Logika Politik Munafik

Ada suatu kenyataan yang sangat disesalkan dari kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Banyak orang bersikap munafik, terutama elit-elit politik, birokrator, media-media massa, para pakar, dan lain-lain.

Dimana sisi kemunafikan itu dan bagaimana bentuknya? Seperti biasa, mari kita runut masalahnya. Mohon sabar mengikuti!

Harus jujur diakui, bahwa kehidupan ekonomi di Indonesia ini semakin lama semakin LIBERAL. Banyak orang menyebutnya sebagai madzhab NEOLIB. Bukti-bukti sistem ekonomi Liberal itu antara lain:

[=] Penandatanganan kesepakatan CAFTA (China ASEAN Free Trade Agreement). Ini jelas-jelas merupakan produk kebijakan liberalis.

[=] Sistem outsorcing dalam ketenagakerjaan. Sistem ini sangat menyengsarakan para pegawai/buruh. Kontribusi mereka selama bertahun-tahun di dunia kerja dipenjara oleh sistem kontrak. Kalau kontrak habis, diperbaharui lagi, dengan nilai kontribusi kerja di-nol-kan lagi.

[=] Otoritas Bank Indonesia yang menerapkan kebijakan “uang ketat”. BI menetapkan suku bunga tinggi, sehingga kalangan perbankan lebih suka menyimpan uang di BI untuk mengejar untung (bunga bank). Sementara, kredit untuk UKM amat sangat sulit diakses. Selain karena bunganya tinggi, juga karena birokrasi yang menyulitkan. Katanya, suku bunga BI saat ini sekitar 6 %. Itu terjadi setelah BI dan Pemerintah diserang habis-habisan dengan kasus Bank Century. Kalau tidak ada kasus Century, besar kemungkinan mereka tetap akan ngeyel dengan kebijakan “uang ketat”.

[=] Sistem kurs kita bersifat mengambang (floating), ditentukan oleh pasar. Padahal sebagai negara merdeka, kita bisa menempuh sistem yang lebih protektif untuk melindungi ekonomi nasional. Lho, apa artinya nilai kedaulatan, kalau mengatur sistem kurs saja kita tidak boleh mandiri? Semua harus dicocokkan dengan kepentingan IMF/Bank Dunia.

[=] BI dan Pemerintah banyak menyerap dana masyarakat dengan instrumen obligasi (SBI dan SUN). Obligasi ini sifatnya HUTANG, harus dikembalikan, bahkan harus dibayarkan bunganya. Katanya, setiap tahun negara harus menyediakan dana sekitar Rp. 60 triliun hanya untuk membayar bunga SBI atau SUN itu. Setelah lolos dari IMF, Pemerintah mengikatkan dirinya dengan jebakan hutang dalam bentuk lain, SBI dan SUN. Apa bedanya hal ini dengan hutang-hutang asing waktu itu?

[=] Kebijakan memotong aneka macam subsidi sosial untuk masyarakat. Harap dicatat, baru di jaman ini masyarakat kecil membeli minyak tanah seharga Rp. 8.000,- per liter. Atau hampir dua kali lipat harga bensin (premium). Banyak subsidi-subsidi yang mestinya diberikan negara kepada rakyatnya, tetapi kemudian dipangkas oleh otoritas moneter.

[=] Lihatlah betapa pesatnya serbuan bisnis asing di negeri kita! Luar biasa! Sangat dahsyat! Setahun lalu saat pulang ke Malang, saya belum mendengar ada Carefour disana. Baru-baru ini sanak-keluarga memberitahukan, secara tak sengaja, Carefour sudah menjadi pusat rekreasi belanja masyarakat Malang. Bukan hanya bidang retail, tetapi juga makanan, minuman, pakaian, komunikasi, otomotif, produk sandang, elektronik, dan sebagainya. [Menurut seorang TKI yang baru pulang dari Korea Selatan, katanya disana sangat sulit menjumpai mobil-mobil produk non Korea. Kebanyakan didominasi oleh KIA, Hyundai].

NEOLIB Merajalela

Banyak dan banyak fakta LIBERALISASI ekonomi yang telah melanda Indonesia ini. Sekedar sebagai catatan, baru-baru ini raja pialang valas dunia berdarah Yahudi, George Soros diterima secara terhormat di kantor Wakil Presiden. Apalagi agendanya kalau bukan investasi di Indonesia. Soros malah menyebut Indonesia jelas terpantau dalam radar investasi dunia. Fakta lain, pihak penguasa kerap mengklaim, bahwa Indonesia masuk dalam skema negara G20. Padahal sejujurnya, posisi Indonesia disana bukanlah sebagai pemain dominan, tetapi lebih sebagai “obyek pelengkap penderita”.

