Belajar dari Cinta Habibie

Tidak salah dia dinamakan Habibie. Habibie berarti seseorang yang mencintai, atau sang tercinta. Tetapi kata “habibi” sering dimaknai sebagai kekasih. “Ya habibi, habibi,” artinya wahai kekasihku.

Selama kariernya sebagai Menristek, BJ. Habibie sangat dikagumi oleh banyak orang, sejak anak kecil sampai orang-orang tua. Para ibu-ibu juga terobsesi agar anaknya kalau besar, “Bisa seperti Pak Habibie.” Dalam sebuah lagu anak-anak, “Diobok-obok airnya diobok-obok…” nama Habibie disebut-sebut disana oleh penyanyi cilik, Joshua. Habibie ibarat sebuah obsesi ideal yang didambakan mayoritas masyarakat Indonesia di jaman Orde Baru ketika itu.

Setelah usia senja, setelah isterinya Bu Ainun wafat, lagi-lagi Habibie menjadi pusat perhatian masyarakat luas, khususnya para ibu-ibu. Setelah Bu Ainun wafat, BJ. Habibie menunjukkan rasa cintanya yang amat mendalam. Bahkan kesannya, sangat melankolik (mendayu-dayu). Nah, kualitas cinta seperti itu sangat didambakan oleh ibu-ibu. “Coba saja, kalau cinta suamiku seperti cinta Pak Habibie ke Bu Ainun, aku pasti bahagia,” obsesi para ibu-ibu.

Untukmu wahai isteri tercinta...

Lihatlah saat Pak Habibie mencium isterinya saat masih sakit, juga saat beliau menunggui isterinya selama berbulan-bulan di RS. Beliau tak pernah sehari pun meninggalkan RS itu. Setelah Bu Ainun wafat, Pak Habibie selalu berada di bawah satu atap dengan isterinya. Ketika sudah dimakamkan pun, Pak Habibie berkali-kali mengelus nisan isterinya sambil berdoa. Semula acara tahlil (amalan yang tidak dicontohkan oleh Nabi) akan digelar 7 hari di Patra Kuningan, tetapi Pak Habibie memutuskan diperpanjang menjadi 40 hari.

Banyak orang merasa takjub dengan sikap melankolik sang teknokrat. Tidak disangka, di balik sikap “mekanik”-nya sebagai teknolog, Pak Habibie memiliki kualitas cinta yang sangat mendalam kepada isterinya. Duh, tak terbayangkan andai sebulan tak bertemu dan berbicara dengan sang isteri, alangkah sepinya.

Kualitas cinta ini memang bukan sesuatu yang aneh. Sejak awal, Pak Habibie sedemikian rupa mencintai isterinya. Karena isteri pula, beliau mundur total dari dunia politik, padahal prospek politik beliau ketika itu sangat tinggi. Beliau memilih tinggal di Jerman, bersama isteri dan keluarga, serta hanya sesekali datang ke Indonesia. (Mungkin, kalau beliau lagi kangen ingin makan sayur kangkung dan sambel terasi, baru ada niatan pulang ke Indonesia).

Bagi orang-orang yang berjiwa ksatria, sikap melankolik itu seperti kenyataan yang aneh. “Mencintai sih boleh, tapi jangan gitu-gitu amat dong!” kata para pengeritik. Dari sini kita bisa belajar bahwa Pak Habibie tidak memiliki bakat menjadi seorang politisi. Gagasan-gagasan beliau cerdas dalam politik, ya! Tapi intuisinya untuk menjadi politisi sejati, kurang. Ya itu tadi, urusan cinta kepada isteri seolah lebih tinggi dari interest-nya kepada urusan masyarakat dan negara.

Mungkin Anda masih ingat bagaimana sikap Pak Jusuf Kalla kepada isterinya. Mereka saling mencintai juga, tapi masing-masing pihak sadar posisi. Pak JK tidak mau melibatkan isterinya dalam isu-isu politik. Malah katanya, kalau Bu JK mau ikut campur urusan politik, beliau tak suka.

Cinta Pak Habibie ini mengingatkan kita pada Sultan Syah Jeihan dari Dinasti Moghul di India. Sultan Syah Jeihan amat sangat mencintai isterinya, Mumtaz Mahal. Ketika sang isteri wafat, sultan itu membuatkan makam yang megah baginya. Makam itu terletak di bawah sebuah istana yang luar biasa. Itulah yang kemudian kita kenal sebagai, Taj Mahal. Istana indah yang dibuat untuk mengenangi rasa cinta seorang suami kepada isterinya. [Dalam Islam, cara seperti ini keliru. Kita dilarang membuang-buang uang secara mubadzir untuk mengagung-agungkan manusia yang telah meninggal].

Raja Abdul Aziz Al Saud, pendiri Dinasti Saudi kedua, juga amat sangat mencintai seorang isterinya. Wanita-wanita yang pernah menjadi isteri beliau banyak, tetapi dalam satu waktu hanya ada empat orang. Salah seorang isteri beliau, amat sangat dicintainya. Konon, sang isteri sering diminta pendapat-pendapat politiknya, sebelum Raja Abdul Aziz melakukan suatu gerakan atau kebijakan tertentu. Kalau beliau gelisah, solusi yang ditempuhnya ialah mengirim kabar kepada isterinya, lalu meminta pertimbangan.

Begitu juga, Hitler terkenal dengan kekasihnya, Eva Braun. Konon, Hitler meninggal dalam sebuah bungker bersama isterinya, setelah mereka bunuh diri. Tapi saya pernah membaca, katanya ada yang menyebutkan bukti-bukti bahwa Hitler ketika meninggal ada di Indonesia, dalam penyamaran sebagai seorang dokter.

Kembali ke sosok BJ. Habibie. Sebagai teknolog, otak kirinya sangat kuat berperan. Otak kiri banyak berpikir dalam logika matematik. Sedangkan rasa cintanya yang mendalam kepada isteri, menunjukkan kekuatan otak kanannya.

Kedua sisi otak ini, bila distimulus secara seimbang, tidak hanya “ekstrim kiri” atau hanya “ekstrim kanan”, tetapi “ekstrim kedua-duanya”, insya Allah bisa melahirkan karya kemanusiaan yang hebat. Ya, contohnya seperti Pak Bacharuddin Jusuf Habibie itu. Seorang sastrawan, cobalah sering-sering melatih nalar hitung matematiknya. Begitu pula, seorang teknolog, sering-seringlah membuat karya seni. Insya nanti akan lahir paduan “ekstrim kiri-kanan”.

Nah, itulah pelajaran yang ingin disampaikan. Seperti kata ungkapan, “Khairul umur ausawtuha” (sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan). Semoga ada manfaatnya. Amin Allahumma amin.

AMW.

Iklan

One Response to Belajar dari Cinta Habibie

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: