“Berjihad” Demi Asing

Maret 4, 2010

Membela negara, membela masyarakat, membela kaum pribumi, membela tanah-air, membela rakyat kecil, membela masa depan anak-cucu, membela bangsa, dan lain-lain, tentu semua itu adalah KEBAIKAN. Sebagian orang menyebutnya sebagai PATRIOTISME. Kalau patriotisme diniati Lillahi Ta’ala, maka nilainya menjadi amal Jihad yang mulia.

Tetapi sangat lucu, kalau ada yang “berjihad” demi melayani kepentingan asing, yang tidak ada hubungannya dengan kepentingan rakyatnya sendiri. Orang asing yang berjiwa rakus, zhalim, semena-mena, hedonis, egois, dan seterusnya dibela; sementara rakyat sendiri yang terlantar, fakir-miskin berjuta-juta, pemuda-pemudi nganggur, kaum lemah, masyarakat marginal, dan seterusnya diabaikan. Rakyat lemah itu dianggap “sampah” yang membebani APBN, sehingga berbagai subsidi sosial yang seharusnya sudah wajar mereka terima, diamputasi dimana-mana.

Orang-orang asing tidak memiliki belas kasih, mereka tidak peduli dengan anak-anak dan isteri kita, mereka tidak peduli dengan keutuhan kita, persaudaraan, budaya konstruktif, martabat, serta posisi kita sebagai manusia yang mulia -selaku hamba Allah-. Mereka tidak peduli, sebab mereka datang selalu membawa missi kolonialisme, baik dulu atau sekarang. Hanya kemasannya saja berbeda, sedang esensinya sami mawon.

Kok bisa ya… ada yang berjihad mati-matian membela kepentingan asing, berjihad menipu rakyat sendiri, berjihad membiarkan pengerukan kekayaan nasional, berjihad merampas masa depan ekonomi, berjihad memperbesar beban hutang, berjihad menyelamatkan pejabat-pejabat kapitalistik, berjihad mengamankan bisnis asing, berjihad melindungi debitor-debitor penjarah harta negara, dan seterusnya. Kok bisa itu lho…

Kalau berjihad demi keadilan bagi masyarakat; berjihad demi kemuliaan martabat Ummat; berjihad demi kesejahteraan yang merata; berjihad menyelamatkan masa depan generasi; berjihad menyelamatkan lingkungan; berjihad memperbaiki moral publik; berjihad memuliakan kaum mustadh’afin, dan sebagainya yang semisal itu, ya dimaklumi. Tapi berjihad kok melayani kepentingan asing… Aneh.

Lihatlah hanya demi menyelamatkan dua pejabat tertentu, “JIHAD MAKSIMUM” digelar sejak berbulan-bulan, sampai menjelang “ketok palu”, sampai menjelang “voting”, bahkan sampai di ranah media. Banyak orang  menjelek-jelekkan wakil masyarakat yang sudah berjuang habis-habisan demi menuntut keadilan atas kasus bank tertentu. Namun semua itu semena-mena dicela. Katanya, “Wakil rakyat miskin etika. Tidak beradab. Memalukan! Memuakkan!” dan seterusnya. Tetapi kalau misalnya yang terpilih akhirnya “Vitamin A” (bukan Vitamin C), mereka pasti akan “berjihad” dengan cara lain, yaitu memuji-muji wakil masyarakat yang sukses memilih “Vitamin A” itu. Ya, di sekitar kita banyak dagelan yang mencla mencle.

Sungguh, sulit dimengerti. Kok ada manusia yang mau berjihad membela kepentingan kaum asing zhalim yang sudah terkenal kejahatan-kejahatan mereka kepada rakyat negeri ini? Kok bisa ya…

Kemungkinannya:

[1] Mereka hanyalah para “pencari kerja” belaka. Kebetulan basis profesinya di bidang itu. Kalau ada “majikan” lain yang bisa memberi gaji lebih baik, meskipun ide politiknya berbeda 180 derajat, ya akan mereka terima juga. Ya, ini sebenarnya domainnya Menteri Ketenaga Kerjaan.

[2] Mereka bagian dari gerakan kebatinan Freemasonry. Dulu perintis-perintis gerakan itu di Jawa, mereka bercita-cita ingin membangun Indonesia yang berbudaya Belanda. Raga pribumi, hati Belanda. Itu cita-cita ideologis. Sepertinya, sampai saat ini masih banyak penerus cita-cita seperti itu.

[3] Mereka bagian dari missi asing itu sendiri. Intinya, majikan mereka memang orang asing sono. Mereka digaji sebagai komprador (atau bahasa keren-nya, jongos). [Lho ada itu, seorang tokoh kandidat wakil presiden tertentu. Saat mencalonkan diri sebagai calon wakil presiden, dia masih tercatat sebagai anggota dewan eksekutif IMF. Ini nyata, tidak mengada-ada].

Ternyata, yang berjihad itu bukan hanya para pejuang di Irak, Afghanistan, Palestina, dan lainnya. Bukan hanya Diponegoro, Imam Bonjol, Jendral Soedriman, Bung Tomo, dan lainnya. Bukan hanya ormas Islam, jamaah dakwah, pesantren Islam, aktivis mahasiswa, media Islam dan seterusnya. Ternyata, yang berjuang untuk asing banyak juga.

Kedua arus itu NYATA dan ADA. Mereka memiliki kekuatan, ideologi, sekaligus memiliki sejarah masing-masing. Para pejuang Islam di masa lalu melahirkan anak-keturunan pejuang; sedang para pengkhianat masa lalu, juga melahirkan pengkhianat-pengkhianat juga. Tetapi ada kalanya juga, dari rahim pejuang Islam masa lalu, lahir keturunan pengkhianat; begitu pula dari rahim pengkhianat di masa lalu, lahir perjuang Islam. Ya Allah Ta’ala berbuat apapun yang dikehendaki-Nya.

Kalau mau merasakan HIDUP SEBENARNYA, jadilah para pejuang yang ikhlas menolong urusan-urusan Ummat Islam. Fokuslah dalam bidang ini, maka Allah akan menolongmu dengan segenap karunia dan rahmat-Nya. La yanshurullahu man yanshuruhu (Allah benar-benar akan menolong siapa yang menolong-Nya). Tolonglah Allah, maka engkau akan ditolong-Nya! Apapun profesi dan kedudukanmu, tolonglah Allah, maka engkau akan ditolong-Nya. Itu pasti dan mutlak!

Jangan pernah lelah dan menyesal meniti perjuangan. Maka Allah akan selalu sedia menyantunimu, saat engkau membutuhkan-Nya.

AMW.

Iklan

Kisah Para “Pecundang”

Maret 2, 2010

Hidup itu tidak mudah. Kita berlomba menjadi manusia yang lurus, mulia, dan banyak kebaikan. Hal itu dilakukan bukan hanya setahun dua tahun, tetapi sepanjang hayat, sampai mati.

Kadangkala, ada rasa takjub melihat prestasi keshalihan orang-orang tertentu. “Wih, hebat sekali hafalan Al Qur’annya. Amboi, sangat meyakinkan kefasihan bahasa Arabnya. Masya Allah, mengagumkan ketekunan ibadahnya. Oh lihatlah, betapa konsistennya dia dengan Jihad Fi Sabilillah.” Kerap kita melontarkan kata-kata seperti ini. Tetapi hidup bukanlah “potongan-potongan gambar”. Hidup adalah deretan kejadian-kejadian panjang, sejak lahir sampai mati. Sebuah “potongan gambar” mungkin tampak sangat indah, namun belum tentu keseluruhan gambar itu senantiasa indah sampai sang pemilik gambar wafat. Belum tentu indah selalu, sampai akhir hayat.

Jujur, betapa hati kita sangat gembira saat melihat seseorang bertubat dari kesalahan dan kehidupananya yang buruk. Alhamdulillah syukur, ada hamba Allah yang bertaubat. Tetapi hati kita juga merasa ciut, ketika membayangkan, bahwa di balik taubat itu akan ada hari-hari panjang yang harus dihadapi. “Apakah akan terus konsisten dengan semangat taubat, sampai mati?” Inilah harapannya, harapan mulia kita kepada Allah Ta’ala. Amin ya Mujib.

Dalam konteks kehidupan keindonesiaan, kita menyaksikan betapa banyak fragmen-fragmen kehidupan yang menyedihkan hati. Banyak bunga-bunga mekar yang berguguran; banyak prestasi-prestasi mulia yang berganti bentuk menjadi aib-aib memalukan; banyak kisah-kisah kepahlawanan yang instan, menjadi pahlawan sebentar, kemudian konsisten sebagai bandit; banyak puji-pujian luhur di muka, kemudian menjadi caci-maki berkepanjangan di hari kemudian. Tentu kita sering mendengar ucapan, “Dasar munafik!” Ungkapan ini sering diucapkan, di berbagai kesempatan. Sembari yang mengucapkannya juga akan menjadi “munafik”, jika ada kesempatan. (Hanya karena tidak ada peluang saja, akhirnya sebagian orang tetap terjaga “tidak munafik”).

Layu sebelum berkembang...

Setahu saya, bangsa Indonesia itu tidak perlu memiliki pemimpin yang terlalu pintar, banyak teori, konseptor ulung, teknokrat sejati, dan seterusnya. Tidak perlu seideal itu. Cukuplah, bangsa ini dipimpin oleh orang yang BISA JUJUR terhadap dirinya sendiri. Cukup itu saja! Tidak usah kriteria fit and proper yang berliku-liku. Keahlian teknik itu bisa dibentuk, tetapi karakter kejujuran sulit dibangun. Ia lahir sebagai hasil jumlah dari sekian variabel-variabel kehidupan, sejak kecil sampai dewasa.

Kalau menyaksikan kenyataan selama ini, terlalu banyak orang pintar di kalangan elit bangsa. Hanya sayangnya, mereka pintar secara intelektual atau track akademik. Sedangkan moralitasnya buruk. Lihatlah, mereka pintar menipu rakyat kecil, pintar berkelit dengan bahasa diplomasi, pintar mengkhianati cinta anak-isteri, pintar memelintir dalil sebagai kendaaraan syahwat, pintar kolaborasi dengan media-media pembohong, dan lain-lain. Mencari pemimpin yang jujur dan konsisten, sangat sulit.

Kehidupan ini seperti arena ujian yang membentang panjang. Ada banyak titik persimpangan jalan di hadapan hati setiap manusia. Kadang kala, seseorang selalu mengikuti hati nuraninya untuk mengatakan YES terhadap pilihan-pilihan yang baik; dan mengatakan NO terhadap bad choice. Tetapi tidak sedikit yang sebaliknya. Hingga keshalihan, kejujuran, komitmen itu, akhirnya menjadi semacam “mimpi tak nyata”.

Mari kita buka sebagian catatan-catatan menarik…

Ada seorang pemuda. Dulu dia aktivis gerakan Sosio-Marxis. Tentu saja, dia sangat pro rakyat. Sehari-hari, hidupnya hanya berjuang demi rakyat belaka. Para petani, kaum buruh, nelayan, serta orang-orang tertindas. Tetapi kemudian sejarah berubah. Ada seorang pejabat tinggi negara yang simpati dengannya, lalu memberikan pemuda itu peluang menjadi orang kepercayaan sang pejabat. “Saudaraku, Anda selama ini sudah berjuang keras membela rakyat. Sampai Anda melupakan hak-hak anak isteri. Kalau mau, Anda menjadi staf ahli saya. Ini juga perjuangan untuk membela rakyat. Ayolah, ikut bersama kami! Ikut perahu besar kami. Insya Allah, nanti kebutuhan anak-isterimu kami jamin 100 %. Sudahlah, tak usah malu-malu. Tak usah sungkan. Besok datang ke kantor saya. Ada surat kontrak yang harus Anda tanda-tangani. Oh ya, ini ada sekedar uang saku untuk memperbaiki penampilan. Tolong, besok ke kantor dengan penampilan rapi ya! Oke, sampai ketemu besok! Salam perjuangan, demi rakyat!” Mungkin, konteks narasinya seperti itu. Kata-kata seperti itu sangat memukau hati pejuang pro rakyat. Tetapi ia tak boleh sama sekali terdengar oleh “rakyat tertindas” yang ada disana. No, no. Itu kata-kata rahasia.

Dulu pejuang pro rakyat, kini menjadi pejuang pro kekuasaan. Dulu selalu di sisi rakyat. Kini, selalu di sisi kekuasaan, di manapun ia berada. Dulu membodoh-bodohkan penguasa, kini membodoh-bodohkan rakyat. Dulu teriak-teriak, “Revolusi, revolusi, revolusi!” Kini beda lagi, “Mercy, Ferrari, Black Berry!”

Ada juga seorang politisi. Terkenal dengan rambutnya yang memutih. Mungkin, tadinya, setiap batang rambut itu menjadi “korban” kesibukan sang politisi dalam membela rakyat. Karena sibuknya memperjuangkan nasib rakyat, sampai rambutnya lebih cepat tua dari usianya. Anak-anak muda berbisik, “Dia suka dengan cat rambut warna putih. Sungguh unique!” Kiprah politisi ini sangat mengagumkan, sehingga setiap media massa akan terasa hambar, kalau sehari saja tidak memajang foto atau mengutip pernyataannya. Puncak sukses politiknya tercapai saat dia bersama politisi-politisi lain mampu menghentikan jabatan presiden tertentu di tengah jalan.

Anehnya, setelah dia menjadi seorang menteri, segalanya seakan berubah. Sikap kritis padam, pernyataan tegas mati, naluri pejuang pro rakyat tiba-tiba kempes, keberanian membela kebenaran menguap entah kemana, logika-logika publik yang menawan seperti berubah menjadi statement-statement menjengkelkan. Revolusi karakter, ya revolusi karakter; dari pejuang pro rakyat, menjadi priyayi yang klimis.

Hatta seorang raja biasa pun… mungkin tidak akan mengalami kemalangan seperti ini. Semangat keberpihakan kepada kebenaran, berganti baju seacara revolusioner menjadi semangat bersenang-senang dengan kekuasaan. Hingga, menjadi “budak politik” pun tak apa, asal tidak menderita, fakir-miskin, seperti orang kebanyakan. Bayangkan, begitu berubahnya karakter diri itu, sampai sekedar jabatan “ketua ikatan alumni” pun diambil juga.

Ada lagi yang lain. Masih soal elit politik, kebetulan rambutnya memutih juga. Lawyer kawakan, penentang Soeharto sejak era Orde Baru. Konon, disebut-sebut sebagai tokoh demokrasi nomor wahid. Sikap kritis tokoh satu ini tak diragukana lagi. Beberapa waktu lalu dia mengeluarkan pernyataan sangat mencengangkan, “Jangan takut sama S…” Sambil menunjuk inisial seorang pejabat presiden. Orang mendadak sangat kritis, sangat vokal dalam menyuarakan kebenaran. Itu terjadi, setelah dia tidak menjabat anggota dewan pertimbangan presiden lagi. Saat masih menjabat, suaranya tenggelam sama sekali. Mungkin, ketika itu dia sibuk membisiki pejabat presiden agar menangkapi orang-orang kritis tertentu. Ini sekadar dugaan ya. Ketika tidak mendapat jatah jabatan menjadi kritis; ketika sedang menjabat lupa dengan amanah rakyat. Jadi bagaimana ya…

Ada juga elit lain yang tidak kalah menariknya. Masyarakat menyebutnya sebagai “bapak reformasi”. Ya, begitulah. Atau, “lokomotif reformasi” bisa juga. Singkat kata, kemegahan sosok satu ini kemudian menjadi “standar kebenaran”. Siapa yang sesuai pemikirannya, dianggap Reformis; siapa yang tidak sesuai pemikirannya, dianggap pro status quo. Hebat kan? Iya lah. Wong, pemikirannya menjadi standar kebenaran.

Tetapi seiring perjalanan waktu, sang “komandan reformasi” mulai berliku-liku. Omongannya berganti-ganti. Kata orang Jawa, “Esok tempe, sore dele.” (Pagi ngomong tempe, sore ngomong kedelai). Tidak konsisten dengan ucapan-ucapannya. Sampai puncaknya, menjelang Pemilu Presiden 2009 lalu, dia meminta partainya koalisi dengan partai penguasa. Alasannya, “Kita harus realistik. Kita harus melihat siapa yang berpeluang paling besar memenangkan Pemilu.” Ya Ilahi ya Rabbi, begitu jauhnya konsistensi itu terjerumus, sampai ke dasar jurang terdalam. Padahal semula, tokoh satu ini menyerang keras pemimpin partai penguasa itu, sambil menunjukkan dokumen bukti aliran dana dari Washington ke partai penguasa itu.

Bahkan yang lebih menakjubkan, demi menyetir partainya agar mau kolaborasi dengan partai penguasa, dia membuat pertemuan sendiri dengan elit-elit partainya di Yogya, tanpa seijin pemimpin resmi partai itu sendiri. Allahu Akbar… Kalau nafsu kuasa sedang menggelegak, apapun akan dihadapi, tanpa sedikit pun rasa malu. Dan herannya, di kalangan komunitas Muslim pendukung tokoh itu, posisi dia terus dielu-elukan.

Termasuk juga, ada sosok ustadz tertentu yang sudah terkenal. Dai sangat terkenal sebagai ustadz kalangan tertentu, pernah menjadi komandan pejuang Islam tertentu. Kemana-mana dikenal sebagai “komandan lasykar”. Performance-nya sangat alim, dengan segala atribut keshalihan di dalamnya. Tadinya dikenal sebagai ustadz besar di negeri ini, di mata komunitas tertentu. Tetapi seiring waktu, lagi-lagi arah angin berubah.

Tidak segan-segan ustadz itu menyerang kalangan Islam tertentu sebagai teroris, bahkan biang teroris. Dia melecehkan perjuangan kaum pejuang Islam di masa lalu. Pernah membisiki penguasa agar melarang buku ini itu, sebab katanya menjadi inspirator terorisme. Dulu mencela fotografi dan kamera. Tetapi kemudian berkali-kali menjadi narasumber diskusi di TV, sesuatu yang dulu tak terbayangkan. Bahkan pernah ikut rombongan Umrah, diberangkatkan bersama rombongan majelis dzikir penguasa politik tertentu.

Hebatnya lagi. Tokoh tersebut bersama beberapa murid-muridnya, pernah menjadi “petugas sekuriti” untuk mengamankan aset-aset yang dipersengketakan, yang akan dieksekusi. Ini benar-benar terjadi. Malah “jurus” ustadz tersebut pernah mendarat di muka seorang direktur media Islam, sehingga kacamatanya jatuh, lalu pecah lensanya. Ustadz, tapi bisa juga “main jurus”. Menurut sebagian sumber, dalam konflik di Poso, tokoh satu ini pernah mendapat hadiah “tanda mata” (baca: bogeman) dari pejuang Islam Poso yang kesal dengan segala sikap sok tahunya.

Mungkin banyak kalau mau disebutkan satu per satu. Intinya, sikap tidak istiqamah, kepahlawanan yang berubah menjadi kepencundangan. Kebetulan, hal itu menimpa orang-orang elit yang menjadi panutan banyak orang.

Maka Islam mengajarkan kita sebuah doa, “Ihdinas shirathal mustaqim, shirathal ladzina an’amta ‘alaihim” (tunjukkan kami jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat). Maksudnya, kita memohon agar ditunjukkan jalan yang lurus, yaitu jalannya para Nabi, para Shiddiqin, para Syuhada’, dan para Shalihin. Inilah jalan istiqamah sampai akhir hayat.

Ya Allah ya Rahiim, anugerahkan kami husnul khatimah, jauhkan kami dari su’ul khatimah. Ya Allah istiqamahkan kami di jalan yang lurus, sampai akhir hayat kami. Allahumma amin ya Mujibas sa’ilin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

AMW.


Kebohongan Besar: Bailout Century Menyelamatkan Ekonomi Indonesia!

Maret 1, 2010

Dari pandangan akhir fraksi-fraksi dalam Pansus Bank Century, mayoritas menyatakan bailout Bank Century merupakan kebijakan yang melanggar UU dan kasus tersebut perlu dibawa ke ranah hukum. Tetapi pihak Pemerintah dan Partai Demokrat ngotot ingin membawa kesimpulan Pansus seperti yang mereka inginkan. Setidaknya, mereka ingin agar kesimpulan kasus bailout Bank Century sama seperti pandangan akhir fraksi Demokrat.

Para pembela bailout Bank Century seperti Sri Mulyani, Boediono, anggota Pansus  Demokrat (khususnya Ruhut Sitompul), Sutan Batoegana, Amir Syamsuddin, Deny Indrayana, Chatib Bisri, Ihsan Fauzi, Christianto Wibisono, dll. rata-rata memakai argumentasi yang sama. Mereka mengklaim, bailout Bank Century merupakan tindakan yang tepat untuk menyelamatkan Indonesia dari krisis ekonomi November 2008. Kalau tidak dilakukan bailout bisa terjadi kerusakan sistemik pada sistem perbankan nasional. Lebih jauh mereka mengklaim, bahwa kondisi ekonomi saat ini yang relatif aman dan terkendali, merupakan bukti keberhasilan dari kebijakan bailout Bank Century. Lagi pula, masih kata mereka, bailout Century tidak merugikan keuangan negara sedikit pun, malah menguntungkan.

Menurut para pakar, bailout Bank Century dan dampak sistemiknya terhadap sistem perrbankan Indonesia bersifat debatable. Penentang bailout Century telah panjang-lebar mengemukakan argumen mereka; sedang pembela bailout juga ngeyel dengan alasan-alasannya. Alasan yang sangat lucu disampaikan oleh Chatib Bisri di depan forum sidang Pansus. Dia menuduh para penentang bailout Century sebagai “pro Neolib” karena menentang kebijakan negara menyelamatkan Bank Century. [Kalau bank milik swasta, jumlah nasabah kecil, dan rusak karena dirusak oleh pemiliknya sendiri, negara disuruh ikut campur menyelamatkan bank semacam itu. Tetapi kalau paket subsidi untuk rakyat kecil, negara diminta “cuci tangan” agar tidak membebani anggaran. Inilah model pemikiran Neolib paling konyol].

Tercium aroma KEBOHONGAN SISTEMIK yang sangat tajam.

Sebenarnya, kalau kita melihat situasi ekonomi pada 3 tahun terakhir, termasuk ketika terjadi krisis keuangan global tahun 2008-2009, kita akan melihat bahwa klaim para pendukung bailout Bank Century itu mengada-ada. Mereka mendramatisasi sesuatu yang sebenarnya tidak serius dampaknya.

Mari kita buka kembali analisis kritis tentang koneksi antara bailout Bank Century dengan posisi Indonesia di tengah krisis keungan global.

[1] Kita harus sangat paham, bahwa posisi Bank Century dalam ranah perbankan nasional sangat kecil, hanya 0,5 % aset perbankan nasional. Bank ini mau diutak-atik seperti apapun, tidak akan bisa mengguncang sistem perbankan nasional. Kalau mau dipaksakan, bank 0,5 % bisa mengacaukan sistem perbankan nasional, itu berarti kontruksi sistem perbankan Indonesia amat sangat rapuh. Guncangan sekecil apapun bisa merusak bangunan sistem perbankan secara keseluruhan. Para pembela bailout harus menjawab pertanyaan ini, “Apakah sistem perbankan di Indonesia memang sangat rapuh?” Kalau mereka menjawab ya, para nasabah bank di seluruh Indonesia baru boleh merasa cemas. Jika struktur perbankan diklaim sangat rapuh, klaim seperti ini justru yang bisa merusak sistem perbankan. Lagi pula, jika konstruksi perbankan Indonesia memang rapuh, lalu apa saja kerja Bank Indonesia? Apakah mereka kerjanya hanya melamun atau main facebook?

[2] Ada dua kasus penutupan bank yang layak menjadi perbandingan. Pertama, penutupan Bank IFI tahun 2009. Jika Century diselamatkan, mengapa IFI dibiarkan sehingga mati? Kedua, penutupan Bank Indover. Alasan yang dipakai oleh Pemerintah untuk menutup Indover juga alasan “dampak sistemik”. Ternyata, setelah ditutup tidak terjadi masalah apa-apa. Kedua kasus ini merupakan contoh praktis, bahwa bailout Bank Century tidak bersifat fair.

[3] Katanya, bailout Bank Century dilakukan, demi menyelamatkan sistem perbankan nasional dari kehancuran akibat krisis global. Artinya, kebijakan bailout itu ditujukan demi kebaikan sistem ekonomi nasional. Jika demikian, mengapa sebelum melakukan bailout Bank Century, pihak Bank Indonesia, KSSK, Menteri Keuangan, LPS, dll. tidak konsultasi dulu dengan DPR? Padahal ketika akan menutup Indover, mereka melakukan konsultasi ke DPR. Andaikan masalah Century dampaknya hanya bagi bank itu sendiri, tidak masalah tanpa konsultasi. Tetapi jika dampaknya dianggap mengancam perekonomian nasional, jelas harus konsultasi. Untuk apa di DPR ada komisi tentang perekonomian, jika tidak dimanfaatkan? Disini tampak jelas ketidak-jujuran Sri Mulyani dkk. Mereka mengklaim menerapkan kebijakan demi ekonomi negara, tetapi tidak melibatkan DPR.

[4] Bailout Bank Century jelas merugikan uang negara. Dana LPS Rp. 6,7 triliun dikucurkan ke manajemen Bank Century yang sekarang menjadi Bank Mutiara itu. Kerugian ini bisa terjadi karena beberapa alasan: (i) LPS mengeluarkan uang negara 6,7 triliun, padahal uang sebesar itu bisa dipakai untuk tujuan-tujuan lain yang lebih bermanfaat. Sekurangnya, dana itu tetap berada di LPS sebagai dana cadangan untuk fungsi-fungsi insitusional LPS sendiri; (ii) Adanya kebocoran-kebocoran dalam pengelolaan dana 6,7 triliun, karena adanya transaksi-transaksi yang tidak sesuai dengan tujuan awal bailout itu sendiri; (iii) Dalam sistem keuangan modern, dianggap sebagai kerugian, ketika suatu dana dipakai dalam kurun waktu tertentu dengan tidak menghasilkan manfaat (benefit) apapun.

Misalnya, Bank Mutiara dimodali 6,7 triliun. Setelah beberapa tahun bank itu dijual ke investor dengan harga sama. Bahkan merupakan kecelakaan manajemen, jika ia dijual ke investor dengan harga lebih rendah dari 6,7 triliun. Logikanya, dana 6,7 triliun jika ditanamkan untuk suatu proyek investasi yang menguntungkan, akan mendatangkan keuntungan besar. Sementara jika ditanamkan di Bank Mutiara, sifatnya hanya “kerja bakti” selama bertahun-tahun. Tanya ke Sri Mulyani dkk., apakah mereka mengenal istilah “kerja bakti” keuangan?

[5] Para pembela bailout Bank Century selalu mengatakan, jika Bank Century tidak diambil-alih oleh LPS, tetap saja Pemerintah harus memberikan dana talangan kepada para nasabah Bank Century yang memiliki simpanan 2 milliar ke bawah. Kalau ditotal, talangan itu bisa mencapai 4 triliun rupiah. Tetapi masalahnya, para nasabah bank berhak mendapat dana talangan, jika kondisinya memenuhi syarat. Misalnya, kerusakan di Bank Century terjadi bukan karena kejahatan perbankan yang dilakukan oleh para pemiliknya. Jika setiap nasabah bank otomatis mendapat talangan, dalam kondisi apapun, maka instumen talangan dalam sistem perbankan bisa membuat bank-bank di Indonesia dijarah sesuka hati oleh para bandit-bandit perbankan. Dalam kasus Bank Century, sebelum LPS menjamin uang para nasabah, bank itu jelas harus diawasi secara ketat, agar tidak terjadi kejahatan perbankan. Dan Bank Indonesia pun sudah memasukkan Bank Century dalam regulasi pengawasan khusus. Lalu apa artinya “pengawasan khusus” itu sehingga Bank Century collapse, lalu negara disuruh menalanginya memakai uang LPS? Bank Indonesia serius mengawasi, atau hanya main-main saja, sambil buka-buka facebook? Kesalahan Bank Indonesia dalam mengawasi Bank Century jelas-jelas merupakan pelanggaran UU.

[6] Kebijakan bailout Bank Century sangat tidak tepat. Mengapa? Sebab sejak semula Bank Century itu sendiri sudah banyak masalah. Bahkan ia masuk pengawasan khusus Bank Indonesia. Di tubuh Bank Century terjadi kejahatan-kejahatan perbankan oleh pejabat atau pemilik bank tersebut. Sri Mulyani mengakui hal itu dalam konferensi pers pasca pandangan akhir fraksi-fraksi di Pansus. Robert Tantular sendiri diproses di pengadilan dan diganjar hukuman 5 tahun. Seharusnya negara menolong bank-bank lain yang bermasalah, tetapi tidak terjerumus kejahatan perbankan. Apalagi katanya, Bank Indonesia mengidentifikasi ada 23 bank yang berpotensi bermasalah. Seharusnya dana talangan diarahkan untuk membantu bank-bank tersebut. Atau jika tidak, negara lebih memprioritaskan membantu perusahaan-perusahaan atau usaha UKM yang terancam kolaps akibat krisis keuangan global. Ibaratnya, memberi modal kepada seorang sarjana yang menganggur, lebih baik daripada memberikan modal kepada preman yang terkenal kejahatannya. Pejabat-pejabat yang terlibat dalam bailout Bank Century bisa dianggap sebagai orang-orang sembrono yang menyerahkan uang negara kepada pihak-pihak yang seharusnya tidak perlu ditolong.

[7] Bailout bukanlah satu-satunya solusi yang bisa ditempuh. Jika Bank Century hancur karena dirampok pemiliknya sendiri (meminjam istilah JK), sehingga bank itu nyaris hancur. Sudah saja, ia dinyatakan bangkrut (pailit). Lalu negara melelang aset-aset bank itu, lalu hasilnya dikembalikan kepada para nasabah Bank Century. Ini adalah cara yang lebih ringan resikonya, daripada Pemerintah mengambil-alih pengelolaan bank itu melalui LPS. Atau jika tidak, biarlah Bank Century dijual kepada investor yang mau membeli, baik kalangan lokal atau asing. Tentu dijual sekaligus dengan beban hutang-hutangnya kepada nasabah. Jadi pihak yang diharapkan memberikan dana talangan adalah investor, bukan LPS. Atau penyelesaian Bank Century sepenuhnya dibawa ke ranah hukum. Bank itu dinyatakan pailit karena tindak kriminal pemiliknya. Lalu kepolisian menetapkan pelaku-pelaku kejahatan sebagai DPO, kemudian bekerjasama dengan Interpol untuk menyita aset-aset bank yang dilarikan ke luar negeri. Cara demikian meskipun harus berproses, tetapi lebih memberikan kepastian hukum, baik kepada nasabah Century maupun nasabah bank-bank lain. Daripada memaksakan diri mengurus Bank Mutiara selama bertahun-tahun, lalu dijual lagi ke investor.

[8] Bailout Bank Century seharusnya tidak dilakukan, dengan pertimbangan, bangsa Indonesia pernah memiliki sejarah kelam tragedi bailout yang kita kenal sebaga Mega Skandal BLBI itu. Setelah Tragedi BLBI yang merugikan negara sampai 500-600 triliun itu, seharusnya kejadian serupa tidak terulang lagi. Lha, kalau masyarakat biasa saja masih ingat skandal BLBI, masak ahli keuangan seperti Sri Mulyani, Boediono, dkk. tidak ingat?

[9] Sebenarnya, kasus bailout Bank Century tidak ada kaitannya dengan krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 2008 lalu. Kasus Century sudah muncul jauh-jauh hari sebelum terjadi krisis ekonomi. Begitu pula, selesai atau tidaknya kemelut di Bank Cetury, tidak memiliki dampak bagi perekonomian nasional. Harus dicatat dengan baik, masalah Bank Century bukanlah urusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Ya, karena bank itu kecil dan nasabahnya tidak banyak. Sebagai perbandingan, ketika Pemerintah SBY menaikkan harga BBM sampai ke level 100 % tahun 2005, kebijakan itu benar-benar sabgat memberatkan masyarakat luas. Bahkan mengancam sektor riil. Ini baru contoh kebijakan yang memiliki dampak sistemik bagi perekonomian nasional. Adapun, mati-hidupnya Bank Century, masyarakat tidak terlalu peduli. Bahkan banyak orang tidak tahu kalau di Indonesia ada Bank Century. Tetapi kalau misalnya ada kondisi sehingga BNI, BRI, Bank Mandiri, BCA, Danamon, Bank Muamalat, dkk. mengalami guncangan kolektif, kita layak khawatir, sebab posisi bank-bank ini sangat kuat di Indonesia.

[10] Penentu stabil-tidaknya ekonomi suatu bangsa banyak faktornya. Misalnya hasil produksi pangan, volume perdagangan, ekspor-impor, produksi manufaktur, nilai tukar rupiah, kestabilan cuaca, kestabilan kondisi politik, kualitas penegakan hukum, kualitas clean government, jumlah pasokan energi, kondisi infrastruktur bisnis, dan lain-lain. Adapun sistem perbankan hanya merupakan salah satu faktor penentu. Sistem perbankan bukan satu-satunya faktor kestabilan ekonomi nasional. Jika sistem perbankan hanya merupakan satu faktor, lalu dimana posisi Bank Century? Bank Century hanyalah satu unit perbankan nasional yang nilainya hanya 0,5 %. Bank ini tidak mungkin akan berpengaruh secara sistemik kepada perekonomian nasional. Sungguh, alasan dampak sistemik itu hanyalah kilah yang sangat dicari-cari. [Coba tanyakan kepada para pendukung bailout, “Apakah sistem perbankan merupakan satu-satunya faktor penentu dalam sistem perekonomian di Indonesia?” Ingat, sampai saat ini masih banyak masyarakat yang belum mengakses layanan bank].

[11] Indonesia selamat dari terpaan krisis global 2008-2009 bersama India dan China. Faktor-faktor apa yang membuat bangsa Indonesia selamat? Apakah karena kebijakan bailout Bank Century? Sangat menggelikan. Kita harus sadar, baik Indonesia, India, dan China, ketiganya memiliki kemiripan kondisi. Ketiga negara ini sama-sama negara dengan jumlah penduduk besar. Basis perekonomian ketiganya adalah sektor riil, bukan sektor finansial seperti di Amerika. Di 3 negara ini banyak bahan baku, produksi pangan lancar, upah buruh murah, dan sebagainya. Jadi, sangat tidak mungkin bailout Bank Century dikait-kaitkan dengan keselamatan ekonomi Indonesia dari terpaan krisis keuangan global. Bank Century itu terlalu kecil dalam kontruksi makro perekonomian Indonesia.

[12] Pertanyaan menarik, “Mengapa terjadi krisis global, sehingga dampaknya merembet ke Indonesia?” Hal ini harus dijawab secara jujur, untuk membuktikan apakah klaim Sri Mulyani Cs itu jujur atau penuh kebohongan. Krisis global terjadi karena krisis keuangan di Amerika. Itu terjadi karena perbankan di Amerika nyaris ambruk karena banyak dana bank macet di kredit-kredit perumahan (subprime mortgage). Ketika bank-bank Amerika terguncang, nilai tukar dollar merosot tajam. Imbasnya, kurs rupiah ikut merosot, karena selama ini bangsa kita menganut sistem moneter terbuka. Dollar Amerika rusak, rupiah ikut-ikutan rusak, meskipun tidak separah di Amerika. Kalau nilai tukar dollar membaik, otomatis nilai rupiah membaik juga. Kata kuncinya ialah nilai tukar dollar Amerika. Untuk menyelamatkan ekonominya, Pemerintah Amerika melakukan bailout senilai US$ 700 miliar (setara dengan 7000 triliun). Dengan kebijakan bailout ini, meskipun sangat menyalahi prinsip Kapitalisme Amerika, posisi dollar membaik kembali. Jadi bailout US$ 700 milliar inilah yang menyelamatkan ekonomi Amerika, lalu menyelamatkan ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Jadi, adalah SANGAT KONYOL kalau kestabilan ekonomi Indonesia tercapai karena Sri Mulyani Cs menerapkan bailout Bank Century. Ini klaim sangat bodoh! [Andaikan nilai tukar dollar Amerika terus memburuk, biarpun Pemerintah RI menerapkan kebijakan bailout kepada 100 bank nasional, belum tentu bisa menyelamatkan ekonomi nasional. Karena selama ini kita menganut sistem mata uang terbuka, floating rate].

[13] Perlu diingat juga, krisis yang menimpa Amerika tahun 2008-2009 membuat bangsa itu memborong minyak bumi dalam jumlah besar, untuk menjamin pasokan energi Amerika. Hal ini memicu melesatnya harga minyak dunia sampai ke level US$ 150 per barrel. Tetapi setelah Amerika terserang krisis keuangan akibat subprime mortgage, industri dan dunia usaha di Amerika pada ambruk. Konsekuensinya, mereka sangat mengurangi belanja minyak bumi. Akibatnya, harga minyak dunia turun drastis, sampai ke level US$ 40 per barrel. Naik dan turunnya harga minyak dunia sangat mempengaruhi harga BBM di Indonesia. Kalau harga naik, sebagai eksportir minyak kita mendapat untung (sampai disebut win fall). Kalau harga turun, sebagai importer minyak, kita merasa lega, karena harga murah. Fluktuasi harga minyak dunia sangat besar pengaruhnya bagi ekonomi Indonesia. Adapun kebijakan bailout Century sangat jauh dari itu. Bank Century hidup, masyarakat tidak merasakan manfaatnya; Bank Century mati, masyarakat juga kehilangan. Ada dan tidaknya Bank Century, tidak berpengaruh bagi hajat hidup orang banyak.

[14] Sri Mulyani beralasan, bailout Bank Century jangan dilihat dari ukuran bank itu, tetapi lihat pada efek transmisi kepanikan yang bisa membuat seluruh nasabah bank nasional menarik dananya dari perbankan nasional. Kritik atas teori ini: (a) Kalau titik-tolaknya adalah kepanikan sosial, berarti kita bicara masalah psikologi masyarakat. Jika demikian, berarti solusi atas kepanikan itu adalah langkah penerangan publik yang efektif, massif, dan menentramkan hati. Jadi, solusinya adalah tindakan HUMAS yang canggih. Toh, selama ini tindakan humas itu sangat sering dilakukan Pemerintah, terutama meenceritakan keberhasilan departemen-departemen menjelang Pemilu berlangsung. Solusi humas itu amat sangat murah dibandingkan kebijakan bailout; (b) Kepanikan biasanya adalah gejala yang berjalan sesaat, tidak terus-menerus. Jika demikian, seharusnya tindakan penyelamatan terhadap Bank Century juga dilakukan secara temporer. Tetapi realitasnya, sampai tahun 2009, dana LPS terus dikucurkan ke Bank Century, sehingga total bailout mencapai 6,7 triliun; (c) Andaikan Pemerintah sangat peduli dengan “kepanikan public”, seharusnya mereka menyelesaikan terlebih dulu kepanikan para nasabah Bank Century. Tetapi nyatanya, sampai saat ini masih banyak nasabah Bank Century yang dizhalimi oleh manajemen Bank Mutiara. Hal itu terbuka dalam rapat Pansus DPR bersama para nasabah Bank Century. Jadi, alasan Sri Mulyani itu hanyalah kilah yang dicari-cari saja. Seperti bunyi sebuah pernyataan, “Jika Bu Menteri tidak pintar membuat kilah, buat apa dia diangkat menjadi menteri?”

Maka dapat disimpulkan, kebijakan bailout Bank Century sama sekali tidak ada kaitannya dengan penyelamatan ekonomi nasional. Dari sisi manapun, tidak ada korelasi antara bailout Bank Century dengan kestabilan ekonomi nasional. Dengan atau tanpa Bank Century, jika kurs dollar Amerika dan harga minyak dunia terus gonjang-ganjing, maka perekonomian Indonesia akan ikut gonjang-ganjing.

Kasus Bank Century muncul di tengah problema krisis ekonomi nasional, akibat krisis global. Lalu para pejabat negara menjadikan krisis global sebagai alasan untuk mengucurkan dana 6,7 triliun ke Bank Century. Ini adalah bentuk kesalahan kebijakan, ketidak-jujuran dalam mengambil kebijakan, menolong manajemen bank yang pengelolanya berlaku kriminal, serta menjerumuskan uang negara dalam pusaran bisnis bank yang gambling (tidak menentu).

Pertanyaan terakhir, “Bagaimana mesti memperlakukan Boediono dan Sri Mulyani?” Kedua orang ini adalah pejabat tinggi negara dalam urusan ekonomi dan keuangan. Mereka sangat bertanggung-jawab di balik bailout Bank Century. Secara ekonomi teoritik dan pengalaman birokrasi, mereka mumpuni. Tetapi dalam kasus Bank Century, mereka sangat ceroboh dan tidak jujur. Bahkan lebih mengesalkan lagi kalau mendengar kilah-kilah mereka saat membela diri. Menurut audit BPK maupun suara mayoritas fraksi di Pansus terdapat pelanggaran UU dalam bailout Bank Century. Setidaknya, dalam tulisan ini tampak sebuah pelanggaran yang sangat serius, yaitu: KEBOHONGAN PUBLIK secara sistematik dan massif. Semoga skandal Bank Century ini bisa menjadi momentum besar bagi bangsa Indonesia untuk mengenangi kecerobohan dan ketidak-jujuran para pejabat dalam mengelola keuangan negara.

Mari terus berusaha membangun Indonesia yang lebih baik. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kita keselamatan dan sejahtera, lahir-batin, di dunia dan Akhirat. Amin Allahumma amin.

AMW.