Bahkan pemberian bailout kepada Bank Century, hal itu mencerminkan sikap negara yang terlalu pro swasta, lalu mengabaikan hak-hak dunia usaha riil, UKM, yang selama ini kesusahan untuk mencari kredit perbankan.

Pertanyaannya: “Apakah sistem ekonomi Liberal ini tidak ada dampaknya bagi kehidupan masyarakat luas?

Ya jelas, amat sangat nyata dampaknya. Bayangkan saja, pemain bisnis UKM ingin dikompetisikan dengan jaringan bisnis internasional, seperti Coca Cola, Danone, Unilever, Carefour, Nestle, McDonald, Sony, Yamaha, Honda, Samsung, KIA, Nokia, dan seterusnya. Jelas tidak sebanding.

Dalam sistem Liberal, semua pemain bisnis bebas melakukan pertarungan pasar. Prinsipnya, “Siapa kuat, dia menang. Siapa lemah, dia hancur.” Ya, seperti itu. Sistem Liberal itu identik dengan sistem “Hukum Rimba”, tetapi dalam konteks persaingan bisnis.

Sangat tidak salah kalau saat ini di tengah masyarakat beredar ungkapan populer, “Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.” Ungkapan yang diadopsi dari lagu “Bang Haji” ini (halah…pake Bang Haji segala) makin dipercaya kebenarannya. Para investor kaya, konglomerat, industri-industri asing, waralaba internasional, dll. semakin kuat menancap dalam sistem ekonomi nasional. Sementara bisnis masyarakat kecil, pasar tradisional, kerajinan rakyat, UKM, dan seterusnya semakin tersisih.

Ya gimana Pak, masak kita akan mengadu gajah dengan kelinci? Sang kelinci jelas akan mati diinjak-injak gajah. Iya tho? Ini realitas yang amat sangat nyata dan sudah banyak berguguran korban dari sistem seperti ini.

Nah, Pemerintah selama ini jelas-jelas telah memerosokkan negara ke dalam pusaran sistem Liberal yang sangat menakutkan, dan sekaligus membahayakan masa depan rakyat Indonesia. Mungkin, bagi kalangan elit yang duitnya banyak, miliaran rupiah, mereka akan santai saja, sebab mampu eksis dalam kondisi ekonomi seperti apapun. Apalagi kalau kalangan elit itu ternyata selama ini menjadi agen, supervisor, makelar, jongos, atau centeng dari jaringan bisnis asing. Ya, mereka tentu bisa enak-enak saja meletakkan urusan “asap dapur” keluarga mereka di atas skema bisnis asing. Tetapi bagi masyarakat mayoritas, yang lemah, kurang informasi, kurang koneksi, kurang akses politik, kurang modal, dan seterusnya. Mereka jelas akan kelimpungan harus bersaing dengan Unilever, Sony, Nokia, McDonald, Yamaha, dan seterusnya.

Saya menyangka, negara kita ini nanti dalam ke depan, tidak akan semakin aman. Mengapa? Sebab saat ini ada fenomena “api dalam sekam“. Mengapa demikian? Sebab masyarakat dipaksa untuk diam saja, nurut, nerimo, patuh kepada Pemerintah, taat aturan hukum, dan seterusnya, tetapi secara riil kehidupan ekonomi mereka ditindas oleh bisnis asing dan kepentingan Liberal. Saya yakin, dalam beberapa waktu, masyarakat bisa nerimo kenyataan itu, karena tak berdaya. Tapi kalau ada momentumnya, segala amarah, kebencian, rasa ketertindasan yang berada di diri mereka, semua itu bisa meledak.

Kita harus sangat ingat karakter masyarakat kita! Orang Indonesia, kalau dalam soal perbedaan politik atau pendapat fiqih, mereka bisa berdamai, atau saling toleransi. Tetapi kalau sudah menyentuh masalah ekonomi, masalah “asap dapur” rumah-tangga, kesabaran mereka bisa meledak. Apalagi kalau sudah melihat anak-isterinya sengsara karena sistem yang ada. Buktinya, saat tahun 1998 masyarakat mendukung mahasiswa untuk menggulingkan Soeharto. Sebelum itu, sudah sering terjadi kerusuhan-kerusuhan berdarah dengan korban ribuan orang.

Nah, disinilah kita melihat betapa munafiknya para elit politik, penguasa, para pakar, media-media massa, dan sebagainya.

Mereka meminta supaya para mahasiswa jangan demo anarkhis, para pemuda jangan terlibat kerusuhan, para suporter bola harus tertib, para LSM jangan memprovokasi, dan sebagainya. Mereka berkoar-koar, “Kita ini bangsa beradab. Kita taat hukum. Mari berdemo dengan santun. Demokrasi tidak boleh liar. Demokrasi harus tetap taat hukum.” Dan sebagainya.

Tetapi di sisi lain…MEREKA MEMBIARKAN SISTEM EKONOMI LIBERAL MERAJALELA DI SELURUH INDONESIA. Nah, itu sisi KEMUNAFIKAN mereka. Rakyat kecil, generasi muda, para mahasiswa, UKM, koperasi, pasar tradisional, dll. dibiarkan berkompetisi bebas dengan jaringan bisnis internasional, tetapi mereka juga dipaksa menjadi warga yang sopan, santun, taat hukum, sabar, ikhlas, tawakkal, dan sebagainya.

Ini adalah KETIDAK-ADILAN yang nyata. Masyarakat Indonesia tidak boleh anarkhis, tidak boleh rusuh, tidak boleh konflik. Masyarakat harus menjadi warga yang baik, taat hukum, ikhlas, nerimo saja, tidak usah banyak menuntut, tidak usah ngomong politik, harus menerima takdir sebagai “bangsa tolol”. Masyarakat Indonesia harus menghormati orang asing yang cari makan di negeri ini, mereka harus sopan kepada orang asing, mendoakan orang asing, mendoakan anak-isteri orang asing agar sehat wal ‘afiat selalu, mendoakan bisnis asing supaya lancar di Indonesia. Masyarakat Indonesia harus menerima takdirnya sebagai “bangsa tolol” selama-lamanya.

Laa haula wa laa quwwata illa billah. Masya Allah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd.

Ya Rabbi ya Rahmaan, ampuni kami ya Rahmaan. Maafkan kami ya Allah. Maafkan para pemuda Muslim, maafkan para ulama kaum Muslimin. Maafkan ustadz-ustadz kami, guru-guru kami, anak-anak kami, sahabat-sahabat kami. Ya Allah, bagaimana kami harus menatap kehidupan ini? Jiwa kami adalah jiwa yang lembut, toleran, bersaudara, membuka tangan lebar-lebar kepada siapapun yang ingin berbuat baik. Tetapi bagaimana kami akan menatap masa depan ini? Dimana akan kami letakkan nasib anak-anak dan isteri kami? Apakah benar, bahwa bangsa Indonesia ini memang ditakdirkan menderita selama-lamanya? Benarkah itu ya Rabbi? Atau semua ini karena kesalahan kami sendiri?

Ya Allah, ampuni kami, maafkan kami, welas asihlah kepada kami. Tunjukkan jalan yang lurus, tunjukkan jalan petunjuk-Mu, tunjukkan arah yang Engkau ridhai. Amin Allahumma amin.

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan

2 Responses to Logika Politik Munafik

  1. Bryan berkata:

    Pak AMW,,, saya punya pendapat menarik nih,,,mohon dibaca trus diteliti dulu, ada gaK dalil yang jelas Mmbantah pendapat ini,, baru ntar dikasih pendapat menurut bapak,, komen ini gak usah dipublish aja karena gak ada hubungannya dengan tulisan ini,,,tapi dimuat di tulisan berikutinya,,,saya tunggu

    “Secanggih Apakah Teknologi Adam AS?

    04 Februari 2010 jam 16:39
    Assalamu’alaikum wr wb.

    Mari kita membahas tentang firman Allah SWT di bawah ini:

    (2:31) Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”

    (2:32) Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana .”

    (2:33) Allah berfirman: “Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini.” Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan ?”

    Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa Allah SWT mengajarkan secara langsung kepada Adam tentang benda-benda yang malaikat sekaliapun tidak mengetahuinya. Dari pernyataan tersebut kemudian timbul pertanyaan : secanggih apakah teknologi yang diketahu oleh Adam sehingga malaikat pun tidak diberi pengetahuan untuk itu? Benda-benda apakah yang Allah SWT maksud? Apakah hanya sekedar kursi? Apakah hanya sekedar meja? Apakah hanya sekedar rumah? Dsb. Teknologi yang dimiliki manusia modern saat ini saja sudah sedemikian canggih, padahal itu semua adalah hasil dari riset dan penelitian yang boleh dibilang belajar secara otodidak. Sedangkan Adam diajarkan secara langsung oleh Allah SWT tuhan semesta alam. Tidak bisa terbayangkan secanggih apa teknologi yang Allah SWT berikan kepada Adam.

    Apakah mungkin manusia zaman dulu mampu memiliki teknologi yang super canggih? Kita selama ini rupanya terlalu meremehkan kekuatan dan teknologi orang-orang masa lalu, padahal siapa tahu mereka justru lebih hebat dari teknologi yang kita punya sekarang. Masih ingat kaum Atlantis? Mereka sudah menemukan Reaktor Nuklir. Dan kemudian ini ada di Kitab Suci, baik Al Qur’an maupun Perjanjian Lama. Kita sekarang memiliki teknologi untuk menyimpan makanan sehingga tidak busuk, yaitu dengan dimasukkan ke dalam freezer. Tetapi zaman dahulu Nabi Yusuf telah menerapkan sistem yang bisa mengawetkan makanan sedemikian rupa, menyimpan makanan selama tujuh tahun tanpa membusuk saat musim paceklik. Pernahkah kita menyadari, teknologi apa yang beliau gunakan?

    Lalu apakah teknologi Adam ini ada hubungannya dengan Alien? Definisi alien itu apa? Apakah manusia yang berasal dari luar bumi? Kalau begitu: KITA SEBENARNYA JUGA ALIEN! Mau bukti? Tentu saja sesuai dengan kepercayaan kita di Kitab Suci, bahwa ketika bumi ini diciptakan, kita tidaklah langsung ada di bumi ini, tetapi kita kemudian ‘diturunkan’ ke bumi karena kesalahan yang dilakukan oleh nenek moyang kita, Adam dan Hawa yang mereka lakukan di surga, di ‘atas sana’. Jadi kita ini sebenarnya kayak Mister Bean, diturunkan dari atas dengan lampu sorot. Hehehhehhe…

    Alien itu adalah manusia bumi yang dari jaman dulu pergi ke luar angkasa. Hal ini bisa dibuktikan bahwa pada mayat alien yang diotopsi, mereka ternyata memiliki kesamaan fisiologis dengan manusia bumi. Mulai dari struktur DNA, satu kepala, satu tubuh, dua kaki, dua tangan. Hanya proporsinya saja yang berbeda. Maklum mereka bermutasi karena perbedaan lingkungan di kita dan di ‘atas sana’, seperti gravitasi dan lain-lain. Tapi mutasi manusia adalah sesuatu yang wajar, buktinya orang Afrika berbeda dengan orang Eropa, dan sebagainya ‘kan? (untuk teknologi Alien, nanti saya bahas di topik setelah ini).

    Sekarang pertanyaannya, jika Adam dan Hawa diturunkan dari surga ke bumi, betulkah mereka diturunkan ke bumi adalah ‘bumi’ yang kita huni selama ini? Atau jangan-jangan ‘bumi’ – ‘bumi’ lain di ‘atas sana’? Sebab dalam Kitab Suci Al Qur’an, perkataan bumi berarti ‘Ard , yang secara harfiah berarti segala tempat yang bisa dipijak. Bisa jadi Adam dan Hawa lah yang kemudian ‘terbang’ lagi hingga sampai ke bumi ini.

    Kalau teknologi Adam sedemikian canggih, kenapa tidak diwariskan kepada kita? Mari kita merujuk ke ayat ini :

    (2:30)Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

    Dengan teknologi yang dimiliki manusia sekarang ini saja bumi sudah sedemikian rusak, apalagi kalau Adam mewariskan teknologinya kepada kita mungkin bumi akan lebih cepat hancur.

    Hendaklah kita berfikir.

    Allahu’alam….”

    Nb: Tulisan ini saya ambil dari catatan fesbuk teman saya,,, jazzakallahu khairan

  2. abisyakir berkata:

    @ Bryan…

    Maaf, komentar Anda tetap saya publish. Ya, memang tidak ada koneksinya dengan tulisan “Logika Politik Munafik”. Mungkin lebih tepat masuk ke tulisan ini “Kiamat 2012 dan Misteri UFO“.

    Komentar saya atas tulisan Anda: “Ya, tentu kita tidak tahu sejauhmana ilmu yang Allah ajarkan kepada Adam As. Biarpun ilmu diajarkan Allah langsung, dan tidak diajarkan kepada Malaikat, ia tidak bisa menjadi alasan untuk menduga-duga, bahwa ilmu tersebut adalah teknologi canggih yang hebat. Misalnya, ilmu membuat piring terbang, membuat stasiun luar angkasa, membuat fasilitas telekomunikasi canggih, membuat radar, membuat piranti elektronik hebat, dll. Tidak bisa dilarikan kesana pemahamannya. Mengapa? Sebab pertumbuhan teknologi manusia itu berkembang seiring kemajuan sejarah manusia. Teknologi di masa Nabi Muhammad Saw berbeda dengan di masa Isa As, Musa As, dan Nabi-nabi sebelumnya. Begitu juga, teknologi di masa Nabi berbeda dengan masa-masa sesudah beliau wafat, apalagi dengan masa kita sekarang. Jadi, manusia tumbuh sesuai dinamika sejarahnya. Pada suatu saat nanti, teknologi-teknologi modern ini akan hilang lagi, berganti teknologi manual dan sihir. Sebab hal itu disesuaikan dengan masa-masa kedatangan Isa As nanti menjelang Hari Kiamat.”

    Sementara itu dulu. Mohon maaf kalau tidak berkenan.

    AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: