Jangan Tinggalkan Dunia Pertanian, Ya Ikhwah!

Mei 31, 2010

Akhi wa Ukhti rahimkumullah…

Tahukah Anda, saat kapan dunia pertanian di Indonesia serasa mengalami pesta besar yang sangat meriah? Ketika itu, semua mata dan akal manusia memuji dan mengelu-elukan dunia pertanian. Ia terjadi tidak lama setelah meledak Krisis Moneter tahun 1997-1998 lalu.

Pasca Krisis Moneter banyak orang mengutuk dunia perbankan, pasar valas, bursa saham, investasi, dll. Mereka menganggap semua itu sebagai biang Krisis Moneter. Lalu pandangan mereka dialihkan ke dunia agrobisnis dan agroindustri. Ketika itu dunia pertanian dipuji-puji. Bahkan saya masih ingat, waktu itu banyak karyawan sektor keuangan di-PHK, lalu mereka banting setir menjadi petani. Ada yang menanam sayuran, jamur, bunga, memelihara ikan hias, sampai membudi-dayakan kodok, cacing, jangkrik, dll.

Harumnya tanah pertanian... Hayo!

Namun saat ini, kekaguman kepada dunia pertanian sudah amblas. Seperti ungkapan, “Hangat-hangat tai ayam.” Minat masyarakat kita kepada dunia pertanian bersifat temporer. Hanya kalau terpaksa saja, mereka peduli dunia pertanian. Kalau dunia industri sudah pulih, pasar uang menggeliat, dunia pabrik marak lagi, mereka pun kembali ke dunia semula. Pertanian hanya dibutuhkan, kalau terdesak. Jika situasi lapang, mereka akan memandang dunia pertanian dengan tatapan sinis, sentimen, bahkan membenci. “Apaan dunia pertanian? Dapat apa dari dunia macam begitu? Apa bisa dunia pertanian ngongkosi selera dugem?”

Sungguh, dunia pertanian ini sangat penting bagi kita. Dr. Aida Vitalaya, seorang pakar pertanian dari IPB (mungkin saat ini beliau sudah menjadi guru besar). Ketika di Indonesia lagi marak-maraknya popularitas IPTN yang sukses memproduksi pesawat, beliau pernah mengatakan, “Meskipun bangsa kita mampu membuat pesawat, tetap saja kita makan nasi.” Begitu kurang lebih ungkapan Dr. Aida.

Ungkapan itu maknanya dalam. Biarpun teknologi telah maju setinggi apapun, sebagai makhluk biologis kita tetap membutuhkan makanan dari bahan-bahan organik. Kita tidak mungkin makan dari bahan-bahan anorganik (non makanan). Artinya, nasib manusia tidak bisa dipisahkan dari dunia pertanian, sebab dunia inilah yang memproduksi makanan untuk manusia.

Dalam film Abad 21 yang dibintai para penyanyi dari grup nasyid Raihan, disana digambarkan suatu komunitas Muslim yang mendiami suatu area tertentu yang sarat dengan teknologi. Bukan hanya teknologi digital, tetapi sampai cuaca di daerah itu pun bisa dimanipulasi. Kalau melihat film ini, betapa kagumnya kita dengan dunia kecanggihan teknologi. Tetapi satu hal yang tidak disentuh dari film tersebut, yaitu penyediaan suplai makanan. Dari mana mereka bisa bertahan tanpa suplai makanan? Mungkinkah mereka akan makan dari bahan kardus, plastik, karet, logam, bahan karbon, sisa-sisa IC, RAM, hard disk, dll.? Jelas tidak mungkin.

Tubuh manusia hanya ramah dengan bahan-bahan organik yang sehat. Jika tubuh kita kemasukan zat-zat anorganik, organ-organ tubuh kita akan rusak. Salah satu buktinya, ada puluhan ribu bayi-bayi di China mengalami gangguan ginjal, setelah ditemukan skandal “susu berbahan melamin” di negara tersebut. Hanya bahan organik yang ramah bagi tubuh.

Secara perhitungan bisnis, usaha di bidang pertanian tidak mengenal kata TAMAT. Bisnis pertanian selalu memiliki prospek cerah, sebab selamanya manusia selalu membutuhkan bahan pangan. Jika ada masalah utama dalam bisnis ini, ialah harga produk pertanian yang bersifat fluktuatif. Jika panen raya, harga turun; jika masa paceklik, harga meroket. Kemudian, tentang masalah pembusukan produk pertanian. Jika produk itu tidak cepat dijual, ia akan membusuk. Kecuali kalau dilakukan usaha-usaha pengawetan. Itulah dua problem tradisional yang dihadapi para petani. Sementara di dunia bisnis lain, problemnya jauh lebih banyak.

Prospek dunia pertanian sangat kuat. Apalagi jika kita bisa menjangkau pasar ekspor. Dunia pertanian bisa menjadi andalan penghasilan yang mapan. Sebagai contoh, produk CPO (Crude Palm Oil) dari kelapa sawit sangat besar bagi Grup Bakrie. Bahkan bisa dikatakan, bisnis minyak sawit inilah yang telah menyelamatkan bisnis Grup Bakrie. Akbar Tandjung dan keluarga Megawati juga memiliki basis bisnis yang besar di bidang kelapa sawit ini.

Mengapa hal ini saya tekankan? Sebab, ada sebuah FAKTA yang sangat membuat hati kita miris. Saat ini, banyak usaha-usaha agrobisnis yang dimiliki orang-orang China. Mereka memiliki perkebunan, persawahan padi, usaha perikanan, peternakan, penangkapan ikan laut, dll.

Seorang kawan pernah mengatakan, bahwa di daerah agrobisnis Lembang, banyak tanah-tanah yang dimiliki orang China. Mereka tidak terjun menjadi petani, tetapi cukup memakai tangan-tangan warga lokal untuk mengelola usaha pertanian itu. Kawan yang lain juga mengatakan, bahwa pengepulan bambu pun banyak dikuasai orang China. Kalau Anda melihat acara-acara TV, disana banyak usaha-usaha agrobisnis yang dikelola orang China. Padahal semula, usaha-usaha itu biasa dikelola oleh warga pribumi Muslim.

Orang-orang China sangat belajar dari kasus Krisis Moneter 1997. Sejak itu mereka sangat menghargai bisnis di bidang pertanian. Sementara orang-orang kita sikapnya “hangat-hangat tai ayam”. Kita berminat kepada dunia pertanian hanya sesaat saja, setelah itu kita abaikan lagi. Amat sangat disayangkan, sangat memprihatinkan.

Sikap tidak konsisten ini juga menimpa kalangan organisasi-organisasi Islam. Mereka semula juga memberi perhatian terhadap dunia pertanian, pasca Krisis Moneter. Tetapi setelah kondisi berubah, mereka berubah pikiran lagi. Padahal seharusnya, kita berpijak kepada PEMIKIRAN ASASI, bukan berpijak di atas fakta-fakta sosial yang selalu berubah-ubah.

Sebuah apresiasi yang tinggi layak kita sampaikan kepada sebuah pesantren agrobisnis Al Ittifaq di Ciwidey, Kabupaten Bandung. Mereka konsisten sejak awal mengelola usaha pertanian dan tidak berubah minat meskipun masyarakat mengabaikan bidang pertanian. Bahkan pesantren ini menjadi proyek percontohan bagi pesantren-pesantren lain.

Akhi wa Ukhti rahimakumullah…

Dunia pertanian adalah anugerah khas Allah Ta’ala kepada bangsa kita. Sejak lama kita dikenal sebagai bangsa agraris. Andaikan bangsa kita tidak menambang barang-barang tambang, namun hanya memaksimalkan dunia pertanian saja, insya Allah hal itu bisa mencukupi kebutuhan hidup kita. Dulu di jaman Orde Baru, Indonesia dikagumi dunia dengan dunia pertaniannya. Namun kini, semua berubah. Kita seperti kata ungkapan, “Anak ayam mati di lumbung padi.” Kita hidup menderita di tengah kesubuhan dan kekayaan alam hayati Indonesia.

Bukan sesuatu yang aneh jika almarhum Buya Muhammad Natsir, mendorong kaum Muslimin di Indonesia sangat memberi perhatian kepada dunia pertanian. Dan hal ini sering diabaikan oleh generasi muda kaum Muslimin. Dibandingkan perdebatan seru seputar isu-isu politik, dunia pertanian memang tidak menarik. Tetapi disini ada fondasi masa depan Ummat Islam, khususnya di Indonesia ini. Jika dunia pertanian sudah berpindah tangan ke orang China dan orang-orang asing, alamat kehancuran Ummat kita sudah di ambang pintu. (Jika itu yang terjadi, maka tidak ada yang lebih disesali, selain diri kita sendiri).

Saya menasehatkan kepada kaum Muslimin agar kembali memperhatikan dunia pertanian. Mohon jangan diabaikan dunia ini. Inilah benteng terakhir kekuatan kita, setelah kaum Muslimin kalah bersaing di dunia bisnis perkotaan dan industri. Gerakan-gerakan mahasiswa Muslim sebaiknya ikut peduli. Mereka jangan sibuk berdebat soal isu-isu politik melulu, lalu mengabaikan benteng ekonomi Ummat ini. Harus ada konsentrasi serius di bidang ini.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Semoga Allah menolong kaum Muslimin untuk memperbaiki kehidupan mereka, memperbaiki keimanan dan martabat mereka. Allahumma amin.

AMW.


Hukum Meyakini Negara Islam

Mei 31, 2010

Belum lama lalu ada pembicaraan luas tentang hukum merokok. Majlis Tarjih Muhammadiyyah memfatwakan bahwa merokok itu haram. Para petani tembakau protes dengan fatwa ini, sebab dianggap berpotensi menutup mata pencaharian mereka. Selain fatwa merokok, kita juga pernah mendengar banyak fatwa, misalnya tentang aborsi, donor organ tubuh, KB, nikah sirri, mengucapkan “selamat natal”, golput, kepiting, tape, film, sulap, dan lain-lain.

Dalam perkara-perkara itu, kita kerap bertanya, “Apa hukum masalah ini dan itu? Bagaimana boleh atau tidak boleh? Halal atau haram?” Dan sebagainya. Dalam urusan muamalah, ibadah, makanan-minuman, profesi, kesehatan, dll. kita sangat sering menanyakan hukum suatu perkara.

Sebagai seorang Muslim, pernahkah kita terpikir untuk bertanya tentang hukum Negara Islam? Bagaimana hukumnya, wajibkah, sunnahkah, mubahkah, atau haram? Perkara Negara Islam tentu lebih penting dari masalah tape, alat kontrasepsi, kloning, film, dan sejenisnya. Ini adalah masalah mendasar dan sangat fundamental. Masalah Negara Islam adalah urusan besar yang menyangkut banyak perkara. Nah, mengapa kita tidak pernah mempertanyakan perkara tersebut?

Jejak Kejayaan Negara Islam.

Jujur saja, kalau seorang Muslim ditanya, hatta itu seorang anggota majlis ulama, apa hukumnya menegakkan konsep Negara Islam? Banyak yang tak akan mampu menjawab. Bila ada jawaban, paling penuh keragu-raguan. Padahal kata Nabi Saw, “Al halalu baiyinun wal haramu baiyinun,” yang halal itu jelas, yang haram juga jelas. Tetapi dalam urusan hukum Negara Islam, seolah semuanya tampak kabur, rumit, penuh perselisihan.

BERBAGAI PANDANGAN KELIRU

Di tengah masyarakat Indonesia, banyak sekali pendapat-pendapat keliru tentang Negara Islam. Pendapat itu beredar dari yang paling lunak sampai yang paling ekstrim. Di antara pendapat-pendapat tersebut adalah sebagai berikut:

[o] Negara Islam adalah konsep yang melanggar hukum, subversif, ide teroris, sehingga ia harus dimusnahkah, ditumpas, disikat habis sampai ke akar-akarnya. (Pandangan ini dianut oleh Densus 88 dan makhluk sejenis. Mereka bersikap seperti musyrikin Makkah yang memerangi Nabi Muhammad Saw, dalam rangka menghancurkan Islam sampai ke akar-akarnya).

[o] Negara Islam adalah ide yang serupa dengan komunisme, maka ia harus dilarang secara mutlak, karena mengancam NKRI. Negara Islam sama seperti ancaman PKI. (Pandangan ini dianut oleh umumnya perwira dan anggota TNI, baik yang masih aktif atau sudah pensiun. Mereka seperti tidak pernah membaca sejarah, bahwa sebelum ada NKRI, di Indonesia ini sudah berdiri banyak Kerajaan Islam. Bahkan yang memperjuangkan Kemerdekaan RI banyak dari kalangan laskar santri, seperti Hizbullah dan Sabilillah. Bahkan Jendral Soedirman adalah seorang perwira santri. Hanya karena otak TNI sudah disandera pemikiran anti Islam yang dibawa oleh Nasution, Urip Sumoharjo, Gatot Subroto, Soeharto, Ali Moertopo, LB Moerdani, dkk. maka mereka selalu sinis kepada ide Negara Islam. Terhadap negara Hindu seperti Majapahit atau negara Budha seperti Sriwijaya, mereka tidak menolak. Tetapi terhadap Negara Islam, sangat anti. Aneh sekali).

[o] Negara Islam akan menghancurkan NKRI, sebab Indonesia Timur akan menuntut merdeka dari Indonesia. (Pandangan ini dianut oleh kebanyakan orang Indonesia. Pelopornya ialah Soekarno dan Hatta. Dalam kenyataan, meskipun dulu ada gerakan DI/TII, Indonesia tidak pernah bubar. Lagi pula, meskipun saat ini tidak ada Negara Islam, tetap saja muncul gerakan separatisme di Aceh, Maluku, Papua, dan mungkin daerah-daerah lain. Separatisme itu muncul kebanyakan karena daerah-daerah merasakan kebijakan politik Jakarta yang tidak-adil, khususnya dalam soal ekonomi. Dalam kondisi seperti saat ini banyak orang percaya, bahwa NKRI akan bubar juga, meskipun tanpa faktor Negara Islam. Justru seharusnya diajukan pertanyaan terbalik: Bagaimana NKRI bisa bertahan tanpa peranan Sistem Islam? Toh, sudah terbukti selama 65 tahun sistem sekuler gagal?).

[o] Negara Islam tidak dikenal dalam ajaran Islam, sebab dalam Kitabullah dan Sunnah, tidak ada istilah ‘negara’. (Pandangan ini dianut oleh Gus Dur, orang-orang Liberal, dll. Jadi, kalau dalam Al Qur’an dan Sunnah tidak ada istilah madrasah (sekolah), majlis taklim, qomus (kamus), majalah, jaamiah (universitas), nahwu-shorof (ilmu bahasa Arab), mustholah hadits (studi hadits), dll. Berarti semua itu tidak dibutuhkan oleh Islam? Begitukah?).

[o] Negara Islam tidak relevan dalam kehidupan modern, sebab ia tidak cocok dengan nilai-nilai Barat yang modern, trendy, aktual, membebaskan. Negara Islam hanya cocok di jaman batu, atau jaman “gurun pasir” di masa lalu.

[o] Negara Islam itu masih khilafiyah. Ada yang membolehkan dan ada yang melarang. Kami ikut para ulama saja. Ikuta pa? Ya, menerima konsep negara sekuler. Selama pak kyai dan ustadz-ustadz kami setuju negara sekuler, kami ikut mereka saja. Ini lebih aman dan selamat. (Selamat apa? Maksudnya, selamat sampai kecemplung ke neraka?).

[o] Negara Islam boleh, tapi sekuler juga boleh. Ini hanya soal pilihan saja dalam memilih bentuk sistem politik yang kita sukai. (Andaikan hanya pilihan, buat apa Nabi sampai hijrah dari Makkah yang menganut sistem jahiliyyah?).

[o] Negara Islam lebih sesuai Syariat Islam, tetapi kita tidak boleh melawan penguasa. Mentaati penguasa lebih utama daripada memperjuangkan Negara Islam. Kaum “Ahlus Sunnah” tidak pernah menentang penguasa, meskipun itu penguasa kafir yang menerapkan sistem kufur. Bagi “Ahlus Sunnah” mentaati penguasa adalah KEWAJIBAN TERBESAR dalam agama, melebihi ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Bersujud di depan telapak kaki penguasa adalah akidah terbesar kaum “Ahlus Sunnah”. (Tidak ada komentar atas keyakinan seperti ini selain: Na’udzubillah wa na’udzubillah minad dhlalah wa ahliha).

[o] Meyakini Negara Islam adalah pasti, TETAPI (selalu ada tetapi-nya) dalam praktik kenegaraan kita harus pintar bermain politik dan strategi. Kita sama-sama meyakini kebenaran Negara Islam, tetapi kita perlu mengikuti permainan orang sekuler. Hanya itu pilihan kita. Ikuti dulu cara main mereka. Kita kalahkan mereka dengan cara yang mereka buat sendiri, setelah mereka kalah, baru kita dirikan Negara Islam. (Pandangan ini dianut oleh para politisi Muslim dan para aktivis partai Islam/Muslim. Tetapi orang sekuler tidak kalah pintar, mereka membuat banyak syarat yang membuat para aktivis Islam itu tidak berkutik. Akhirnya para aktivis Islam itu ikut berserikat dalam menghalalkan riba, prostitusi, pornografi, minuman keras, perjudian, diskotik, night club, dll. Atas kontribusi mereka dalam ikut menghalalkan perkara-perkara haram, mereka mendapat gaji/insentif besar. Setiap rupiah gaji yang diterima dan dikonsumsi, berasal dari perserikatan dalam menyingkirkan hukum Islam dan menghalalkan perkara-perkara haram. Setelah kenyang dengan gaji semacam itu, mereka mulai sinis kepada siapa saja yang menyuarakan ide Negara Islam).

Semua pandangan-pandangan di atas adalah tidak benar. Bahkan sebagiannya telah menjadi kekufuran yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Ibnul Qayyim rahimahullah pernah mengatakan, bahwa sebab-sebab rusaknya hati ada dua, yaitu syubhat dan syahwat. Pandangan beliau ini sangat tepat untuk mengungkapkan keadaan orang-orang yang menolak Negara Islam. Mereka telah dikuasai oleh syubhat dan syahwat, sehingga tersamar dari melihat kebenaran.

GUNAKAN AKAL SEHAT

Untuk menguji kesalahan pandangan-pandangan di atas, sebenarnya sangat mudah. Cukup dengan bekal AKAL SEHAT kita akan bisa mematahkan pandangan anti Negara Islam itu. Coba perhatikan penjelasan-penjelasan di bawah ini:

Menurut Anda, sesuatu amal disebut Islami karena apa? Apakah karena amal itu dilakukan oleh seseorang yang bernama Muhammad atau Abu Bakar? Apakah karena amal itu dilakukan oleh orang Arab? Apakah karena amal itu diberi label “100 % Sesuai Syariat”? Tentu saja, ia disebut Islami karena sesuai dengan petunjuk Kitabullah dan As Sunnah.

Baca entri selengkapnya »


Sekolah Untuk “Orang Miskin”

Mei 31, 2010

Topik ini merupakan salah satu kecaman besar saya kepada dunia pendidikan kita, khususnya terhadap paradigma berpikir yang mengistimewakan “fakir-miskin” dan “yatim-piatu” dalam pendidikan. Bukan karena saya anti kepada orang miskin atau yatim-piatu, tetapi selama ini kita sering salah kaprah.

Banyak yayasan, lembaga sosial, perusahaan, instansi, BUMN, dll. memberikan fasilitas istimewa kepada kaum fakir-miskin dan yatim-piatu. Mereka diberi beasiswa, kesempatan sekolah, tunjangan, fasilitas, dan sebagainya. Begitu istimewanya kaum fakir-miskin dan yatim-piatu, sehingga ada anak-anak dari keluarga “agak mampu” yang membayangkan keluarganya menjadi miskin, atau ayah-ibunya wafat, agar mereka mendapat fasilitas istimewa dalam pendidikan.

Pendidikan Berbasis "Rasa Kasihan".

Sebenarnya, pendidikan bagi fakir-miskin dan yatim-piatu itu sudah menjadi KEWAJIBAN NEGARA untuk melayani mereka sebaik-baiknya. Bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga kesehatan, gizi, fasilitas hidup, dll. Dimana saja ada masyarakat fakir-miskin dan yatim-piatu, sudah menjadi KEWAJIBAN negara untuk memperbaiki kehidupan mereka. Hal ini bersifat wajib, tidak ada toleransi lagi. Seperti dalam UUD disebutkan, “Fakir-miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.” Jadi, amat sangat telat kalau kita baru sadar bahwa fakir-miskin dan yatim-piatu itu harus ditolong sebaik-baiknya.

Kalau dalam praktik ternyata fakir-miskin dan yatim-piatu diterlantarkan oleh negara, seharusnya para pemimpin itu diajukan ke pengadilan, karena telah melanggar hak-hak rakyat lemah yang seharusnya dibantu, ditolong, dan dientaskan dari penderitaan mereka. Hanya saja, pernahkah di Indonesia ada seorang pejabat diadili karena menerlantarkan fakir-miskin dan yatim-piatu? Tidak pernah ada, dan tidak ada pula yang mau mengajukan tuntutan.

Adapun soal pendidikan, itu masalah berbeda. Ketika bicara tentang pendidikan, pikiran kita harus segera menuju agenda besar, yaitu pemberdayaan SDM. Dalam konteks pemberdayaan SDM, paradigma-nya jangan kepedulian sosial untuk menolong fakir-miskin dan yatim-piatu. Jelas harus dipisahkan antara keinginan membentuk SDM yang kuat dengan kewajiban melayani fakir-miskin dan yatim-piatu. Dua hal tersebut sangat berbeda. Pembentukan SDM terkait dengan missi Departemen Pendidikan, sementara menolong fakir-miskin dan yatim-piatu berkaitan dengan missi Departemen Sosial. Ini dua hal berbeda, jangan dicampur-aduk.

Kalau mau membentuk SDM yang handal, ya bentuklah sebaik-baiknya. Cari manusia-manusia berbakat, komitmen belajar tinggi, motivasi kuat, bermoral luhur, dan sebagainya, lalu berikan bantuan kepadanya sebaik-baiknya. Tidak peduli, dia anak konglomerat atau pengusaha sekalipun. Dimana saja ada bakat-bakat yang kuat di bidang SDM, bantu mereka, didik mereka sebaik mungkin, agar terlahir tenaga-tenaga SDM yang handal.

Bakat dalam belajar, motivasi kuat, bermoral luhur, semua itu sangat dibutuhkan untuk melahirkan manusia-manusia kuat. Dimanapun bakat-bakat itu ada dan ditemukan, apakah di golongan fakir-miskin, golongan menengah, bahkan golongan elit sekalipun, bantu mereka untuk mendapat pendidikan sebaik-baiknya, seluas-luasnya. Setelah itu, kita bisa berharap mereka akan menjadi manusia-manusia handal yang sangat berguna bagi kehidupan masyarakat luas.

Selama ini, ada rasa sedih di hati ketika menyaksikan begitu banyaknya fasilitas kemudahan bagi fakir-miskin dan yatim-piatu. Sementara golongan lain, yaitu anak-anak dari klas “menengah ke bawah”, mereka sebenarnya juga sangat membutuhkan dukungan itu. Hanya karena mereka tidak masuk kriteria “orang miskin” dan “yatim-piatu”, akhirnya mereka diabaikan. Hal ini seringkali berakibat membunuh potensi-potensi besar yang seharusnya lahir di tengah masyarakat kita. Banyak sekali anak-anak yang mampu, berprestasi, motivasi tinggi, rajin ke masjid, patuh kepada orangtua, menghargai kaum wanita; hanya karena mereka “bukan miskin” dan “tidak yatim-piatu”, mereka tidak dibantu sama sekali dalam belajar. Akibatnya, potensi mereka tidak berkembang baik. Bagaimana akan berkembang, wong mereka tidak memiliki biaya cukup untuk mengakses fasilitas-fasilitas pendidikan?

Salah satu contoh, program Dompet Dhuafa Republika. DD Republika memiliki suatu paradigma untuk memberikan fasilitas pendidikan yang istimewa kepada anak-anak miskin yang berprestasi. Tujuan mereka, “Untuk mengentaskan mereka, agar bisa memutus rantai kemiskinan yang membelenggu keluarga mereka.” Sekilas pintas, pemikiran seperti ini benar. Tapi kalau kita kaji lebih dalam, pemikiran seperti ini justru semakin memperpanjang riwayat kemiskinan itu sendiri.

Lho, bagaimana logikanya sehingga pemikiran seperti itu malah disebut memperpanjang riwayat kemiskinan?

Baca entri selengkapnya »


Apakah Indonesia Bisa Menjadi Baik?

Mei 29, 2010

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, pernahkah Anda membayangkan negara ini akan menjadi lebih baik, lebih bermartabat, lebih adil dan sejahtera?

Jika Anda pernah bermimpi demikian, apakah Anda yakin bahwa harapan itu akan tercapai? Jika Anda pesimis dengan nasib Indonesia, lalu persiapan apa yang telah Anda siapkan untuk menyambut era kehancuran Indonesia nanti?

Terus terang, pertanyaan ini untuk kita semua, untuk saya dan untuk Anda semua, wahai para pembaca. Anda kan orang Indonesia, maka Anda harus menentukan apakah akan masuk golongan “masih optimis”, atau masuk golongan “sudah pesimis”? Setelah itu, sebagai golongan apapun, apa yang akan Anda lakukan?

"Negara dibangun untuk melayani hawa nafsu kaum ELIT atau PRIYAYI."

Mohon, pertanyaan ini dijawab oleh setiap pembaca tulisan ini, yang saat ini sedang memandang monitor, sedang online, serta hatinya masih ada di dada. Mohon Anda jawab, sebagaimana saya juga harus menjawab pertanyaan tersebut, sebab saya menjadi bagian dari orang Indonesia.

Lambat atau cepat, suka atau tidak suka, biarpun Anda hendak bersembunyi di liang semut sekalipun, sebagai orang Indonesia, Anda harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jika Anda tidak berani menjawab, bahkan tidak bisa berpikir apapun untuk menjawab, ya sudahlah banyak-banyak saja beristighfar, sambil menanti saat datangnya maut. Ya, hidup seperti itu tak ada bedanya antara kematian dan kehidupan; hidup tapi mati, mati tapi masih hidup.

Bulan April lalu ada sebuah tulisan kecil di koran Pikiran Rakyat. Judulnya, “Perubahan Sistem Tak Ubah Iklim Koruptif”, edisi 12 April 2010, halaman 16. Dalam artikel itu disebutkan pandangan Ketua MK, Mahfud MD., tentang kegagalan proses Reformasi di Indonesia. Pak Mahfud mengatakan, bahwa meskipun sistem manajemen lembaga negara sudah diubah, nyatanya korupsi tetap subur.

Disini coba saya kutip ulang artikel di PR tersebut:

Perubahan sistem perbankan dan peradilan sejak era Reformasi, sepertinya bukan jawaban dalam mengatasi lembaga negara yang koruptif, karena langkah strategis ini nyatanya melahirkan mafia hukum di peradilan ataupun di perbankan. “Maka skandal Bank Century, Yayasan Pengembangan Bank Indonesia (YPBI), skandal pajak, hakim disuap, semua menunjukkan bahwa perubahan system bukan jawaban mengatasi masalah,” kata Ketua Mahkamah Konstitusi, M. Mahfud MD saat berbicara di Yogyakarta, Minggu (11/4).

Dia mengatakan, belum ada strategi lain untuk mengatasi masalah perbankan dan lembaga negara, selain perubahan sistem. Kenyataannya, perubahan sistem di perbankan, peradilan, dan perpajakan, tetap saja melahirkan berbagai mafia hukum. Itu pertanda, perubahan sistem bukan terapi mengatasi masalah. Menurut dia, BI sebelum independen dianggap sering diintervensi oleh Pemerintah Orde Baru. Ketika BI independen pun, sejumlah skandal korupsi muncul dari dalam. Hal yang sama dialami peradilan. (Pikiran Rakyat, 12 April 2010, hal. 16).

Pernyataan Mahfud MD. ini sangat berarti, sebab ia muncul dari seorang Ketua MK yang mempelajari perubahan-perubahan tatanan hukum sejak era Reformasi berlangsung. Singkat kata, “Bangsa Indonesia ini susah menjadi baik. Perubahan aturan atau tatanan apapun, korupsi tetap merajalela.”

Kalau dengan bahasa saya sendiri, “Reformasi selama 12 tahun terakhir hanya basa-basi saja. Kulitnya berubah, tetapi hakikat sistem korupsinya tetap tidak bergeming. Seakan sistem korupsi itu sudah berurat-berakar, sehingga bila terjadi perubahan, hanya berubah person-nya saja, tidak berubah sistemnya.”

PKS pernah membuat kampanye publik lewat spanduk-spanduk yang berbunyi, “Harapan itu masih ada!” Tetapi secara pribadi, saya tak yakin dengan optimisme seperti itu, selama kita tidak mau bicara AKAR masalahnya.

Kerusakan yang menimpa bangsa Indonesia ini sudah sangat akut. Andaikan di negeri ini terjadi 100 kali Reformasi, tetap saja susah berubah, jika yang diubah hanya kulit atau kemasannya saja. Tanpa ada perubahan yang radikal dan dramatis, rasanya susah berharap. Paling, bangsa ini akan “mati pelan-pelan”.

Lalu akar masalah bangsa kita apa?

Bangsa Indonesia menjadi rusak dan hancur seperti saat ini ialah karena dominasi sistem FEODALISME. Dulu feodalisme itu dikaitkan dengan raja-raja, keluarga raja, dan kaum bangsawan; dominasi politik di tangan kaum bangsawan. Para bangsawan ketika itu berkuasa dan keluarganya hidup nyaman karena mengabdi kepentingan kaum KOLONIAL. Sebagai imbalan atas jasanya bagi kolonial, mereka diberi gaji, kedudukan, jabatan, tanah, perlindungan, dll.

Ternyata, sistem seperti itu belum berubah sampai sekarang. Kalau dulu, dominasi oleh para bangsawan, sekarang oleh KAUM ELIT. Bisa elit politik, elit birokrasi, elit pengusaha, elit akademisi, elit militer/kepolisian, elit media, dan lain-lain. Tanpa disadari, kaum elit inilah yang selama ini mendominasi percaturan kehidupan di Indonesia ini. Dan tidak berlebihan jika kebanyakan mereka masih memiliki garis keturunan dengan kaum bangsawan di masa lalu.

Seharusnya, negara dibangun untuk melayani seluruh rakyat Indonesia. Tetapi dalam praktiknya, negara ini bekerja melayani nafsu hedonisme kaum elit. Negara sebesar ini dengan kekayaan besar luar biasa, bukannya untuk kesejahteraan rakyat, tetapi untuk segelintir kaum elit yang rakus kesenangan dunia. Boro-boro mereka ingat dengan rakyat, ingat dengan anak-isterinya sendiri saja, mereka jauh. Ketika selingkuh, mereka lupa anak-isterinya.

Lalu bagaimana kaum elit itu bisa eksis dan mendominasi?

Jawabnya mudah saja: Mereka dipelihara oleh para KOLONIALIS baru. Konsorsium para penjajah asing sangat berterimakasih dengan kehadiran kaum elit durjana dan terkutuk itu, sebab merekalah yang menjadi makelar untuk menjual kekayaan bangsa ke tangan asing. Para kolonialis justru sangat tidak suka jika ada peranan orang-orang yang idealis dan mencintai negerinya, sebab bila mereka banyak berperan, proses penjajahan akan sangat terganggu.

Jadi kondisinya masih sama seperti jaman penjajahan Belanda dulu. Masih sama saja. Tidak banyak berubah. Dulu kaum bangsawan menjajah rakyatnya sendiri dalam rangka melayani nafsu Belanda. Kini kaum elit menjajah rakyatnya kembali, demi melayani konsorsium penjajah asing. Sama belaka, Mas!

Selama sistem FEODALISTIK ini masih bercokol kuat, jangan berharap Indonesia akan berubah. Itu omong kosong belaka. Apa yang dikatakan oleh Pak Mahfud MD, bukan sesuatu yang aneh. Andai ada perubahan sistem sampai 100 kali pun, selama dominasi kaum elit pelayan penjajah ini tidak diamputasi, jangan pernah berharap ada masa depan bagi Indonesia.

Tugasku disini hanya mengingatkan, sebatas amanah yang Allah bebankan ke pundakku. Setelah itu semua persoalan kembali kepada Anda sendiri. Mau berubah, atau mau tertindas? Mau menjadi hamba Allah yang mulia, atau menjadi jongos orang kafir? Silakan, itu pilihan Anda. Senang atau susah, syurga atau neraka, ada dalam pilihan hidup Anda.

AMW.


Belajar dari Cinta Habibie

Mei 29, 2010

Tidak salah dia dinamakan Habibie. Habibie berarti seseorang yang mencintai, atau sang tercinta. Tetapi kata “habibi” sering dimaknai sebagai kekasih. “Ya habibi, habibi,” artinya wahai kekasihku.

Selama kariernya sebagai Menristek, BJ. Habibie sangat dikagumi oleh banyak orang, sejak anak kecil sampai orang-orang tua. Para ibu-ibu juga terobsesi agar anaknya kalau besar, “Bisa seperti Pak Habibie.” Dalam sebuah lagu anak-anak, “Diobok-obok airnya diobok-obok…” nama Habibie disebut-sebut disana oleh penyanyi cilik, Joshua. Habibie ibarat sebuah obsesi ideal yang didambakan mayoritas masyarakat Indonesia di jaman Orde Baru ketika itu.

Setelah usia senja, setelah isterinya Bu Ainun wafat, lagi-lagi Habibie menjadi pusat perhatian masyarakat luas, khususnya para ibu-ibu. Setelah Bu Ainun wafat, BJ. Habibie menunjukkan rasa cintanya yang amat mendalam. Bahkan kesannya, sangat melankolik (mendayu-dayu). Nah, kualitas cinta seperti itu sangat didambakan oleh ibu-ibu. “Coba saja, kalau cinta suamiku seperti cinta Pak Habibie ke Bu Ainun, aku pasti bahagia,” obsesi para ibu-ibu.

Untukmu wahai isteri tercinta...

Lihatlah saat Pak Habibie mencium isterinya saat masih sakit, juga saat beliau menunggui isterinya selama berbulan-bulan di RS. Beliau tak pernah sehari pun meninggalkan RS itu. Setelah Bu Ainun wafat, Pak Habibie selalu berada di bawah satu atap dengan isterinya. Ketika sudah dimakamkan pun, Pak Habibie berkali-kali mengelus nisan isterinya sambil berdoa. Semula acara tahlil (amalan yang tidak dicontohkan oleh Nabi) akan digelar 7 hari di Patra Kuningan, tetapi Pak Habibie memutuskan diperpanjang menjadi 40 hari.

Banyak orang merasa takjub dengan sikap melankolik sang teknokrat. Tidak disangka, di balik sikap “mekanik”-nya sebagai teknolog, Pak Habibie memiliki kualitas cinta yang sangat mendalam kepada isterinya. Duh, tak terbayangkan andai sebulan tak bertemu dan berbicara dengan sang isteri, alangkah sepinya.

Kualitas cinta ini memang bukan sesuatu yang aneh. Sejak awal, Pak Habibie sedemikian rupa mencintai isterinya. Karena isteri pula, beliau mundur total dari dunia politik, padahal prospek politik beliau ketika itu sangat tinggi. Beliau memilih tinggal di Jerman, bersama isteri dan keluarga, serta hanya sesekali datang ke Indonesia. (Mungkin, kalau beliau lagi kangen ingin makan sayur kangkung dan sambel terasi, baru ada niatan pulang ke Indonesia).

Bagi orang-orang yang berjiwa ksatria, sikap melankolik itu seperti kenyataan yang aneh. “Mencintai sih boleh, tapi jangan gitu-gitu amat dong!” kata para pengeritik. Dari sini kita bisa belajar bahwa Pak Habibie tidak memiliki bakat menjadi seorang politisi. Gagasan-gagasan beliau cerdas dalam politik, ya! Tapi intuisinya untuk menjadi politisi sejati, kurang. Ya itu tadi, urusan cinta kepada isteri seolah lebih tinggi dari interest-nya kepada urusan masyarakat dan negara.

Mungkin Anda masih ingat bagaimana sikap Pak Jusuf Kalla kepada isterinya. Mereka saling mencintai juga, tapi masing-masing pihak sadar posisi. Pak JK tidak mau melibatkan isterinya dalam isu-isu politik. Malah katanya, kalau Bu JK mau ikut campur urusan politik, beliau tak suka.

Cinta Pak Habibie ini mengingatkan kita pada Sultan Syah Jeihan dari Dinasti Moghul di India. Sultan Syah Jeihan amat sangat mencintai isterinya, Mumtaz Mahal. Ketika sang isteri wafat, sultan itu membuatkan makam yang megah baginya. Makam itu terletak di bawah sebuah istana yang luar biasa. Itulah yang kemudian kita kenal sebagai, Taj Mahal. Istana indah yang dibuat untuk mengenangi rasa cinta seorang suami kepada isterinya. [Dalam Islam, cara seperti ini keliru. Kita dilarang membuang-buang uang secara mubadzir untuk mengagung-agungkan manusia yang telah meninggal].

Raja Abdul Aziz Al Saud, pendiri Dinasti Saudi kedua, juga amat sangat mencintai seorang isterinya. Wanita-wanita yang pernah menjadi isteri beliau banyak, tetapi dalam satu waktu hanya ada empat orang. Salah seorang isteri beliau, amat sangat dicintainya. Konon, sang isteri sering diminta pendapat-pendapat politiknya, sebelum Raja Abdul Aziz melakukan suatu gerakan atau kebijakan tertentu. Kalau beliau gelisah, solusi yang ditempuhnya ialah mengirim kabar kepada isterinya, lalu meminta pertimbangan.

Begitu juga, Hitler terkenal dengan kekasihnya, Eva Braun. Konon, Hitler meninggal dalam sebuah bungker bersama isterinya, setelah mereka bunuh diri. Tapi saya pernah membaca, katanya ada yang menyebutkan bukti-bukti bahwa Hitler ketika meninggal ada di Indonesia, dalam penyamaran sebagai seorang dokter.

Kembali ke sosok BJ. Habibie. Sebagai teknolog, otak kirinya sangat kuat berperan. Otak kiri banyak berpikir dalam logika matematik. Sedangkan rasa cintanya yang mendalam kepada isteri, menunjukkan kekuatan otak kanannya.

Kedua sisi otak ini, bila distimulus secara seimbang, tidak hanya “ekstrim kiri” atau hanya “ekstrim kanan”, tetapi “ekstrim kedua-duanya”, insya Allah bisa melahirkan karya kemanusiaan yang hebat. Ya, contohnya seperti Pak Bacharuddin Jusuf Habibie itu. Seorang sastrawan, cobalah sering-sering melatih nalar hitung matematiknya. Begitu pula, seorang teknolog, sering-seringlah membuat karya seni. Insya nanti akan lahir paduan “ekstrim kiri-kanan”.

Nah, itulah pelajaran yang ingin disampaikan. Seperti kata ungkapan, “Khairul umur ausawtuha” (sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan). Semoga ada manfaatnya. Amin Allahumma amin.

AMW.


Ibu Ainun Habibie: Hati Seorang Wanita

Mei 24, 2010

Inna lillahi wa inna ilaihi ra’jiun. Telah wafat Ibu Hasri Ainun Habibie. Wafat pada Sabtu, 22 Mei 2010, pukul 17.35 di Jerman. Tepatnya di RS Ludwig-Maximilians – Universitat, Klinikum Gro`hadern, Munchen. Beliau meninggal setelah menjalani perawatan kurang lebih 60 hari sejak 24 Maret akibat gangguan paru-paru yang akut. Ibu Ainun wafat dalam usia 72 tahun, setelah pihak RS Ludwig Maximilians mengaku “angkat tangan” untuk merawat beliau.

Teriring doa, “Allahummaghfirlaha warhamha wa ‘afiha wa’fuanha.” Semoga Allah mengampuninya, merahmatinya, memberikan keselamatan dan memaafkan kesalahannya. Amin Allahumma amin.

Ada sebuah pertanyaan besar dalam hati ketika memikirkan mundurnya Pak Habibie secara total dari dunia politik, dan enggannya Bu Ainun tinggal di Indonesia. Mengapa harus tinggal di Jerman? Mengapa harus berlama-lama di negeri orang? Bukankah seburuk-buruk keadaan negeri sendiri, itu lebih baik daripada negara orang lain? Hal ini menjadi buah kerisauan yang lama terpendam.

Ternyata, Bu Ainun memilih tetap berada di Jerman, bahkan wafat pun kalau perlu di Jerman. Meskipun kemudian, jenazah beliau tetap akan dikebumikan di TMP Kalibata Jakarta. Artinya, Bu Ainun tetap kembali ke Tanah Air, setelah sekian lama hijrah dari negerinya sendiri.

AMW.

========================================================

CATATAN:

Tulisan ini semula dibuat dengan prasangka baik. Namun bukan berarti kita membenarkan budaya sekuler yang banyak dianut keluarga besar BJ. Habibie. Tidak bisa. Budaya tidak memakai jilbab bagi wanita, anak menantu tidak memakai jilbab, cucu-cucu wanita tidak diajari memakai jilbab, kebiasaan memakai pakaian seksi, berkawan mesra dengan orang-orang non Muslim, dll. semua itu tidak benar. Mohon maaf atas kekhilafan yang ada. Maklum, kita baru tahu jeroan sebuah keluarga, setelah “diberitahu” media-media massa. Tapi soal pemikiran-pemikiran Habibie yang positif dengan Ummat Islam, alhamdulillah tetap diapresiasi secara adil.


Melepas Kepergian Sri Mulyani…Hiks Hiks

Mei 21, 2010

Dalam sebuah dialog dengan Wimar Witoelar di MetroTV, Sri Mulyani pernah menyebut karakter orang Indonesia dengan ungkapan, Short Memory Lost. Orang Indonesia pelupa, mudah melupakan kenyataan-kenyataan yang sebenarnya belum lama berlalu. Dan saya melihat, kenyataan itu terjadi lagi dalam kasus Sri Mulyani saat ini.

Selama berbulan-bulan media massa menampilkan liputan seputar kerja Pansus Bank Century di DPR, sampai sidang paripurna DPR RI yang menghasilkan rekomendasi opsi C, nama Sri Mulyani dan Boediono menjadi bulan-bulanan media massa. Para demonstran di jalanan menggambarkan sosok Sri dan Boed sebagai drakula, dengan taring tajam, dan lelehan darah dari mulutnya. Juga ada yang menampilkan “Mbak Sri” dalam tampilan narapidana di balik penjara, dengan memakai baju-celana belang-belang (seperti ular Weling).

Tapi kini, ketika Sri Mulyani lengser dari kursi Menkeu dan siap berangkat menjadi pejabat di Bank Dunia, semua orang tiba-tiba menaruh belas kasihan, merasa sayang kepada Mbak Sri, merasa memiliki, memujinya setinggi langit, memberikan forum terhormat baginya untuk pamitan, serta membuat aneka rupa testimoni tentang kehandalan “the best finance minister” itu. Salah satu contoh, J. Kristiadi, tokoh elit CSIS, dalam salah satu liputan di MetroTV, dia dengan terang menyalahkan bangsa Indonesia yang tidak bersikap ramah kepada tokoh jenius seperti Sri Mulyani, sehingga wanita satu ini akhirnya diambil oleh Bank Dunia.

"Jangan Menangis, Bulek!"

Entah apa rakyatnya yang memang ingatannya pendek, atau media-media massanya yang bego ya. Sri Mulyani dengan segala kiprahnya adalah FAKTA yang jelas, tidak samar lagi. Dia adalah operator ekonomi Neolib di Indonesia, bersama Boediono, dan para pendukungnya. Apa yang bisa dibanggakan dari ekonomi Neolib? Ia adalah tatanan ekonomi yang membuat kekayaan bangsa Indonesia semakin deras dijarah oleh orang-orang asing. Ekonomi Neolib sangat ramah kepada kaum elit yang kaya-raya, tetapi sangat menindas rakyat kecil.

Pada hakikatnya, ekonomi Neolib sama persis dengan EKONOMI FEODAL di jaman Belanda dulu. Ketika itu Belanda sebagai dominator pengeruk kekayaan nasional. Operasi penjarahan oleh Belanda ini difasilitasi oleh kalangan Bangsawan (Ningrat) yang oleh banyak orang disebut kaum “priyayi” (ambtenar). Mereka adalah kalangan bangsawan, kaya, anti kemerdekaan, dan mengabdi kepentingan kolonialis. Kenyataan yang sama terjadi di Indonesia ini, di jaman Orde Baru dan terutama setelah Reformasi, sebagian elit priyayi menjadi makelar-makelar penjajahan kekayaan nasional oleh orang-orang asing. Kalau dulu penjajahnya cuma Belanda, kalau kini banyak sekali: Amerika, Inggris, Belanda, Jepang, Korea, China, Singapura, Jerman, Perancis, Bank Dunia, IMF, dan sebagainya.

Adapun untuk menghibur rakyat Indonesia (sekaligus memperdaya akal mereka), rakyat Indonesia cukup diberi beberapa model hiburan: Tontonan TV, fantasi dengan rokok, sepakbola, dan MSG. Kalau kita cermati dengan teliti, konstruksi ekonomi Indonesia saat ini tak ada bedanya dengan masa penjajahan Belanda dulu. Malah ketika itu, kondisinya belum separah dan serumit saat ini.

Apa yang bisa dibanggakan dari seorang Sri Mulyani? Dia ini bisa dikatakan merupakan salah satu “priyayi” yang menjadi operator praktik penjajahan ekonomi di Indonesia, oleh kekuatan asing. Kalau kini dia direkrut oleh Bank Dunia, apa yang aneh? Toh, sebelumnya dia menjadi kaki-tangan IMF.

Sekedar ingin mengingatkan fakta-fakta “masa lalu” tentang betapa bobroknya moralitas seorang Sri Mulyani di hadapan rakyat dan bangsa Indonesia. Semoga media-media massa mau sedikit berubah dari ke-bego-an mereka. (Nyari duit sih boleh, tapi jangan keterlaluan dong dalam membohongi masyarakat!).

(=) Nama besar Sri Mulyani mulai berkibar ketika terjadi Krisis Moneter 1997. Dia waktu itu dikenal sebagai pakar ekonomi dari UI. Saya masih ingat, penampilan Sri Mulyani waktu itu “belum didandani” seperti sekarang. Mungkin ketika itu, gaji dia belum cukup untuk membiayai “kebutuhan pencitraan”.

(=) Sri Mulyani ketika masa-masa Krisis Moneter waktu itu sangat kritis pemikirannya. Dia bependapat supaya perbaikan ekonomi nasional dilakukan dengan cara-cara radikal. Sri ketika itu juga kencang dalam mengkritik pendekatan ekonomi yang ditempuh IMF. Pendek kata, Sri Mulyani bersinar bintangnya seiring munculnya badai Krisis Moneter.

(=) Setelah tahun 1998, Soeharto lengser dari kursinya. Ketika itu nama Sri Mulyani tiba-tiba hilang dari peredaran. Jarang sekali media-media massa menyebut namanya. Kemanakah “Jeng Sri”? Ternyata, dia telah bekerja menjadi seorang pejabat tinggi IMF. Seingat saya, dia menjadi supervisor IMF untuk wilayah Asia-Pasifik. Oh ala, ternyata Sri Mulyani bekerja di IMF, pihak yang pernah dia kritik ketika Krisis Moneter terjadi.

(=) Perlu diingat, yang membidani kehancuran ekonomi nasioanal, dan keterpurukan Indonesia seperti saat ini adalah IMF. Butir-butir LOI (Letter of Intends) yang disepakati antara Indonesia dengan IMF itulah yang menghancurkan ekonomi kita dan merusak fundamental ekonomi yang susah-payah dibangu7n sejak tahun 70-an. Dalam LOI dengan IMF itu, Indonesia bukan saja diharuskan tunduk kepada aturan-aturan IMF, tetapi negara ini sesungguhnya telah DIBELI KEDAULATAN-nya oleh IMF. Bayangkan, sampai untuk urusan jual-beli rotan saja, IMF ikut campur mengatur. (Untung untuk masalah jual-beli terasi, ikan asin, dan kerupuk, IMF tidak ikut-ikutan).

(=) Demi Allah, Rabbul ‘alamiin, Rabus Samawaati wal ardh, IMF itulah sumber kehancuran ekonomi Indonesia. Akibat perjanjian dengan IMF, Pemerintah RI harus mengeluarkan BLBI yang kemudian membuat negara ini kehilangan dana sebesar 500-600 triliun rupiah (100 kalinya dana Bank Cenmtury). Nah, BLBI ini menjadi sumber kehancuran ekonomi yang susah diobati sampai saat ini. Jika ada “Dajjal Ekonomi” yang sukses besar merusak kehidupan rakyat Indonesia, itulah IMF.

(=) Sebagai supervisor IMF, Sri Mulyani sangat tahu tentang penerapan butir-butir LOI, dalam rangka melucuti kedaulatan ekonomi Indonesia, memperbesar praktik penjajahan asing, serta memupus harapan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Sri sangat tahu itu, sebab dia menjadi supervisor Asia-Pasifik. Dan dia digaji oleh IMF untuk mengawasi praktik penjarahan ekonomi di negaranya sendiri. (Luar biasa, rasanya muntah kalau membayangkan rizki yang diterima Sri Mulyani dari gaji-gaji yang dia peroleh di IMF itu. Na’udzubillah wa na’udzubillah, ya Allah lindungi kami dan anak keturunan kami dari menerima rizki kotor dari tangan para penjajah keji. Amin Allahumma amin).

(=) Ketika Sri Mulyani menjadi Menkeu di era SBY, dia sangat kejam dalam menerapkan kebijakan pemotongan subsidi BBM, sehingga hal itu menjadi hempasan keras yang memiskinkan rakyat ke sekian kalinya. Di mata Sri Mulyani, nilai rakyat Indonesia hanyalah sekedar ANGKA belaka. Termasuk kebijakan memotong subsidi untuk perguruan tinggi, memperbesar kewajiban pajak, memberikan segala rupa keistimewaan perlakuan kepada para investor asing, dll. Bahkan yang paling kacau adalah kebijakan BLT (Bantuan Langsung Tunai). Ternyata bantuan ini sumbernya dari dana hutang Bank Dunia. Allahu Akbar.

(=) Setelah satu periode Kabinet SBY berakhir pada 2009 lalu, ternyata diperoleh data baru posisi keuangan negara. Hutang luar negeri Pemerintah naik dari posisi sekitar Rp. 1300 triliun menjadi sekitar Rp. 1700 triliun; ada kenaikan hutang selama 5 tahun Kabinet SBY sebesar Rp. 400 triliun. Dan kini kabarnya naik lagi lebih tinggi.

(=) “Prestasi” lain dari Sri Mulyani yang layak dicatat ialah besarnya kepemilikan SUN (Surat Utang Negara) di tangan asing. Dalam setahun, katanya negara harus mengeluarkan dana sekiatar Rp. 60 triliun untuk membayar bunga kepada para pemegang SUN itu.

(=) Dan lain-lain.

Jadi, adalah sangat dusta kalau kita lalu memuji-muji Sri Mulyani. Tokoh ini bahkan sudah pantas disebut sebagai PENGKHIANAT NEGARA, bersama Si Boed dan kawan-kawan. Mereka ini andilnya sangat besar dalam menyengsarakan kehidupan rakyat Indonesia.

Dari sisi pintar, mahir bahasa inggris, penampilan modis, tegas bicara, tahan mental, bergaji tinggi, berwawasan global, dll. ya okelah kita akui, Sri Mulyani orangnya. Tapi dari sisi moralitas dan kontribusinya bagi kebaikan hidup rakyat Indonesia, reputasi Sri Mulyani sangat mengerikan.

Tidak berlebihan kalau saya menasehatkan kepada kaum Muslimin: “Jika Anda mendengar nama Sri Mulyani diucapkan, atau Anda melihat gambar dia di TV atau koran, ucapkan ‘audzubillah minas syaithanir rajiim‘.” Tokoh satu itu bukan lagi masuk alam manusia, tapi sudah selainnya.

Kini Sri Mulyani siap disambut dengan kalungan bunga, di kantor Bank Dunia sana. Tapi yakinlah, semua itu hanya basa-basi saja. Alam semesta, langit-bumi, beserta benda-benda langit yang demikian banyak, beserta hewan-hewan di daratan dan lautan, mereka mengutuk orang-orang zhalim yang menyengsarakan kehidupan jutaan kaum Muslimin, sehingga mereka hidup menderita lahir-bathin, dunia Akhirat.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

AMW.


“Tunggu Dulu, Pak Kapolri!”

Mei 18, 2010

Sejak Polri lepas dari TNI di era Abdurrahman Wahid, hubungan Polri dengan Ummat Islam jauh dari harmonis. Sejak era Dai Bahtiar, apalagi era Bamband Hendarso saat ini, hubungan Polri-Ummat Islam kerap diwarnai ketegangan. Saat Polri baru lepas dari TNI, belum menemukan bentuk kelembagaan yang mapan, mereka sudah keburu menelan mentah-mentah propaganda war on terrorism yang dilancarkan Amerika.

Masalah paling sulit dalam hubungan Polri-Ummat ini ialah soal KEBOHONGAN publik yang sering ditunjukkan oleh pejabat-pejabat Polri, lalu diamini begitu saja oleh jaringan media-media massa di Tanah Air. Contoh mudah, dari kasus Bom Bali I. Waktu itu Imam Samudra Cs merancang sebuah bom mobil, tetapi yang meledak 2 bom. Bahkan yang korbannya paling besar ialah bom kedua yang tidak dibuat Imam Samudra Cs yang meledak di Sari Club. Namun tetap saja, pemuda-pemuda Islam itu harus menanggung dosa yang tidak mereka lakukan. Meskipun tentu aksi mereka meledakkan bom di Paddy’s Club tetap merupakan kesalahan.

Sampai saat ini tidak ada satu pun yang bisa menjelaskan masalah Bom Bali I itu, mengapa Imam Samudra Cs membuat 1 bom, tetapi yang meledak bisa 2 bom? Bahkan yang korbannya sampai ratusan adalah pada bom kedua yang tidak dibuat oleh Imam Cs? Dan mengapa pula masyarakat seolah membiarkan Polri dan media-media massa mengadili pemuda-pemuda Islam itu di luar seluruh kesalahan mereka?

Seni kebohongan lagi-lagi ditunjukkan oleh pejabat Polri, Bambang Hendarso Danuri dalam konferensi pers 14 Mei 2010 lalu di Mabes Polri, pasca penembakan beberapa orang tertuduh teroris dan penangkapan puluhan lainnya. Berita ini luas ditayangkan media-media TV, juga diliput media-media cetak. Saya membaca versi berita dari Pikiran Rakyat, 15 Mei 2010, dengan judul, “2 Lulusan STPDN Dibekuk“.

Siswa "Be A Man" Lagi Persiapan Latihan "Terorisme"

Dalam berita itu Bambang Hendarso banyak mengklaim fakta-fakta yang patut diuji kembali kebenarannya. Hanya sayang, media-media massa sudah terlanjur memakan mentah-mentah konferensi pers Kapolri itu. Dan hal demikian sudah lama terjadi. Ada SIMBIOSIS MUTUALISME antara Polri dan media-media massa. (Bahkan kasus Susno Duadji, sebenarnya juga merupakan “obyek mutualisme” tersebut).

Dalam pernyataannya Bambang Hendarso menjelaskan tentang posisi Mustakim, salah satu tertuduh yang ditangkap polisi. “Dia (mustakim) alumnus terbaik di Mindanao, yang kemudian menjadi pimpinan latihan di Aceh,” kata Kapolri.

Pertanyaannya: Apa kamp latihan di Mindanao itu seperti akademi militer? Apa disana diajarkan kuliah, test, ada IPK, kelulusan, dan lain-lain sehingga jebolan kamp itu bisa disebut alumni? Lebih parah lagi, dari mana Polri bisa tahu kalau Mustakim alumnus terbaik? Apakah utusan Polri pernah bertemu dekan fakultas terorisme disana, lalu menanyakan “IPK” terakhir Mustakim?

Kapolri juga mengatakan, kelompok itu sudah menyiapkan sejumlah rencana serangan terhadap sejumlah pejabat penting di Pulau Jawa, terutama di Jakarta.

Pernyataan ini jelas bertolak belakang dengan opini yang dibangun oleh Polri selama ini. Mereka selama ini menyebut kelompok anak-anak muda itu sebagai Tanzhim Al Qa’idah Aceh Darussalam. Dalam berbagai kesempatan, baik pejabat Densus maupun Polri menjelaskan, bahwa kelompok ini sengaja memilih Aceh, karena Aceh memiliki reputasi konflik RI-GAM di masa lalu. Lalu, bagaimana dengan klaim, anak-anak muda itu mau menyerang pejabat di Jakarta, sedangkan mereka latihan di Aceh? Jauh-jauh amat latihan di Aceh, sementara targetnya di Jakarta? Mengapa tidak sekalian saja mereka latihan di Papua, sambil jalan-jalan rekreasi?

Kapolri mengatakan, “Pada tanggal 17 Agustus 2010 mereka akan melakukan penyerangan dan pembunuhan para pejabat yang melakukan upacara 17 Agustus, termasuk tamu negara asing.”

Apa yang dikatakan Kapolri ini sangat aneh. Kasus di Aceh terjadi pada Februari lalu, kasus penembakan di Cikampek, Cawang, penangkapan di Solo bulan Mei. Sementara 17 Agustus masih sekitar 3 bulan lagi dari kejadian Cikampek-Cawang. Dan lebih lama lagi kalau dikaitkan dengan latihan militer di Aceh. Bahkan katanya, menurut info kepolisian, latihan itu sudah diendus sejak akhir 2009. Masih lama dari momen 17 Agustus.

Okelah, katakanlah mereka hendak melakukan serangan pada 17 Agustus nanti. Tapi masalahnya, mengapa mereka melakukan latihan militer jauh-jauh amat di Aceh? Mengapa mereka menyebut diri Tanzhim Al Qa’idah Aceh Darussalam? Ada yang tidak nyambung antara fakta latihan di Aceh dan tuduhan melakukan serangan saat 17 Agustus 2010 nanti. Logikanya, kalau mau menyerang di Jakarta, anak-anak muda itu bisa saja membuat latihan di Banten atau Lampung yang dekat Jakarta. Secara nalar orang biasa, membuat latihan yang jauh dengan target yang dibidik, itu akan menyulitkan mereka sendiri. Harus boyong-boyong peralatan dalam jarak jauh.

Lebih heboh lagi ialah klaim Kapolri berikut ini: “Mereka memastikan, dengan aksi ini seluruh pejabat akan terbunuh dan akan mempercepat proses pergantian kekuasaan dan menyatakan negara Islam Indonesia telah berdiri.”

Ini adalah kebohongan besar yang sulit untuk diterima akal sehat, dan wawasan orang-orang terpelajar. Bagaimana mungkin dengan membunuh para pejabat, lalu bisa berdiri negara Islam Indonesia? Apakah tampuk kekuasaan itu ada di tangan para pejabat tersebut? Lalu bagaimana dengan rakyat, bagaimana dengan mahasiswa, bagaimana dengan daerah-daerah, bagaimana dengan TNI, partai politik, dll.? Apakah mereka akan diam saja ada serombongan anak-anak muda tiba-tiba mengklaim berdirinya negara Islam di Indonesia?

Benar-benar kedustaan yang sulit dipahami. Kapolri membuat-buat pernyataan sesuai asumsi Polri atas masalah itu, bukan atas realitas sebenarnya. Sebodoh-bodohnya anak muda itu, mereka tidak akan mungkin mendirikan negara dengan cara menyerang pejabat-pejabat tersebut. Kekuatan mereka seberapa sehingga berani ingin mendirikan negara Islam di Indonesia? Mereka hanya puluhan orang, atau kurang dari 150-an orang, dengan peralatan militer seadanya. Tidak mungkin mereka akan melakukan aksi seperti yang dituduhkan Kapolri itu.

Seni kebohongan semacam inilah yang sekian lama berkembang di Indonesia. Dan sayangnya, media-media massa suka menelan mentah-mentah pernyataan seperti itu. Dengan sikap selalu memfitnah dan menyebarkan fitnah seperti ini, sulit berharap akan tumbuh kedamaian di masa nanti. Sebab bara sakit hati selalu bersemi di hati orang-orang yang difitnah itu.

Sebuah pertanyaan kritis: “Mengapa Polri ingin mengaitkan kasus di Aceh dengan pembunuhan para pejabat saat upacara bendera 17 Agustus 2010 nanti?

Sebab kenyataan yang ada di hadapan kita, anak-anak muda yang dituduh sebagai teroris itu, mereka tidak melakukan peledakan-peledakan bom seperti kelompok Nurdin Cs di masa lalu? Mereka menggelar latihan militer di hutan yang tidak menimbulkan korban dari kelompok sipil. Coba pikirkan, apakah ada rakyat sipil yang mati akibat serangan mereka? Sama sekali tidak ada. Itu artinya, kasus Aceh tersebut SULIT DIANGKAT menjadi isu terorisme. Maka biar bisa NGANGKAT, dipakailah isu pembunuhan pejabat saat 17 Agustus 2010. Hanya dengan isu semacam itu, dijamin rakyat Indonesia -yang sehari-hari intens dibodoh-bodohi media massa- akan mudah diyakinkan bahwa anak-anak itu sangat berbahaya dan mereka teroris. Padahal kasusnya sangat beda dengan isu terorisme Nurdin Cs.

Kalaupun anak-anak muda itu bersalah, harusnya bukan dengan delik terorisme. Tetapi dengan delik MENYIMPAN SENJATA API ILEGAL dan MENYERANG APARAT POLISI. Artinya, perbuatan mereka murni adalah perbuatan kriminal. Tidak usah dikaitkan dengan terorisme, sebab memang mereka tidak melakukan serangan-serangan teror seperti yang dilakukan Nurdin Cs. Hanya dua delik itu kesalahan mereka.

Adapun soal LATIHAN MILITER, ini bukan menjadi delik kriminal. Siapapun boleh melakukan latihan militer, selama tidak memakai senjata api ilegal. Coba saja Anda lihat, di TV ada acara “Be A Man“. Disana juga ada latihan-latihan ala militer. Itu legal, tidak salah, selama tidak memakai senjata api sungguhan. Begitu juga di masyarakat banyak arena latihan painball, disana ada latihan tembak-tembakan mirip situasi militer sungguhan. Dari sisi latihan militer, anak-anak muda itu tak boleh disalahkan. Hanya kesalahan mereka memakai senjata api sungguhan, dan katanya melakukan penyerangan kepada aparat di Aceh.

Sedangkan tentang ideologi Negara Islam. Ini kan pilihan setiap orang. Indonesia negara demokrasi, menghargai pilihan ideologi rakyatnya. Tidak ada masalah, orang memiliki ideologi negara apapun di hatinya, selama mereka tidak menyerang orang lain dan melakukan tindakan melawan hukum. Iya kan. Sebuah contoh mudah, Hizbut Tahrir Indonesia. Mereka sangat kencang menyerukan penegakan Daulah Islamiyyah. Tetapi mereka memakai jalur dakwah dan politik, bukan militer.

Soal ideologi negara Islam dijamin sepenuhnya di sebuah negara demokrasi. Asal cara-cara mewujudkan ideologi itu tidak dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Kalau ada yang membela ideologi negara sekuler, negara kapitalis, negara nasionalis, ya harus legowo jika ada yang menginginkan selain itu.

Jadi anak-anak muda itu seharusnya diproses secara hukum murni. Mereka jangan dikait-kaitkan dengan isu terorisme, sebab mereka memang tidak melakukan tindakan-tindakan terorisme seperti yang selama ini dilakukan kelompok Nurdin Top dan kawan-kawan. Tidak ada rakyat sipil yang menjadi korban aksi mereka.

Kalau dipersalahkan di pengadilan, ya salahkan karena mereka membawa senjata api ilegal dan menyerang aparat sehingga ada yang terbunuh di Aceh. Itu pun harus diselidiki dulu siapa pelaku yang melakukan penyerangan. Selama masih ada kesewenang-wenangan dalam penegakan hukum, jangan berharap akan ada keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat Indonesia.

Pesan terakhir untuk Kapolri dan bawahannya: “Anda semua adalah para penegak hukum. Maka tegakkanlah hukum dengan cara hukum, bukan dengan melanggar hukum!

AMW.


Hati-hati Soal Penanganan Terorisme

Mei 13, 2010

Entahlah, dengan apa lagi kita hendak berkomentar? Sudah terlalu banyak kecaman, kritikan, keprihatinan, sekaligus kecewa dialamatkan kepada Densus 88 atas semua operasi-operasi yang mereka sebut sebagai “pemberantasan terorisme”. Tetapi Densus 88, yang sebagian besar personelnya direkrut dari Brimob Polri itu, seperti korp yang tidak memiliki mata dan telinga. Semua kritikan seolah mereka buang begitu saja ke tong sampah. Sangat menyedihkan!

Belum lama lalu KH. Abu Bakar Ba’asyir dalam khutbahnya di Bekasi, beliau mendoakan agar Densus 88 dilaknat oleh Allah karena penangkapan beberapa orang anggota Jamaah Anshorut Tauhiid (JAT). Tetapi hari kemarin (12 Mei 2010) Densus menggerebek dua lokasi di Cikampek dan Cawang Jakarta Timur. Hasilnya, 5 orang pemuda Islam tewas diterjang peluru-peluru Densus 88. Hari ini, 13 Mei 2010, Densus melakukan lagi penggerebekan di Baki, Sukoharjo Solo. Hasilnya, dua orang pemuda Islam diringkus.

Kalau dikaitkan dengan seluruh operasi Densus 88 sejak era Bom Bali 12 Oktober 2002 lalu, sudah ada puluhan pemuda Islam tewas di tangan Densus, dan ratusan lagi ditangkap, lalu dijebloskan ke penjara. Belum lagi nasib keluarga-keluarga dari pemuda-pemuda yang dituduh teroris itu. Mereka hidup terlunta-lunta kehilangan suami, ayah, kakak-adik, anak, dan lainnya. Hal seperti ini akan menjadi “bom waktu” yang membahayakan kehidupan bangsa Indonesia ke depan.

Dari forum diskusi di internet tersebar data, bahwa sejak Barack Obama menjadi Presiden AS, mereka tidak lagi mendukung operasi anti teroris di Indonesia, secara politik maupun finansial. Justru dukungan itu muncul dari Australia yang berkepentingan untuk merawat “isu pemberantasan teroris” ini. Tidak mengherankan jika SBY mengumumkan kematian Dulmatin, justru di hadapan PM dan anggota Parlemen Australia. Jadi kasus ini semacam “over kontrak” dari Amerika ke Australia.

Sangat tepat sebuah kalimat yang dikatakan terkait dengan agenda “pemberantasan teroris” ini. Dengan munculnya kasus-kasus teroris ini: “Pihak tertuduh teroris mendapat promosi gratis, pihak media dapat berita, dan polisi dapat dana.” Jadi seperti lingkaran setan. Baik media maupun polisi merasa diuntungkan dengan munculnya isu-isu terorisme ini. Dan sayangnya, masih banyak orang yang “mencari makan” dengan jalan jualan isu setan. (Kalau di TV, ini serupa acara “alam ghaib” begitulah. Hanya berbeda kontennya).

Apa yang dilakukan oleh Densus 88 selama ini mencerminkan sikap-sikap yang sangat zhalim. Beberapa alasan yang bisa dikemukakan:

(=) Densus selalu melakukan tindakan penggerebekan. Artinya, menangkap sasaran dengan jalan kekerasan, tanpa prosedur sebagaimana lazimnya operasi kepolisian. Dari penggerebekan ini mereka kerap melakukan hal-hal zhalim antara lain: menangkap orang dengan asumsi sendiri, membunuh sasaran di tempat, menyita barang-barang milik sasaran tanpa ampun, bahkan menyegel lokasi sasaran.

(=) Densus tidak mengenal istilah second opinion (opini pembanding). Mereka hanya menggunakan asumsi-asumsi intelijen sesuai pandangan mereka sendiri. Bahkan second opinion ini seperti barang HARAM dalam kasus terorisme. Sehingga sangat berpeluang melahirkan praktik hukum rimba. Siapa yang pegang senjata, dia berkuasa.

(=) Jarang sekali dilakukan upaya-upaya hukum, persuasi, dialog, terhadap sasaran-sasaran yang dibidik Densus 88. Seolah, pemuda-pemuda suspect teroris itu, mereka bukan warga negara Indonesia yang berhak mendapat perlakuan hukum yang sama.

(=) Perlakuan yang sungguh berbeda diperlihatkan oleh Polri (khususnya Densus 88) terhadap gerakan OPM di Papua dan RMS di Ambon-Maluku. Gerakan politik mereka, bahkan gerakan militer, tidak ada bedanya dengan pemuda-pemuda yang dituduh teroris itu. Bukan sekali dua kali OPM di Papua melakukan serangan dengan memakai senjata-senjata organik. Tetapi lihatlah, apakah Polri sangat bernafsu menyebut OPM dan para pengikutnya sebagai gerakan teroris. (Sebuah tulisan bagus ditulis Amran Nasution di situs hidayatullah.com, Suara dari Alam Kubur. Di bagian-bagian akhir ulisan itu dijelaskan, bahwa definisi teroris hanya berlaku bagi pemuda-pemuda Islam saja).

Benar yang dikatakan oleh Susno Duadji dalam wawancara dengan Suara Islam, institusi kepolisian bisa menjadi lembaga “super body” yang sewenang-wenang. Mereka adalah aparat dengan jumlah personil sekitar 320 ribu, dipersenjatai, berhadapan langsung dengan masyarakat sipil. Sementara, TNI pasca Reformasi seperti “macan ompong” yang tidak memiliki pengaruh politik apapun.

Operasi-operasi Densus 88 yang pekat berisi kezhaliman sangat membahayakan masa depan bangsa ini. Operasi seperti itu akan menyuburkan benih-benih INSTABILITAS yang sangat luas di tengah-tengah masyarakat. Bukan hanya kalangan pemuda-pemuda yang dituduh teroris dan keluarga mereka, tetapi juga gerakan-gerakan anti kemapanan lain yang sejak lama menginginkan kehancuran Indonesia. Mereka akan merasa mendapat dukungan tidak langsung, merasa senasib sepenanggungan, merasa menghadapi musuh yang sama, yaitu aparat kepolisian. Siapapun yang pernah disakiti atau dirugikan oleh kepolisian lambat-laun akan merasa di pihak suspect teroris.

Kalau pemuda-pemuda Islam itu berani berhadapan face to face dengan aparat kepolisian, hal ini akan memantik semangat kalangan anti aparat untuk berani juga seperti mereka. Lama-lama Indonesia ini akan penuh dengan konflik antara sipil-kepolisian, lalu hal itu menjadi “kebudayaan nasional”.

Dan kelak masyarakat umum akan merasa terbiasa dengan suasana militer. Mereka terbiasa mendengar istilah revolver, FN, M16, AK47, rompi anti peluru, dsb. Jika sudah terbiasa, mereka akan mencoba. Dan selanjutnya, Densus 88 akan menjadi “pahlawan besar” bagi kehancuran NKRI ini.

Kalau mau jujur, yang membedakan antara Densus 88 dengan para pemuda yang dituduh teroris tu, hanya satu saja: akses senjata! Hanya itu saja. Artinya, penghalang bagi pemuda-pemuda itu untuk melakukan perlawanan yang seimbang terhadap Densus 88 hanya tinggal masalah senjata. Ini adalah situasi yang SANGAT mengkhawatirkan. Kalau nanti mereka telah mendapat akses senjata, tidak terbayangkan bagaimana situasi kehidupan Indonesia nanti? Beda aparat Densus dengan pemuda-pemuda itu tipis sekali. Mereka sama-sama terlatih dalam suasana kombatan, hanya soal fasilitas yang berbeda.

Inilah situasi yang sebenarnya sejak lama diingatkan oleh tokoh-tokoh Islam. Sejak Bom Bali I dulu, aparat diminta bersikap jujur, adil, dan tidak semena-mena. Tetapi sampai detik ini, kita sudah sama-sama tahu kondisinya. Ya, tanpa disadari bangsa kita telah melahirkan kekuatan anti aparat yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Kalau dulu, para tertuduh teroris sering memakai bom, maka kini mereka sudah bicara tentang senjata organik dan latihan-latihan militer.

Lalu apa yang menakutkan di balik semua ini? Ya, nanti Indonesia bisa bernasib seperti Pakistan. Pakistan hari ini adalah negara yang telah DISANDERA oleh gerakan-gerakan milisi anti Pemerintah. Gerakan Thaliban telah menyebar ke seluruh penjuru Pakistan, mereka face to face dengan militer Pakistan. Aksi-aksi kekerasan berlangsung hampir setiap saat. Mungkin, situasi seperti itulah yang ingin diciptakan oleh Polri dan Densus 88.

Jangan pernah bermimpi Densus 88 atau Polri akan sanggup memberantas gerakan anti Pemerintah (terorisme) sampai ke akar-akarnya. Ini hanya lamunan kosong, seperti mimpi di siang hari. Dalam sejarah gerakan-gerakan kekerasan dimanapun, hatta di Inggris, Spanyol, Srilangka, India, Pakistan, bahkan di Amerika; tindakan-tindakan repressif tidak banyak berguna mengatasi gejolak dan kekerasan. Semakin banyak operasi militer digelar oleh Polri, semakin subur benih-benih kekerasan itu tumbuh.

Bangsa Amerika setelah 10 tahunan berada dalam komando war on terrorism, di bawah kendali George Bush, mereka kini berada dalam krisis multi dimensi yang sangat menyakitkan. Barack Obama seperti harus membersihkan banyak sampah yang ditinggalkan oleh Bush. Itulah hasil dari perang melawan teroris yang digelar dengan penuh kecurangan, dusta, dan kesewenang-wenangan. Tampaknya, Indonesia ingin meng-copy pengalaman yang sama. Bila operasi Densus 88 selama ini mendapat sokongan dana asing, maka kelak kita akan membiayai “pemberantasan teroris” dari APBN atau APBD. Ketika itu, antara konflik dan kemiskinan, akan menjadi wajah sehari-hari Indonesia.

Akhirnya, saya menyarankan kepada media-media massa, khususnya TVOne dan MetroTV, agar mereka berhenti “mencari makan” dengan menjual isu-isu terorisme itu. Kelak dampaknya akan kita jumpai, ketika Indonesia menjadi negara yang sangat INSTABIL karena terus direcoki konflik massif antara sipil dan aparat.

Fa’tabiruu ya ulil albaab! Ambillah pelajaran, wahai orang-orang berakal!

AMW.


Catatan Berserak Pasca Konggres Umat Islam

Mei 12, 2010

Missi Membangun Ummat dan Bangsa

Alhamdulillah, Kongres Ummat Islam Indonesia V (KUII V) sudah usai. Kongres yang diadakan pada 7-9 Mei 2010 di Jakarta ini menghasilkan “Deklarasi Jakarta 2010“. Di antara isi dari deklarasi tersebut, antara lain: Komitmen ormas-ormas Islam untuk bersatu dan bersinergi dalam membangun bangsa, mendukung kepemimpinan politik yang sesuai Sunnatullah dan teladan Nabi, mendukung pemberdayaan ekonomi Syariah, mendukung suksesi kepemimpinan Ummat dalam rangka amar makruf nahi munkar. Selain itu KUUI V merekomendasikan dibentuknya tim khusus untuk memantau pelaksanaan hasil kongres tersebut yang beranggotakan sekitar 9 orang dari wakil-wakil ormas Islam.

Lebih jauh tentang hasil KUII V bisa dibaca di media-media online. Salah satunya ialah artikel Kongres Umat Islam Lahirkan Deklarasi Jakarta. Dimuat di situs belajarislam.com.

Ya, mula-mula kita panjatkan puji syukur kepada Allah Al ‘Azhiim atas semua nikmat dan pertolongan-Nya, sehingga kaum Muslimin di Indonesia berhasil melaksanakan kongres besar di awal abad 21 ini. Bahkan kongres ini secara resmi dibuka oleh SBY dan ditutup Boediono. Apapun realitasnya, kita bersyukur bahwa kaum Muslimin, khususnya ormas-ormas Islam masih memiliki komitmen untuk saling shilaturahim, bersatu, dan bersinergi. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Disini ada beberapa catatan yang ingin disampaikan, dalam rangka saling taushiyah di jalan kebenaran dan kesabaran, seperti yang diamanahkan oleh Surat Al ‘Ashr. Saya sebagai bagian dari Ummat ini, tentu memiliki hak untuk mendapatkan kebaikan di balik acara KUII V tersebut, dan berhak memberikan saran-masukan, bagi perbaikan kehidupan Ummat di masa ke depan.

[1] Amat sangat mengecewakan melihat sikap media-media massa nasional, khususnya media TV. Mereka tampak sangat tidak interest sama sekali dengan pelaksanaan KUII tersebut. Buktinya apa? Hanya sedikit masyarakat Indonesia yang tahu perhelatan KUII ini. Padahal ia adalah perhelatan besar, bahkan perhelatan bersejarah, sebab sudah dirintis sejak jaman awal Kemerdekaan dulu. Coba bandingkan dengan liputan media terhadap Munas PDIP di Bali, rencana Munas Partai Demokrat, bahkan Muktamar NU di Makassar kemarin. Dalam KUII ini tidak ada liputan khusus, tidak ada “breaking news”, tidak ada dialog, dsb. Kelihatan sekali bahwa ideolog-ideolog sekuler di balik media-media itu sangat tidak suka dengan agenda perjuangan Ummat Islam. Mereka adalah manusia-manusia “berotak kerbau” yang tidak tahu diri. Andaikan tanpa peranan kaum Muslimin dan ormas Islam dalam kehidupan di negara ini, Indonesia sudah hancur lebur sejak dulu. Sampai hari ini media-media itu tetap mendengki kemajuan kaum Muslimin. Dan ironinya, kaum Muslimin sendiri sampai hari ini tidak sanggup membuat media nasional yang kuat.

[2] Kritik keras perlu disampaikan kepada panitia pelaksana KUII V. Ketika KUII itu sendiri belum dilaksanakan, mereka sudah membuat FITNAH di kalangan kaum Muslimin, dengan pernyataan di media dan keputusan untuk tidak mengundang FPI, HTI, dan MMI. Malah mereka menyamakan ke-3 ormas itu seperti LDII dan kaum Syi’ah. Ya, alhamdulillah akhirnya sikap sentimen itu diubah. Panitia KUII itu harus berpikir dengan akalnya yang paling sederhana, bahwa FPI, HTI, MMI adalah bagian dari kekuatan kaum Muslimin di negeri ini. Tanpa mereka, kekuatan kita tidak akan utuh. Yang sangat disesalkan, pernyataan panitia di media massa itu berimplifikasi, seolah mereka hendak mengadu-domba kekuatan-kekuatan Islam. Bagaimana mungkin Ummat Islam hendak mengadakan “KONGRES” dengan cara meninggalkan elemen-elemen Islam sendiri, seperti apapun keadaan mereka? Untuk apa kongres diadakan, kalau bukan untuk menubuhkan persatuan Ummat? Pemikiran sentimen itu bukan hanya harus di-delete dari pikiran-pikiran panitia KUII, tapi juga harus di-delete dari pikiran Ummat Islam secara umum. FPI, HTI, dan MMI adalah sama-sama saudara kita di atas landasan Al Qur’an dan As Sunnah.

[3] Kepada tim penyusun teks “Deklarasi Jakarta 2010”, seharusnya mereka memakai bahasa Indonesia yang baik, tidak “bertumpuk kalimat”, dan mudah dipahami oleh Ummat. Coba untuk apa KUII diadakan? Pasti agar dihasilkan rekomendasi-rekomendasi yang penuh manfaat, lalu hal itu disebarkan di tengah-tengah Ummat, agar dilaksanakan sebaik-baiknya. Wah, kalau kita baca isi teks deklarasi tersebut, aroma yang segera terasa ialah kesan formalitas, kaku, bertumpuk kalimat. Ya, layaknya bahasa-bahasa yang dipakai di lembaga-lembaga peradilan. Seharusnya kita mencontoh Nabi Saw yang memiliki Jawami’ul Kalam. Kalimatnya praktis, jelas, dan penuh makna.

[4] Sebenarnya, hasil-hasil pemikiran seperti yang tertuang dalam “Deklarasi Jakarta 2010” itu, ia bukan hal baru dalam kehidupan kaum Muslimin di Indonesia. Kalau mau jujur, sejak berdiri ICMI tahun 1990, Ummat Islam sudah teramat sering bicara tentang “kepemimpinan politik”,  “kepemimpinan Ummat”, ekonomi syariah. Dalam even-even yang diadakan oleh MUI maupun ormas Islam, hal-hal demikian juga teramat sering muncul. Tidak ada sesuatu yang baru disana. Malah kalau mau ditambahkan, bisa disebut “pemberdayaan SDM”, “peningkatan kualitas pendidikan Islam”, “pembangunan ilmu dan teknologi”, “penguatan struktur keluarga Muslim”, dll. Ya, setelah puluhan tahun kita lalui kehidupan penuh slogan seperti ini, seharusnya kita lebih maju dari sekedar sloganisme. Ummat Islam ini seharusnya lebih dibudayakan “bicara dengan kerja nyata”, bukan “kerja dengan bicara”. Kita sudah terlalu buang-buang waktu dengan aneka slogan kosong. Ayolah kita berubah, jangan terlalu banyak slogan-slogan semu. Al Qur’an mengingatkan, “Kabura maqtan ‘indallahi an taqulu ma laa taf’aluun.”

[5] Sudah bagus dibentuk tim khusus untuk memantau pelaksanaan hasil-hasil KUII. Ini poin bagus yang layak diapresiasi. Selama ini kita sering mengadakan pertemuan, tapi tidak ada tanggung-jawab di balik pertemuan itu. Dibentuk tim khusus untuk memantau pelaksanaan hasil KUII V merupakan kemajuan riil. Meskipun akhirnya kita tidak bisa menuntut banyak terhadap tim itu, sebab ia tidak memiliki kekuatan untuk memaksa. Di sisi lain, ormas-ormas Islam cenderung “otonom” dengan agenda masing-masing.

Selain catatan-catatan ini, secara pribadi saya menyatakan empati atas Pernyataan Sikap yang dikeluarkan FPI menanggapi sikap panitia KUII V terhadap FPI dan pelaksanaan kongres itu sendiri. Ini adalah sikap gentlement yang patut diapresiasi dan dihargai. Alhamdulillah, di kalangan Ummat masih ada yang bersikap gentle seperti itu. Maklum, jaman sekarang kaum Muslimin sudah terlalu terlena oleh budaya basa-basi dan formalitas.

Bagaimanapun, alhamdulllahi Rabbil ‘alamiin Kongres Umat Islam Indonesia Ke-5 sudah berhasil dilaksanakan. KUUI memiliki makna strategis bagi kehidupan kaum Muslimin ke depan. Bahkan ia bisa mengubah sejarah kehidupan bangsa ini. Syaratnya: Ummat Islam mau berubah lebih baik! Kalau Ummat ini tetap melempem, ya meskipun sudah 10 atau 100 kali melakukan konggres, hidup kita akan tetap menderita plus merana.

Lalu bagaimana kiatnya agar kaum Muslimin berubah?

Mudah sekali. Pakai RESEP SURAT AL ‘ASHR. Itu saja, tidak usah susah-susah, dan repot-repot. Pertama, kita harus beriman kepada Allah, yaitu bertauhid. Kedua, kita harus giat beramal shalih, yaitu menghidupkan ajaran Islam dalam segala sisi kehidupan, lahir-batin, individu dan masyarakat. Ketiga, kita saling taushiyah dalam menetapi kebenaran dan bersabar atas segala kesulitan.

Jika RESEP Al ‘ASHR ini dilakukan, insya Allah hasil-hasil KUII V akan bisa teraplikasikan secara maksimal dalam kehidupan kaum Muslimin di negeri ini. Amin Allahumma amain.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wastaghfirullaha liy wa lakum ajma’in, wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.