Hati-hati Soal Penanganan Terorisme

Entahlah, dengan apa lagi kita hendak berkomentar? Sudah terlalu banyak kecaman, kritikan, keprihatinan, sekaligus kecewa dialamatkan kepada Densus 88 atas semua operasi-operasi yang mereka sebut sebagai “pemberantasan terorisme”. Tetapi Densus 88, yang sebagian besar personelnya direkrut dari Brimob Polri itu, seperti korp yang tidak memiliki mata dan telinga. Semua kritikan seolah mereka buang begitu saja ke tong sampah. Sangat menyedihkan!

Belum lama lalu KH. Abu Bakar Ba’asyir dalam khutbahnya di Bekasi, beliau mendoakan agar Densus 88 dilaknat oleh Allah karena penangkapan beberapa orang anggota Jamaah Anshorut Tauhiid (JAT). Tetapi hari kemarin (12 Mei 2010) Densus menggerebek dua lokasi di Cikampek dan Cawang Jakarta Timur. Hasilnya, 5 orang pemuda Islam tewas diterjang peluru-peluru Densus 88. Hari ini, 13 Mei 2010, Densus melakukan lagi penggerebekan di Baki, Sukoharjo Solo. Hasilnya, dua orang pemuda Islam diringkus.

Kalau dikaitkan dengan seluruh operasi Densus 88 sejak era Bom Bali 12 Oktober 2002 lalu, sudah ada puluhan pemuda Islam tewas di tangan Densus, dan ratusan lagi ditangkap, lalu dijebloskan ke penjara. Belum lagi nasib keluarga-keluarga dari pemuda-pemuda yang dituduh teroris itu. Mereka hidup terlunta-lunta kehilangan suami, ayah, kakak-adik, anak, dan lainnya. Hal seperti ini akan menjadi “bom waktu” yang membahayakan kehidupan bangsa Indonesia ke depan.

Dari forum diskusi di internet tersebar data, bahwa sejak Barack Obama menjadi Presiden AS, mereka tidak lagi mendukung operasi anti teroris di Indonesia, secara politik maupun finansial. Justru dukungan itu muncul dari Australia yang berkepentingan untuk merawat “isu pemberantasan teroris” ini. Tidak mengherankan jika SBY mengumumkan kematian Dulmatin, justru di hadapan PM dan anggota Parlemen Australia. Jadi kasus ini semacam “over kontrak” dari Amerika ke Australia.

Sangat tepat sebuah kalimat yang dikatakan terkait dengan agenda “pemberantasan teroris” ini. Dengan munculnya kasus-kasus teroris ini: “Pihak tertuduh teroris mendapat promosi gratis, pihak media dapat berita, dan polisi dapat dana.” Jadi seperti lingkaran setan. Baik media maupun polisi merasa diuntungkan dengan munculnya isu-isu terorisme ini. Dan sayangnya, masih banyak orang yang “mencari makan” dengan jalan jualan isu setan. (Kalau di TV, ini serupa acara “alam ghaib” begitulah. Hanya berbeda kontennya).

Apa yang dilakukan oleh Densus 88 selama ini mencerminkan sikap-sikap yang sangat zhalim. Beberapa alasan yang bisa dikemukakan:

(=) Densus selalu melakukan tindakan penggerebekan. Artinya, menangkap sasaran dengan jalan kekerasan, tanpa prosedur sebagaimana lazimnya operasi kepolisian. Dari penggerebekan ini mereka kerap melakukan hal-hal zhalim antara lain: menangkap orang dengan asumsi sendiri, membunuh sasaran di tempat, menyita barang-barang milik sasaran tanpa ampun, bahkan menyegel lokasi sasaran.

(=) Densus tidak mengenal istilah second opinion (opini pembanding). Mereka hanya menggunakan asumsi-asumsi intelijen sesuai pandangan mereka sendiri. Bahkan second opinion ini seperti barang HARAM dalam kasus terorisme. Sehingga sangat berpeluang melahirkan praktik hukum rimba. Siapa yang pegang senjata, dia berkuasa.

(=) Jarang sekali dilakukan upaya-upaya hukum, persuasi, dialog, terhadap sasaran-sasaran yang dibidik Densus 88. Seolah, pemuda-pemuda suspect teroris itu, mereka bukan warga negara Indonesia yang berhak mendapat perlakuan hukum yang sama.

(=) Perlakuan yang sungguh berbeda diperlihatkan oleh Polri (khususnya Densus 88) terhadap gerakan OPM di Papua dan RMS di Ambon-Maluku. Gerakan politik mereka, bahkan gerakan militer, tidak ada bedanya dengan pemuda-pemuda yang dituduh teroris itu. Bukan sekali dua kali OPM di Papua melakukan serangan dengan memakai senjata-senjata organik. Tetapi lihatlah, apakah Polri sangat bernafsu menyebut OPM dan para pengikutnya sebagai gerakan teroris. (Sebuah tulisan bagus ditulis Amran Nasution di situs hidayatullah.com, Suara dari Alam Kubur. Di bagian-bagian akhir ulisan itu dijelaskan, bahwa definisi teroris hanya berlaku bagi pemuda-pemuda Islam saja).

Benar yang dikatakan oleh Susno Duadji dalam wawancara dengan Suara Islam, institusi kepolisian bisa menjadi lembaga “super body” yang sewenang-wenang. Mereka adalah aparat dengan jumlah personil sekitar 320 ribu, dipersenjatai, berhadapan langsung dengan masyarakat sipil. Sementara, TNI pasca Reformasi seperti “macan ompong” yang tidak memiliki pengaruh politik apapun.

Operasi-operasi Densus 88 yang pekat berisi kezhaliman sangat membahayakan masa depan bangsa ini. Operasi seperti itu akan menyuburkan benih-benih INSTABILITAS yang sangat luas di tengah-tengah masyarakat. Bukan hanya kalangan pemuda-pemuda yang dituduh teroris dan keluarga mereka, tetapi juga gerakan-gerakan anti kemapanan lain yang sejak lama menginginkan kehancuran Indonesia. Mereka akan merasa mendapat dukungan tidak langsung, merasa senasib sepenanggungan, merasa menghadapi musuh yang sama, yaitu aparat kepolisian. Siapapun yang pernah disakiti atau dirugikan oleh kepolisian lambat-laun akan merasa di pihak suspect teroris.

Kalau pemuda-pemuda Islam itu berani berhadapan face to face dengan aparat kepolisian, hal ini akan memantik semangat kalangan anti aparat untuk berani juga seperti mereka. Lama-lama Indonesia ini akan penuh dengan konflik antara sipil-kepolisian, lalu hal itu menjadi “kebudayaan nasional”.

Dan kelak masyarakat umum akan merasa terbiasa dengan suasana militer. Mereka terbiasa mendengar istilah revolver, FN, M16, AK47, rompi anti peluru, dsb. Jika sudah terbiasa, mereka akan mencoba. Dan selanjutnya, Densus 88 akan menjadi “pahlawan besar” bagi kehancuran NKRI ini.

Kalau mau jujur, yang membedakan antara Densus 88 dengan para pemuda yang dituduh teroris tu, hanya satu saja: akses senjata! Hanya itu saja. Artinya, penghalang bagi pemuda-pemuda itu untuk melakukan perlawanan yang seimbang terhadap Densus 88 hanya tinggal masalah senjata. Ini adalah situasi yang SANGAT mengkhawatirkan. Kalau nanti mereka telah mendapat akses senjata, tidak terbayangkan bagaimana situasi kehidupan Indonesia nanti? Beda aparat Densus dengan pemuda-pemuda itu tipis sekali. Mereka sama-sama terlatih dalam suasana kombatan, hanya soal fasilitas yang berbeda.

Inilah situasi yang sebenarnya sejak lama diingatkan oleh tokoh-tokoh Islam. Sejak Bom Bali I dulu, aparat diminta bersikap jujur, adil, dan tidak semena-mena. Tetapi sampai detik ini, kita sudah sama-sama tahu kondisinya. Ya, tanpa disadari bangsa kita telah melahirkan kekuatan anti aparat yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Kalau dulu, para tertuduh teroris sering memakai bom, maka kini mereka sudah bicara tentang senjata organik dan latihan-latihan militer.

Lalu apa yang menakutkan di balik semua ini? Ya, nanti Indonesia bisa bernasib seperti Pakistan. Pakistan hari ini adalah negara yang telah DISANDERA oleh gerakan-gerakan milisi anti Pemerintah. Gerakan Thaliban telah menyebar ke seluruh penjuru Pakistan, mereka face to face dengan militer Pakistan. Aksi-aksi kekerasan berlangsung hampir setiap saat. Mungkin, situasi seperti itulah yang ingin diciptakan oleh Polri dan Densus 88.

Jangan pernah bermimpi Densus 88 atau Polri akan sanggup memberantas gerakan anti Pemerintah (terorisme) sampai ke akar-akarnya. Ini hanya lamunan kosong, seperti mimpi di siang hari. Dalam sejarah gerakan-gerakan kekerasan dimanapun, hatta di Inggris, Spanyol, Srilangka, India, Pakistan, bahkan di Amerika; tindakan-tindakan repressif tidak banyak berguna mengatasi gejolak dan kekerasan. Semakin banyak operasi militer digelar oleh Polri, semakin subur benih-benih kekerasan itu tumbuh.

Bangsa Amerika setelah 10 tahunan berada dalam komando war on terrorism, di bawah kendali George Bush, mereka kini berada dalam krisis multi dimensi yang sangat menyakitkan. Barack Obama seperti harus membersihkan banyak sampah yang ditinggalkan oleh Bush. Itulah hasil dari perang melawan teroris yang digelar dengan penuh kecurangan, dusta, dan kesewenang-wenangan. Tampaknya, Indonesia ingin meng-copy pengalaman yang sama. Bila operasi Densus 88 selama ini mendapat sokongan dana asing, maka kelak kita akan membiayai “pemberantasan teroris” dari APBN atau APBD. Ketika itu, antara konflik dan kemiskinan, akan menjadi wajah sehari-hari Indonesia.

Akhirnya, saya menyarankan kepada media-media massa, khususnya TVOne dan MetroTV, agar mereka berhenti “mencari makan” dengan menjual isu-isu terorisme itu. Kelak dampaknya akan kita jumpai, ketika Indonesia menjadi negara yang sangat INSTABIL karena terus direcoki konflik massif antara sipil dan aparat.

Fa’tabiruu ya ulil albaab! Ambillah pelajaran, wahai orang-orang berakal!

AMW.

Iklan

22 Responses to Hati-hati Soal Penanganan Terorisme

  1. Rachmad berkata:

    wah..
    menarik dan bermanfaat ..
    kunjungi jg..

    Editor: Maaf, ada komik “kurang bagus” di link Anda. Komentar Anda di-edit, demi kebaikan semua pihak. Sekali lagi maaf ya.

  2. Brekele berkata:

    Densus biadab, terus yang ngebom itu apa gak biadab?
    Lebih banyak mana yang meninggal?
    Karena densus atau karena tukang bom bunuh diri?
    Mikir nyong …

  3. abisyakir berkata:

    @ Brekele…

    Densus biadab, terus yang ngebom itu apa gak biadab?
    Lebih banyak mana yang meninggal?
    Karena densus atau karena tukang bom bunuh diri?
    Mikir nyong …

    Semua saja yang menyerang target sasaran sipil yang tidak ada kaitannya dengan konflik politik/ideologi, adalah perbuatan biadab atau zhalim. Tetapi pikirkan beberapa kenyataan di bawah ini:

    [o] Dalam aksi pengeboman, tidak selalu pelakunya adalah pemuda2 Islam. Bukti, dalam Bom Bali I, Amrozi Cs membuat satu bom, tapi yang meledak dua bom. Bahkan bom kedua di Sari Club, itu sangat dahsyat. Sampai ada analisis bahwa itu bom mikronuklir. Ini fakta yang tidak mau disentuh oleh aparat, sebab niat mereka pokoknya “menggebuk” tertuduh teroris sekeras-kerasnya.

    [o] Kalau polisi bisa menangkap pelaku pengeboman secara tepat, itu bagus. Tetapi masalahnya, mereka sering menangkap orang-orang yang tidak terkait, lalu dikait-kaitkan seenaknya sendiri. Bahkan lebih kejam, ketika polisi menembak mati tertuduh teroris, padahal yang bersangkutan tidak terkait aksi peledakan apapun. Contoh, seperti Air Setiawan dan korban penembakan di Jati Asih.

    [o] Dalam kasus teroris selama ini banyak versi analisis yang berkembang. Tapi yang dipakai polisi ya versi analisis mereka sendiri. Itu yang disebut tidak ada second opinion.

    [o] Dalam pembuatan BAP di pengadilan, polisi kerap melakukan penyiksaan luar biasa. Itu sudah dialami sejak jaman Imam Samudra sampai M. Jibril baru-baru ini. Mereka memaksakan BAP dengan tekanan.

    [o] Dan lain-lain.

    Justru sikap Densus yang zhalim itulah yang akan memperpanjang daftar konflik sipil-aparat di negeri ini. Kekerasan tidak akan bisa dilawan dengan kekerasan. Ibarat memukul air, cipratannya akan menyebar kemana-mana.

    AMW.

  4. kresna berkata:

    Seperti yg terjadi diseluruh dunia yg memiliki unit-unit tertentu yg memang bertugas utk menghacurkan gerakan Islam, DEnsus 88 emang sistem bekrjanya demikian mrk terlatih utk membunuh dan menghancurkan. Aturan urusan belakangan. Melihat dari sistem pelatihan,pendanaan yg tiada batas oleh AS dan Australia, yg mrk benar-benar terlibat urusan tersebut memaang mreka mendisain bhw sumber gerakan Islam di Indnesia memiliki ancaman bagi kepentingan mrk di Wilayah Asia Tenggara. Yang ujung akhirnya adalah melemhkan Umat Islam dan krakter mereka. Fenomena ini bukanlah sesutau yg mengherankan dan mencemaskan, krn Ind nasuk dalam design Kapitalis salibis dan Liberalis dunia yg dikomandoi oleh USA. jadi bila Densus 88 sgt kejam dan keras terhadp pejuang Islam itu sudh tabiat mrk yg mengabdi pd kepentingan tuannya, jadi kagak usah heran. Bahwa bila analisisnya akan terjadi spt yg di Pakistan, itu akibat dari kerja dan tindakan mrk sendiri dan bhwa itu bisa menggangu stabilitas emang itu yg dikehendaki oleh negra maju utk bisa lebih mudah menghncurkan umat Islam. Shg utk melihat fenomena dlam sebuah negara sekarang tidak bisa melepaskan diri dari kepentingan kapitalis, Salibis, dan Liberalis.

  5. Okrisnaldi Putra berkata:

    pak ini saya copy paste tulisan dari salah seorang wartawan ANTV yg menyaksikan langusng kejanggalan2 yg terjadi pada saat pengrebekan diSOLO:

    Permainan Sandiwara Penggerebegan Teroris
    Oleh : Hanibal Wijayanta (Jurnalis ANTV)

    Sumber: http://www.facebook.com/note.php?note_id=389398343542&id=1294733809&ref=mf

    Oleh : Hanibal Wijayanta (Jurnalis ANTV)

    Ada banyak kejanggalan dalam operasi penggerebegan teroris di Solo hari ini. Ada apa sebenarnya?

    Beberapa hari terakhir masyarakat kembali dikejutkan oleh operasi penangkapan dan penembakan teroris. Pekan lalu, belasan orang ditangkap di kawasan Pejaten, yang hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari markas Badan Intelijen Negara (BIN). Rabu siang lalu (12/5) sekelompok orang ditangkap di Cikampek, Jawa Barat, dan menewaskan dua orang di antara mereka. Beberapa jam kemudian, tiga tersangka teroris juga diterjang timah panas polisi dan tewas saat turun dari taksi di keramaian jalan Sutoyo Siswomihardjo, kawasan Cililitan, Jakarta Selatan.

    Lewat corong media massa, polisi mengatakan bahwa mereka adalah tersangka teroris. Awalnya polisi baru mengatakan bahwa mereka terlibat dalam kasus teroris Aceh yang ditangkap dan didor dua bulan lalu. Belakangan, polisi mengatakan bahwa mereka juga terlibat kasus bom Marriott dan bom Kedubes Australia. Bahkan kabarnya salah seorang tersangka yang ditembak polisi adalah Umar Patek, salah satu pelaku Bom Bali I, yang sempat diberitakan tewas di Filipina.

    Hari ini, Kamis (13/5) polisi ternyata sudah langsung bergerak ke Solo, termasuk komandan lapangan Densus 88 Kombes Muhammad Syafei yang sampai kemarin sore masih berada di Cikampek. Sang Kombes juga sempat memberikan clue kepada tim liputan kami bahwa, “Akan ada gunung meletus di Solo.” Di Solo polisi ternyata menangkap tiga orang tersangka, entah di mana ditangkapnya, kemudian menyerbu sebuah rumah bengkel. Di tempat inilah polisi menemukan sepucuk M-16, pistol, peluru, dan buku-buku jihad (!)… Hmmm… Sigap nian polisi kita.

    Namun ada yang menarik dalam penggerebegan teroris di Solo kali ini. Sebab, sebelum penggerebegan itu, polisi sempat menggelar brieffing terlebih dahulu dan persiapan-persiapan seperlunya di sebuah rumah makan. Di tempat itu pula -di pinggir jalan- mereka baru memakai rompi anti peluru setelah melempar-lemparkannya sebentar di antara mereka, memasang sabuk, penutup kepala, senjata api dan persiapan-persiapan lain. Beberapa warga yang melintas sempat menonton mereka show of force, dan terkagum-kagum heran melihat semua persiapan itu. “Wah, iki Densus 88 yo, Mas, edan tenan…,” kata seorang warga.

    Acara persiapan pra penyerbuan yang sangat terbuka seperti ini tentu saja jarang terlihat pada penggerebegan sebelumnya. Pada penyerbuan-penyerbuan sebelumnya, biasanya polisi sudah memakai pakaian tempur lengkap dan masuk ke lokasi di malam hari atau pagi buta. Sementara pada acara persiapan tadi pagi, matahari sudah mulai hangat di tengkuk. Saat itu sebenarnya beberapa wartawan cetak dan elektronik sudah mulai berdatangan ke rumah makan itu. Sayang mereka tidak berani mengambil momentum bersejarah ini…

    Nah, setelah semua anggota lapangan memakai peralatan rapi, mereka lalu masuk ke mobil dan langsung bergerak. Hanya bergerak sebentar tiba-tiba mobil-mobil Densus 88 itu berhenti. Para anggota lapangan pun bergerak mengepung sekitar lokasi dan kemudian memasuki rumah yang dipakai menjadi bengkel itu. Para wartawan yang mengikuti mereka sampai tergopoh-gopoh karena terkejut. Mereka tidak mengira rumah sasaran sedekat itu. Tahukah anda, berapa jaraknya dari rumah makan tadi? Hanya 200 meter, dan terlihat jelas dari restoran tadi!!

    Maka drama penggerebegan yang tidak lucu itu pun terjadi. Para wartawan bisa mendekat ke TKP bahkan sampai ke pintu rumah bengkel tadi. Para anggota Densus 88 itu pun bisa diambil gambarnya dalam jarak dekat. Mereka sama-sekali tidak berusaha menghalangi atau melarang, mereka juga tidak mengusir para wartawan. Para petugas membiarkan para cameraman televisi mengambil gambar hingga di pintu rumah itu, dan bisa mengambil gambar ketika anggota densus 88 berada di salah satu ruangan.

    Dalam rekaman para cameraman televisi, Lazuardi reporter/cameraman Metro TV dan Ecep S Yasa, dari TV-One tampak diberi privilege untuk mengambil gambar terlebih dahulu dari wartawan lain. Meskipun demikian mereka juga sempat disuruh keluar terlebih dahulu, “Nanti dulu-nanti dulu, belum siap,” kata seorang anggota Densus 88. Para wartawan sempat bertanya-tanya, apanya yang belum siap. Namun ketika boleh masuk, para wartawan melihat bahwa barang bukti sudah tersusun rapi di lantai.

    Yang sangat menarik, bagi wartawan yang sudah biasa meliput penangkapan teroris, tampak jelas dari bahasa tubuh mereka, bahwa para anggota Densus 88 itu tidak menunjukkan tanda-tanda stres yang menyebabkan adrenalin melonjak. Mereka tampak lebih santai dari pada ketika mereka menggerebeg tersangka teroris sebelumnya. Bahkan mereka menunjukkan kegembiraan yang janggal ketika saling mengacungkan jempol, tos dan sebagainya, setelah operasi dinyatakan berhasil.

    Perilaku yang aneh juga tampak ketika para perwira Densus 88 termasuk komandan lapangan mereka, Kombes Muhammad Syafei datang ke rumah bengkel itu dan mau diambil gambarnya oleh para wartawan, bahkan dalam posisi close-up. Padahal selama ini dia dikenal paling alergi dengan kamera wartawan. Tak segan-segan ia menyuruh wartawan mematikan camera atau menghapus gambar yang ada dirinya.

    Kejanggalan pun semakin lengkap ketika beberapa warga mengakui bahwa sebenarnya sehari sebelumnya rumah bengkel itu sudah didatangi sejumlah orang bertampang tegap, yang menurut warga adalah polisi…. “Ya mirip mereka-mereka itu, mas…,” kata mereka.

    Lalu, apa artinya semua ini?

  6. kresna berkata:

    Dalam teori intelejen hal itu udah biasa dipakai yaitu teori buka dan tutup. Yaitu tindakan utk mengambil kembali atas anggota intelejn yg telah ditanam dan mrk telah suksas dlm menunaikan tgs selanjutnya ditanggkap serta dikaburkan atas personal mrk sbb telah terdeteksi.
    Dalam kasus pemberitaan teroris tidak terlepas dari kepentingan bisnis media. Polisi membutuhkan blow up informasi sedangkan media membutuhkan itu untuk menghidupi medianya dari iklan-iklan yg masuk. Tentunya iklan juga melihat sejauh mana menarik beritanya apa tidak. memang kemarin sgt kentara kasar disgn rekayasanya. That’s reality atas design dan rekayasa gabungan antara intelejen dengan media dan sebagai obyek beritanya adalah Teroris. Hubungan simbiosis mutualisme ini telah menajdi teori jamak antara konsumsi berita oleh media+gabungan dengan pemasok berita+ketertarikan konsumen terhadap berita=Menghasilkan nilai ikaln yang tinggi.

  7. sekarsidan berkata:

    cara orang cari makan emang berbeda-beda…

  8. Yamaha berkata:

    Yang jelas hidup densus, loe kagak ngerti gmn rasanya jd korban kelakuan teman2 loe.

  9. Okrisnaldi Putra berkata:

    menambahkan lagi.
    Kejanggalan dalam penggerebekan tokoh teroris Dulmatin Maret yg lalu.
    Ada sebuah analsisis lapangan dalam penggerebekan tokoh teroris Dulmatin pada 9 Maret 2010 lalu, yg makin memperlihatkan sedang terjadinya SINETRON TERORISME DI INDONESIA.

    sumbernya: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3574960
    bisa juga dibaca di sini:
    http://www.facebook.com/notes/islam-jayalah-agamaku/kejanggalan-dalam-penggerebekan-tokoh-teroris-dulmatin-maret-yg-lalu/389975869471

    fotonya bisa dilihat di sini: http://i974.photobucket.com/albums/ae223/luffyaja/keanehanposisitanganDulmatin.jpg

    Bagi yg ingin membaca di sini akan saya copy paste dibawah:

    Misteri Kematian Dulmatin

    Teroris Dulmatin Tamat
    Rabu, 10 Maret 2010 | 13:10 WIB
    Jakarta – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari Australia memastikan bahwa gembong teroris di balik peristiwa bom Bali 2002, Dulmatin, tewas dalam penggerebekan di Pamulang, Tengerang. SBY mengumumkan hal tiu di sela-sela pidatonya di parlemen Australia di Canberra. ’’Saya bawa kabar baik yang akan saya umumkan kepada Anda,’’ kata SBY seperti dimuat laman The Age, Rabu (10/3).

    ’’Polisi sukses menggerebek teroris yang bersembunyi di Jakarta. Saya konfirmasikan salah satu yang tewas adalah Dulmatin, satu dari gembong teroris Asia Tenggara yang kita buru,’’ tambah SBY.

    Dulmatin dikenal memiliki nama alias Joko Pitono, Amar Usman, Joko Pitoyo, Abdul Matin, Pitono, Muktarmar, Djoko, Noval. Teroris asal Pemalang, Jateng, yang kepalanya dihargai 10 juta dollar AS oleh pemerintah AS ini bersama Umar Patek disebut terlibat pengeboman di Klub Malam Sari dan Bar Paddy di Bali, 12 Oktober 2002.

    Meski SBY memastikan Dulmatin tewas, Polri masih belum memberikan keterangan resmi sampai pukul 11.00 WIB siang tadi. Kepala Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Pol Edward Aritonang mengakui bahwa ciri-ciri fisik pelaku yang tewas di Warnet Multiplus, Jl Siliwangi, Pamulang, Tangerang, Banten itu sama dengan cirri Dulmatin. ’’Lebih baik menunggu hasil tes DNA, biar semuanya jelas dan tidak ada keraguan,” ujarnya.
    Sumber: Surabaya Pos. http://www.surabayapost.co.id/?mnu=berita&act=view&id=dacc1d0620cc02d0f1a4e141b1883ef4&jenis=b706835de79a2b4e80506f582af3676a

    Wah… Hebat banget ya Pak SBY, lgs bisa memastikan Dulmatin koit padahal polri aja maseh blom yakin. Kok rasanya beda banget dengan SBY yg biasanya hati2 dan tidak mau buru2. Ini malah berani memastikan pas lagi pidato di parlemen Australia di Canberra. Pengen naekin citra di luar negri ya Pak? Sok yakin ato emang udah tau sebelumnya Pak?

    Setelah Yahya masuk ke Multiplus, tim pendobrak maju merangsek ke dalam. Manajer warnet Rinda Diana (31), mengatakan saat penggerebekan sekitar pukul 11.10 tiga polisi lengkap dengan penutup wajah dilengkapi senjata laras panjang masuk dan menyuruh untuk tiarap semua yang ada di dalam warnet. “Tiarap semua, ada teroris,” kata Rinda menirukan personel Densus itu. Setelah itu, Rinda mendengar tiga kali letusan. “Seperti petasan, saya tidak berani naik ke lantai dua,” kata perempuan berjilbab biru itu. Dulmatin alias Yahya menggunakan bilik nomor sembilan dari 10 bilik yang tersedia.

    Menurut Kadiv Humas Irjen Edward Aritonang, saat hendak diringkus, Yahya melawan. “Dia menembak satu kali dengan revolver berisi enam peluru,” katanya. Karena terancam keselamatannya, petugas melumpuhkan Yahya dengan menembak di perut dan paha. Bekas tembakan dan selongsong peluru ditemukan di tembok lantai dua. Revolver yang digunakan Yahya berjenis Colt berukuran kecil. Revolver itu dipegang dengan tangan kanan.
    sumber: Dumai Pos 10 Maret 2010 “ Dulmatin Tewas Ditembak”
    http://www.dumaipos.com/v2/berita.php?act=full&id=1237&kat=10

    Klo agan2 lihat berita di tv, ada ditayangkan foto jenazah Dulmatin sedang memegang pistol yang terletak di paha kanannya. Jari2 Dulmatin tidak berada di pelatuknya, dan yang paling aneh itu pistol ada di paha kanan korban. Klo agan baca berita di atas coba bayangin kejadiannya, setelah ditembak 2 kali (perut dan paha) dengan senjata laras panjang dari jarak yang cukup dekat apakah mungkin agan bisa tewas dalam keadaan masih duduk di kursi? Apakah mungkin pistol yang agan pegang masih berada didalam genggaman (padahal jari tidak di pelatuk) dan malah tergeletak di paha kanan agan? Sangat2 mustahil menurut analisis saya, seharusnya bila ditembak dari dekat 2 kali dengan senjata laras panjang (mungkin M16), tidak mungkin pistol masih ditangan dan tergeletak di paha kanan. Setidaknya pistolnya pasti jatuh. Dan bila agan panik dikepung polisi trus nekad nembak duluan tapi malah hanya sekali melepas tembakan? Seharusnya lebih dari sekali, ato klo pas baru nembak sekali trus keburu tewas gara2 ditembak polisi tp posisi agan masih tetep rapi duduk di kursi kayak orang ketiduran(maseh nyender kursi kepala terkulai ke samping belakang)? Padahal ditembak dengan senjata laras panjang 2 kali dalam jarak dekat lho! Hebat banget tuh kursi ya? Papan aja jebol ditembak, ini kursi jatoh aja nggak.

    Menurut wa yang terjadi adalah sebuah rekayasa! Semua org yg di TKP dalam keadaan tiarap, jd tidak ada yg menyaksikan lgs kejadiannya, mereka hanya bisa mendengar, dan suara tembakan yang terdengar dalam ruangan tidak akan bisa dibedakan berasal dari mana. Jadi setelah meneriakkan peringatan, pihak polisi langsung menembak korban kemudian menembakkan revolver yang telah disiapkan kemudian merekayasa posisi korban.

    Apakah saya berlebihan dalam menganalisis? Entahlah, ini kan hanya analisis. Tapi yang terlihat polisi seolah berusaha membungkam mulut korban dengan kematian. Seandainya korban memang teroris yang dicari2 dan telah dibuntuti sedemikian rupa, kenapa lgs maen tembak mati??? Kenapa tidak dengan cara yang lebih cerdik menyamar dengan masuk ke warnet layaknya seorang user, mendatangi bilik tersangka dan langsung menodong pistol ke kepala tersangka dan memborgolnya? Sehingga nantinya bisa dimintai keterangan tentang segala2nya???? Tp yang terjadi justru sebaliknya! Maen tembak mati dan kehilangan informasi penting tentang kegiatan terorisme di Indonesia! Sangat aneh dan tidak cerdik sama sekali!

    Dan dengan PeDenya SBY memastikan itu Dulmatin, padahal polri blom lg memeriksa DNA korban. Memang kemudian hasil DNA memastikan itu Dulmatin. Hebatnya Presiden kita, bisa meramal dgn tepat ato sudah direncanakan dengan tepat? Saat beliau sedang di Austria lagi, sehingga citranya semakin meningkat.

    Menurut saya, Dulmatin sebenarnya sudah mati dari dulu, tp sengaja “dihidup2kan” utk kepentingan seperti saat ini. Sepertinya perburuan teroris menjadi senjata pemerintah untuk mengalihkan persoalan dan menaikkan citra. Jadi inget waktu penyerbuan teroris oleh Densus 88 tepat setelah pemilu presiden kemaren, saat sedang heboh2nya tentang kecurangan pemilu, mendadak semuanya hilang dikarenakan berita pengepungan dan “pemborbadiran tembakan” di sebuah rumah yang disangka tempat pesembunyian Nurdin M Top, yang ternyata rupanya salah. Dan berita tentang kecurangan dalam pemilu langsung hilang seketika! Trus jadi inget Antasri Ashar yang mencoba membongkar kecurangan pemilu malah terkena kasus!

    Sekarang kasus Century jd semakin dingin, dengan adanya berita teroris tambah terlupakan (memang sih gara2 jg prosesnya udah dilimpahkan ke KPK, tp harusnya tetep ada follow upnya dunk). Dan Pak SBY jd sorotan di Australia sana karena polisi berhasil menangkap teroris.

  10. […] Biru Corner Bahaya Besar di Balik Kezhaliman Densus 88Catatan Berserak Pasca Konggres Umat IslamFatwa Tentang ABORSICaci Maki Pembela Gus DurDakwah Islam […]

  11. arief berkata:

    densus es cendol 88…wkwkwkwkwkw

  12. Brain berkata:

    Nice post. I learn something totally new and challenging on sites I stumbleupon on a daily basis.
    It’s always useful to read through articles from other writers and use something from other websites.

  13. Informasi Berbobot berkata:

    Di Indonesia dagangan Teh Roris yg dijual Oleh Yesus88 laris manis laku keras, pembelinya kaum sekulerisme dan munafiqun.. direktur utama Yesus88 mbai adalah produsen Teh Roris yg sangat rakus karna didukung sang Penguasa dan pengusaha Pengemplang Pajak produksi terbaru adalah kehilangan dinamit sebanyak 250 buah ini juga dagangan yg belum laku…baru promosi.. Teh Roris adalah sejenis teh botol yg dikemas oleh Yesus88 supaya menarik peminat terutama. Demikian Informasi berbobot yang bisa saya sampaikan.

    Terimakasih.

  14. Irfan berkata:

    Ansyaad Mbai itu beragama Islam, Densus 88 itu banyak yang beragama islam, kalau memang Mr. abisyakir, Mr. Informasi berbobot dan yang lain merasa densus 88 menzhalimi para teroria di indonesia yang seluruhnya beragama islam, bagaimana kalau posisi Ansyaad Mbai digantikan saja dengan Mr. Abisyakir atau Mr. Informasi berbobot, lalu tunjukkan cara anda dalam memerangi dan meminimalisir tindakan teror dari para teroris tersebut, agar tidak kelihatan anda berdua cuma omong doang, atau anda berdua ajak seluruh umat islam untuk membubarkan Densus 88 dan BNPT dan sebagai gantinya anda bentuk BNPT yang baru yang islami, yang sesuai dengan kehendak anda, mari kita lihat apakah teroris akan hilang atau malah bertambah, silahkan beraksi, jangan cuka mengkritik tanpa bisa memberikan solusi

  15. abisyakir berkata:

    @ Irfan…

    Dulu waktu zaman Orde Baru…pemberantasan teroris dilakukan, tapi diam-diam, dengan pendekatan individu atau kelompok. Kalau ada tanda-tanda bakal muncul aksi teroris, cepat-cepat diatasi, secara silent, tanpa blow up media, tanpa harus membuat opini “musuh bersama”. Dampaknya, ancaman teroris diatasi, tanpa harus membesarkan potensi aksi-aksi semacam itu dan tanpa harus membuat permusuhan di tengah Umat dan bangsa. Coba deh, Bapak kaji pandangan mantan Kepala BAKIN, AC. Manullang, tentang terorisme.

    Admin.

  16. Irfan berkata:

    Abisyakir, teroris dulu beda dengan teroris sekaran, kalau dulu zaman permerintahan orde baru presiden suharto tegas menghadapi para teroris, kalau sekarang pemerintahan orde refromasi, pemerintah tak ada berharganya dimata teroris, para teroris dengan bangganya dan beraninya memproklamirkan dirinya sebagai mujahid serta dilengkapi dengan ayat-ayat Alquran sebagai pendukung tugas suci mereka, mereka tidak takut mati, karena kalaupun mereka mati, meraka beranggapan masuk surga dan 72 bidadari surga telah menanti mereka, makanya saya katakan sebelum anda menuduh Densus 88 adalah zhalim, silahkan anda ikut bertugas dengan Densus 88 dalam memerangi teroris barulah anda bisa berkoar-koar untuk menyampaikan apa yang anda lihat. OK.

  17. Herman Baso berkata:

    ini dikutip dari : http://ahmadirpan-pejuangpena.blogspot.com/2013/06/inilah-bocoran-sekenario-ala-densus-88.html

    khusus untuk Irfan, atau sesiapa saja

    Kemaren saya di datangi oleh kerabat saya yang seorang intel densus88 dia datang untuk memperingatkan saya agar tidak terpengaruh apabila ada hasutan sekelompok orang untuk berjihad di indonesia, kerabat saya itu mendengar dari sepupu saya bahwa saya sering memposting berita2 jihad luar negri di akun-2 saya lalu dia datang untuk memperingatkan saya agar berhati2 bila ada ajakan dari teman atau bahkan sekelompok orang yang mengaku akan berjihad di negri indonesia ini. Saya baru tau bahwa densus88 mempunyai cara picik untuk melanggengkan namanya.

    SINGKAT SAJA
    kerabat saya menjelaskan cara cara densus membuat orang jadi tersangka teroris

    1>- DENSUS88 mempunyai intel di akun akun jejaring sosial, kerjanya untuk mencari dan memantau (AKUN) yang berjiwa mujahid/mempunyai cita2 mati syahid/yang sering memposting berita berita jihad

    2>- setelah target di temukan maka akun intel DENSUS88 yang menyamar sebagai mujahid akan mengirimkan pertemanan dan setelah di konfirmasi,maka mereka akan memulai bertanya2 dimana alamat rumahnya sambil di iringi perbincangan tentang penegakkan syariat di indonesia klo semua lancar maka mereka akan melakukan pertemuan rahasia

    3>- Bagi yang akun nya sudah terpampang alamat yang jelas dan ada foto profil aslinya,si intel akan langsung menjadikan dia target dg mengutus orang yang mengaku
    sebagai perindu syahid

    4>- Setelah melakukan pertemuan dan terjadi kecocokan pemikiran, maka sang calon korban DENSUS88 ini akan langsung di beri latihan meliter, atau langsung di persenjatai

    5- Setelah itu Calon korban ini di carikan tempat atau rumah kontrakan yang tentunya strategis bagi DENSUS88 untuk menyerbu (kita tau rata semua penyergapan TERORIS adalah rumah kontrakan)

    6>- setelah para calon korban ini sampai di kontrakan, bahan2 peledak yang belum komplit mereka hantarkan ke kontrakan,biasanya intel2 tersebut mengatakan bahwa itu akan di jadikan bom rakitan dan untuk mengajari calon korban ini merakit bom( namun bagi DENSUS88 itu hanyalah alat sebagai barang bukti nantinya).

    7>- perlu di ketahui bahwa para calon korban ini di beri senjata dengan peluru yang terbatas, agar saat mereka melakukan perlawanan tidak terlalu lama(agar kehabisan peluru) sehingga saat mereka kehabisan peluru DENSUS88 bisa langsung menembak mati korban dg alasan melakukan perlawanan saat mau di tangkap

    8>- Setelah semua siap maka akan terjadilah drama penggerebekan TERORIS, dan akan di siarkan biasanya secara LIVE di tv nasional yg sudah di beri tahu sebelumnya

    9>- Saat penggrebekan terjadi,biasanya akan terjadi kontak senjata, itu di karenakan sang calon korban ini sudah di doktrin untuk membenci pancasila dan seluruh aparat keamanan terutama DENSUS88 sehingga saat mereka tau bahwa yang datang densus88 para korban ini sangat bersemangat, karena mereka fikir bahwa mati di tangan DENSUS88 adalah mati syahid

    10>- Perlu di ketahui bahwa yang di rekrut para intel ini adalah anak anak muda yang mempunyai jiwa perang dan mempunyai cita cita mati syahid,namun tanpa sadarmereka telah di kelabui untuk menjadi tumbal DENSUS88 agar terus exist, selain itu juga sebagai cara untuk me minimalisir para pejuang khilafah di indonesia

    11>- Anggota/Regu DENSUS88 yang bertugas menyergap memang tidak tahu menahu dengan skenarioini,untuk menjaga kerahasiaan operasi,, mereka hanya tau bahwa yang sedang mereka sergap adalah anggota teroris/jaringan al-qaidah

    12>-Si korban akan langsung di tembak mati di tempat tampa peradilan dan tanpa bukti bahwa telah melanggar hukum, agar dia tidak bisa menjelaskan kronologi perekrutannya (adapun yang masih hidup,mereka tidak akan mampu berkutik dan membela diri karena mereka tidak sadar klo yang merekrut mereka ini adalah intel DENSUS88 dan mereka pun akan mengakui bahwa mereka adalah mujahid (Red-mujahidin buatan densus).

    Saya di buat tak berkata oleh kerabat saya dengan fakta2 yang dia beberkan, karena memang begitu sama persis klo saya fikir dengan aksi2 penangkapan TERORIS yang di lakukan DENSUS88

    info dari ( muhammad M,,,,T,,,)
    Sahabat2 muslimku semua, berhati2lah kalian INGAT,,,!!!!! jika ada yang mengajak berjihad di indonesia kalian harus berhati2 terkecuali seruan dari ORMAS-2 yang sudah kita kenal sebelumnya dan berhati2lah dg PAG yang sangat condong memecah belah dg dalih TAUHID intinya klo mereka memang benar maka mereka tidak hanya akan mengkafirkan dari belakang layar namun keluar untuk menyeru ummat untuk menuju medan jihad fisabilillah

  18. abisyakir berkata:

    @ Irfan…

    Begini lho Pak… Sekitar sebulan sebelum Bom Bali I pada Oktober 2002 di Kuta Bali, Amerika mendesak pemerintah Mbak Mega supaya mengekstradiksi Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Mbak Mega menolak permintaan itu. Lalu pihak Amerika mengancam, kalau tetap menolak nanti “akan terjadi sesuatu” di Indonesia. Seminggu sebelum Bom Bali I meledak, SBY sebagai Menko Polkam menggelar rapat darurat melibatkan pejabat tinggi keamanan dan tokoh2 tertentu. Dalam rapat itu SBY “mewanti-wanti” akan terjadi kasus terorisme di Indonesia; dan pelakunya “sudah ditetapkan” yaitu kelompok Imam Samudra dan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Bayangkan, kejadian belum terjadi, pelaku sudah ditetapkan.

    Benar saja…seminggu kemudian Imam Samudra dan kawan-kawan meledakkan bom mobil di depan Cafe Paddy’s Club di Legian Kuta. Inilah kesalahan yang benar-benar mereka akui. Beberapa menit kemudian, ada tembakan rudal dari arah pelabuhan Bali menuju sasaran Cafe Sari Club. Kebetulan kapal Amerika ketika itu sedang merapat di pelabuhan Genoa Bali. Inilah fakta “inside” di balik Tragedi Bom Bali. Semua orang mengutuk Imam Samudra Cs sebagai pelaku, sedangkan mereka hanya melakukan aksi bom mobil di Paddy’s Club saja. Korban ratusan orang justru di Sari Club. Tapi semua fakta ini ditutupi, pokoknya Imam Samudra Cs pelaku Bom Bali I.

    Banyaklah, banyak fakta-fakta aneh di balik kasus terorisme di negeri ini. Kalau melihatnya dengan kacamata “lugu” ya mungkin-mungkin saja. Tapi nanti akan banyak “missing link” di sana. Maka itu benar kata Dr. AC. Manullang, bahwa terorisme di Indonesia “hasil buatan” bukan alami benar-benar sebagai serangan terorisme yang direncanakan si pelaku.

    Kami tidak tahu…apakah Anda bisa menerima fakta-fakta inside ini atau tidak. Yang jelas, Densus88 dibentuk untuk memperlama drama “pemberantasan terorisme” tersebut. Dan uniknya, apa yang mereka sebut “terorisme” bukannya malah mereda, malah mendapatkan dukungan luas dari para pemuda-pemuda Muslim di Indonesia. Kalau sejak awal mereka gunakan cara “keep silent”, mungkin akan lain ceritanya.

    Ya bagaimanapun semua sudah menjadi takdir Allah, apa yang sudah terjadi tak bisa ditarik. Ada aksi ada reaksi; ada kezhaliman aparat, ada arus balik permusuhan kepada aparat. Mereka menyiram api dengan bensin, maka kobaran api pun semakin membesar. Ingat selalu, kezhaliman hanya akan melahirkan “serangan balik”, terserah pihak yang zhalim akan merasa suka atau benci.

    Admin.

  19. Irfan berkata:

    Herman Baso dan Abisyakir, anda berdua harus bertidndak buktikan saja kalau memang Densus 88 itu zhalim, kan Densus 88 itu didominasi muslim juga, kalau anda tidak sefaham dengan mereka, tunjukkan kepada mereka mana yang benar dan mana yang salah jadi bukan hanya tulisan kosong tanpa arti.

  20. Irfan berkata:

    Halo Abisyakir, apa khabarnya, saya mau tanya kenapa pembahasan tentang Ustad ABB koq dihapus, apa tidak bisa lagi ya memberikan argumen yang menyehatkan.

  21. abisyakir berkata:

    @ Irfan…

    Bukan itu alasan. Tapi ada masalah lain yang serius. Anda gak akan paham. Sudahlah…jadi manusia normal saja.

    Admin.

  22. Irfan berkata:

    Abisyakir anda mencari-cara alasan untuk menutupi kebohongan, saran saya kembalilah ke jalan yang benar dan jangan suka negative thinking kepada sesama manusia

%d blogger menyukai ini: