Apakah Indonesia Bisa Menjadi Baik?

Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, pernahkah Anda membayangkan negara ini akan menjadi lebih baik, lebih bermartabat, lebih adil dan sejahtera?

Jika Anda pernah bermimpi demikian, apakah Anda yakin bahwa harapan itu akan tercapai? Jika Anda pesimis dengan nasib Indonesia, lalu persiapan apa yang telah Anda siapkan untuk menyambut era kehancuran Indonesia nanti?

Terus terang, pertanyaan ini untuk kita semua, untuk saya dan untuk Anda semua, wahai para pembaca. Anda kan orang Indonesia, maka Anda harus menentukan apakah akan masuk golongan “masih optimis”, atau masuk golongan “sudah pesimis”? Setelah itu, sebagai golongan apapun, apa yang akan Anda lakukan?

"Negara dibangun untuk melayani hawa nafsu kaum ELIT atau PRIYAYI."

Mohon, pertanyaan ini dijawab oleh setiap pembaca tulisan ini, yang saat ini sedang memandang monitor, sedang online, serta hatinya masih ada di dada. Mohon Anda jawab, sebagaimana saya juga harus menjawab pertanyaan tersebut, sebab saya menjadi bagian dari orang Indonesia.

Lambat atau cepat, suka atau tidak suka, biarpun Anda hendak bersembunyi di liang semut sekalipun, sebagai orang Indonesia, Anda harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan tersebut. Jika Anda tidak berani menjawab, bahkan tidak bisa berpikir apapun untuk menjawab, ya sudahlah banyak-banyak saja beristighfar, sambil menanti saat datangnya maut. Ya, hidup seperti itu tak ada bedanya antara kematian dan kehidupan; hidup tapi mati, mati tapi masih hidup.

Bulan April lalu ada sebuah tulisan kecil di koran Pikiran Rakyat. Judulnya, “Perubahan Sistem Tak Ubah Iklim Koruptif”, edisi 12 April 2010, halaman 16. Dalam artikel itu disebutkan pandangan Ketua MK, Mahfud MD., tentang kegagalan proses Reformasi di Indonesia. Pak Mahfud mengatakan, bahwa meskipun sistem manajemen lembaga negara sudah diubah, nyatanya korupsi tetap subur.

Disini coba saya kutip ulang artikel di PR tersebut:

Perubahan sistem perbankan dan peradilan sejak era Reformasi, sepertinya bukan jawaban dalam mengatasi lembaga negara yang koruptif, karena langkah strategis ini nyatanya melahirkan mafia hukum di peradilan ataupun di perbankan. “Maka skandal Bank Century, Yayasan Pengembangan Bank Indonesia (YPBI), skandal pajak, hakim disuap, semua menunjukkan bahwa perubahan system bukan jawaban mengatasi masalah,” kata Ketua Mahkamah Konstitusi, M. Mahfud MD saat berbicara di Yogyakarta, Minggu (11/4).

Dia mengatakan, belum ada strategi lain untuk mengatasi masalah perbankan dan lembaga negara, selain perubahan sistem. Kenyataannya, perubahan sistem di perbankan, peradilan, dan perpajakan, tetap saja melahirkan berbagai mafia hukum. Itu pertanda, perubahan sistem bukan terapi mengatasi masalah. Menurut dia, BI sebelum independen dianggap sering diintervensi oleh Pemerintah Orde Baru. Ketika BI independen pun, sejumlah skandal korupsi muncul dari dalam. Hal yang sama dialami peradilan. (Pikiran Rakyat, 12 April 2010, hal. 16).

Pernyataan Mahfud MD. ini sangat berarti, sebab ia muncul dari seorang Ketua MK yang mempelajari perubahan-perubahan tatanan hukum sejak era Reformasi berlangsung. Singkat kata, “Bangsa Indonesia ini susah menjadi baik. Perubahan aturan atau tatanan apapun, korupsi tetap merajalela.”

Kalau dengan bahasa saya sendiri, “Reformasi selama 12 tahun terakhir hanya basa-basi saja. Kulitnya berubah, tetapi hakikat sistem korupsinya tetap tidak bergeming. Seakan sistem korupsi itu sudah berurat-berakar, sehingga bila terjadi perubahan, hanya berubah person-nya saja, tidak berubah sistemnya.”

PKS pernah membuat kampanye publik lewat spanduk-spanduk yang berbunyi, “Harapan itu masih ada!” Tetapi secara pribadi, saya tak yakin dengan optimisme seperti itu, selama kita tidak mau bicara AKAR masalahnya.

Kerusakan yang menimpa bangsa Indonesia ini sudah sangat akut. Andaikan di negeri ini terjadi 100 kali Reformasi, tetap saja susah berubah, jika yang diubah hanya kulit atau kemasannya saja. Tanpa ada perubahan yang radikal dan dramatis, rasanya susah berharap. Paling, bangsa ini akan “mati pelan-pelan”.

Lalu akar masalah bangsa kita apa?

Bangsa Indonesia menjadi rusak dan hancur seperti saat ini ialah karena dominasi sistem FEODALISME. Dulu feodalisme itu dikaitkan dengan raja-raja, keluarga raja, dan kaum bangsawan; dominasi politik di tangan kaum bangsawan. Para bangsawan ketika itu berkuasa dan keluarganya hidup nyaman karena mengabdi kepentingan kaum KOLONIAL. Sebagai imbalan atas jasanya bagi kolonial, mereka diberi gaji, kedudukan, jabatan, tanah, perlindungan, dll.

Ternyata, sistem seperti itu belum berubah sampai sekarang. Kalau dulu, dominasi oleh para bangsawan, sekarang oleh KAUM ELIT. Bisa elit politik, elit birokrasi, elit pengusaha, elit akademisi, elit militer/kepolisian, elit media, dan lain-lain. Tanpa disadari, kaum elit inilah yang selama ini mendominasi percaturan kehidupan di Indonesia ini. Dan tidak berlebihan jika kebanyakan mereka masih memiliki garis keturunan dengan kaum bangsawan di masa lalu.

Seharusnya, negara dibangun untuk melayani seluruh rakyat Indonesia. Tetapi dalam praktiknya, negara ini bekerja melayani nafsu hedonisme kaum elit. Negara sebesar ini dengan kekayaan besar luar biasa, bukannya untuk kesejahteraan rakyat, tetapi untuk segelintir kaum elit yang rakus kesenangan dunia. Boro-boro mereka ingat dengan rakyat, ingat dengan anak-isterinya sendiri saja, mereka jauh. Ketika selingkuh, mereka lupa anak-isterinya.

Lalu bagaimana kaum elit itu bisa eksis dan mendominasi?

Jawabnya mudah saja: Mereka dipelihara oleh para KOLONIALIS baru. Konsorsium para penjajah asing sangat berterimakasih dengan kehadiran kaum elit durjana dan terkutuk itu, sebab merekalah yang menjadi makelar untuk menjual kekayaan bangsa ke tangan asing. Para kolonialis justru sangat tidak suka jika ada peranan orang-orang yang idealis dan mencintai negerinya, sebab bila mereka banyak berperan, proses penjajahan akan sangat terganggu.

Jadi kondisinya masih sama seperti jaman penjajahan Belanda dulu. Masih sama saja. Tidak banyak berubah. Dulu kaum bangsawan menjajah rakyatnya sendiri dalam rangka melayani nafsu Belanda. Kini kaum elit menjajah rakyatnya kembali, demi melayani konsorsium penjajah asing. Sama belaka, Mas!

Selama sistem FEODALISTIK ini masih bercokol kuat, jangan berharap Indonesia akan berubah. Itu omong kosong belaka. Apa yang dikatakan oleh Pak Mahfud MD, bukan sesuatu yang aneh. Andai ada perubahan sistem sampai 100 kali pun, selama dominasi kaum elit pelayan penjajah ini tidak diamputasi, jangan pernah berharap ada masa depan bagi Indonesia.

Tugasku disini hanya mengingatkan, sebatas amanah yang Allah bebankan ke pundakku. Setelah itu semua persoalan kembali kepada Anda sendiri. Mau berubah, atau mau tertindas? Mau menjadi hamba Allah yang mulia, atau menjadi jongos orang kafir? Silakan, itu pilihan Anda. Senang atau susah, syurga atau neraka, ada dalam pilihan hidup Anda.

AMW.

Iklan

3 Responses to Apakah Indonesia Bisa Menjadi Baik?

  1. dudiyudia berkata:

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…menjawab pertanyaan di awal tulisan, saya termasuk yang pesimis. Tapi juga belum mempersiapkan apa-apa untuk menyambut kehancuran Indonesia.Sebagian karena saya terlalu takut bila hal itu sampai terjadi. Pemilu berikutnya saya memilih golput saja, daripada berandil menghancurkan negeri. Menurut saya akar kezhaliman tumbuh subur dalam tubuh partai politik, karena merekalah pencetak penghianat negara yang handal. Merekalah negara dalam negara. Di dalamnya diisi zombi-zombi haus kekuasaan dan monster-monster gila harta yang memperebutkan dana masyarakat dengan begitu ganasnya.
    saya? saya hanya pegawai perusahaan swasta yang membanting tulang untuk punya sebangun rumah di atas sebidang tanah. saya dipajaki tiap bulan, tiap tahun, untuk membiayai kegiatan politik zombi-zombi itu. supaya mereka punya uang untuk bikin banner, spanduk dan beriklan di tv. supaya setelah zombi kapitalis lulusan parpol itu mendapat jabatan, pajak saya bisa digunakan untuk membeli mobil dinas atau membiayai pengeluaran bulanan rumah dinas mereka. Saya? punya rumah sendiri saja belum. Kalau zombi-zombi itu punya sisa sedikit sel otak saja di batok kepalanya, dan secuil hati di balik tulang iganya, mereka akan menetapkan bunga KPR 0.5% dan masa pinjaman 30 tahun, seperti di Jepang. agar saya punya uang lebih untuk menjamin pendidikan anak saya, agar ia mendapat didikan moral terbaik dari ayahnya yang jadi punya waktu lebih banyak untuknya.
    Ya, saya pesimis…dan maaf saya jadi curhat colongan di blog anda, ustadz. Punten kalau komentarnya terlalu panjang.
    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.(pembaca setia blog anda)

  2. […] sendiri yang mengomentari tulisan “Apakah Indonesia Bisa menjadi lebih Baik?’  di blog abisyakir.wordpress.com. Niatnya cuma mau komentar, tapi jadi terpancing untuk curhat juga. dan anehnya, kalau untuk […]

  3. abisyakir berkata:

    @ Dudiyuda…

    Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh.

    Terimakasih Kang atas komentarnya. Tidak apa panjang juga. Selagi relevan dan sopan, insya Allah ditampilkan. Meskipun seandainya komentar itu berbeda dengan opini yang saya sampaikan. Kebenaran tidak mengenal monopoli, tetapi selalu “terbuka untuk diuji”. Siapa yang paling bagus hujjah-nya, dia lebih layak diikuti.

    Saya terus terang sedih membaca “curhat” Anda. Sedih karena itulah penderitaan kita sebagai kaum Muslimin yang tidak berdaya di negeri ini. Bangsa ini terlalu banyak diisi oleh “setan berhati manusia”. Mereka tidak peduli sama sekali dengan penderitaan Ummat. Apa yang mereka pedulikan hanya perut dan “di bawah perut” mereka sendiri. Orang lain dianggap “nothing”.

    Semoga Allah menghajar dan menghancurkan kaum “zombi” itu beserta kekuatan mereka agar tercerai-berai. Dan semoga Allah memberikan harapan kebaikan bagi masyarakat kaum Muslimin yang menderita ini. Amin Allahumma amin.

    AMW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: