Berjihad Mengasihi SESAMA MUSLIM

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillah, was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du.

Dulu, tahun 1998 seorang tokoh reformasi, dia mendeklarasikan berdirinya sebuah partai nasionalis, berlambang matahari biru. Dia ditawari menjadi pimpinan sebuah partai Islam, tidak mau. Dia memutuskan mendirikan partai nasionalis, partai inklusif. Alasannya, agar partai itu bisa mewadahi aspirasi non Muslim. Tidak heran, jika kemudian sebagian anggota DPR atau pengurus teras partai itu dari non Muslim.

Kemudian, ada tokoh lain. Ini seorang “putra darah biru” pendiri ormas Islam terbesar di Indonesia. Selama puluhan tahun tokoh ini menjadi ketua ormas Islam. Garis perjuangan tokoh ini sangat simple, yaitu mengasihi non Muslim, dengan mengabaikan hak-hak Ummat Islam, termasuk warga ormasnya sendiri. Di mata non Muslim, tokoh ini seperti “mujahid akbar” tanpa pilih tanding. Tak ada yang sebanding dengannya dalam pembelaannya terhadap hak-hak non Muslim.

Dedikasi Anak Kita dalam Kebaikan.

Dulu, sekitar tahun 1992, awal kuliah di Bandung. Ketika itu saya dipengaruhi oleh seorang kader NII untuk masuk kelompok mereka. Dalam obrolan dan diskusi, berkali-kali dia meyakinkan, bahwa kalau Syariat Islam berlaku, hak-hak non Muslim akan terlindungi. Dalam hati saya berujar, “Mengapa harus bicara hak non Muslim? Lalu kapan kita bicara hak-hak sesama Muslim?” Pertanyaan ini terus menjadi misteri.

Habiburrahman El Shirazi dalam Ayat Ayat Cinta, tampak sekali dalam rasa sayang dan memuliakan non Muslim (Kristen Koptik). Sementara untuk sosok Muslim, dia mengangkat figur Bahadur, Noura, dan sipir-sipir penjara yang kejam. Non Muslim sangat berbunga hati dengan novel itu, sementara aku sendiri meringis. “Ya Allah, kok saudara-saudaraku selalu di-stigmatisasi dalam gambaran buruk?”

Dalam pelajaran-pelajaran PMP di sekolah, selama bertahun-tahun, kami secara intensif didoktrin supaya menghormati hak-hak warga non Muslim. “Meskipun Indonesia ini mayoritas Muslim, tapi di negara ini banyak warga non Muslim. Jadi harus menghormati mereka,” begitu alasan yang sering dikemukakan.

Sebuah partai politik, katanya partai Islam atau partai dakwah. Belum lama ini mengadakan Munas di sebuah hotel mewah di Jakarta. Partai ini mendeklarasikan sikap politiknya yang pluralis dan terbuka. Katanya, partai itu tidak hanya milik konstituen Muslim, tetapi terbuka bagi semua golongan. Termasuk bagi non Muslim. Malah katanya, non Muslim boleh menjadi pengurus partai, sejak DPC sampai DPP.

Mari kita lihat masalah ini lebih jujur dan sedalam-dalamnya…

Demi Allah, sikap memuliakan non Muslim ini, sudah saya ketahui sejak lama. Alangkah enaknya kaum non Muslim, meskipun mereka tidak pernah memberi apapun bagi kaum Muslimin, tetapi posisi mereka selalu DIISTIMEWAKAN oleh kalangan Islam. Begitu hebatnya martabat non Muslim, sampai setiap kita akan berpendapat atau menempuh kebijakan, harus “atas restu” non Muslim dulu. Bahkan, kita rela terjerumus dalam perselisihan sengit, semata karena menjaga “perasaan non Muslim”.

Aku teringat…saat-saat menyaksikan kesusahan hidup kaum Muslimin. Mereka hidup dalam kemiskinan, serba kumuh, rumah sumpek, dengan jemuran pakaian “jadi hiasan” di depan rumah. Lihat mereka yang tinggal di bantaran kali, tinggal di kanan-kiri rel kereta api, tinggal di kawasan kumuh, malah membuat “rumah kardus” di atas tumpukan-tumpukan sampah. Ada juga yang tinggal di atas makam, ada yang tinggal di liang-liang dekat kuburan China. Tubuh anak-anak kita kurus, soal gizi dan kesehatan, jauh dari kelayakan. Belum lagi mereka yang tinggal di desa-desa, di pelosok, kaki gunung, tepian hutan, atau pulau terpencil… Allahu Akbar, betapa merata penderitaan masyarakat yang sebagian besar Muslim itu. Kalau mereka ditanya, “Apa agama Bapak?” Mereka menjawab, “Islam.” Sambil tidak mengerti apa yang diucapkannya.

Kesusahan ini banyak, lebar, meluas di berbagai tempat… Semua itu menimpa kaum Muslimin, baik laki-laki wanita, anak-anak dan orang tua, baik di desa atau di kota. Ummat yang menderita ini meliputi orang awam agama, para aktivis, mahasiswa Muslim, sampai para ustadz yang mengajar mengaji. Ummat yang menderita itu mulai dari pengidap penyakit, penderita cacat, miskin, tidak lulus sekolah, terlibat konflik, broken home, terjerumus narkoba, pengungsi, korban bencana, bahkan sampai penggila pornografi di kota-kota. Mereka semua itu Ummat kita, Ummat Nabi Saw, Ummat yang diamanatkan Allah kepada kita semua.

Allahu Akbar ya Akhi…ya Ukhti…

Rasanya, sangat SAKIT DI DADA, saat Anda selalu bicara: “Aspirasi non Muslim. Hak-hak non Muslim. Hormati non Muslim. Sayangi non Muslim. Cintai non Muslim. Jaga perasaan non Muslim. Berikan hak-hak non Muslim secara sempurna. Kalau mau sukses sebagai penulis, puji-pujilah selalu non Muslim, dijamin setelah itu kantongmu akan tebal setebal-tebalnya.” Tetapi pada saat yang sama, kita acuh, cuek bebek, dan tidak peduli dengan nasib sesama Muslim.

Ya Allah, dunia ini benar-benar sudah terbalik. Untuk kaum yang dimurkai Allah dan sesat, kita berikan seindah-indahnya cinta, seluas-luasnya kasih sayang. Sementara kepada kaum yang disebut oleh Nabi sebagai “Ummati…ummati…ummati” mereka kita abaikan. Bukan hanya diabaikan, tetapi disalah-salahkan, dilecehkan, tak dihargai dirinya, bahkan mereka dianggap sebagai “pembawa malu”. Allahu Akbar.

Bagaimana hidup kita bisa tersesat demikian jauh. Kaum Muslimin yang ada di depan kita, mendoakan kita secara tidak diminta, memohonkan kita ampunan, istiqamah mendidik anak-anak kita, melayani kita di pasar dengan senyuman, mengurus jenazah kita bila meninggal, membantu kita dalam pernikahan, muamalah, dan usaha. Mereka kaum Muslimin menghormati kita, memberi salam, mematuhi ucapan kita, mereka mendukung pendirian kita, mereka membela perjuangan kita…. Wahai saudaraku, mengapa kaum yang begitu mulia, tulus, sangat sungguh-sungguh membantumu, mengapa mereka kalian abaikan? Mengapa hati, pikiran, dan tenaga kalian justru sibuk menyayangi orang-orang non Muslim?

Mengapa Hak Mereka Diabaikan?

Ya Allah ya Karim… Demi Allah, andaikan kita tidak pernah sedikit pun bersikap baik kepada non Muslim, namun kita istiqamah memuliakan sesama saudara kita, kaum Muslimin, kita tidak akan berdosa di sisi Allah. Bahkan kita akan mulia dan dimuliakan oleh-Nya, karena kita menyayangi sesama Muslim.

Dalam riwayat diceritakan kisah Abdullah bin Umar Ra dengan seorang “Laki-laki calon ahli syurga”. Laki-laki itu adalah seorang Shahabat Ra. Ada yang menyebut beliau sebagai Saad bin Abi Waqash Ra. Beliau dalam sehari-hari tidak memiliki amalan tertentu yang istimewa. Tetapi dia dijamin masuk syurga, karena hatinya bersih dari kedengkian kepada sesama Muslim.

Mengapa, orang-orang yang mengaku pintar, cendekia, ustadz, doktor, ‘alim, dan seterusnya… mengapa mereka merasa malu mengklaim diri sebagai pembela Ummat Muhammad Saw? Mengapa tidak sekalian saja mereka malu menjadi seorang Muslim? Mengapa untuk menjadi pembela Ummat, kita harus selalu meminta restu orang-orang non Muslim? Apa kontribusi non Muslim bagi kemuliaan hidup kita, di dunia dan Akhirat?

Andaikan hari ini kita berteriak keras:

“AKU INI MUSLIM. AKU MENCINTAI ISLAM & KAUM MUSLIMIN. AKU TIDAK PEDULI RESIKO APAPUN AKIBAT SIKAPKU INI. AKU INI MUSLIM, MENCINTAI ISLAM SAMPAI MATIKU. SAKSIKANLAH WAHAI DUNIA, AKU INI MUSLIM, MENCINTAI ISLAM & KAUM MUSLIMIN. KEMUDIAN, AKU TIDAK PEDULI DENGAN NASIB SELAIN MEREKA.”

Ucapan ini bukan hanya diucapkan di media blog seperti ini, tetapi juga diucapkan dalam konteks sosial, bahkan dalam lapangan politik. Maka cara demikian ini tidak membahayakan kita. Kita tidak akan rugi, malah akan beruntung. Jika kita hanya loyal kepada kaum Muslimin, tidak ada orang yang menyalahkan kita. Toh, kita memang Muslim. Sama persis seperti kita  tidak bisa mencegah orang non Muslim loyal kepada ummat mereka sendiri. Iya kan?

Mencintai ummat sendiri, menyayangi mereka, itu bukan keburukan. Ini adalah kebajikan yang utama. Bahkan hal itu tak merugikan kaum non Muslim. Yang merugikan ialah kalau kita menyayangi saudara sendiri, dengan menzhalimi orang-orang non Muslim.

Teringat kisah panglima Abu Ubaidah bin Jarrah Ra dengan kaum Nashrani di Palestina. Ketika pasukan kaum Muslimin berhasil menguasai Jerusalem, mereka menerapkan jaminan keamanan dan damai bagi warga setempat. Kaum Nashrani dilindungi, tidak diganggu sedikit pun, baik harta, tempat ibadah, maupun kehormatan mereka. Namun ketika Khalifah Umar Ra meminta mereka meninggalkan Jerusalem, mereka patuh. Warga Nashrani berusaha menahan mereka agar tidak pergi. Bahkan mereka berjanji akan memperbesar pemberian jizyah, harta sebagai jaminan keamanan. Panglima Abu Ubaidah Ra lebih memilih mematuhi perintah Khalifah, dengan tidak silau tawaran kaum Nashrani. Bahkan beliau kembalikan jizyah yang semula diberikan kaum Nashrani itu.

Inilah contoh sikap LURUS seorang Muslim. Mereka sangat memuliakan saudara seiman, tetapi tidak juga menzhalimi non Muslim. Lalu mengapa kondisi ini saat sekarang terbalik? Kita berlomba menyenangkan hati non Muslim, sambil terus-menerus menyakiti hati sesama Muslim? Sebenarnya, Islam yang kita peluk ini benar apa tidak ya? Jangan-jangan kita telah memeluk konsep agama yang salah? Na’udzubillah min dzalik.

Hukum mencintai sesama Muslim itu WAJIB. Sementara hukum menghormati dan membantu non Muslim, itu MUBAH. Dengan catatan, setelah kita dahulukan urusan kaum Muslimin. Jika memuliakan non Muslim, dengan cara mengabaikan bahkan melecehkan sesama Muslim, itu namanya perbuatan NIFAQ. Para pelakunya, kalau tidak bertaubat, bisa menjadi orang  MUNAFIQ. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Dulu Khalifah Umar bin Abdul Azis rahimahullah, di masanya kaum Muslimin berlimpah rizki dan harta-benda. Hampir semua penduduk menjadi muzakki, dan kesusahan mencari mustahik. Karena sulitnya mencari muzakki dari kalangan kaum Muslimin, maka sebagian zakat itu akhirnya diberikan kepada warga non Muslim yang tinggal di wilayah kekuasaan Islam.

Di Indonesia ini selama puluhan tahun banyak sekali kaum Muslimin yang memendam kecewa dan sakit hati di dadanya. Bahkan rasa sakit itu mereka pendam, sampai tiba di liang kubur. Mengapa demikian, Saudaraku? Sebab keluhan, jeritan, hibaan, tangisan, derita mereka, diabaikan oleh saudara-saudara mereka sendiri. Sementara itu, banyak orang mengaku Muslim, mengaku tokoh Islam, mengaku cendekiawan Muslim, mengaku ulama, mengaku elit politik Islam, mengaku aktivis Islam, mengaku dai “rahmatan lil ‘alamiin”; namun hatinya lebih peduli dengan urusan non Muslim. Seolah, mereka tidak bisa tidur nyenyak, jika sehari saja tidak mengingati nasib non Muslim. Adapun kepada sesama Muslim (saudaranya sendiri), mereka bersikap seperti batu, yang tak bisa mendengar, melihat, dan merasa. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Wajar jika Islam tidak tegak-tegak di bumi Indonesia, sebab para pejuang Islam-nya lebih pro urusan orang kafir, daripada loyal kepada saudaranya sendiri. Bagaimana Ummat akan mau berduyun-duyun membela perjuangan Islam, sementara kaum Muslimin sendiri tidak merasakan atsar (bekas) dari keberadaan pejuang-pejuang Islam itu sendiri? Kasihi saudara-saudara kita, wahai Saudaraku. Maka engkau akan mendapati Ummat ini merapat di belakangmu, membela perjuanganmu dengan jiwa dan hidupnya.

Saudaraku, sayangilah saudara-saudaramu, sebelum kalian menyayangi orang lain. Komitmen-lah dengan urusan saudaramu, maka Allah akan komitmen denganmu. Bahkan Dia akan menyebarkan rahmat yang diantaranya akan sampai ke tangan kaum non Muslim. Seperti kisah Panglima Abu Ubaidah Ra dan warga Nashrani di Jerusalem itu. Nah, inilah makna yang lurus dari istilah Rahmatan lil ‘alamiin.

Lalu bagaimana dengan alasan politik? Bagaimana kalau sikap memuliakan non Muslim itu hanya manuver politik saja, biar mereka tidak marah kepada kita? Biar kita tidak dicurigai dan dihalangi oleh mereka?

Cara seperti itu hanya akan menjadi bumerang. Orang non Muslim akan tahu, bahwa kita hanya berpura-pura. Atau, bila mereka sudah percaya kepada kita, lalu kita ingkari kepercayaan itu, mereka akan marah besar; dan semakin menyala-nyala kebenciannya. Di sisi lain, sikap memuliakan non Muslim dan mengabaikan sesama Muslim, jelas akan mengundang permusuhan besar dari sesama kalangan Islam. Nah itulah, untung tak didapat, buntung pula yang terjadi.

Dulu para Shahabat Ra yang hijrah ke Habasyah, mereka menghadapi masalah pelik. Orang-orang musyrik Makkah hendak mengadu-domba mereka dengan Raja Najasyi. Tetapi waktu itu Ja’far bin Abdul Muthalib Ra sebagai juru bicara para Shahabat. Beliau tidak ngomong mencla-mencle, berkedok “bahasa diplomasi”. Beliau dengan sopan menjelaskan prinsip akidah Islam dalam perkara Isa Al Masih dan ibunya. Dijelaskan apa adanya, tidak ditambah, tidak dikurang. Ternyata, Raja Najasyi justru sangat menghargai keterus-terangan itu, dan menghargai akidah Islam. Sejak itu para Shahabat mendapat perlindungan penuh Raja Najasyi. Padahal ketika itu jumlah mereka sangat minoritas. [Berbeda sekali dengan kondisi kaum Muslimin di Indonesia saat ini].

Begitu pula, Buya Hamka rahimahullah, di jaman Jepang beliau pernah menghadapi masalah. Suatu pagi, dalam upacara bendera yang diikuti pasukan Jepang, mereka diberi komando untuk membungkuk, menghormat ke Timur, menghormati matahari. Buya Hamka merasa itu adalah kesalahan besar, manusia menghormati (menyembah) matahari. Beliau tidak mau membungkuk, sekalipun sewaktu-waktu senapan Jepang bisa meletus, menembus tubuhnya. Ternyata, komandan Jepang bukan marah, tetapi malah menghormati keteguhan sikap itu. Jadi tidak ada yang merugikan dengan sikap konsisten kepada akidah Islam. [Kalaupun kemudian kita mati karena sikap konsisten itu, insya Allah mati syahid].

Banyak pejuang-pejuang Muslim di Mesir dari kalangan Ikhwanul Muslimin, tahun 50 atau 60-an mereka mendapat ancaman berat dari regim Gamal Abdun Nashir atau Anwar Sadat. Mereka disuruh memilih, komitmen dengan Islam atau hukuman mati. Mereka memilih hukuman mati. Salah satunya, Sayyid Quthb. Terbukti kemudian, nama mereka harum dikenang kaum Muslimin sebagai para pejuang yang istiqamah.

Sangat tidak dibenarkan, seorang Muslim merasa hina dan malu, menjadi pembela-pembela Islam; lalu menjilat kesana-kemari untuk meraih keridhaan non Muslim. Cara demikian sangat tidak patut ditempuh seorang Muslim. Dulu almarhum KH. AR Fakhruddin, dalam pembicaraan pribadi beliau pernah mengkritik keras Soeharto, karena keinginannya memaksakan Azas Tunggal. Padahal ketika itu Soeharto sedang jaya-jayanya dan LB Moerdani ngangkangi barisan militer. Pak AR tidak takut kepada Soeharto, demi menjaga akidah Ummat. Terbukti kemudian, beliau tidak pernah diapa-apakan oleh Soeharto, bahkan kedudukannya dimuliakan.

Siapapun yang merasa hina sebagai seorang Muslim, merasa berat wajah di hadapan kaum non Muslim (kafir), sungguh Allah Ta’ala tidak membutuhkan tenaga, pikiran, dan hartanya. Din Allah terlalu mulia untuk “dilacurkan” dalam perjudian-perjudian penuh kehinaan.

Cukuplah Saudaraku, beberapa ayat-ayat Al Qur’an menjelaskan KARAKTER seorang Muslim. Dalam Surat Al Fath disebutkan, “Muhammad adalah Rasulullah, dan orang-orang yang bersamanya (para Shahabat Ra) bersikap tegas kepada orang-orang kafir, dan bersikap penuh kasih-sayang antar sesama mereka (orang-orang beriman). Kamu melihat mereka bersama-sama rukuk dan sujud (shalat berjamaah) mencari keutamaan dari Allah dan keridhaan-Nya.”

Kemudian ayat yang mulia di akhir-akhir Surat At Taubah, “Sungguh telah datang kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri, berat terasa baginya penderitaan kalian, sangat menginginkan kalian (beriman dan taat kepada Allah), dan kepada orang-orang Mukmin sangat penyantun dan pengasih.”

Maka kini sudahi segala hal yang bisa melukai perasaan saudaramu. Jadilah Muslim sejati yang bangga menjadi Muslim dan sangat loyal kepada sesama Muslim. Boleh kalian membela atau menolong kaum non Muslim, setelah semua hak-hak saudaramu yang Muslim, terpenuhi. Jangan terjerumus dalam kemunafikan, karena bagi orang munafik itu posisinya di dasar neraka paling dalam. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan

5 Responses to Berjihad Mengasihi SESAMA MUSLIM

  1. Elang berkata:

    Assalamu’alaikum.

    Ustadz, bagaimana kabarnya ?

    Membaca artikel di atas membuat hati ini terus………………..

    Ah, sudahlah… perjalanan masih panjang. Masih banyak tanggung jawab yang harus dilaksanakan.

    Hanya ada sedikit kalimat, semoga bisa menghibur hati dan menambah semangat.

    Kaum muslimin di Indonesia, adalah cucu-cucu keturunan para da’i ulama dari poros Khilafah Islamiyah, keturunan para sultan pemberani yang dengan kekuatan aqidahnya mampu mengganti sistem kerajaan Hindu-Budha menjadi kesultanan Islam yang mulia, anak cucu Pangeran Diponegoro, Sultan Hasanudin, Tuanku Imam Bonjol, dan para pejuang pembela Islam mulai dari Sabang hingga merauke yang bahagia gugur sebagai syuhada. Semoga doa dan harapan para ulama dan pejuang terdahulu mulai tumbuh, bersemi dan terkabul pada generasi saat ini.

    Wassalamu’alaikum.

  2. iemasen berkata:

    Ustadz…Itu tandanya dunia ini masih dikuasai oleh non-Muslim. Sedangkan muslim berada di bawah pengaruh mereka. Jadi tidak usah heran lah, kalau muslim menjaga hati non-muslim supaya tidak dimarahi atau dikasih hutang sama bos non-muslim tersebut.

  3. abuzenan berkata:

    Setuju dg Ust. Waskito….mereka mungkin merasa sedang “mengelabui” atau melakukan makar pada musuh2 Islam, padahal tipu daya dan makar musuh2 Islam pd mereka lebih caggih dan menjuruskan…wallahu alam

  4. abu zenan berkata:

    Setuju dg Ust. Waskito….mereka mungkin merasa sedang “mengelabui” atau melakukan makar pada musuh2 Islam, pdhl tipu daya dan makar musuh2 Islam pd mrka lbh caggih dan menjuruskan…wallahu alam

  5. agung berkata:

    Ahhhhhhhhhh……..kita sbgai Ummat Allah, harus rendah hati, Allah tidak kejam dan membeda-bedakan kita ummatNya, semua mahluk hidup dibumi ada di tangan Allah, jdi kita jangan suka menghakimi orang lain, jadilah orang yg sabar,baik hati< bukan pendedam. Jadilah orang yg bisa menyejukan ,bukan orang yg suka dendam dgn siapapun. Kita tidak tahu mengapa Allah menciptakan kita menjadi berbeda-beda, tapi kita semua mahluk Allah dan sama dimata Allah.Tapi Allah akn senang kalau kita bisa hidup berdampingan dgn kedamaian tanpa memandang apapun, suku agama dan ras,dan saya juga percaya bahwa Nabi Muhamad juga senang dengan kedamaian didunia ini, janganlah menjadi orang yg suka menhakimi org lain, karena hanya Allah saja yg berhak dengan kehidupan manusia dibumi ini bukan org2x hina seperti kita semua. Tidak semua og muslim baik, juga tidak semua org non muslim tidak baik, dan sebaliknya,semua tergantung pada hati kita, kita mau baik apa tidak. Terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: