Tifatul dan BlackBerry

Tulisan ini tak ada kaitannya dengan sentimen kepada menteri apapun yang berasal dari PKS. Bukan kesana arahnya. Tetapi lebih ke soal kejujuran seorang pejabat negara yang membawahi urusan puluhan juta konsumen telekomunikasi di Indonesia.

Baru-baru ini Tifatul Sembiring memberikan pernyataan di depan wartawan TV tentang isu pelarangan mobile phone, BlackBerry, di Indonesia. Dua negara Arab, UEA dan Arab Saudi, secara resmi telah melarang penggunaan BlackBerry (BB) di wilayah hukum mereka. Alasannya, fasilitas BB dicurigai dipakai oleh para “teroris” untuk memuluskan agenda mereka.

Takut Dipakai Para "Teroris" (sumber foto: inilah.com)

Secara singkat perlu dijelaskan, layanan BB ini berasal dari Kanada. Berbeda dengan operator-operator seluler lain, layanan BB oleh Research In Motion (RIM) adalah kenyataan yang sungguh menarik. Operator ini bukan saja menyediakan nomer (SIM Card) bagi pengguna HP, tetapi sekaligus memberikan pesawat teleponnya, bahkan jaringan komunikasi sendiri. Banyak tempat terpencil tidak terjangkau layanan operator reguler seperti Telkomsel, Indosat, dll. tetapi ia mampu dijangkau oleh BB. Artinya, RIM menyediakan fasilitas all in dalam jasa telekomunikasi.

Dari kecanggihan fitur dan kehandalan alat, BB itu seperti pocket computer, yang bisa dibawa kemana-mana. Seseoang bisa leluasa online dimanapun, tanpa harus nenteng-nenteng laptop. Kehandalan layanan BB dalam online tak perlu diragukan lagi. Menurut teman yang memakai BB, dia sangat puas dengan fitur-fitur dan kehandalan pesawat itu.

BB dilarang di UEA atau Arab Saudi karena fasilitas ini memiliki jaringan komunikasi mandiri yang sulit dikontrol oleh pemerintahan suatu negara. BB mengoperasikan satelit komunikasi mandiri, sehingga bisa benar-benar sempurna dalam memberi kebebasan kepada pelanggannya. Dan hal itu pula yang disukai oleh jutaan konsumen BB di dunia. Sementara SIM Card seperti milik Telkomsel, Indosat, Axis, Mobile 88, dll. ya tetap terikat regulasi komunikasi negara. Ibarat kata, BB memberikan “kemerdekaan komunikasi” kepada para penggunanya secara tuntas. Terlepas, para pengguna itu secara teknologi tidak mandiri dari intervensi sistem BB sendiri.

Dalam isu pelarangan BB ini, Tifatul Sembiring memberi pernyataan jelas. Katanya, Pemerintah RI tidak akan melarang penggunaan BB. Hanya Pemerintah meminta supaya RIM (operator BB) membuat data center di Indonesia. Tujuannya, bila sewaktu-waktu Pemerintah mau nangkepi “teroris” yang memakai BB, mereka tinggal masuk ke data center tersebut. Ya begitulah, logika mudahnya.

Pernyataan Tifatul ini disampaikan jelas di depan TV. Saya pribadi menyimak pernyataan dia di depan wartawan. Pemerintah tidak melarang penggunaan BB, hanya meminta ada kerjasama dengan operator BB [khususnya nanti, untuk tujuan nangkepi “para teroris” yang memakai BB itu].

Lalu mengapa kita harus mengangkat isu seperti ini? Apa urgensinya? Apa pentingnya? Apakah tidak hanya akan memecah-belah Ummat? Bukankah Islam itu rahmatan lil ‘alamiin? [Silakan diteruskan sendiri dengan kalimat-kalimat sejenis yang sudah super standar].

Ya, disini jelas alasannya. Beberapa waktu lalu Tifatul merasa dikerjai, merasa difitnah, merasa dizhalimi, terkait hasil kesepakatan antara Telkomsel dengan Amdocs. Katanya, kita tidak boleh memprotes dia soal masuknya Amdocs ke Telkomsel. Katanya, urusan Amdocs bukan domain Kemenkoinfo, tetapi domain Meneg BUMN.

Nah, mengapa kemudian Tifatul bersuara dalam masalah BlackBerry? Bukankah urusan BB dan Telkomsel sama-sama masalah Telekomunikasi? Mengapa Tifatul “lancang” berbicara soal BB, dan tidak mempersilakan Meneg BUMN, atau Menteri Perindustrian, atau Menteri Perdagangan bicara soal BB? Dimana alasan sejenis “domain Meneg BUMN” itu kini?

Jelas-jelas Tifatul bicara soal BB, karena hal ini menyangkut hajat komunikasi jutaan pengguna BB di Indonesia. Katanya, saat ini ada sekitar 1,5 juta pengguna BB di Indonesia (inilah.com). Tifatul tentu punya kepentingan terhadap nasib 1,5 juta pengguna BB itu.

Lalu bagaimana dengan nasib sekitar 82 juta konsumen pengguna Telkomsel -menurut info eramuslim.com- yang terancam privasinya, dengan masuknya Amdocs ke sistem jaringan Telkomsel? Lebih banyak mana 1,5 juta pengguna BB dengan 82 pengguna Telkomsel?

Mengapa untuk pengguna BB yang jumlahnya 1,5 juta, seorang menteri mau bicara jelas di depan media, sementara untuk 82 juta pengguna Telkomsel menteri tersebut seperti “sakit gigi”? Ada apa ini?

Kita tidak peduli masalah PKS atau nama Tifatul Sembiring. Tetapi kita sangat peduli dengan nasib puluhan juta pengguna Telkomsel. Saya dan keluarga masih memakai fasilitas ini. Jika benar-benar Telkomsel akhirnya mengoperasikan software Amdocs tersebut, ya apa boleh buat, kami pasti akan melepas fasilitas Telkomsel itu. Kalau perlu ikut promo, agar orang lain ikut meninggalkannya juga.

Di mata Tifatul, kasus BB dan Amdocs di Telkomsel seperti memiliki rasa beda. Kasus BB relatif aman bagi kepentingan politik Tifatul, tetapi kasus Amdocs termasuk “lampu merah” baginya. Kalau Tifatul bersuara keras, besar kemungkinan jabatan dia di kementrian akan ditarik oleh Si SBY.

Ya, Tifatul cukup cerdas untuk menimbang harga komitmen membela hak-hak komunikasi puluhan juta rakyat, dan aneka fasilitas yang dia peroleh dari kursi menteri.  Dalam situasi seperti ini seolah sayup-sayup terdengar lantunan syair,  “Andaikan kau letakkan urusan Amdocs di tangan kananku, dan kau letakkan fasilitas gaji menteri di tangan kiriku. Aku pasti akan mengangkat tangan kiriku, dan menurunkan tangan kananku.”

Iklan

One Response to Tifatul dan BlackBerry

  1. abu zenan berkata:

    ustadz…mohon bikin tulisan ttg penangkapan ust. abu bakar baasyir dong…menangis hati ini…ustd yg setawadhu dan lurus aqidahnya dihinakan seperti itu…selain izzah ust. abu yg telah dihinakan, sebenarnya izzah kaum muslimin indonesia dan bahkan seluruh manusia beriman benar2 sedang dihinakan…
    sementara sangat sedikit orang2 yg membelanya…yg lebih banyak cari aman atau berdalih menyerahkan pada proses hukum demi melindungi kepentingan kelompok ataupun perut sendiri…
    jazakallah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: