Seputar ESQ dan Islam

Juli 30, 2010

Berikut ini sebuah makalah yang dipublikasikan secara berseri oleh http://www.suara-islam.com. Makalah ini masih menyoroti tentang konsep ESQ yang beberapa waktu lalu diberikan fatwa sesat oleh Mufti Wilayah Persekutuan Malaysia, Datuk Haji Wan Zahidi bin Wan Teh. Melalui pembacaan langsung terhadap buku ESQ karya Bapak Ary Ginanjar Agustian, disana didapati bukti-bukti ketidak-sesuaian pemikiran ESQ dengan ajaran Islam. Selamat membaca, semoga bermanfaat!

1. Konsep ESQ Memang Bermasalah I.

2. Konsep ESQ Memang Bermasalah II.

3. Konsep ESQ Memang Bermasalah III.

4. Konsep ESQ Memang Bermasalah IV.

Hasil kajian dalam makalah ini berbeda dengan pandangan Prof. Dr. Din Syamsuddin, Prof. Dr. Said Agil Siradj, Menteri Agama, dll. yang menganggap konsep ESQ baik-baik saja. Disana ada masalah-masalah serius yang mestinya menjadi perhatian kita semua.

Namun bagi manajemen ESQ, hal demikian janganlah membuat mereka patah arang untuk mengembangkan usaha di bidang training SDM. Teruskan saja hal-hal yang positif, misalnya memperkuat konsentrasi di bidang character building, memperbaiki mentalitas (EQ), menerapkan prinsip etik dalam bisnis, dan sebagainya. Hal-hal yang positif dan tidak berbenturan dengan prinsip-prinsip Islam, silakan diteruskan.

Pesan terakhir, untuk eksis dalam kehidupan kontemporer sungguh tidak mudah. Tetapi tidak berarti kita harus berpikir PLURALIS agar diterima dalam lingkungan INDUSTRI. Dari pengalaman selama ini, siapa yang sengaja memakai “baju pluralisme” dalam rangka mencari keridhaan pelaku-pelaku industri yang mayoritas sekuler dan terpengaruh Freemasonry itu; biasanya akan tersungkur. Lebih baik, kita berdiri di atas prinsip-prinsip Islam yang stabil dan jelas, meskipun resikonya harus maju secara perlahan.

Siapapun yang membeli Pluralisme, akan dibela oleh komunitas Freemasonry CS. Tetapi sebaliknya, akan ditinggalkan oleh Allah Ta’ala. Dan suatu saat, mereka akan juga ditinggalkan oleh kaum Freemason itu, sebab orang-orang itu ya punya kepentingan sendiri juga. Tidak mungkin terus-menerus akan membantu orang pluralis.

Layak direnungkan ayat berikut ini:

Surat Ali Imran ayat 28.

Janganlah orang-orang beriman mengambil orang-orang kafir sebagai pemimpin mereka, dengan meninggalkan orang-orang beriman lainnya. Dan siapa yang melakukan perbuatan itu, fa laisa minallahi syai’un (dia tidak akan mendapat apapun dari sisi Allah). Kecuali, jika mereka ketakutan atas tekanan kekerasan oleh mereka (orang kafir). Dan Allah memperingatkan kalian dengan atas diri-Nya. Dan kepada Allah dikembalikan segala sesuatu.” (Ali Imran: 28).

Siapapun yang sengaja mengambil orang kafir sebagai sekutu dengan meninggalkan orang-orang beriman, mereka akan terputus dari segala karunia, rahmat, pertolongan, dukungan, barakah, dan segala kebaikan dari sisi Allah. Maka usaha apapun yang rela menjadi pluralis, dengan meninggalkan prinsip-prinsip Islam, mereka akan terkena konsekuensi dari ayat ini. Apakah bisnis, partai politik, sekolah, media, perguruan tinggi, atau apapun, yang menjadi pluralis; mereka pada dasarnya hanya membuang pertolongan Allah semata.

AMW.


Pahami Makna “Agama”!

Juli 28, 2010

Bismillahirahmaanirrahiim.

Akhir-akhir ini saya kebanjiran komentar-komentar keras dari para pendukung Gusdur. Di antara komentar itu ada yang langsung dibuang, karena terlalu sarkastik. Mereka marah dengan terbitnya buku, “Cukup 1 Gusdur Saja“, yang terbit beberapa bulan lalu.

Tetapi anehnya, mereka tidak pernah marah ketika kehormatan Islam diinjak-injak oleh Gusdur selama puluhan tahun. Seolah, di dunia ini, Gusdur boleh secara bebas menghina Islam, lalu kita dilarang 100 % menyampaikan pembelaan atas kehormatan Islam. Masya Allah, itulah “sikap adil” yang diyakini oleh orang-orang ini. Allahu Akbar!!!

Dalam buku itu, alhamdulillah -dengan segala pertolongan Allah Ta’ala- saya membantah secara telak pemikiran-pemikiran dominan Gusdur. Buku itu sangat telak, sehingga bila saya sendiri membacanya lagi, rasanya masih tercenung. Alhamdulillah, segala puji dan syukur hanya kepada Allah jua.

Saya sarankan, para pembaca supaya membaca buku itu. Masya Allah, rasanya beda dibandingkan buku-buku saya lainnya. Kalau tidak mampu beli, silakan pinjam milik teman. Kebetulan, saat ini ada promo buku murah dari penerbit. Silakan cari di link ini: Download Katalog Buku Super Murah. Harga yang ditawarkan penerbit, Rp. 15.000,-. Setengah dari harga semula.

Semua manusia pasti memilih "agama". Terserah, apakah agama itu berbentuk, atau tidak berbentuk.

Metode yang saya gunakan dalam menulis buku itu, antara lain: (1) Menyampaikan fakta kejadian seperti apa adanya, seperti yang dimuat oleh media-media massa, baik umum maupun media Islam. (2) Membuat analisis kejadian itu sesuai timbangan Islam, baik melalui analisis Al Qur’an, As Sunnah, kaidah fiqih Islam, kaidah akidah Islam, dan pendapat tokoh-tokoh Muslim. (3) Tambahan, berupa analisis politik dan sosial.

Ketika para pemuja Gusdur marah-marah, hal itu mengingatkan kita pada suatu persoalan prinsip: Sejauhmana kita memahami konsep agama Islam ini? Mengapa harus marah ketika ditunjukkan kebenaran dengan dasar analisis fakta, Kitabullah, dan As Sunnah?

Berikut ini saya sampaikan runutan pokok-pokok pemikiran seputar makna agama yang selama ini kita anut.

[1] Agama, berasal dari a-gama. Kata orang, arti a-gama adalah tidak kacau. Orang beragama, agar hidupnya tidak kacau. Tetapi yang dimaksud disini adalah agama sebagai religion atau din.

[2] Dalam pemahaman formal, yang dinamakan agama ya seperti Islam, Nashrani, Yahudi, Zoroaster, Hindu, Budha, Konghuchu, dll. Pokoknya yang dikenal sebagai nama-nama agama formal di dunia. Tetapi pandangan ini kurang memuaskan, sebab banyak manusia menjalani kehidupan di luar aturan-aturan agama, tetapi mereka tidak mau disebut atheis.

[3] Bertrand Russel, seorang ahli Fisika sekaligus filosof matarialis modern, dia pernah mengatakan, bahwa: “Atheisme sebenarnya agama juga.” Pernyataan ini sangat menarik. Atheisme disebut agama, padahal mereka mengaku sangat anti agama. Seolah Bertrand Russel ingin mengatakan, “Orang yang ‘anti agama’, hakikat agama mereka ya sikap ‘anti agama’ itu.”

[4] Sebagian orang mengklaim, “Saya tidak percaya kepada doktrin-doktrin agama. Saya lebih percaya pada akal bebas, free thinking. Tidak ada dogma, yang ada adalah kebebasan berpikir.” [Komentar: Berarti agama orang itu, ya kebebasan berpikir itu sendiri. Dia tidak boleh marah, kalau manusia yang lain memilih “ketidak-bebasan berpikir”]. Kemudian ada yang mengklaim, “Bagi kami agama itu adalah rasio. Apa saja yang sesuai rasio, itulah agama kami. Rasio adalah tuhan bagi kami.” [Komentar: Berarti, agama mereka adalah agama rasio itu sendiri, sebab mereka mau terikat dengan aturan yang mendewa-dewakan rasio. Sebaliknya, mereka tidak boleh marah kepada orang yang mengagungkan ajaran “non rasio”]. Ada lagi yang lain, “Sudah, sudah, sudah. Semua ini omong kosong. Saya tidak percaya nilai apapun, saya tidak percaya kebenaran. Saya tidak percaya apapun. Saya memilih jalan hidup kosong, nihil, tanpa nilai apapun.” [Komentar: Nah, dia juga beragama dengan nihilisme-nya itu. Iya kan? Dia memuja tuhan “kosong”, tuhan “nilai nol”, tuhan “tanpa nilai”. Iya kan]. ===> Singkat kata, manusia itu makhluk IDEOLOGIS. Mereka mau memilih apapun, itulah agamanya. Jadi, pada hakikatnya tidak ada manusia yang tak beragama.

[5] Misalnya, kalangan Freemasonry. Mereka menyembah setan, memuja sihir, memuja baphomet, memiliki ritual tersendiri, membangun gerakan rahasia, memiliki aturan-aturan, pro Zionis, dll. Katanya, mereka punya missi menghapuskan semua agama yang ada. Nah, itulah agama mereka. Itulah ideologi dan jalan hidup mereka. Mereka adalah pemeluk agama, Freemasonry. Biarpun mereka mau jumpalitan gak karu-karuan, tetap saja mereka adalah pemeluk agama, yaitu agama Freemasonry.

[6] Agama di dunia ini dibagi 3: (1) Dinul Hanif yaitu AL ISLAM, yang meyakini Ke-Esaan Allah dan taat kepada Syariat Nabi Saw. (2) Dinul Ahlil Kitab, yaitu Yahudi yang berpegang kepada Taurat, dan Nashrani yang berpegang kepada Injil. (3) Dinul Musyrikah, agama kemusyrikan, yaitu agama-agama apapun selain Islam, Yahudi, dan Nashrani. Baik yang punya bentuk formal, atau merupakan madzhab pemikiran.

[7] Dalam Al Qur’an disebutkan ayat yang sering dibaca oleh para khatib, “Huwalladzi arsala Rasulahu bil huda wa dinil haq, li yuzh-hirahu ‘alad dini kullihi” (Dialah -Allah- yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar, agar Dia menangkan agama itu atas segala agama). Kata-kata ‘alad dini kullihi, seolah memberikan pengertian, bahwa agama yang dipeluk manusia itu banyak. Tidak hanya Islam, Yahudi, dan Nashrani saja. Selain Ahli Kitab, juga banyak PAGANISME  dengan segala macam cabang-cabangnya. Bahkan tidak berlebihan jika Bertrand Russel menyebut atheisme sebagai agama juga. PKI adalah kaum beragama juga, tetapi agamanya di atas keyakinan: menolak Tuhan, membenci agama formal, meyakini sistem sosial tanpa kelas, dst.

[8] Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa Ilah (Tuhan), itu adalah segala sesuatu yang dicintai, ditaati, dan mendominasi hidup seseorang. Apapun yang dicintai lahir-batin, ditaati aturannya, diagungkan simbolnya, ia adalah Ilah. Hingga Al Qur’an menyebut suatu kaum yang mempertuhankan hawa nafsunya sendiri. (Al Jatsiyah, 23).

[9] Anak-anak muda hedonis, berkata dengan angkuh, “Hidup ini adalah kesenangan. Selagi masih hidup, habiskan untuk senang-senang. Gak usah ibadah bro, gak usah bersujud. Sudah happy-happy aja terus. Hidup ini kesenangan, bro. Jangan mau tertipu oleh ceramah ustadz-ustadz. Ayo bro. Jangan munafik. Ayo seneng-seneng. Cewek, miras, narkoba, judi, diskotik, hayo apa saja yang bikin lu seneng.” Nah, ini pemeluk agama juga. Agama hedonisme, agama memuja hawa nafsu. Ritual mereka ya seneng-seneng itu. Prinsip agama mereka, ya seperti perkataan itu.

[10] Liberalisme, Gusdurisme, SEPILIS-isme, dll. juga bagian dari agama. Mereka memiliki pemikiran, tokoh, sikap, dan simbol-simbol. Mereka penganut agama juga, meskipun secara label KTP tertulis Islam. Semua ini agama juga, hanya para pelakunya tidak sadar-sadar.

[11] Kalau penganut Gusdurisme itu berdiri di atas ajaran Islam, bukan sekedar berlabel KTP Muslim, mereka pasti akan rujuk dengan Syariat Islam dalam memandang segala sesuatu. Kalau Nabi mereka adalah Nabi Muhammad Saw, yang katanya sangat mereka harapkan syafaat beliau, pasti mereka akan menghormati Sunnah Nabi. Kalau Kitab Suci mereka Al Qur’an, mereka pasti akan mengutuk ucapan Gusdur yang sangat hina dan keji itu. Kalau fiqih mereka adalah fiqih Islam, misalnya mengambil madzhab Imam Syafi’i, mereka pasti murka jika ada tokohnya yang bermesraan dengan Yahudi. Nah, itulah masalahnya. Orang-orang itu mengaku Islam, tetapi tidak memahami konsep paling mendasar dari ajaran Islam. Sebaliknya, mereka tak mau disebut sebagai penganut Gusdurisme, tetapi bukti-bukti di lapangan menunjukkan hal itu.

[12] Terakhir, dalam Surat Al Isra’ dikatakan, “Faqul ja’al haqqa wa zahaqal bathila, innal bathila kaana zahuqa” (Katakanlah, ‘Kebenaran telah datang dan hancurlah kebahilan, karena kebathilan itu pasti hancur). Islam pasti dimenangkan oleh Allah menghadapi semua agama yang ada di muka bumi ini. Itu pasti. Hanya saja, ketika Islam tidak memiliki pelindung, berupa Daulah Islam atau Khilafah Islam, kekuatan agama ini tidak tampak, selain seperti cahaya kunang-kunang di malam hari. Cahaya-nya indah, kelap-kelip, tapi tak bisa menerangi malam.

[13] Kelak di Akhirat, semua manusia akan dikumpulkan di padang Mahsyar. Ketika itu muncul aneka rupa bendera, sesuai dengan banyaknya aliran, agama, ideologi yang dianut manusia di dunia. Setiap orang akan menggabungkan diri dengan salah satu dari bendera itu. Para pengikut Rasulullah Saw akan berdiri di belakang beliau. Maka saudaraku, hati-hatilah Anda dalam memilih bendera ketika hidup di dunia ini. Pilihlah bendera Sayyidul Mursalin, Muhammad Rasulullah Saw!!!

Maka disini, kita memohon kepada Allah Ta’ala Ar Rahmaan Ar Rahiim, agar:

Dia memberi hidayah kepada para pemuja Gusdur itu, menunjuki jalan mereka ke jalan yang lurus, memimpin mereka keluar dari kegelapan, memberikan kepada mereka cahaya, agar bisa berjalan di muka bumi di atas al haq. Jika tidak demikian, semoga mereka diam, bersikap pasif, dan dicegah dari segala perbuatan yang merugikan Islam dan kaum Muslimin. Semoga Allah menahan lisan, tangan, dan perbuatan mereka dari kejahatan-kejahatan. Jika yang demikian pun tidak dikabulkan, ya kita pasrahkan mereka sepenuhnya ke Tangan Allah Ta’ala. Biarlah Allah memperlakukan mereka, sekehendak-Nya.

Rabbana, inna nas’alukal ‘afiyah fid dunya wal ‘akhirah. Allahumma amin, wa shallallah ‘ala rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Semoga bermanfaat. Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AMW.


Apakah ESQ Sesat?

Juli 20, 2010

Pelatihan ESQ yang dipelopori oleh Ary Ginanjar Agustian sedang menghadapi tekanan hebat. Pasalnya, seorang Mufti Persekutuan di Malaysia,  Datuk Hj. Wan Zahidi Bin Wan Teh, menyatakan program ESQ sesat dan haram diedarkan di Malaysia. Setidaknya tidak disebarkan di wilayah Kuala Lumpur, Putra Jaya, dan Labuan. Daerah ini adalah domain fatwa Mufti Persekutuan, Datuk Wan Zahidi.

Dalam situs mui.or.id seperti mengutip berita dari harian Surya, disebutkan artikel berikut: Ulama Malaysia : ESQ Ginanjar Sesat. Berikut alasan penyesatan yang ditempuh oleh Mufti Malaysia:

(1)   ESQ dinilai mendukung paham liberalisme karena menafsirkan Alquran dan As-Sunnah secara bebas. ESQ mengajarkan pada dasarnya ajaran seluruh agama adalah benar dan sama.

(2)   ESQ juga dinilai menganggap para Nabi mencapai kebenaran melalui pengalaman dan pencarian. Ini bertentangan dengan akidah Islam soal Nabi dan Rasul.

(3)   ESQ dituduh telah mencampuradukkan ajaran kerohanian bukan Islam dengan ajaran Islam. Mufti juga melihat ESQ menekankan konsep ’suara hati’ sebagai rujukan utama dalam menentukan baik buruk suatu perbuatan.

(4)   ESQ juga dianggap salah karena telah menjadikan logika sebagai rujukan, bukannya Alquran dan Hadis. Mukjizat juga tidak dipandang di ESQ karena bertentangan dengan keadaan zaman sekarang yang serba logik.

(5)   ESQ dinilai salah karena menggunakan Kod 19 rekaan dari Rasyad Khalifah untuk menafsirkan Alquran. Rasyad Khalifah mengaku sebagai rasul dan membawa agama baru yang dinamakan ’submission’. Teori ini bahkan dipandang lebih tinggi dibanding Alquran.

(6)   ESQ menyamakan bacaan Al-Fatihah sebanyak 17 kali oleh orang Islam dengan ajaran Bushido Jepang. ESQ dianggap telah menafsirkan makna kalimat syahadat dengan triple one. Menurut Mufti, itu adalah tafsiran bid`ah dan sesat.

Masalah menjadi menarik ketika manajemen ESQ mengklaim bahwa program pelatihan mereka sudah dinyatakan HALAL atau TIDAK SESAT oleh lembaga-lembaga Islam di Indonesia. Manajemen ESQ pernah menyantumkan link download hasil rekomendasi dari DDII. Mereka juga mencantumkan pernyataan dari KH. Amidhan Shabirah, salah seorang Ketua MUI Pusat.

Namun belakangan, DDII memberikan klarifikasi, bahwa DDII tidak pernah memberi rekomendasi resmi kepada ESQ. Kalaupun ada, ia bersifat pribadi, oleh salah seorang pengurus DDII, bukan oleh board DDII sendiri. Pernyataan DDII disampaikan di situs eramuslim.com. Lihat tulisan ini: Pernyataan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia Pusat tentang Rekomendasi untuk ESQ.

Pelatihan ESQ Dipersoalkan di Malaysia.

Semula saya sudah merasa tenang dengan adanya fatwa DDII dan MUI tersebut. Ternyata kemudian ada koreksi. Wah, jadi bertanya-tanya lagi tentang status pelatihan ESQ tersebut. Ustadz Muhammad Al Khatthat dari FUI baru-baru ini memberi pernyataan, “Jika memang benar ada penyimpangan ajaran Islam di dalam pelatihan ataupun buku-buku ESQ, maka perlu di luruskan oleh para ulama. Wajar jika ada ulama yang mengkoreksi, dan justru salah besar jika ulama mendukung kesesatan.” Sedianya, Ary Ginanjar akan diundang dalam diskusi FKSK yang rutin digelar oleh FUI setiap bulannya. Disana akan diundang juga Datuk Wan Zahidi.

Jadi intinya, pelatihan ESQ belum “bisa lolos” dari penyelidikan para ahli dan pakar Islam. Diperlukan tinjauan yang lebih teliti lagi. Siapa tahu, selama ini kaum Muslimin di Indonesia terlalu terlena, sehingga tidak peka dengan unsur-unsur kesalahan seperti yang dikatakan oleh Datuk Wan Zahidi itu.

PANDANGAN PRIBADI

Terus terang, saya tidak mengerti banyak tentang ESQ ini. Saya belum pernah mengikuti pelatihan ESQ, kecuali pelatihan amatir yang pernah diadakan sebagian anggota ESQ. Itu pun terjadi sekitar tahun 2005-2006 lalu. Ada buku best seller Ary Ginanjar tentang ESQ. Tapi entahlah, ada rasa enggan untuk membacanya. Di mata saya, pokoknya tahu tentang ESQ secara global. Dari sisi perincian, sulit diandalkan.

Tetapi kalau membaca alasana-alasan yang disebutkan oleh Mufti Persekutuan Malaysia tersebut, ada rasa kaget luar biasa. Benarkah kesalahan ESQ sampai sedemikian parahnya? Jika benar seperti itu, berarti memang ESQ tidak halal untuk disebarkan dimanapun, tidak di Indonesia atau di Malaysia. Tetapi pihak yang mengangkat fatwa harus memberikan bukti-buktinya.

Sungguh, kalau pihak Datuk Wan Zahidi memiliki bukti-bukti kuat bahwa pelatihan ESQ mengandung unsur-unsur seperti yang beliau katakan, itu adalah bencana. Maksudnya, bencana bagi kaum Muslimin di Indonesia-Malaysia yang selama ini memakai program ESQ. Pelatihan seperti itu sama saja dianggap telah menyebarkan “ajaran JIL” secara halus melalui program-program pelatihan motivasi. Ya disebut bencana, sebab selama ini kita memandang pelatihan ESQ baik-baik saja. Dianggap tidak ada masalah.

Tetapi semua itu butuh bukti yang kuat, bukan klaim palsu, niat kedengkian, atau sengaja ingin menyebarkan fitnah di kalangan Ummat. Mufti Persekutuan Malaysia harus membuka bukti-buktinya, agar bisa dikaji dan dinilai oleh para ahli Islam. Jika tidak demikian, masalah ini akan menjadi fitnah, dan tentu sangat merugikan Ummat. Bagus sekali jika FUI berniat membuat diskusi khusus sepertar masalah ini.

Pihak manajemen ESQ harus legowo. Mereka tidak boleh membela diri dengan cara-cara yang tidak substansial. Misalnya, menyebut jumlah Mufti Malaysia yang pernah ikut program ESQ, menyebut Mufti Persekutuan belum pernah bertemu dengan pihak ESQ, mereka mengklaim memiliki Panel Syariah, atau mereka membawa legitimasi dari surat pribadi tokoh-tokoh tertentu. Jawaban board ESQ harus SUBSTANSIAL, ke inti alasan penyesatan itu sendiri.

Kalau secara substansi ESQ tidak memiliki materi/ajaran seperti yang dituduhkan, hendaklah mereka tenang saja. Insya Allah, kaum Muslimin akan membela ESQ, jika program ini sesuai Syariat Islam. Namun jika secara substansi program ESQ memang bermasalah, mereka harus segera merombak ajaran-ajaran itu. Tak ada pilihan lain. Konsep ESQ harus di-halal-kan dulu, sebelum disebar ke khalayak kaum Muslimin.

Kini kita tunggu klarifikasi dari Datuk Wan Zahidi bin Wan Teh, tentang bukti-bukti di balik fatwa mereka. Kata Nabi Saw, “Orang yang menuduh harus menunjukkan bukti-bukti, sedang yang menyangkal tuduhan harus membawa saksi (bahwa dirinya benar).”

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.


Fatwa MUI Tentang “Arah Kiblat”

Juli 18, 2010

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Akhirnya MUI mengeluarkan fatwa Syar’i yang sekian lama ditunggu-tunggu, yaitu soal perubahan arah kiblat. Jika semula arah kiblat kaum Muslimin di Indonesia disebut “menghadap ke Barat”, akhirnya diperbaiki menjadi “ke arah Barat Laut”. Dengan posisi kemiringan sekitar 25 derajat.

Masya Allah, alhamdulillah akhirnya fatwa ini turun juga. Ketika awal kuliah di Brawijaya (tahun 1991), masalah arah kiblat ini sudah menjadi polemik. Seorang dosen agama pernah mengatakan, “Kalau kita shalat menghadap lurus ke Barat, nanti kiblatnya menjadi ke Moskow di Rusia.” Lama saya memikirkan “kiblat ke Moskow” itu, sebab posisi lurus ke Barat dari arah Indonesia bukan ke Rusia, tetapi ke Afrika. Memang benar, kita perlu memperbaiki arah kiblat agar lebih mendekati ke arah Masjidil Haram (Kota Makkah). Tetapi posisi Moskow tidak tepat jika disebut terletak di arah Barat Indonesia. Malah Moskow itu ada di posisi yang lebih utara dari Arab Saudi.

Sejak lama sebagian masyarakat di Jawa Timur secara sendiri-sendiri mengerjakan shalat dengan agak menyerong ke utara (menghadap ke arah Barat Laut). Malah ada yang cukup saklek dalam menerapkan sikap menghadap ke Barat Laut ini. Misalnya, saat menjadi imam, dia shalat dengan agak menyerong ke kanan. Tetapi makmumnya sendiri tetap lurus menghadap ke Barat. Artinya, fatwa MUI tersebut bukan tanpa alasan, tetapi memang ada realitasnya.

Kami sendiri kalau shalat di rumah selalu menghadap ke Barat Laut dengan kemiringan sekitar 20 atau 25 derajat. Ini sudah dilakukan sekian lama, sebelum MUI akhirnya mengeluarkan fatwanya.

Sebagian orang tidak legowo dengan fatwa MUI ini. Mereka menganggap, menghadap kemana saja boleh, dan shalatnya sah. Mereka beranggapan, tidak perlu mempedulikan fatwa MUI. Ini adalah pandangan yang sangat sembrono dan mencerminkan sikap tidak berilmu. Andai mereka tahu, dengan bantuan ilmu yang mudah saja, insya Allah mereka akan sangat menghargai fatwa MUI tersebut, meskipun fatwa itu datang sangat terlambat. [Tak apalah telat, asal ada perbaikan, daripada konsisten dalam kekeliruan].

Berikut pandangan-pandangan yang bisa direnungkan:

[1] Tanpa adanya gempa bumi atau pergeseran lempengan bumi, posisi Indonesia memang berada di arah Timur dan Selatan dari Arab Saudi. Cara termudahnya, Anda lihat peta dunia, dari versi apa saja, lalu lihat posisi Indonesia terhadap Arab Saudi! Kalau arah Barat lurus dari Indonesia, justru akan jatuh ke Afrika. Itu realitas! Coba Anda lihat gambar peta dunia!

[2] Secara geografis Arab Saudi terletak pada posisi 24 derajat Lintang Utara sampai 39 derajat Lintang Utara. Jadi, posisi Saudi itu di belahan bumi Utara. Adapun Indonesia, posisi geografis pada 6 derajat Lintang Utara dan 11 derajat Lintang Selatan. Kalau kita shalat menghadap ke Barat murni, itu sama saja kita menyamakan posisi Indonesia segaris dengan posisi Saudi. Bayangkan, posisi Saudi 24-39 LU, sementara posisi kita 6 LU dan 11 LS. Posisi kedua negara ini jelas-jelas berbeda.

[3] Shalat menghadap ke Kiblat (Masjidil Haram di Makkah), hukumnya WAJIB. Ini bukan Sunnah, tetapi wajib. Dalilnya adalah ayat-ayat berikut ini:

Sesungguhnya Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. (TQS. Al Baqarah: 144).

Dan dari mana saja kamu ke luar (datang), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram; sesungguhnya ketentuan itu benar-benar sesuatu yang hak dari Tuhanmu. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (TQS. Al Baqarah: 149).

Dan dari mana saja kamu berangkat, maka palingkanlah wajahu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim di antara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Dan agar Ku sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk. (TQS. Al Baqarah: 150).

Disana ada kalimat, “Wa hai-tsu maa kuntum, fa wallu wujuhakum syat-rah” (dan dimana saja kalian berada, hadapkan wajah-wajah kalian -dalam shalat- ke arahnya). Ini merupakan bentuk PERINTAH, yang bersifat WAJIB dilakukan. Bahkan sampai diulang beberapa kali. Jadi, hukum shalat menghadap ke Masjidil Haram itu WAJIB, tidak ada keraguan lagi.

[4] Dalam pelajaran tentang shalat disebutkan, salah satu SYARAT SAH shalat ialah menghadap Kiblat. Kalau kita secara sengaja shalat tidak menghadap Kiblat, jelas menjadi tidak sah shalat itu. Termasuk shalat yang menghadap ke Afrika, Rusia, Jepang, dan seterusnya. Ini jelas tidak sah.

Posisi Indonesia Menyerong dari Arah Saudi.

[5] Nabi Saw pernah melakukan shalat tidak menghadap ke Kiblat di Masjidil Haram. Itu terjadi dalam dua kondisi -setahu saya-: Pertama, saat kaum Muslimin masih diperintahkan shalat menghadap ke Baitul Maqdis di Palestina, sebelum akhirnya dipindah ke arah Makkah. Kedua, saat beliau shalat witir di atas kendaraan. Beliau mengikuti ke arah mana saja kendaraan (onta) yang membawa beliau.

[6] Seorang Muslim memang boleh mengerjakan shalat dengan tidak secara tepat menghadap ke Kiblat di Makkah (Masjidil Haram), dengan syarat:

a) Dia anak kecil yang masih shalat secara main-main. Atau orang gila yang shalat seenaknya sendiri; b) Dia belum mengetahui ilmunya, mengerjakan shalat sekedar mengikuti apa yang dikerjakan orang lain; c) Dia berada dalam kondisi yang tidak memungkinkan untuk mengetahui arah kiblat secara tepat. Misalnya dalam hutan yang gelap, sehingga tidak mengetahui arah mata hari, sembari tidak membawa kompas; d) Dia shalat di atas kendaraan yang sedang berjalan, sehingga menghadap ke arah mana saja kendaraan itu berjalan; e) Dia dalam keadaan darurat, yang membuatnya tidak bisa shalat menghadap ke kiblat. Misalnya, shalat di atas kereta api yang sangat penuh, desak-desakan, sulit untuk mengatur arah shalat; f) Shalat di luar angkasa, ketika seseorang tidak memiliki kesanggupan untuk menghadap ke Kiblat sebagaimana wajarnya.

Dalam kondisi darurat berlaku prinsip, “Laa yukallifullahu nfsan illa wus’aha” (Allah tidak membebani seseorang, melain sebatas kesanggupannya). Dalam kondisi darurat boleh kita shalat tidak menghadap Kiblat. Namun jika faktar kedaruratan itu sudah lenyap, ya harus kembali menghadap Kiblat.

[7] Sangat tepat himbauan MUI, agar dengan perubahan arah hadap ke Barat Laut ini, Ummat Islam tidak perlu membongkar bangunan, tetapi cukup menyesuaikan arah shaf-nya saja. Alhamdulillah, itu adalah solusi sekaligus arahan yang sangat bijak.

Kita sangat menghimbau agar kaum Muslimin segera memperbaiki arah hadapnya dalam shalat, seperti diserukan oleh Fatwa MUI. Alhamdulillah, ini adalah fatwa yang lurus dan adil. Jangan kita sia-siakan!

Shalat menghadap Kiblat di Masjidil Haram itu merupakan salah satu syi’ar Islam di muka bumi. Orang-orang kafir sangat iri dengan kesatuan Ummat di atas satu kiblat ini. Mereka berpecah-belah di atas berbagai kiblat, sedangkan Ummat ini alhamdulillah memiliki satu kiblat saja. Bahkan semua ini mencerminkan Kesatuan Kaum Muslimin di muka bumi.

Shalat menghadap Kiblat ke Masjidil Haram adalah AMANAT BESAR Syariat Islam. Kaum Muslimin harus komitmen dan sungguh-sungguh melaksanakan amanah ini. Sebab dalam Surat Al Baqarah di atas, ada petikan ayat yang bunyinya, “Li alla yakuna lin naasi ‘alaikum hujjatun illal ladzina zhalamu minhum” (agar tidak ada lagi bagi manusia itu hujjah -untuk membantah-  kalian, kecuali orang-orang yang zhalim di antara mereka).

Orang-orang yang membangkang terhadap arahan menghadap Kiblat ini disebut orang zhalim, yang perilakunya seperti Yahudi. Na’udzubillah min dzalik.

Mudah-mudahan, dengan kesungguhan memperbaiki cara kita dalam beribadah kepada Allah Ta’ala ini, bangsa Indonesia akan diberkahi, ditolong dalam kebaikan, serta dilindungi dari berbagai bahaya alam dan makar syaitan. Allahumma amin ya Mujibas sa’ilin.

AMW.


Agenda Blokir Situs Porno

Juli 15, 2010

== Edited version ==

Sejak dulu saya percaya bahwa Pemerintahan suatu negara bisa memblokir situs-situs porno dan destruktif yang ada di dunia maya. Tetapi di Indonesia, hal itu tak pernah dilakukan. Baru sekarang ada ide untuk memblokir situs porno. Entahlah, ini sekedar komoditas politik atau benar-benar tulus mau menjaga moral bangsa. Kalau tulus, harusnya sejak tahun 2000 lalu Pemerintah sudah memblokir situs porno.

Ibu Hj. Irene Handono baru-baru ini menulis di laman facebooknya. Beliau mempertanyakan rencana Menkoinfo, membuka kerjasama dengan perusahaan telekomunikasi milik Yahudi. Bu Irena mempertanyakan kesungguhan komitmen PKS kepada agenda “boikot produk Yahudi”.

Dalam situs http://www.suara-islam.com, saya membaca beberapa artikel menarik. Spionase Isreal Lewat Jalur Bisnis. Amdocs Digunakan Mata-mata Israel. Dan artikel ini Amdocs Bisa Memata-matai Indonesia. Bila dibaca artikel-artikel ini, betapa langkah mengadopsi sistem Amdocs sangat beresiko.

Jurus mautnya siap-siap memasuki publik komunikasi Indonesia. Ala maaakkk!

Lalu bagaimana dengan agenda memblokir situs-situs porno?

Oh ya tentu. Sejak awal munculnya demam internet di Indonesia, kita sudah menyerukan peran aktif Pemerintah untuk memblokir situs-situs perusak moral itu. Malah sebenarnya, pemblokiran situs porno ini lebih efektif dari keberadaan UU Pornografi. Sebab ia diblokir langsung dari koneksinya. Sedang UU Pornografi lebih kepada isi medianya.

Dari sisi rencana pemblokiran situs porno, kami bukan saja setuju, tetapi sudah menunggu setidaknya selama 10 tahun terakhir. Ya, kalau pun bisa dilaksanakan sekarang, alhamdulillah. Lebih baik telat, daripada tidak sama sekali.

Tapi masalahnya, isu pemblokiran situs porno itu muncul seiring rencana Telkomsel memakai produk Amdocs untuk mendukung aplikasi teknologi mereka. Ini adalah berita gembira, bersamaan itu muncul berita yang mengkhawatirkan hati.

Upaya memblokir situs-situs porno jelas harus didukung 100 %. Tetapi memberi pintu masuk bagi AMDOCS ke ranah masyarakat komunikasi di Indonesia, jelas sangat mencemaskan.

Kalau digambarkan: Memblokir situs-situs porno seperti menutup SATU saluran irigasi yang mengalirkan air kotor. Sedangkan membuka akses telekomunikasi nasional (pengguna layanan Telkomsel) kepada Amdocs seperti membuka BEBERAPA pintu saluran air kotor sekaligus. Masyarakat komunikasi seluler jelas meliputi berbagai urusan kehidupan. Sedangkan pornografi hanya salah satu sub persoalan saja.

Dalam sebuah tulisan di http://www.eramuslim.com, Menkoinfo memberi pernyataan: “Telkomsel bukan di bawah Kemenkominfo, bagaimana saya bisa beri izin? Banyak yang bikin fitnah dengan putar balik fakta. Amdocs bisnis dengan Telkomsel, anak perusahaan Telkom, di bawah Kementerian BUMN. Orang-orang protes, saya minta klarifikasi, Telkomsel bawa surat Dubes AS.”

Secara struktur bisnis, Telkomsel memang di bawah Meneg BUMN. Tetapi obyek kerja Telkomsel itu bidang komunikasi, di bawah kontrol Kemenkoinfo. Kalau digambarkan, seperti bisnis Warteg. Ijin bisnis Warteg ada dalam domain Menteri Perdagangan. Tetapi beras yang masuk Warteg, ada di bawah regulasi Bulog. Bisa jadi, ijin bagi Telkomsel dikeluarkan Meneg BUMN, tetapi efek ijin itu bagi masyarakat pengguna komunikasi, ada di bawah naungan Kemenkoinfo. Ini jelas, sebab ia adalah kementerian komunikasi.

Pihak Kementrian Komunikasi dan Informasi perlu pro aktif menyikapi masalah ini, sebab efek pemberian ijin bagi Amdocs itu menyangkut hajat hidup puluhan juta pelanggan Telkomsel di Indonesia. Pelanggan ini adalah masyarakat telekomunikasi Indonesia. Masalah seperti ini sangat sensitif. Jika Kemenkoinfo dalam kasus Ariel-Luna saja turun tangan, apalagi dalam masalah Amdocs-Telkomsel yang dampaknya bisa sangat panjang dan menusuk ke ruang-ruang privasi kehidupan masyarakat Indonesia.

Sebagai contoh, di Amerika sangat dikenal istilah national security. Demi alasan “keamanan nasional”, aparat hukum Amerika sampai diperbolehkan membunuh warga sipil tak berdosa. Ini menunjukkan, bahwa hajat privasi, keamanan, bahkan kedaulatan nasional, amat sangat penting. Meskipun aplikasinya, tidak harus melakukan pembunuhan seperti diatur dalam hukum Amerika itu.

Dampak pemakaian teknologi Amdocs menyangkut hajat komunikasi masyarakat Indonesia, khususnya pelanggan Telkomsel. Jadi, Kemenkoinfo perlu pro aktif memperjuangkan nasib konsumen komunikasi nasional.

Jujur saja, keluarga kami banyak yang memakai layanan Telkomsel. Kalau benar nanti Telkomsel memakai fasilitas Amdocs, ya sudahlah pindah ke Axis atau Esia saja. Maaf, ini bukan promo, tapi kesal jika kebijakan mengadopsi software Amdocs jadi dilaksanakan. Nanti kita jangan ragu-ragu untuk pindah layanan seluler, jika Yahudi masuk ke telekomunikasi kita. Ya, siapa mau data-data dirinya terpantau terus oleh agen-agen Yahudi itu?

Dan terakhir, secara pribadi saya memohon maaf kepada kaum Muslimin, khususnya pembaca blog ini, khususnya Ir. Tifatul Sembiring dan Kemenkoinfo, jika dalam tulisan sebelumnya, ada hal-hal yang tidak benar, tidak adil, dan terkesan menzhalimi hak-hak mereka. Semoga kesalahan serupa tidak terjadi di masa ke depan. Allahumma amin ya Sallam.

Nas’alullah al ‘afiyah (lana wa lil muslimin) fid dunya wal akhirah. Amin.

AMW.


Nasib Ngenes Kompor BPPT

Juli 8, 2010

Kita tahu, akhr-akhir ini sering sekali teradi ledakan tabung gas. Khususnya tabung kuning-hijau, ukuran 3 kg. Kalau tabung itu meledak, rasanya seperti bom yang dipasang oleh Nordin M. Top Cs. Bahkan mungkin ledakannya bisa lebih hebat dari itu. Tapi tidak ada yang menuduh kalangan Pertamina sebagai “teroris” akibat terjadinya banyak ledakan tabung gas di Tanah Air selama ini. [Padahal hasilnya sama, yaitu: ledakan, kerusakan, dan korban manusia].

Ada yang miris dengan masalah tabung gas ini. Sejak tahun 2006, BPPT sudah mengajukan konsep kompor gas yang aman untuk menunjang program konversi BBM ke gas itu. Tapi oleh negara ditolak. Malah negara ini ngeyel membeli jutaaan tabung gas ukuran 3 kg dari China. Terbukti, kualitas tabung gas itu jelek sekali. Produk karya bangsa sendiri tak dihargai, sementara pejabat-pejabat negara lebih senang membeli tabung buatan China.

Inovasi Karya Anak Negeri: Tak Dihargai 100 %!!!

Dalam masalah beras juga begitu. Betapa susahnya Pemerintah menaikkan harga dasar gabah, agar penghasilan petani membaik. Alih-alih ingin membantu petani, Pemerintah malah lebih suka membeli beras dari Vietnam, Thailand, Laos, dll. Beras rakyat sendiri diabaikan, sementara dari Vietnam dijadikan andalan. Sepertinya pejabat-pejabat itu lebih suka menggendutkan perut-perut anak orang asing, lalu membiarkan anak-anak kita kurus kering. Dalam masalah gula juga begitu. Pemerintah suka membeli gula rafinasi dari asing, lalu mengabaikan pasokan tebu dan produksi gula dari dalam negeri. Impor gula rafinasi itu sangat menakutkan petani-petani tebu kita.

Sebenarnya, sejak lama bangsa kita memiliki keahlian, keuletan, dan inovasi teknologi. Tetapi semua itu tidak dihargai oleh Pemerintahnya sendiri. Pemerintah ini lebih suka memakai produk asing, memberi ijin bagi investasi asing, memberi ijin penambangan asing. Adapun terhadp nasib produk anak neger, mereka buang jauh-jauh. Seolah di mata Pemerintah berlaku filosofi: “Setiap yang berasal dari asing, halal. Setiap yang berasal dari anak negeri, haram.” Ini benar-benar mengerikan. Bagaimana kita bisa tenang menatap masa depan anak-anak kita nanti di bawah kepemimpinan yang rela menjadi jongos asing?

Dalam Olimpiade Sains dunia, anak-anak Indonesia sering berprestasi. Dalam lomba-lomba teknologi internasional, utusan Indonesia juga sering menang. Tetapi dalam level produk teknologi yang dikonsumsi di Tanah Air, nyaris tidak ada yang produk asli Indonesia yang sukses. Kalau ada produk nasional yang bersaing, paling rokok, musik pop, dan -maaf- video mesum. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Kepemimpinan politik sejak jaman Gus Dur, Megawati, dan SBY saat ini, tidak ada satu pun yang pro kebangkitan industri dan teknologi dalam negeri. Rata-rata pro asing semua. Dulu Soeharto dikritik dengan segala catatan korupsi, kolusi, dan pelanggaran HAM. Tapi Soeharto masih punya komitmen terhadap negaranya sendiri. Salah satu bukti, Soeharto sampai wafatnya tidak pernah mau berobat ke luar negeri. Dia juga selalu menggunakan bahasa Indonesia, mekipun bertemu pejabat-pejabat tinggi negara lain.

Kenyataan seperti ini tidak akan terjadi, kecuali dalam salah salah satu kemungkinan: (1) Pemimpin politik telah berkhianat terhadap amanah UUD untuk membela kepentingan ekonomi rakyat Indonesia; (2) Pemimpin politik telah menjadi agen asing untuk menerapkan missi kolonialisme mereka.

Kompor BPPT hanya salah satu contoh kecil saja. Di BPPT sendiri ada ratusan atau ribuan penemuan teknologi yang sangat potensial untuk kemaslahatan kehidupan rakyat Indonesia, dan semua itu selama ini dibiarkan mangkrak (terlantar), karena Pemerintah lebih menyukai suplai teknologi dan produk asing. Terpuruknya PTDI (IPTN) menjadi bukti lain, betapa pemimpin politik tidak punya naluri sama sekali untuk membela negaranya sendiri.

Pemuda Indonesia Bisa Membuat Sepeda Bermesin (dari mesin pemotong rumput).

Inilah masaalahnya. Pemimpin politik lebih melayani asing, acuh dengan karya anak bangsa. Sementara rakyat banyak dibuat lalai oleh TV, sepakbola, rokok, musik, dan -maaf- video mesum. Lalu ada para politisi yang kebanyakan oportunis. Lidah mereka pandai bicara apa saja, tap nyali kosong. Yang di bawah tak berdaya, yang di atas hanya mementingkan diri sendiri. Jelas saja, orang asing bergirang hati, karena mereka bisa mengeruk kekayaan nasional tanpa kesulitan apapun. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Begitu ngenes-nya hidup di negeri ini. Ya Allah ya Aziz, tidak adakah harapan bagi kami? Lalu bagaimana dengan masa depan anak-cucu kami nanti? Masihkah mereka tetap istiqamah dalam Islam, atau berbondong-bondong murtad dari jalan agama-Mu?

Rabbighfir warham wa Anta Khairur Rahimin. Ya Rabbi ampuni kami, kasihi kami, sesungguhnya Engkau sebaik-baik yang mengasihi.

AMW.


Anton Medan dan Ide Lokalisasi Judi

Juli 7, 2010

Siapa Anton Medan? Kita tahu semua. Dia orang China Medan. Semula non Muslim, lalu mengaku masuk Islam, dan menjadi muballigh. Anton Medan dulu dikenal sebagai preman dan bandar judi, lalu taubat. Di antara komunitas China di Indonesia, China Medan dianggap yang paling keras kepala.

Baru-baru ini Anton Medan melontarkan ide “legalisasi judi”, dengan cara membuat tempat khusus (lokalisasi) untuk arena perjudian. Kalau ada lokalisasi pelacuran, mengapa tidak dengan perjudian? Begitu idenya. Anton Medan beralasan, setiap tahun diperkirakan dana yang dibawa orang-orang China asal Indonesia untuk judi ke Singapura sampai ratusan triliun. (Jika sehari ada 300 ribu orang China berjudi ke Singapura dengan masing-masing membawa uang US$ 5.000,-. Dalam setahun omset perjudian itu bisa mencapai, 180 triliun).

Anton Medan Berjudi dengan Ide "Lokalisasi Judi"

Pikiran Anton Medan, “Daripada uang itu jatuh ke Singapura, mendingan dibuatkan lokalisasi khusus untuk menampung dana judi tersebut. Lalu hasilnya dipakai untuk rehabilitas korban narkoba, dll.” Agar usaha ini lancar, tidak mengganggu Ummat Islam, setiap Muslim tidak boleh masuk arena judi itu, bahkan bekerja disana pun tidak boleh. Menurut Anton Medan, judi sudah menjadi budaya orang China sejak jaman dahulu. Meskipun dilarang-larang, mereka tetap akan melakukannya.

Farhat Abbas, yang katanya sangat “anti pornografi” itu ikut menambahkan. Kata dia, kalau selama ini miras diperbolehkan, babi diperbolehkan, mengapa judi tidak? [Aneh juga rasanya. Satu sisi, Farhat tampak anti video mesum Ariel-Luna Maya. Tetapi di sisi lain dia lunak kepada judi. Bahkan di sisi lain lagi, dia keras mengkritik KPK. Mungkin di luar itu semua, Farhat masih mempunyai “sisi-sisi” yang lain lagi].

Sekilas pandangan terhadap ide gila Anton Medan di atas…

[1] Anton Medan ini sejak lama mengelola semacam kompleks masjid berciri kultur Tionghoa. Entah dari mana dana pembuatan masjid itu diperoleh? Dia sangat berambisi untuk merekrut orang-orang. Tetapi sejauh ini, usaha Anton Medan tidak mulus. Di mata kaum Muslim Tionghoa di Indonesia, Anton Medan kerap dianggap nyeleneh.

[2] Kalau Anton Medan memperjuangkan ide lokalisasi judi, apakah itu murni benar-benar perjuangan dia demi kebaikan Indonesia? Demi meningkatkan devisa negara? Pasti di balik semua itu ada “transaksi” antara Anton Medan dengan orang-orang yang punya ambisi membuat lokalisasi judi di Indonesia. Kalau Anton sukses melegalkan judi di suatu tempat, pasti ada “pesangon” yang akan dia peroleh. Sulit menghargai kejujuran dari sosok seperti Anton Medan ini. [Ngomong saja bledak-bleduk, tanda yang bersangkutan tidak memiliki kestabilan iman].

[3] Perhitungan yang dibuat Anton Medan di atas hanya mengada-ada. Tidak mencerminkan realitas yang sebenarnya. Contoh, kata dia dalam sehari taruhlah ada 300.ooo orang China asal Indonesia main judi di Singapura. Bayangkan, ada 300 ribu bok? Itu jumlah yang sangat besar. Andaikan ada 1000 orang saja asal Indonesia datang rame-rame ke Singapura dalam satu hari, itu sudah akan membuat Singapura meningkatkan kewaspadaan. Apalagi 300 ribu? Dengan 300 ribu, mereka bisa merebut Singapura, lalu mendirikan negara baru. Bahkan dari uang 5000 dolar yang bawa para penjudi, tidak semua menjadi keuntungan bagi pengelola arena perjudian. Paling keuntungan yang mereka peroleh  maksimum menacapai 10 %. Jadi hitungan 15 triliun sebulan, atau 18 triliun setahun, itu hanya ngibul.

[4] Andaikan ada bisnis yang mendatangkan keuntungan 15 triliun per bulan, atau 180 triliun per bulan, ia bisa menjadi BUMN paling sukses di Indonesia. Bisa jadi para bankir akan putar haluan mendirikan kasino-kasino saja. Sebagai perbandingan, sebuah perusahaan telekomunikasi seperti Telkomsel, Indosat, dll. keuntungan usaha mereka per tahun paling hanya beberapa triliun saja. (Telkomsel tahun 2009 meraih laba sekitar Rp. 10,3 triliun). Itu laba per tahun, bukan per bulan. Padahal kita tahu, Telkomsel kinerja bisnisnya paling jago di bidangnya.

[5] Legalisasi judi, meskipun dalam bentuk “lokalisasi perjudian”, itu hanya satu tahapan saja. Mula-mula para penjudi meminta ada lokalisasi judi. Tapi seiring waktu, mereka akan meminta tuntutan lebih besar. Sampai akhirnya, judi dipandang halal di Indonesia. Na’udzubillah min dzalik.

[6] Dalam Al Qur’an disebutkan, “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya arak, judi, berhala, dan undian adalah kotor dari perbuatan syaitan. Oleh karena itu jauhilah dia supaya kamu bahagia. Syaitan hanya bermaksud untuk mendatangkan permusuhan dan kebencian di antara kamu disebabkan khamar dan judi, serta menghalangi kamu ingat kepada Allah dan sembahyang. Apakah kamu tidak mau berhenti?” (Al Maidah: 90-91). Menurut Anton Medan, dalam ayat ini tidak ada kata, “Judi itu haram!” Jadi, seolah yang mengharamkan judi itu kita-kita sendiri. Ya Allah ya Karim, betapa bodohnya manusia ini terhadap kaidah fiqih. Seolah yang namanya halal-haram dalam Al Qur’an itu harus dikatakan, “Ini halal. Ini haram. Ini boleh. Ini tak boleh. Ini bagus. Ini jelek…” Orang seperti ini mau bicara tentang hukum Islam? Allahu Akbar!

[7] Di Indonesia memang ada minuman keras, ada pelacuran, ada babi, dll. Tetapi semua itu TIDAK DILEGALKAN dalam UU. Bahkan ia mendapat restriksi yang ketat. Selama ini perbuatan-perbuatan semaacam itu dilakukan oleh non Muslim, atau dilakukan oleh “Muslim” secara sembunyi-sembunyi. Begitu juga judi, kalau dilegalkan secara penuh, tidak terbayang bagaimana nanti bejatnya masyarakat ini? Wong dalam keadaan dilarang saja, masih banyak yang melakukan? Apalagi kalau dileagalkan? Dulu masih ingat ketika ada Porkas atau SDSB, membuat judi menjadi budaya Indonesia yang nyaris menghancurkan negeri ini.

[8] Ide membuat lokalisasi perjudian juga tidak lepas dari niatan sebagian pejudi China yang ngiler, ingin meraup untung seperti bandar-bandar judi Singapura. Mereka berpikir, “Kalau Singapura bisa, kenapa kita tidak?” Karena mereka tinggal di Indonesia, mereka ingin mencari untung di Indonesia pula.

[9] Ada yang bilang, “Indonesia bukan negara Islam, tapi negara Pancasila. Maka larangan judi hanya buat orang Muslim saja. Selain Muslim jangan dilarang.” Betapa TOLOL pemikiran itu. Mereka tidak membaca isi Pancasila. Sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa.” Sila kedua, “Kemanusiaan yang adil dan beradab.” Apa perjudian termasuk perbuatan manusia bertuhan? Apa perjudian perbuatan manusiawi?

[10] Mungkin saja di negara ini masih banyak orang yang bandel, suka main judi. Tapi jangan sekali-kali perjudian dilegalkan, apalagi sampai diberi payung hukum. Na’udzubillah min dzalik. Begitupun dengan pelacuran, miras, dan lain-lain. Jangan sampai dilegalkan. Kalau dilegalkan, sama saja kita TELAH MELEGALKAN  negeri ini dihancurkan oleh Allah dari atas dan bawah. Pornografi saja dilarang, apaladi perjudian?

[11] Tidak ada ceritanya manusia bisa kaya (makmur) dari jalan judi. Sama sekali tidak ada. Cobalah cari negara mana yang makmur dengan judi. Tidak ada. Pusat judi di Amerika, Las Vegas, tidak membuat Amerika makmur. Bagi pelaku judi, kemenangan di meja judi akan membuat mereka semakin haus uang yang banyak; sementara bagi yang kalah, dia akan sakit hati, dan terus berusaha menebus kekalahan, sampai rumah, mobil, bahkan isterinya dijual. Kalau ada penjudi yang sukses, itu pasi James Bond 007. Judi beda dengan riba. Riba bisa membuat manusia kaya, setelah “menghisap darah” manusia yang lain. Tapi kalau judi, tidak ada sedikit pun bukti yang menunjukkan bahwa permainan ini bisa membuat manusia sukses. Don King atau Bob Arum, bandar-bandar judi Amerika, tetap saja tidak sesukses Bill Gates dan lainnya.

[12] Hanya orang dungu yang mempercayai bahwa judi itu bermanfaat. Hanya orang dungu belaka! Bahkan kalau benar Singapura kini menjadi pusat judi, alamat negara itu akan hancur dalam masa 10 tahun ke depan.

Banyak orang ngiler dengan keuntungan dari judi. Tapi ekses akibat judi itu amat sangat berat. Banyak sekali kerusakan-kerusakan yang akan muncul karenanya. Mungkin saja di negeri ini masih ada orang yang mau atau suka berjudi. Tapi jangan sekali-kali DILEGALKAN. Itu sama saja dengan MELEGALKAN ADZAB ATAS BANGSA INI. Orang-orang seperti Anton Medan itu telah terjerumus dalam fitnah yang dalam. Mulutnya berbicara tentang ekonomi, devisa, lapangan kerja, dll. Padahal hatinya memiliki orientasi busuk.

Semoga Anda dan kita semua senantias diberi terang hati untuk menempuh jalan yang lurus dan membangun kehidupan yang lebih baik. Allahumma amin.

AMW.


Berjihad Mengasihi SESAMA MUSLIM

Juli 2, 2010

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillah, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Dulu, tahun 1998 seorang tokoh reformasi, dia mendeklarasikan berdirinya sebuah partai nasionalis, berlambang matahari biru. Dia ditawari menjadi pimpinan sebuah partai Islam, tidak mau. Dia memutuskan mendirikan partai nasionalis, partai inklusif. Alasannya, agar partai itu bisa mewadahi aspirasi non Muslim. Tidak heran, jika kemudian sebagian anggota DPR atau pengurus teras partai itu dari non Muslim.

Kemudian, ada tokoh lain. Ini seorang “putra darah biru” pendiri ormas Islam terbesar di Indonesia. Selama puluhan tahun tokoh ini menjadi ketua ormas Islam. Garis perjuangan tokoh ini sangat simple, yaitu mengasihi non Muslim, dengan mengabaikan hak-hak Ummat Islam, termasuk warga ormasnya sendiri. Di mata non Muslim, tokoh ini seperti “mujahid akbar” tanpa pilih tanding. Tak ada yang sebanding dengannya dalam pembelaannya terhadap hak-hak non Muslim.

Dedikasi Anak Kita dalam Kebaikan.

Dulu, sekitar tahun 1992, awal kuliah di Bandung. Ketika itu saya dipengaruhi oleh seorang kader NII untuk masuk kelompok mereka. Dalam obrolan dan diskusi, berkali-kali dia meyakinkan, bahwa kalau Syariat Islam berlaku, hak-hak non Muslim akan terlindungi. Dalam hati saya berujar, “Mengapa harus bicara hak non Muslim? Lalu kapan kita bicara hak-hak sesama Muslim?” Pertanyaan ini terus menjadi misteri.

Habiburrahman El Shirazi dalam Ayat Ayat Cinta, tampak sekali dalam rasa sayang dan memuliakan non Muslim (Kristen Koptik). Sementara untuk sosok Muslim, dia mengangkat figur Bahadur, Noura, dan sipir-sipir penjara yang kejam. Non Muslim sangat berbunga hati dengan novel itu, sementara aku sendiri meringis. “Ya Allah, kok saudara-saudaraku selalu di-stigmatisasi dalam gambaran buruk?”

Dalam pelajaran-pelajaran PMP di sekolah, selama bertahun-tahun, kami secara intensif didoktrin supaya menghormati hak-hak warga non Muslim. “Meskipun Indonesia ini mayoritas Muslim, tapi di negara ini banyak warga non Muslim. Jadi harus menghormati mereka,” begitu alasan yang sering dikemukakan.

Sebuah partai politik, katanya partai Islam atau partai dakwah. Belum lama ini mengadakan Munas di sebuah hotel mewah di Jakarta. Partai ini mendeklarasikan sikap politiknya yang pluralis dan terbuka. Katanya, partai itu tidak hanya milik konstituen Muslim, tetapi terbuka bagi semua golongan. Termasuk bagi non Muslim. Malah katanya, non Muslim boleh menjadi pengurus partai, sejak DPC sampai DPP.

Mari kita lihat masalah ini lebih jujur dan sedalam-dalamnya…

Demi Allah, sikap memuliakan non Muslim ini, sudah saya ketahui sejak lama. Alangkah enaknya kaum non Muslim, meskipun mereka tidak pernah memberi apapun bagi kaum Muslimin, tetapi posisi mereka selalu DIISTIMEWAKAN oleh kalangan Islam. Begitu hebatnya martabat non Muslim, sampai setiap kita akan berpendapat atau menempuh kebijakan, harus “atas restu” non Muslim dulu. Bahkan, kita rela terjerumus dalam perselisihan sengit, semata karena menjaga “perasaan non Muslim”.

Aku teringat…saat-saat menyaksikan kesusahan hidup kaum Muslimin. Mereka hidup dalam kemiskinan, serba kumuh, rumah sumpek, dengan jemuran pakaian “jadi hiasan” di depan rumah. Lihat mereka yang tinggal di bantaran kali, tinggal di kanan-kiri rel kereta api, tinggal di kawasan kumuh, malah membuat “rumah kardus” di atas tumpukan-tumpukan sampah. Ada juga yang tinggal di atas makam, ada yang tinggal di liang-liang dekat kuburan China. Tubuh anak-anak kita kurus, soal gizi dan kesehatan, jauh dari kelayakan. Belum lagi mereka yang tinggal di desa-desa, di pelosok, kaki gunung, tepian hutan, atau pulau terpencil… Allahu Akbar, betapa merata penderitaan masyarakat yang sebagian besar Muslim itu. Kalau mereka ditanya, “Apa agama Bapak?” Mereka menjawab, “Islam.” Sambil tidak mengerti apa yang diucapkannya.

Kesusahan ini banyak, lebar, meluas di berbagai tempat… Semua itu menimpa kaum Muslimin, baik laki-laki wanita, anak-anak dan orang tua, baik di desa atau di kota. Ummat yang menderita ini meliputi orang awam agama, para aktivis, mahasiswa Muslim, sampai para ustadz yang mengajar mengaji. Ummat yang menderita itu mulai dari pengidap penyakit, penderita cacat, miskin, tidak lulus sekolah, terlibat konflik, broken home, terjerumus narkoba, pengungsi, korban bencana, bahkan sampai penggila pornografi di kota-kota. Mereka semua itu Ummat kita, Ummat Nabi Saw, Ummat yang diamanatkan Allah kepada kita semua.

Allahu Akbar ya Akhi…ya Ukhti…

Rasanya, sangat SAKIT DI DADA, saat Anda selalu bicara: “Aspirasi non Muslim. Hak-hak non Muslim. Hormati non Muslim. Sayangi non Muslim. Cintai non Muslim. Jaga perasaan non Muslim. Berikan hak-hak non Muslim secara sempurna. Kalau mau sukses sebagai penulis, puji-pujilah selalu non Muslim, dijamin setelah itu kantongmu akan tebal setebal-tebalnya.” Tetapi pada saat yang sama, kita acuh, cuek bebek, dan tidak peduli dengan nasib sesama Muslim.

Ya Allah, dunia ini benar-benar sudah terbalik. Untuk kaum yang dimurkai Allah dan sesat, kita berikan seindah-indahnya cinta, seluas-luasnya kasih sayang. Sementara kepada kaum yang disebut oleh Nabi sebagai “Ummati…ummati…ummati” mereka kita abaikan. Bukan hanya diabaikan, tetapi disalah-salahkan, dilecehkan, tak dihargai dirinya, bahkan mereka dianggap sebagai “pembawa malu”. Allahu Akbar.

Bagaimana hidup kita bisa tersesat demikian jauh. Kaum Muslimin yang ada di depan kita, mendoakan kita secara tidak diminta, memohonkan kita ampunan, istiqamah mendidik anak-anak kita, melayani kita di pasar dengan senyuman, mengurus jenazah kita bila meninggal, membantu kita dalam pernikahan, muamalah, dan usaha. Mereka kaum Muslimin menghormati kita, memberi salam, mematuhi ucapan kita, mereka mendukung pendirian kita, mereka membela perjuangan kita…. Wahai saudaraku, mengapa kaum yang begitu mulia, tulus, sangat sungguh-sungguh membantumu, mengapa mereka kalian abaikan? Mengapa hati, pikiran, dan tenaga kalian justru sibuk menyayangi orang-orang non Muslim?

Mengapa Hak Mereka Diabaikan?

Ya Allah ya Karim… Demi Allah, andaikan kita tidak pernah sedikit pun bersikap baik kepada non Muslim, namun kita istiqamah memuliakan sesama saudara kita, kaum Muslimin, kita tidak akan berdosa di sisi Allah. Bahkan kita akan mulia dan dimuliakan oleh-Nya, karena kita menyayangi sesama Muslim.

Dalam riwayat diceritakan kisah Abdullah bin Umar Ra dengan seorang “Laki-laki calon ahli syurga”. Laki-laki itu adalah seorang Shahabat Ra. Ada yang menyebut beliau sebagai Saad bin Abi Waqash Ra. Beliau dalam sehari-hari tidak memiliki amalan tertentu yang istimewa. Tetapi dia dijamin masuk syurga, karena hatinya bersih dari kedengkian kepada sesama Muslim.

Mengapa, orang-orang yang mengaku pintar, cendekia, ustadz, doktor, ‘alim, dan seterusnya… mengapa mereka merasa malu mengklaim diri sebagai pembela Ummat Muhammad Saw? Mengapa tidak sekalian saja mereka malu menjadi seorang Muslim? Mengapa untuk menjadi pembela Ummat, kita harus selalu meminta restu orang-orang non Muslim? Apa kontribusi non Muslim bagi kemuliaan hidup kita, di dunia dan Akhirat?

Andaikan hari ini kita berteriak keras:

“AKU INI MUSLIM. AKU MENCINTAI ISLAM & KAUM MUSLIMIN. AKU TIDAK PEDULI RESIKO APAPUN AKIBAT SIKAPKU INI. AKU INI MUSLIM, MENCINTAI ISLAM SAMPAI MATIKU. SAKSIKANLAH WAHAI DUNIA, AKU INI MUSLIM, MENCINTAI ISLAM & KAUM MUSLIMIN. KEMUDIAN, AKU TIDAK PEDULI DENGAN NASIB SELAIN MEREKA.”

Ucapan ini bukan hanya diucapkan di media blog seperti ini, tetapi juga diucapkan dalam konteks sosial, bahkan dalam lapangan politik. Maka cara demikian ini tidak membahayakan kita. Kita tidak akan rugi, malah akan beruntung. Jika kita hanya loyal kepada kaum Muslimin, tidak ada orang yang menyalahkan kita. Toh, kita memang Muslim. Sama persis seperti kita  tidak bisa mencegah orang non Muslim loyal kepada ummat mereka sendiri. Iya kan?

Mencintai ummat sendiri, menyayangi mereka, itu bukan keburukan. Ini adalah kebajikan yang utama. Bahkan hal itu tak merugikan kaum non Muslim. Yang merugikan ialah kalau kita menyayangi saudara sendiri, dengan menzhalimi orang-orang non Muslim.

Teringat kisah panglima Abu Ubaidah bin Jarrah Ra dengan kaum Nashrani di Palestina. Ketika pasukan kaum Muslimin berhasil menguasai Jerusalem, mereka menerapkan jaminan keamanan dan damai bagi warga setempat. Kaum Nashrani dilindungi, tidak diganggu sedikit pun, baik harta, tempat ibadah, maupun kehormatan mereka. Namun ketika Khalifah Umar Ra meminta mereka meninggalkan Jerusalem, mereka patuh. Warga Nashrani berusaha menahan mereka agar tidak pergi. Bahkan mereka berjanji akan memperbesar pemberian jizyah, harta sebagai jaminan keamanan. Panglima Abu Ubaidah Ra lebih memilih mematuhi perintah Khalifah, dengan tidak silau tawaran kaum Nashrani. Bahkan beliau kembalikan jizyah yang semula diberikan kaum Nashrani itu.

Inilah contoh sikap LURUS seorang Muslim. Mereka sangat memuliakan saudara seiman, tetapi tidak juga menzhalimi non Muslim. Lalu mengapa kondisi ini saat sekarang terbalik? Kita berlomba menyenangkan hati non Muslim, sambil terus-menerus menyakiti hati sesama Muslim? Sebenarnya, Islam yang kita peluk ini benar apa tidak ya? Jangan-jangan kita telah memeluk konsep agama yang salah? Na’udzubillah min dzalik.

Hukum mencintai sesama Muslim itu WAJIB. Sementara hukum menghormati dan membantu non Muslim, itu MUBAH. Dengan catatan, setelah kita dahulukan urusan kaum Muslimin. Jika memuliakan non Muslim, dengan cara mengabaikan bahkan melecehkan sesama Muslim, itu namanya perbuatan NIFAQ. Para pelakunya, kalau tidak bertaubat, bisa menjadi orang  MUNAFIQ. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Dulu Khalifah Umar bin Abdul Azis rahimahullah, di masanya kaum Muslimin berlimpah rizki dan harta-benda. Hampir semua penduduk menjadi muzakki, dan kesusahan mencari mustahik. Karena sulitnya mencari muzakki dari kalangan kaum Muslimin, maka sebagian zakat itu akhirnya diberikan kepada warga non Muslim yang tinggal di wilayah kekuasaan Islam.

Di Indonesia ini selama puluhan tahun banyak sekali kaum Muslimin yang memendam kecewa dan sakit hati di dadanya. Bahkan rasa sakit itu mereka pendam, sampai tiba di liang kubur. Mengapa demikian, Saudaraku? Sebab keluhan, jeritan, hibaan, tangisan, derita mereka, diabaikan oleh saudara-saudara mereka sendiri. Sementara itu, banyak orang mengaku Muslim, mengaku tokoh Islam, mengaku cendekiawan Muslim, mengaku ulama, mengaku elit politik Islam, mengaku aktivis Islam, mengaku dai “rahmatan lil ‘alamiin”; namun hatinya lebih peduli dengan urusan non Muslim. Seolah, mereka tidak bisa tidur nyenyak, jika sehari saja tidak mengingati nasib non Muslim. Adapun kepada sesama Muslim (saudaranya sendiri), mereka bersikap seperti batu, yang tak bisa mendengar, melihat, dan merasa. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Wajar jika Islam tidak tegak-tegak di bumi Indonesia, sebab para pejuang Islam-nya lebih pro urusan orang kafir, daripada loyal kepada saudaranya sendiri. Bagaimana Ummat akan mau berduyun-duyun membela perjuangan Islam, sementara kaum Muslimin sendiri tidak merasakan atsar (bekas) dari keberadaan pejuang-pejuang Islam itu sendiri? Kasihi saudara-saudara kita, wahai Saudaraku. Maka engkau akan mendapati Ummat ini merapat di belakangmu, membela perjuanganmu dengan jiwa dan hidupnya.

Saudaraku, sayangilah saudara-saudaramu, sebelum kalian menyayangi orang lain. Komitmen-lah dengan urusan saudaramu, maka Allah akan komitmen denganmu. Bahkan Dia akan menyebarkan rahmat yang diantaranya akan sampai ke tangan kaum non Muslim. Seperti kisah Panglima Abu Ubaidah Ra dan warga Nashrani di Jerusalem itu. Nah, inilah makna yang lurus dari istilah Rahmatan lil ‘alamiin.

Lalu bagaimana dengan alasan politik? Bagaimana kalau sikap memuliakan non Muslim itu hanya manuver politik saja, biar mereka tidak marah kepada kita? Biar kita tidak dicurigai dan dihalangi oleh mereka?

Cara seperti itu hanya akan menjadi bumerang. Orang non Muslim akan tahu, bahwa kita hanya berpura-pura. Atau, bila mereka sudah percaya kepada kita, lalu kita ingkari kepercayaan itu, mereka akan marah besar; dan semakin menyala-nyala kebenciannya. Di sisi lain, sikap memuliakan non Muslim dan mengabaikan sesama Muslim, jelas akan mengundang permusuhan besar dari sesama kalangan Islam. Nah itulah, untung tak didapat, buntung pula yang terjadi.

Dulu para Shahabat Ra yang hijrah ke Habasyah, mereka menghadapi masalah pelik. Orang-orang musyrik Makkah hendak mengadu-domba mereka dengan Raja Najasyi. Tetapi waktu itu Ja’far bin Abdul Muthalib Ra sebagai juru bicara para Shahabat. Beliau tidak ngomong mencla-mencle, berkedok “bahasa diplomasi”. Beliau dengan sopan menjelaskan prinsip akidah Islam dalam perkara Isa Al Masih dan ibunya. Dijelaskan apa adanya, tidak ditambah, tidak dikurang. Ternyata, Raja Najasyi justru sangat menghargai keterus-terangan itu, dan menghargai akidah Islam. Sejak itu para Shahabat mendapat perlindungan penuh Raja Najasyi. Padahal ketika itu jumlah mereka sangat minoritas. [Berbeda sekali dengan kondisi kaum Muslimin di Indonesia saat ini].

Begitu pula, Buya Hamka rahimahullah, di jaman Jepang beliau pernah menghadapi masalah. Suatu pagi, dalam upacara bendera yang diikuti pasukan Jepang, mereka diberi komando untuk membungkuk, menghormat ke Timur, menghormati matahari. Buya Hamka merasa itu adalah kesalahan besar, manusia menghormati (menyembah) matahari. Beliau tidak mau membungkuk, sekalipun sewaktu-waktu senapan Jepang bisa meletus, menembus tubuhnya. Ternyata, komandan Jepang bukan marah, tetapi malah menghormati keteguhan sikap itu. Jadi tidak ada yang merugikan dengan sikap konsisten kepada akidah Islam. [Kalaupun kemudian kita mati karena sikap konsisten itu, insya Allah mati syahid].

Banyak pejuang-pejuang Muslim di Mesir dari kalangan Ikhwanul Muslimin, tahun 50 atau 60-an mereka mendapat ancaman berat dari regim Gamal Abdun Nashir atau Anwar Sadat. Mereka disuruh memilih, komitmen dengan Islam atau hukuman mati. Mereka memilih hukuman mati. Salah satunya, Sayyid Quthb. Terbukti kemudian, nama mereka harum dikenang kaum Muslimin sebagai para pejuang yang istiqamah.

Sangat tidak dibenarkan, seorang Muslim merasa hina dan malu, menjadi pembela-pembela Islam; lalu menjilat kesana-kemari untuk meraih keridhaan non Muslim. Cara demikian sangat tidak patut ditempuh seorang Muslim. Dulu almarhum KH. AR Fakhruddin, dalam pembicaraan pribadi beliau pernah mengkritik keras Soeharto, karena keinginannya memaksakan Azas Tunggal. Padahal ketika itu Soeharto sedang jaya-jayanya dan LB Moerdani ngangkangi barisan militer. Pak AR tidak takut kepada Soeharto, demi menjaga akidah Ummat. Terbukti kemudian, beliau tidak pernah diapa-apakan oleh Soeharto, bahkan kedudukannya dimuliakan.

Siapapun yang merasa hina sebagai seorang Muslim, merasa berat wajah di hadapan kaum non Muslim (kafir), sungguh Allah Ta’ala tidak membutuhkan tenaga, pikiran, dan hartanya. Din Allah terlalu mulia untuk “dilacurkan” dalam perjudian-perjudian penuh kehinaan.

Cukuplah Saudaraku, beberapa ayat-ayat Al Qur’an menjelaskan KARAKTER seorang Muslim. Dalam Surat Al Fath disebutkan, “Muhammad adalah Rasulullah, dan orang-orang yang bersamanya (para Shahabat Ra) bersikap tegas kepada orang-orang kafir, dan bersikap penuh kasih-sayang antar sesama mereka (orang-orang beriman). Kamu melihat mereka bersama-sama rukuk dan sujud (shalat berjamaah) mencari keutamaan dari Allah dan keridhaan-Nya.”

Kemudian ayat yang mulia di akhir-akhir Surat At Taubah, “Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri, berat terasa baginya penderitaan kalian, sangat menginginkan kalian (beriman dan taat kepada Allah), dan kepada orang-orang Mukmin sangat penyantun dan pengasih.”

Maka kini sudahi segala hal yang bisa melukai perasaan saudaramu. Jadilah Muslim sejati yang bangga menjadi Muslim dan sangat loyal kepada sesama Muslim. Boleh kalian membela atau menolong kaum non Muslim, setelah semua hak-hak saudaramu yang Muslim, terpenuhi. Jangan terjerumus dalam kemunafikan, karena bagi orang munafik itu posisinya di dasar neraka paling dalam. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.