Selembar Cek dan Kalender Hijriyah

Oleh Husaini Mansur dan Dhani Gunawan Idat

Dewasa ini, alat pembayaran berupa cek (cheque) sudah begitu populer bagi dunia usaha, pedagang, pebisnis, pengembang, tokoh-tokoh masyarakat, pemimpin organisasi, baik Pemerintah maupun Swasta dll. Apalagi di kalangan perbankan. Berbagai cek dari nasabah harus diselesaikan setiap hari, supaya arus perniagaan dan sistem pembayaran tetap berjalan lancar, tanpa kendala.

Tinggal Nulis Angka Nominal.

Namun pertanyaan yang kemudian muncul, apakah memang ada hubungan (korelasi) antara cek sebagai alat pembayaran di satu pihak, dengan Tahun Hijriyyah di pihak lain, yang notabene merupakan sistem penanggalan Islami? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, melalui artikel ini, penulis akan mencoba mengetengahkan latar belakangnya.

BERAWAL DARI INOVASI

Pada masa Umar bin Khaththab menjadi Khalifah (634 – 644 M), wilayah Islam sudah menyebar ke segala penjuru. Jika sebelumnya pemerintahan hanya terbatas di Jazirah Arabia, kini semakin meluas, mulai dari Irak dan Persia di Kawasan Timur, hingga ke Syam dan Mesir di Kawasan Barat.

Menyadari perlunya pemerintahan yang bersih dan berwibawa, Khalifah Umar-pun menjadikan kesejahteraan pegawai dan prajurit sebagai salah satu prioritas Pemerintah. Imbalan kerja diberikan dalam jumlah mencukupi, sehingga Aparatur Negara merasa betah dan nyaman melaksanakan tugas. Sebagai bentuk atensi, Sang Khalifah kemudian mendirikan Diwan, sejenis Lembaga Negara yang mengatur gaji bulanan aparat, dan mulai berfungsi pada 15 H.

Agar pembayaran gaji tidak tumpang tindih, disamping daftar gaji, kepada masing-masing aparat yang akan menerima gaji, diberikan semacam kupon yang dinamai sakk atau sukuk. Isinya berupa ”perintah tertulis” dari Khalifah kepada Diwan, untuk membayarkan gaji kepada mereka yang berhak menerima, yaitu aparat pemegang kupon tersebut. Berkat adanya surat perintah yang berdimensi kontrol ini, pembayaran gaji akhirnya terlaksana secara efektif dan tepat waktu.

Bahkan pada saat paceklik melanda Kota Mekkah dan Madinah (17-18 H), metode surat perintah yang sudah teraktualisasi ini, ikut difungsikan Khalifah Umar. Konon dalam tahun kekeringan yang disebut juga sebagai Tahun Ramadah atau tahun kelabu itu, pembagian gandum (tunjangan natura) kepada penduduk dilakukan dengan  sistem yang serupa.

SUMBER MOTIVASI PEBISNIS

Dibelakang hari, Surat Perintah Pembayaran khas Khalifah Umar menjadi sumber motivasi tersendiri bagi pedagang atau pebisnis. Jikalau Khalifah Umar mengeluarkan Surat Perintah Pembayaran dalam rangka pelaksanaan tugas umum Kenegaraan, para pedagang atau pebisnis berinovasi mengeluarkan Surat Perintah Pembayaran dalam usaha bisnis, yakni pelunasan utang piutang yang berasal dari jual beli produk (komoditas). Prosesnya tentu saja dilakukan secara Islamiyah.

Perintah tertulis yang kemudian dikenal sebagai cek ini, ternyata begitu aplikatif di lapangan. Betapa tidak. Jika sebelumnya pembayaran di antara sesama pedagang, pemasok dan langganan dilakukan melalui kas (uang tunai), kini dapat diganti dengan cek (non cash), dengan tenggang waktu tertentu.

Berubahnya sistem pembayaran dari tunai ke cek, tentu tidak terlepas dari kondisi ekonomi yang paceklik di Tahun Ramadah – seperti telah diungkapkan –  sehingga daya beli menurun. Fenomena tersebut terlihat pula dalam formalitas cek. Berbeda dengan aturan cek dewasa ini, dimana pembayaran harus dipenuhi oleh pihak tertarik (Bank) begitu cek diunjukkan kepadanya, maka cek pada masa itu dapat dibayarkan dalam rentang waktu tertentu seperti tertulis dan telah disepakati di dalam cek. Dengan demikian, pembeli memiliki waktu jeda dalam pembayaran.

IDE PENETAPAN TAHUN BARU HIJRIYYAH

Permasalahan kemudian timbul, tatkala si penagih (penjual barang) akan mengklaim pembayaran cek. Pasalnya, cek-cek yang diterbitkan oleh pihak pembeli, tidak mencantumkan tahun pembayarannya. Yang ada hanya bulannya saja. Misalnya, bulan Sya’ban.

Ketika hal itu dikonfrimasikan kepada Khalifah Umar (Kepala Negara), Beliau-pun ikut bertanya. “Bulan Sya’ban yang manakah ? Apakah tahun ini, atau tahun lainnya ?” (Riwayat Maimun bin Mihran).

Selain kasus cek ini, Khalifah Umar juga diriwayatkan menerima surat dari Abu Musa Al-Asy’ari, Gubernur Kufah yang menggugah surat Khalifah Umar kepada sang Gubernur, karena tak ada tanggalnya. Kealpaan tersebut segera menyadarkan Khalifah Umar, bahwa sejauh ini Kaum Muslimin memang belum menetapkan penanggalan atau Tarikh Islamiyah secara resmi. Padahal tuntutan zaman harus diakomodir.

Karena itu, Khalifah Umar segera berembug dengan para sahabat yang berkompeten untuk mencari solusi yang tepat dalam hal penanggalan (kalender). Dari pertemuan yang terjadi, terdapat beberapa usulan. Ada sahabat yang menghendaki agar Tarikh Islam dimulai dari tahun kelahiran (Maulid) Nabi Muhamad SAW. Ada pula yang ingin mengaitkannya dengan Nuzulul Qur’an, atau peristiwa Isra’ Mi’raj. Sedangkan Ali bin Abi Thalib mengusulkan, agar Tarikh Islam dikaitkan dengan Hijrah Nabi ke Yastrib (Madinah).

Konon mayoritas sahabat termasuk Khalifah Umar sendiri menyetujui usul Sayyidina Ali yang menisbatkan Tarikh Islam dengan Hijrah Nabi. Dari aspek kejuangan, Hijrah Nabi yang monumental dan bersejarah, dinilai lebih tepat dan mengena sebagai awal perhitungan Tarikh Islam. Karena lewat peristiwa ini, Kaum Muslimin dapat membuka lembaran baru menuju masa pencerahan. Yakni, dari cahaya gelap (adz-dzulumat), ke cahaya terang atau cerah (an-Nur).

Dengan alasan tersebut, Khalifah Umar segera memutuskan bahwa Tarikh Islam mengacu ke Hijrah Nabi yang secara historis bersesuaian dengan tahun 622  Masehi. Menurut riwayat, keputusan bersejarah ini ditetapkan pada bulan Rabi’ul-awwal tahun ke 16 H. Sedangkan sumber lain mengatakan pada tahun ke 17 atau 18 H. Berbeda dengan Tarikh Masehi yang mengacu ke peredaran matahari (Syamsiah), Tarikh Hijriyyah dikaitkan dengan peredaran bulan (Qamariah), dan memperlakukan tanggal 1 Muharram sebagai awal tahun kalender. Demikianlah fenomena Tahun Hijriyyah, yang setiap tahunnya diperingati secara khidmat oleh Kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia. Tak terkecuali pada 1431 H tahun ini.

PERKEMBANGAN CEK DI DUNIA ISLAM

Dari rangkaian peristiwa tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa Surat Perintah Pembayaran Gaji dan Tunjangan Natura warisan Khalifah Umar ternyata telah menginovasikan temuan baru berupa cek. Tak terduga, warkat bank yang  canggih ini, mampu memberi efek positif dalam perekonomian. Kosakata cek atau ”sakk” (Bahasa Arab) yang awalnya dipahami hanya sebatas tanda bukti adanya utang piutang dalam bentuk surat berharga itu, ternyata kemudian mampu berperan secara massal dan menyeluruh guna menggerakkan roda perdagangan, keuangan dan sistem pembayaran, di dalam koridor Perbankan.

Bahkan lebih spektakuler lagi, warkat tunai yang amat likuid ini, juga ikut aktif mendorong lahirnya Tahun Baru Hijriyyah yang fenomenal. Subhanallah.

Dalam pada itu, popularitas cek sebagai alat pembayaran kian menanjak di abad pertengahan (abad ke-10 M), seiring dengan munculnya jasa penukaran uang yang disebut Shairafi atau Ash-Sharf (money changer). Usaha jasa yang mulanya terbatas pada kegiatan tukar menukar uang ini, lambat laun dipercayai pula oleh umum untuk mengelola simpanan (deposit) dan jasa pengiriman uang (transfer).

Malah pada perkembangan berikutnya, Shairafi juga dapat dititipi amanat  membayar cek oleh pemilik deposit (rekening), sehingga konstruksi cek yang melibatkan beberapa pihak, terlihat kian lengkap, lebih transparan dan akuntabel (dapat dipertanggung-jawabkan). Jika sebelumnya, cek hanya melingkupi dua pihak, yaitu pembeli (penerbit cek) dan penjual (pemegang cek), kini telah melibatkan pihak ketiga, yaitu Shairafi, sebagai “pihak tertarik” yang bertugas menyelesaikan pembayaran cek. Dengan terlibatnya Shairafi yang akuntabel, cek-pun kian berkiprah, tak ubahnya seperti kita saksikan di Bank Umum dewasa ini.

Ahmad Y. Al-Hassan dan Donald R. Hill di dalam buku mereka, tentang Teknologi Dalam Sejarah Islam (1993), secara eksplisit mengakui begitu luasnya pemakaian cek dan surat-surat berharga pada masa itu, sehingga cek yang terbit di Kota Baghdad (Irak) dapat dicairkan (diuangkan) di Kota Marokko (Afrika Utara). Seperti yang dilaporkan dari Kota Basrah, yang merupakan pusat perdagangan di Kawasan Timur, masing-masing pedagang mempunyai rekening sendiri di Bank (Shairafi). Pembayaran dilakukan dengan cek, bukan tunai.

Karenanya, sangat boleh jadi pula, metode tatabuku berpasangan yang kini dikenal sebagai “akuntansi”, seperti diklaim oleh berbagai ilmuwan dan peneliti – dimana para ilmuwan menyebutkannya sebagai The Arab’s more sophisticated double entry accounting system (metode tatabuku berpasangan yang lebih canggih dari Arabia) – justru lahir dan mulai dioperasikan saat itu, sebagai respons positif terhadap kesuksesan usaha Shairafi yang kinerjanya notabene dimotori oleh cek dan surat-surat berharga lainnya.

BUDAYA CEK MENYEBAR KE BARAT

Dengan bergulirnya sang waktu, budaya cek atau sakk warisan Islam, secara alamiah menyebar ke Dunia Barat lewat jalur perniagaan. Penyebaran tersebut konon dipicu oleh kebangkitan ekonomi Eropa menjelang era pencerahan (renaisans) pada awal abad ke-14 M. Di kawasan yang baru ini, ungkapan “sakk” versi Khalifah Umar, mengalami perubahan dialek menjadi “check” dalam Bahasa Inggris, atau “cheque” dalam Bahasa Prancis.

W. Montgomery Watt, orientalis kenamaan Barat yang banyak mengendus kata-kata Arab yang diserap oleh Eropa, menyatakan bahwa secara gramatikal, ungkapan “sakk” dapat diartikan sebagai “written agreement” yang berarti perintah membayar atau persetujuan tertulis. Sedangkan ilmuwan lain, Melvyn K. Lewis, mengungkapkan bahwa selain cek atau sakk, banyak istilah perdagangan dalam bahasa Barat yang terambil dari Bahasa Arab. Fenomena ini, antara lain terlihat dari berbagai temuan etimologis.

Sebagai contoh, kosakata sensal atau sensale (Eropa), berasal dari Bahasa Arab, simsar, yang berarti broker atau pedagang besar. Contoh lainnya, avalis atau aval (Prancis), terambil dari kata hiwalah atau hawal, yang mengandung makna penjaminan atau pengalihan hak dalam wesel.

Bahkan kata wesel itu sendiri, yang dikenal sebagai wissel (Belanda) atau wechsel (Jerman), sangat besar pula kemungkinannya, berasal dari kata al-wasail, wasilah atau tawassul. Yang secara harfiah dapat diartikan sebagai jalan atau media perantara.

Jika al-wasail dalam Bahasa Arab dapat dimaknai sebagai media perantara dalam keuangan, maka wesel dalam pengertian Eropa (Perdata) dapat diartikan sebagai pengalihan hak tagih (endosemen) atas utang piutang melalui media perantara yang bernama wesel. Selain itu, wesel dalam Bahasa Arab, disebut juga sebagai kambiyalah, yang kemudian teradopsi ke dalam Bahasa Italia menjadi cambio.

Begitu dominannya Bahasa Arab yang dijiwai nilai-nilai Islam pada masa lalu, sehingga tak heran, jika Watt dalam ulasannya menegaskan bahwa nilai-nilai Islam yang kondusif, senantiasa mampu memberi dan menghasilkan atmosfir yang luas bagi perdagangan. (Dikutip dan diolah kembali dari berbagai sumber).

Depok , 20 Januari 2010.

CATATAN EDITOR: Husaini Manshur adalah pensiunan pegawai Bank Indonesia. Dani Gunawan Idat adalah seorang pemerhati isu keislaman. Keduanya tinggal di Depok. Artikel di atas disusun dalam rangka peringatan Tahun Baru Hijriyyah 1431 H, dan pernah dipublikasikan di buletin internal BI.

Iklan

One Response to Selembar Cek dan Kalender Hijriyah

  1. pujohari berkata:

    Tanya donk!
    Adakah informasi bahwa penggunaan tanggal dalam surat atau dokumen lainnya sebelum masa umar ini?

    Saya mau nulis bahwa umar-lah sebenarnya ‘bapak administrasi” dengan ijtihadnya itu, tetapi takut klo ada sejarah lainnya. Saya coba telusuri sejarah penanggalan masehi. dsb belum ada informasi bahwa tujuan penanggalan tersebut untuk administrasi, paling2 perayaan agama. tetapi saya tidak tahu jika dalam prakteknya mungkin ada.

    Mohon informasi jika ada.
    Jazakumullah.

    Backpacker ala Imam Bukhari di http://maknasahabat.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: