Cemas Soal Kapitalisme Ibadah

Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah. Semakin kesini rasanya semakin perih memperhatikan proyek-proyek pembangunan di Saudi saat ini, khususnya di lingkungan Makkah Al Mukarramah.

Belum lama lalu saya membaca tulisan Syaikh Mamduh Farhan Al Buhairi di majalah Qiblati. Beliau menceritakan kesedihan dan tangisannya atas dibongkarnya ribuan gedung, rumah, dan bangunan di sekitar Masjidil Haram, dalam rangka pelebaran area ibadah. Beliau merasa, sebagian sejarahnya di Makkah telah hilang. Ya, beliau dilahirkan di Syuqul Lail, kawasan Makkah. Sejak kecil beliau dibesarkan dalam lingkungan Masjidil Haram, belajar disana, sampai dewasa. Syaikh Mamduh menangis, begitu pula orang lain, saat melihat bangunan-bangunan yang membekaskan kenangan spiritual besar, bertumbangan dihabisi budozer.

Makkah hanya diwariskan kepada orang-orang bersyukur.

Wajah Makkah sekarang berubah. Kenangan besar terhadap masa lalu yang indah, penginapan, hotel, pedagang kaki lima, burung-burung merpati yang berkumpul di jalan-jalan,  burung elang beterbangan, money changer, dan sebagainya, seolah lenyap. Tidak dibayangkan, berapa ribu manusia yang sedih melihat sejarahnya, jerih-payahnya, kebudayaan, serta bisnisnya, ikut dibongkar demi “proyek pelebaran” Masjidil Haram.

Ya Allah, demi Engkau ya Rabbi yang Maha Pemurah, sesungguhnya Masjid-Mu itu tidak butuh dilebarkan lagi. Ia sudah terlampau lebar. Biarlah Masjid-Mu itu seperti itu, tidak perlu dilebarkan lagi. Biarlah jamaah membludak, biarlah Masjid-Mu penuh manusia, biarlah ya Rahmaan. Tidak ada yang salah dengan semua ini.

Toh, selama Ummat beribadah baik-baik saja. Tidak ada masalah. Malah, kalau Anda datang ke Masjidil Haram dari sekitar jam 10 malam sampai menjelang fajar, ruang-ruang masjid mulia ini banyak yang lowong. Kebanyakan manusia terkonsentrasi di sekitar Ka’bah Al Mubarakah. Ya Allah, sungguh Masjid-Mu tidak butuh dilebarkan lagi.

[Kalau Dinasti Ibnu Saud masih merasa punya uang dan kekuatan, silakan mereka perluas wilayah Islam. Taklukkan negara-negara bukan Muslim, terjuni Jihad Fi Sabilillah, tolonglah Ummat Islam yang merana di muka bumi ini. Itu kalau mereka Mukmin sejati, bukan “pedagang” Masjidil Haram].

Dari situs Sabili.co.id saya membaca beberapa informasi berikut:

[o] Baru-baru ini Dewan Syura Saudi Arabia yang di pimpinan Syaikh Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh telah menyetujui serta akan mempelajari pentingnya meningkatkan dan mengaktifkan bandara udara internasional di Makkah Al-Mukarromah. Dewan ini setuju dengan rencana pengembangan infrastruktur bandar udara serta peralatan yang diperlukan untuk menyelesaikannya dengan teknologi terbaru.

[o] Selain itu otoritas Pemerintah Saudi juga akan memperluas Bandara Thaif menjadi Bandara Internasional. Nantinya Bandara Thaif akan menjadi pendukung Bandara Internasional King  Abdul Aziz di Jeddah dan Bandara Internasional Pangeran Muhamamd bin Abdul Aziz di Madinah, untuk menunjang kebutuhan penerbangan jemaah Haji dan Umrah. Selama ini Bandara Thaif hanya untuk penerbangan domestik saja.

[o] Proyek infrastruktur lain yang sedang dikerjakan Pemerintah Saudi adalah pembangunan jalur kereta api Jeddah-Makkah-Madinah. Menteri Perhubungan dan Transportasi Kerajaan Arab Saudi, Dr. Jabbarah Ash-Sharaysiri, menyatakan pembangunan jalur kereta api untuk Jeddah-Makkah-Madinah sudah sangat siap dan sudah disepakati Majelis Anggaran Kerajaan Arab Saudi. “Jika menggunakan kereta api, maka Makkah-Jeddah hanya akan ditempuh dalam waktu setengah jam. Sedangkan  Madinah-Makkah atau Madinah-Jeddah akan ditempuh dalam waktu dua jam,” kata Jabbarah.

[o] Selain trayek tersebut, juga akan  dibangun  jalur monorail dan kereta api untuk Makkah-Mina-Muzdalifah-Arafah. Anggaran yang disiapkan untuk proyek ini sekitar 6,78 miliar riyal. Kecepatan kereta api mencapai 300 kilometer per jam. Jabbarah juga mengungkapkan, jalur kereta api akan dibangun pula membelah wilayah Kerajaan Arab Saudi dari selatan ke utara. Dari Pelabuhan Islam di Jeddah mencapai Riyadh hingga pelabuhan Raja Abdul Aziz di Dammam, Teluk Arab yang jaraknya mencapai sekitar 950 kilometer.

[o] Pembangunan berbagai proyek infrastruktur  yang dilakukan Pemerintah Saudi ini  membuktikan bahwa mereka sangat serius dalam menangani ibadah haji yang melibatkan jutaan umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Jika proyek-proyek tersebut telah selesai dibangun, maka akan sangat membantu  kelancaran pelaksanaan ibadah haji. Dengan kereta api, Makkah-Jeddah cukup setengah jam, Makkah-Madinah dan Jeddah-Madinah, dua jam.

Sumber artikel: Saudi Akan Dirikan Bandara di Makkah Al Mukarramah.

Kalau kita baca semua kenyataan ini, tampak nyata Pemerintah Saudi seperti sekumpulan para penguasa yang tidak ada rasa syukurnya. Mereka sudah diberi kenikmatan luar biasa dengan dunia yang terhampar di depan mata mereka. Minyak bumi dan berbagai bahan derivatnya adalah anugerah dahsyat. Begitu pula Makkah Al Mukarramah, Arafah, dan Madinah. Semua ini sebenarnya sudah cukup untuk disyukuri, agar Allah Ta’ala tambahkan nikmat-Nya.

Tapi ini tidak, bukannya tambah syukur, tapi ambisi keduniaannya semakin menjadi-jadi. Tidak bisa disangkal lagi, pembangunan berbagai infrastruktur itu adalah demi untuk mempermudah urusan jamaah Haji dan Umrah. Utamanya jamaah Umrah yang setiap hari datang kesana. Sebab kalau jamaah Haji sifatnya hanya sebentar, di seputar bulan Dzul Hijjah saja. Dengan kata lain, Pemerintah Saudi sebenarnya ingin menggenjot pemasukan devisa dari sektor wisata ibadah, yaitu Haji dan Umrah. Jadi syahwat kapitalismenya lebih kuat daripada pelayanan Islam itu sendiri.

Demikian ambisinya Pemerintah Saudi, sampai ribuan bangunan di dekat Masjidil Haram diruntuhkan. Nanti akan dibangun gedung-gedung pencakar langit sebagai gantinya. Itulah yang kita kenal sebagai proyek super ambisius di kawasan sekitar Masjidil Haram saat ini.

Padahal dulu, sebagaimana diceritakan, Gubernur ‘Amr bin Al ‘Ash Ra. di Mesir, beliau tidak berani menggusur rumah seorang Yahudi, dalam rangka perluasan Masjid ‘Amr bin Al ‘Ash. Khalifah Umar bin Khattab Ra. melarang penggusuran itu. Padahal ia rumah orang Yahudi, di Mesir, hanya untuk perluasan masjid biasa, bukan Masjidil Haram lagi. Tetapi saat ini akhlak manusia sudah terlalu jauh.

Di Makkah, tidak boleh ada bangunan yang tingginya melebihi Istana Raja Abdullah, yang lokasinya di samping Masjidil Haram itu. Tetapi saat yang sama, Istana Raja itu tingginya sejajar dengan menara-menara Masjidil Haram. Sejajar menara Akhi, bukan sejajar bangunan utama. Ini kan arogansi yang nyata di hadapan Masjidil Haram. Orang lain tidak boleh membangun gedung melebihi Istana, tapi Istana boleh ditinggikan di atas bangunan Masjidil Haram.

Ya Allah ya Karim, rasanya sangat perih memandang masa depan agama dan Ummat ini. Jangankan di Indonesia, yang di Saudi sana juga seperti itu. Ketika Pemerintah Saudi membongkar ribuan bangunan di sekitar Masjidil Haram, apakah mereka tidak ingat dengan peristiwa perluasan Masjid ‘Amr bin Al ‘Ash di Mesir dulu?

Saya juga pernah mendengar riwayat, ketika Khalifah Umar tidak jadi mengambil talang (pancuran) di dekat Masjid Nabawi, dalam rangka perluasan Masjid. Hanya karena keluarga Nabi menjelaskan, bahwa talang itu dulu Nabi sendiri yang meletakkannya. Lihatlah, hanya demi sebuah talang, Khalifah Umar mengalah. Sampai akhirnya, keluarga Nabi sendiri yang mengambil talang tersebut.

Aku tidak bayangkan, berapa orang yang kecewa dengan proyek perluasan Masjidil Haram itu. Mereka tentu menangis, sedih, atau bahkan merasa dizhalimi keangkuhan “Mega Proyek Perluasan”. Mungkin saja, karena mereka patuh kepada ulama, banyak warga Saudi memilih bersabar. Tetapi siapa bisa mencegah, kalau mereka dalam ratapan doanya mendoakan kecelakaan dan kehancuran Pemerintah Kerajaan Saudi?

Mohon pahami, kita tidak sentimen kepada Pemerintahan manapun, selama ia baik dan menunaikan amanah-amanah Ummat dengan ihsan. Namun kalau terus bersikap buruk terhadap amanah Ummat, ya tidak ada respek kepadanya. Dalam masalah proyek ambisius Pemerintah Saudi saat ini, baik di Makkah, Madinah, maupun Saudi secara umum, mari kita berpikir lebih mendalam. Coba perhatikan beberapa hal di bawah ini:

[a] Masjidil Haram atau Masjid Nabawi tidak perlu diperluas lagi, sebab kedua Masjid Suci itu sudah sangat besar, megah, dengan bentuk bangunan bisa dikatakan, banyak mubadzirnya. Coba lihat Masjid Nabawi, Anda hitung ada berapa tiangnya? Ada ribuan tiang. Masing-masing tiang dibuat dengan biaya besar. Apakah ini yang dinamakan memuliakan Islam, dengan membuat hal-hal mubadzir?

[b] Dua Masjid Suci, tidak selamanya penuh. Malah penuhnya hanya pada momen-momen tertentu, misalnya saat Dzul Hijjah dan Ramadhan. Atau misal saat Shalat Jum’at. Kedua Masjid Suci ini di hari-hari biasa, apalagi di musim-musim panas-dingin, tidak terlalu banyak dikunjungi jamaah. Kalau nanti Masjid ini dibesarkan lagi, siapa kira-kira yang akan menempati tempat yang dilebarkan itu?

[c] Perlu disadari, di saat Pemerintah Saudi belum membongkar ribuan bangunan di sekitar Masjidil Haram, kehidupan di Makkah sendiri sudah cenderung metropolis. Hotel berdiri dimana-mana, transaksi bisnis, mall-mall, pertokoan, termasuk gerai-gerai makanan milik asing (semisal McD dan sejenisnya). Kondisinya sudah menjurus ke arah kehidupan metropolis-industrialis. Nah, kalau misal proyek semisal itu mau dibesar-besarkan lagi, ada gedung-gedung pencakar langit seperti di Dubay, ada monorail, kereta api, dst. lalu wajah Makkah akan menjadi seperti apa nantinya? Saat kemarin saja, situasi spiritualitasnya cenderung merosot karena suasana industrialis, apalagi nanti?

[d] Fakta lain yang jarang diperhatikan adalah masalah tata-lingkungan. Belum lama lalu terjadi banjir besar di Makkah, banjir yang jarang terjadi. Air menggenang sampai lutut orang dewasa. Banjir ini terjadi di sekitar musim Haji tahun lalu. Banyak orang meninggal disana. Terakhir lalu, terjadi badai pasir hebat di Riyadh. Dan saya mendapat informasi, sejak Dubay memiliki gedung pencakar langit tertinggi di dunia, langit di kota itu selalu diselimuti kabut hitam. Ada koneksi yang nyata antara perubahan tata-letak sebuah kota dengan daya dukung lingkungan. Apakah Pemerintah Saudi sudah menghitung sedemikian jauh? Rasanya jauh. Lihat saja, saat mereka membongkar ribuan bangunan itu. Apakah pernah memikirkan unsur hak manusia, hak lingkungan, hak sejarah, hak usaha rakyat, hak estetika, hak kondisi spirital, dll? Halah…

[e] Berbagai proyek ambisius yang dibangun di Makkah, Madinah, dan Saudi saat ini, ia mencerminkan bahwa Pemerintah Kerajaan sedang kebebanan beban yang amat sangat berat. Bisa jadi, kerabat kerajaan meminta lahan-lahan bisnis. Atau beban penyediaan air, listrik, telepon, dll. semakin besar. Belum lagi tekanan “setor minyak” ke dunia Barat sudah mendarah daging. Ya, semua itu merupakan resiko ketika kekuasaan tidak dirawat dengan Kitabullah dan Sunnah. Dalam Al Qur’an dikatakan, “Wa man yata’adda hududallah, faqad zhalama nafsah” (siapa yang melanggar batas-batas aturan Allah, sebenarnya dia hanya menzhalimi dirinya sendiri).

[f] Sebuah negara layak disebut Daarut Tauhid (Negeri Tauhid) kalau dia berani lantang menyeru semua manusia di dunia, “Laa ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah“. Mereka berani teriak dengan nyaring, “Saksikanlah wahai manusia, tidak ada yang kami takuti, selain Allah belaka. Kami tidak takut dengan senjata-senjata kalian, karena hati kami bertauhid. Kami tidak tunduk pada aturan apapun, selain Syariat Muhammad Shallallah ‘Alaihi Wa Sallam. Itulah Syariat terbaik yang harus ditempuh.” Tapi ini lain, mengaku Negeri Tauhid, tetapi jerih menghadapi konflik dengan negara-negara non Muslim.

Saudi itu sudah diberi minyak melimpah-ruah, sudah diberi Masjidil Haram, Masjidin Nabawi, diberi Dua Tanah Suci, tetapi masih merasa belum cukup juga. Sekarang mau menjadikan Tanah Suci sebagai obyek wisata ruhani dunia. Allahu Akbar. Jika caranya demikian, lama-lama Manasik Ibrahim ‘alaihissalam akan tersingkir diganti kesenangan wisata. Na’udzubillah wa na’udzubillah.

Allah Ta’ala pasti tidak akan mengijinkan ada manusia yang merusak Syiar-syiar-Nya. Pasti Allah akan menyelamatkan Ummat ini, menolongnya, memberikan jalan keluar terbaik. Ya Allah tolonglah agama ini, tolongan Ummat Muhammad ini, tolonglah orang-orang beriman! Amin Allahumma amin.

Wallahu Waliyyut taufiq wa yahdi ila sabilir rosyad.

AMW.

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: