Jalan Sudah Diperbaiki

Update terakhir: Gubernur Ahmad Heriawan lagi kesandung masalah. Dia membuat kartu ucapan “Selamat Idul Fithri” dengan mencantumkan foto dia sendiri. Menurut MetroTV, program itu memakai dana APBD senilai Rp. 1,5 miliar. KPK sedang menggali informasi seputar kartu ucapan ini. Terimakasih.

________________________________________________________________________________________

Beberapa waktu lalu saya menulis tulisan kritik tentang performa gubernur kami, yang notabene seorang ustadz dan ketua ormas Islam. Dalam tulisan itu banyak kritik yang saya ajukan. Salah satunya ialah rusaknya jalan raya di depan Gedung Sate. Jalan raya disana tidak berlubang-lubang seperti kolam, tetapi permukaan jalannya terkelupas atau terangkat. Jalan seperti itu lebih berbahaya, sebab dikira oleh pengendara kendaraan kondisinya baik-baik saja.

Hari Selasa, 17 Agustus 2010, sekitar jam 11.00, saya lewat depan Gedung Sate, dengan mengendarai motor. Begitu sampai di jalan-jalan raya sekitar Gedung Sate, saya tertawa. Pasalnya apa? Alhamdulillah, jalan-jalan disana yang terkelupas/terangkat permukaannya itu sudah diperbaiki, menjadi jalan mulus. Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Hatur nuhun, Pak Gubernur! Terimakasih sudah memperbaiki jalan itu. Alhamdulillah.

Gedung Sate: Icon Jawa Barat. (Sumber foto: kompasiana.com).

Perbaikan jalan ini mungkin tidak seberapa dibandingkan substansi kritik yang saya ajukan. Tetapi alhamdulillah, kita harus menghargai kerja siapa saja yang mau melakukan perbaikan. Harapannya, setelah melakukan satu dua perbaikan, lakukan juga perbaikan-perbaikan yang lain, sebagai amanah kepemimpinan.

Perbaikan jalan di sekitar Gedung Sate itu juga tidak harus dimaknai, karena adanya kritik dalam blog ini. Siapa tahu, ia diperbaiki seiring 17 Agustus 2010, atau seiring momen Ramadhan dan menuju Idul Fithri 1431 H. Atau bisa jadi, ia diperbaiki karena sudah tiba momennya untuk diperbaiki. Apapun alasannya, harus disyukuri. Ya, kalau jalan diperbaiki tentu masyarakat akan merasa gembira, dan Pemda juga diuntungkan.

Gedung Sate selama ini dikenal sebagai icon Jawa Barat (akhirnya menyebut nama identitas juga…he he he). Tentang kerusakan jalan di provinsi ini, wah sudah luar biasa. Maka adanya perbaikan jalan di sekitar Gedung Sate, semoga menjadi suatu signal bagi perbaikan infrastruktur Jawa Barat secara umum. Masyarakat tentu gembira dengan perbaikan-perbaikan fasilitas, sebab pada hakikatnya masyarakat memang untuk dilayani, bukan dituntut bertanggung-jawab; atau selalu diminta mengerti.

Tulisan ini sekaligus penjelasan, bahwa kami (setidaknya saya) bukan kaum pendengki. Bukan politisi yang maniak kekuasaan. Kami ini orang fair saja; kalau ada kebaikan, diakui; kalau ada keburukan, ya diungkap apa adanya, agar menjadi koreksi untuk diperbaiki. Insya Allah, saya tidak malu untuk mengakui kebaikan seorang pemimpin, jika memang dirinya melakukan perbaikan. Sebaliknya, jika kepemimpinan seseorang membuat banyak masalah yang merepotkan kehidupan rakyat, mohon maaf, pasti akan dikoreksi!

Kita akan selalu fair-fair saja; kalau baik dikatakan baik, kalau buruk ya dikatakan buruk. Alhamdulillah, semua ini tanpa tendensi tertentu, seperti cari muka, minta fasilitas dari pemimpin, memuji biar mendapat posisi. Alhamdulillah, Allah Ta’ala menolong kita untuk bersikap baik dan syukur di jalan-Nya.

Sekali lagi, hatur nuwun Pak Gubernur! Atawa hatur nuhun Pak Walikota! Mugia jalan nu tos dibereskeun janten manfaat jeung maslahat ka kahidupan masyarakat. Allahumma amin.

Tapi saya mengingatkan juga, masih banyak perbaikan lain yang ditunggu masyarakat. Ini baru satu atau dua langkah, masih banyak langkah-langkah lain yang harus dilanjutkan. Kalau Pak Gubernur sudah memenuhi harapan masyarakat kaum Muslimin di Jawa Barat, insya Allah tulisan kritik di blog ini akan dihapus.

Alhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

Sim Kuring (AMW) —

__________________________________________________________________________

Catatan: Mohon Saudara @ Aban atau @ Rudy, Anda tidak usah berkomentar. Komentar Anda tidak disukai disini! Anda sudah masuk kategori person tercela yang tak perlu diberi ruang apapun. Anda berdebat dan diskusi secara membabi-buta dan tidak memelihara kehormatan Muslim lain. Dalam riwayat dikatakan, kurang-lebih, “Ab-gha-dhur rijal ‘indallahi alaadul khi-sham” (manusia yang paling dimurkai di sisi Allah, ialah seorang pendebat/pembantah yang melampaui batas). Berdebat dengan orang yang buruk akhlak, seperti memburukkan diri sendiri. Na’udzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Iklan

3 Responses to Jalan Sudah Diperbaiki

  1. Moso berkata:

    Adalah merupakan kewajiban gubernur mengurus jalan dan bukan pula kewajiban kita berterimakasih kepada gubernur. Terimakasih adalah sebuah sikap yang timbul dari mental berakhlaq. Wajar ada orang berterimakasih. Namun, lihatlah tempat untuk berterimakasih. Dalam suatu kontrol sosial dimana ada reward n punishment, terimakasih adalah cara utama yang berefek positif. Namun, efek esensialnya sering dipertanyakan. Nggak efektif, ora kasil, kasarane ngomong. Mengapa? Karena pada banyak obyek dari terimakasih hanya masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Coba anda bayangkan, ada lagu terimakasih bapak kami suharto, tapi dalam menanggapinya tindakan suharto banyak meremehkan terimakasih itu dengan tidak mendengar apa yang dibutuhkan orang. Reward terimakasih hanya bisa didengar orang yang juga mendengar pengucapnya dari hati ke hati. Namanya juga, sikap mental. Umar ra. mendengar dari hati bila keliling malam. Beda dengan sekarang. Yang nampak di ujung hidung sering tak di dengarkan. Apalagi hanya sekedar kata terimakasih atas suatu hal yang orang kedua tunggalnya dituntut untuk itu.

  2. abisyakir berkata:

    @ Moso…

    Ya, saya memahami maksud komentar Anda. Namun yang ingin ditekankan disini 2 hal:

    a. Berani menghargai upaya perbaikan yang dilakukan. Andaikan seorang Gubernur mau memungut sampah di jalan, tetap hal itu perlu dihargai. Padahal apalah artinya sepotong sampah di jalan? Maksudnya, agar kita tidak mewariskan mentalitas masyarakat yang selalu “menyimpan dendam politik“. Siapapun yang sudah berbuat baik, kalau bukan dari kelompoknya dibenci.

    b. Ini sekaligus untuk membedakan antara sikap kritik konstruktif dengan kedengkian. Kalau kritik konstruktif, mau mengakui kebaikan. Kalau kedengkian, meskipun seseorang sudah mampu membangun setiap rumah penduduk dari emas, tetap saja dia akan dicela.

    Akan tetapi, saya menghargai masukan dan komentar Anda. Syukran jazakumullah khair. Silakan berikan masukan-masukan konstruktif bagi saya, bagi pembaca, juga komentator2 lain. Terimakasih.

    AMW.

  3. […] Sebagai tambahan, baca artikel berikut Terimakasih Pak Gubernur! Semoga bermanfaat. […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: