Ironi Gubernur Ustadz…

Siapa tidak menginginkan pemimpinnya orang yang ahli agama, shalih, dan ‘alim? Tentu, setiap Muslim yang lurus hatinya, menginginkan dipimpin orang shalih. Apalagi jika pemimpin itu seorang ustadz, mahir bahasa Arab, lulusan LIPIA, bergelar Lc, dan seterusnya. Tentu, rasanya lebih kanya-ah (menyenangkan).

Beberapa tahun lalu, sebelum pemilihan gubernur di provinsi kami, seorang teman dengan bersemangat mempromokan sosok seorang calon gubernur. “Insya Allah, ini seorang ulama. Rakyat provinsi ini akan memiliki gubernur ulama,” begitu kurang-lebih kata teman saya bersemangat. Saya hanya tertegun mengingati kata-kata itu. Di kemudian hari, teman ini ternyata menjadi motor tim suksesi gubernur tersebut.

Sebuah fakta unik. Ketika calon gubernur itu sedang bertarung di Pilkada, teman tersebut dan tim suksesnya berjuang keras. Padahal setahu saya, dia bukan orang PKS, partai asal calon gubernur itu. Lama-kelamaan usaha ini membuahkan hasil, sang calon gubernur dinyatakan menang melalui quick count. Setelah tanda-tanda kemenangan semakin nyata, berbagai kalangan mulai merapat ke calon gubernur itu. Mereka mengklaim, “Kami paling berjasa dalam kemenangan ini.” Karena banyaknya kekuatan yang merapat ke kanan-kiri calon gubernur itu, nasib teman saya tersebut mulai terabaikan. Semakin lama semakin terabaikan, hingga benar-benar dieliminasi.

Lembur Kuring Di Dieu Nya'?

Sebagai orang di luar PKS, posisi teman saya itu sangat lemah. Dia terus digoyang dengan alasan, “Dia bukan orang PKS!” Semakin kuat tekanan, teman saya itu akhirnya tak kuat. Dia menyerah dan mengubur semua mimpi-mimpinya mendapat fasilitas dari gubernur terpilih. Lewat pesan SMS dia kirim pesan ke gubernur terpilih, intinya dia menyatakan mundur dari tim suksesi itu, setelah kemenangan berhasil diraih. Alhamdulillah, sang gubernur terpilih memberi SMS jawaban. Kurang-lebih isi SMS itu sebagai berikut: “Semoga administrasi langit membalas amal perbuatanmu!” Sudah begitu saja. Tanpa seremoni, tanpa tatap-muka, tanpa basa-basi. [Nah, inilah jawaban cerdas dari seorang ustadz yang banyak bersyukur kepada Rabb-nya].

Ketika sang ustadz ini belum lama memimpin, provinsi ini “dihadiahi gempa” di Tasikmalaya, Ciamis, Garut, dan sebagian Cianjur. Pernah saya satu kereta dengan korban bencana gempa itu asal Tasik. Katanya, bantuan bagi korban bencana dari provinsi tidak menujangkau tempat-tempat terpencil. Bantuan hanya terkonsentrasi di wilayah-wilayah kecamatan ramai. Hal itu juga berkali-kali diangkat di media lokal.

Setelah gempa bumi, muncul juga banjir di daerah sekitar aliran Sungai Citarum. Banyak daerah terendam banjir, hingga air itu ada yang sampai menyentuh atap rumah. Bahkan Waduk Jatiluhur mendapat limpahan air sangat besar, sebuah fakta yang jarang terjadi selama puluhan tahun. Jika waduk itu terus naik airnya sampai melebihi 113 m, kehidupan kota-kota di bawah Jatiluhur bisa lenyap ditelan banjir. Kejadiannya bisa seperti Tsunami di Aceh atau “Tsunami kecil” di Situ Gintung Tangerang.

Di bawah kepemimpinan seorang ustadz, saya kira akan ada pengaruhnya yang nyata bagi mashlahat kehidupan Ummat. Tetapi ternyata, ngan keneh kitu wungkul (hanya begitu-begitu saja). Alih-alih keshalihan Ummat akan terbentuk, maksiyat terberantas, liberalisasi terhadang; kenyataannya setali tiga uang. Bandung tetap menjadi kota “penampungan syahwat” orang-orang Jakarta. Setiap malam Minggu, jalanan di Bandung macet oleh mobil-mobil berplat B. Banyak di antara mereka sengaja menjadi “rekreasi cinta” ke Bandung. Adanya seorang gubernur bergelar Lc, tidak membuat para pelaku maksiyat menjadi segan. Di Bandung, everything must go on.

Dan kenyataan yang amat sangat memalukan ialah ketika tersiar video mesum Ariel-Luna-Tari (ALT). Video ALT ini sama seperti video “Itenas” dulu, sama-sama memalukan warga Bandung. Seakan, kota ini identik dengan kemesuman. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik. Rasanya berat sekali menyandang nama Bandung kemana-mana, sementara video ALT itu lagi-lagi dibintangi cecunguk asal Bandung.

Coba kita singgung hal lain sebagai evaluasi. Beberapa pemuda FPI disorot kamera TV ketika membubarkan pertemuan kaum banci di Depok dengan aktivis HAM. Katanya, kegiatan yang diadakan di sebuah hotel itu sudah mendapat ijin aparat dan birokrasi. Mengapa di Depok harus ada pertemuan kaum dilaknat seperti itu? Mengapa aparat mendiamkan, atau terkesan memberi fasilitas?

Sebelum kejadian di Depok itu, ada lagi di Indramayu. Kaum pelacur, WTS (PSK), mereka mengadakan semacam konggres kaum pelacur di kota itu. Allahu Akbar. Ini untuk pertama kalinya di Indonesia, kaum pelacur mengadakan konggres dalam rangka memperjuangkan hak-hak mereka di dunia bisnis permesuman. Dan mengapa aparat setempat memberi ruang bagi kegiatan kaum pendosa itu?

Kemudian ada juga, di Cirebon. Ini menyangkut sebuah aliran sesat Syurga Eden. Pimpinannya Tanthowi, laki-laki sesat dengan energi syahwat melimpah. Di rumahnya di Cirebon, Tanthowi membentuk semacam pusat kegiatan spiritual bagi dirinya dan pengikutnya. Menurut seorang aktivis GARIS, di rumah Tanthowi itu ada kamar khusus yang diperuntukkan bagi orang-orang khusus. Disana, laki-laki dan perempuan tidak memakai pakaian apapun, seperti kaum nudis. Itu yang dilukiskan sebagai “syurga”. Na’udzubillah wa na’udzubillah.

Kemudian pindah ke tempat lain, di Puncak (Cipanas-Bogor), setiap musim liburan tertentu di negara Arab, banyak terjasi transaksi kawin kontrak. Konsumen setianya para pelancong Arab, sedangkan penyedia jasa “dikawini” orang-orang lokal di sekitar daerah itu, atau datang dari kota lain masih di provinsi ini. Pemimpin boleh berganti, tetapi bisnis “kawin-mengawini” jalan terus.

Ini juga sangat parah. Baru-baru terbuka sebuah fakta sosial yang sangat miris. Di kantor DPRD provinsi ini ada 3 unit internet. Disediakan untuk memudahkan keperluan anggota dewan. Ternyata, ketika wartawan melihat jejak history situs-situs apa saja yang dibuka lewat fasilitas tersebut, ternyata 60 % situs porno. Katanya, situs-situs itu kemungkinan dibuka ketika saat-saat sepi tengah malam, ketika kantor DPRD sudah tutup.

Untuk kesekian kalinya, warga provinsi ini seperti disiram air got ke muka. Sangat memalukan. Fasilitas internet DPRD kok dipakai mengakses situs-situs porno? Memalukan, memalukan sekali. Mungkin staf-staf Pak Gubernur itu akan berdalih, “Itu kan internet di kantor DPRD. Bukan di kantor Gubernuran.” Tetapi masalahnya, fasilitas itu disediakan dari anggaran Pemda (provinsi). Lagi pula, letak kantor DPRD dan Gubernuran berdampingan, sama-sama di Gedung Sate. Bahkan waktu akses situs-situs itu rata-rata tengah malam. Artinya, pihak pengelola kantor dan orang-orang di dalamnya yang dicurigai mengakses situs-situs porno tersebut.

Semua ini terjadi di sebuah provinsi religius, di bawah kepemimpinan seorang ustadz bergelar Lc. Allahu Akbar. Moral tidak tambah baik, maksiyat tidak semakin menipis, bisnis mesum tidak semakin sepi. Sementara saat yang sama rakyat gelimpangan, kesusahan ekonomi. KDRT, perceraian, broken home, gelandangan, single parent, pornografi, selingkuh, prostitusi, narkoba, aliran sesat, Kristenisasi, dll. marak dimana-mana.

Harap Anda tahu. Trans7 pernah menayangkan kehidupan masyarakat miskin di sekitar daerah aliran Sungai Citarum. Masyarakat di pinggir sungai itu sering mencari ikan. Ikan apa yang mereka dapat? Ya benar, ikan Sapu-sapu. Anda tahu maksudnya? Ikan Sapu-sapu adalah satu-satunya ikan yang sanggup bertahan di kondisi air yang pekat dengan limbah kimia-logam. Keberadaan ikan Sapu-sapu menjadi indikasi bahwa perairan di lokasi tersebut sangat berbahaya. Di selokan-selokan di Jakarta, banyak ikan Sapu-sapu. Di Jakarta ikan ini tidak dimakan. Sementara di sekitar Sungai Citarum, masyarakat ramai memakan daging ikan itu, setelah sebelumnya kulitnya yang keras dibersihkan dengan golok. Kata orang yang makan ikan itu, “Enak rasanya, seperti ayam.” Allahu Akbar. Padahal kandungan logam di daging ikan itu sangat tinggi. Tapi apa boleh buat, gubernur Pak Ustadz juga tak peduli dengan nasib mereka. Masya Allah, laa haula wa laa quwwata illa billah.

Saya pernah pulang dari sebuah kajian Islam di kawasan sekitar Cicaheum. Saya pulang naik motor lewat depan PUSDAI, lalu lewat depan Gedung Sate. Anda tahu apa yang saya alami? Jalanan di depan Gedung Sate itu tidak rata, permukaannya tergerus. Bukan berlubang-lubang besar, tetapi tidak rata, permukaan kasar, dengan kedalaman sekitar 5 cm. Area jalan yang permukaannya tergerus ini cukup luas sampai persis di depan Gedung Sate. Dari kejauhan tampak rata dan mulus, tapi saat sudah dekat betapa terasa kasar. Jalanan seperti ini sangat berbahaya. Dari jauh tak tampak bahaya, tetapi dari dekat terasa kasar di ban. Bagi pengendara yang tidak hati-hati, mereka bisa jatuh karena tergelincir oleh permukaan yang kasar. Ini ada di depan Gedung Sate. Ibaratnya “di depan hidung” pemimpin.

Kalau hari Ahad, Anda masuk kawasan Gasibu, ya Ilahi ya Rahmaan, padat sekali, ramai pedagang. Ada ribuan pedagang mencari penghasilan disana. Kalau sudah di atas waktu Zhuhur, selain jalanan macet, sampah-sampah berserakan. Lagi-lagi ini “di depan hidung” seorang pemimpin bergelar Lc.

Suatu hari, atas takdir Allah, saya bertemu salah seorang pegawai Depag yang mengaku menjadi anggota tim suksesi gubernur ustadz itu. Pilkada sudah 2 tahun lewat yang lalu, tetapi orang ini masih mengaku sebagai tim suksesi. Hebat betul. Di tempat bertemu itu kebetulan ada mantan anggota DPRD II Indramayu, dari sebuah partai Islam. Pegawai Depag itu semangat meminta nomer mantan anggota DPRD tersebut. Untuk apa no itu? Katanya, “Ya, siapa tahu nanti ada proyek yang bisa dikerjakan di Indramayu.” Pegawai Depag ini kemana-mana selalu mengenalkan dirinya dekat dengan gubernur semacam itu.

Terakhir, untuk melengkapi kritik ini. Di jalan-jalan di Bandung banyak dipampang wajah manis Pak Gub di bawah plang yang bertulis, “Mari Ber-KB!” Ini semacam ajakan dari seorang pemimpin kepada rakyatnya untuk mensukseskan program KB. Tetapi tunggu dulu! Pak Gub sendiri ber-KB tidak? Sebuah keluarga yang anaknya di atas 2, sebenarnya dianggap tidak ber-KB. Kecuali kalau KB diartikan sebagai = Keluarga Besar! (Saya jelas lebih senang dan hormat kepada keluarga-keluarga yang memiliki anak banyak. Tetapi kita harus belajar konsisten. Kalau diri sendiri tidak ber-KB, jangan menyuruh orang lain ber-KB).

Suatu saat, seorang kenalan di Jakarta mengatakan, setelah gubernur ustadz itu terpilih, dia sempat berkunjung ke LIPIA. Disana dia berpidato dalam bahasa Arab. Kenalan saya itu memuji-muji habis kemampuan ustadz tersebut. “Mana ada gubernur yang mahir bahasa Arab?” begitu kira-kira argumentasinya.

Kalau ingat puji-pujian seperti itu, ada rasa sesak di hati. Suatu saat, gelar ustadz itu benar-benar tepat dan membawa berkah. Tetapi di saat lain, ia hanya merupakan label tanpa makna.

Semoga Allah Ta’ala memaafkan saya atas tulisan ini. Karena sejujurnya, hati ini sakit ketika gelar keislaman (seperti ustadz) tidak ditempatkan sebagaimana mestinya. Seorang ustadz, harusnya ‘alim secara ilmu, bijak dalam tarbiyah, mendalami tazkiyah nafsiyah; sehingga efek kepemimpinan di tangannya jelas. Bukan menjadi sumber fitnah, sehingga masyarakat merasa heran, “Ustadz teh geningan kitu-kitu oge.”

Marhaban ya Ramadhan, Syahrul Qur’an, Syahrul Ishlah, Syahrul ‘Izzah!

AMW.

Catatan: Sebagai tambahan, baca artikel berikut Terimakasih Pak Gubernur! Semoga bermanfaat. Amin.

Iklan

22 Responses to Ironi Gubernur Ustadz…

  1. Yogi berkata:

    Assalaamu`alaykum,

    Menyimak dua tulisan terakhir tentang Pak Gubernur kota kelahiran saya dan Pak Presiden yang tidak pernah saya pilih, mengingatkan saya pada satu hal yang selalu luput setiap kali pilkada atau pilpres: “Value”.

    Saya sejak lama memperhatikan pilpres di AS. Diluar isu-isu politik, ekonomi, hankam, dll, selalu ada ise fundamental yang tanpa itu setiap capres pasti kalah; tidak lain adalah American dan Family values. Betapapun munafiknya orang Amerika, kedua isu tersebut menentukan keterpilihan seseorang. Keterheranan saya tentunya, bahkan AS yang sangat liberal pun peduli akan dua hal diatas.

    Indonesia, sebagai negara yang mengaku memiliki lima value, sayangnya tidak mempedulikan hal diatas. Setiap capres atau cakada hanya mengedepankan kemajuan materi. Kesuksesan kepemimpinan hanya dilihat dari ukuran materi: GDP, per capita income, dll.

    Bagaimana mungkin sebuah bangsa berdiri tanpa value-nya sendiri?

    Tentu saja; ketika kemajuan dunia diukur oleh IMF dan World Bank, yang lebih penting adalah ukuran materi. Tidak peduli jika akhirnya pengakses situs porno pun lebih tinggi dari masyarakat liberal seperti AS.

    Salam,

  2. hijau berkata:

    Astaghfirullah..
    kira2 ada kebaikanya ndak ya gubernur ini?

  3. sekarsidan berkata:

    ikut prihatin pak, sebagai orang yang numpang di bandung

  4. rudy berkata:

    apakah tidak ada kebaikan yang dilakukan selama menjadi gubernur jawa barat…!

    apakah blog ini hanya menonjolkan su’uzhon saja?

    apakah ada yang tahu klo setiap hari kamis beliau menginap dimusholah/dirumah warga dipelosok2 daerah terpencil, ut kemudian setelah sholat subuh memberikan pencerahan kemudian olahraga bersama warga, penyuluhan dll kemudian jum’at mengisi khutbah jum’at.

    dalam setiap dinasnya gak pernah tidur menggunakan hotel mewah, mobil mewah pun gak punya.

    rata-rata anaknya hafal qur’an. apa keluarga nt khususnya anak nt ada yang hafal qur’an diusia 13 tahun?

    klo tidak tahu banyak jangan sok tahu…

  5. rudy berkata:

    inget akhi banyak-banyak istigfar nt..?

