Terkulai Lemah

Saat kapan manusia bisa merasakan nikmat?” Jawabnya paling mudah: Saat kita kehilangan kenikmatan itu.

Beberapa hari terakhir saya mengalami flu berat. Bersin-bersin, keluar ingus banyak, batuk, badan lemas, dan sebagainya. Alhamdulillah, saat ini sudah mulai membaik. Ketika mengalami sakit seperti ini, rasanya seperti terhempas. Kalau biasanya banyak aktivitas dilakukan, akhirnya seperti mobil yang berhenti mendadak. Ya, saat-saat sakit merupakan momen yang paling indah untuk memahami makna sehat.

Selepas bedah buku di Jakarta, kondisi masih baik-baik. Tetapi setelah beberapa kali kehujanan sore, sambil mengendarai motor, fisik benar-benar drop. Ketika periksa ke dokter, dia memberi titik perhatian pada masalah STAMINA yang tidak menunjang. Satu sisi, fisik diforsir, sementara penyeimbang fisik itu (berupa nutrisi, istirahat, dan lainnya kurang). Akhirnya, tubuh kalah oleh potensi virus atau bakteri yang sudah ada dalam tubuh.

Intinya, tubuh manusia memiliki INNER MEDICINE (obat alami), yaitu IMUNITAS. Imunitas ini berfungsi menjaga kestabilan tubuh kita. Maka Anda mendapati, kadang seseorang bisa sembuh dari sakit, tanpa terapi pengobatan apapun. Ia sembuh, dengan tubuhnya sendiri.

Tetapi bagaimanapun, status imunitas tubuh kita, penyakit yang ada (potensial dalam diri), gaya hidup, dan sebagainya; semua itu sangat bergantung kepada nikmat SEHAT yang Allah tetapkan bagi setiap manusia. Imunitas, nutrisi, obat, dll. tadi hanya sebatas sarana saja. Adapun intinya adalah nikmat sehat ini. Inilah yang kita syukuri. Sebab banyak terjadi, seseorang sakit atau sembuh, tanpa bisa dijelaskan alur logisnya dengan metode-metode kesehatan.

Para dokter hanya memikirkan teknik pengobatan, mereka tidak bisa memberikan kesehatan itu sendiri. Pernah terjadi, ada kenalan isteri. Suami kenalan itu dokter spesialis tulang. Suatu saat dia mengalami flu tulang. Berbagai cara medis ditempuh, tetapi masih belum didapati kesembuhan. Akhirnya, dia dirawat di sebuah RS di Singapura dengan biaya perawatan miliaran rupiah. Itu pun tidak sembuh juga. Bahkan sang pasien itu akhirnya wafat. Nah inilah, faktor medis hanya sarana saja. Intinya tetap nikmat sehat dari Allah Ta’ala.

Andai para dokter bisa menjamin kesehatan manusia, tentu semua jenis pengobatan akan berhasil sempurna, setiap yang sakit dijamin sembuh, bahkan bisa jadi, tidak akan ada orang wafat di rumah-rumah sakit. Iya gak, man?

Ya sudah, mari kita berdoa dengan rasa syukur: Bismillahi Rabban naasi, adzhibil ba’sa, isyfi Anta Syafi laa syifa’a illa syifa’uka, syifa’an laa yughadiru saqama.

Dan terakhir, satu ungkapan yang perlu saya sampaikan. “Momentum terindah dalam kehidupan, adalah menikmati masa-masa peralihan ke arah kemajuan.”

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin ‘ala kulli shihhatin wal ‘afiyah.

AMW.

Iklan

3 Responses to Terkulai Lemah

  1. waluyo ahadin berkata:

    semoga di beri kesembuhan,…rindu akan tulisan tulisannya,…

  2. abisyakir berkata:

    @ Waluyo Ahadin…

    Amin Allahumma amin. Syukran atas doanya. Jazakumullah khair.

    AMW.

  3. disease berkata:

    Benar, kita baru sadar akan kenikmatan kesehatan bila kita telah jatuh sakit…bersyukurlah selagi kita menikmati sehat…jaga kesehatan dan perbanyak sedekah bisa membuat kita tetap sehat.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: