Sekolah Untuk “Orang Miskin”

Topik ini merupakan salah satu kecaman besar saya kepada dunia pendidikan kita, khususnya terhadap paradigma berpikir yang mengistimewakan “fakir-miskin” dan “yatim-piatu” dalam pendidikan. Bukan karena saya anti kepada orang miskin atau yatim-piatu, tetapi selama ini kita sering salah kaprah.

Banyak yayasan, lembaga sosial, perusahaan, instansi, BUMN, dll. memberikan fasilitas istimewa kepada kaum fakir-miskin dan yatim-piatu. Mereka diberi beasiswa, kesempatan sekolah, tunjangan, fasilitas, dan sebagainya. Begitu istimewanya kaum fakir-miskin dan yatim-piatu, sehingga ada anak-anak dari keluarga “agak mampu” yang membayangkan keluarganya menjadi miskin, atau ayah-ibunya wafat, agar mereka mendapat fasilitas istimewa dalam pendidikan.

Pendidikan Berbasis "Rasa Kasihan".

Sebenarnya, pendidikan bagi fakir-miskin dan yatim-piatu itu sudah menjadi KEWAJIBAN NEGARA untuk melayani mereka sebaik-baiknya. Bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga kesehatan, gizi, fasilitas hidup, dll. Dimana saja ada masyarakat fakir-miskin dan yatim-piatu, sudah menjadi KEWAJIBAN negara untuk memperbaiki kehidupan mereka. Hal ini bersifat wajib, tidak ada toleransi lagi. Seperti dalam UUD disebutkan, “Fakir-miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara.” Jadi, amat sangat telat kalau kita baru sadar bahwa fakir-miskin dan yatim-piatu itu harus ditolong sebaik-baiknya.

Kalau dalam praktik ternyata fakir-miskin dan yatim-piatu diterlantarkan oleh negara, seharusnya para pemimpin itu diajukan ke pengadilan, karena telah melanggar hak-hak rakyat lemah yang seharusnya dibantu, ditolong, dan dientaskan dari penderitaan mereka. Hanya saja, pernahkah di Indonesia ada seorang pejabat diadili karena menerlantarkan fakir-miskin dan yatim-piatu? Tidak pernah ada, dan tidak ada pula yang mau mengajukan tuntutan.

Adapun soal pendidikan, itu masalah berbeda. Ketika bicara tentang pendidikan, pikiran kita harus segera menuju agenda besar, yaitu pemberdayaan SDM. Dalam konteks pemberdayaan SDM, paradigma-nya jangan kepedulian sosial untuk menolong fakir-miskin dan yatim-piatu. Jelas harus dipisahkan antara keinginan membentuk SDM yang kuat dengan kewajiban melayani fakir-miskin dan yatim-piatu. Dua hal tersebut sangat berbeda. Pembentukan SDM terkait dengan missi Departemen Pendidikan, sementara menolong fakir-miskin dan yatim-piatu berkaitan dengan missi Departemen Sosial. Ini dua hal berbeda, jangan dicampur-aduk.

Kalau mau membentuk SDM yang handal, ya bentuklah sebaik-baiknya. Cari manusia-manusia berbakat, komitmen belajar tinggi, motivasi kuat, bermoral luhur, dan sebagainya, lalu berikan bantuan kepadanya sebaik-baiknya. Tidak peduli, dia anak konglomerat atau pengusaha sekalipun. Dimana saja ada bakat-bakat yang kuat di bidang SDM, bantu mereka, didik mereka sebaik mungkin, agar terlahir tenaga-tenaga SDM yang handal.

Bakat dalam belajar, motivasi kuat, bermoral luhur, semua itu sangat dibutuhkan untuk melahirkan manusia-manusia kuat. Dimanapun bakat-bakat itu ada dan ditemukan, apakah di golongan fakir-miskin, golongan menengah, bahkan golongan elit sekalipun, bantu mereka untuk mendapat pendidikan sebaik-baiknya, seluas-luasnya. Setelah itu, kita bisa berharap mereka akan menjadi manusia-manusia handal yang sangat berguna bagi kehidupan masyarakat luas.

Selama ini, ada rasa sedih di hati ketika menyaksikan begitu banyaknya fasilitas kemudahan bagi fakir-miskin dan yatim-piatu. Sementara golongan lain, yaitu anak-anak dari klas “menengah ke bawah”, mereka sebenarnya juga sangat membutuhkan dukungan itu. Hanya karena mereka tidak masuk kriteria “orang miskin” dan “yatim-piatu”, akhirnya mereka diabaikan. Hal ini seringkali berakibat membunuh potensi-potensi besar yang seharusnya lahir di tengah masyarakat kita. Banyak sekali anak-anak yang mampu, berprestasi, motivasi tinggi, rajin ke masjid, patuh kepada orangtua, menghargai kaum wanita; hanya karena mereka “bukan miskin” dan “tidak yatim-piatu”, mereka tidak dibantu sama sekali dalam belajar. Akibatnya, potensi mereka tidak berkembang baik. Bagaimana akan berkembang, wong mereka tidak memiliki biaya cukup untuk mengakses fasilitas-fasilitas pendidikan?

Salah satu contoh, program Dompet Dhuafa Republika. DD Republika memiliki suatu paradigma untuk memberikan fasilitas pendidikan yang istimewa kepada anak-anak miskin yang berprestasi. Tujuan mereka, “Untuk mengentaskan mereka, agar bisa memutus rantai kemiskinan yang membelenggu keluarga mereka.” Sekilas pintas, pemikiran seperti ini benar. Tapi kalau kita kaji lebih dalam, pemikiran seperti ini justru semakin memperpanjang riwayat kemiskinan itu sendiri.

Lho, bagaimana logikanya sehingga pemikiran seperti itu malah disebut memperpanjang riwayat kemiskinan?

Begini penjelasannya. Kalau kita memberi beasiswa kepada 10 anak yang berprestasi dari keluarga fakir-miskin dan yatim-piatu, sehingga mereka diberi kemudahan sekolah sampai lulus sarjana. Lalu mereka berhasil bekerja di suatu instansi tertentu. Jika tercapai harapan ini, paling yang akan diuntungkan oleh 10 orang itu adalah diri dan keluarga mereka sendiri. Sebab sejak awal mind set anak-anak itu telah terdoktrin dengan sangat kuat untuk lepas dari kemiskinan dan membantu keluarga. Lalu kapan mereka akan memikirkan masyarakat luas, bangsa, atau kepentingan Ummat? Nah, disini ada masalah serius.

Anak-anak yang terdidik dari kalangan fakir-miskin atau yatim-piatu, mereka tidak disalahkan kalau setelah lulus studi mereka lebih memikirkan keluarga mereka sendiri. Tidak bisa disalahkan. Karena tujuan awal pendidikan yang dirancang untuk mereka memang seperti itu. Lagi pula, bagaimana akan membebani mereka dengan beban besar, membantu masyarakat luas atau Ummat, sementara kondisi keluarga mereka sendiri sangat butuh bantuan?

Sementara, kalau kita mendidik 1 (satu) orang anak dari keluarga biasa-biasa saja, kita didik baik-baik, diberi fasilitas yang cukup. Dengan syarat, anak itu memiliki semangat belajar tinggi, mau kerja keras, bermoral luhur. [Indikasi moral luhur paling mudah: Rajin ke masjid, patuh kepada orangtua, dan menghargai kaum wanita]. Jika anak seperti itu diberdayakan secara maksimal, dia bisa menjadi seorang doktor, teknokrat, atau manager yang handal. Lalu dampak dari keberhasilannya akan berpengaruh luas bagi masyarakat. Bukan hanya bagi diri mereka sendiri.

Lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia, lembaga-lembaga sosial keagamaan, dan lain-lain, mereka harus BERTAUBAT dari sikap mengabaikan potensi anak-anak berbakat dari kalangan keluarga biasa-biasa (menengah ke bawah). Sikap mengabaikan itu nyata-nyata telah membunuh berjuta-juta potensi SDM besar yang seharusnya bisa dibina agar menjadi manusia-manusia kuat.

Dari keluarga-keluarga biasa kerap muncul anak-anak berbakat. Tetapi karena ekonomi keluarga mereka “dianggap mampu”, lalu anak-anak itu diabaikan. Padahal sejujurnya mereka membutuhkan dukungan juga. Inilah keadaan golongan “serba terjepit”. Disebut mampu, mereka tidak bisa menyediakan fasilitas belajar yang baik bagi anak-anaknya; tetapi disebut tidak mampu, mereka ternyata tidak berhak mendapat bantuan pendidikan.

Kalau ingin membangun negara, bangunlah SDM! Untuk membangun SDM, lepaskan dulu dikotomi “kaya-miskin”, “yatim-tidak yatim”. Siapa saja yang berbakat, punya motivasi kuat, pekerja keras, dan bermoral, layak diberi dukungan fasilitas pendidikan. Bahkan sekalipun, di sekolah anak seperti itu tidak pernah menjadi “juara kelas”. Tidak ada suatu jaminan yang menjelaskan, bahwa: “Kalau mau menjadi manusia sukses, harus menjadi juara kelas.” Banyak tokoh-tokoh dunia yang lahir bukan dari barisan “juara kelas”. Bahkan ada postulat baru yang semakin diyakini banyak orang, bahwa faktor EQ (emotional quotient) lebih utama dari factor IQ (intelligence quotient). Artinya, nilai akademik di sekolah tidak menjadi jaminan keberhasilan hidup seseorang.

Bukan berarti, masalah akademik itu harus dibuang sama sekali. Tidak demikian. Tetapi ia dianggap sebagai satu faktor penentu, sedangkan faktor-faktor lain perlu dipertimbangkan. Jika paradigma pendidikan kita sampai saat ini selalu bertolak dari pemikiran “kepedulian sosial”, yakinlah tujuan membangun SDM yang tangguh itu akan gatot alias gagal total.

Untuk menjadi manusia kuat tidak hanya dibutuhkan nilai rapot, hasil Ujian Nasional, atau IPK. Tetapi juga dibutuhkan karakter, motivasi yang kuat, semangat juang, idealisme, moralitas, serta kekuatan spiritual. Nah, anak-anak dari keluarga fakir-miskin dan yatim-piatu, jalan pikirannya kerap didominasi oleh semangat untuk “keluar dari penderitaan” saja. Di sisi lain, mereka kurang berpikir tentang idealism, cita-cita tinggi, serta kepedulian terhadap kepentingan masyarakat luas. Kesulitan ekonomi yang mereka hadapi, membuatnya lebih berpikir pendek.

Ke depan, kalau ingin mensukseskan missi pemberdayaan SDM, kita jangan hanya memberikan fasilitas kepada anak-anak dari kalangan fakir-miskin, yatim-piatu. Tetapi berikan juga kepada anak-anak berbakat dari keluarga sederhana, keluarga biasa, keluarga PNS, atau keluarga klas “menengah ke bawah”. Cari anak-anak yang senang membaca, motivasi tinggi, berpikir kreatif, pekerja keras, dan bermoral luhur. Nilai akademik boleh dipertimbangkan, tapi bukan satu-satunya penentu. Harus dicatat dengan baik, sebenarnya yang membutuhkan fasilitas belajar itu banyak, bukan hanya fakir-miskin, yatim-piatu.

Lalu bagaimana jika peminat fasilitas pendidikan itu dari keluarga biasa-biasa sangat banyak?

Ya idealnya, lebih banyak peminat lebih baik. Sebab itu pertanda, peluang keberhasilan pembinaan SDM yang ingin dituju lebih besar. Bayangkan saja, jika ada 100 anak-anak yang memenuhi kriteria, lalu kelak mereka bisa menjadi doktor, menjadi teknolog, menjadi penemu, inspirator, ahli manajemen, ahli bisnis, pengusaha sukses, dll. Tentu semua itu merupakan sumbangan kemaslahatan besar bagi kehidupan masyarakat. Namun jika secara pendanaan tidak cukup, ya berikan fasilitas semampunya saja. Kalau baru mampu mendukung 10 atau 15 anak berbakat, silakan saja, tidak masalah.

Mohon dibuang jauh-jauh pemikiran PICIK dari otak kita. Misalnya, setiap melihat anak berbakat, langsung muncul prasangka buruk di otak kita, “Wah, anak-anak ini nanti akan menyusahkan lembaga kita. Mereka akan menghabiskan dana kita. Mereka akan menyerobot hak-hak orang miskin. Mereka akan menjadi anak bandel yang suka keluyuran di malam hari, tidak tahu terima kasih, lalu membuat onar di tengah masyarakat. Mereka akan menjadi benalu masyarakat.” Dan seterusnya. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Seharusnya, kalau melihat anak-anak berbakat, luruskan pikiran kita. “Wah, ini benar-benar mengagumkan. Anak ini sangat potensial. Dia berbakat, bermoral, dan bermental baja. Anak-anak ini secara mandiri sudah dibina oleh keluarganya. Peranan kita, tinggal memoles, menempa, dan mengarahkan mereka. Insya Allah, kelak mereka bisa menjadi manusia-manusia yang kuat.” Dimanapun juga, membangun sesuatu yang sudah “setengah jalan” jauh lebih mudah daripada membangun sesuatu “dari angka nol”.

Bisa juga disiasati. Misalnya, fasilitas pendidikan diberikan kepada siapapun yang dinilai berbakat tinggi dan potensial mencapai sukses. Namun mereka diharuskan membantu fakir-miskin dan yatim-piatu, jika nanti telah berhasil. Misalnya, mereka dikenakan kewajiban mengangkat anak asuh, menjadi donator panti asuhan, menyumbang sebagian penghasilannya untuk kaum dhuafa’ dan lain-lain.

Perlu diingat, sikap memberikan fasilitas istimewa kepada fakir-miskin dan yatim-piatu, lalu mengabaikan anak-anak dari golongan “menengah ke bawah”, sekalipun mereka sangat butuh bantuan; sikap demikian adalah WARISAN KOLONIAL. Kaum kolonial selalu mendominasi fasilitas pendidikan. Di bawah mereka ada kaum “menengah ke atas” yang memang mampu memberi biaya bagi anak-anaknya. Di bawah mereka lagi, ada kaum fakir-miskin dan yatim-piatu, yang diberi fasilitas pendidikan karena “rasa kasihan”. Adapun posisi kaum “menengah ke bawah” dihapuskan dari fasilitas pendidikan. Kaum kolonial tidak menyalahkan sikap memberi bantuan kepada fakir-miskin, yatim-piatu. Hal itu dianggap sebagai upaya karikatif yang dikenal di semua peradaban.

Orang-orang elit sangat sadar. Kalau membantu fakir-miskin dan yatim-piatu, dampak dari bantuan itu hanya akan beredar di kalangan keluarga kaum dhuafa’ itu sendiri. Adapun kalau membantu klas “menengah ke bawah” yang kerap dianggap sebagai kaum revolusioner dan idealis, bisa mengancam STRUKTUR SOSIAL. Makanya kaum elit langsung menukik ke komunitas fakir-miskin dan yatim-piatu. Mereka hampir-hampir tidak mau menengok potensi anak-anak golongan “menengah ke bawah”.

Tulisan ini disusun sebagai upaya koreksi atas kesalahan-kesalahan pemikiran kita dalam merealisasikan missi pemberdayaan SDM. Missi pemberdayaan SDM tidak bertumpu dari pemikiran dikotomi kaya-miskin. Tetapi bertumpu pada kesadaran untuk merealisasikan segala hal yang diyakini lebih mendekatkan kepada tujuan membangun manusia yang tangguh dan kuat. Dimana saja ada potensi ketangguhan itu, harus dibina sebaik-baiknya. Tidak peduli sekalipun potensi itu muncul dari sebuah keluarga kaya sekalipun.

Adapun hak-hak perlindungan, pemeliharaan, santunan, dan pertolongan kepada kaum fakir-miskin dan yatim-piatu, hal ini merupakan KEWAJIBAN bagi negara untuk merealisasikannya. Dan menjadi amal KEUTAMAAN bagi masyarakat luas untuk peduli dan ikut menolong mereka. Bahkan seharusnya, para pemimpin politik bisa diajukan ke pengadilan, jika mengabaikan hak-hak fakir-miskin dan yatim-piatu.

Banyak sekali yayasan atau pesantren Islam, memberi hak-hak istimewa kepada fakir-miskin dan yatim-piatu. Kalau tujuan utama mereka memberikan santunan sosial, itu benar. Tetapi kalau tujuan utamanya, mendidik manusia yang kuat, sikap mengabaikan anak-anak dari golongan “menengah ke bawah” yang sebenarnya juga membutuhkan fasilitas pendidikan, adalah salah. Pendidikan itu untuk siapapun dari kalangan kaum Muslimin. Siapa saja yang lebih berpotensi mencapai sukses, layak dibantu, bukan diabaikan.

Seperti sebuah ilustrasi. Misalnya ada anak sekolah berangkat ke sekolah naik sepeda. Di tengah jalan, sepedanya ditabrak sebuah mobil, sehingga anak itu jatuh dan terluka. Saat kita ingin membantu anak itu, jangan tanyakan lagi, “Nak, nilai rapotmu berapa? Kamu dari sekolah negeri apa swasta? Kamu menjadi juara kelas atau bukan?” Kalau dia berprestasi di sekolah, dia dibantu. Kalau tidak berprestasi, dia dibiarkan, bahkan disalah-salahkan. [Misalnya ada yang mencela, “Makanya kalau naik sepeda, matanya dipakai! Jangan bengong melulu! Mikirin apa sih kamu, sehingga ketabrak mobil? Mikir hutang ya?”].

Dunia sosial berbeda dengan dunia pendidikan. Keduanya berada dalam domain berbeda, meskipun pada suatu titik ada kaitannya. Kalau mau membantu secara sosial, bantulah; tetapi kalau mau mendidik manusia, didiklah dengan benar. Dua hal tersebut jangan dicampur-adukkan.

Dulu pengikut Nabi Saw banyak dari kalangan fakir-miskin. Mereka setia mendukung perjuangan dan dakwah Nabi. Tetapi para dinamisator, para penggerak, pemegang kunci-kunci peranan sosial, umumnya dari para Shahabat yang mapan. Sampai ada ungkapan yang cukup populer, “Sembilan dari sepuluh Shahabat yang dijamin masuk syurga, dari kalangan mapan.” Maksud yang dikehendaki disini, perhatian kita kepada kepentingan kaum dhuafa’, jangan melupakan missi semula, untuk membentuk karakter manusia yang kuat dan tangguh.

Semoga bermanfaat. Dan mohon dimaafkan bila ada kesalahan, kekurangan. Semua ini ditulis demi menyelamatkan potensi besar golongan “menengah ke bawah” yang kerap diabaikan, karena mereka dianggap “telah mampu”. Andai Ummat Islam mau merombak pemikirannya dalam membangun pendidikan ini, insya Allah kelak akan lahir kualitas SDM yang handal seperti diharapkan. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan

3 Responses to Sekolah Untuk “Orang Miskin”

  1. […] Silahkan lanjutkan membaca ke beasiswa – Penelusuran Blog Google […]

  2. taufik berkata:

    Pak amw.
    Ass. Menurut saya anda salah. Tdk ada jaminan kalau seorang anak dalam skenario bapak bisa
    bisa punya tekat utk menolong simiskin pada akhir program bapak.
    Kalau saya sederhana saja. Uang yang banyak kita sebar di seluruh pesantren. Dan dari seluruh seluruh santri di pesantren kita sangat beruntung bila
    Yang 10 persent menjadi pengusaha, pemilik pabrik , wiraswasta , yang punya iman dan hti yang tertambat pada simiskin.dalam 10 tahun kita akan memetik hasilnya.
    Dan hitungan statistiknya akan begitu pak.
    Ok…..ayo sekarang yang mau kita buat organisasi yang bersih dan gelontorkan uang ke seluruh pesantren. Jangan nulis saja mari berbuat.
    Pak amw please email me and we take action…mau?
    Wassalam….tfk

  3. Anonim berkata:

    Action kami, memberikan Peluang kepada Siswa/i yang sudah Lulus min. SMP (dengan menunjukan Ijazah Asli).

    Untuk siswa yang sudah lulus minimal SMP, berbudi pekerti yang baik serta tidak memiliki tatto sedikitpun kami menyediakan lapangan pekerjaan untuk posisi “Cleaning Service”.

    Persyaratan :
    – Usia maksimal 30th
    – P/W
    – Tidak Bertatto
    – Untuk Pria tidak boleh ada Tindik Kuping
    – Berat Badan porposional.

    Benefit/Fasilitas :
    – Gaji minimal 2jt
    – Asuransi BPJS
    – THR
    – Seragam
    – Training

    Semua calon pelamar akan melalui Screening test dan tidak dipungut biaya sedikitpun.

    Untuk informasi, hubungi :
    0818 – 06295795
    0877 – 76253999

    “MARI MAJU BERSAMA KAMI”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: