguasa, dia membuat pertemuan sendiri dengan elit-elit partainya di Yogya, tanpa seijin pemimpin resmi partai itu sendiri. Allahu Akbar… Kalau nafsu kuasa sedang menggelegak, apapun akan dihadapi, tanpa sedikit pun rasa malu. Dan herannya, di kalangan komunitas Muslim pendukung tokoh itu, posisi dia terus dielu-elukan.

Termasuk juga, ada sosok ustadz tertentu yang sudah terkenal. Dai sangat terkenal sebagai ustadz kalangan tertentu, pernah menjadi komandan pejuang Islam tertentu. Kemana-mana dikenal sebagai “komandan lasykar”. Performance-nya sangat alim, dengan segala atribut keshalihan di dalamnya. Tadinya dikenal sebagai ustadz besar di negeri ini, di mata komunitas tertentu. Tetapi seiring waktu, lagi-lagi arah angin berubah.

Tidak segan-segan ustadz itu menyerang kalangan Islam tertentu sebagai teroris, bahkan biang teroris. Dia melecehkan perjuangan kaum pejuang Islam di masa lalu. Pernah membisiki penguasa agar melarang buku ini itu, sebab katanya menjadi inspirator terorisme. Dulu mencela fotografi dan kamera. Tetapi kemudian berkali-kali menjadi narasumber diskusi di TV, sesuatu yang dulu tak terbayangkan. Bahkan pernah ikut rombongan Umrah, diberangkatkan bersama rombongan majelis dzikir penguasa politik tertentu.

Hebatnya lagi. Tokoh tersebut bersama beberapa murid-muridnya, pernah menjadi “petugas sekuriti” untuk mengamankan aset-aset yang dipersengketakan, yang akan dieksekusi. Ini benar-benar terjadi. Malah “jurus” ustadz tersebut pernah mendarat di muka seorang direktur media Islam, sehingga kacamatanya jatuh, lalu pecah lensanya. Ustadz, tapi bisa juga “main jurus”. Menurut sebagian sumber, dalam konflik di Poso, tokoh satu ini pernah mendapat hadiah “tanda mata” (baca: bogeman) dari pejuang Islam Poso yang kesal dengan segala sikap sok tahunya.

Mungkin banyak kalau mau disebutkan satu per satu. Intinya, sikap tidak istiqamah, kepahlawanan yang berubah menjadi kepencundangan. Kebetulan, hal itu menimpa orang-orang elit yang menjadi panutan banyak orang.

Maka Islam mengajarkan kita sebuah doa, “Ihdinas shirathal mustaqim, shirathal ladzina an’amta ‘alaihim” (tunjukkan kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat). Maksudnya, kita memohon agar ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada’, dan para Shalihin. Inilah jalan istiqamah sampai akhir hayat.

Ya Allah ya Rahiim, anugerahkan kami husnul khatimah, jauhkan kami dari su’ul khatimah. Ya Allah istiqamahkan kami di jalan yang lurus, sampai akhir hayat kami. Allahumma amin ya Mujibas sa’ilin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

AMW.


Kebohongan Besar: Bailout Century Menyelamatkan Ekonomi Indonesia!

Maret 1, 2010

Dari pandangan akhir fraksi-fraksi dalam Pansus Bank Century, mayoritas menyatakan bailout Bank Century merupakan kebijakan yang melanggar UU dan kasus tersebut perlu dibawa ke ranah hukum. Tetapi pihak Pemerintah dan Partai Demokrat ngotot ingin membawa kesimpulan Pansus seperti yang mereka inginkan. Setidaknya, mereka ingin agar kesimpulan kasus bailout Bank Century sama seperti pandangan akhir fraksi Demokrat.

Para pembela bailout Bank Century seperti Sri Mulyani, Boediono, anggota Pansus  Demokrat (khususnya Ruhut Sitompul), Sutan Batoegana, Amir Syamsuddin, Deny Indrayana, Chatib Bisri, Ihsan Fauzi, Christianto Wibisono, dll. rata-rata memakai argumentasi yang sama. Mereka mengklaim, bailout Bank Century merupakan tindakan yang tepat untuk menyelamatkan Indonesia dari krisis ekonomi November 2008. Kalau tidak dilakukan bailout bisa terjadi kerusakan sistemik pada sistem perbankan nasional. Lebih jauh mereka mengklaim, bahwa kondisi ekonomi saat ini yang relatif aman dan terkendali, merupakan bukti keberhasilan dari kebijakan bailout Bank Century. Lagi pula, masih kata mereka, bailout Century tidak merugikan keuangan negara sedikit pun, malah menguntungkan.

Menurut para pakar, bailout Bank Century dan dampak sistemiknya terhadap sistem perrbankan Indonesia bersifat debatable. Penentang bailout Century telah panjang-lebar mengemukakan argumen mereka; sedang pembela bailout juga ngeyel dengan alasan-alasannya. Alasan yang sangat lucu disampaikan oleh Chatib Bisri di depan forum sidang Pansus. Dia menuduh para penentang bailout Century sebagai “pro Neolib” karena menentang kebijakan negara menyelamatkan Bank Century. [Kalau bank milik swasta, jumlah nasabah kecil, dan rusak karena dirusak oleh pemiliknya sendiri, negara disuruh ikut campur menyelamatkan bank semacam itu. Tetapi kalau paket subsidi untuk rakyat kecil, negara diminta “cuci tangan” agar tidak membebani anggaran. Inilah model pemikiran Neolib paling konyol].

Tercium aroma KEBOHONGAN SISTEMIK yang sangat tajam.

Sebenarnya, kalau kita melihat situasi ekonomi pada 3 tahun terakhir, termasuk ketika terjadi krisis keuangan global tahun 2008-2009, kita akan melihat bahwa klaim para pendukung bailout Bank Century itu mengada-ada. Mereka mendramatisasi sesuatu yang sebenarnya tidak serius dampaknya.

Mari kita buka kembali analisis kritis tentang koneksi antara bailout Bank Century dengan posisi Indonesia di tengah krisis keungan global.

[1] Kita harus sangat paham, bahwa posisi Bank Century dalam ranah perbankan nasional sangat kecil, hanya 0,5 % aset perbankan nasional. Bank ini mau diutak-atik seperti apapun, tidak akan bisa mengguncang sistem perbankan nasional. Kalau mau dipaksakan, bank 0,5 % bisa mengacaukan sistem perbankan nasional, itu berarti kontruksi sistem perbankan Indonesia amat sangat rapuh. Guncangan sekecil apapun bisa merusak bangunan sistem perbankan secara keseluruhan. Para pembela bailout harus menjawab pertanyaan ini, “Apakah sistem perbankan di Indonesia memang sangat rapuh?” Kalau mereka menjawab ya, para nasabah bank di seluruh Indonesia baru boleh merasa cemas. Jika struktur perbankan diklaim sangat rapuh, klaim seperti ini justru yang bisa merusak sistem perbankan. Lagi pula, jika konstruksi perbankan Indonesia memang rapuh, lalu apa saja kerja Bank Indonesia? Apakah mereka kerjanya hanya melamun atau main facebook?

[2] Ada dua kasus penutupan bank yang layak menjadi perbandingan. Pertama, penutupan Bank IFI tahun 2009. Jika Century diselamatkan, mengapa IFI dibiarkan sehingga mati? Kedua, penutupan Bank Indover. Alasan yang dipakai oleh Pemerintah untuk menutup Indover juga alasan “dampak sistemik”. Ternyata, setelah ditutup tidak terjadi masalah apa-apa. Kedua kasus ini merupakan contoh praktis, bahwa bailout Bank Century tidak bersifat fair.

[3] Katanya, bailout Bank Century dilakukan, demi menyelamatkan sistem perbankan nasional dari kehancuran akibat krisis global. Artinya, kebijakan bailout itu ditujukan demi kebaikan sistem ekonomi nasional. Jika demikian, mengapa sebelum melakukan bailout Bank Century, pihak Bank Indonesia, KSSK, Menteri Keuangan, LPS, dll. tidak konsultasi dulu dengan DPR? Padahal ketika akan menutup Indover, mereka melakukan konsultasi ke DPR. Andaikan masalah Century dampaknya hanya bagi bank itu sendiri, tidak masalah tanpa konsultasi. Tetapi jika dampaknya dianggap mengancam perekonomian nasional, jelas harus konsultasi. Untuk apa di DPR ada komisi tentang perekonomian, jika tidak dimanfaatkan? Disini tampak jelas ketidak-jujuran Sri Mulyani dkk. Mereka mengklaim menerapkan kebijakan demi ekonomi negara, tetapi tidak melibatkan DPR.

[4] Bailout Bank Century jelas merugikan uang negara. Dana LPS Rp. 6,7 triliun dikucurkan ke manajemen Bank Century yang sekarang menjadi Bank Mutiara itu. Kerugian ini bisa terjadi karena beberapa alasan: (i) LPS mengeluarkan uang negara 6,7 triliun, padahal uang sebesar itu bisa dipakai untuk tujuan-tujuan lain yang lebih bermanfaat. Sekurangnya, dana itu tetap berada di LPS sebagai dana cadangan untuk fungsi-fungsi insitusional LPS sendiri; (ii) Adanya kebocoran-kebocoran dalam pengelolaan dana 6,7 triliun, karena adanya transaksi-transaksi yang tidak sesuai dengan tujuan awal bailout itu sendiri; (iii) Dalam sistem keuangan modern, dianggap sebagai kerugian, ketika suatu dana dipakai dalam kurun waktu tertentu dengan tidak menghasilkan manfaat (benefit) apapun.

Misalnya, Bank Mutiara dimodali 6,7 triliun. Setelah beberapa tahun bank itu dijual ke investor dengan harga sama. Bahkan merupakan kecelakaan manajemen, jika ia dijual ke investor dengan harga lebih rendah dari 6,7 triliun. Logikanya, dana 6,7 triliun jika ditanamkan untuk suatu proyek investasi yang menguntungkan, akan mendatangkan keuntungan besar. Sementara jika ditanamkan di Bank Mutiara, sifatnya hanya “kerja bakti” selama bertahun-tahun. Tanya ke Sri Mulyani dkk., apakah mereka mengenal istilah “kerja bakti” keuangan?

[5] Para pembela bailout Bank Century selalu mengatakan, jika Bank Century tidak diambil-alih oleh LPS, tetap saja Pemerintah harus memberikan dana talangan kepada para nasabah Bank Century yang memiliki simpanan 2 milliar ke bawah. Kalau ditotal, talangan itu bisa mencapai 4 triliun rupiah. Tetapi masalahnya, para nasabah bank berhak mendapat dana talangan, jika kondisinya memenuhi syarat. Misalnya, kerusakan di Bank Century terjadi bukan karena kejahatan perbankan yang dilakukan oleh para pemiliknya. Jika setiap nasabah bank otomatis mendapat talangan, dalam kondisi apapun, maka instumen talangan dalam sistem perbankan bisa membuat bank-bank di Indonesia dijarah sesuka hati oleh para bandit-bandit perbankan. Dalam kasus Bank Century, sebelum LPS menjamin uang para nasabah, bank itu jelas harus diawasi secara ketat, agar tidak terjadi kejahatan perbankan. Dan Bank Indonesia pun sudah memasukkan Bank Century dalam regulasi pengawasan khusus. Lalu apa artinya “pengawasan khusus” itu sehingga Bank Century collapse, lalu negara disuruh menalanginya memakai uang LPS? Bank Indonesia serius mengawasi, atau hanya main-main saja, sambil buka-buka facebook? Kesalahan Bank Indonesia dalam mengawasi Bank Century jelas-jelas merupakan pelanggaran UU.

[6] Kebijakan bailout Bank Century sangat tidak tepat. Mengapa? Sebab sejak semula Bank Century itu sendiri sudah banyak masalah. Bahkan ia masuk pengawasan khusus Bank Indonesia. Di tubuh Bank Century terjadi kejahatan-kejahatan perbankan oleh pejabat atau pemilik bank tersebut. Sri Mulyani mengakui hal itu dalam konferensi pers pasca pandangan akhir fraksi-fraksi di Pansus. Robert Tantular sendiri diproses di pengadilan dan diganjar hukuman 5 tahun. Seharusnya negara menolong bank-bank lain yang bermasalah, tetapi tidak terjerumus kejahatan perbankan. Apalagi katanya, Bank Indonesia mengidentifikasi ada 23 bank yang berpotensi bermasalah. Seharusnya dana talangan diarahkan untuk membantu bank-bank tersebut. Atau jika tidak, negara lebih memprioritaskan membantu perusahaan-perusahaan atau usaha UKM yang terancam kolaps akibat krisis keuangan global. Ibaratnya, memberi modal kepada seorang sarjana yang menganggur, lebih baik daripada memberikan modal kepada preman yang terkenal kejahatannya. Pejabat-pejabat yang terlibat dalam bailout Bank Century bisa dianggap sebagai orang-orang sembrono yang menyerahkan uang negara kepada pihak-pihak yang seharusnya tidak perlu ditolong.

[7] Bailout bukanlah satu-satunya solusi yang bisa ditempuh. Jika Bank Century hancur karena dirampok pemiliknya sendiri (meminjam istilah JK), sehingga bank itu nyaris hancur. Sudah saja, ia dinyatakan bangkrut (pailit). Lalu negara melelang aset-aset bank itu, lalu hasilnya dikembalikan kepada para nasabah Bank Century. Ini adalah cara yang lebih ringan resikonya, daripada Pemerintah mengambil-alih pengelolaan bank itu melalui LPS. Atau jika tidak, biarlah Bank Century dijual kepada investor yang mau membeli, baik kalangan lokal atau asing. Tentu dijual sekaligus dengan beban hutang-hutangnya kepada nasabah. Jadi pihak yang diharapkan memberikan dana talangan adalah investor, bukan LPS. Atau penyelesaian Bank Century sepenuhnya dibawa ke ranah hukum. Bank itu dinyatakan pailit karena tindak kriminal pemiliknya. Lalu kepolisian menetapkan pelaku-pelaku kejahatan sebagai DPO, kemudian bekerjasama dengan Interpol untuk menyita aset-aset bank yang dilarikan ke luar negeri. Cara demikian meskipun harus berproses, tetapi lebih memberikan kepastian hukum, baik kepada nasabah Century maupun nasabah bank-bank lain. Daripada memaksakan diri mengurus Bank Mutiara selama bertahun-tahun, lalu dijual lagi ke investor.

[8] Bailout Bank Century seharusnya tidak dilakukan, dengan pertimbangan, bangsa Indonesia pernah memiliki sejarah kelam tragedi bailout yang kita kenal sebaga Mega Skandal BLBI itu. Setelah Tragedi BLBI yang merugikan negara sampai 500-600 triliun itu, seharusnya kejadian serupa tidak terulang lagi. Lha, kalau masyarakat biasa saja masih ingat skandal BLBI, masak ahli keuangan seperti Sri Mulyani, Boediono, dkk. tidak ingat?

[9] Sebenarnya, kasus bailout Bank Century tidak ada kaitannya dengan krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 2008 lalu. Kasus Century sudah muncul jauh-jauh hari sebelum terjadi krisis ekonomi. Begitu pula, selesai atau tidaknya kemelut di Bank Cetury, tidak memiliki dampak bagi perekonomian nasional. Harus dicatat dengan baik, masalah Bank Century bukanlah urusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Ya, karena bank itu kecil dan nasabahnya tidak banyak. Sebagai perbandingan, ketika Pemerintah SBY menaikkan harga BBM sampai ke level 100 % tahun 2005, kebijakan itu benar-benar sabgat memberatkan masyarakat luas. Bahkan mengancam sektor riil. Ini baru contoh kebijakan yang memiliki dampak sistemik bagi perekonomian nasional. Adapun, mati-hidupnya Bank Century, masyarakat tidak terlalu peduli. Bahkan banyak orang tidak tahu kalau di Indonesia ada Bank Century. Tetapi kalau misalnya ada kondisi sehingga BNI, BRI, Bank Mandiri, BCA, Danamon, Bank Muamalat, dkk. mengalami guncangan kolektif, kita layak khawatir, sebab posisi bank-bank ini sangat kuat di Indonesia.

[10] Penentu stabil-tidaknya ekonomi suatu bangsa banyak faktornya. Misalnya hasil produksi pangan, volume perdagangan, ekspor-impor, produksi manufaktur, nilai tukar rupiah, kestabilan cuaca, kestabilan kondisi politik, kualitas penegakan hukum, kualitas clean government, jumlah pasokan energi, kondisi infrastruktur bisnis, dan lain-lain. Adapun sistem perbankan hanya merupakan salah satu faktor penentu. Sistem perbankan bukan satu-satunya faktor kestabilan ekonomi nasional. Jika sistem perbankan hanya merupakan satu faktor, lalu dimana posisi Bank Century? Bank Century hanyalah satu unit perbankan nasional yang nilainya hanya 0,5 %. Bank ini tidak mungkin akan berpengaruh secara sistemik kepada perekonomian nasional. Sungguh, alasan dampak sistemik itu hanyalah kilah yang sangat dicari-cari. [Coba tanyakan kepada para pendukung bailout, “Apakah sistem perbankan merupakan satu-satunya faktor penentu dalam sistem perekonomian di Indonesia?” Ingat, sampai saat ini masih banyak masyarakat yang belum mengakses layanan bank].

[11] Indonesia selamat dari terpaan krisis global 2008-2009 bersama India dan China. Faktor-faktor apa yang membuat bangsa Indonesia selamat? Apakah karena kebijakan bailout Bank Century? Sangat menggelikan. Kita harus sadar, baik Indonesia, India, dan China, ketiganya memiliki kemiripan kondisi. Ketiga negara ini sama-sama negara dengan jumlah penduduk besar. Basis perekonomian ketiganya adalah sektor riil, bukan sektor finansial seperti di Amerika. Di 3 negara ini banyak bahan baku, produksi pangan lancar, upah buruh murah, dan sebagainya. Jadi, sangat tidak mungkin bailout Bank Century dikait-kaitkan dengan keselamatan ekonomi Indonesia dari terpaan krisis keuangan global. Bank Century itu terlalu kecil dalam kontruksi makro perekonomian Indonesia.

[12] Pertanyaan menarik, “Mengapa terjadi krisis global, sehingga dampaknya merembet ke Indonesia?” Hal ini harus dijawab secara jujur, untuk membuktikan apakah klaim Sri Mulyani Cs itu jujur atau penuh kebohongan. Krisis global terjadi karena krisis keuangan di Amerika. Itu terjadi karena perbankan di Amerika nyaris ambruk karena banyak dana bank macet di kredit-kredit perumahan (subprime mortgage). Ketika bank-bank Amerika terguncang, nilai tukar dollar merosot tajam. Imbasnya, kurs rupiah ikut merosot, karena selama ini bangsa kita menganut sistem moneter terbuka. Dollar Amerika rusak, rupiah ikut-ikutan rusak, meskipun tidak separah di Amerika. Kalau nilai tukar dollar membaik, otomatis nilai rupiah membaik juga. Kata kuncinya ialah nilai tukar dollar Amerika. Untuk menyelamatkan ekonominya, Pemerintah Amerika melakukan bailout senilai US$ 700 miliar (setara dengan 7000 triliun). Dengan kebijakan bailout ini, meskipun sangat menyalahi prinsip Kapitalisme Amerika, posisi dollar membaik kembali. Jadi bailout US$ 700 milliar inilah yang menyelamatkan ekonomi Amerika, lalu menyelamatkan ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Jadi, adalah SANGAT KONYOL kalau kestabilan ekonomi Indonesia tercapai karena Sri Mulyani Cs menerapkan bailout Bank Century. Ini klaim sangat bodoh! [Andaikan nilai tukar dollar Amerika terus memburuk, biarpun Pemerintah RI menerapkan kebijakan bailout kepada 100 bank nasional, belum tentu bisa menyelamatkan ekonomi nasional. Karena selama ini kita menganut sistem mata uang terbuka, floating rate].

[13] Perlu diingat juga, krisis yang menimpa Amerika tahun 2008-2009 membuat bangsa itu memborong minyak bumi dalam jumlah besar, untuk menjamin pasokan energi Amerika. Hal ini memicu melesatnya harga minyak dunia sampai ke level US$ 150 per barrel. Tetapi setelah Amerika terserang krisis keuangan akibat subprime mortgage, industri dan dunia usaha di Amerika pada ambruk. Konsekuensinya, mereka sangat mengurangi belanja minyak bumi. Akibatnya, harga minyak dunia turun drastis, sampai ke level US$ 40 per barrel. Naik dan turunnya harga minyak dunia sangat mempengaruhi harga BBM di Indonesia. Kalau harga naik, sebagai eksportir minyak kita mendapat untung (sampai disebut win fall). Kalau harga turun, sebagai importer minyak, kita merasa lega, karena harga murah. Fluktuasi harga minyak dunia sangat besar pengaruhnya bagi ekonomi Indonesia. Adapun kebijakan bailout Century sangat jauh dari itu. Bank Century hidup, masyarakat tidak merasakan manfaatnya; Bank Century mati, masyarakat juga kehilangan. Ada dan tidaknya Bank Century, tidak berpengaruh bagi hajat hidup orang banyak.

[14] Sri Mulyani beralasan, bailout Bank Century jangan dilihat dari ukuran bank itu, tetapi lihat pada efek transmisi kepanikan yang bisa membuat seluruh nasabah bank nasional menarik dananya dari perbankan nasional. Kritik atas teori ini: (a) Kalau titik-tolaknya adalah kepanikan sosial, berarti kita bicara masalah psikologi masyarakat. Jika demikian, berarti solusi atas kepanikan itu adalah langkah penerangan publik yang efektif, massif, dan menentramkan hati. Jadi, solusinya adalah tindakan HUMAS yang canggih. Toh, selama ini tindakan humas itu sangat sering dilakukan Pemerintah, terutama meenceritakan keberhasilan departemen-departemen menjelang Pemilu berlangsung. Solusi humas itu amat sangat murah dibandingkan kebijakan bailout; (b) Kepanikan biasanya adalah gejala yang berjalan sesaat, tidak terus-menerus. Jika demikian, seharusnya tindakan penyelamatan terhadap Bank Century juga dilakukan secara temporer. Tetapi realitasnya, sampai tahun 2009, dana LPS terus dikucurkan ke Bank Century, sehingga total bailout mencapai 6,7 triliun; (c) Andaikan Pemerintah sangat peduli dengan “kepanikan public”, seharusnya mereka menyelesaikan terlebih dulu kepanikan para nasabah Bank Century. Tetapi nyatanya, sampai saat ini masih banyak nasabah Bank Century yang dizhalimi oleh manajemen Bank Mutiara. Hal itu terbuka dalam rapat Pansus DPR bersama para nasabah Bank Century. Jadi, alasan Sri Mulyani itu hanyalah kilah yang dicari-cari saja. Seperti bunyi sebuah pernyataan, “Jika Bu Menteri tidak pintar membuat kilah, buat apa dia diangkat menjadi menteri?”

Maka dapat disimpulkan, kebijakan bailout Bank Century sama sekali tidak ada kaitannya dengan penyelamatan ekonomi nasional. Dari sisi manapun, tidak ada korelasi antara bailout Bank Century dengan kestabilan ekonomi nasional. Dengan atau tanpa Bank Century, jika kurs dollar Amerika dan harga minyak dunia terus gonjang-ganjing, maka perekonomian Indonesia akan ikut gonjang-ganjing.

Kasus Bank Century muncul di tengah problema krisis ekonomi nasional, akibat krisis global. Lalu para pejabat negara menjadikan krisis global sebagai alasan untuk mengucurkan dana 6,7 triliun ke Bank Century. Ini adalah bentuk kesalahan kebijakan, ketidak-jujuran dalam mengambil kebijakan, menolong manajemen bank yang pengelolanya berlaku kriminal, serta menjerumuskan uang negara dalam pusaran bisnis bank yang gambling (tidak menentu).

Pertanyaan terakhir, “Bagaimana mesti memperlakukan Boediono dan Sri Mulyani?” Kedua orang ini adalah pejabat tinggi negara dalam urusan ekonomi dan keuangan. Mereka sangat bertanggung-jawab di balik bailout Bank Century. Secara ekonomi teoritik dan pengalaman birokrasi, mereka mumpuni. Tetapi dalam kasus Bank Century, mereka sangat ceroboh dan tidak jujur. Bahkan lebih mengesalkan lagi kalau mendengar kilah-kilah mereka saat membela diri. Menurut audit BPK maupun suara mayoritas fraksi di Pansus terdapat pelanggaran UU dalam bailout Bank Century. Setidaknya, dalam tulisan ini tampak sebuah pelanggaran yang sangat serius, yaitu: KEBOHONGAN PUBLIK secara sistematik dan massif. Semoga skandal Bank Century ini bisa menjadi momentum besar bagi bangsa Indonesia untuk mengenangi kecerobohan dan ketidak-jujuran para pejabat dalam mengelola keuangan negara.

Mari terus berusaha membangun Indonesia yang lebih baik. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita keselamatan dan sejahtera, lahir-batin, di dunia dan Akhirat. Amin Allahumma amin.

AMW.