Catatan Berserak Pasca Konggres Umat Islam

Missi Membangun Ummat dan Bangsa

Alhamdulillah, Kongres Ummat Islam Indonesia V (KUII V) sudah usai. Kongres yang diadakan pada 7-9 Mei 2010 di Jakarta ini menghasilkan “Deklarasi Jakarta 2010“. Di antara isi dari deklarasi tersebut, antara lain: Komitmen ormas-ormas Islam untuk bersatu dan bersinergi dalam membangun bangsa, mendukung kepemimpinan politik yang sesuai Sunnatullah dan teladan Nabi, mendukung pemberdayaan ekonomi Syariah, mendukung suksesi kepemimpinan Ummat dalam rangka amar makruf nahi munkar. Selain itu KUUI V merekomendasikan dibentuknya tim khusus untuk memantau pelaksanaan hasil kongres tersebut yang beranggotakan sekitar 9 orang dari wakil-wakil ormas Islam.

Lebih jauh tentang hasil KUII V bisa dibaca di media-media online. Salah satunya ialah artikel Kongres Umat Islam Lahirkan Deklarasi Jakarta. Dimuat di situs belajarislam.com.

Ya, mula-mula kita panjatkan puji syukur kepada Allah Al ‘Azhiim atas semua nikmat dan pertolongan-Nya, sehingga kaum Muslimin di Indonesia berhasil melaksanakan kongres besar di awal abad 21 ini. Bahkan kongres ini secara resmi dibuka oleh SBY dan ditutup Boediono. Apapun realitasnya, kita bersyukur bahwa kaum Muslimin, khususnya ormas-ormas Islam masih memiliki komitmen untuk saling shilaturahim, bersatu, dan bersinergi. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

Disini ada beberapa catatan yang ingin disampaikan, dalam rangka saling taushiyah di jalan kebenaran dan kesabaran, seperti yang diamanahkan oleh Surat Al ‘Ashr. Saya sebagai bagian dari Ummat ini, tentu memiliki hak untuk mendapatkan kebaikan di balik acara KUII V tersebut, dan berhak memberikan saran-masukan, bagi perbaikan kehidupan Ummat di masa ke depan.

[1] Amat sangat mengecewakan melihat sikap media-media massa nasional, khususnya media TV. Mereka tampak sangat tidak interest sama sekali dengan pelaksanaan KUII tersebut. Buktinya apa? Hanya sedikit masyarakat Indonesia yang tahu perhelatan KUII ini. Padahal ia adalah perhelatan besar, bahkan perhelatan bersejarah, sebab sudah dirintis sejak jaman awal Kemerdekaan dulu. Coba bandingkan dengan liputan media terhadap Munas PDIP di Bali, rencana Munas Partai Demokrat, bahkan Muktamar NU di Makassar kemarin. Dalam KUII ini tidak ada liputan khusus, tidak ada “breaking news”, tidak ada dialog, dsb. Kelihatan sekali bahwa ideolog-ideolog sekuler di balik media-media itu sangat tidak suka dengan agenda perjuangan Ummat Islam. Mereka adalah manusia-manusia “berotak kerbau” yang tidak tahu diri. Andaikan tanpa peranan kaum Muslimin dan ormas Islam dalam kehidupan di negara ini, Indonesia sudah hancur lebur sejak dulu. Sampai hari ini media-media itu tetap mendengki kemajuan kaum Muslimin. Dan ironinya, kaum Muslimin sendiri sampai hari ini tidak sanggup membuat media nasional yang kuat.

[2] Kritik keras perlu disampaikan kepada panitia pelaksana KUII V. Ketika KUII itu sendiri belum dilaksanakan, mereka sudah membuat FITNAH di kalangan kaum Muslimin, dengan pernyataan di media dan keputusan untuk tidak mengundang FPI, HTI, dan MMI. Malah mereka menyamakan ke-3 ormas itu seperti LDII dan kaum Syi’ah. Ya, alhamdulillah akhirnya sikap sentimen itu diubah. Panitia KUII itu harus berpikir dengan akalnya yang paling sederhana, bahwa FPI, HTI, MMI adalah bagian dari kekuatan kaum Muslimin di negeri ini. Tanpa mereka, kekuatan kita tidak akan utuh. Yang sangat disesalkan, pernyataan panitia di media massa itu berimplifikasi, seolah mereka hendak mengadu-domba kekuatan-kekuatan Islam. Bagaimana mungkin Ummat Islam hendak mengadakan “KONGRES” dengan cara meninggalkan elemen-elemen Islam sendiri, seperti apapun keadaan mereka? Untuk apa kongres diadakan, kalau bukan untuk menubuhkan persatuan Ummat? Pemikiran sentimen itu bukan hanya harus di-delete dari pikiran-pikiran panitia KUII, tapi juga harus di-delete dari pikiran Ummat Islam secara umum. FPI, HTI, dan MMI adalah sama-sama saudara kita di atas landasan Al Qur’an dan As Sunnah.

[3] Kepada tim penyusun teks “Deklarasi Jakarta 2010”, seharusnya mereka memakai bahasa Indonesia yang baik, tidak “bertumpuk kalimat”, dan mudah dipahami oleh Ummat. Coba untuk apa KUII diadakan? Pasti agar dihasilkan rekomendasi-rekomendasi yang penuh manfaat, lalu hal itu disebarkan di tengah-tengah Ummat, agar dilaksanakan sebaik-baiknya. Wah, kalau kita baca isi teks deklarasi tersebut, aroma yang segera terasa ialah kesan formalitas, kaku, bertumpuk kalimat. Ya, layaknya bahasa-bahasa yang dipakai di lembaga-lembaga peradilan. Seharusnya kita mencontoh Nabi Saw yang memiliki Jawami’ul Kalam. Kalimatnya praktis, jelas, dan penuh makna.

[4] Sebenarnya, hasil-hasil pemikiran seperti yang tertuang dalam “Deklarasi Jakarta 2010” itu, ia bukan hal baru dalam kehidupan kaum Muslimin di Indonesia. Kalau mau jujur, sejak berdiri ICMI tahun 1990, Ummat Islam sudah teramat sering bicara tentang “kepemimpinan politik”,  “kepemimpinan Ummat”, ekonomi syariah. Dalam even-even yang diadakan oleh MUI maupun ormas Islam, hal-hal demikian juga teramat sering muncul. Tidak ada sesuatu yang baru disana. Malah kalau mau ditambahkan, bisa disebut “pemberdayaan SDM”, “peningkatan kualitas pendidikan Islam”, “pembangunan ilmu dan teknologi”, “penguatan struktur keluarga Muslim”, dll. Ya, setelah puluhan tahun kita lalui kehidupan penuh slogan seperti ini, seharusnya kita lebih maju dari sekedar sloganisme. Ummat Islam ini seharusnya lebih dibudayakan “bicara dengan kerja nyata”, bukan “kerja dengan bicara”. Kita sudah terlalu buang-buang waktu dengan aneka slogan kosong. Ayolah kita berubah, jangan terlalu banyak slogan-slogan semu. Al Qur’an mengingatkan, “Kabura maqtan ‘indallahi an taqulu ma laa taf’aluun.”

[5] Sudah bagus dibentuk tim khusus untuk memantau pelaksanaan hasil-hasil KUII. Ini poin bagus yang layak diapresiasi. Selama ini kita sering mengadakan pertemuan, tapi tidak ada tanggung-jawab di balik pertemuan itu. Dibentuk tim khusus untuk memantau pelaksanaan hasil KUII V merupakan kemajuan riil. Meskipun akhirnya kita tidak bisa menuntut banyak terhadap tim itu, sebab ia tidak memiliki kekuatan untuk memaksa. Di sisi lain, ormas-ormas Islam cenderung “otonom” dengan agenda masing-masing.

Selain catatan-catatan ini, secara pribadi saya menyatakan empati atas Pernyataan Sikap yang dikeluarkan FPI menanggapi sikap panitia KUII V terhadap FPI dan pelaksanaan kongres itu sendiri. Ini adalah sikap gentlement yang patut diapresiasi dan dihargai. Alhamdulillah, di kalangan Ummat masih ada yang bersikap gentle seperti itu. Maklum, jaman sekarang kaum Muslimin sudah terlalu terlena oleh budaya basa-basi dan formalitas.

Bagaimanapun, alhamdulllahi Rabbil ‘alamiin Kongres Umat Islam Indonesia Ke-5 sudah berhasil dilaksanakan. KUUI memiliki makna strategis bagi kehidupan kaum Muslimin ke depan. Bahkan ia bisa mengubah sejarah kehidupan bangsa ini. Syaratnya: Ummat Islam mau berubah lebih baik! Kalau Ummat ini tetap melempem, ya meskipun sudah 10 atau 100 kali melakukan konggres, hidup kita akan tetap menderita plus merana.

Lalu bagaimana kiatnya agar kaum Muslimin berubah?

Mudah sekali. Pakai RESEP SURAT AL ‘ASHR. Itu saja, tidak usah susah-susah, dan repot-repot. Pertama, kita harus beriman kepada Allah, yaitu bertauhid. Kedua, kita harus giat beramal shalih, yaitu menghidupkan ajaran Islam dalam segala sisi kehidupan, lahir-batin, individu dan masyarakat. Ketiga, kita saling taushiyah dalam menetapi kebenaran dan bersabar atas segala kesulitan.

Jika RESEP Al ‘ASHR ini dilakukan, insya Allah hasil-hasil KUII V akan bisa teraplikasikan secara maksimal dalam kehidupan kaum Muslimin di negeri ini. Amin Allahumma amain.

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin, wastaghfirullaha liy wa lakum ajma’in, wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan

One Response to Catatan Berserak Pasca Konggres Umat Islam

  1. iş güvenliği berkata:

    Sharing of health was good in your hand, expect more ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: