Islam dan “Agama Damai”

Agustus 27, 2010

Kita sangat sering mendengar orang berbicara di media-media massa, ketika terjadi kasus sweeping oleh ormas Islam, kata-kata mereka kurang lebih: “Islam agama damai. Islam tidak mengajarkan kekerasan. Islam selalu toleran, menghormati, saling kasih sayang. Ormas-ormas Islam yang bersikap anarkhis, sangat jauh dari ajaran Islam. Mereka merasa benar dalam kesesatannya.” Ucapan seperti ini sangat sering terdengar. Bukan hanya aksi anarkhis ormas Islam, tetapi juga dalam kasus-kasus terorisme.

Kampanye Islam sebagai “agama damai” tersebut kadang ada baiknya. Tetapi kerap kali menjadi bumerang bagi kaum Muslimin sendiri. Di mata masyarakat akhirnya terbentuk persepsi yang kuat, bahwa Islam anti kekerasan, Islam benci kekerasan, dalam ajaran Islam tidak ada kekerasan. Jelas, pandangan seperti ini sangat MENYESATKAN.

Komando: "Sikat dulu Muslim, ampe habis. Setelah itu kita damai. Oke man?"

Dalam ajaran Islam ada aspek-aspek yang menurut hemat manusia biasa dianggap sebagai kekerasan. Itu ada dan benar-benar nyata dalam ajaran Islam. Islam tidak melulu berisi seruan damai, saling kasih sayang, toleransi, dan sejenisnya. Setidaknya Islam mengajarkan: nahyul munkar, hukum haad, dan Jihad Fi Sabilillah. Ketiga ajaran ini mengandung aspek kekerasan (menurut hemat manusia biasa). Jika Islam diklaim sebagai agama damai murni, tanpa mengandung kekerasan, itu artinya kita harus menghapus Syariat tentang nahyul munkar, hukum haad, dan Jihad. Dengan demikian jadilah kita manusia-manusia sesat. Na’udzubillah min dzalik.

Mencegah kemungkaran adalah Syariat yang jelas. Bahkan ia merupakan ciri Khairu Ummah, seperti dalam Surat Ali Imran ayat 110. “Kalian adalah sebaik-baik golongan yang dikeluarkan ke tengah-tengah manusia, kalian memerintahkan berbuat makruf, kalian mencegah kemungkaran, dan kalian beriman kepada Allah.” Adapun mencegah kemungkaran itu bisa dengan tangan, dengan lisan, atau selemah-lemahnya dengan hati. Semua ini mengandung unsur kekerasan, bisa fisik, atau sekedar kekerasan psikologis.

Begitu pula ketentuan sanksi hukum Islam bagi pelaku kejahatan, pencuri, pezina, koruptor, pembuat onar, pembunuh, peminum minuman keras, dll. Sanksi hukum Islam jelas mengandung kekerasan. Jika Islam meniadakan kekerasan, berarti sanksi-sanksi itu harus dihapus dari khazanah hukum Islam. Sesuatu yang mustahil. Termasuk Jihad Fi Sabilillah, ia juga mengandung kekerasan. Betapa tidak, Jihad Fi Sabilillah adalah battle, perang melawan musuh. Perang adalah puncak tindakan kekerasan yang dikenal oleh manusia.

Kekerasan dalam Islam bukanlah tujuan, bukanlah hakikat, bukan pula ciri khas. Kekerasan dalam Islam adalah INSTRUMEN untuk menegakkan kebenaran, menegakkan keadilan, serta menegakkan keamanan. Ia adalah WASILAH atau sarana untuk mewujudkan kehidupan Hasanah di dunia dan Akhirat. Hakikat ajaran Islam sendiri adalah Rahmatan lil ‘Alamiin. Untuk mewujudkan rahmat tersebut, bila tidak bisa ditempuh dengan cara damai, ya dengan kekerasan. Tetapi tujuan asasinya sendiri menyebarkan rahmat ke seluruh penjuru dunia.

Kekerasan tidak selalu negatif, jika tujuannya untuk menegakkan keadilan, membimbing manusia, serta mencegah kezhaliman. Sebagai contoh, hukum di negara manapun pasti memberikan sanksi-sanksi kepada para pelaku kejahatan. Mengapa hanya hukum Islam saja yang kerap diserang oleh para antek Yahudi, sementara hukum Australia, Amerika, Inggris, Perancis, Belanda, China, Jepang, dll. tidak disentuh? Semua bentuk hukum di dunia boleh, kecuali hukum Islam. Sebegitu bencinya Freemasonry Cs kepada Islam, sehingga tidak memberi hak-hak keadilan sama sekali.

Lihatlah, bagaimana kerja para petani yang menanam pohon? Jika ada dahan atau cabang yang liar, mereka tidak ragu untuk memotong dahan/cabang itu. Begitu pula, kalau ada hama seperti tikus, wereng, siput, babi hutan, dll. mereka juga melawan hawa itu sekuat kemampuan. Dalam manajemen ada prinsip reward and punishment (memberi hadiah dan sanksi). Punishment itu mengandung kekerasan, dengan segala kadarnya.

Termasuk cara orangtua mendidik anaknya. Kalau seorang anak dibiarkan mabuk-mabukan, dibiarkan makan narkoba, dibiarkan nonton VCD porno, dibiarkan berzina, dibiarkan tawuran, maka orangtua seperti itu jelas tak bermoral. Orangtua menetapkan sanksi dengan tujuan menghalangi anaknya agar tidak masuk perangkap kejahatan, adalah tindakan benar. Meskipun sanksi itu mengandung unsur kekerasan.

Islam adalah satu-satunya agama yang tidak mengenal penjajahan. Pasukan Islam telah menaklukkan banyak negara dan bangsa. Tujuan besar mereka, ialah menyebarkan Hidayah Islam ke seluruh penjuru bumi. Agar manusia selamat dunia Akhirat, mereka harus masuk Islam. Jika pihak-pihak yang diperangi bersedia masuk Islam, seketika itu hak-hak mereka sama dengan kaum Muslimin yang lain. Namun bila mereka enggan masuk Islam, mereka diberi pilihan. Mereka disuruh memilih untuk membayar jizyah sebagai bukti ketundukan kepada hukum Islam, atau mencari wilayah lain sebagai tempat tinggal, atau diperangi secara total.

Jihad yang diserukan dalam Islam kebanyakan ditujukan untuk mengubah struktur politik suatu negara, agar mereka lebih ramah dan terbuka terhadap dakwah Islam. Jika sudah terjadi perubahan struktur politik, nyaris tidak ada kezhaliman apapun yang diterima warga negara yang dikalahkan itu. Dalam Islam, kezhaliman kepada siapapun adalah HARAM. Bahkan berbuat zhalim kepada binatang pun dilarang.

Berbeda dengan penjajahan Romawi, Persia, atau negara-negara Eropa. Mereka menyerbu ke negara-negara kecil untuk menjajah, menguras harta benda, menghinakan rakyat, memperkosa wanita, dan tidak memberi mereka pilihan. Bukti paling mudah, lihatlah penjajahan Belanda selama ratusan tahun di negeri ini! Oleh karena itu, dalam jejak-jejak perluasan wilayah Islam, banyak bangsa yang akhirnya masuk Islam setelah ditaklukkan. Berbeda dengan penjajahan Eropa, banyak bangsa memendam dendam sejarah atas kezhaliman mereka. Seperti penjajahan Spanyol di Filipina yang menyisakan luka sejarah sangat dalam di hati Muslim Moro (Mindanao).

Sebenarnya, tidak salah menyebut Islam sebagai AGAMA DAMAI. Salah satu makna istilah Islam adalah As Salam, atau KEDAMAIAN. Seseorang masuk Islam sama dengan masuk ke dalam damai. Tetapi konsep Islam tentang damai berbeda dengan konsep masyarakat di luar Islam.

Kehidupan damai dalam Islam akan tercapai ketika ditegakkan nilai-nilai Islami dalam kehidupan manusia. Sejauh kehidupan itu berlandaskan nilai-nilai Al Qur’an dan As Sunnah, disana akan teracapai kedamaian, keadilan, dan sejahtera. Seperti dilukiskan dalam Surat As Saba’, “Baldatun thaiyibatun wa Rabbun Ghafuur” (negara yang sentausa,  dan Allah adalah Maha Pengampun). Hal ini juga diperkuat dengan ayat dalam Surat Al A’raaf: “Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa [kepada Allah], maka benar-benar akan Kami bukakan atas mereka barakah-barakah dari langit dan bumi.” (Al A’raaf: 96).

Tidak mungkin ada kedamaian, dengan hidup di bawah naungan nilai-nilai jahiliyyah. Sama tidak mungkinnya dengan mengharapkan minuman keras, narkoba, judi, zina, ribawi, membunuh tanpa hak, dll. akan memberikan kebahagiaan kepada manusia. Tidak mungkin maksiyat akan membawa kepada sakinah. Itu mustahil!

Sementara damai dalam terminologi dunia sama dengan pembiaran kezhaliman! Begitukah? Ya, buktinya sangat banyak. Dalam lembaga PBB ada Dewan Keamanan, yang bertugas memimpin usaha-usaha menjaga kedamaian dunia. Tetapi peranan DK PBB lebih banyak berpihak kepada kepentingan Amerika, Eropa, dan Israel. DK PBB tidak mencegah genosida di Bosnia dan Chechnya, mereka tidak mencegah penghancuran Irak oleh pasukan Sekutu, mereka tidak mencegah penganiayaan bangsa Palestina secara sistematik oleh Israel. Mereka juga tidak mencegah kehancuran manusia di Rwanda, Somalia, Ethiopia, Vietnam, Burma, dll. Bahkan DK PBB tidak pernah mencegah ekspansi lembaga seperti IMF dan Bank Dunia dalam menghancurkan perekonomian dunia. Apakah itu yang disebut damai? Damai yang penuh kepalsuan dan munafik! Na’udzubillah min dzalik.

Selama ini banyak orang mengkampanyekan seruan “Islam sebagai agama damai!” Tujuan politis di balik seruan ini sebenarnya ialah: untuk mematikan kekuatan Islam. Bila seruan itu diikuti, jelas kita akan menghilangkan nahyul munkar, hukum haad, serta Jihad Fi Sabilillah.

Orang-orang yang anti nahyul munkar, mereka akan seperti pendeta-pendeta Bani Israil yang tidak mencegah kemungkaran di antara kaumnya. Orang-orang yang membenci berlakunya hukum haad, mereka adalah kaum fasiq, munafiq, bahkan bisa keluar dari koridor keimanan. Sementara orang yang membenci Jihad Fi Sabilillah, mereka serupa dengan Ahmadiyyah yang diserukan Mirza Ghulam Ahmad.

Adalah sangat lucu melihat kenyataan ini. Ibaratnya menyaksikan pertandingan tinju di atas ring. Disana seorang petinju Muslim dikeroyok oleh beberapa petinju non Muslim sekaligus. Setiap detik waktu pertandingan, petinju Muslim itu dihajar habis-habisan, dari kanan-kiri. Bahkan bukan hanya ditinju, tetapi dijepit dengan tangan, diinjak memakai kaki, malah dihantam kursi dari penonton. Nah, ketika tiba giliran petinju Muslim itu membalas, seketika seluruh petinju lawan dan wasit-wasitnya sekalian berteriak: “Damai, damai, kita damai ya. Jangan ada pertengkaran. Bertengkar itu tak baik. Sekarang bulan puasa, jangan berkelahi. Bukankah Islam itu mengajarkan sikap damai, tenang, saling menyayangi?”

Ya begitulah kenyataan yang ada. Tidak ada manusia yang memperingatkan Amerika, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, dll. agar tidak menjajah negara-negara lain. Mereka asyik-asyik saja menguras kekayaan negara lain. Tetapi giliran ada perlawanan terhadap penjajahan itu, seketika media-media massa, para pakar, “cendekiawan” Muslim, mereka koor bersama-sama, “Islam agama damai. Islam tak mengajarkan kekerasan. Peace man, please!”

Anda harus hati-hati dengan propaganda “Islam agama damai” itu. Dulu saja, para pendahulu kita, para pahlawan Islam di Indonesia, mereka memiliki ungkapan yang sangat populer, “Kami cinta damai. Tetapi kami lebih cinta kemerdekaan.” Begitu pula, seorang perwira TNI AL pernah bersuara keras ketika terjadi insiden di Ambalat dengan Malaysia. Beliau mengatakan, “Kami siap perang untuk mewujudkan perdamaian!” Ini adalah ucapan yang benar.

Islam mengakui prinsip kekerasan, demi tujuan damai. Dan Islam menentang perdamaian, jika hal itu hanya merupakan tipu-muslihat untuk melanggengkan penindasan. Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.


Sikap Pengecut “Kelompok Menengah”

Agustus 24, 2010

Bismillahirrahmaanirrahiim.

Kita sudah sama-sama paham, bahwa kondisi Indonesia saat ini sangat mengkhawatirkan. Secara haqqul yakin, bahkan ‘ainul yakin, kita memahami betapa kritis bangsa ini. Dalam 10 atau 15 tahun ke depan, bila kondisi saat ini tidak ada perbaikan yang significant, bangsa kita bisa hancur. Sebab, realitas pembusukan struktural itu sudah sedemikian nyata di segala sektor.

Saya kerap membayangkan, “Bagaimana jadinya jika Indonesia hancur, terpecah-pecah dalam negara-negara provinsi yang kecil-kecil? Dalam tatanan negara besar (NKRI) seperti ini saja, kita selalu ditindas orang asing, apalagi kalau nanti terpecah-belah?”

Semakin Kaya, Makin Takut Membela Ummat

Kalau melihat Malaysia dan Brunei, negara Muslim jiran kita. Mereka kecil, tetapi buktinya stabil kehidupannya. Tetapi masalahnya, baik Brunei atau Malaysia, mereka secara geopolitik terlindungi oleh keberadaan kita, sebagai bangsa Muslim besar, tetangganya. Orang-orang kafir asing tidak akan berani menginvasi Malaysia dan Brunei, karena melihat kita. Kalau mereka diinvasi, kaum Muslimin Indonesia pasti akan datang membela mereka.

Namun nanti, kalau kita terpecah-belah dalam negara-negara kecil, kita akan diadu-domba oleh kafir-kafir itu, sehingga masing-masing kita babak-belur, sementara kafir-kafir itu dengan enaknya memboyong harta kekayaan dari negeri kita. Semua ini adalah ancaman mengerikan di hadapan kita. Lihatlah, bagaimana bangsa-bangsa Afrika yang miskin-miskin itu, mereka telah remuk karena diadu-domba oleh kafir-kafir zhalim tersebut.

Kengerian kondisi Indonesia ini sudah NYATA, sudah jelas, tak bisa diragukan lagi. Sebagian orang mengklaim, “Harapan itu masih ada!” Oke masih ada, tetapi bagaimana bentuk solusinya? Toh, dengan mendewa-dewakan mekanisme demokrasi, bangsa ini tambah rusak. Harapan apa yang masih ada? Harapan menjadi semakin rusak?

Nabi Saw dalam sabdanya yang populer, “Man ra’a munkaran fal yugahiyiru bi yadihi…bi lisanih…bi qalbih…” Siapa saja yang melihat SATU kemungkaran, hendaklah diubah secara bertahap, dengan tangan, lisan, dan minimal dibenci dengan hati. Lalu bagaimana keadaan Indonesia? Apakah yang kita lihat ini hanya SATU kemungkaran? Masya Allah, bukan satu kemungkaran lagi, tetapi sudah seperti ungkapan Al Qur’an, “Zhulumatun ba’dhuha fauqa ba’dhin” (kegelapan di atas kegelapan).

Terhadap realitas seperti ini tidak bisa lagi hanya mengandalkan satu dua tangan untuk memperbaiki, tetapi kita harus terjun bersama-sama menyelamatkan kehidupan ini. Andaikan kelak kehidupan bangsa ini tidak selamat, maka kita juga yang akan menanggung akibatnya. Setiap orang berhak diam, itu hak dia; tetapi setiap sikap negatif ada resikonya, dan itu hak Allah untuk memastikan adanya resiko.

Dalam kondisi demikian, sebenarnya yang sangat diharapkan peranannya adalah KELOMPOK MENENGAH Muslim. Sebagai Muslim, kita tak mungkin berharap kepada orang kafir. Di antara kaum Muslimin ini, kelompok menengah paling potensial melahirkan perubahan-perubahan besar yang sama-sama diharapkan.

Kelompok menengah Muslim memiliki banyak kelebihan: Mereka terpelajar, luas wawasan, mampu secara ekonomi, memiliki fasilitas, memiliki pengalaman memimpin, dan mereka memahami realitas yang ada lebih baik dari orang kecil. Jika berharap kepada lapisan bawah (grass root), mereka kurang wawasan, kurang inisiatif, kurang peka, mudah ikut-ikutan, dan seterusnya. Bagaimana bisa diharapkan? Kalau mengharap kalangan elit, mereka justru sudah mapan dengan posisi ke-elit-annya, dan siap mempertahankan posisi itu, berapapun ongkosnya harus dikeluarkan.

Maka yang sangat diharapkan dari bangsa Indonesia ini, adalah PERAN BESAR kelompok menengah Muslim. Mereka itu harapan dan andalan bangsa ini. Jika mereka tidak turun ke gelanggang, khawatir bangsa ini benar-benar akan tenggelam.

Namun sayang, kelompok menengah Muslim kita kini seperti sedang dihinggapi penyakit GILA DUNIA yang sangat parah. Alih-alih diharapkan akan membuat perubahan besar, mereka lebih banyak bersikap oportunis, materialis, dan pengecut. Mereka takut resiko. Mereka mencari aman sendiri, sambil pura-pura tidak tahu.

Alasan yang kerap mereka lontarkan, “Sudahlah Akhi, Anda saja yang berperan. Silakan Anda memperbaiki Ummat ini. Kami mendukung dan selalu mendoakan. Yakinlah, kita akan menang. Silakan teruskan perjuanganmu. Doa kami selalu menyertai.” Ya, kalau ucapan itu benar-benar nyata. Kebanyakan hanya sekedar RETORIKA munafik belaka.

Betapa berat tanggung-jawab kelompok menengah ini. Mereka mampu, kuat ekonomi, berwawasan, tahu ini salah itu benar, tetapi sayang sikapnya PENGECUT! Persis seperti perilaku pendeta-pendeta Bani Israil. Mereka menyaksikan kaumnya minum-minuman keras, mereka tahu itu salah. Tetapi mereka diam saja, tidak mencegah. Bahkan kemudian mereka ikut berserikat dalam minuman keras tersebut. Begitulah sikap kelompok menengah Muslim kita di hari ini. Mereka sudah mapan dengan dunia dan ekonominya. Lalu melupakan masa depan Ummat yang sedang terjepit disana-sini.

Ya Allah ya Rahmaan, bangkitkan kekuatan, kepedulian, serta keberanian dari kaum aghniya’ Muslimin ini. Cabut sifat pengecut mereka! Tumbuhkan dalam dadanya sifat berani berkorban demi maslahat Ummat. Singkirkan wahan dari hatinya. Tukar ketakutan mereka dengan sifat ksatria. Ya Allah, kami berharap kepada-Mu, dan Engkau tidak akan mengecewakan harapan hamba-hamba-Mu. Allahumma amin ya Sallam.

Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

AMW.


Ketika Alam Tidak Lagi Ramah…

Agustus 24, 2010

Hampir setahunan ini kami di Bandung merasa tidak mengalami musim kemarau, sepanjang tahun terus hujan. Dalam teori, siklus musim hujan dan kemarau di Indonesia kerap disebutkan sbb.: April-Oktober musim kemarau, sedangkan Oktober-April musim hujan. Namun dalam tahun terakhir, sepanjang tahun hujan terus. Kadang hujan sangat deras, sehingga terjadi banjir dan longsor di daerah-daerah tertentu.

Di TV kerap diberitakan bencana alam yang terus mendera daratan China, berupa banjir besar dan tanah longsor. Sudah ribuan manusia tewas menjadi korban. Begitu juga banjir yang melanda Pakistan, juga menyebabkan ribuan orang meninggal.

Polusi Berat CO2 Membuat Iklim Tak Menentu

Di hari-hari ini kita merasakan perilaku alam yang sulit dipahami. Kadang terasa gerah, tetapi tiba-tiba bertiup angin yang sangat dingin. Kadang cuaca sangat dingin, lalu berubah menjadi hawa panas. Kadang angin bertiup menderu-deru, membuat kita berprasangka, musim akan segera berganti. Tetapi ternyata, ia hanyalah “pancaroba semu”.

Begitulah, cuaca kini penuh turbulensi, penuh gejolak dengan segala ketidak-menentuan. Mungkin inilah realitas yang kerap disebut sebagai extremely climate change (perubahan iklim secara ekstrim). Daerah yang panas menerima dingin, begitu pula sebaliknya, dengan siklus yang tidak teratur. Padahal sebelumnya, selalu teratur dan dapat diprediksikan dengan mudah. Hujan atau panas, datang-berganti seperti tanpa siklus.

Menarik mengamati banjir besar yang terus-menerus mendera China. Hawa dingin, tanah longsor, dan lain-lain. Hari-hari ini China seperti panen dua realitas kontradiktif: panen pujian sebagai raksasa ekonomi baru, tetapi juga panen bencana-bencana besar.

Mengapa terjadi kondisi perubahan cuaca secara ekstrim?

Hal ini bisa dipahami dengan pendekatan sains. Menurut sains, akar persoalan ini muncul karena perilaku karbondioksida (CO2) di udara semakin liar. Polusi, pembakaran BBM, pembakaran bahan organik, menyebabkan produksi CO2 di udara meningkat sangat pesat. Menurut penelitian modern, gas CO2 itu tidak bisa dibuang keluar dari atmosfer bumi. Gas itu semakin bertambah, membuat ruang atmosfer bumi semakin panas. Inilah yang kerap disebut sebagai global warming (pemanasan global).  Ada juga yang menyebut green house effect (efek rumah kaca). Kalau Anda masuk rumah kaca, akan terasa sumuk (gerah), sebab disana udara panas seperti terperangkap dalam ruangan tersebut.

Panas di atmosfer berdampak meningkatkan suhu, meningkatkan penguapan air laut, juga mengubah formasi kelembaban udara. Suhu berubah, kelembaban udara berubah, maka perilaku angin juga berubah. Kan sesuai hukum sains, “Angin bertiup dari udara yang dingin ke udara panas, dari kondisi tekanan tinggi ke tekanan rendah.”

Dengan demikian kita menjadi paham mengapa kemudian terjadi perubahan-perubahan cuaca ini. Ia terjadi karena tingkat polusi yang luar biasa besar-besaran. China dan Amerika termasuk negara-negara penghasil polusi udara terbesar di dunia. Pabrik-pabrik di negara itu setiap waktu terus merobek-robek struktur harmonis ruang atmosfer. Mereka enak mendapat uang banyak, tetapi ummat manusia sedunia menjadi korban.

Beberapa waktu lalu sempat ada konferensi internasional tentang perubahan iklim di Nusa Dua, Bali. Waktu itu sempat dibahas tentang isu “perdagangan karbon”. Maksudnya, negara penghasil polusi CO2 terbesar di dunia, seperti China dan Amerika, harus memberi subsidi kepada negara-negara yang memiliki hutan luas, seperti Indonesia dan Brasil. Hutan-hutan ini kan setiap detik terus memproduksi O2, sementara pabrik-pabrik di China, Amerika, Jepang, Eropa, dll. terus memproduksi CO2. Negara-negara pollutan itu diminta memberi sumbangan untuk pengembangan dan pelestarian hutan di negara-negara tropik. Ternyata, mereka ogah membantu.

Sudah begitu Si SBY tawadhu banget. Melihat negara-negara pollutan tidak mau membantu, SBY terima aja. Maklum sih, Si SBY ini badannya ada di hadapan kita, tetapi hatinya sudah parkir di New York sana. Harusnya, kalau laki-laki sejati, negara asing tidak mau bantu menjaga hutan kita, usir saja mereka dari konferensi itu. Usir mereka, biar malu! Tetapi kita semua tahu, Si SBY ini kan karakternya begitu: rela mengorbankan rakyat sendiri, demi mencari keridhaan asing.

Ada hikmah besar di balik realitas perubahan iklim ekstrim ini. Hikmah apakah itu?

Perubahan iklim ekstrim ini terjadi lebih karena AMBISI MATERIALISME negara-negara industri tersebut. Di mata mereka, mumpung selagi hidup, harus mencari uang sebanyak-banyaknya, bagaimanapun caranya. Kalau sudah dapat uang, mereka akan gunakan untuk senang-senang sepuasnya, tidak peduli akibat dari senang-senang itu merusak lingkungan.

Di mata kaum jahiliyyah pemuja hawa nafsu itu, tidak ada istilah “ramah lingkungan”, “peduli nasib generasi”, “peduli beban bumi”, “empati dengan nasib manusia”, dan seterusnya. Di mata mereka ya hanya senang, senang, senang, senang, senang,… Sepanjang hayat hanya senang-senang saja. Maka itu Al Qur’an menyebut mereka, “Ya’kuluna kamaa ta’kulul ‘an-am” (mereka makan seperti makannya binatang).

Ironisnya, kehidupan seperti itulah yang oleh para ekonom kerap ditutup-tutupi dengan istilah: pertumbuhan ekonomi, kenaikan produk domestik bruto, iklim investasi, laju inflasi, kenaikan indeks saham, dll. Padahal semua itu intinya hanyalah: kehidupan ala binatang yang memuja hawa nafsu. Akibat kehidupan seperti ini sangat jelas, yaitu kerusakan lingkungan, perubahan cuaca ekstrim, dan seterusnya.

Alam ini sebenarnya diciptakan dalam kondisi harmonis. Allah Ta’ala telah meletakkan fungsi-fungsi, mekanisme, dan tabi’at alam yang ramah bagi kehidupan insan. Hanya saja, karena nafsu senang-senang (yang kerap ditutup-tutupi dengan istilah “pertumbuhan ekonomi”) itulah, maka alam ini rusak. Sayangnya, dalam kondisi seperti ini kita dipimpin oleh “artis” yang senang berdandan di depan cermin; bukan dipimpin manusia tegas.

Semoga kita bisa memetik hikmah dan manfaat! Amin.

AMW.


Ilusi Seputar ZAKAT

Agustus 23, 2010

Bukan Ramadhan dikenal sebagai bulan Al Qur’an, bulan ibadah, bulan kebajikan, dan lainnya. Namun bulan ini juga bisa disebut Syahruz Zakat, bukan zakat. Di bulan ini kaum Muslimin diwajibkan membayar Zakat Fithrah, selain itu animo Ummat untuk membayar Zakat Maal meningkat pesat. Seakan, ukuran satu haul (periode) pembayaran Zakat itu dihitung dengan periodisasi bulan Ramadhan.

Spirit Santunan Sosial.

Sejak tahun 90-an sudah terdengar luas seruan pemberdayaan Ummat melalui instrumen Zakat. ICMI menjadi pelopor yang kerap menyuarakan pentingnya memanfaatkan Zakat untuk pengentasan kemiskinan, pemberdayaan ekonomi, pemberdayaan SDM, dll. Namun baru 5 tahun terakhir (2006-2010) gegap-gempita berdirinya lembaga-lembaga Zakat bergaung keras. Dimana-mana segera muncul lembaga Zakat, dengan aneka nama.

Termasuk di dalamnya adalah lembaga-lembaga yang secara “profesional” mengumpulkan zakat, infak, sedekah, lalu mengembangkan aneka bentuk santunan, aneka produk sumbangan, aneka bentuk pembiayaan, dan bisnis. Awalnya instrumen zakat, lalu bermetamorfosis secara perlahan menjadi bisnis. Secara sinis kerap disebut dengan istilah “industri zakat”. Obyeknya zakat, tetapi cara pengelolaan obyek mengikuti metode bisnis-bisnis komersial.

Semangat besar membuat usaha kolektor zakat dan menyalurkan hasilnya kepada sasaran-sasaran yang dituju, karena kaum Muslimin kerap terjebak dalam ILUSI PEMIKIRAN yang tidak berdasar. Ilusi itu membuat mereka memiliki obsesi besar untuk mendapatkan kemajuan-kemajuan kesejahteraan diri, lewat instrumen pengelolaan zakat, infak, sedekah. Sekedar contoh, di sebuah kota tertentu, ada seorang “kolektor zakat” yang unik. Dia sangat bersemangat membangun lembaga zakat, tapi cara berpikirnya sangat mengadopsi konsep-konsep Robert T. Kyosaki. Jelas aneh kan? Zakat itu apa, sedang Robert Kyosaki siapa?

Ilusi seputar Zakat ini kalau digambarkan sebagai berikut: “Potensi Zakat di Indonesia sangat besar. Luar biasa besarnya, puluhan triliun rupiah. Kalau misal jumlah penduduk Muslim di Indonesia ada 200 juta (dari Sensus 2010 penduduk Indonesia sekiatar 238 juta jiwa). Katakanlah yang wajib membayar Zakat Maal ada 100 juta orang. Kalau misal penghasilan rata-rata mereka Rp. 1 juta per bulan, atau Rp. 12 juta per tahun. Dengan pukul rata zakat mereka 2,5 % per tahun. Setidaknya diperoleh potensi zakat sekitar Rp. 30 triliun. Luar biasa kan?”

Mereka membayangkan bisa mengumpulkan Zakat Maal hingga 30 trilun setahun, atau 150 triliun per 5 tahun. Dengan dana itu, mereka bisa membuat ratusan rumah sakit besar, ratusan pabrik perakitan mobil (asembling), puluhan stasiun TV, ratusan supermarket, ratusan sekolah/madrasah permanen, ratusan masjid, bisa menggaji ustadz 10 juta rupiah per bulan, bisa membagikan jutaan Mushaf gratis ke masyarakat, dll. Itu kalau terkumpul 30 triliun dana zakat di satu tangan, lalu didistribusikan benar-benar secara amanah.

Namun hitung-hitungan seperti ini kan sangat spekulatif, terlalu prematur, atau terlalu bersemangat. Dalam praktiknya, paling potensi pembayar zakat di Indonesia yang memiliki komitmen tinggi, paling hanya sekiatar 10 juta orang saja. Itu pun tersebar di ribuan tempat, ribuan organisasi/yayasan, berbagai madzhab pemikiran, berbagai tradisi membayar zakat, dll. Nanti pada ujungnya, potensi “industri zakat” ini bernasib seperti yang lain, yaitu: luruh di tengah jalan. Sebab, antara harapan dan kenyataan terpaut jarah yang jauh.

Akibat realitas seperti itu, lembaga-lembaga pengelola zakat akhirnya putar-otak 1000 kali. “Waduh, penghasilan zakat kita tak sebanding dengan biaya operasional. Keadaan ini harus segera diakhiri. Mulai sekarang, kita banting setir masuk dunia bisnis. Jangan melulu mengumpulkan dan membagikan. Kita harus bersikap seperti dunia perbankan. Harta titipan muzakki ini harus selama mungkin kita manfaatkan, sebelum ia jatuh ke tangan mustahik.” Di titik ini, pengelolaan zakat yang semula berdimensi ritual-ekonomis, akhirnya terseret ke pusaran KAPITALISME baru. Sangat disayangkan tentunya.

Sejujurnya, saat ada sebagian Muslim yang terjun di dunia seputar zakat, infak, sedekah; kita mengucap syukur. Alhamdulillah, ada yang mau menerjuni dunia yang sulit itu. Mengapa disebut sulit? Sebab, ini menyangkut amanah Ummat yang kelak setiap rupiahnya akan ditanyakan oleh Allah Ta’ala. Urusan seperti ini sungguh, sungguh, sungguh sangat berat konsekuensinya. Betul-betul dibutuhkan orang yang kuat mental, sangat sabar, kuat menahan kesulitan hidup, sangat taqwa, dan benar-benar jujur dalam mengelola amanah. Tidak lupa, orang seperti itu harus sering-sering minta dimaafkan/diikhlaskan oleh para muzakki atas kesalahan atau kelalaian operasional mereka, yang membuat dana zakat tidak tersalurkan secara benar.

Demi Allah, kesulitan menekuni dunia dagang (niaga) tidak berarti dibandingkan kesulitan mengelola zakat, infak, sedekah ini. Betapa tidak, bagi seorang pedagang, kalau ada mitra tidak membayar hutang Rp. 100 ribu, tidak masalah baginya. Paling dilupakan. Tetapi, bagi pengelola zakat, infak, sedekah, kalau jatuh uang Rp. 100 di tempat yang tidak hak, tanggung-jawabnya akan dituntut sampai di Akhirat.

Belum lagi sikap adil dalam memperlakukan 8 asnaf penerima Zakat. Tidak boleh berat sebelah, tidak boleh memperbanyak porsi untuk amil dan fi sabilillah saja. Kerap terjadi, penyaluran zakat itu bersifat ekslusif, memberdayakan kalangan sendiri. Dalihnya, memberi hak kepada amil dan fi sabilillah.

Perlu juga dipahami, pengelolaan zakat sangat berbeda dengan infak dan sedekah. Zakat sudah ada pos yang jelas, sebagaimana dijelaskan dalam Surat At Taubah 60. Pengelolaan zakat ini sebenarnya lebih bersiafat bantuan konsumsi. Jadi bukan untuk pemberdayaan. Kalau mau melakukan pemberdayaan, manafaatkan sedekah, infak, hibah, atau wakaf yang telah disetujui untuk tujuan pemberdayaan. Jadi harta zakat, infak, sedekah itu jangan diacampur-baur. Nanti para pengelola akan kesulitan mempertanggung-jawabkan masing-masing jenis harta itu.

Ketika ada beberapa sasaran penerima zakat yang kondisinya sama-sama miskin, maka harus diutamakan kalangan miskin yang lebih beriman, lebih berilmu, lebih banyak berjuang demi kebaikan kaum Muslimin. Kalau mendahulukan orang miskin yang banyak bermaksiyat, lalu mengabaikan miskin yang mujahid, akan muncul masalah besar di tengah masyarakat. Kalangan shalihin yang miskin tidak dibantu, sementara kaum miskin yang banyak bermaksiyat malah ditolong. Itu sama saja dengan mengabaikan keshalihan dan mendukung kemaksiyatan. Jelas semua ini tidak benar. Nah, kenyataan seperti ini merupakan sebagian realitas kesulitan dalam distribusi zakat.

Ironisnya, banyak Muslim menjadi pengelola zakat, karena alasan “butuh pekerjaan”. Masya Allah, ini adalah motivasi yang salah. Terjun ke dunia zakat mestinya karena PANGGILAN SUCI untuk menunaikan ibadah, melayani Ummat Islam dalam urusan zakat, infak, sedekah. Andaikan setelah 5 tahun bertugas tulus ikhlas di bidang ini dan tidak kaya-kaya, harus diterima seacara ikhlas. Sebab, pada asalnya dunia zakat, infak, sedekah itu dunia pengabdian sosial. Dunia ini bukan dunia bisnis, niaga, apalagi industri. Jauh sekali.

Dalam kajian fiqih dijelaskan, kalau seorang Mufti sebelum memutuskan perkara, dia dalam keadaan bersengketa, dia terlilit hutang, dia dalam keadaan fakir-miskin, maka Mufti itu sebaiknya tidak berfatwa dulu. Harus diperbaiki keadaan dirinya, sampai dia merasa benar-benar independen, netral, tanpa tendensi, selain menyampaikan kebenaran. Begitu pula seharusnya dengan dunia pengelolaan zakat, infak, sedekah. Seseorang yang masuk kesana, haruslah orang-orang yang sedang tidak mencari pekerjaan. Kalau mencari pekerjaan, khawatir motivasinya sudah tidak murni lagi. Ini rawan penyimpangan. Malah seharusnya, orang-orang yang mengelola zakat itu adalah mereka yang kaya, mapan secara materi, dan memiliki keluangan waktu.Tujuannya, agar pengelolaan zakat lebih murni, tanpa tendensi ekonomis dari para pelakunya.

Dan satu lagi yang penting diketahui. Ini harus dipahai oleh semua pengelola lembaga zakat, infak, sedekah. Tujuan mencapai kebangkitan Ummat, pemberdayaan ekonomi, serta membangun Izzah kaum Muslimin, tidak bisa dicapai dengan mengelola zakat, infak, sedekah secara profesional. Andaikan itu jalan yang mesti ditempuh, tentu Nabi Saw akan cukup menjadi kolektor zakat, infak, sedekah saja.

Kemiskinan, kebodohan, kelemahan SDM, perpecahan, serta ketidak-berdayaan yang menimpa kaum Muslimin selama ini, tidak semata-mata karena kaum fakir-miskin tidak pernah mendapat jatah santunan sosial. Tidak demikian. Ini adalah ilusi pemikiran yang keliru. Miskinnya kaum Muslimin di Indonesia terjadi karena SISTEM PEMERINTAHAN yang berlaku tidak berpihak kepada kepentingan kaum Muslimin. Itulah akar masalahnya. Dalam sistem seperti ini, sekalipun Pemerintah sudah menggulirkan JPS, KUT, BLT, JAMKESMAS, beasiswa, dll. tetap saja tidak banyak mengubah keadaan kaum Muslimin. Padahal dana yang sudah dikerahkan untuk itu ratusan triliun. Hasil zakat, infak, sedekah yang dikumpulkan semua lembaga kolektor zakat selama 20 tahun terakhir, belum tentu melebihi dana yang sudah dikeluarkan Pemerintah untuk membiayai JPS, KUT, BLT, PNM, dll. Akar kemiskinan, kebodohan, kelemahan ini adalah SISTEM. Itu harus dicatat dengan baik!

Maka jalan yang benar untuk mencapai kemuliaan hidup kaum Muslimin adalah: menyebarkan ilmu-ilmu Syariat, memakmurkan amal-amal shalih, saling kerjasama antar kaum Muslimin, dan berjihad di Jalan Allah. Pengelolaan zakat hanyalah salah satu instrumen ajaran Islam yang berkaitan dengan santunan sosial. Ia bukan satu-satunya urusan Islam, apalagi kalau mau diklaim sebagai manhaj utama.

Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi dan nasehat untuk saling mengingatkan. Allahumma amin. Silakan teruskan hal-hal positif yang sudah tercapai; tunaikan zakat secara benar, jangan menciderai amanah Ummat; tunaikan infak dan sedekah untuk tujuan sebaik-baiknya, termasuk demi pemberdayaan Ummat; dan tentu saja, tingkatkan selalu sensitivitas hati untuk merasa takut kepada Allah dalam mengelola amanah Ummat. Takutlah kepada Allah wahai Saudara-saudari budiman, niscaya urusanmu akan menuai sukses besar! Amin.

AMW.


Analisis: Perampokan Bank CIMB di Medan

Agustus 21, 2010

Rabu, 18 Agustus 2010, hanya sehari setelah peringatan HUT RI ke-65, terjadi perampokan sangat spektakuler di Medan. Bank CIMB Niaga di Jl. Aksara menjadi sasaran tindak perampokan. Menakjubkan, ini adalah perampokan yang sangat “menyengat”. Selain dilakukan di siang hari bolong, juga kerapian aksinya luar biasa. Seakan para pelaku perampokan itu ingin menyampaikan pesan, “Begini nih, aksi yang handal. Jangan seperti Densus88 saat menangkap ABB di Banjar itu.”

"Lo nanti ngisi bensin di SPBU itu. Tunggu gue ya!"

Tentu saja, kita sudah sama-sama maklum bahwa perampokan seperti itu melanggar hukum negara. Itu sudah dimaklumi. Tetapi yang ingin dikaji adalah cara para perampok itu mengorganisir aksi. Luar biasa! Sejak peristiwa pembebasan pesawat di Woyla dan pembebasan sandera di Papua, pada era Orde Baru, belum ada lagi operasi militer di Indonesia yang sangat handal. Operasi oleh Densus88 maupun para tertuduh teroris rata-rata kurang berkualitas. Justru, tanggal 18 Agustus 2010, hanya sehari setelah peringatan HUT RI, kita disuguhi pameran aksi bersenjata di Medan. Dari sisi seni operasi kemiliteran -di luar konteks tindak kriminal- perampokan di Medan sangat menarik untuk dikaji.

Coba kita analisis satu per satu elemen-elemen aksi perampokan di Bank CIMB Niaga Medan itu:

1. Perampokan ini dilakukan secara kolektif, sekitar 16 atau 17 orang. Mengorganisir perampokan secara kolektif jauh lebih sulit ketimbang mengorganisir perampokan lewat unit-unit kecil.

2. Surve sasaran. Sebelum melakukan aksinya, para pelaku itu jelas melakukan surve yang matang. Itu terlihat dari penguasaan mereka terhadap medan/sasaran. Mereka sangat tenang, tidak tampak gelisah. Ini menandakan mereka telah melakukan surve mendalam. Bahkan mereka bisa menakar secara cermat kekuatan keamanan di bank yang jadi sasaran, serta kondisi di luar bank saat jam-jam sibuk siang hari.

3. Para pelaku memakai kendaraan sepeda motor biasa. Ada yang bilang 7 kendaraan, ada juga yang menyebut 8 kendaraan. Sepeda motor ini jenis biasa, bukan jenis “jagoan kebut-kebutan” seperti RX King. Semua motor ini ada nomer polisinya. Waktu di-cek, katanya semua nomer itu palsu. Kalau benar, berarti mereka sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelumnya.

4. Semua pelaku memakai helm. Helm ini menyulitkan polisi melacak mereka melalui kamera CCTV di Bank. Helm itu tertutup kaca hitam, sehingga sulit sekali terlihat jati diri pelakunya. Bahkan mereka memakai masker yang biasa dipakai pengendara motor untuk menutupi mulut. Masker ini sangat jelas ditujukan untuk menutupi mulut, kumis, janggut, serta bentuk dagu. Luar biasa, sampai dipikirkan sejauh itu.

5. Semua pelaku memakai tangan panjang, atau jaket, dan pakaian rapi, seperti orang kantoran. Dengan memakai motor, lalu dengan busana rapi, mereka akan dikira sebagai karyawan yang biasa lalu-lalang di jalan menuju kantornya. Dengan memakai lengan panjang, jika di lengan itu ada tattoo, tidak akan ketahuan. Bahkan mereka semua memakai sarung tangan, tujuannya jelas untuk menghindari tertinggalnya sidik jari pelaku.

6. Para pelaku memakai senjata laras panjang, seperti M16, AK47, SS1. M16 produksi Amerika, AK47 senjata legendaris produksi Rusia, dan SS1 artinya Senapan Serbu, produksi Pindad Indonesia. SS1 biasanya milik TNI/Polri, kalau M16 dan AK47 senjata khas di berbagai medan konflik. Selain itu, juga memakai pistol, katanya berjenis Revolver. Hebatnya, saat operasi selesai, mereka masukkan senjata laras panjang itu ke tas raket badminton, sehingga tidak mencurigakan. Mereka telah berpikir sedemikian detail.

7. Dari gaya para pelaku saat membawa senjata, jelas itu bukan gaya orang biasa. Itu gaya orang-orang yang terlatih memakai senjata. Jika bukan dari kesatuan militer/polisi, setidaknya mereka milisi bersenjata. Para anggota kriminal murni sulit melakukan cara serupa itu.

8. Komunikasi saat aksi dilakukan, bukan dengan suara, tetapi dengan isyarat-isyarat. Ini juga untuk mempersulit polisi dalam melacak karakter suara mereka. Karakter suara bisa dikenali dialeknya dari mana, dari suku apa, bahkan dari orang yang mana? Meskipun tentu tetap butuh proses untuk memastikan identifikasi melalui suara itu. Pendek kata, aksi di Bank CIMB Niaga Medan ini sangat rapi. Para pelaku jelas telah melakukan “gladi resik” secara berulang-ulang, sebelum aksi dilakukan.

9. Dalam aksi itu tetap ada komando dan komunikasi dengan pihak di luar. Ini menandakan, mereka memakai komando dan komunikasi. Meskipun aksi itu dilakukan di Bank CIMB, para pelaku didukung oleh tenaga-tenaga lain yang terus memantau aksi tersebut. Ini benar-benar “profesional”.

10. Aksi ini hanya dilakukan dalam waktu yang cepat, sekitar 15-20 menit. Seluruh aksi selesai dalam waktu cepat, lalu secara kolektif mundur dari tempat kejadian. Para pelaku berhasil menembus jantung bank itu sendiri, yaitu brankas. Jika diibaratkan sebuah missi, sasaran intinya sudah tercapai, yaitu membuka brankas bank dengan aman.

11. Pelaku secara mental sangat terkendali, sehingga mereka tidak menembak ke arah karyawan bank, kecuali petugas keamanan bank. Padahal kalau perampokan biasa, pelaku kerap menganiaya, membunuh, atau melukai karyawan/staf yang tak berdaya.

12. Aksi perampokan dilakukan siang hari bolong, saat ramai-ramainya lalu lintas manusia di Jl. Aksara Medan. Sungguh, hanya pelaku yang bernyali besar yang mampu melakukan perbuatan seperti itu. Secara nyali mereka sangat pemberani, bahkan nekad.

13. Para pelaku bisa datang dan pergi secara rapi. Datangnya tak terduga, perginya tak terlacak. Seolah mereka telah merancang rute pulang-pergi secara rapi. Sampai saat ini polisi masih terus mencari para pelaku.

Aksi perampokan di Medan ini, sekali lagi di luar konteks tindak melanggar UU negara, mencerminkan suatu bentuk operasi semi militer yang sangat terorganisir dan rapi. Para pelakunya bukan orang biasa, atau perampok umum yang bermotif materi.

Sepertinya, para pelaku hendak MENYAMPAIKAN PESAN kepada Pemerintah, aparat kepolisian, atau rakyat Indonesia. Kalau hanya target materi, katanya uang yang berhasil dibawa sekitar Rp. 400 juta. Jumlah ini tidak sebanyak hasil-hasil perampokan lain,  baik di Medan atau di daerah lain. Sepertinya, “pesan politik” itu yang ingin disampaikan. Entahlah, pesan apa yang ingin mereka sampaikan. Kita seperti disuruh memahami sendiri, dengan kepala masing-masing.

Tapi yang jelas, siapapun yang mengerti seni operasi kemiliteran, akan terkesan dengan cara pengorganisasian aksi itu. Anggota militer biasa, belum tentu mampu merancang operasi seperti itu. Bahkan Densus88 pun belum tentu bisa melakukannya. Ini operasi setingkat kerja pasukan-pasukan elit. Polisi pun dibuat geleng-geleng kepala.

Indonesia ini memang ada-ada saja… Kadang ada yang sangat narsir. Kadang ada yang suka bohong. Kadang ada yang master munafik. Kadang ada yang membuat temuan teknologi hebat. Kadang ada yang mendapat medali emas olimpiade sains. Kadang ada yang sangat empatik. Termasuk, ada juga yang membuat “pameran aksi bersenjata” seperti di Medan itu.

Akhirnya, selamat menjalankan ibadah shaum Ramadhan 1431 H. Semoga kita semua selalu mendapat curahan rahmat, ilmu, hikmah, amal shalih, ampunan, dan istiqamah. Allahumma amin.

AMW.


REFLEKSI: Kesalahan Terbesar Bangsa Indonesia!

Agustus 20, 2010

Bismillahirrahmaanirrahiim.

CATATAN: Tulisan ini sebenarnya sudah muncul Agustus tahun 2010 lalu. Karena begitu pentingnya isi tulisan ini, agar kaum Muslimin di negeri ini paham kondisi kehidupannya; ia sengaja di-lekat-kan. Selamat membaca kembali!

Baru-baru ini politisi Partai Demokrat (PD), Ruhut Sitompul melemparkan isu besar, tentang kemungkinan masa jabatan Presiden RI diperpanjang sampai 3 periode. Konsekuensinya, harus mengamandemen UUD pasal 7 yang membatasi jabatan Presiden RI hanya 2 periode saja. Sontak usulan ini membuat geger masyarakat politik Indonesia. Banyak suara-suara muncul memberi komentar. Saya meminjam kata-kata para selebiritis kalau sedang terjerumus suatu kasus asusila, “Ya, dimana-mana selalu ada pro dan kontra. Itu biasa saja, kok.”

Secara politik, wacana perpanjangan masa jabatan presiden sampai 3 periode itu, dapat dipahami sebagai ambisi politisi Demokrat untuk mengangkat SBY menjadi Presiden RI lagi pada periode 2014-2019 nanti. Kalau upaya itu berhasil, misalnya SBY sukses menjadi presiden lagi pada periode 2014-2019, apakah amandemen UUD itu akan berakhir? Tidak akan. Nanti menjelang masa jabatan ke-3 berakhir, akan ada lagi usulan amandemen kesekian kalinya, sehingga SBY bisa menjadi Presiden RI ke-4 kalinya. Kalau sudah 4 kali jadi presiden, akan UUD akan diamandemen lagi, sehingga SBY akan menjadi presiden sampai wafat. Bahkan nanti, Ruhut Sitompul akan mengusulkan, agar Presiden RI bisa dijabat oleh seseorang yang sudah dikubur dalam tanah. Dia menjadi Presiden RI secara ad interim; jasadnya sudah dikubur, tetapi nama dan fotonya masih berkuasa penuh.

Baca entri selengkapnya »


Jalan Sudah Diperbaiki

Agustus 17, 2010

Update terakhir: Gubernur Ahmad Heriawan lagi kesandung masalah. Dia membuat kartu ucapan “Selamat Idul Fithri” dengan mencantumkan foto dia sendiri. Menurut MetroTV, program itu memakai dana APBD senilai Rp. 1,5 miliar. KPK sedang menggali informasi seputar kartu ucapan ini. Terimakasih.

________________________________________________________________________________________

Beberapa waktu lalu saya menulis tulisan kritik tentang performa gubernur kami, yang notabene seorang ustadz dan ketua ormas Islam. Dalam tulisan itu banyak kritik yang saya ajukan. Salah satunya ialah rusaknya jalan raya di depan Gedung Sate. Jalan raya disana tidak berlubang-lubang seperti kolam, tetapi permukaan jalannya terkelupas atau terangkat. Jalan seperti itu lebih berbahaya, sebab dikira oleh pengendara kendaraan kondisinya baik-baik saja.

Hari Selasa, 17 Agustus 2010, sekitar jam 11.00, saya lewat depan Gedung Sate, dengan mengendarai motor. Begitu sampai di jalan-jalan raya sekitar Gedung Sate, saya tertawa. Pasalnya apa? Alhamdulillah, jalan-jalan disana yang terkelupas/terangkat permukaannya itu sudah diperbaiki, menjadi jalan mulus. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Hatur nuhun, Pak Gubernur! Terimakasih sudah memperbaiki jalan itu. Alhamdulillah.

Gedung Sate: Icon Jawa Barat. (Sumber foto: kompasiana.com).

Perbaikan jalan ini mungkin tidak seberapa dibandingkan substansi kritik yang saya ajukan. Tetapi alhamdulillah, kita harus menghargai kerja siapa saja yang mau melakukan perbaikan. Harapannya, setelah melakukan satu dua perbaikan, lakukan juga perbaikan-perbaikan yang lain, sebagai amanah kepemimpinan.

Perbaikan jalan di sekitar Gedung Sate itu juga tidak harus dimaknai, karena adanya kritik dalam blog ini. Siapa tahu, ia diperbaiki seiring 17 Agustus 2010, atau seiring momen Ramadhan dan menuju Idul Fithri 1431 H. Atau bisa jadi, ia diperbaiki karena sudah tiba momennya untuk diperbaiki. Apapun alasannya, harus disyukuri. Ya, kalau jalan diperbaiki tentu masyarakat akan merasa gembira, dan Pemda juga diuntungkan.

Gedung Sate selama ini dikenal sebagai icon Jawa Barat (akhirnya menyebut nama identitas juga…he he he). Tentang kerusakan jalan di provinsi ini, wah sudah luar biasa. Maka adanya perbaikan jalan di sekitar Gedung Sate, semoga menjadi suatu signal bagi perbaikan infrastruktur Jawa Barat secara umum. Masyarakat tentu gembira dengan perbaikan-perbaikan fasilitas, sebab pada hakikatnya masyarakat memang untuk dilayani, bukan dituntut bertanggung-jawab; atau selalu diminta mengerti.

Tulisan ini sekaligus penjelasan, bahwa kami (setidaknya saya) bukan kaum pendengki. Bukan politisi yang maniak kekuasaan. Kami ini orang fair saja; kalau ada kebaikan, diakui; kalau ada keburukan, ya diungkap apa adanya, agar menjadi koreksi untuk diperbaiki. Insya Allah, saya tidak malu untuk mengakui kebaikan seorang pemimpin, jika memang dirinya melakukan perbaikan. Sebaliknya, jika kepemimpinan seseorang membuat banyak masalah yang merepotkan kehidupan rakyat, mohon maaf, pasti akan dikoreksi!

Kita akan selalu fair-fair saja; kalau baik dikatakan baik, kalau buruk ya dikatakan buruk. Alhamdulillah, semua ini tanpa tendensi tertentu, seperti cari muka, minta fasilitas dari pemimpin, memuji biar mendapat posisi. Alhamdulillah, Allah Ta’ala menolong kita untuk bersikap baik dan syukur di jalan-Nya.

Sekali lagi, hatur nuwun Pak Gubernur! Atawa hatur nuhun Pak Walikota! Mugia jalan nu tos dibereskeun janten manfaat jeung maslahat ka kahidupan masyarakat. Allahumma amin.

Tapi saya mengingatkan juga, masih banyak perbaikan lain yang ditunggu masyarakat. Ini baru satu atau dua langkah, masih banyak langkah-langkah lain yang harus dilanjutkan. Kalau Pak Gubernur sudah memenuhi harapan masyarakat kaum Muslimin di Jawa Barat, insya Allah tulisan kritik di blog ini akan dihapus.

Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

Sim Kuring (AMW) —

__________________________________________________________________________

Catatan: Mohon Saudara @ Aban atau @ Rudy, Anda tidak usah berkomentar. Komentar Anda tidak disukai disini! Anda sudah masuk kategori person tercela yang tak perlu diberi ruang apapun. Anda berdebat dan diskusi secara membabi-buta dan tidak memelihara kehormatan Muslim lain. Dalam riwayat dikatakan, kurang-lebih, “Ab-gha-dhur rijal ‘indallahi alaadul khi-sham” (manusia yang paling dimurkai di sisi Allah, ialah seorang pendebat/pembantah yang melampaui batas). Berdebat dengan orang yang buruk akhlak, seperti memburukkan diri sendiri. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.


Peran Produsen dan Konsumen dalam Melestarikan Tata Nilai Halal-Haram

Agustus 17, 2010

PENGANTAR: Berikut ini adalah sebuah tulisan seorang kontributor. Tulisan yang bagus, mencerminkan rasa kritis yang kuat, berpijak pada realitas, dan konsisten dengan nilai-nilai Syariat. Ide pokok, tentang tanggung-jawab produsen dan konsumen dalam memelihara standar nilai halal-haram. Semoga bermanfaat!

_____________________________________________________________________________________

Bismillahirrahmaanirrahiim. Alhamdulillahi alladzi anzala rasulahu bilhudaa wa diinilh haqq li yuzhhuirahu ‘alaa diini kullihi walaw karihal musyrikuun. Ashalaatu wa salaamu ‘alaa man laa nabiyya ba’dahu.

Saya teringat beberapa waktu lalu beberapa sahabat saya mengajak saya untuk berjualan cokelat pada saat momen valentine. Sebenarnya dalam hati saya menolak untuk ikut-ikutan karena bagi saya itu masih syubhat, namun saya tidak langsung mengungkapkannya di depan teman-teman saya tersebut.

Tidak Sekedar Produksi dan Konsumsi. Ada Tanggung-jawab Menjaga Moral Masyarakat.

Sebenarnya, teman-teman saya tahu bahwa merayakan hari raya orang kafir itu haram, dalam hal ini valentine, namun mereka berpendapat dengan kaidah “Innamal a’malu binniyat” . Mereka bilang, “Jadi tergantung niatnya, jualan cokelat mah jualan aja, niat kita cuman jualan aja kok, terserah mereka mau dipake untuk apa”. Walaupun saya pada saat itu dalam hati tetap menolak, tapi sejujurnya pada saat itu saya belum punya argumen yang kuat karena saya benar-benar blank ilmunya, sehingga saya mengurungkan niat untuk angkat berbicara. Untunglah pada momen berjualan, saya ada di Jakarta menghadiri walimahan sepupu, sehingga saya punya alasan untuk tidak ikut berjualan dan tidak terlalu menyinggung mereka.

Alhamdulillah, beberapa waktu kemudian Allah menunjukkan ilmunya melalui sebuah literatur ilmiyah tentang masalah tersebut. Ada beberapa hadits dan atsar yang perlu kita kaji tentang kaidah produksi dan distribusi, hadits tersebut adalah:

1. Perkataan Umar Radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya berdagang tidak halal melainkan dalam sesuatu yang halal dimakannya dan diminumnya.”

2. Atsar dari Umar Radhiyallahu ‘anhu, “Tidak halal berdagang melainkan apa yang halal dimakan dan diminum dari barang-barang konsumtif. Jika tidak dalam arti seperti ini, maka disana terdapat sesuatu yang tidak halal memakannya, tapi halal memperdagangkannya, seperti keledai kampung dan burung pemangsa.” (Ibnu Hajar, Fathul Bari 4 : 484-485).

3. Hadits Nabi yang mengatakan, “Barangsiapa yang menahan anggur pada masa petik hingga dijualnya kepada Yahudi, Nasrani, atay orang yang menjadikannya khamar, maka sesungguhnya dia masuk ke neraka atas kemauan sendiri.”

4. Riwayat dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Sampai kepada Umar bahwa Fulan menjual khamr, maka dia berkata, ‘Allah mengutuk Fulan! Tidakkah dia mengetahui bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi was Sallam bersabda, ‘Allah mengutuk Yahudi, karena diharamkan kepada mereka lemak (babi), lalu mereka mengumpulkannya kemudian mereka jual.”’ Ibnu Hajar menjelaskan hadits ini dengan menyebutkan beberapa bentuk, diantaranya bahwa orang disebut dalam kisah tersebut “menjual anggur kepada orang yang akan menjadikannya sebagai khamr.”

BISNIS MENGIKUTI PERMINTAAN

Sudah lumrah jika jumlah permintaan konsumen besar maka produsen akan memproduksi barang yang diinginkan konsumen tersebut. Jika konsumen butuh beras maka para petani selaku produsen menghasilkan beras; jika konsumen membutuhkan pakaian yang lagi nge-trend di zamannya maka para produsen pakaian berlomba-lomba menghasilkan baju-baju yang trendi tersebut walaupun baju-baju seksi yang membuat mata para lelaki hampir copot; jika konsumen sedang gila music maka banyak dapur rekaman yang memproduksi kaset, CD, dan MP3 berisikan lagu-lagu dari artis-artis ternama; jika novel-novel romance menjadi bahan bacaan kosumen maka banyak para penulis yang berlomba-lomba untuk menulis novel tersebut; jika momen valentine tiba maka produsen-produsen cokelat menjadi rajin, bukan hanya cokelat, namun pernak pernik serba pink pun ditingkatkan jumlah produksinya. Itu sudah lumrah, dan begitulah hukumnya, orang-orang yang hanya mencari profit materi semata selalu melayani perimintaan kosumen tanpa melihat apakah barang yang dihasilkannya berdampak buruk atau tidak.

Beberpa hadits di atas mengandung kaidah syar’i yang penting, yaitu tentang peran produsen dan konsumen dalam menjaga nilai-nilai halal-haram di suatu komunitas masyarakat yang juga sebagai konsumen. Dalam beberapa riwayat tersebut mengandung makna keharaman menjual anggur kepada pembuat khamr, atau mendistribusikan anggur kepada konsumen yang gemar menkonsumsi khamr. Kesimpulannya, sebagai produsen yang baik tidak seharusnya memproduksi dan mendistribusikan barang yang haram atau barang yang halal namun mendistribusikannya kepada konsumen yang sudah jelas gemar melakukan kegiatan yang haram dengan menggunakan produk yang halal tersebut.

Disinilah perbedaan perdangan dan ekonomi Islam dengan perdagangan dan ekonomi konvensional, fungsi dari dari Ekonomi Islam adalah bekerja membersihkan dunia dari hal-hal yang haram membahayakan sesuai dengan kaidah syar’i, sedangkan ekonomi konvensional tujuannya hanya profit semata tanpa mengindahkan kaidah halal-haram.

Keduanya, baik produsen maupun konsumen perlu menyadari nilai halal-haram suatu produk dan kegiatan. Bila produsen memproduksi barang-barang yang haram maka hendaknya para konsumen membuat sepi pasaran produsen tersebut, dan jika konsumen menginginkan produk yang haram atau produk yang halal namun ingin digunakan untuk hal yang haram maka hendaknya produsen menahan diri untuk memproduksi dan mendistribusikan barang tersebut. Disinilah mengapa keduanya berperan sebagai pelestari nilai kehalalan dan keharaman.

Walaupun dalam beberapa kasus di Indonesia misalnya, produsen yang mestinya lebih berperan, karena produsenlah yang berkuasa membuat produk dan menargetkan pasar. Produsen dengan mengeluarkan produk-produk yang baik tentunya bisa “mengajarkan” perilaku yang baik kepada konsumen. Misalnya, mengeluarkan produk jilbab untuk muslimah; celana di atas mata kaki untuk laki-laki; makanan yang halal dan thayyib, secara tidak langsung para produsen ini berperan untuk mendidik konsumen untuk berperilaku yang baik. Tapi kalau keduanya sama-sama rusak, ya mau bagaimana lagi? Selaku orang-orang yang paham akan ilmu syar’i terpaksa harus “terasing” sembari memperjuangkan dan mempertahankan kaidah-kaidah syar’i.

CONTOH APLIKATIF

Untuk lebih jelas saya berikan beberapa contoh:

(a). Memproduksi dan berjualan celana jeans ketat untuk wanita. Kita lihat realitanya sekarang, kita harus jujur untuk apa kebanyakan para konsumen -khususnya wanita- membeli celana jeans itu? Sebagai mode pakaian yang dipakai di tempat umum kan? Sedikit sekali wanita yang mebeli celana jeans ketat yang niatnya hanya untuk dipakai di rumah untuk membahagiakan suaminya. Nah, simpulkan sendiri apa hukumnya menjual celana jeans ketat?

(b). Menjual cokelat di saat valentine. Cokelat secara zatnya memang halal jika memang diproses secara halal pula. Namun budaya jahiliyah valentine masih sangat melekat di kalangan masyarakat kita. Lagi-lagi kita harus jujur melihat realita, kira-kira apa yang ada di benak seorang yang mempunyai kekasih atau pada saat ingin “nembak” kecengannya, lalu dia belum paham bahwa valentine itu haram, dan dia membutuhkan cokelat. Tentunya sebagai produsen dan distributor cokelat mesti paham apa yang harus dilakukan, dia harus menahan memproduksi dan mendistribusikan cokelat pada momen itu, karena apa? Jika kita kekeuh memproduksi dan mendistribusikan cokelat pada saat itu sama saja kita melestarikan budaya valentine yang haram tersebut.

(c). Berjualan alat kontrasepsi berupa kondom di tempat prostitusi, jelas haram karena di tempat tersebut kondom itu mau digunakan untuk apa lagi selain untuk berzina? Berbeda jika ada sales kondom (ini misalnya ya, walaupun saya belum pernah melihat sales kondom) yang berjualan door to door kepada pasangan suami istri yang sudah legal.

(d). Menjual anggur kepada masayarakat yang gemar memfermentasikan anggur sehingga menjadi minuman keras, ini jelas keharamannya seperti disebutkan dalam hadits di atas.

(e). Menjual buku-buku yang mengajarkan pemahaman-pemahaman dan nilai yang sesat seperti budaya-budaya jahiliyah, pluralisme, sekularisme, bid’ah, khurafat dan takhayul. Ini juga jelas keharamannya.

Itulah beberapa kaidah yang harus dipahami oleh produsen dan konsumen. Hikmahnya sebagai muslim yang baik kita harus bahkan wajib berambisi menguasai pasar dan produksi sehingga nilai-nilai syar’i dapat ditanamkan di tengah-tengah masyarakat. Dengan memproduksi dan mendistribusikan barang yang halal, thayyib, dan bermanfaat maka sangat berperan dalam mendidik nilai-nilai kebaikan di tengah-tengah masyarakat.

Sesungguhnya korelasi antara produksi dan konsumsi berdampak pada perlindungan sumber-sumber ekonomi kaum muslimin, yaitu dengan eksplorasi produk-produk halal yang mencerminkan kebutuhuan hakiki bagi manusia, sehingga didapatkan keberkahan sumber-sumber ekonomi yang dikaruniakan Allah kepada kaum muslimin. Dalam hal ini Umar Radhiallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya dunia adalah kesenangan yang menawan. Barangsiapa yang mengambilnya dengan benar, dia akan diberikan keberkahan oleh Allah di dalamnya; dan barang siapa yang mengambil dengan selain itu, maka dia seperti orang yang makan dan tidak kenyang.” Lain halnya dengan ekonomi konvensional, yang sumber-sumber ekonomi dieksploitasi dalam produk-produk yang bermanfaat dan juga yang bermudharat, selama mendatangkan keuntungan bagi produsennya.

Wallahua’lam bishawwab.

Iziz Al-Ghariib.

Lihat situs Gerakan Ekonomi Islam. Terdapat tulisan yang sama, dengan susunan redaksional sedikit berbeda. Semoga bermanfaat! Amin.



Apakah Allah Itu Batu?

Agustus 16, 2010

Seorang pembaca, Saudara Ahmad, baru-baru ini memberi link tentang tulisan provokatif dari situs “kebebasan faith” yang sudah dikenal luas di kalangan netters Muslim. Saudara Ahmad merasa berduka hatinya membaca tantangan orang kafir yang sangat arogan dan membuat fitnah di muka bumi itu. Orang kafir tersebut menantang Ummat Islam, agar membuktikan bahwa Allah itu bukan Hajar Aswad, bahwa Allah itu bukan batu.

Situs ini sudah lama dikenal. Bertahun-tahun silam, saya pernah ikut sedikit perdebatan dengan orang-orang kafir ini di forum MyQuran. Tetapi karena gaya debatnya sangat zhalim, ya tidak mau dituruti. Biarkan saja dia terus bergelimang kezhaliman, sampai Allah menurunkan bencana baginya, bagi usahanya, bagi keluarganya, bagi orang-orang mereka cintai. Demi Allah, mereka tidak aman berjalan di muka bumi, berlayar di atas air, tidak aman terbang di udara, bahkan tidak aman dalam tidurnya. Hidupnya dikepung ketakutan hebat, karena memusuhi Allah dan Rasul-Nya.

Gambar Hajar Aswad. Sumber Eksistensi Spiritual Agama Kafir: Kedengkian!!! Kacian deh...

Dalam Surat Al Hujurat (kalau tidak salah) diberikan kaidah besar dalam debat dengan orang-orang kafir. Wa jaadilhum billati hiya ahsan, illal ladzina zhalamu minhum (berdebatkan dengan mereka dengan cara yang baik, kecuali terhadap orang-orang zhalim di antara mereka). Para pengelola situs “kebebasan faith” itu termasuk yang zhalim. Hukumnya sederhana: (1) Jangan layani debat mereka; (2) Doakan mereka agar dibinasakan oleh Allah Ta’ala; (3) Larang orang-orang Muslim yang awam dan lemah iman membaca tulisan-tulisan fitnah mereka.

Oh ya, kembali ke “TANTANGAN” orang kafir ini, agar kita membuktikan bahwa Allah itu bukan Hajar Aswad, bahwa Allah itu bukan batu, bahwa Muslim selama ini bukan menyembah batu.

Jawabnya begini saja:

[1] Dalam setiap Surat Al Qur’an, kecuali di depan Surat At Taubah (atau Al Bara’ah) selalu didahului kalimat “Bismillahirrahmaanirrahiim“. Artinya, dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kita tidak pernah disuruh membaca kalimat “Dengan nama hajar aswad yang maha pengasih dan maha penyayang.” Tidak ada kalimat seperti itu, baik dalam Al Qur’an maupun As Sunnah. Yang ada hanya, bismillahirrahmaanirrahiim.

[2] Setiap seseorang mau masuk Islam, wajib membaca Syahadat, “Asyhadu an laa ilaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah” (Aku bersaksi tiada Ilah yang haq disembah, selain Allah. Dan aku bersaksi, bahwa Muhammad adalah Rasul Allah). Kita tidak pernah sekali pun diperintah membaca kalimat seperti ini: “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah, selain hajar aswad.” Tidak ada sama sekali ajaran seperti itu. Tidak ada sama sekali, alias nihil sempurna.

[3] Dalam berbagai ayat Al Qur’an, Allah itu disifati sebagai: Rabbul ‘alamiin (Rabb alam semesta); Maaliki Yaumid Diin (Rajanya Hari Pembalasan); Rabbus samawati wal ‘ardh (Rabb Pencipta langit dan bumi); Rabbun naas (Rabb-nya manusia); Ilahin naas (Ilah-nya manusia); Khaliqul jinnati wan naas (Pencipta jin dan manusia), dan lain-lain. Tidak ada satu pun ayat atau Sunnah yang mengatakan, bahwa: “Allah itu hajar aswad.” Tidak ada sama sekali. Itu nol besar, nol se-nol nol-nya. Lalu dari mana orang kafir menyebut Allah itu sama dengan hajar aswad? Ya, tidak lain selain dari kebodohan mereka sendiri, kedunguan akalnya, serta kedengkian hatinya yang sangat amat keji. Wong ilmunya tidak ada seperti itu, mereka buat “ilmu” sendiri sesuai sabda syaitan yang mereka ikuti.

[4] Lalu bagaimana dengan Hajar Aswad (batu hitam)? Bagaimana posisinya dalam Islam? Disini saya sebut beberapa hadits/riwayat yang menjelaskan, bahwa Hajar Aswad itu makhluk berupa batu hitam, dan tidak mengandung kekuatan mistik seperti yang disangka orang-orang kafir itu.

Shahabat Umar bin Khattab Ra., dalam suatu kegiatan thawaf di Ka’bah, beliau pernah mencium Hajar Aswad, sambil berkata: “Wahai batu, engkau hanya batu biasa. Tidak bisa memberi manfaat atau kerugian. Kalau bukan karena aku telah melihat Rasulullah menciummu, aku tak akan mau mencium-mu.” Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, insya Allah. Dalam pembahasan mencium Hajar Aswad, hadits ini sering dikemukakan.

[5] Dulu ketika Rasulullah Saw belum menjadi Nabi. Waktu itu terjadi banjir di Makkah. Akibat banjir, bangunan Ka’bah rusak parah. Karena Makkah dan Ka’bah sudah lama menjadi pusat ritual masyarakat Arab, mereka bertekad untuk memperbaiki lagi Ka’bah tersebut. Hebatnya, untuk perbaikan Ka’bah ini, orang Arab jahiliyyah hanya mau memakai uang bersih, bukan uang dari hasil perbuatan dosa. Luar biasa! Padahal mereka masih jahiliyyah, Nabi pun belum diutus sebagai Rasul. Nah, di akhir-akhir pembangunan Ka’bah itu, masih tersisa satu celah yang belum ditutup. Masyarakat Makkah waktu itu sudah kesulitan untuk mencari tambahan batu. Tiba-tiba ada sebuah batu tambahan yang datang tidak diketahui asalnya. Itulah batu Hajar Aswad yang orang-orang Makkah merasa paling berhak memasukkan batu itu ke celah bangunan Ka’bah tersebut. Nanti, akhirnya Muhammad muda yang memasukkan batu itu ke lubang Ka’bah dengan tangannya sendiri. Hikmah yang bisa dipetik disini: Kemunculan Hajar Aswad sejak peristiwa renovasi Ka’bah tersebut. Kalau ia dianggap sebagai Allah, lalu kemana dong Allah Ta’ala sebelum renovasi itu? Apakah Allah baru muncul sejak renovasi Ka’bah tersebut? Ini sangat menggelikan. Bagaimana manusia bisa merenovasi Ka’bah, sementara Allah tidak ada ketika itu?

[6] Sudah menjadi Sunnah Nabi Saw, kalau beliau Thawaf di Ka’bah, beliau selalu menyempatkan diri mencium Hajar Aswad. Bisa dilakukan di awal Thawaf (putaran 1), bisa juga di akhir putaran (putaran ke-7). Namun di akhir hayatnya, Nabi Saw sakit-sakitan. Beliau tidak mampu thawaf secara normal, melainkan berada di atas punggung onta. Saat itu beliau tidak mencium Hajar Aswad dengan hidungnya. Tetapi Nabi cukup memegang Hajar Aswad dengan ujung tongkat beliau, sembari beliau berada di atas kendaraan.  Kita pun boleh melakukan itu. Kalau tak mampu mencium, dan ada peluang memegang dengan ujung tongkat, tak apa dilakukan seperti Nabi. Kalau Hajar Aswad dianggap sebagai Tuhan, masak boleh dipegang dengan ujung tongkat? Jelas itu tidak sopan. Hajar Aswad hanya makhluk biasa, berupa batu warna hitam.

[7] Fakta yang jarang diketahui orang, tetapi sering dibahas oleh ahli sejarah, seputar benda-benda arkheologis Islam. Hajar Aswad itu katanya pernah dicungkil sekelompok orang sesat dari golongan Qaramithah. Hajar Aswad dicungkil dari Ka’bah, dan sempat vakum mengisi Ka’bah, kalau tidak salah sampai 20 tahun. Jadi Ka’bah pernah blank tanpa Hajar Aswad selama batu itu dicungkil oleh kaum sesat Qaramithah, dan mereka sembunyikan. Kalau Hajar Aswad ini Tuhan, bagaimana bisa “Tuhan” menghilang selama puluhan tahun? Pemikiran seperti ini hanya dagelan saja.

[8] Fakta lain lagi yang perlu Anda tahu. Hajar Aswad yang kita kenal selama ini, semula sempat pecah karena dipecah oleh kaum sesat Qaramithah, semoga Allah melaknat mereka. Kemudian pecahan-pecahan batu itu dikumpulkan, lalu disusun kembali, dengan bantuan lem yang amat sangat kuat. Wallahu A’lam saya tak tahu lem apa yang dipakai untuk menyatukan pecahan-pecahan batu Hajar Aswad tersebut. Hajar Aswad yang kita kenal selama ini tidak seasli di masa Nabi dulu. Kalau Hajar Aswad disebut “Tuhan”, masak bisa dipecah dan di-lem ulang?

[9] Begitu pula, Ka’bah yang berbentuk kotak itu juga bukan Tuhan kaum Muslimin. Ka’bah ini adalah al Qiblah, atau arah menghadap kaum Muslimin dalam Shalat. Kita tidak boleh meyakini Ka’bah sebagai Ilah (sesembahan), itu adalah kemusyrikan. Rabb kita adalah Allah, yang disifati: Rabbu hadzihil bait (Rabb Pemilik rumah ini, yaitu pemilik Ka’bah). Ka’bah itu makhluk, sama seperti bangunan-bangunan lain. Namun ia memiliki kemuliaan melebihi bangunan yang lain. Ia disebut sebagai Baitullah al Haram (Rumah Allah yang mulia). Kemuliaan Ka’bah bukan karena bentuk atau substansi materinya, tetapi karena ia dipilih oleh Allah sebagai bagian dari Syi’ar agama-Nya di muka bumi. Hal ini tidak jauh berbeda dengan Masjid Nabawi, yang dimuliakan karena ia masjid yang sangat erat kaitannya dengan jejak perjuangan Nabi Saw dan para Shahabat di Madinah.

Untuk membuktikan bahwa Ka’bah adalah makhluk, bukan Tuhan, ada beberapa argumentasi menarik: Pertama, Ka’bah ini pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As. Tidak mungkin Tuhan dibangun oleh tangan manusia. Iya kan? Apa ada Tuhan yang dibentuk oleh tangan manusia, lalu ia disembah pula oleh manusia? Kedua, Ka’bah itu beberapa kali mengalami kerusakan akibat banjir, sehingga harus direnovasi. Kadang renovasi dilakukan secara sengaja, seperti yang terjadi di masa kepemimpinan Abdullah bin Zubair Ra. Mungkinkah Tuhan bisa direnovasi? Ketiga, Ka’bah itu bisa dimasuki oleh manusia. Kalau seorang Muslim shalat di dalam Ka’bah, dia boleh menghadap kemana saja. Itu menandakan, fungsi inti Ka’bah ialah sebagai arah hadap dalam shalat. Keempat, Ka’bah itu saat-saat tertentu diperbaiki, dibersihkan, diganti kain Kiswah-nya. Untuk tujuan itu, petugas kadang naik ke atas bangunan Ka’bah. Mungkinkah ada Tuhan bisa dinaiki sampai ke atasnya?

Singkat kata, Ka’bah ini makhluk Allah, seperti makhluk-makhluk lain. Hanya ia memiliki kemuliaan karena menjadi Syi’ar Allah di muka bumi. Kemuliaan Ka’bah bukan karena dirinya sendiri, tetapi karena KONEKSI-nya dengan simbol-simbol kebesaran agama Allah di muka bumi. Apapun yang dipilih oleh Allah mulia, pasti mulia; apapun yang dihinakan oleh Allah, seperti Freemasonry, kekafiran, dan orang kafir, pasti hina.

Jadi intinya, saudaraku rahimakumullah jami’an, Hajar Aswad itu makhluk Allah, sama seperti batu yang lain. Kalau pun dia lebih mulia dari batu yang lain, karena Allah ijinkan dia mulia, dan Nabi Saw mencintainya. Tanpa perkenan Allah dan tanpa teladan Nabi dalam mencium-nya, Hajar Aswad tidak memiliki apa-apa. Persis seperti kata Umar bin Khattab Ra, Hajar Aswad hanya batu biasa, tidak bisa memberi manfaat atau merugikan diri.

Apapun yang dimuliakan Allah dan Rasul-Nya, ia akan mulia. Apapun yang dihinakan Allah dan Rasul-Nya, ia hina. Ini prinsipnya. Persis seperti seekor anjing milik salah satu anggota Ashabul Kahfi. Ia menjadi anjing paling mulia, karena menjadi milik seorang wali Allah.

Seorang Muslim, jelas tidak boleh menyembah Hajar Aswad. Kalau menyembah Hajar Aswad, dan menempatkannya sebagai Ilah yang disembah; jelas mereka musyrik dan diharamkan syurga baginya. Muslim itu Ibadullah (hamba-hamba Allah); bukan Ibadul hajar, hamba-hamba batu, apapun jenis batunya.

Semoga bermanfaat. Dan jangan ditanggapi soal “tantangan orang kafir”. Mereka hanya mempermalukan dirinya sendiri. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

AMW.


Bisnis Darah dan Nyawa Manusia

Agustus 16, 2010

Kalau melihat tukang jagal berjual beli daging, itu wajar. Apalagi di masa Ramadhan dan menjelang Idul Fithri nanti, pasti sangat ramai tukang jagal jualan daging. Itu wajar, sebab yang dijual daging sapi, kambing, atau ayam. Ada juga yang menjual daging kuda, kerbau, atau onta. Tetapi kurang umum di masyarakat kita.

Adalah amat sangat keji dan biadab, bila ada yang sampai memperjual-belikan darah manusia, nyawa manusia, nama baik keluarga, masa depan anak-anak, bahkan kehidupan bangsa. Mendengar berita-berita seputar manusia dimutilasi saja sudah sangat ngeri, apalagi ada jual-beli nyawa dan kehidupan insan. Pasti bila ada jual-beli semacam itu, para pelakunya hanyalah syaitan-syaitan berbadan manusia.

Andaikan Kakak atau Adik Anda Menjadi Tersangka...

Tapi apa ada jual-beli darah dan nyawa manusia?

Ini ada. Faktual. Nyata. Buktinya di depan mata kita. Paling tidak faktanya muncul sejak sekitar 10 tahun terakhir. Khususnya sejak terjadi Tragedi WTC, 11 September 2001. Sejak itu, darah, nyawa, keluarga, masa depan anak-anak, dan kehidupan aktivis-aktivis Muslim menjadi sasaran teror, difitnah habis-habisan, dizhalimi secara semena-mena, diinjak-injak kehormatannya, dan seterusnya. Pihak-pihak yang melakukan teror itu secara riil mendapat donor (dana bantuan) asing, seperti dari Amerika dan Australia.

Aktivis-aktivis Islam diperlakukan seperti hewan buruan, dikejar-kejar, dikepung dengan poster “awas teroris” ditempel di mana-mana, dikepung, ditembaki, dibunuhi di jalan-jalan. Yang berhasil ditangkap hidup, diberi “pelatihan fisik” tertentu, sehingga muka dan badannya bonyok tidak karuan. Mereka ditampilkan di media-media massa sebagai Muslim garis keras, pemuda Islam radikal, pemuda ekstrim, kaum fundamentalis, dsb. Sembari mereka tidak diberi kesempatan untuk membela diri secara adil.

Pihak-pihak yang memangku “tugas negara” menyerang sasaran para aktivis Islam itu, mereka selalu haus membutuhkan publikasi media massa, mereka butuh blow up di mata masyarakat, agar benar-benar tercipta image, bahwa bangsa kita sebentar lagi akan dikuasai teroris. Dengan cara publikasi media itu, mereka mendapat dukungan asing, mendapat dukungan APBN, mendapat restu ini itu. Padahal mayoritas kasus-kasus terorisme itu merupakan rekayasa yang mengada-ada.

Ada banyak alasan untuk memahami bahwa kasus-kasus terorisme di Indonesia ini merupakan rekayasa belaka, tidak memiliki landasan kebenaran sama sekali. Masyarakat hanya dibohong-bohongi oleh berita-berita media yang diputar-balikkan tidak karuan. Berikut argumentasinya:

[1] Peristiwa teror bom di Indonesia, umumnya dimulai pasca Tragedi WTC, 11 September 2001. Sebelum itu, di Indonesia jarang terjadi teror bom. Setelah Bom Bali I, seakan negara kita langganan terjadi teror bom.

[2] Secara umum, pemuda-pemuda Islam yang dituduh teroris itu rata-rata orang fakir-miskin. Ini sangat jelas. Secara ekonomi mereka susah. Itu terlihat dari rumah, kondisi keluarga, kampung tempat tinggal, dll. Lalu darimana mereka bisa membeli amunisi, bahan peledak, senapan, pistol, sirkuit bom rompi, mobil, kamera, dan seterusnya. Untuk diri sendiri saja susah, apalagi mau membuat bom mobil?

(Pihak aparat beralasan, “Mereka dapat transfer dari donor orang asing di Saudi.” Bantahan, sejak WTC 11 September 2001, semua transfer dana untuk keperluan Islam, sekalipun untuk dakwah dan pendidikan, sangat sulit masuk ke Indonesia. Bahkan sejak Saudi merugi akibat Perang Teluk 1990-1991, mereka kesusahan membantu dakwah Islam di negara-negara Muslim).

[3] Imam Samudra, Mukhlas, Amrozi, Ali Imran, mereka mengaku telah meledakkan bom mobil di depan cafe Paddy’s Club di Bali. Tetapi mereka tidak tahu-menahu tentang bom ke-2 di Sari Club yang menewaskan ratusan orang Australia. Menurut sebagian saksi, bom kedua ini merupakan rudal yang ditembakkan dari arah pantai di Bali, jatuh mengenai kafe Sari Club. Imam Samudra Cs melakukan satu kesalahan, tetapi harus menanggung dua dosa sekaligus, termasuk peledakan di Sari Club. Bodohnya, dunia internasional tak peduli dengan fakta itu. Hati mereka sudah tertutup untuk melihat kebenaran.

[4] Dalam setiap aksi terorisme, selalu saja ditemukan video yang menggambarkan aksi tersebut. Termasuk video pada saat peledakan Bom Bali II, JW. Marriot dan Ritz Carlton. Video yang paling dramatis ialah seperti di JW. Marriot dan Ritz Carlton. Disana seperti ada kamera yang terus mengikuti gerak-gerik pelaku teror. Kalau memang sudah tahu ada aksi seperti itu, seharusnya pembawa kamera membuat peringatan sejak dini.

[5] Tabung gas 3 kg yang beredar di masyarakat kerap kali meledak, dan ledakannya seperti bom. Tabung itu mudah didapat, sangat murah lagi. Kalau para “teroris” ingin melakukan teror dengan bom, mereka pasti akan menggunakan tabung gas 3 kg. Tetapi kenyataan yang ada, tidak pernah ada aksi seperti itu. Ini menandakan, bahwa aksi-aksi yang diklaim sebagai terorisme selama ini, sangat mengada-ada.

[6] Banyak pihak mempertanyakan, kalau para aktivis itu benar-benar sebagai bagian dari Tanzhim Al Qa’idah, yang menyatakan jihad global melawan Amerika. Mengapa dalam kasus-kasus teror di Indonesia, tidak ada satu pun warga atau instansi Amerika menjadi korban? Seolah, pihak teroris sudah diberitahu agar menghindari sasaran yang berlabel Amerika. Katanya Al Qa’idah, tetapi Amerika selamat terus?

[7] Selama ini, isu seputar terorisme amat sangat menjadi MONOPOLI kepolisian. Seakan pihak lain, seperti anggota DPR, Komnas HAM, tim pencari fakta independen, tim advokasi Muslim, ormas Islam, atau tim independen asing, tidak boleh campur-tangan sama sekali. Monopoli opini oleh Polisi ini jelas membuka pintu selebar-lebarnya bagi pembunuhan sipil secara sistematik oleh aparat.

[8] Setiap selesai satu kejadian teror, Polisi selalu mengumumkan, bahwa masih ada pelaku yang buron (DPO). Ini sangat menjengkelkan. Kalau kerja Polisi tuntas, seharusnya ringkus semuanya. Jangan dicicil sedikit-sedikit! Sangat kelihatan kalau Polisi ingin memperpanjang “sinetron terorisme” ini. Dengan panjangnya episode, jelas panjang pula harapan mendapat bantuan dana asing.

[9] Pernahkan kita membayangkan, bahwa negara Amerika sendiri yang disebut-sebut telah mengobarkan war on terror itu, mereka kini sudah bosan dengan isu terorisme. Bukan hanya Amerika. Negara-negara yang dulu ikut siaga dalam war on terror, mereka sudah mengendurkan ketegangannya, seiring lengsernya George Bush -laknatullah ‘alaihi wa ashabihi ajma’in-. Nah, mengapa Indonesia seperti sangat mensyukuri acara teror-teroran ini? Di negara asal terjadi Tragedi WTC saja sudah reda, kok disini masih laku?

[10] Perhatikan para pengamat terorisme yang muncul di media-media massa. Orangnya dari dulu itu-itu saja. Nashir Abbas jelas, Sidney Jones, Mardigu, Hendropriyono, Ansyad Mbai, Abdurrahman Assegaf, Umar Abduh, dll. Peristiwa teror di Indonesia seperti sebuah ritual yang diulang-ulang. Dan setiap “ritual” terjadi, para “pendeta” dalam ritual itu selalu orang-orang yang sama.

[11] Bahkan cara-cara media dalam meliput kasus-kasus teror itu nyaris sama. Hanya tempat, waktu, dan deskripsinya berbeda. Tetapi secara umum, model peliputan medianya, sama saja. Kalau tidak salah, orang-orang media sebenarnya bosan juga dengan kasus “jual-beli darah dan nyawa” itu, tetapi mereka seperti tidak ada pilihan.

[12] Isu terorisme di Indonesia seperti sebuah kanker mematikan. Mengapa demikian? Mulanya semua ini dibiarkan, tetapi lama-lama membesar menjadi kanker di tubuh bangsa kita. Bayangkan, semua pihak, selain kalangan Islam, nyaris tak mau bersuara membela kepentingan pemuda-pemuda yang dikejar-kejar sebagai teroris itu. DPR bisu, partai-partai bisu (terutama partai label Islam), Gubernur/Walikota bisu, Menteri bisu, aktivis HAM bisu, aktivis LSM bisu, media massa membisu (dari melakukan advokasi), ormas Islam membisu, gerakan mahasiswa membisu, BEM membisu, HMI membisu, dll. Seolah, semua pihak sudah sepakat untuk sama-sama menzhalimi aktivis-aktivis Islam yang rata-rata fakir-miskin itu. Allahu Akbar, bagaimana mereka bisa berharap akan tegak keadilan di negeri ini, sementara terhadap kezhaliman yang nyata-nyata di depan mata, mereka bisu? Ini menjadi bukti kesekian kalinya, bahwa sejatinya kebanyakan orang Indonesia ini berkarakter MUNAFIK.

[13] Kasus terbaru, yang diklaim oleh kepolisian sebagai terorisme di Aceh. Media-media massa, terutama MetroTV dan TVOne, ikut-ikutan mempublikasikan hal tersebut. Padahal sejatinya, seperti disebut dalam situs suara-islam.com, latihan militer di Aceh itu bukan untuk menyerang SBY saat 17 Agustus 2009. Itu adalah latihan para pemuda Islam yang semula rencananya akan  diberangkatkan ke Ghaza. Latihan ini ada dua tahap, pertama tahun 2008 untuk persiapan ke Ghaza. Ini ada videonya, seperti yang ditayangkan di TV-TV. Lalu latihan kedua, akhir 2009 sampai awal 2010. Latihan kedua ini sangat kuat peranan Sofyan Tsauri dalam menjerumuskan pemuda-pemuda Islam itu dalam jebakan kasus terorisme. Latihan yang dirancang Sofyan Tsauri untuk kasus terorisme.

Sofyan Tsauri sendiri mengakunya sebagai desertir polisi Depok. Katanya desertir, tetapi bisa memakai Mako Brimob Kepala II Depok untuk latihan menembak dengan peluru tajam. Hebat kali Si Sofyan ini? Sofyan ini seorang desertir polisi yang memiliki kuasa seperti Kapolri. Hebat kali dia? Dari semua tertuduh teroris di Aceh, hanya Sofyan ini yang diperlakukan istimewa. Tidak dibelenggu, tidak ditutup mata, boleh memakai kacamata hitam, dan naik kendaraan pribadi yang mulus tentunya. Hebat kali Si Sofyan? Dia sudah menjalankan bisnisnya dengan sempurna.

[14] Polisi selama ini selalu bangga dan penuh senyum kalau memberitakan kejadian-kejadian terorisme. Seharusnya mereka sedih dan merasa sangat malu, “Kok dari dulu memberantas teroris tidak selesai-selesai. Polisi ini apa saja kerjanya?” Banyak masalah tidak selesai. Makelar kasus, Susno Duajdi, Anggodo-Anggoro, Bank Century, Gayus Tambunan, Ramayana, dst.

Dan aneka argumentasi yang kerap menjadi tanda-tanya bagi para pemerhati kasus-kasus terorisme di Indonesia. Intinya, seperti sudah dibahas di artikel sebelumnya: “Syaitan itu ada dua jenis, jenis jin dan jenis manusia. Syaitan jenis manusia adalah tukang fitnah, durhaka, pendosa, sangat keji.” Mereka tidak segan-segan untuk menjual-belikan darah, nyawa, dan kehidupan manusia, demi keuntungan dunia yang sangat kecil. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Hebatnya lagi, yang menjadi sasaran jebakan terorisme itu rata-rata pemuda Muslim yang baik, bermoral, aktivis Islam, rajin ke masjid, bhakti pada orangtua, cinta keluarga, hidup sederhana, bahkan fakir-miskin. Ini adalah kezhaliman luar biasa. Kezhaliman sezhalim-zhalimnya. Bagaimana Indonesia akan bisa lolos dari kehinaan, bencana alam, dan sengsara, kalau kezhaliman seperti ini terus didiamkan?

Dan lebih hebat lagi, hebat bin ajaib, mayoritas kaum Muslimin, selain para aktivis Islam dan para penggiat Syariat Islam, rata-rata membisu semua atas kezhaliman luar biasa ini! Allahu Akbar! Bagaimana kelak kalau mereka ditanya di alam kubur, ditanya di Akhirat? Dimana pembelaan mereka atas nestapa Ummat Muhammad Saw?

Ya Allah, ya Rahiim, ya Rahmaan, rahmati, rahmati, rahmati, kaum Muslimin ini. Mereka sudah melakukan perbuatan luar biasa, dengan berdiam diri atas penderitaan pemuda-pemuda Islam yang dituduh teroris dan penderitaan keluarga mereka. Masya Allah ya Rahmaan ya Rahiim, ampuni kami ya Rabbal ‘alamiin.

Allahumma inna na’udzubika minas syaithanir rajiim, wa min an yahdhurun. Allahumma inna na’udzubika wa bi Izzatika min syarri wa zhulumatis syayathin wa ahzabihim ajma’in. Allahumma dammir hum tadmira, wa qat-tha’ aidihim wa arjulihim, wa farriq quwwatahum wa makrahum, wa anzil lahum hizyun fid dunya wal akhirah, wa zalzil hayatahum zilzalan katsiran, laa yazalu dzalikal zilzala hatta yatubuna ilaikal Ghafuur. Allahumma inna nas’aluka ‘afiyatan kamilan min kulli syayathin, wa syarrihim, wa zhulumatihim, wa makrihim jami’an. Wa laa haula wa laa quwwata illa billah. Amin Allahumma amin. Wa shallallah ‘ala Rasulillah Muhammad wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.

Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AMW.