  6. hijau berkata:

    @ rudy = sipp
    nah maksudku gitu,kalau bs lbh lengkap lagi..
    biar datanya imbang..
    Harus dilihat dr dua sisi,kebaikan dan keburukanya biar pembaca bisa objektif menilainya..

  7. abisyakir berkata:

    @ Rudy atau Aban…

    Tahukah Anda beberapa kenyataan di bawah ini:

    => Saya itu tinggal di Jawa Barat, ber-KTP Jawa Barat. Tidak bolehkah warga Jawa Barat mengeluhkan kepemimpinannya? Anda sendiri di Penjaringan Jakarta. Kami lebih berhak berbicara ketimbang Anda.

    => Gubernur AH itu sudah 2 tahun lebih memimpin. Kami harus menahan diri 2 tahunan, sebelum akhirnya menyampaikan kritik. Kalau dia memimpin, langsung dikritik, jelas itu tidak adil. Tapi ini sudah 2 tahun, sementara Gubernur AH memberi waktu kepada rakyat Jawa Barat dengan periode 3 tahun.

    => Kami selama ini, setidaknya saya, merasakan kehidupan di Jawa Barat tidak lebih baik dari era Dani Setiawan dulu. Masa-masa sekarang kesulitan ekonomi, jalan rusak, kemiskinan, demoralisasi, kapitalisme sangat banyak.

    => Sebenarnya, di balik hati kami selama ini ada harapan kehidupan rakyat Jawa Barat lebih baik, mumpung dipimpin seorang ustadz. Tapi ya sudahlah, ini takdir yang harus dihadapi. Setulusnya, di hati kami ada harapan itu.

    Pernyataan Anda: rata-rata anaknya hafal qur’an. apa keluarga nt khususnya anak nt ada yang hafal qur’an diusia 13 tahun? klo tidak tahu banyak jangan sok tahu…

    Alhamdulillah, kalau anak-anaknya hafal Al Qur’an. Para ashabul qur’an harus dihargai dan dimuliakan.

    Kalau Anda tanya, bagaimana dengan anak-anak saya? Saya jawab secara jujur: Anak saya tidak ada satu pun yang hafal Al Qur’an. Ini jujur saya akui apa adanya. Bahkan saya kerap malu kalau ditanya soal ini. Alhamdulillah, masih memiliki rasa malu.

    Tapi ingat, wahai @ Aban atau @ Rudy: Kami tidak pernah memberi makan anak-anak kami dari rizki sebagai anggota DPRD Jakarta, atau dari gaji Gubernur, dan sejenis itu. Kami memberi makan anak-anak kami dari jalan yang baik dan bersih, insya Allah. Setidaknya kami tidak memberi makan anak kami, dengan cara membohongi rakyat, mendustai Ummat, atau menjual agama dengan harga murah.

    Karena tidak mampu secara ekonomi, kami sekolahkan anak-anak di SD negeri. Ya tahu sendiri lah kualitas SD negeri. Kami tak mampu sekolahkan anak di pesantren terpadu atau SD IT dengan taraf biaya sangat tinggi. Ya, orang swasta tidak bisa selapang anggota DPRD Jakarta.

    Tapi pesan Anda saya anggap sebagai nasehat, soal menghafal Al Qur’an. Insya Allah, bila Allah mudahkan rizki kami, cita-cita menghafal Al Qur’an itu akan kami realisasikan. Allahumma amin.

    AMW.

  8. abisyakir berkata:

    @ Rudy atau Aban….

    Terimakasih atas nasehatnya untuk istighfar. Semoga Anda mendapat pahala karena menasehati kebaikan.

    Tetapi saya juga nasehatkan Anda untuk istighfar kepada Allah. Anda telah beberapa kali menghina saya, setidaknya menghina blog ini. Dalam riwayat disebutkan, “Sababul muslim fusuqun wa qitalahum kufr” (menghina seorang Muslim adalah kefasikan, dan memerangi mereka adalah kufr).

    Anda telah menghina blog ini sebagai tempat sampah dan sebagai blog sampah. Padahal blog ini memiliki missi mulia: memberdayakan wawasan kaum Muslimin, membantah kemungkaran, membela Ummat dari kezhaliman, mengangkat Izzah Islam, dan tujuan-tujuan mulia lainnya. Ini sesuai dengan sifat Khairu Ummah: ta’muruna bil ma’rufi wa tanhauna ‘anil munkari wa tu’minuna billah (memerintahkan kepada ma’ruf, mencegah kemungkaran, dan beriman kepada Allah).

    Selain saya akan istighfar, mohon Antum juga istighfar. Antum telah melakukan kesalahan serius. Selama ini kami mengingatkan Ummat di PKS agar mereka tidak ikut terbawa-bawa oleh kesesatan para qiyadahnya yang telah terjerumus dhalalatus siyasi (kesesatan politik). Ini tujuan yang baik, mencegah kaum Muslimin ikut terjerumus dalam kesesatan agama, karena kesesatan politik.

    AMW.

  9. abisyakir berkata:

    @ Hijau…

    Tentu Pak AH, Gubernur Jabar, memiliki kebaikan-kebaikan. Itu jelas. Masak sih tak punya kebaikan? Kalau tak punya kebaikan, bagaimana dia bisa jadi pemimpin dan memimpin sampai saat ini? Jelas, semua pemimpin ada kebaikannya.

    Sekalipun Hitler, George Bush, atau Fir’aun, tetap saja memiliki kebaikan. Hanya kebaikannya tidak sebanding dengan kezhalimannya.

    Saat ditulis tulisan “Ironi Gubernur Ustadz” itu, bukan untuk mengingkari kebaikan beliau. Bukan sama sekali. Tetapi sangat menyayangkan, mengapa seorang gubernur ustadz tidak lebih baik dari gubernur orang biasa (bukan ustadz). Seharusnya, status keustadzan itu ada barakahnya.

    Mohon dipahami kemana konteksnya!

    AMW.

  10. dudiyudia berkata:

    ustadz, jadi rudy atau aban ini, sesuai penelusuran ustadz…anggota DPRD Jakarta? seorang anggota DPRD yang menggunakan bahasa-bahasa kasar, dari partai yang berlabel Islam ya…alhamdulillah, makin tahulah rakyat. Dalam komentar saya di artikel kebohongan fahri hamzah, saya sempat menuliskan dugaan saya bahwa saudara aban atau rudy ini adalah seorang pejabat pemerintah, karena bahasanya yang begitu arogan, menggunakan kata “NT”, dan menolak kebenaran yang dilihat rakyat….Sudah sebegitu parah politik kita ini, sudah sebegitu parah kesalahan rakyat memilih pemimpin. Apalagi dengan keberadaan orang seperti aban alias rudy ini di DPRD, yang dalam jiwanya tak ada keinginan untuk melayani rakyat, tak berniat introspeksi pula. Saya beristighfar untuk bangsa ini.

  11. abu zenan berkata:

    subhanallah mas rudy semangat sekali….sepertinya cocok jika semangatnya itu disalurkan dlm energi nahi mungkar sperti saudara2 kita di FPI…atau bahkan brjihad di palestina membela al aqso…tentu keberanian mas rudy tidak perlu kita pertanyakan lagi…salam semangat mas rudy.. 😉

    saya sangat setuju dg apa yg disampaikan abi syakir dlm tulisannya kali ini…menurut saya kritikan yg disampaikan dlm tulisan ini adalah dalam rangka membangun kesadaran para pembacanya akan realita yg harus kita pahami…bahwa, ternyata untuk memperbaiki ummat itu tidak butuh gelar, label atau status2 yg lain…apalagi seorang pemimpin yg dibutuhkan darinya adalah kemampuan dg background keberanian tentunya untuk melakukan perbaikan2 yg ada…jika konteks perbaikan tsb adalah memberantas ketidak beresan yg ada tentu hal itu menjadi amal nahi mungkar, yg kita semua tahu bhw konsekuensi dr nahi mungkar adalah sebuah keberanian yang luar biasa…jika itu tdk dipunyai oleh seorang pemimpin maka lebih baik jgnlah menjadi pemimpin…krn itulah bedanya mjd pemimpin dan rakyat yg dipimpin…selain faktor2 kemampuan lain (managerial) keberanian menurut saya merupakan faktor yg paling penting untuk menjadi pemimpin…terlebih jika kita hubungkan dlm konteks jawa barat, pemimpinnya adalah berasal dr sebuah ormas kemudian mjd parpol islam yg sempat mengklaim sbg partai dakwah dg kader mayoritas orang2 terpelajar bahkan ahli dlm hal agama Islam maka tentunya seharusnya amar ma’ruf nahi mungkar adalah mnjd agenda utamnya…
    jika kemudian dalih yg diutarakan ttg kegiatan2 ustad itu semisal :
    “setiap hari kamis beliau menginap dimusholah/dirumah warga dipelosok2 daerah terpencil, ut kemudian setelah sholat subuh memberikan pencerahan kemudian olahraga bersama warga, penyuluhan dll kemudian jum’at mengisi khutbah jum’at.

    dalam setiap dinasnya gak pernah tidur menggunakan hotel mewah, mobil mewah pun gak punya.

    rata-rata anaknya hafal qur’an. apa keluarga nt khususnya anak nt ada yang hafal qur’an diusia 13 tahun?”

    maka menurut saya hal itu diluar konteks yg sdg dibahas.

    apa yg dilakukan ustad tsb diatas memang bagus, bahkan sepertinya belum ada gubernur sebelumnya yg melakukan hal itu…

    namun jika fair, untuk melakukan hal itu tidak perlu menjadi guberbur sepertinya…semua orang toh bisa…

    atau lebih mudahnya memahami menurut saya, apa2 yg dilakukan gubernur ustadz tsb adalah hal2 kecil jika dibandingkan dg permasalahan2 kompleks yg dihadapi warga jawa barat yg sangat banyak dan besar…
    apa gunanya seorang ustadz menjadi gubernur jika ia tidak mampu melakukan amar makruf nahi mungkar secara signifikan…
    mengapa permasalahan2 yg diangkat abisyakir tsb tidak mampu diselesaikan, atau minimal ada progres yg jelas ke arah sana…

    tentu bukan rahasia lagi hal ini kemudian dg mudah dibantah para pendukung2nya seperti mas rudy bahwa permasalahan yg ada adalah memerlukan kerjasama berbagai pihak….memang kita semua memahami hal itu…namun sepertinya untuk melakukan hal itu tidak sesulit apa yg dikatakan..krn gubernur telah mempunyai kemampuan kekuasaan yg niscaya mampu melakukan lebih dr apa2 yg terjadi saat ini…

    kecuali memang ia tidak mempunyai kemampuan dan keberanian….
    jika begitu, sudahlah jgn jadi gubernur, jadi ustadz saja, sepertinya jauh lebih bermanfaat… 😉

    wallahu alam….

  12. manusia_biasa berkata:

    Maaf Pak…. walaupun saya bukan anak daerah, tapi rasa peduli saya muncul setelah saya menelusuri kejadian yang menimpa saya hingga saya sadar ini semua sudah diluar kemampuan saya. Semoga ini tidak keluar dari konteks tulisan di blog ini.
    Sebelumnya saya minta maaf apabila ada yang kurang sesuai, karena keterbatasan saya sebagai manusia biasa. Saya memberanikan diri untuk menulis ini, karena saya peduli dengan kondisi moral saat ini.
    Saya seorang pemuda yang insyaALLAH diberi kesadaran oleh ALLAH SWT dr perbuatan2 maksiat saya selama hidup di jawa barat melalui pertemuan saya dengan seorang wanita berasal dari Cianjur.
    Kisah hidup saya selama ini di Jawa Barat penuh dengan kemaksiatan, insyaALLAH saat ini saya sedang proses berbenah diri karena hanya ini yang baru saya mampu.
    Saya tidak ingin menghujjah seseorang, apalagi sesama muslim.
    Dalam pemahaman saya pemimpin pasti bertanggung jawab dengan rakyat yang dipimpinnya di hadapan ALLAH. Dan sebagai rakyat apabila melihat ketidakadilan boleh disampaikan kepada pemimpinnya.
    Mungkin saya baru bisa memberi contoh kondisi nyata yg terjadi dan yang saya alami sendiri. Maaf ini saya menitik beratkan keterkaitan bisnis perzinahan dan kondisi salah satu rumah tangga di cianjur. Saya menulis ini tidak ada rasa bangga sama skali yang ada rasa jengkel&marah yang berubah menjadi rasa peduli.
    Saya berani bilang, di jawa barat khususnya daerah bandung untuk mencari “pemuas syahwat” amat sangat2 mudah sekali, tersebar dibanyak tempat dan kondisinya aman (apabila bapak kurang percaya kita bisa bahas via email dan bapak bisa selidi sendiri, insyaALLAH saya bisa memberi informasi yg cukup). Didaerah lainpun tidak jauh berbeda, akan tetapi lebih dr mulut ke mulut bukan tempat hiburan spt di bandung.
    Dari informasi yang saya dapat melalui wanita2 penghibur, hampir semuanya berasal dari keluarga broken home.
    Masalah broken home, apakah pemimpin negeri ikut bertanggung jawab??atau dikembalikan ke rumah tangga masing2?? Unit terkecil dari masyarakat adalah keluarga. Mungkin generasi2 abg yg ada sekarang, bermula dari kondisi keluarga yang kurang baik dan dibombardir tayangan2&informasi yg tidak semestinya.

    Suatu saat saya dipertemukan dengan seorang wanita penghibur, dia berasal dari cianjur. Asal mula kami bertemu di tempat maksiat yg lambat laun berubah mejadi pertemanan cukup dekat. Dia bercerita kisah hidup dia yang sungguh2 miris,dari kondisi awal pernikahan sampai bagaimana dia bisa mau menerima pekerjaan di salah satu tempat maksiat di bandung. Dari cerita dia, bisa saya simpulkan berawal dari problem rumah tangga. Bersyukurlah kita yang masih diberi kenikmatan mendapat kondisi keluarga,pendidikan, ekonomi yang jauh2 lebih baik.
    Saya menelusuri hingga benar2 melihat kondisi rumah tangga wanita tsb. Yang saya temukan MasyaALLAH Pak.., kondisi sebuah keluarga yang dipimpin oleh seorang laki2 salah satu pegawai pemda cianjur, seseorang pejabat pegawai pemerintah yang seharusnya bisa membawa amanah memberikan contoh baik kepada masyarakat sekitar. Penelusuran cukup jauh, hingga sampai dipertumakan dengan seorang penghulu.Saya sempat silaturahmi ke penghulu tsb dan berbicara masalah ini, yang berujung dengan kata2 lirihnya “Bagaimana Mas, yang ngasih contoh pejabatnya sendiri….” coba bayangkan Pak, apa tidak miris itu. Pejabat yang tahu peraturan, malah melanggar dan malah mempermainkan peraturan tsb dan yg pasti tidak satu dua orang pejabat saja.
    Tapi apa daya… ini semua sudah diluar kemampuan saya, yang bisa saya lakukan hanya sekedar menjadi teman yang memberikan wawasan2 kepada wanita tersebut sembari berbenah diri.
    Dari ini semua, yang ingin saya sampaikan.. tolong, bapak2 pejabat yg diberi amanah kekuasaan dan lebih paham pengetahuan agama bisa memberi nasehat kalau perlu tindakan tegas kepada bawahannya yang bertindak diluar jalur. Karena efeknya banyak, dan akan dijadikan pembenaran masyarakat2 sekitarnya.
    Apabila Bapak mempunyai kekuasaan, tolong bantu wanita tersebut supaya mendapat kehidupan rumah tangga yang layak. Nasehatin suaminya, supaya bertindak menjadi seorang pemimpin rumah tangga yang baik dan bisa menjadi contoh masyarakat sekitarnya.
    Bagaimana kita bisa mempunyai generasi yang baik, apabila generasi mendatang dididik dalam kondisi rumah tangga yang kurang baik.
    Satu hal yg disebutkan Pak Rudy tentang Pak AH, ““setiap hari kamis beliau menginap dimusholah/dirumah warga dipelosok2 daerah terpencil, ut kemudian setelah sholat subuh memberikan pencerahan kemudian olahraga bersama warga, penyuluhan dll kemudian jum’at mengisi khutbah jum’at.” sangat2 baguss… turun ke bawah, karena dibawah lebih banyak rakyat yg menderita dan hanya bisa menerima nasib, kalaupun mau berjuang bingung bagaimana caranya karena keterbatasan pendidikan.
    Maaf, semoga tidak salah. Ada sebuah cerita, seorang Khalifah yang juga sahabat nabi,suatu malam menyamar menjadi rakyat jelata. Khalifah tsb melihat salah satu rakyatnya kelaparan, hingga dia memanggul sendiri karung gandum dari baitul mal untuk diberikan kepada rakyat tsb. Inti dari cerita tsb menurut pandangan saya, pemimpin terjun langsung membantu mengatasi problem rakyat, tidak hanya sekedar memberi himbauan&penyuluhan saja. CMIIW
    Saya hanya seseorang yang berusaha membantu satu orang, tapi dengan keterbatasan saya saat ini, masalah ini benar2 diluar kemampuan saya. Apabila Bapak Rudy, atau yang lainnya peduli dengan nasib salah satu rumah tangga di pinggiran cianjur. Supaya bisa menjadi rumah tangga yang baik, menghasilkan generasi yang baik.
    Bisa jadi ini salah satu yang saya ketahui dari sekian banyak kondisi rumah tangga di jawa barat cianjur khususnya.
    Wallau alam… Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.
    Maaf, mungkin ini terlihat masalah kecil dilihat dari luasnya daerah jawa barat dan banyaknya penduduk, hanya problem satu rumah tangga salah seorang wanita pinggiran kota cianjur yang memperjuangkan dirinya sendiri menjadi layaknya istri seperti keluarga pada umumnya. Sampai sekarang saya masih berkomunikasi dengan wanita, dan alhamdulillah dia sudah sadar dan bertaubat akan kesalahan2 dari pekerjaan dia kemarin. Dan Alhamdulillah lagi, dia sampai detik ini berusaha sabar mau kembali ke suaminya, walaupun masih diperlakukan kurang layak oleh suaminya.
    Kalau ada yg ingin membantu, insyaALLAH saya bisa memberikan detail informasinya yg saya punya. Kalau ada bapak yang mempunyai jabatan di pemerintah, saya bisa bantu nama laki2 tsb yang mungkin bisa diselediki kebenaran cerita ini dan syukur2 ada yang mau memeberikan nasehat2 yang baik.

  13. manusia_biasa berkata:

    terima kasih banyak…
    Semoga ALLAH menurunkan rahmat dan hidayahnya kepada kita semua…

  14. abisyakir berkata:

    @ Manusia_Biasa…

    Hatur nuhun Kang. Alhamdulillah wa jazakallah khair. Di blog ini sering ditampakkan hal-hal menakjubkan seperti ini. Alhamdulillah. Ada saja cara Allah memberitahu hamba-Nya lewat penuturan sebenarnya. Ketika ada gubernur ustadz, dia lemah dari sisi pembangunan moral, lalu diberi kritik, ternyata pembelanya balik membeladiri dengan membabi-buta. Padahal hak saya sebagai warga Jabar untuk menyampaikan keluhan dan harapan terhadap gubernur itu. Ternyata, ini ada pelaku langsung di lapangan yang menceritakan betapa bobroknya moral di lapangan.

    Hatur nuhun kang @ Manusia_Biasa. Jazakumullah khair. Moga-moga ada pembaca yang bisa membantu secara kongkrit. Setidaknya, kita mendoakan semoga Allah memberi jalan keluar terbaik bagi beliau dan keluarganya, juga bagi Akang. Allahumma amin.

    AMW.

  15. Moso berkata:

    Abisyakir tdk paham qiyadah itu tupoksinya apa karena gubernurnya yang lc aja nggak paham apalagi abisyakir. Coba nt smua telaah surah Nuh ayat prtama sampe trakhir. Pasti smua yg brdebat ini kena pasal

  16. abu zenan berkata:

    @MOSO :
    maksud mas MOSO apa ya??? mungkin jika mas MOS lebih banyak ilumunya bisa di sharing disini, arti kandungan surat Nuh tsb dlm kaitannya dg permasalahan yg diangkat dlm tulisan diatas. Karena setelah sy baca2 kok sepertinya kandungan surat Nuh tersebut beda konteks dg tulisan diatas. Mungkin Mas MOSO bisa berbagi ilmu…bukanlah pahalanya luar biasa, apalagi di bulan Ramadhan… 🙂

  17. Moso berkata:

    Abu Zenan hati hati ya… konteks atau mawthin pada kalam manusia itu terbatas dan tidak konsisten. Sedang Kalamullah sangat mulia sehingga jin dan manusia tiada mampu seayat pun membuatnya. Jadi, sebenarnya wacana debat ini sudah disinyalir dalam surah Nuh. HukHAMPoleksosbudhankamrataSARdensusTVlcdst.dsb. smua harus dijiwai tauwhid. Infrastruktur pun hrs berdasar tawhid. Moral hrs brdasar tawhid.

    Janganlah menganggap konteks alQuran harus menyesuaikan wacana kita. Janganlah alQuran harus ngikuti demokrasi. Apapun yang terjadi, konteks pikir dan laku manusia sekarang yang harus relevan dengan kitabulloh. Mari baca dan pelajari tafsir alQuran, interaksilah dengannya agar tidak terjerumus seperti lc yang naif.

    Kalau belajar teknik Indonesia hebat tapi kalau lc bisa dikuatirkan salah persepsi dengan lc fiktif. Ikutilah yang bergelar SAW. bukan prof. Dr. MA. Lc. Fiktif akhiratnya kalu ngawur. Bacalah semua tafsir tentang surah Nuh. Setelah itu surah Muhammad. Dua Rasul dari ulul azmi ini membawa pelajaran untuk para Lc apalagi dari indonesia bahkan apalagi lulusan swasta indonesia yang memprihatinkan akibat pemimpin salah menahkodai dan rakyat ngawur melubangi kapal sendiri. Semoga lc diganti.

    Muslim gak butuh licentiatus, butuhnya lisensi syariat untuk sejahtera dunia akhirat. Yang nulis blog hrs interaksi dengan alQuran. (Dari editor: Ya, insya Allah saya akan terus interaksi dengan Al Qur’an, dan As Sunnah. Doakan semoga istiqamah mengikuti keduanya, bukan Al Qur’an saja). Anda kan bukan nabi dan rasul, jangan cari jalan mojokin. Ikuti aja sabilillah sebaik baik jalan. Yang kontra juga gitu, jangan cari jalan membela tanpa adil karena yang dibela juga salah dan bukan pula nabi dan rasul. Yang cerita ketemu pelacur dan yang cerita si Lc nyusuri subuh juga blum temtu tsiqoh. Bisa kena ghurur lho. Saya juga ia. Ramadhan kita yang terakhir kah ini?

    Moga ABB diselamatkan Robb terlepas dari makar cs Lc yang nangkap di wilayahnya

  18. heran berkata:

    @manusia_biasa: alhamdulillah klo dah meninggalkan dunia gelap. mudah2an menjadi manusia luar biasa tp tdk dengan menyalahkan Gubernur Jabar.

    Coba nt atau abi_sakit atau siapapun yang sok tahu tentang kehidupan Gubernur dan PERDA yang dibuat. ada berapa banyak PERDA yang dikeluarkan sebagai kebijakannya. berapa yang banyak Mudharatnya dan sedikit Mudharatnya dari setiap kebijakan yang dikeluarkan Gubernur JABAR? (coba Jawab)

    Bisnis Pelacuran gak ada itu atas Instruksi Gubernur, orang yang bisnis sprt itu bukan hanya menghianati Ahmad Heryawan sebagai Gubernur tetapi juga telah menghianati Kitabullah dan Sunnatullah. Jangan berfikiran Sempit dan MenJeneralisir.

    Nt tahu informasi itu, knapa gak mengadukan kepada pihak yang berwajib/ klo ga ditanggapi langsung aja menemui Gubernur/orang kepercayaan beliau.

    Hati-hati GHibah tuh…
    Klo mengerti Alhamdulillah klo gak juga Alhamdulillah semakin kliatan org yang berIlmu dengan orang yang sok punya Ilmu.

  19. aan berkata:

    Assalamu’alaikum.Wr. Wb.
    Merinding membaca tulisan ini. Bagaimana tanggung jawab menjadi seorang pemimpin dihadapan Alloh SWT kelak ya?//. Banyaknya maksiat ditengah masyarakat, memang tidak ada obat yang manjur untuk menyembuhkannya. Karna memang, sistem pemerintahan yang ada sekarang tidak memberikan solusi yang cepat dan tepat bagi permasalahan yang ada. Coba kalau ada pelacur bisa dihukum rajam, pemimpin yang koruptor bisa dihukum mati, yang nyolong bisa dipotong tangan, …. Mungkin akan lebih efektif bagi pengendalian moral masyarakat. Kejelekan dari hasil kerja gubernur bisa dengan mudah dilihat, tapi kebaikan dari kerja dia apakah ada yang mempublikasikan? Jangankan sekelas gubernur, kasus mentri2 yang sudah dengan jelas kesalahannya, bisa dibiarkan begitu saja. Serangan media massa, elektronik datang bertubi2 menyerang masyarakat, menyesatkan, hancurlah moral sebagian besar masyarakat muslim. Tambah susahlah mengaturnya. Secara pribadi saya menyayangkan kinerja gubernur yang tidak bisa memberikan maslahat yang banyak bagi ummat, tapi untuk masalah usaha beliau, saya sangat menghargai, moga bisa introspeksi. Bagi saudara yang berharap mendapatkan perubahan drastis dari kinerja seorang pemimpin, berdoalah agar syariat islam segera tegak,… Muslim diatur dengan sistem selain syariat, emang ga akan pernah beres deh, plis deh ah,… Mudah2an pak Gubernur bisa memperbaiki kinerjanya, yang komentar juga bisa introspeksi diri, agar bisa memberikan manfaat yang lebih banyak bagi masyarakat.Solusinya semua muslim harus kembali kepada al-Quran dan sunnah,.. Pembangunan negeri ini tugas semua orang. Klo perbaikan yang dibangun dari masing2 keluarga sudah optimal, dengan sendirinya masyarakat akan menjadi lebih soleh. Pemimpin juga harus bisa meminimalisasi kebijakan yang menyebabkan masyarakat banyak yang dirugkan dan disesatkan,… Susah kali ya,.. Semua by Proses. Nya sementawis mah simkuring bade ngangon domba hela yeuh.Hidup domba Garut,hehe,… semoga ada ibroh yang bisa diambil dari tulisan saya ini. Semangat semuanya,….

  20. manusia_biasa berkata:

    amienn… terima kasih doa dan masukannya…
    semoga ALLAH juga menjadikan kita semua manusia yg luar biasa, istiqomah di jalanNya…

  21. Somebody berkata:

    setahu saya wallahu a’lam Pak AH itu mendapat pengahargaan banyak sekali atas dedikasinya dlm berbagai hal, bahkan beliau dianugrahi gelar DR. H.C. dari Korea Selatan.sudahlah jangan mengkambing-hitam ustadz2 yg kebetulan bergelar Lc atau MA. gelar itu hanyalah sebagai penghargaan kpd seseorang yg tlh menempuh pendidikan tertentu dan tdk ada kebanggaan apapun klau tdk bermanfaat bagi umat. jadi tlog jgn menyalahkan Lc nya, salahkanlah oknumnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: