Nasib Ngenes Kompor BPPT

Kita tahu, akhr-akhir ini sering sekali teradi ledakan tabung gas. Khususnya tabung kuning-hijau, ukuran 3 kg. Kalau tabung itu meledak, rasanya seperti bom yang dipasang oleh Nordin M. Top Cs. Bahkan mungkin ledakannya bisa lebih hebat dari itu. Tapi tidak ada yang menuduh kalangan Pertamina sebagai “teroris” akibat terjadinya banyak ledakan tabung gas di Tanah Air selama ini. [Padahal hasilnya sama, yaitu: ledakan, kerusakan, dan korban manusia].

Ada yang miris dengan masalah tabung gas ini. Sejak tahun 2006, BPPT sudah mengajukan konsep kompor gas yang aman untuk menunjang program konversi BBM ke gas itu. Tapi oleh negara ditolak. Malah negara ini ngeyel membeli jutaaan tabung gas ukuran 3 kg dari China. Terbukti, kualitas tabung gas itu jelek sekali. Produk karya bangsa sendiri tak dihargai, sementara pejabat-pejabat negara lebih senang membeli tabung buatan China.

Inovasi Karya Anak Negeri: Tak Dihargai 100 %!!!

Dalam masalah beras juga begitu. Betapa susahnya Pemerintah menaikkan harga dasar gabah, agar penghasilan petani membaik. Alih-alih ingin membantu petani, Pemerintah malah lebih suka membeli beras dari Vietnam, Thailand, Laos, dll. Beras rakyat sendiri diabaikan, sementara dari Vietnam dijadikan andalan. Sepertinya pejabat-pejabat itu lebih suka menggendutkan perut-perut anak orang asing, lalu membiarkan anak-anak kita kurus kering. Dalam masalah gula juga begitu. Pemerintah suka membeli gula rafinasi dari asing, lalu mengabaikan pasokan tebu dan produksi gula dari dalam negeri. Impor gula rafinasi itu sangat menakutkan petani-petani tebu kita.

Sebenarnya, sejak lama bangsa kita memiliki keahlian, keuletan, dan inovasi teknologi. Tetapi semua itu tidak dihargai oleh Pemerintahnya sendiri. Pemerintah ini lebih suka memakai produk asing, memberi ijin bagi investasi asing, memberi ijin penambangan asing. Adapun terhadp nasib produk anak neger, mereka buang jauh-jauh. Seolah di mata Pemerintah berlaku filosofi: “Setiap yang berasal dari asing, halal. Setiap yang berasal dari anak negeri, haram.” Ini benar-benar mengerikan. Bagaimana kita bisa tenang menatap masa depan anak-anak kita nanti di bawah kepemimpinan yang rela menjadi jongos asing?

Dalam Olimpiade Sains dunia, anak-anak Indonesia sering berprestasi. Dalam lomba-lomba teknologi internasional, utusan Indonesia juga sering menang. Tetapi dalam level produk teknologi yang dikonsumsi di Tanah Air, nyaris tidak ada yang produk asli Indonesia yang sukses. Kalau ada produk nasional yang bersaing, paling rokok, musik pop, dan -maaf- video mesum. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Kepemimpinan politik sejak jaman Gus Dur, Megawati, dan SBY saat ini, tidak ada satu pun yang pro kebangkitan industri dan teknologi dalam negeri. Rata-rata pro asing semua. Dulu Soeharto dikritik dengan segala catatan korupsi, kolusi, dan pelanggaran HAM. Tapi Soeharto masih punya komitmen terhadap negaranya sendiri. Salah satu bukti, Soeharto sampai wafatnya tidak pernah mau berobat ke luar negeri. Dia juga selalu menggunakan bahasa Indonesia, mekipun bertemu pejabat-pejabat tinggi negara lain.

Kenyataan seperti ini tidak akan terjadi, kecuali dalam salah salah satu kemungkinan: (1) Pemimpin politik telah berkhianat terhadap amanah UUD untuk membela kepentingan ekonomi rakyat Indonesia; (2) Pemimpin politik telah menjadi agen asing untuk menerapkan missi kolonialisme mereka.

Kompor BPPT hanya salah satu contoh kecil saja. Di BPPT sendiri ada ratusan atau ribuan penemuan teknologi yang sangat potensial untuk kemaslahatan kehidupan rakyat Indonesia, dan semua itu selama ini dibiarkan mangkrak (terlantar), karena Pemerintah lebih menyukai suplai teknologi dan produk asing. Terpuruknya PTDI (IPTN) menjadi bukti lain, betapa pemimpin politik tidak punya naluri sama sekali untuk membela negaranya sendiri.

Pemuda Indonesia Bisa Membuat Sepeda Bermesin (dari mesin pemotong rumput).

Inilah masaalahnya. Pemimpin politik lebih melayani asing, acuh dengan karya anak bangsa. Sementara rakyat banyak dibuat lalai oleh TV, sepakbola, rokok, musik, dan -maaf- video mesum. Lalu ada para politisi yang kebanyakan oportunis. Lidah mereka pandai bicara apa saja, tap nyali kosong. Yang di bawah tak berdaya, yang di atas hanya mementingkan diri sendiri. Jelas saja, orang asing bergirang hati, karena mereka bisa mengeruk kekayaan nasional tanpa kesulitan apapun. Laa haula wa laa quwwata illa billah.

Begitu ngenes-nya hidup di negeri ini. Ya Allah ya Aziz, tidak adakah harapan bagi kami? Lalu bagaimana dengan masa depan anak-cucu kami nanti? Masihkah mereka tetap istiqamah dalam Islam, atau berbondong-bondong murtad dari jalan agama-Mu?

Rabbighfir warham wa Anta Khairur Rahimin. Ya Rabbi ampuni kami, kasihi kami, sesungguhnya Engkau sebaik-baik yang mengasihi.

AMW.

Iklan

7 Responses to Nasib Ngenes Kompor BPPT

  1. ya begitulah kondisi kepemerintahan kita ! kia hanya menjadi sebuah kuli di sebuah negeri yang congkak, dan itupun negeri kita sendiri ! akaknkah nasib kita seperti itu selamannya ? Tidak ! kita harus merubah haluan, ke arah yang seharusnya di tujulah haluan kita, haluan yang dapat mensejahterakan bawahhnya bukan diri sendiri !

  2. Makanan Organic berkata:

    Bacalah ; Bismillahirahmannirrahiim.
    insya allah semua akan tuntas

  3. Apri Rahmadi berkata:

    so……
    wajar saja kalau para engineer di Indonesia pada lari ke luar negeri…
    karena gak ada gunanya org pinter di Indonesia.

  4. giza berkata:

    SMK di solo ada yang bisa buat mobil lo pak…hhe.sekedar info

  5. ozzyahmad berkata:

    nah kalau gitu tinggal kita balik aja.. Bagaimana kalau pemimpin di negri ini kita ganti dengan orang luar.. Biar bisa menghargai karya anak bangsa.. Oke ga tu gan.. Hehehehehe…

  6. bdyakin berkata:

    Dear Penulis, boleh tahu pembuat sepeda bermesin …trimakasih banyak….

  7. abisyakir berkata:

    @ Bdyakin…

    Maaf Pak, saya kurang tahu pasti. Tetapi coba cari pakai google dengan kata kunci “sepeda dengan mesin pemotong rumput”. Mesin yang dipakai memang mesin pemotong rumput. Mudah-mudahan mendapat informasinya ya. Amin.

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: