Dimana Posisi SBY?

Kita selama ini -sebagai bagian dari rakyat Indonesia- selalu bertanya-tanya, “Sebenarnya, bangsa ini memiliki pemimpin apa tidak? Jika punya pemimpin, mengapa sang pemimpin tidak menjalankan kepemimpinan untuk melayani dan membela rakyatnya?”

Terus terang, berbagai keluhan, keprihatinan, kritik, rerasan, bahkan sinisme sudah sangat banyak diajukan kepada Pak SBY, Presiden RI saat ini. Intinya, semua suara ini sangat mengharapkan komitmen Pak Presiden untuk membela, melindungi, dan melayani rakyatnya sendiri. Mengapa muncul semua keluhan-keluhan demikian? Sebab, sejak tahun 2004 lalu, dan terutama setelah jabatan kedua 2009 lalu, kehidupan bangsa ini semakin jauh dari harapan.

Biar tidak disebut fitnah, saya coba sebutkan beberapa contoh situasi mengerikan di sekitar kita:

(=) Beredarnya video porno Si Ariel, Luna, dan Tari. Bukan hanya adegan porno itu yang rusak, tetapi efek penyebarannya sangat luas.

(=) Kasus Bank Century yang sudah diputuskan “C” oleh rapat paripurna DPR, seperti lenyap ditelan bumi.

(=) Kasus mafia hukum, Bibit-Chandra, Susno Duadji, Anggodo-Anggoro, Gayus Tambunan, Kompol Arafat, Antasari Azhar, Sirus Sinaga, dll. seperti benang kusut. Semua kasus ini membuat masyarakat muak dengan lembaga hukum.

(=) Kasus ledakan “bom gas 3 kg” sangat marak dimana-mana. Para pejabat, BUMN, kementrian saling cuci-tangan.

(=) Fenomena perang anti teroris oleh Polri yang penuh kebohongan. Bukti nyata, selama ini telah beredar sekitar 9 juta tabung gas 3 kg.  Tabung ini sangat mudah meledak, dan ledakan seperti bom. Kalau benar-benar ada teroris di Indonesia seperti yang dituduhkan, pasti mereka akan memakai “bom 3 kg” itu. Tetapi kenyataan, tidak ada teroris memakai bom 3 kg.

(=) Fenomena kehancuran budaya anak-anak muda, seiring mewabahnya acara-acara entertainment di TV yang sangat destruktif, seperti “Indonesia Idol”, “Indonesia Mencari Bakat”, “Termehek-mehek”, “Penghuni Terakhir”, “Opera Van Java”, dll. yang sangat banyak. Termasuk acara infotainment yang selalu dikawal oleh presenter-presenter genit. Semua acara ini merusak karakter dan budaya sosial masyarakat.

(=) Kehancuran dunia pendidikan, dalam wujud komersialisasi pendidikan, krisis keteladanan guru, elitisme pendidikan, sistem kelulusan UN, kecurangan nilai, pendidikan minus manfaat, dll.

(=) Nasib dunia usaha yang semakin liberalis-kapitalistik. Banyak usaha kecil, PKL-UKM tergusur oleh tangan-tangan pemodal besar dan investor asing. Sampai ke kampung-kampung, ke rumah-rumah, ke kamar-kamar, peluang usaha masyarakat kecil dirampas pemodal besar dan asing.

(=) Kekerasan Rumah Tangga, pembunuhan keji, mutilasi, bunuh diri, sakit jiwa, manusia dipasung, penyakit sangat aneh, dll.

(=) Demo-demo yang kerap sekali diwarnai bentrokan, kerusahan, kericuhan, hingga terjadi korban jiwa, harta, dan trauma.

(=) Kebejatan media-media massa, terutama media TV, dalam mengacaukan opini masyarakat, menyebarkan kebohongan, menyebarkan pornografi, menyebarkan konsumerisme, bersikap sentimen anti Islam, sok nasionalis padahal pro Chinese Overseas, sok cerdas padahal munafik, dll.

Keadaan bangsa kita seperti sebuah episode drama yang hampir tamat. Drama itu sebentar lagi tamat, seperti sebuah panggung drama yang segera menurunkan layarnya. Apa yang terjadi di sekitar kita kini adalah prahara, bencana, skandal yang bertumpuk jadi satu.

Dalam posisi demikian, “Lalu dimana posisi seorang Presiden? Apa saja kerjanya? Apa saja yang dia lakukan, sehingga kehidupan rakyatnya runyam seperti ini? Untuk apa seorang Presiden digaji oleh negara, jika dia tidak mampu berbuat apa-apa untuk kebaikan rakyatnya?” Itu sama saja dengan makan gaji buta.

Di situs detiknews.com ada sebuah artikel menarik. Judulnya, SBY Dinilia Banyak Terjebak Politik Pencitraan. Tulisan yang dimuat pada 3 Agustusd 2010, ini berisi pendapat seorang pakar tentang kepemimpinan SBY yang dianggap terlalu menjaga citra melalui pernyataan-pernyataan hebat di media, padahal dalam kenyataan di lapangan bukti kepemimpinannya tidak ada.

Seperti raga tanpa jiwa... (sumber foto: detiknews.com)

Kepemimpinan seperti SBY saat ini kalau dilukiskan dalam sebuah pernyataan, “Wujuduhu ka ‘adamihi” (adanya kepemimpinan itu seperti ketiadaannya). Artinya, baik ada atau tiada kepemimpinan, tidak tampak bedanya.

Sangat disayangkan Pak SBY, Anda ini seorang doktor, terpelajar, seorang perwira tinggi TNI lagi. Tetapi berkah dari kepemimpinannya nyaris tak berbekas. Seperti tiupan angin semilir, sesaat menerpa wajah kita, lalu angin itu lenyap kembali tanpa jejak. Seorang doktor kok makan gaji buta? Sayang sekali!

Kita seperti tidak melihat sosok pemimpin, tetapi persona yang telah terpenjara oleh perangkap politik asing. Segala yang menguntungkan asing, IYA atau MONGGO! Tetapi segala yang bermanfaat, maslahat, dan berarti bagi kebaikan masyarakat sendiri, dijawab NANTI atau JANGAN DULU! Allahu Akbar.

Ya, inilah sosok pemimpin yang diyakini oleh bangsa Indonesia sebagai HARAPAN BANGSA; tetapi pada kenyataannya, tak lebih dari ELEMEN di bawah kendali asing.

Ya Allah ya Karim, hendak kemana kami mengadu? Hendak kemana kami mengadukan duka-nestapa masyarakat kaum Muslimin yang terus terlunta-lunta ini? Betapa banyak manusia -di bawah kepemimpinan seperti ini- mati dalam jahiliyah, kekufuran, kefasikan, kezhaliman, kemusyrikan, dan kesesatan. Apa yang harus kami lakukan ya Arhama Rahimin? Tunjuki kami, cerahi kami, bimbing kami Ya Haadi.

Tugas para Nabi dan Rasul Alaihimussalam menyelamatkan manusia dari kematian su’ul khatimah. Tapi bangsa kita kini seperti sebuah pabrik raksasa yang terus  “memproduksi” ribuan atau jutaan manusia yang mati di atas su’ul khatimah. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Selamat menyambut Ramadhan, dan selamat memikirkan nasib Ummat.

AMW.

Iklan

2 Responses to Dimana Posisi SBY?

  1. Amar Ma'ruf berkata:

    Sepertinya berbagai keluhan rakyat Ina terhadap kepemimpinan sby di tanggapi dingin oleh sby. Setiap ada masalah yg menimpa masy Ina, di anggap kecil dan tidak sebanding terhadap jumlah suara yg memilih dia menjadi presiden. Kita bisa lihat sanggahan demi sanggahan pendukungnya dari mulai jubir kepresidenan, pimp. fraksi demokrat, dll.

    Sby telah lama meninggalkan posisinya sbg pemimpin NKRI tidak terlepas dari kedemokratannyayg di tunjang oleh bisikan sepilis.

    Dimana sepilis berkehendak pres sby sbg kepl. pemerintahan di antaranya menginginkan pres/pemerintah di larang ikut campur masalah keyakinan, bukan urusan pres soal kebejatan moral kasus peterporn karna anggapannya masak urusan sex pres yth harus turun tangan? Bisa jatuh dunk citra bpk, untuk urusan yg lain kan sudah banyak di bentuk komisi2.

    Mereka (pemerintah berkuasa dan stage holdernya) menginginkan seorang presiden itu harusnya spt seorang pemilik tunggal perusahaan besar (holding company) tetapi tidak terjun langsung sbg komisaris atau dir melainkan sepantasnya hanya ongkang2 kaki.

    Jadi posisi si esbeye ini saat ini kemungkinan berada di kapal pesiar sambil mancing, atau berada di rumah termewah dgn fasilitas nyaris komplit di atas tanah termahal di Ina atau di manca, atau sedang bermain aeromodeling, atau bermain golf?
    Harusnya seperti itu (keinginan kaki tangan dan koloni sby terhadap pujaannya yg gagah, guantenk, pandai jawi ja’im (jaga wibawa jaga image) demi pencitraan, pinter ngarang lagu sekaligus pinter nyanyi, dll).

  2. Amar Ma'ruf berkata:

    Waduh..gak salah neh ! ?
    Pres sby yg banyak di keluhkan banyak masyarakat mulai dari ekonomi menengah trus menengah kebawah hingga palung terdalam kemiskinan, di usulkan oleh CIDES sebagai bpk kesejahteraan?
    Kesejahteraan koloni kalee’.

    Bakal mangkin ke ‘pede’ an plus muka tembok dan sesumbar aja tuh sby.

    Hm…memang sih, akhir2 ini rakyat (ekonomi menengah ke bawah) makin kritis pasca hut korupsi sedunia Desember thn lalu.
    Beberapa Lembaga swasta yg berkiblat pada Lembaga asing berame2 memberikan bantuan kepada (bonekanya) sby berupa penyelamatan image sby tujuanya agar sebagian rakyat (ek. menengah kebawah) yg awalnya kritis berubah 180 derjat (rakyat yg mau saja di tipu dan di giring oleh propaganda all in 1 media) menjadi suatu kebanggaan punya pres yg dpt penghargaan nas’l apa lagi kelas int’l.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: