Cemas Soal Kapitalisme Ibadah

April 29, 2010

Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Semakin kesini rasanya semakin perih memperhatikan proyek-proyek pembangunan di Saudi saat ini, khususnya di lingkungan Makkah Al Mukarramah.

Belum lama lalu saya membaca tulisan Syaikh Mamduh Farhan Al Buhairi di majalah Qiblati. Beliau menceritakan kesedihan dan tangisannya atas dibongkarnya ribuan gedung, rumah, dan bangunan di sekitar Masjidil Haram, dalam rangka pelebaran area ibadah. Beliau merasa, sebagian sejarahnya di Makkah telah hilang. Ya, beliau dilahirkan di Syuqul Lail, kawasan Makkah. Sejak kecil beliau dibesarkan dalam lingkungan Masjidil Haram, belajar disana, sampai dewasa. Syaikh Mamduh menangis, begitu pula orang lain, saat melihat bangunan-bangunan yang membekaskan kenangan spiritual besar, bertumbangan dihabisi budozer.

Makkah hanya diwariskan kepada orang-orang bersyukur.

Wajah Makkah sekarang berubah. Kenangan besar terhadap masa lalu yang indah, penginapan, hotel, pedagang kaki lima, burung-burung merpati yang berkumpul di jalan-jalan,  burung elang beterbangan, money changer, dan sebagainya, seolah lenyap. Tidak dibayangkan, berapa ribu manusia yang sedih melihat sejarahnya, jerih-payahnya, kebudayaan, serta bisnisnya, ikut dibongkar demi “proyek pelebaran” Masjidil Haram.

Ya Allah, demi Engkau ya Rabbi yang Maha Pemurah, sesungguhnya Masjid-Mu itu tidak butuh dilebarkan lagi. Ia sudah terlampau lebar. Biarlah Masjid-Mu itu seperti itu, tidak perlu dilebarkan lagi. Biarlah jamaah membludak, biarlah Masjid-Mu penuh manusia, biarlah ya Rahmaan. Tidak ada yang salah dengan semua ini.

Toh, selama Ummat beribadah baik-baik saja. Tidak ada masalah. Malah, kalau Anda datang ke Masjidil Haram dari sekitar jam 10 malam sampai menjelang fajar, ruang-ruang masjid mulia ini banyak yang lowong. Kebanyakan manusia terkonsentrasi di sekitar Ka’bah Al Mubarakah. Ya Allah, sungguh Masjid-Mu tidak butuh dilebarkan lagi.

[Kalau Dinasti Ibnu Saud masih merasa punya uang dan kekuatan, silakan mereka perluas wilayah Islam. Taklukkan negara-negara bukan Muslim, terjuni Jihad Fi Sabilillah, tolonglah Ummat Islam yang merana di muka bumi ini. Itu kalau mereka Mukmin sejati, bukan “pedagang” Masjidil Haram].

Dari situs Sabili.co.id saya membaca beberapa informasi berikut:

[o] Baru-baru ini Dewan Syura Saudi Arabia yang di pimpinan Syaikh Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh telah menyetujui serta akan mempelajari pentingnya meningkatkan dan mengaktifkan bandara udara internasional di Makkah Al-Mukarromah. Dewan ini setuju dengan rencana pengembangan infrastruktur bandar udara serta peralatan yang diperlukan untuk menyelesaikannya dengan teknologi terbaru.

[o] Selain itu otoritas Pemerintah Saudi juga akan memperluas Bandara Thaif menjadi Bandara Internasional. Nantinya Bandara Thaif akan menjadi pendukung Bandara Internasional King  Abdul Aziz di Jeddah dan Bandara Internasional Pangeran Muhamamd bin Abdul Aziz di Madinah, untuk menunjang kebutuhan penerbangan jemaah Haji dan Umrah. Selama ini Bandara Thaif hanya untuk penerbangan domestik saja.

[o] Proyek infrastruktur lain yang sedang dikerjakan Pemerintah Saudi adalah pembangunan jalur kereta api Jeddah-Makkah-Madinah. Menteri Perhubungan dan Transportasi Kerajaan Arab Saudi, Dr. Jabbarah Ash-Sharaysiri, menyatakan pembangunan jalur kereta api untuk Jeddah-Makkah-Madinah sudah sangat siap dan sudah disepakati Majelis Anggaran Kerajaan Arab Saudi. “Jika menggunakan kereta api, maka Makkah-Jeddah hanya akan ditempuh dalam waktu setengah jam. Sedangkan  Madinah-Makkah atau Madinah-Jeddah akan ditempuh dalam waktu dua jam,” kata Jabbarah.

[o] Selain trayek tersebut, juga akan  dibangun  jalur monorail dan kereta api untuk Makkah-Mina-Muzdalifah-Arafah. Anggaran yang disiapkan untuk proyek ini sekitar 6,78 miliar riyal. Kecepatan kereta api mencapai 300 kilometer per jam. Jabbarah juga mengungkapkan, jalur kereta api akan dibangun pula membelah wilayah Kerajaan Arab Saudi dari selatan ke utara. Dari Pelabuhan Islam di Jeddah mencapai Riyadh hingga pelabuhan Raja Abdul Aziz di Dammam, Teluk Arab yang jaraknya mencapai sekitar 950 kilometer.

[o] Pembangunan berbagai proyek infrastruktur  yang dilakukan Pemerintah Saudi ini  membuktikan bahwa mereka sangat serius dalam menangani ibadah haji yang melibatkan jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Jika proyek-proyek tersebut telah selesai dibangun, maka akan sangat membantu  kelancaran pelaksanaan ibadah haji. Dengan kereta api, Makkah-Jeddah cukup setengah jam, Makkah-Madinah dan Jeddah-Madinah, dua jam.

Sumber artikel: Saudi Akan Dirikan Bandara di Makkah Al Mukarramah.

Kalau kita baca semua kenyataan ini, tampak nyata Pemerintah Saudi seperti sekumpulan para penguasa yang tidak ada rasa syukurnya. Mereka sudah diberi kenikmatan luar biasa dengan dunia yang terhampar di depan mata mereka. Minyak bumi dan berbagai bahan derivatnya adalah anugerah dahsyat. Begitu pula Makkah Al Mukarramah, Arafah, dan Madinah. Semua ini sebenarnya sudah cukup untuk disyukuri, agar Allah Ta’ala tambahkan nikmat-Nya.

Tapi ini tidak, bukannya tambah syukur, tapi ambisi keduniaannya semakin menjadi-jadi. Tidak bisa disangkal lagi, pembangunan berbagai infrastruktur itu adalah demi untuk mempermudah urusan jamaah Haji dan Umrah. Utamanya jamaah Umrah yang setiap hari datang kesana. Sebab kalau jamaah Haji sifatnya hanya sebentar, di seputar bulan Dzul Hijjah saja. Dengan kata lain, Pemerintah Saudi sebenarnya ingin menggenjot pemasukan devisa dari sektor wisata ibadah, yaitu Haji dan Umrah. Jadi syahwat kapitalismenya lebih kuat daripada pelayanan Islam itu sendiri.

Demikian ambisinya Pemerintah Saudi, sampai ribuan bangunan di dekat Masjidil Haram diruntuhkan. Nanti akan dibangun gedung-gedung pencakar langit sebagai gantinya. Itulah yang kita kenal sebagai proyek super ambisius di kawasan sekitar Masjidil Haram saat ini.

Padahal dulu, sebagaimana diceritakan, Gubernur ‘Amr bin Al ‘Ash Ra. di Mesir, beliau tidak berani menggusur rumah seorang Yahudi, dalam rangka perluasan Masjid ‘Amr bin Al ‘Ash. Khalifah Umar bin Khattab Ra. melarang penggusuran itu. Padahal ia rumah orang Yahudi, di Mesir, hanya untuk perluasan masjid biasa, bukan Masjidil Haram lagi. Tetapi saat ini akhlak manusia sudah terlalu jauh.

Di Makkah, tidak boleh ada bangunan yang tingginya melebihi Istana Raja Abdullah, yang lokasinya di samping Masjidil Haram itu. Tetapi saat yang sama, Istana Raja itu tingginya sejajar dengan menara-menara Masjidil Haram. Sejajar menara Akhi, bukan sejajar bangunan utama. Ini kan arogansi yang nyata di hadapan Masjidil Haram. Orang lain tidak boleh membangun gedung melebihi Istana, tapi Istana boleh ditinggikan di atas bangunan Masjidil Haram.

Ya Allah ya Karim, rasanya sangat perih memandang masa depan agama dan Ummat ini. Jangankan di Indonesia, yang di Saudi sana juga seperti itu. Ketika Pemerintah Saudi membongkar ribuan bangunan di sekitar Masjidil Haram, apakah mereka tidak ingat dengan peristiwa perluasan Masjid ‘Amr bin Al ‘Ash di Mesir dulu?

Saya juga pernah mendengar riwayat, ketika Khalifah Umar tidak jadi mengambil talang (pancuran) di dekat Masjid Nabawi, dalam rangka perluasan Masjid. Hanya karena keluarga Nabi menjelaskan, bahwa talang itu dulu Nabi sendiri yang meletakkannya. Lihatlah, hanya demi sebuah talang, Khalifah Umar mengalah. Sampai akhirnya, keluarga Nabi sendiri yang mengambil talang tersebut.

Aku tidak bayangkan, berapa orang yang kecewa dengan proyek perluasan Masjidil Haram itu. Mereka tentu menangis, sedih, atau bahkan merasa dizhalimi keangkuhan “Mega Proyek Perluasan”. Mungkin saja, karena mereka patuh kepada ulama, banyak warga Saudi memilih bersabar. Tetapi siapa bisa mencegah, kalau mereka dalam ratapan doanya mendoakan kecelakaan dan kehancuran Pemerintah Kerajaan Saudi?

Mohon pahami, kita tidak sentimen kepada Pemerintahan manapun, selama ia baik dan menunaikan amanah-amanah Ummat dengan ihsan. Namun kalau terus bersikap buruk terhadap amanah Ummat, ya tidak ada respek kepadanya. Dalam masalah proyek ambisius Pemerintah Saudi saat ini, baik di Makkah, Madinah, maupun Saudi secara umum, mari kita berpikir lebih mendalam. Coba perhatikan beberapa hal di bawah ini:

[a] Masjidil Haram atau Masjid Nabawi tidak perlu diperluas lagi, sebab kedua Masjid Suci itu sudah sangat besar, megah, dengan bentuk bangunan bisa dikatakan, banyak mubadzirnya. Coba lihat Masjid Nabawi, Anda hitung ada berapa tiangnya? Ada ribuan tiang. Masing-masing tiang dibuat dengan biaya besar. Apakah ini yang dinamakan memuliakan Islam, dengan membuat hal-hal mubadzir?

[b] Dua Masjid Suci, tidak selamanya penuh. Malah penuhnya hanya pada momen-momen tertentu, misalnya saat Dzul Hijjah dan Ramadhan. Atau misal saat Shalat Jum’at. Kedua Masjid Suci ini di hari-hari biasa, apalagi di musim-musim panas-dingin, tidak terlalu banyak dikunjungi jamaah. Kalau nanti Masjid ini dibesarkan lagi, siapa kira-kira yang akan menempati tempat yang dilebarkan itu?

[c] Perlu disadari, di saat Pemerintah Saudi belum membongkar ribuan bangunan di sekitar Masjidil Haram, kehidupan di Makkah sendiri sudah cenderung metropolis. Hotel berdiri dimana-mana, transaksi bisnis, mall-mall, pertokoan, termasuk gerai-gerai makanan milik asing (semisal McD dan sejenisnya). Kondisinya sudah menjurus ke arah kehidupan metropolis-industrialis. Nah, kalau misal proyek semisal itu mau dibesar-besarkan lagi, ada gedung-gedung pencakar langit seperti di Dubay, ada monorail, kereta api, dst. lalu wajah Makkah akan menjadi seperti apa nantinya? Saat kemarin saja, situasi spiritualitasnya cenderung merosot karena suasana industrialis, apalagi nanti?

[d] Fakta lain yang jarang diperhatikan adalah masalah tata-lingkungan. Belum lama lalu terjadi banjir besar di Makkah, banjir yang jarang terjadi. Air menggenang sampai lutut orang dewasa. Banjir ini terjadi di sekitar musim Haji tahun lalu. Banyak orang meninggal disana. Terakhir lalu, terjadi badai pasir hebat di Riyadh. Dan saya mendapat informasi, sejak Dubay memiliki gedung pencakar langit tertinggi di dunia, langit di kota itu selalu diselimuti kabut hitam. Ada koneksi yang nyata antara perubahan tata-letak sebuah kota dengan daya dukung lingkungan. Apakah Pemerintah Saudi sudah menghitung sedemikian jauh? Rasanya jauh. Lihat saja, saat mereka membongkar ribuan bangunan itu. Apakah pernah memikirkan unsur hak manusia, hak lingkungan, hak sejarah, hak usaha rakyat, hak estetika, hak kondisi spirital, dll? Halah…

[e] Berbagai proyek ambisius yang dibangun di Makkah, Madinah, dan Saudi saat ini, ia mencerminkan bahwa Pemerintah Kerajaan sedang kebebanan beban yang amat sangat berat. Bisa jadi, kerabat kerajaan meminta lahan-lahan bisnis. Atau beban penyediaan air, listrik, telepon, dll. semakin besar. Belum lagi tekanan “setor minyak” ke dunia Barat sudah mendarah daging. Ya, semua itu merupakan resiko ketika kekuasaan tidak dirawat dengan Kitabullah dan Sunnah. Dalam Al Qur’an dikatakan, “Wa man yata’adda hududallah, faqad zhalama nafsah” (siapa yang melanggar batas-batas aturan Allah, sebenarnya dia hanya menzhalimi dirinya sendiri).

[f] Sebuah negara layak disebut Daarut Tauhid (Negeri Tauhid) kalau dia berani lantang menyeru semua manusia di dunia, “Laa ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah“. Mereka berani teriak dengan nyaring, “Saksikanlah wahai manusia, tidak ada yang kami takuti, selain Allah belaka. Kami tidak takut dengan senjata-senjata kalian, karena hati kami bertauhid. Kami tidak tunduk pada aturan apapun, selain Syariat Muhammad Shallallah ‘Alaihi Wa Sallam. Itulah Syariat terbaik yang harus ditempuh.” Tapi ini lain, mengaku Negeri Tauhid, tetapi jerih menghadapi konflik dengan negara-negara non Muslim.

Saudi itu sudah diberi minyak melimpah-ruah, sudah diberi Masjidil Haram, Masjidin Nabawi, diberi Dua Tanah Suci, tetapi masih merasa belum cukup juga. Sekarang mau menjadikan Tanah Suci sebagai obyek wisata ruhani dunia. Allahu Akbar. Jika caranya demikian, lama-lama Manasik Ibrahim ‘alaihissalam akan tersingkir diganti kesenangan wisata. Na’udzubillah wa na’udzubillah.

Allah Ta’ala pasti tidak akan mengijinkan ada manusia yang merusak Syiar-syiar-Nya. Pasti Allah akan menyelamatkan Ummat ini, menolongnya, memberikan jalan keluar terbaik. Ya Allah tolonglah agama ini, tolongan Ummat Muhammad ini, tolonglah orang-orang beriman! Amin Allahumma amin.

Wallahu Waliyyut taufiq wa yahdi ila sabilir rosyad.

AMW.

Iklan

Ujian Nasional (UN) dan Bangsa Kita

April 28, 2010

Hasil Ujian Nasional (UN) SMA baru saja diumumkan. Untuk tahun 2010 ini hasilnya lebih buruk dari tahun 2009  lalu. Belum setahun Muhammad Nuh menjadi Mendiknas, langsung disambut dengan hasil UN yang buruk. Menurut data Depdiknas, ada sekitar 267 sekolah SMU di seluruh yang angka kelulusannya 0 % (Pikiran Rakyat, 28 April 2010). Tentu ini merupakan hasil yang sangat memprihatinkan.

Sejak mulai diberlakukan konsep UN pada era SBY-JK (2004-2009), sampai saat ini UN terus mengundang perdebatan sengit di kalangan para pemerhati pendidikan. Bahkan sebagian orang melakukan judicial review ke MK menggugat aturan UN. Dan ternyata dikabulkan oleh MK. UN dianggap tidak sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Namun anehnya, Pak M. Nuh bukannya mengakomodasi keputusan MK, malan melanjutkan program UN itu.

Kasihan kalian Nak...

Kalau melihat UN, ada dua sisi persoalan yang kerap kali disalah-pahami, baik oleh pihak pembela UN (Depdiknas), maupun pihak penggugat UN (kalangan masyarakat, praktisi pendidikan, mahasiswa, dll). Pertama, tentang standar pendidikan nasional; dan kedua, tentang aturan kelulusan. Du hal ini sebenarnya sangat berbeda. Ketika kita tidak membedakannya secara tegas, akhirnya muncul kesalah-pahaman yang berlarut-larut.

Ujian Nasional (UN) sebagai sarana untuk melakukan evaluasi pendidikan secara nasional, itu SANGAT PENTING. Bangsa kita perlu memiliki standar pendidikan nasional. Bahkan bangsa manapun membutuhkan standar itu.  Jadi, UN sebagai alat untuk mengukur kemampuan siswa sesuai standar yang ditetapkan secara nasional, ia sangat PENTING. Kalau mau jujur, sejak saya lulus SD sekitar tahun 85-an, waktu itu sudah ada EBTANAS.

Nah, dalam konteks standar pendidikan nasional ini, keberadaan UN jangan diganggu gugat. Itu sudah tepat. Kita butuh suatu instrumen untuk melihat kemajuan hasil pendidikan melalui UJIAN standar. Bahkan hal ini sudah puluhan tahun ditempuh di Indonesia, melalui EBTANAS itu. Bayangkan, kalau untuk helm motor saja ada SNI, bagaimana mungkin untuk pendidikan tidak butuh standar? Jelas tidak mungkin.

Kalaupun kemudian kita persoalkan, sebenarnya bukan instumen UN-nya, tetapi ATURAN KELULUSAN yang mengikuti nilai hasil UN. Jadi, ini biang kerok masalahnya, bukan instrumen UN itu sendiri. Andaikan aturan kelulusan ini dicabut, UN tetap perlu dilaksanakan dan ditingkatkan pelaksanaannya. Sasaran yang diprotes masyarakat selama ini, sebenarnya aturan kelulusan ini. Disana seorang siswa disebut tidak lulus, kalau nilai UN-nya tidak memenuhi standar tertentu.

Kerancuan yang muncul selama ini: Depdiknas selalu beralasan dengan pentingnya UN sebagai alat uji standar pendidikan nasional. Di sisi lain, para penentang UN tidak spesifik membidik aturan kelulusan yang mengikuti UN, tetapi mereka menyerang nama UN-nya. Kedua belah pihak sama-sama tidak tepat.

Seharusnya, Depdiknas memisahkan aturan kelulusan dari UN. Kemudian masyarakat luas jangan menggugat instrumen UN-nya, sebab kita membutuhkan itu. Tapi gugatlah ATURAN KELULUSAN di balik UN.

Kemudian pertanyaannya: “Bagaimana pandangan kita terhadap aturan kelulusan yang ditetapkan oleh Depdiknas itu? Apakah aturan seperti itu baik atau zhalim?”

Ya, tidak diragukan lagi, aturan kelulusan seperti itu JUSTRU MEMATIKAN MISSI PENDIDIKAN itu sendiri. Dimana-mana yang namanya pendidikan itu untuk mendidik manusia sebaik-baiknya. Yang tadinya buta huruf, jadi melek huruf; yang tadinya miskin ilmu, menjadi kaya ilmu; yang tadinya lemah fisik, menjadi sehat segar; yang tadinya nol keahlian, akhirnya terampil; yang tadinya kurang adab, menjadi beradab, dan seterusnya. Ibaratnya, terjadi transformasi dari kegelapan menuju cahaya.

Para filosof, para ahli, para pemuka pendidikan dimanapun, tidak akan menilai hasil pendidikan hanya dari beberapa LEMBAR JAWABAN UJIAN saja. Ujian ini hanya instrumen untuk mengetahui, apakah materi didik yang ditetapkan sudah terserap dengan baik atau tidak? Itu saja. Ujian itu dimanapun hanya alat evaluasi, bukan tujuan pendidikan.

Sungguh Depdiknas bisa dianggap sebagai institusi yang paling zhalim terhadap missi mendidik warga negara, jika mereka menjadikan hasil UN sebagai standar kelulusan. Untuk meluluskan siswa dari sekolah, harusnya alat ukur dan instrumen sangat banyak. Mulai dari prestasi akademik, moralitas siswa, kedisiplinan, karya ilmiah, kesehatan, sikap sosial, kepedulian sosial, kreativitas, inisiatif, dll. Banyak instrumennya.

Kalau kita hanya menilai dari sisi prestasi akademik saja, itu sudah dianggap ZHALIM. Padahal alat ukur nilai akademik bisa ulangan harian, tugas, ujian semester, ujian lokal, dll. Apalagi ini alat ukurnya hanya hasil UN saja? Allahu Akbar, betapa SANGAT ZHALIM sistem pendidikan seperti ini. Tujuan “mencerdaskan kehidupan bangsa” amat sangat jauh dari harapan.

Kalau dirunut lebih dalam, mengapa harus ada aturan kelulusan yang sangat zhalim seperti itu? Bahkan dinilai dari tujuan pendidikan nasional pun, jauh panggang dari api.

Semua ini terjadi karena Pemerintahan SBY menganut SISTEM LIBERAL. Itu harus diingat dan dicatat dengan tinta sangat tebal. Anda harus ingat, salah satu prinsip sistem liberal ialah: menghargai manusia berdasarkan ukuran-ukuran materialis belaka! Di mata kaum liberal, manusia banyak atau sedikit, tidak dilihat sisi manusiawinya. Manusia hanya dilihat sisi produktifitas komersialnya, kontribusinya bagi pasar, kontribusi bagi peningkatan modal, kontribusi bagi mobilitas modal, dll. Adapun manusia yang lemah, tidak pintar, tidak memiliki skill tinggi, kurang teredukasi, dll. mereka dianggap sebagai: beban anggaran, menghambat investasi, mengganggu pertumbuhan ekonomi, tidak siap kompetisi pasar bebas, dll.

Nah, aturan kelulusan yang mengikuti UN, sebenarnya merupakan perwujudan dari sistem kehidupan nasional yang LIBERALIS di bawah kepemimpinan SBY. Di mata kaum liberal, ada jutaan siswa yang tidak terdidik dengan baik, mereka dianggap “beban anggaran” atau “beban subsidi”. Bukan dianggap sebagai manusia beradab yang berhak dididik, diajari, dan diberdayakan sebaik-baiknya.

Dan lebih ironisnya lagi: kebanyakan guru-guru di Indonesia adalah pengagum SBY dan pemilihnya dalam Pilpres kemarin! Nah, inilah salah satu contoh balada kehidupan di Indonesia.

Semoga tulisan ini ada manfaatnya, dalam rangka mengembalikan missi pendidikan ke arah semula, yaitu: “Mencerdaskan kehidupan bangsa!” Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AMW.


Fujiwara Award untuk Ilmuwan Muda Indonesia

April 26, 2010

PENGANTAR

Artikel ini pernah dimuat oleh majalah Gatra, edisi 24 Februari 2010, hal. 32-33, dengan judul Obsesi Periset Smart Fluid. Ia adalah tentang sosok seorang periset muda Muslim Indonesia, Muhammad Agung Bramantya, yang sedang menempuh studi di Jepang. Berkat riset yang dilakukannya dalam topik “smart fluid” dia mendapat Fujiwara Award dan Young Engineer Award dari JSAEM, sebuah lembaga para ilmuwan Jepang. Ini adalah untuk pertama kalinya Fujiwara Award diberikan kepada seorang periset dari luar Jepang. Otomatis Muhammad Agung Bramantya merupakan orang Indonesia pertama, sekaligus Muslim pertama di Dunia Islam, yang menerima penghargaan tersebut. Karena begitu pentingnya informasi ini agar diketahui Ummat Islam, sengaja saya muat artikel tersebut di blog ini. Artikel serupa juga dimuat di koran Media Indonesia, dengan judul Mengulik Ultrasonik Pendeteksi Fluida Cerdik, edisi 12 Februari 2010. Semoga bermanfaat!

OBSESI PERISET SMART FLUID

Muhammad Agung Bramantya menjadi orang pertama di luar Jepang yang mendapat Fujiwara Award dan Young Engineer Award dari JSAEM. Buah ketekunan sejumlah riset bidang smart fluid. Untuk jangka pendek, PLTN bisa menjadi solusi alternatif guna mengatasi krisis listrik.

Dunia riset di laboratorium memang jauh dari hiruk-pikuk kemilau glamor. Meski sepi, dunia riset bukan berarti tidak dapat memberi kepuasan. Setidaknya, begitulah yang dirasakan Muhammad Agung Bramantya, kandidat doktor di Universitas Keio, Jepang. Berkat ketekunan dan temuannya dalam sejumlah riset, pria kelahiran Yogyakarta, 22 Maret 1981, ini dianugerahi Fujiwara Award.

“Saya senang karena (menjadi) orang pertama di luar Jepang yang mendapat Fujiwara,” kata Bram, begitu ia biasa disapa. Fujiwara Award diambil dari nama Ginjiro Fujiwara yang hidup pada 1869-1960. Ia pendiri Institut Teknologi Fujiwara, cikal bakal Fakultas Sains Teknologi Universitas Keio. Anugerah yang diterima Bram pada 30 Maret 2009 itu adalah penghargaan bagi peneliti yang aktif dan bergiat di lintas bidang, baik sains maupun sosial budaya.

Bram, yang belajar di Jepang sejak Maret 2008, tidak tahu secara pasti mengapa anugerah itu jatuh ke tangannya. Yang dia tahu, dirinya banyak terlibat dalam presentasi hasil riset di forum konferensi ilmiah, baik di Jepang maupun di dunia internasional. Untuk bidang sosial, Bram bergabung dalam forum South-East Asian Engineering Development Network (Seed Net). Forum ini berisi para peneliti dari ASEAN dan Jepang.

Foto Bram di Tengah "Mainan-nya"

“Selain saling dukung secara ilmiah-akademis, juga menjadi ajang untuk mengenalkan budaya dan informasi dari tiap negara,” katanya. Menurut Bram, penilaian dari sisi parameter akademik jelas terukur, sedangkan untuk parameter sosial-budaya tentu subjektif. Untuk aspek akademis, Bram bercerita bahwa dirinya pernah maju dalam seminar dunia ke- 11 tentang Electrorheological Fluids and Magnetorheological Suspensions (ERMR) Organizing Committee pada September 2008 di Jerman.

Dalam seminar itu, Bram adalah satu-satunya wakil Asia Selatan dan Asia Tenggara. Di sana, ia menyabet Best Poster Prize, menyisihkan 100-an poster peneliti dunia di bidang tersebut. “Itu prestasi puncak yang mungkin menginspirasi pemberian Fujiwara Award,” ujar peneliti yang selalu mengaku sebagai orang Indonesia, meski dalam diskusi menyatakan diri sebagai wakil Jepang. Ada pengalaman lucu ketika ia mendapat sampanye. “Bingung mau diapakan, akhirnya saya buang ke toilet,” katanya.

Kesetiaan Bram pada riset ternyata membuahkan penghargaan. Tanpa pernah mengimpikannya, pada 19 November lalu ia menerima Young Engineer Award. Anugerah dari Japan Society of Applied Electromagnet and Mechanics (JSAEM) ini diberikan pada puncak acara Magnetodynamics Conference ke-18 di Universitas Tokyo. “Penghargaan kali ini karena ada temuan spesifikasi di bidang itu,” ujar Bram.

Unsur kebaruan risetnya ada pada penggunaan metode ultrasonik un­tuk menganalisis struktur dalaman pada sebuah smart fluid, yang berupa magnetorheological fluid. Sebelumnya, para periset biasa memakai metode simulasi numerik, metode optical microscope, atau metode spektrografi analisis sektrum cahaya. Semua metode ini memakai preparat. “Sedangkan saya memakai metode gelombang ultrasonik,” katanya. Dengan metode ini, secara prinsip tidak ada perlakuan khusus terhadap fluida yang akan diteliti.

Aplikasi riset smart fluid kini merambah berbagai bidang. Di dunia otomotif dipakai untuk memonitor sistem suspensi peredam atau pemantau efek suspensinya. Penerapan suspensi dengan smart fluid telah dilakukan pada mobil Audi, Ferrari, dan BMW. NASA juga mengembangkannya untuk injeksi bahan bakar fluida. Sedangkan MIT lebih ke arah robotik.

***

Dunia riset yang kini ditekuni Bram tidak bisa lepas dari hobinya melakukan riset sejak mahasiswa. Salah satu risetnya ketika kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, adalah mendesain mobil tenaga surya. Topiknya adalah “Aerodynamics Performance for Body Development of a Solar Car”. Ketika ia lulus dari teknik mesin UGM, skripsinya berjudul “Redesign Conceptual Aircraft: Airbus A 330”. Selain menjadi mahasiswa terbaik, Bram juga menjadi  mahasiswa yang lulus tercepat di angkatannya.

Begitu lulus, Bram sempat bekerja di Unocal. Namun, tak sampai setahun, ia merasa tidak sreg bekerja di tengah laut dengan sistem dua minggu kerja-dua minggu libur. “Bukan jenis pekerjaannya, melainkan sistemnya. Saya juga melihat jalur engineer di sana begitu-begitu saja. Jadi kuli, walau bayarannya besar,” katanya. Sebenarnya ia berencana terjun ke industri dulu selama 10-15 tahun, baru kemudian balik ke kampus untuk mengajar dan meneliti.

Namun Bram sudah gatal terjun ke riset. Pada 2004, ia pun memutuskan melanjutkan S-2 teknik mesin di Pascasarjana UGM. Ia tuntaskan studinya ini dalam tiga semester, dengan IPK 3,86. Lalu ia meneruskan kuliah di University of Malaya, menekuni teknik desain dan manufaktur. Selain belajar, ia juga aktif memberi tutorial resmi S-1 dan S-2 serta terlibat dalam berbagai pameran akademik dan presentasi poster.

Tesisnya, “Development of a Software for Designing and Manufacturing of an Impeller”, sekaligus menghasilkan software desain impeller pump layak paten lokal. “Tapi saya tidak mau. Enakan Malaysia, dong,” kata Bram. Suatu saat, jika pulang ke Indonesia, ia mencoba mematenkannya. Selain itu, juga bisa dipakai sebagai “senjata” jika akan bermitra dengan Malaysia.

Kini, di Jepang, Bram fokus di bidang yang didalaminya sejak 2007, yakni smart fluid, baik yang cair maupun gas. Proses studinya tidak berupa aktivitas kuliah atau tatap muka. “Semuanya berbasis penelitian,” ia menambahkan.

Kini tesis S-3 yang disiapkannya adalah soal magnetic and magnetorheological fluids. Risetnya merupakan bagian dari beasiswa JICA. Kini dilakukan di Jepang karena instrumentasi dan bahan materialnya terbilang mahal.

“Untuk gambaran, saya mendapat Rp 100 juta per tahun,” kata ayah dua anak berusia lima dan tiga tahun ini. Uang itu untuk bahan operasional. Selain itu, tambah Bram, masih ada dana dari profesor di laboratorium dan peralatan lainnya milik universitas senilai milyaran rupiah. “Saya taksir Rp 3 milyar-Rp 5 milyar,” kata Bram. Mahalnya biaya terletak pada investasi pembangunan laboratorium utuh, yang jika lengkap bisa mencapai Rp 1 trilyun.

***

Bram bersyukur, UGM dan pemerintah memberi dukungan penuh. “Kalau bukan dosen UGM, saya mungkin sulit mengakses fasilitas di sini. Pihak Jepang juga melihat status dosen dan PNS saya,” ungkap Bram. Ia percaya, sejumlah risetnya potensial untuk dikembangkan dan diterapkan. Riset S-1 bisa untuk bidang aerodinamika pesawat. Penelitian S-2 tentang flooding sangat dibutuhkan di reaktor nuklir.

Soal nuklir, Bram yakin, PLTN mampu menyelesaikan krisis listrik jangka pendek. “Jika nanti infrastruktur energi ramah lingkungan tercapai, barulah PLTN ditinggalkan sejauhjauhnya,” kata Bram.

Bila nanti kembali ke UGM, Bram ingin mengintensifkan riset-riset ke arah paten dan membangun jaringan interdislipiner ilmu. “Insya Allah, bisa lahir banyak temuan yang berguna untuk rakyat,” ujar Bram.

[FINISH HERE].

SUMBER: Blog Muhammad Agung Bramantya.


Selembar Cek dan Kalender Hijriyah

April 25, 2010

Oleh Husaini Mansur dan Dhani Gunawan Idat

Dewasa ini, alat pembayaran berupa cek (cheque) sudah begitu populer bagi dunia usaha, pedagang, pebisnis, pengembang, tokoh-tokoh masyarakat, pemimpin organisasi, baik Pemerintah maupun Swasta dll. Apalagi di kalangan perbankan. Berbagai cek dari nasabah harus diselesaikan setiap hari, supaya arus perniagaan dan sistem pembayaran tetap berjalan lancar, tanpa kendala.

Tinggal Nulis Angka Nominal.

Namun pertanyaan yang kemudian muncul, apakah memang ada hubungan (korelasi) antara cek sebagai alat pembayaran di satu pihak, dengan Tahun Hijriyyah di pihak lain, yang notabene merupakan sistem penanggalan Islami? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, melalui artikel ini, penulis akan mencoba mengetengahkan latar belakangnya.

BERAWAL DARI INOVASI

Pada masa Umar bin Khaththab menjadi Khalifah (634 – 644 M), wilayah Islam sudah menyebar ke segala penjuru. Jika sebelumnya pemerintahan hanya terbatas di Jazirah Arabia, kini semakin meluas, mulai dari Irak dan Persia di Kawasan Timur, hingga ke Syam dan Mesir di Kawasan Barat.

Menyadari perlunya pemerintahan yang bersih dan berwibawa, Khalifah Umar-pun menjadikan kesejahteraan pegawai dan prajurit sebagai salah satu prioritas Pemerintah. Imbalan kerja diberikan dalam jumlah mencukupi, sehingga Aparatur Negara merasa betah dan nyaman melaksanakan tugas. Sebagai bentuk atensi, Sang Khalifah kemudian mendirikan Diwan, sejenis Lembaga Negara yang mengatur gaji bulanan aparat, dan mulai berfungsi pada 15 H.

Agar pembayaran gaji tidak tumpang tindih, disamping daftar gaji, kepada masing-masing aparat yang akan menerima gaji, diberikan semacam kupon yang dinamai sakk atau sukuk. Isinya berupa ”perintah tertulis” dari Khalifah kepada Diwan, untuk membayarkan gaji kepada mereka yang berhak menerima, yaitu aparat pemegang kupon tersebut. Berkat adanya surat perintah yang berdimensi kontrol ini, pembayaran gaji akhirnya terlaksana secara efektif dan tepat waktu.

Bahkan pada saat paceklik melanda Kota Mekkah dan Madinah (17-18 H), metode surat perintah yang sudah teraktualisasi ini, ikut difungsikan Khalifah Umar. Konon dalam tahun kekeringan yang disebut juga sebagai Tahun Ramadah atau tahun kelabu itu, pembagian gandum (tunjangan natura) kepada penduduk dilakukan dengan  sistem yang serupa.

SUMBER MOTIVASI PEBISNIS

Dibelakang hari, Surat Perintah Pembayaran khas Khalifah Umar menjadi sumber motivasi tersendiri bagi pedagang atau pebisnis. Jikalau Khalifah Umar mengeluarkan Surat Perintah Pembayaran dalam rangka pelaksanaan tugas umum Kenegaraan, para pedagang atau pebisnis berinovasi mengeluarkan Surat Perintah Pembayaran dalam usaha bisnis, yakni pelunasan utang piutang yang berasal dari jual beli produk (komoditas). Prosesnya tentu saja dilakukan secara Islamiyah.

Perintah tertulis yang kemudian dikenal sebagai cek ini, ternyata begitu aplikatif di lapangan. Betapa tidak. Jika sebelumnya pembayaran di antara sesama pedagang, pemasok dan langganan dilakukan melalui kas (uang tunai), kini dapat diganti dengan cek (non cash), dengan tenggang waktu tertentu.

Berubahnya sistem pembayaran dari tunai ke cek, tentu tidak terlepas dari kondisi ekonomi yang paceklik di Tahun Ramadah – seperti telah diungkapkan –  sehingga daya beli menurun. Fenomena tersebut terlihat pula dalam formalitas cek. Berbeda dengan aturan cek dewasa ini, dimana pembayaran harus dipenuhi oleh pihak tertarik (Bank) begitu cek diunjukkan kepadanya, maka cek pada masa itu dapat dibayarkan dalam rentang waktu tertentu seperti tertulis dan telah disepakati di dalam cek. Dengan demikian, pembeli memiliki waktu jeda dalam pembayaran.

IDE PENETAPAN TAHUN BARU HIJRIYYAH

Permasalahan kemudian timbul, tatkala si penagih (penjual barang) akan mengklaim pembayaran cek. Pasalnya, cek-cek yang diterbitkan oleh pihak pembeli, tidak mencantumkan tahun pembayarannya. Yang ada hanya bulannya saja. Misalnya, bulan Sya’ban.

Ketika hal itu dikonfrimasikan kepada Khalifah Umar (Kepala Negara), Beliau-pun ikut bertanya. “Bulan Sya’ban yang manakah ? Apakah tahun ini, atau tahun lainnya ?” (Riwayat Maimun bin Mihran).

Selain kasus cek ini, Khalifah Umar juga diriwayatkan menerima surat dari Abu Musa Al-Asy’ari, Gubernur Kufah yang menggugah surat Khalifah Umar kepada sang Gubernur, karena tak ada tanggalnya. Kealpaan tersebut segera menyadarkan Khalifah Umar, bahwa sejauh ini Kaum Muslimin memang belum menetapkan penanggalan atau Tarikh Islamiyah secara resmi. Padahal tuntutan zaman harus diakomodir.

Karena itu, Khalifah Umar segera berembug dengan para sahabat yang berkompeten untuk mencari solusi yang tepat dalam hal penanggalan (kalender). Dari pertemuan yang terjadi, terdapat beberapa usulan. Ada sahabat yang menghendaki agar Tarikh Islam dimulai dari tahun kelahiran (Maulid) Nabi Muhamad SAW. Ada pula yang ingin mengaitkannya dengan Nuzulul Qur’an, atau peristiwa Isra’ Mi’raj. Sedangkan Ali bin Abi Thalib mengusulkan, agar Tarikh Islam dikaitkan dengan Hijrah Nabi ke Yastrib (Madinah).

Konon mayoritas sahabat termasuk Khalifah Umar sendiri menyetujui usul Sayyidina Ali yang menisbatkan Tarikh Islam dengan Hijrah Nabi. Dari aspek kejuangan, Hijrah Nabi yang monumental dan bersejarah, dinilai lebih tepat dan mengena sebagai awal perhitungan Tarikh Islam. Karena lewat peristiwa ini, Kaum Muslimin dapat membuka lembaran baru menuju masa pencerahan. Yakni, dari cahaya gelap (adz-dzulumat), ke cahaya terang atau cerah (an-Nur).

Dengan alasan tersebut, Khalifah Umar segera memutuskan bahwa Tarikh Islam mengacu ke Hijrah Nabi yang secara historis bersesuaian dengan tahun 622  Masehi. Menurut riwayat, keputusan bersejarah ini ditetapkan pada bulan Rabi’ul-awwal tahun ke 16 H. Sedangkan sumber lain mengatakan pada tahun ke 17 atau 18 H. Berbeda dengan Tarikh Masehi yang mengacu ke peredaran matahari (Syamsiah), Tarikh Hijriyyah dikaitkan dengan peredaran bulan (Qamariah), dan memperlakukan tanggal 1 Muharram sebagai awal tahun kalender. Demikianlah fenomena Tahun Hijriyyah, yang setiap tahunnya diperingati secara khidmat oleh Kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali pada 1431 H tahun ini.

Baca entri selengkapnya »


Sepak Bola dan Kekuatan Ummat

April 22, 2010

Pada mulanya, sepak bola (football atau soccer) hanyalah olah-raga permainan. Berolah laga kita boleh, bermain-main untuk hiburan juga boleh. Tentu selama, dalam olah-raga atau permainan itu, tetap mematuhi batas-batas aturan Islam. Contoh, seperti orang-raga renang. Nabi Saw menganjurkan Ummatnya belajar berenang. Tetapi ketika para perenang memakai pakaian minim, di depan umum, bahkan dilombakan, sehingga tubuh manusia menjadi tontonan manusia sejagad, maka cara seperti itu HARAM. Tetapi renangnya sendiri tetap halal.

Ketika BOLA Telah Menjadi JALAN HIDUP

Kalau Anda bertanya ke seorang ulama, bagaimana hukum olah-raga sepak bola? Rata-rata akan menganggap hal itu sebagai urusan mubah saja. Kalau pun ada koreksi, biasanya soal pakaian pemain yang harus menutup aurat, tidak boleh bermain curang, tidak boleh bermain kekerasan, dll. Di blog ini saya pernah membahas, bahwa menyundul bola (heading) termasuk aksi yang tidak boleh dilakukan. Alasannya, pertama kepala kita untuk bersujud, sedangkan bola itu sebuah benda yang ditendang-tendang, diinjak-injak, dihimpit, dll. Selain itu, heading menyebabkan benturan keras di kepala. Itu membahayakan kepala kita sendiri.[Tetapi soal heading ini baru pendapat pribadi, lho].

Sepak bola umumnya dilihat hanya sekedar olah-raga saja. Tetapi dalam perkembangan modern, sepak bola telah menjadi KEKUATAN BESAR yang mampu menyihir kesadaran miliaran manusia di dunia, termasuk ratusan juga penduduk Indonesia. Artinya, olah-raga ini tidak bisa dilihat sport only. Ada masalah besar yang harus dilihat kaum Muslimin di balik olah-raga satu ini. Jangan-jangan ia telah menjadi IDEOLOGI tersendiri.

Mari kita hitung-hitung pengaruh dahsyat sepak bola dalam kehidupan kaum Muslimin, antara lain:

[1] Banyak Muslim pelit mengeluarkan uang/hartanya untuk infak, sedekah, zakat, atau berbagai pembiayaan  di jalan-jalan kebajikan Islam. Tetapi mereka sangat royal dalam membelanjakan uangnya di dunia bola, dengan membeli kaos, aksesoris, sticker, tiket stadion, dll.

[2] Banyak Muslim pelit menyumbangkan tenaga, pikiran, kreasinya untuk memajukan Islam di bidang pendidikan, dakwah, amar makruf nahi munkar, ilmiah, publikasi, sosial, budaya, dll. Tetapi mereka sangat boros energi untuk mendukung tim-tim sepak bola kesayangan.

[3] Setiap hari masjid-masjid sepi jamaah. Yang shalat jamaah bisa dicirikan orang-orangnya. Tetapi stadion bola tidak pernah sepi penonton. Bahkan sampai membludak, luber ke dekat lapangan, malah ada ribuan penonton lain yang tidak kebagian tempat di stadion.

[4] Betapa malasnya kaum Muslimin kalau disuruh hadir di pengajian, majlis taklim, bahkan sekedar mengikuti acara pengajian pagi di TV saja, mereka malas. Apalagi disuruh shalat malam, ampun deh malasnya. Tetapi untuk nonton bola, rintangan sesulit apapun akan dilalui. Sampai begadang, sampai nonton dini hari jam 1-3 pagi, mereka sanggup. Biasanya, setelah nonton bola pagi, mereka segera tidur. Baru bangun jam 9 pagi. Boro-boro shalat malam, Shalat Shubuh saja tidak.

[5] Banyak pemuda Muslim tidak kenal sejarah para pendahulunya. Tidak tahu sejarah Nabi, tidak tahu sejarah Shahabat, tidak tahu sejarah Islam. Nama-nama tokoh Islam pun tidak tahu. Tapi kalau soal nama-nama pemain bola, klub bola, sejarah bola, mereka sangat antusias.

[6] Banyak masyarakat Muslim tidak peduli hatinya kalau melihat ada kasus kezhaliman, invasi, penganiayaan, pembantaian, bencana alam, dll. yang terjadi di negeri-negeri Muslim, termasuk di Indonesia. Hati mereka seperti tidak nyambung sama sekali dengan kehidupan kaum Muslimin. Tetapi mereka baru marah, kesal, beringas, bahkan anarkhis, kalau tim bola kesayangannya kalah atau dirugikan. Jadi, jihad mereka “Fi Sabili Bola”.

[7] Ada ribuan Muslim yang selalu melupakan Shalat Lima waktu setiap mereka menyaksikan pertandingan bola. Bagi mereka, pertandingan bola lebih penting daripada Shalat. [Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik].

[8] Akibat sangat Bola Maniak, sering terjadi kerusuhan antar supporter. Mereka tidak tahu lagi, untuk apa kerusuhan itu harus terjadi? Bahkan kemudian antar sesama Muslim sangat bermusuhan, misalnya antara Surabaya dengan Malang, antara Bandung dan Jakarta. Padahal yang bermusuhan itu masih sama-sama Muslim. Apa otak mereka tidak dipakai ya, bahwa antar sesama Muslim itu saling bersaudara?

[9] Sepanjang hari ada jutaan, ratusan juta penggemar bola Muslim, kepedulian mereka bukan lagi beramal shalih untuk Akhirat nanti. Tetapi mereka selalu melakukan “Amal Bola”, yaitu menunjukkan pengabdian, bhakti, pengorbanan “Fi Sabili Bola”. Masya Allah.

[10] Banyak sudah martir, orang-orang yang mati karena sepak bola ini. Ada di kalangan suporter, ada juga di kalangan pemain, juga petugas keamanan. Tetapi sangat sedikit yang berani mati untuk membela agamanya.

Coba Anda perhatikan dengan baik, apa yang telah terjadi selama ini? Apa yang telah terjadi, kawan? Sepak bola dianggap lebih penting, lebih berharga, lebih layak dibela, daripada agama (Islam). Ini artinya, selama kita telah menjaidkan bola itu sebagai agama. Agama kita sendiri telah lama disingkirkan, lalu diambillah agama baru yang namanya: Football dan FIFA!

Dalam agama bola ini ada HUKUM-nya, yaitu aturan main bola. Ada HAKIM-nya, yaitu para wasit. Ada MASJID-nya, yaitu stadion sepak bola. Ada ULAMA-nya, yaitu pemain top dunia seperti Christiano Ronaldo, Lionel Messi, Wayne Rooney, dll. Ada RITUAL-nya, yaitu pertandingan 2 babak, total 90 menit itu. Ada para JAMAAH-nya, yaitu para suporter bola yang ribuan, jutaan, ratusan juta, bahkan miliaran itu. Bahkan ada juga MAAL-nya, yaitu harta benda manusia yang habis karena membela bola. Lebih hebat lagi, ada SYAHID-nya, yaitu orang-orang yang mau mati konyol karena membela bola.

Luar biasa!!! Olah-raga ini telah menjadi AGAMA baru, pesaing berat ajaran ISLAM. Masya Allah, justru agama BOLA ini masuk ke hati kita tidak disadari, tidak dicurigai, sebab ia masuk sebagai olah-raga, bukan sebuah way of life. Ya, sebagai olah-raga ia dianggap mubah saja (boleh). Padahal sejatinya, ia adalah sebuah jalan hidup, sebuah agama, sama seperti Islam ini. Bahkan di Eropa dan Amerika Latin, agama Bola lebih diagung-agungkan ketimbang ajaran Kristen. Itu fakta dan benar adanya!

Kalau Yahudi membuat agama baru, besar kemungkinan akan segera ditolak oleh manusia. Tetapi ketika Yahudi membuat agama melalui olah-raga dan hiburan, orang tidak akan curiga. Sebab dianggap urusan netral saja. Tetapi kemudian, setelah FANATIK bola itu sangat kuat, barulah kita sadar, bahwa semua ini ternyata agama juga. Kalau tak peracaya, coba tanya pada para bola maniak itu, “Relakan Anda mengorbankan urusan bola demi membela Islam?” Dijamin mereka tak akan mau, sebab mereka lebih mencintai bola, dan bola telah menjadi “agama” sehari-hari. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Dalam Al Qur’an dikatakan, “Wa laa tamutunna illa wa antum Muslimun!” (Janganlah kalian mati, melainkan sebagai seorang Muslim). Maka kita harus berusaha serta memohon kepada Allah Ta’ala agar kelak mati di atas ajaran Islam, bukan “Fi Sabili Bola”. Amin Allahumma amin.

Ayo deh kita sama-sama tobat dari Bola! Selagi masih ada kesempatan, Bro! Semoga tulisan ini menjadi peringatan bagi semua pihak. Khususnya bagi diri dan keluargaku sendiri! Amin.

AMW.


Kritik Acara “OVJ” di Trans7

April 21, 2010

Mula-mula, seorang teman memberi rekomendasi supaya saya melihat Opera Van Java (OVJ) di Trans7. Tadinya tidak menarik. Konsep dekornya, sekali lihat, tidak membuat kita bersemangat. Akhirnya, dipaksakan melihat OVJ, karena mau membuktikan ucapan teman. Oohh, ternyata lucu juga. Pokoknya banyak hal-hal yang lucu dalam acara itu. Terutama tentang perabot dari bahan sterofoam yang mudah rusak itu. Akhirnya di rumah OVJ sering ditonton, terutama oleh anak-anak. Padahal tadinya mereka tak tahu itu.

Amoralitas Jadi Komoditi Hiburan

Tapi kesini-sini, acara OVJ semakin tidak karu-karuan. Konsep etiknya semakin melemah, kesopananya semakin buyar. Kelihatan sekali, mereka hanya “kejar tayang” alias hanya menguber iklan doang. Sisi intelektualitas dan kreasi yang semula padat, semakin kesini semakin compang-caamping. Inilah wajah tontotan yang INDUSTRIALIS murni, hanya mengejar uang, tak peduli soal kualitas.

Banyak hal yang saya catat, antara lain:

[1] Pakaian para Sinden-nya selalu seronok, dengan kain transparan. Atas dada seperti terbuka. Selalu begitu.

[2] Ide ceritanya tidak jauh dari soal pacaran, kekasih, rebutan cewek, dan sejenisnya. Itu melulu. Monoton sekali.

[3] Andri Taulani yang tadinya dianggap paling sopan, jadi ikut-ikutan “terkontaminasi”.

[4] Gerakan joged Parto yang dibuat-buat itu sungguh tidak lucu, sebab selalu diulang-ulang. Mungkin sudah puluhan kali Parto bertingkah seperti itu. Ini kan sama dengan merendahkan diri sendiri.

[5] Sule, Aziz, Andri, malah Parto, semakin sering memakai baju perempuan. Mungkin, mereka tak punya kreasi kelucuan lagi, maka pilihannya akhirnya memakai baju perempuan, biar orang tertawa. Padahal pakaian seperti itu menandakan lemahnya kreasi. Mereka seperti sudah mentok ide.

[6] Makin banyak kata-kata kotor yang disensor oleh editing program OVJ. Itu menandakan bahwa mereka sendiri tahu, di dalam “bunker acara” OVJ itu banyak indikasi amoralitas. Kalau yang ditayangkan saja banyak “sensor”, apalagi yang tidak ditayangkan?

[7] OVJ sekarang menjadi semacam “corong promosi” para banci dan kaum homoseks. Itu sering sekali ditunjukkan oleh SULE, AZIZ, dan ANDRI, melalui gerakan, omongan, dll.

Dan yang paling mengerikan adalah Nunung. Pemain perempuan ini sering tertawa kalau melihat tingkah Sule dan kawan-kawan. Karena saking kuatnya tawa itu, Nunung sampai -maaf- buang air kecil di arena tontonan itu. Dan SULE, PARTO, AZIZ, ANDRI, dan kru OVJ, mereka seperti senang kalau Nunung ketawa sampai pipis di panggung. Dan lebih TRAGIS lagi, kameramen acara itu ikut-ikutan men-shoot sisa buang air Nunung di panggung. Ya Allah ya Rabbi, sebegitu buruknya moral mereka dan betapa hancurnya selera kreasi mereka.

Ini sungguh-sungguh SANGAT MENGERIKAN. Betapa lemahnya komitmen moral para pelawak dan kru OVJ itu. Mereka seperti manusia tak berbudi yang tak kenal etika sama sekali. Bagaimana bisa soal “pipis” menjadi bahan tontonan? Allahu Akbar. Jangan-jangan ke depan, mereka akan menayangan serial tentang “tinja” (maaf beribu maaf). Ya, mereka tinggal mencari orang yang gampang buang air besar (BAB) kalau tertawa terbahak-bahak. Nanti, “tinja” hasil produksinya itu di-shoot oleh semua kamera. Kalau perlu, dibuat “liputan khusus” tentang “tinja” yang keluar di studio. Na’dzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Kita berharap KOMISI PENYIARAN INDONESIA segera melayangkan protes keras atau teguran keras kepada semua kru OVJ itu. Mereka sudah kelewatan, menjadikan “pipis emak-emak” sebagai tontonan. Ini jelas-jelas sangat merusak moral masyarakat. Ke depan OVJ perlu diperbaiki, jangan mengekspose hal-hal tercela itu! Dan jangan menjadikan materi amoralitas sebagai menu wajib untuk mengundang tawa penonton.

Semoga ke depan OVJ bisa lebih baik lagi. Mencari uang tak masalah, namanya juga manusia. Tapi jangan mencari uang dengan mengorbankan moral masyarakat. Nanti kalau masyarakat rusak, mereka juga yang rugi. Mereka akan hidup di tengah (masyarakat) yang beringas, sadis, norak, tak tahu diri, kurang adab, dll. Ya, itulah dampak kalau amoralitas merajalela di tengah masyarakat kita. You know, man?

AMW.

Catatan: Artikel ini sudah diperbaiki, merespon masukan yang diberikan salah satu pembaca. Terimakasih sebelumnya.


Amien Rais di Usia Senja

April 7, 2010

Kembali disini kita akan mengangkat sosok Amien Rais. Tulisan ini bukan didasarkan atas ambisi pribadi, kedengkian, atau interes politik tertentu. Interes-nya hanya satu, yaitu mengajak kaum Muslimin lebih dewasa dalam membangun kehidupan. Kita jangan mudah diombang-ambingkan oleh opini menyesatkan, yang kadang dibumbui dengan retorika-retorika melankolik (cengeng).

Beberapa waktu lalu sempat beredar khabar, Amien Rais mau mundur dari PAN, dan ingin masuk ke pengurusan Muhammadiyyah kembali. Ibaratnya, setelah kenyang bermain politik di PAN, dan hasilnya tidak sukses; Amien Rais ingin menghabiskan “masa pensiun” dengan menikmati segala kewibawaan dan sanjung di tengah Jamaah Persyarikatan Muhammadiyyah. Tentu, ia merupakan ide “brilian” bukan? Setelah puluhan tahun melupakan amanah dakwah Islam di Muhammadiyyah, tiba-tiba ingin “pulang kampung” menjadi panglima. “Hebat kali Abang yang satu ini,” begitu kira-kira kata saudara kita dari Tapanuli.

Ijtihad politik yang selalu gagal. Tapi "PD aja lagi".

Namun kemudian Amien Rais mengurungkan niatnya. Dia membuat pernyataan baru yang isinya menganulir niatnya untuk masuk ke tubuh Muhammadiyyah, lalu dia meneguhkan sikap tetap bersama PAN. Publik mungkin terkejut melihat sikap Amien Rais yang bledak-bleduk, mudah membuat pernyataan sensasional, tetapi mudah pula berubah sikap. Tetapi kita tidak perlu terlalu terkejut, sebab itu sudah kebiasaan lama. Seperti kata orang, “Konsisten dalam ketidak-konsistenan.”

Perlu dipahami, Muhammadiyyah sekarang sudah banyak berubah. Ormas besar Islam ini sudah banyak merujuk ke khittah awalnya sebagai Jam’iyah Dinniyyah yang berkhidmah dalam urusan-urusan keislaman dan sosial. Muhammadiyyah tidak lagi menjadi kendaraan politik PAN, tetapi bersikap netral politik. Muhammadiyyah juga bersikap tegas terhadap anasir-anasir Liberaliyun, sesuatu yang tentu kita syukuri. Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin. Bahkan Muhammadiyyah saat ini lebih mengedepankan politik kebangsaan, ketimbang politik kepentingan sempit. Salah satu produk fatwa kontemporer Muhammadiyyah yang banyak diapresiasi kalangan Islam ialah tentang fatwa merokok haram.

Jika Amien Rais masuk ke Muhammadiyyah, kita bisa membayangkan resiko-resiko yang mungkin akan dihadapi warga Persyarikatan Muhammadiyyah. Amien Rais adalah sosok politisi yang pintar melontarkan pernyataan politik dan akrab dengan dunia media massa. Tetapi ia bukan sosok manajer organisasi yang sukses. Buktinya, ya kondisi PAN itu sendiri. Dalam Pemilu 2009 PAN semakin terpuruk. Pada Pemilu 1999 perolehan suara PAN tidak besar, tahun 2004 merosot, tahun 2009 lebih merosot lagi. Nah, itulah bukti nyata prestasi kepemimpinan Amien Rais. Kata orang, fakta lapangan (qaulul haal) lebih kuat ketimbang ucapan teoritis (qaulul lisan).

Malah, disini kita perlu bicara tentang kebenaran apa adanya. Kondisi PAN saat ini adalah kondisi terburuk, sejak partai ini berdiri di awal Reformasi. PAN hari ini adalah partai yang dikangkangi oleh Hatta Radjasa; sedangkan Hatta Radjasa adalah sub sistem dari politik liberalisme SBY. Seharusnya, Amien Rais bekerja keras memulihkan wibawa partainya, agar lurus dan mandiri. Tidak layak Amien Rais ingin masuk ke tubuh Muhammadiyyah dalam keadaan partainya sendiri rusak; lalu dia beresiko menularkan segala kerusakan ke tubuh Persyarikatan Muhammadiyyah. Dia harus memahami, betapa sulitnya membangun kemajuan dan tetap survive di tengah-tengah situasi kehidupan yang penuh gejolak seperti saat ini.

Di sisi lain, PAN telah melakukan DOSA BESAR kepada Soetrisno Bachir, mantan Ketua Umum PAN. Dosa itu dilakukan secara kolektif oleh para politisi PAN dan Amien Rais menyaksikannya. Bahkan sangat mungkin, Amien ikut berserikat dalam dosa politik itu. Dosa apakah yang dimaksud? Ya, PAN membuka pintu lebar-lebar kepada Soetrisno Bachir untuk memimpin PAN, karena dia seorang pengusaha kaya. Benar saja, Soetrisno pun mengorbankan ratusan miliar dana untuk membesarkan PAN dan memenangkan kompetisi politik. Namun, setelah Soetrisno berkorban habis-habisan, agenda politiknya disingkirkan secara licik. Amien Rais secara aktif ikut berperan menyingkirkan Soetrisno dari barisan pengurus PAN.

Dalam dialog dengan TVOne, Soetrisno Bachir mengaku, dengan pengalaman-pengalamannya selama di PAN, dia bisa memahami mana teman yang baik dan mana teman yang curang. Dia juga merasa kecewa ketika menyaksikan orang-orang yang semula dia anggap baik, tetapi kemudian terbukti moralnya tercela.

Sekedar mengingatkan. Pasca Pemilu Legislatif 2009, Soetrisno Bachir ingin membawa PAN berkoalisi dengan Gerindra dan Prabowo Subianto. Meskipun sama-sama memperoleh suara kecil, mereka bermaksud mencari celah untuk maju ke bursa Pemilihan Presiden. Sementara Hatta Radjasa terus bergerilya agar suara PAN dilimpahkan ke kubu SBY, tentu dengan kompensasi kursi kekuasaan bagi Hatta Radjasa. Soetrisno Bachir tidak mau menjual idealisme PAN.

Hatta Radjasa tidak kehilangan akal. Dia langsung bypass ke Amien Rais. Hatta tahu, sekuat-kuatnya Soetrisno Bachir di PAN, masih lebih kuat posisi Amien Rais. Entah, lobi politik apa yang dilakukan Hatta Radjasa sehingga hati Amien Rais menjadi lumer. Seperti biasa, Amien Rais melakukan kebiasaan lama, menjilati ludahnya sendiri. Amien Rais membuat pertemuan petinggi-petinggi PAN di Yogyakarta, tanpa persetujuan dan kompromi dengan Soetrisno Bachir. Tentu saja dalam pertemuan Yogya itu, seorang tokoh yang kemana-mana selalu menjual label “mantan tapol Tanjung Priok” ikut serta. Dia duduk di baris terdepan, dengan senyumnya yang sumringah, mendampingi Hatta Radjasa.

[Betapa hinanya manusia-manusia seperti ini. Tidak ada konsistensi, tidak ada ketegasan sikap, tidak ada sikap amanah, bahkan rasa malu pun sudah lenyap. Padahal Amien Rais itu dulu sangat terkenal dengan ucapannya, “Kambing congek pun tidak akan menanduk batu sampai dua kali.” Lha ini? Mereka mengulang-ulang tontonan kehinaan berkali-kali, dengan modus yang sama, meskipun retorikanya berganti-ganti. Allahu Akbar, laa haula wa laa quwwata illa billah].

Sebelum meresmikan sikap politik PAN untuk berkoalisi dengan SBY, Amien Rais mengucapkan pernyataan super pragmatis. Katanya, dalam berpolitik, PAN harus bersikap realistik, yaitu bergabung dengan kekuatan politik yang peluang menangnya lebih besar (SBY dan Demokrat). Ya Allah ya Karim, begitu murahnya Amien Rais dalam menghargai kadar perjuangan politiknya. Hanya kekuasaan belaka sasarannya. Semua itu jelas tidak sesuai dengan omongan-omongan Amien Rais selama ini, yang sangat menekankan pentingnya moral, melebihi kekuasaan.

Satu catatan yang sangat menjengkelkan. Mengapa Amien Rais sampai membuat pertemuan mandiri, tanpa restu dari Ketua Umum PAN, Soetrisno Bachir? Bukankah itu sama saja dengan mengobrak-abrik mekanisme partai sendiri? Atau dengan kata lain, Amien Rais bersikap sewenang-wenang, tidak mengindahkan aturan partai dan hierarki kepengurusan di tubuh PAN.

Jika disini saya terkesan peduli dengan Soetrisno Bachir, bukan karena memiliki interest politik seperti dirinya, atau memiliki interest lain karena posisinya sebagai seorang pengusaha. Tidak sama sekali. Kita hanya ingin menegakkan supremasi moral saja, dalam konteks apapun. Kalau mengikuti pesan Nabi Saw, “Unshur akhaka zhaliman au mazhluman” (tolonglah saudaramu, baik yang zhalim maupun yang dizhalimi). Pak Soetrisno dalam posisinya sebagai orang yang dizhalimi secara semena-mena, ya harus diberikan simpati padanya.

Dan yang lebih mengenaskan, adalah tokoh-tokoh politisi PAN yang mengikuti saja kemauan Amien Rais, meskipun itu salah dan melanggar aturan partai. Mereka amat sangat oportunis. Mereka tidak memiliki moralitas, idealisme, serta keteguhan sikap. Yang ada hanya kekuasaan, kekuasaan, dan keuangan. Di hari ini, kalau melihat sosok Hatta Radjasa, Patrialis Akbar, AM. Fatwa, dan tokoh-tokoh PAN sejenis; ada rasa nyeri di hati. Orang-orang ini dulunya sangat idealis, sekarang menjadi dedengkot-dedengkotnya oportunisme. Mengerikan!

[Kalau ingat bagaimana kritisnya Hatta Radjasa saat mengkritik Pemerintahan Abdurrahman Wahid dulu, lalu menyaksikan kini betapa jinaknya sikap Hatta Radjasa di hadapan SBY. Allahu Akbar, kekuasaan begitu dahsyat dalam mematikan hati manusia dan membunuh semangat juangnya. Hal-hal beginilah yang kerap membuat masyarakat putus-asa melihat masa depan politik].

Sungguh sedih kalau mengenangi jejak rekam para politisi PAN, khususnya Amien Rais. Entahlah, petunjuk apa yang membimbing jalan mereka? Mereka seperti orang-orang kebingungan yang terperangkap lorong gelap tanpa ujung. Dalam kondisi seperti itu, masihkah mereka memikirkan missi politik Islam dan kepentingan Ummat? Rasanya, terlalu mewah kita menitipkan harapan disini.

Ini seperti percobaan orang-orang yang sok pintar dengan demokrasi; merasa paling nasionalis, paling inklusif; lalu meremehkan nilai-nilai Islam yang seharusnya diperjuangkan. Islam akhirnya hanya menjadi kendaraan politik, dipakai selama menguntungkan; diamputasi, jika merugikan.

Alhamdulillah, kita bersyukur Muhammadiyyah semakin komitmen dengan khittah-nya sebagai Jum’iyyah Dinniyyah, konsisten mengawal institusi-institusi pelayanan Ummat, serta mengembangkan politik kebangsaan, bukan politik kekuasaan. Muhammadiyyah sudah berada di track yang semestinya. Jika Amien Rais kemudian masuk ke Muhammadiyyah, entahlah apa yang akan terjadi disana? Semoga Allah memberikan kita keselamatan lahir batin, dunia Akhirat. Amin ya Sallam.

Di usianya yang ke-67, kita memposisikan Prof, Dr. Haji Muhammad Amien Rais, sebagai orangtua yang harus dihormati. Tetapi sebagai bagian dari Ummat, kita tidak bisa membiarkan seseorang terus mengeluarkan ijtihad-ijtihad politik yang keliru, sehingga akibatnya sangat merugikan kehidupan Ummat. Harus dicatat, ijtihad politik itu mudah diucapkan. Seseorang tinggal membuat analisis instant, lalu mengundang wartawan untuk menggelar konferensi pers. Mudah. Tetapi resiko ijtihad politik yang keliru bisa menimpakan kesengsaraan besar bagi Ummat.

Apalagi di Indonesia ini ada budaya sosial yang sangat buruk. Kalau ada orang kecil (atau tokoh minor) yang berbuat salah, dia akan segera diadili sekeras-kerasnya, dikecam, divonis, dihujat sekencang-kencangnya. Tetapi kalau kalangan elit yang berbuat salah, semua instrumen sanksi seperti impoten, lumpuh secara kolektif. Bahkan sekali pun kesalahan tokoh elit itu berulang-ulang, hingga sampai ke titik menghujat Allah dan Rasul-Nya, ia tetap ditoleransi, dimaafkan, lalu dilupakan. Malah kalau perlu, sang tokoh digelari “pahlawan nasional”.

Sepertinya, dalam hati masyarakat kita masih ada keyakinan, bahwa kalangan elit adalah “manusia titisan dewa”. Mereka selalu benar, dan tidak boleh salah. Kalau ada yang menemukan kesalahan kaum elit, dengan fakta-fakta yang nyata dan data yang solid, bukan kesalahannya yang harus diubah, tetapi standar kebenarannya yang harus disesuaikan. Masya Allah, sangat mengerikan.

[Konsep “manusia titisan dewa” ini dipakai di berbagai tempat, termasuk dalam lingkup dakwah Islam, gerakan dakwah, partai Islam, dan sebagainya. Kalau elit yang salah, dicarikan pembenaran sebanyak-banyaknya. Kalau orang kecil yang salah, diadili sekeras-keras, dicecar sesengit-sengitnya. Peradaban kita kualitasnya baru sebatas melayani syahwat kaum elit, bukan menegakkan keadilan dan kemakmuran di tengah-tengah Ummat].

Sebagai sesama Muslim, saya menyarankan kepada al mukarram Dr. Amien Rais: “Hendaklah Bapak melakukan pembacaan ulang terhadap segala kiprah politik Bapak selama ini. Cobalah renungkan jalan demokrasi yang Bapak yakini itu, lalu komparasikan dengan missi ajaran Islam yang diamanahkan Allah Ta’ala. Apakah demokrasi versi Bapak tersebut sudah selaras dengan tujuan-tujuan Islam? Jika selaras, apa dampak perjuangan politik Bapak selama ini bagi kemaslahatan hidup kaum Muslimin? Jika tidak selaras, berarti selama ini Bapak menekuni pekerjaan sia-sia. Sesuatu yang tidak mendapat landasan di hadapan Syariat Islam, tidak dihitung sebagai amal di hadapan Allah. Andai setelah proses refleksi ini, Bapak menyadari banyak kesalahan-kesalahan yang Bapak lakukan selama ini, bersikaplah legowo untuk meminta maaf kepada Ummat Islam. Kemudian mundurlah dari gelanggang politik secara kesatria. Diam lebih baik, jika bicara akan membawa fitnah. Setelah itu mari kita sama-sama bertaubat kepada Allah atas segala dosa, sesungguhnya Dia Maha Ghafur Maha Rahiim.”

Ini adalah usulan yang bisa saya sampaikan, sebagai sesama Muslim. Usulan ini seperti “mencarikan jalan pulang” bagi Dr. Amien Rais, di usianya yang sudah senja dengan segala kiprah politiknya selama ini. Dr. Amien Rais belum seekstrem Abdurrahman Wahid, tetapi akibat-akibat kesalahan ijtihad politiknya, ada jutaan kaum Muslimin yang hidup menderita karenanya. Kasihanilah Ummat, sehingga Allah akan mengasihi Anda dan keluarga. Amin.

Kita tutup tulisan ini dengan sebuah doa: “Rabbanaghfirlana dzunubana wa li ikhwaninal ladzina sabaquna bil iman, wa laa taj’al fi qulubina ghillal lilladzina amanu, Rabbana innaka Ra’ufur Rahiim.” Amin Allahumma amin.

AMW.