Apakah Allah Itu Batu?

Seorang pembaca, Saudara Ahmad, baru-baru ini memberi link tentang tulisan provokatif dari situs “kebebasan faith” yang sudah dikenal luas di kalangan netters Muslim. Saudara Ahmad merasa berduka hatinya membaca tantangan orang kafir yang sangat arogan dan membuat fitnah di muka bumi itu. Orang kafir tersebut menantang Ummat Islam, agar membuktikan bahwa Allah itu bukan Hajar Aswad, bahwa Allah itu bukan batu.

Situs ini sudah lama dikenal. Bertahun-tahun silam, saya pernah ikut sedikit perdebatan dengan orang-orang kafir ini di forum MyQuran. Tetapi karena gaya debatnya sangat zhalim, ya tidak mau dituruti. Biarkan saja dia terus bergelimang kezhaliman, sampai Allah menurunkan bencana baginya, bagi usahanya, bagi keluarganya, bagi orang-orang mereka cintai. Demi Allah, mereka tidak aman berjalan di muka bumi, berlayar di atas air, tidak aman terbang di udara, bahkan tidak aman dalam tidurnya. Hidupnya dikepung ketakutan hebat, karena memusuhi Allah dan Rasul-Nya.

Gambar Hajar Aswad. Sumber Eksistensi Spiritual Agama Kafir: Kedengkian!!! Kacian deh...

Dalam Surat Al Hujurat (kalau tidak salah) diberikan kaidah besar dalam debat dengan orang-orang kafir. Wa jaadilhum billati hiya ahsan, illal ladzina zhalamu minhum (berdebatkan dengan mereka dengan cara yang baik, kecuali terhadap orang-orang zhalim di antara mereka). Para pengelola situs “kebebasan faith” itu termasuk yang zhalim. Hukumnya sederhana: (1) Jangan layani debat mereka; (2) Doakan mereka agar dibinasakan oleh Allah Ta’ala; (3) Larang orang-orang Muslim yang awam dan lemah iman membaca tulisan-tulisan fitnah mereka.

Oh ya, kembali ke “TANTANGAN” orang kafir ini, agar kita membuktikan bahwa Allah itu bukan Hajar Aswad, bahwa Allah itu bukan batu, bahwa Muslim selama ini bukan menyembah batu.

Jawabnya begini saja:

[1] Dalam setiap Surat Al Qur’an, kecuali di depan Surat At Taubah (atau Al Bara’ah) selalu didahului kalimat “Bismillahirrahmaanirrahiim“. Artinya, dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kita tidak pernah disuruh membaca kalimat “Dengan nama hajar aswad yang maha pengasih dan maha penyayang.” Tidak ada kalimat seperti itu, baik dalam Al Qur’an maupun As Sunnah. Yang ada hanya, bismillahirrahmaanirrahiim.

[2] Setiap seseorang mau masuk Islam, wajib membaca Syahadat, “Asyhadu an laa ilaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah” (Aku bersaksi tiada Ilah yang haq disembah, selain Allah. Dan aku bersaksi, bahwa Muhammad adalah Rasul Allah). Kita tidak pernah sekali pun diperintah membaca kalimat seperti ini: “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah, selain hajar aswad.” Tidak ada sama sekali ajaran seperti itu. Tidak ada sama sekali, alias nihil sempurna.

[3] Dalam berbagai ayat Al Qur’an, Allah itu disifati sebagai: Rabbul ‘alamiin (Rabb alam semesta); Maaliki Yaumid Diin (Rajanya Hari Pembalasan); Rabbus samawati wal ‘ardh (Rabb Pencipta langit dan bumi); Rabbun naas (Rabb-nya manusia); Ilahin naas (Ilah-nya manusia); Khaliqul jinnati wan naas (Pencipta jin dan manusia), dan lain-lain. Tidak ada satu pun ayat atau Sunnah yang mengatakan, bahwa: “Allah itu hajar aswad.” Tidak ada sama sekali. Itu nol besar, nol se-nol nol-nya. Lalu dari mana orang kafir menyebut Allah itu sama dengan hajar aswad? Ya, tidak lain selain dari kebodohan mereka sendiri, kedunguan akalnya, serta kedengkian hatinya yang sangat amat keji. Wong ilmunya tidak ada seperti itu, mereka buat “ilmu” sendiri sesuai sabda syaitan yang mereka ikuti.

[4] Lalu bagaimana dengan Hajar Aswad (batu hitam)? Bagaimana posisinya dalam Islam? Disini saya sebut beberapa hadits/riwayat yang menjelaskan, bahwa Hajar Aswad itu makhluk berupa batu hitam, dan tidak mengandung kekuatan mistik seperti yang disangka orang-orang kafir itu.

Shahabat Umar bin Khattab Ra., dalam suatu kegiatan thawaf di Ka’bah, beliau pernah mencium Hajar Aswad, sambil berkata: “Wahai batu, engkau hanya batu biasa. Tidak bisa memberi manfaat atau kerugian. Kalau bukan karena aku telah melihat Rasulullah menciummu, aku tak akan mau mencium-mu.” Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, insya Allah. Dalam pembahasan mencium Hajar Aswad, hadits ini sering dikemukakan.

[5] Dulu ketika Rasulullah Saw belum menjadi Nabi. Waktu itu terjadi banjir di Makkah. Akibat banjir, bangunan Ka’bah rusak parah. Karena Makkah dan Ka’bah sudah lama menjadi pusat ritual masyarakat Arab, mereka bertekad untuk memperbaiki lagi Ka’bah tersebut. Hebatnya, untuk perbaikan Ka’bah ini, orang Arab jahiliyyah hanya mau memakai uang bersih, bukan uang dari hasil perbuatan dosa. Luar biasa! Padahal mereka masih jahiliyyah, Nabi pun belum diutus sebagai Rasul. Nah, di akhir-akhir pembangunan Ka’bah itu, masih tersisa satu celah yang belum ditutup. Masyarakat Makkah waktu itu sudah kesulitan untuk mencari tambahan batu. Tiba-tiba ada sebuah batu tambahan yang datang tidak diketahui asalnya. Itulah batu Hajar Aswad yang orang-orang Makkah merasa paling berhak memasukkan batu itu ke celah bangunan Ka’bah tersebut. Nanti, akhirnya Muhammad muda yang memasukkan batu itu ke lubang Ka’bah dengan tangannya sendiri. Hikmah yang bisa dipetik disini: Kemunculan Hajar Aswad sejak peristiwa renovasi Ka’bah tersebut. Kalau ia dianggap sebagai Allah, lalu kemana dong Allah Ta’ala sebelum renovasi itu? Apakah Allah baru muncul sejak renovasi Ka’bah tersebut? Ini sangat menggelikan. Bagaimana manusia bisa merenovasi Ka’bah, sementara Allah tidak ada ketika itu?

[6] Sudah menjadi Sunnah Nabi Saw, kalau beliau Thawaf di Ka’bah, beliau selalu menyempatkan diri mencium Hajar Aswad. Bisa dilakukan di awal Thawaf (putaran 1), bisa juga di akhir putaran (putaran ke-7). Namun di akhir hayatnya, Nabi Saw sakit-sakitan. Beliau tidak mampu thawaf secara normal, melainkan berada di atas punggung onta. Saat itu beliau tidak mencium Hajar Aswad dengan hidungnya. Tetapi Nabi cukup memegang Hajar Aswad dengan ujung tongkat beliau, sembari beliau berada di atas kendaraan.  Kita pun boleh melakukan itu. Kalau tak mampu mencium, dan ada peluang memegang dengan ujung tongkat, tak apa dilakukan seperti Nabi. Kalau Hajar Aswad dianggap sebagai Tuhan, masak boleh dipegang dengan ujung tongkat? Jelas itu tidak sopan. Hajar Aswad hanya makhluk biasa, berupa batu warna hitam.

[7] Fakta yang jarang diketahui orang, tetapi sering dibahas oleh ahli sejarah, seputar benda-benda arkheologis Islam. Hajar Aswad itu katanya pernah dicungkil sekelompok orang sesat dari golongan Qaramithah. Hajar Aswad dicungkil dari Ka’bah, dan sempat vakum mengisi Ka’bah, kalau tidak salah sampai 20 tahun. Jadi Ka’bah pernah blank tanpa Hajar Aswad selama batu itu dicungkil oleh kaum sesat Qaramithah, dan mereka sembunyikan. Kalau Hajar Aswad ini Tuhan, bagaimana bisa “Tuhan” menghilang selama puluhan tahun? Pemikiran seperti ini hanya dagelan saja.

[8] Fakta lain lagi yang perlu Anda tahu. Hajar Aswad yang kita kenal selama ini, semula sempat pecah karena dipecah oleh kaum sesat Qaramithah, semoga Allah melaknat mereka. Kemudian pecahan-pecahan batu itu dikumpulkan, lalu disusun kembali, dengan bantuan lem yang amat sangat kuat. Wallahu A’lam saya tak tahu lem apa yang dipakai untuk menyatukan pecahan-pecahan batu Hajar Aswad tersebut. Hajar Aswad yang kita kenal selama ini tidak seasli di masa Nabi dulu. Kalau Hajar Aswad disebut “Tuhan”, masak bisa dipecah dan di-lem ulang?

[9] Begitu pula, Ka’bah yang berbentuk kotak itu juga bukan Tuhan kaum Muslimin. Ka’bah ini adalah al Qiblah, atau arah menghadap kaum Muslimin dalam Shalat. Kita tidak boleh meyakini Ka’bah sebagai Ilah (sesembahan), itu adalah kemusyrikan. Rabb kita adalah Allah, yang disifati: Rabbu hadzihil bait (Rabb Pemilik rumah ini, yaitu pemilik Ka’bah). Ka’bah itu makhluk, sama seperti bangunan-bangunan lain. Namun ia memiliki kemuliaan melebihi bangunan yang lain. Ia disebut sebagai Baitullah al Haram (Rumah Allah yang mulia). Kemuliaan Ka’bah bukan karena bentuk atau substansi materinya, tetapi karena ia dipilih oleh Allah sebagai bagian dari Syi’ar agama-Nya di muka bumi. Hal ini tidak jauh berbeda dengan Masjid Nabawi, yang dimuliakan karena ia masjid yang sangat erat kaitannya dengan jejak perjuangan Nabi Saw dan para Shahabat di Madinah.

Untuk membuktikan bahwa Ka’bah adalah makhluk, bukan Tuhan, ada beberapa argumentasi menarik: Pertama, Ka’bah ini pertama kali dibangun oleh Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As. Tidak mungkin Tuhan dibangun oleh tangan manusia. Iya kan? Apa ada Tuhan yang dibentuk oleh tangan manusia, lalu ia disembah pula oleh manusia? Kedua, Ka’bah itu beberapa kali mengalami kerusakan akibat banjir, sehingga harus direnovasi. Kadang renovasi dilakukan secara sengaja, seperti yang terjadi di masa kepemimpinan Abdullah bin Zubair Ra. Mungkinkah Tuhan bisa direnovasi? Ketiga, Ka’bah itu bisa dimasuki oleh manusia. Kalau seorang Muslim shalat di dalam Ka’bah, dia boleh menghadap kemana saja. Itu menandakan, fungsi inti Ka’bah ialah sebagai arah hadap dalam shalat. Keempat, Ka’bah itu saat-saat tertentu diperbaiki, dibersihkan, diganti kain Kiswah-nya. Untuk tujuan itu, petugas kadang naik ke atas bangunan Ka’bah. Mungkinkah ada Tuhan bisa dinaiki sampai ke atasnya?

Singkat kata, Ka’bah ini makhluk Allah, seperti makhluk-makhluk lain. Hanya ia memiliki kemuliaan karena menjadi Syi’ar Allah di muka bumi. Kemuliaan Ka’bah bukan karena dirinya sendiri, tetapi karena KONEKSI-nya dengan simbol-simbol kebesaran agama Allah di muka bumi. Apapun yang dipilih oleh Allah mulia, pasti mulia; apapun yang dihinakan oleh Allah, seperti Freemasonry, kekafiran, dan orang kafir, pasti hina.

Jadi intinya, saudaraku rahimakumullah jami’an, Hajar Aswad itu makhluk Allah, sama seperti batu yang lain. Kalau pun dia lebih mulia dari batu yang lain, karena Allah ijinkan dia mulia, dan Nabi Saw mencintainya. Tanpa perkenan Allah dan tanpa teladan Nabi dalam mencium-nya, Hajar Aswad tidak memiliki apa-apa. Persis seperti kata Umar bin Khattab Ra, Hajar Aswad hanya batu biasa, tidak bisa memberi manfaat atau merugikan diri.

Apapun yang dimuliakan Allah dan Rasul-Nya, ia akan mulia. Apapun yang dihinakan Allah dan Rasul-Nya, ia hina. Ini prinsipnya. Persis seperti seekor anjing milik salah satu anggota Ashabul Kahfi. Ia menjadi anjing paling mulia, karena menjadi milik seorang wali Allah.

Seorang Muslim, jelas tidak boleh menyembah Hajar Aswad. Kalau menyembah Hajar Aswad, dan menempatkannya sebagai Ilah yang disembah; jelas mereka musyrik dan diharamkan syurga baginya. Muslim itu Ibadullah (hamba-hamba Allah); bukan Ibadul hajar, hamba-hamba batu, apapun jenis batunya.

Semoga bermanfaat. Dan jangan ditanggapi soal “tantangan orang kafir”. Mereka hanya mempermalukan dirinya sendiri. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.

AMW.

11 Responses to Apakah Allah Itu Batu?

  1. Al alabamawiy berkata:

    Betul sekali. Dulu awal nya kan banyak orang sholih, lalu kaum di masa Nuh as. menyembah mereka melalui patung dll dsb. Di masa ummat Nabi Muhammad Saw, insyaa Allah tidak ada muslim yang meyakini satu batu pun sebagai sembahan. Hanya yang musyrik saja yang masih tunduk percaya sama batu kuburan dll dsb. Paling bedanya begini, jaman Nuh As. hingga Ibrahim As. orang sembah batu percaya kalau itu cuman batu dan hanya alat untuk media mendekatkan diri dengan Robb. Bahasa mereka liyuqorribunaa, tidak mintak kaya atau beruntung. Bagi mereka cuman media. Perbuatan mereka, menurut alQuran,adalah perbuatan sesat terzholim. Ternyata zaman sekarang lebih zholim lagi. Orang malah terangterangan minta jadi pejabat, wakil rakyat, pengusaha sukses dll. kepada berhala dalam berbagai wujud dan varian serta tipenya. Dan jelasnya, dalam Islam meminta kepada batu, memistikmistikannya adalah terlarang. Oleh karena itu, semua orientalis dan teman cs-nya nyata sekali ingin memelintir muslimin dengan melecehkan manasik thawaf. Rupanya memang kalau kesasar orang kafir tidak tanggung-tanggung. Mereka kira ajaran tawhid yang murni bisa dilenyapkan dengan menangkap ulama dan ustadz yang diantaranya Ust. ABB. Justru dengan penangkapan itu, muslimin sejati dimanapun berada mendapat moment mensyiarkan tawhid. Rububiyatulloh harus diyakini dalam setiap benak insan apalagi para penguasa. Limanil Mulk? Kalau semua manusia menyadarinya dan mengimani juga uluhiyyahNya, sungguh dunia ini akan penuh kedamaian. Setiap insan kan mengatakan Islam itu peradaban tertinggi, indah, adil, makmur, sejahtera, dst. Sungguh syariat Islam dan khilafah adalah prospek yang bagus bagi umat manusia. Nampaknya pertolongan Allah ‘azza wa jalla telah dekat dan kemenangan telah berlari tuk menjemput

  2. gagu berkata:

    maaf kayaknya ada kata2 yang mengganjal neh:

    “(2) Doakan mereka agar dibinasakan oleh Allah Ta’ala; (3) Larang orang-orang Muslim yang awam dan lemah iman membaca tulisan-tulisan fitnah mereka.”

    saya orang chinesse beragama katolik.. tapi saya bukan orang yang rasis.. teman2 saya beragam agama dan bahasa karena saya orang indonesia yang hidup dengan pluralisme masyarakat..

    rata2 teman saya agama islam dan budha.. tapi tidak jarang ada yang animisme atau kafir (rata2 yang dari eropa)..

    saya sangat sepakat bahwa orang kafir memang orang BODOH dan EGOIS… namun anda hanya berada di satu sisi yaitu “agama”(arti a=tidak, gama=rusak). nah dalam hidup itu ada 3 inti yang terbesar yaitu agama, sains, dan liberal.

    “tidak ada manusia yang mengerti filfasat dengan sempurna bila manusia tersebut tidak dapat meletakan pada posisi apa mereka berbicara” (saya lupa yang nulis siapa tapi yang jelas filsuf ternama)

    teman saya dr arab mengerti arti alquran dan saya sedikit mengerti..
    nah dalam kamus kafir tidak mengenal ada nya Tuhan yang mengatur manusia seperti orang beragama karena menurut mereka manusia lah yang mengatur diri nya sendiri..

    nah yang saya ingin sampai kan adalah segera ralat tulisan anda.. karena dengan tulisan tsb anda mencerminkan sifat beragama namun berSIKAP amoral seperti orang kafir..

    saya tidak pernah melihat sedikit pun ada “BUKU SUCI” yang mengajak untuk saling membunuh dan mendoakan yang tidak baik!!!

    dan 2 point tersebut pernah digunakan teroris yang beralaskan AGAMA untuk membujuk mangsa baru agar mau masuk ke sarang keji mereka.

    tulisan anda juga sedikit egois dengan berbagai pernyataan dengan istilah yang menyesatkan…
    istilah “ka’bah adalah makhluk Allah,Ka’bah dibuat oleh manusia”
    klo boleh ditanya…
    bisakan manusia membuat sesempurna ciptaan Allah? bukan kan apa yang manusia ciptakan justru merusak ciptaan Allah?

    dan satu hal dari tulisan ini… “Gambar Hajar Aswad. Sumber Eksistensi Spiritual Agama Kafir: Kedengkian!!! Kacian deh…”

    dari tulisan ini terpapar jelas semua kedengkian anda terhadap kaum kafir…

    yang penting di dalam hidup tu bukan mencari keBENARan.. tapi mewujudkan kebenaran itu sendiri…

  3. Budi berkata:

    Saya muslim..kpd web sy mmpertanyakn kalimat”(1) Jangan layani debat mereka; (2) Doakan mereka agar dibinasakan oleh Allah Ta’ala; (3) Larang orang-orang Muslim yang awam dan lemah iman membaca tulisan-tulisan fitnah mereka.”sy mnt dasar mngpa anda bs mngeluarkn kt2 sprti itu..pesan sy:berkatalh dng cerdas !!
    kpd Gagu,,sy sepakat dngn anda,,,, beragamalh dng fanatik tp terarah..

  4. abisyakir berkata:

    @ Budi…

    Dasarnya sangat jelas, ialah Surat Al Ankabuut ayat 46, tentang berdebat dengan Ahlul Kitab. “Dan janganlah kalian berdebat dengan ahlul kitab, melainkan dengan cara yang lebih baik, KECUALI ATAS ORANG2 YG ZHALIM DI ANTARA MEREKA.”

    Jadi pada asalnya, debat dengan Ahli Kitab harus dengana cara-cara yang baik, tidak boleh curang, khianat, atau mencaci-maki Ahli Kitab secara zhalim. Harus jujur, obyektif, dengan adab sopan-santun. Tetapi ketika Ahli Kitab itu bersikap zhalim, menyerang, berdusta, membohongi manusia, bersikap lacur, asalkan diri mereka menang dalam debat. Maka tidak ada lagi hak sopan-santun. Mereka bahkan bisa disebut sebagai syaitan yang harus diberikan perlawanan sepadan. Mendoakan laknat bagi syaitan seperti itu dibolehkan, bahkan perlu; dalam rangka membela agama Allah dari kezhaliman musuh-musuh-Nya.

    Nah, itu dalil dan dasar pemikirannya. Semoga Anda bisa memahami.

    AMW.

  5. Angga berkata:

    ass wr wb,,
    saya ingin menambahkan saja,alangkah lebih baiknya jika kita mendoakannya agar mereka yang kafir itu diberikan hidayah oleh ALLAH, bukan Dibinasakan…

  6. solikin_pare@yahoo.com berkata:

    kita hidup di dunia ini senasib, orang tua kita yang mula-mula dibuang ke dunia.
    dan kita adalah keturunan dari mereka juga, jadi apapun agama saudara2 kita alangkah baiknya kita do’a kan mereka agar menyadari kekeliruanya

    justru musuh kita yang sebenarnya adalah si iblis yang
    menjerumuskan orang tua kita yang mula-mula.

    musuh kita yang sebenarnya adalah nafsu kita sendiri
    sebagaimana sabda nabi ” musuh terbesar adalah hawa nafsu” yaitu : ujub, riya, takabur, dengki, sum’ah/ bangga diri, sombong dan lain…

    bila kita tanggapi marah dengan marah apa bedanya mereka dengan kita?

  7. KupasKristen berkata:

    heran yah penulis blog sangat kontroversial begini.
    perlu belajar akhlaq lagi mas sampeyan.
    tambahan koreksi:
    ka’bah bukan makhluq Allah.
    ka’bah alah buatan manusia.
    penciptanya adalah manusia.

  8. abisyakir berkata:

    @ KupasKristen…

    Oh ya, kita sebagai Muslim, perlu terus belajar akhlak. Jangan berhenti belajar, untuk menjadi lebih baik. Insya Allah.
    Tapi, jangan karena alasan “akhlak”, Anda diam saja soal provokasi dan propaganda orang-orang kafir. Itu bukan akhlak namanya. Masak agamanya dihina oleh orang kafir, Anda mau diam saja. Malah mau bersikap “akhlakul karimah” kepada orang2 kafir itu. Kalau mereka baik, kita baik; kalau mereka memerangi lewat opini/propaganda, kita hadapi. Itu sifat orang Mukmin. Bukan belagak pilon pakai alasan “akhlak mulia”.

    Ka’bah bukan makhluk Allah? ka’bah alah buatan manusia. penciptanya adalah manusia.

    Wah ini mesti belajar akidah dulu nih. Definisi makhluk adalah apa saja yang diciptakan, baik diciptakan langsung oleh Allah, atau diciptakan oleh makhluk-Nya (seperti manusia, binatang, dll). Apa saja yang diciptakan, ia adalah makhluk. Termasuk Ka’bah itu. Secara zhahir ia dibuat oleh tangan manusia; tetapi secara hakiki Allah yang menciptakannya. Melalui apa? Melalui perintah kepada Ibrahim dan Ismail As untuk mendirikan Ka’bah; melalui batu dan bahan-bahan yang Allah sediakan di alam; melalui ilmu dan wawasan yang diberikan kepada Ibrahim & Ismail; melalui tenaga, intuisi, dan kemampuan mereka berdua; dan sebagainya.

    Semua yang selain Allah itu adalah makhluk. Termasuk di dalamnya Ka’bah, langit, bumi, matahari, bulan, mobil, nasi goreng, baju batik, korek api, dan sebagainya. Maka itu Ka’bah kita sebut makhluk. Kalau bukan makhluk, mau disebut apa?

    Admin.

  9. Irfan berkata:

    Abisyakir, manusia, hewan dan tumbuhan adalah makhluk ciptaan Allah, kemudian ada mesin cuci , te4levisi, kulkas, apakah benda-benda ini ciptaan manusia atau ciptaan Allah? bukankan definisi kata makhuk adalah benda hidup, tolong anda jelaskan dengan alasan dan logika yang tepat.

  10. abisyakir berkata:

    @ Irfan…

    Ya kalau benda-benda seperti televisi, kulkas, mesin cuci dan seterusnya…ya semua itu buatan manusia. Tetapi dalam hal ini sifat pekerjaan manusia bukan MENCIPTA, namun MEREKAYASA. Kalau mencipta, mestinya dari “tidak ada” menjadi “ada”. Sedang merekayasa ialah menggabungkan, mengaransemen, mengatur, memadukan, modifikasi, dan seterusnya dari bahan-bahan yang ada, lalu menjadi jenis barang baru yang berbeda dari bahan aslinya.

    Mesin cuci, televisi, kulkas, roti, buku, baju, dan seterusnya adalah produk buatan manusia. Namun karena manusia membuat semua itu karena mendapat bahan dari Allah, mendapat akal dan tenaga dari Allah, mendapat ilmu dari Allah, mendapat kesempatan dan pertolongan dari Allah; maka semua benda-benda itu pun tercakup dalam istilah universal sebagai makhluk Allah. Secara teknis yang memproduksi manusia, tetapi secara hakiki ia diproduksi dengan pertolongan Allah; hanya saja, umumnya manusia sekuler (non Muslim) tidak meyakini kalau keberhasilan mereka karena pertolongan Allah.

    Admin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: