Pembunuhan Tokoh Hamas di Dubai

Beberapa waktu seorang tokoh militer Hamas, Mahmud Mabhuh, dibunuh agen-agen Mossad di Dubai. Pembunuhan ini dilakukan dengan operasi intelijen yang rapi dan sistematik. Termasuk dengan modus pemalsuan paspor dan pengecohan aparat keamanan Dubai.

Ada sebuah hikmah besar yang ingin disampaikan disini. Bukan soal kecanggihan operasi Mossad, bukan soal teledornya aparat keamanan di Dubai, bukan soal missi yang dibawa tokoh Hamas itu, dll. Intinya, jauh dari pembicaraan publik dunia selama ini seputar kematian Mahmud Mabhuh tersebut. Ini kaitannya dengan kita sendiri, sebagai bangsa Indonesia.

Coba perhatikan dengan cermat, secermat-cermatnya! Banyak tokoh-tokoh Hamas (perlawanan Islam) yang dibunuh oleh tentara Israel atau Mosad. Baik dibunuh karena tembakan bom/roket, ditembak mati, dihukum dipenjara, diracun, dan sebagainya. Kita masih ingat almarhum Yahya Ayasy, Imad Aql, Abdul Aziz Rantisi, Syaikh Ahmad Yasin, Fathi Syaqaqi, Syuhada ‘Ein Hilweh, dll. Kepala Biro Politik Hamas, Khalid Misy’al pernah akan dibunuh dengan suntikan beracun di Yordania, tetapi operasi Mosad ini gagal total. Bahkan agen Mosad berhasil ditangkap, lalu dibarter dengan penawar racun yang telah merasuk ke tubuh Misy’al.

Coba perhatikan, rata-rata target yang dibunuh Israel (Mosad) adalah tokoh-tokoh militer, pakar senjata, ahli perang, komandan pasukan, dan lain-lain. Rata-rata target selalu memiliki koneksi sangat kuat dengan dunia militer.

Adapun kalau tokoh-tokoh yang tidak berhubungan dengan militer, atau Israel tidak menemukan indikasi keterlibatan orang itu dalam operasi-operasi militer, biarpun tokoh tersebut sekritis apapun kepada Israel, mereka rata-rata aman. Israel hanya membidik target-target potensial yang berhubungan dengan militer. Adapun kalau kalangan kitikus yang “ngomong doang” tidak terlalu dihiraukan oleh Israel.

Oleh karena itu, Anda pasti merasa heran dengan melihat kritisnya tokoh-tokoh di Indonesia dalam mengecam perilaku brutal Zionis Israel. Tetapi mereka lempeng-lempeng saja, tidak ada resiko. Begitu pula, segala macam studi kritis tentang Freemasonry, akhir-akhir ini seperti membanjir, baik lewat buku, majalah, atau internet. Tetapi kalangan Freemasonry sendiri seperti tidak peduli. Mereka tidak cemas. Seperti sebuah ungkapan, everything must go on.

Mungkin pertanyaannya, mengapa hanya bidang MILITER yang menjadi perhatian? Mengapa bidang-bidang lain kurang menjadi perhatian? Bahkan, andai Israel menjumpai seorang teknolog Palestina, selama teknolog itu tidak berhubungan dengan senjata, atau tidak difungsikan untuk senjata, mereka tidak terlalu peduli. Contoh, seperti teknologi bedah, sipil bangunan, pertanian, transportasi, dll. yang tidak digunakan untuk senjata; para ahli Palestina di bidang itu tidak terlalu dihiraukan.

Intinya, keahlian seputar militer, strategi perang, senjata, dll. termasuk dalam kategori perkara “multiple effect”. Ia seperti sebuah pintu yang membuka berbagai pintu-pintu lainnya. Kalau Hamas memiliki kekuatan senjata, memiliki pasukan dengan disiplin prajurit tempur, apalagi sampai memiliki satuan intelijen sendiri, itu sama saja dengan kenyataan bahwa Hamas memiliki kekuasaan politik dan wilayah. Persis seperti Hizbullah di Libanon yang menguasai senjata, amunisi, dan memiliki banyak prajurit. Dengan kekuatan ini, sulit bagi Israel untuk merebut kembali Libanon Selatan.

Dalam konteks ini, dapat dimengerti jika negara-negara Barat sangat takut, ketika ada negara Muslim yang ingin membuat instalasi nuklir, seperti Irak, Pakistan, Libya, Indonesia, dan lainnya. Meskipun dalihnya, nuklir untuk perdamaian, bukan untuk senjata. Selain instalasi nuklir itu bisa dipakai untuk “menakut-nakuti” negara lain, ia juga berpotensi mendukung pengembangan senjata secara umum.

Kalau membaca sejarah Indonesia, ada satu fakta yang sangat sering dilupakan. Sejarawan Taufik Abdullah, Anhar Gongong, Asvi Warman, dll. dalam analisis-analisisnya pasti sering melupakan fakta ini. Ia adalah fakta tentang PETA (Pembela Tanah Air) dan pasukan-pasukan cadangan yang dibentuk Jepang seperti Heiho, Keybodan, Seinendan, dll. PETA dibentuk oleh Jepang, sebagai pasukan cadangan yang direkrut dari pemuda-pemuda pribumi, dalam rangka membela kepentingan militer Jepang. Pada mulanya seperti itu. Para pemuda pribumi disana diajarkan senam militer, baris-berbaris, kedisiplinan, menguasai senjata, kedisiplinan, dll. Maksud Jepang mempersiapkan pasukan untuk membela missi kolonialismenya menghadapi Perang Dunia melawan Blok Sekutu. Tetapi pasukan itu kemudian berbalik menjadi kekuatan militer yang menuntut Kemerdekaan.

Andaikan rakyat Indonesia waktu itu bergantung kepada tokoh-tokoh nasional hasil didikan Belanda, yang pintar otaknya, tapi tidak memiliki keahlian militer, dijamin bangsa ini tidak akan merdeka-merdeka. Untuk membedakannya sangat mudah. Lihatlah sosok Ir. Soekarno dan Jendral Soedirman. Keduanya mewakili pribadi yang sangat berbeda. Pak Dirman dilahirkan dari kultur tentara rakyat (militer), sementara Soekarno dari kalangan priyayi yang sangat terpengaruh pemikiran-pemikiran Barat (Belanda). Pak Dirman merupakan sosok anti perdamaian dengan Belanda, sedang Soekarno sangat senang berdamai, meskipun terus-menerus ditipu oleh trik-trik diplomasi Belanda. Perundingan KMB yang sebenarnya melecehkan Indonesia itu, juga merupakan hasil “ijtihad politik” Soekarno.

Bangsa Indonesia kalau mengikuti gaya pemikiran tokoh-tokoh didikan Belanda seperti Dr. Soetomo, Dr. Wahidin Soedirohoesodo, Ki Hajar Dewantoro, Setiabudhi, dan sejenisnya, pasti tidak akan memiliki kebanggaan sebagai bangsa berdaulat penuh. Hanya karena kita memiliki tokoh-tokoh berlatar-belakang militer (combatan), seperti Pak Dirman, Bung Tomo, eks PETA, Hizbullah, Fi Sabilillah, dll. maka kita diberi jalan menuju kemerdekaan. Ini fakta yang sering dilupakan. Andaikan Jepang tidak membentuk pasukan cadangan, lalu mendidik pemuda-pemuda Indonesia dengan segala keahlian militer, entah kapan bangsa kita akan merdeka. (Dan uniknya, kita tidak perlu terlalu berterimakasih kepada Jepang, sebab mereka sendiri memiliki tujuan politik di balik pelatihan-pelatihan militer yang mereka lakukan, yaitu untuk mengekalkan dominasi kolonialisnya di Indonesia).

Bangsa manapun yang kehilangan nyali militernya, dia akan lemah. Maka itu di negara-negara maju selalu ada instrumen WAJIB MILITER. Seperti di Indonesia, ketika wajib militer tidak ada, ketika urusan pertahanan murni diserahkan kepada TNI, lalu rakyat dibombardir budaya hedonistik; maka penjaga-penjaga kedaulatan negeri ini menjadi semakin lemah. Siapa yang diandalkan bangsa Indonesia sekarang? Paling hanya TNI. Sementara TNI sendiri saat ini berada dalam kondisi yang lemah, tidak seperti dulu.

Ada kesalahan berpikir yang komplek pada pengambil kebijakan politik di Indonesia. Mereka secara sistematik menjauhkan masyarakat luas dari akses kemiliteran, lalu memastikan bahwa hanya TNI/Polri saja yang berhak memikul masalah itu. Dulu istilahnya ABRI, Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Maka karena TNI sudah memegang monopoli, rakyat kita menjadi lemah, segala masalah kemiliteran diserahkan urusannya kepada TNI. Pada saat yang sama, manajemen organisasi TNI kerap ditunggangi niat-niat buruk, di luar konteks menjaga kedaulatan bangsa. Misalnya, TNI dipakai untuk tujuan politik, untuk mengamankan kepentingan bisnis, untuk jenjang pejabat publik, dll. Maka tidak heran terjadi aneka kesewenang-wenangan. Ada kalanya kalangan militer menjadi backing perusahaan, melindungi perjudian, backing diskotik, dll. Ini jelas salah arah.

Betapa susahnya bangsa Indonesia berjuang untuk merdeka. Nah, setelah merdeka, kedaulatan kita harus dijaga sebaik-baiknya. Dijaga dengan kecanggihan politik, juga dengan kekuatan militer. Baiklah, TNI diberi tugas resmi sebagai pengemban amanah menjaga kedaulatan itu. Tetapi akses atau minat kemiliteran jangan dijauhkan dari masyarakat luas, sebab mereka adalah KEKUATAN CADANGAN yang sangat potensial. Yakinlah, kalau masyarakat memiliki mental sebagai prajurit, meskipun tidak pernah terjun dalam peperangan, mereka akan jauh lebih mampu menjaga KEDAULATAN bangsanya. Orang-orang asing akan berpikir seribu kali untuk menjajah kita, dalam segala bentuk dan modusnya. Tetapi dengan keadaan seperti saat ini, kedaulatan Indonesia adalah sesuatu yang lama-lama akan hilang dari kehidupan kita. [Ingat sekali lagi, perkara militer itu “multiple effect“].

Tetapi kalau kita bicara seperti ini, nanti agen-agen Liberal mulutnya pada nyolot. Mereka biasanya akan mengoceh, “Itu militerisme. Itu anti demokrasi. Itu sih menjurus ke sistem totaliter. Itu berpotensi melanggar HAM.” Ya, masalahnya, mereka tidak memiliki solusi untuk menjaga kedaulatan bangsanya. Kaum Liberal itu persis seperti Dr. Soetomo, Setiabudhi, Ki Hajar Dewantoro, dll. di masa lalu. Sama-sama berpikir pro asing.

Dalam perang modern, sebenarnya peperangan bukan hanya terjadi dalam konteks kontak senjata. Area perang bisa terjadi dalam bidang politik, ekonomi, budaya, informasi, opini media, dan sebagainya. Tetapi tetap saja, kata kuncinya, adalah kekuatan militer. Amerika Serikat membuang uang puluhan miliar dollar untuk memerangi terorisme di dunia. Sepintas lalu, Amerika seperti membawa missi luhur memerangi biang kerok keonaran dunia. Padahal sejatinya, target utama mereka adalah mematikan potensi kekuatan militer negara-negara yang menjadi sasaran perang anti teroris yang mereka gelar.

Pembunuhan tokoh militer Hamas bagi Israel, merupakan satu langkah strategis untuk mengeliminir kekuatan dan pengaruh politik Hamas di Palestina. Selama Hamas masih memiliki kekuatan militer, selama itu kekuasaan ada bersamanya. Maka Al Qur’an menyebut hal ini dengan istilah “al hadid” (kekuatan besi). Agar kita belajar, bahwa agama itu senantiasa dijaga dengan ilmu para ulama dan pedang para penguasa.

Wallahu A’lam bisshawaab.

Iklan

3 Responses to Pembunuhan Tokoh Hamas di Dubai

  1. Ana Jiddan berkata:

    Ya, setelah baca tulisan antum saya baru ngeh mengapa dalam Islam kita diperintahkan untuk i’dad (QS.Al-Anfal:60) dan memerintahkan anak-anak untuk belajar berkuda,memanah,dan berenang yang merupakan basic latihan militer.

    Ustadz,Afwan Jiddan Banget selama ini ana menghilang,karena ada beberapa kesibukan dan kondisi fisik yang kmrn sempat terganggu,InsyaAllah dalam waktu dekat ini ana akan usahakan untuk bertemu antum,sekali lagi ana mohon maaf sekiranya ana tidak memenuhi amanah antum…

  2. fery berkata:

    Betul, Ustadz. Ana sepakat dengan antum. Ilmu para ulama dan pedang para penguasa ini yang kita butuhkan.

  3. Salvador berkata:

    I’ve read several excellent stuff here. Definitely price bookmarking for revisiting.
    I wonder how so much attempt you set to make one of these magnificent informative web site.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: