REFLEKSI: Kesalahan Terbesar Bangsa Indonesia!

Bismillahirrahmaanirrahiim.

CATATAN: Tulisan ini sebenarnya sudah muncul Agustus tahun 2010 lalu. Karena begitu pentingnya isi tulisan ini, agar kaum Muslimin di negeri ini paham kondisi kehidupannya; ia sengaja di-lekat-kan. Selamat membaca kembali!

Baru-baru ini politisi Partai Demokrat (PD), Ruhut Sitompul melemparkan isu besar, tentang kemungkinan masa jabatan Presiden RI diperpanjang sampai 3 periode. Konsekuensinya, harus mengamandemen UUD pasal 7 yang membatasi jabatan Presiden RI hanya 2 periode saja. Sontak usulan ini membuat geger masyarakat politik Indonesia. Banyak suara-suara muncul memberi komentar. Saya meminjam kata-kata para selebiritis kalau sedang terjerumus suatu kasus asusila, “Ya, dimana-mana selalu ada pro dan kontra. Itu biasa saja, kok.”

Secara politik, wacana perpanjangan masa jabatan presiden sampai 3 periode itu, dapat dipahami sebagai ambisi politisi Demokrat untuk mengangkat SBY menjadi Presiden RI lagi pada periode 2014-2019 nanti. Kalau upaya itu berhasil, misalnya SBY sukses menjadi presiden lagi pada periode 2014-2019, apakah amandemen UUD itu akan berakhir? Tidak akan. Nanti menjelang masa jabatan ke-3 berakhir, akan ada lagi usulan amandemen kesekian kalinya, sehingga SBY bisa menjadi Presiden RI ke-4 kalinya. Kalau sudah 4 kali jadi presiden, akan UUD akan diamandemen lagi, sehingga SBY akan menjadi presiden sampai wafat. Bahkan nanti, Ruhut Sitompul akan mengusulkan, agar Presiden RI bisa dijabat oleh seseorang yang sudah dikubur dalam tanah. Dia menjadi Presiden RI secara ad interim; jasadnya sudah dikubur, tetapi nama dan fotonya masih berkuasa penuh.

Kalau mau membaca sejarah, membaca peristiwa demi peristiwa, melakukan kajian yang secara mendalam atas fakta-fakta. Usulan Ruhut Sitompul bukanlah sesuatu yang aneh. Ini usulan biasa saja. Masyarakat politik kita sejak lama sudah biasa dengan cara-cara seperti itu. Bahkan ia bisa dianggap sebagai copy paste saja. Okelah saat ini, banyak suara-suara menentang pernyataan Ruhut Sitompul, dengan segala alasan. Tetapi nanti, kalau pada 2014, mereka di-iming iming jabatan anggota DPR, jabatan menteri, dan seterusnya; hatinya akan lumer juga.

Kita Meniti Jejak Para Pahlawan Islam di Masa Lalu.

Halah…sudahlah, tidak usah munafik! Jujur saja, berkata apa-adanya! Mana ada sih para politisi kita yang punya integritas dan komitmen moral? Tidak ada itu. Kalau ada, pasti bangsa kita tidak akan sengsara seperti saat ini. Pernyataan-pernyataan menolak ucapan Ruhut Sitompul itu, kalau meminjam istilah Ahmad Mubarok, politisi Demokrat lainnya; semua itu hanya “olah-raga politik” belaka.

Saudaraku rahimakumullah…

Disini ingin saya tunjukkan kepada Anda, dengan ijin Allah Ta’ala, KESALAHAN TERBESAR yang telah dilakukan bangsa ini, sejak Kemerdekaan, 17 Agustus 1945, sampai saat ini. Saya katakan kepada Anda: “Tidak usah menyesali pernyataan Ruhut, itu sudah tradisi bangsa ini. Tidak usah marah, perbuatan yang sama sudah terlalu sering kita lakukan. Tidak perlu membuat analisa-analisa yang menyusahkan diri, santai saja. Toh, kemunafikan itu telah menjadi peradaban bangsa ini. Tidak usah berdebat, nanti suara Anda akan habis sia-sia.”

Kesalahan terbesar bangsa ini ada dalam 3 poin berikut ini:

[1] Bangsa ini pintar membuat aturan, tetapi pintar pula melanggarnya.

[2] Pelanggaran terhadap aturan bukan dilakukan secara individu, tetapi secara kolektif oleh seluruh lapisan masyarakat. Baik pejabat birokrasi, politisi, anggota dewan, wartawan, media massa, pengamat, pakar akademisi, perwira militer/polisi, agamawan, aktivis LSM, sampai rakyat jelata seperti tukang sayur, pedagang asongan, tukang bengkel, sopir angkot, ibu rumah-tangga, anak SMP/SMA, dll.

[3] Pelanggaran hukum secara kolektif itu tidak pernah dicegah, tidak pernah diperbaiki, tetapi selalu dibiarkan, selalu didiamkan, karena masing-masing mencari aman untuk dirinya sendiri. Kalaupun ada suara-suara untuk memperbaiki, biasanya bersifat teoritik, wacana belaka, dan komersial. Tidak ada tindak-lanjut kongkrit.

Inilah 3 poin penyakit bangsa Indonesia yang merusak kehidupannya. Ketiga masalah ini tersimpul dalam satu kalimat yaitu: peradaban MELANGGAR HUKUM secara sengaja dan upaya melestarikan pelanggaran itu.

Kalau digambarkan, bangsa yang bodoh adalah bangsa yang tidak menyusun hukum untuk mengatur kehidupannya. Itulah dia bangsa Badui, yaitu masyarakat yang tidak mengenal baca-tulis, tidak menuliskan aturan hukum. Mereka hidup hanya menuruti tradisi dari mulut ke mulut, secara turun-temurun.

Adapun bangsa yang pintar, adalah bangsa yang mampu membuat aturan hukum untuk mengatur kehidupannya, lalu bersikap konsisten di atas hukum itu, tidak menyimpang darinya, walau sehelai rambut. Inilah bangsa yang pintar. Kalau dia memakai acuan hukum sekuler, dia akan berjaya secara materi. Kalau dia memakai acuan hukum Islam, dia akan berjaya lahir-batin, dan di Akhirat akan masuk syurga (alhamdulillah). Baik hukum sekuler atau hukum Islam, selalu menuntut KONSISTENSI. Tidak boleh main-main atau penuh manipulasi.

Ada bangsa yang lebih bodoh dari bangsa Badui. Mereka membuat hukum, lalu selalu melanggar hukum yang dibuatnya sendiri. Bangsa seperti ini lebih bodoh dari Badui, sebab mereka sudah letih-letih menyusun hukum, tetapi tidak ditaatinya. Kemudian ada lagi yang lebih bodoh, yaitu bangsa yang membuat hukum, lalu aktif melanggar hukum itu, kemudian mengklaim dirinya sebagai “taat hukum”. Luar biasa, ini kebodohan yang lebih parah.

Masih ada lagi yang lebih bodoh dari itu. Ia adalah sebuah bangsa yang membuat hukum, lalu menjadikan hukum tersebut sebagai kendaraan untuk memuaskan hawa nafsunya. Ini lebih parah lagi, sebab pada hakikatnya, bangsa seperti itu tidak berhukum apa-apa. Hukumnya adalah hawa nafsunya sendiri.

Menurut pengamatan saya, kondisi bangsa Indonesia kini sudah sampai ke tahap bangsa terakhir itu. Hukum di negeri ini bukan dibuat untuk kemaslahatan masyarakat, untuk adil dan makmur, untuk menegakkan keadilan, untuk menyebarkan kesejahteraan dan sentosa. Sama sekali tidak! Hukum kita adalah perangkat aturan yang mudah diperkosa untuk melayani nafsu syahwat orang-orang tertentu. Dan hal ini terjadi secara berkesinambungan, sejak awal kemerdekaan sampai saat ini.

Sejujurnya, acuan hukum kita kebanyakan hukum Belanda. Hal itu terjadi karena para Founding Fathers dulu rata-rata hasil didikan sekolah Belanda. Gelar “Mr.” sebenarnya adalah sarjana hukum dalam pendidikan Belanda. Hukum Belanda sendiri termasuk jenis hukum yang permissif (longgar secara moral). Hal itu sesuai dengan karakter masyarakat Belanda yang memandang ringan perbuatan-perbuatan amoral. Hukum Belanda ini sangat jelek, sangat buruk. Tetapi di mata bangsa kita, hukum yang buruk itu pun masih dilanggar juga. Allahu Akbar!

Kalau Anda mau melihat kejadian-kejadian terbaru dalam realitas sosial kita, disana akan kita dapati fakta-fakta pelanggaran hukum yang sangat telanjang. Mari kita list lagi:

[=] Lihatlah Sidang Paripurna DPR yang menghasilkan opsi C untuk penyelesaian skandal Bank Century! Apa artinya rekomendasi sidang paripurna tersebut? Apakah ini bukan pelanggaran hukum yang nyata?

[=] Lihatlah, betapa mudahnya kita membiarkan Sri Mulyani melenggang ke kantor Bank Dunia, sementara kasus hukum yang melibatkan dia dalam soal Bank Century belum diselesaikan.

[=] Saat Boediono menjadi Cawapres bersama SBY, dirinya masih berstatus anggota eksekutif IMF. IMF adalah lembaga moneter yang telah merusak ekonomi Indonesia sejak Krisis 1997. Bagaimana mungkin, anggota eksekutif IMF bisa menjadi seorang Wakil Presiden?

[=] Lihatlah media-media massa saat melaporkan kasus-kasus terorisme. Mereka tidak basa-basi menyebut para pemuda Islam dengan istilah teroris. Padahal belum ada pengadilan yang secara valid membuktikan bahwa pemuda-pemuda itu memang teroris. Ini kan crime by press, kejahatan oleh media massa. Sementara untuk kasus Ariel, Luna, Cut Tari, media-media massa sangat konsisten memakai kata-kata “yang diduga artis”, “yang mirip artis”, dan seterusnya. Apakah ini bukan pelanggaran hukum?

[=] Lihatlah betapa gagahnya aparat Densus88 saat menyerang, menyergap, mengepung, menangkap, bahkan menembak mati tertuduh terorisme. Begitu hebatnya, seperti film Hollywood, sampai dibuatkan liputan langsung via Breaking News. Tapi pernahkah polisi melakukan hal yang sama terhadap para koruptor BLBI, para koruptor Bank Century, para mafia perpajakan, atau mafia hukum di tubuh polisi sendiri? Aksi kekerasan oleh pemuda-pemuda Islam yang dituduh teroris, lebih bersifat lokal. Tetapi kejahatan korupsi, bisa membunuh dan menyengsarakan ratusan juta rakyat Indonesia. Maka itu korupsi disebut extra ordinary crime, kejahatan luar biasa. Apakah sikap aparat polisi yang pilih kasih ini bukan pelanggaran hukum?

[=] Bagaimana dengan kasus “bom tabung 3 kg” yang sampai saat ini terus memakan korban manusia? Apakah kasus-kasus itu bukan merupakan pelanggaran hukum? Setidaknya hukum perlindungan konsumen dan pelanggaran HAM warga negara?

[=] Bagaimana dengan kasus keruwetan DPT dalam Pemilu 2009 lalu? Bagaimana dengan independensi KPU yang dipertanyakan? Bagaimana dengan kasus Andi Nurpati yang menyeberang menjadi politisi Demokrat? Apakah semua ini bukan pelanggaran hukum?

[=] Bagaimana dengan tabungan ratusan ribu jamaah Haji yang menyetor uang ke bank selama 3 atau 4 tahun, lalu bunga hasil setoran itu selama 3-4 tahun dimasukkan rekening Dana Abadi Ummat? Apakah ini bukan pelanggaran hukum, yaitu memanfaatkan uang jamaah Haji di luar urusan ibadah Haji? Lagi pula bagaiman penggunaan Dana Abadi Ummat itu sendiri? Jujurkah pemakaiannya atau melanggar hukum juga?

[=] Bagaimana dengan usaha memblokir situs-situs porno di internet? Pemblokiran oleh Pemerintah akhir-akhir ini adalah bagus, tetapi masalahnya mengapa baru sekarang diblokir, setelah terjadi kerusakan moral sangat besar di tengah-tengah masyarakat Indonesia? Padahal secara teknis, Pemerintah mampu melakukan itu, kalau mereka mau melakukannya. Apakah ini bukan pelanggaran hukum juga?

[=] Bagaimana dengan dominasi bisnis asing di Indonesia? Bagaimana dengan CAFTA, WTO, forum G20? Bagaimana dengan kontrak karya asing yang tidak pernah membuat industri dalam negeri maju? Apakah semua itu tidak melanggar UUD tentang perlindungan ekonomi nasional untuk sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat?

[=] Dan lain-lain.

Sungguh, banyak dan banyak sekali pelanggaran hukum ini. Semua ini telah menjadi tradisi, berkembang sangat meluas, tumbuh secara struktural, bahkan diwariskan dari generasi ke generasi. Masya Allah, inilah realitas bangsa Indonesia yang katanya: Berdasarkan Pancasila, UUD 1945, dan komitmen menjaga NKRI. Tidak usah dinilai dengan ajaran Islam, dinilai dengan sila-sila Pancasila saja, semua itu melanggar. Semua itu melanggaran prinsip-prinsip besar dalam UUD 1945. Bahkan merusak komitmen menjaga keutuhan NKRI sendiri.

Nah, inilah bangsa Indonesia, bangsa yang mengklaim diri: Bangsa ramah, bangsa sopan-santun, bangsa beretika tinggi, bangsa berakhlak luhur, bangsa berbudaya, bangsa besar, bangsa toleran, bangsa cinta damai, bangsa patuh aturan, bangsa ini itu, dan seterusnya. Padahal sejatinya: Semua itu OMONG KOSONG belaka! Semua itu hanyalah klaim kosong manusia-manusia bermental MUNAFIK!

Rasanya sangat sedih melihat generasi muda Indonesia saat ini. Mereka sejak kecil masuk TK, lalu sekolah SD, masuk SMP, SMA, sampai PT. Di bangku sekolah mereka diajari moral luhur, etika, bangga sebagai bangsa, diajari bersikap penolong, pengasih, peduli, dan lain-lain. Tetapi setelah mereka lulus sarjana, lalu masuk kehidupan masyarakat, mereka masuk dalam pusaran PERADABAN MUNAFIK.

Dalam “peradaban” ini, orang yang jujur disingkirkan, sementara para penjilat dielus-elus; pemuda-pemuda yang membela masyarakatnya dituduh teroris, sementara para koruptor diberi kehidupan tenang; inovasi anak negeri, dengan segala susah-payahnya, dilempar ke tong sampah, sementara produk asing, sekalipun itu sampah, dipuja-puja luar biasa; para ustadz yang istiqamah dituduh radikal, garis keras, sementara para selebritis amoral terus dibela setengah mati; disini gadis-gadis yang menutup aurat dengan rapat dikucilkan, sementara wanita-wanita pezina yang merusak tatanan sosial terus dipamerkan di TV; usaha-usaha kecil rakyat jelata, sekedar untuk bertahan hidup, dikejar-kejar, dioprak-oprak, sedangkan kapitalis-kapitalis asing dipersilakan membangun mall dimana-mana; upaya membendeng pornografi oleh gerakan sosial masyarakat melalui perumusan UU Pornografi ditentang habis-habisan, sedangkan budaya amoral-permissif diberi ruang selebar-lebarnya. Dan banyak lagi IRONISME dari kehidupan berdasar AZAS KEMUNAFIKAN ini. Dan semua itu RIIL terjadi di Indonesia.

Nah, inilah wajah asli bangsa kita, bangsa MUNAFIK nomer wahid di muka bumi. Inilah bangsa yang mengklaim berdasarkan “Ketuhanan Yang Maha Esa”, padahal sejatinya berdasarkan “kemunafikan yang maha kuasa”. Kenyataan buruk ini muncul karena kita sudah biasa melanggar hukum, lalu melanggar hukum secara berjamaah, lalu melestarikan pelanggaran itu secara murni dan konsekuen.

Sudahlah, tidak usah bicara seminar hukum, lokakarya hukum, general stadium bertema hukum, diskusi soal hukum, liputan khusus hukum, orasi hukum, demo menuntut penegakan hukum, dll. Ah sudahlah, lupakan semua itu. Semua itu percuma, mubadzir, hanya menyia-nyiakan energi saja!

Lebih baik, kita mulai melakukan kampanye soal KEMUNAFIKAN. Kita mulai perlu menempel sticker-sticker yang bunyinya: Awas Ada Munafik! (sebagai ganti: “Awas Ada Anjing!”); “Dilarang Munafik Disini!” (sebagai ganti: “Dilarang Buang Sampah Disini!); “Stop Kemunafikan!” (sebagai ganti, “Stop Korupsi!”); “Yang Munafik Dilarang Masuk” (sebagai ganti: “Yang Tidak Berkepentingan Dilarang Masuk”); “Antar Sesama Munafik Dilarang Saling Mendahului” (sebagai ganti: “Antar Sesama Bus Kota Dilarang Saling Mendahului); “Setelah Berbuat Munafik, Bertaubatlah” (sebagai ganti: “Setelah Buang Air, Siramlah”). Sticker-sticker seperti perlu dipajang di berbagai tempat umum, terutama di kantor birokrasi, kantor partai politik, kantor bisnis, kantor aparat hukum, serta kantor media-media massa.

Nasehat terakhir, wahai Saudaraku…

Berat rasanya hidup di tempat seperti ini. Kemunafikan dan pelanggaran hukum telah menjadi tradisi. Manusia tidak malu menciderai hukum yang dibuatnya sendiri. Jangankan akan berhukum dengan Syariat Allah dan Rasul-Nya, terhadap hukum mereka sendiri pun dilecehkan. Bangsa ini sudah terlalu lama dicengkeram oleh Mafia PBB (mafia politik, birokrasi, dan bisnis). Mereka membangun peradaban dengan berlandaskan AZAS KEMUNAFIKAN.

Nasehat yang perlu disampaikan: “Jangan putus-asa menghadapi semua ini! Allah Ta’ala melarang kita berputus-asa. Terima kenyataan ini sebagai takdir Allah yang mesti berlaku atas bangsa kita. Terus bertahan dan istiqamah di atas jalan Islam. Jangan menyimpang darinya, meskipun cobaan terus mendera. Bukan kewajibanmu menyelamatkan Indonesia; bukan kewajibanmu menjaga NKRI; bukan kewajibanmu menyelamatkan masyarakat luas; bukan kewajibanmu mengasihi kaum Muslimin di negeri ini. Kewajibanmu hanyalah berusaha, berusaha, dan terus berusaha, sampai saat datangnya ajal. Terserah apapun realitas kehidupan yang Allah berikan kepada kita. Manusia hanya bisa berusaha, wahai Saudaraku. Adapun yang sanggup memperbaiki bangsa ini, hanya Allah belaka. Yakinlah, semua jerih-payahmu, letih-sensaramu, duka-nestapamu, pengorbananmu, tidak akan sia-sia. Andaikan bukan engkau sendiri yang akan memetik hasilnya, insya Allah anak keturunanmu yang akan memetiknya. Terus nyalakan pembelaan total terhadap agama Allah, dan lawan ideologi syaitan yang menjadi basis peradaban munafik itu. Kita hari ini hanyalah mengulang sunnah para pendahulu kita, para pejuang-pejuang Islam di Nusantara ini. Kita bersama mereka dalam satu barisan shaf, meskipun berbeda jamannya. Insya Allah kelak kita akan berjumpa mereka.”

Nabi Saw mengatakan, “Akan selalu ada segolongan orang dari Ummat-ku ini yang selalu tegak di atas kebenaran. Tidak merugikan mereka, orang-orang yang mendurhakai mereka, sampai saat tibanya pertolongan Allah.” Semoga kita termasuk dalam barisan kaum Muslimin yang disebut dalam hadits ini. Allahumma amin ya Sallam ya Rahiim.

Selamat mengenang momen Kemerdekaan Bangsa Indonesia ke-65, 17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2010. “Harapan Itu Masih Ada!” Yaitu, dengan IMAN TAUHID dan KEJUJURAN; bukan kemunafikan!

Walhamdulillah Rabbil ‘alamiin.

AMW.

Iklan

5 Responses to REFLEKSI: Kesalahan Terbesar Bangsa Indonesia!

  1. Maya berkata:

    Setuju Banget bwt Ustadz AMW.
    Di judul hatta r, dah qu katakan “…Boro boro masa jabatan presiden di jadiin 3x period, aq pikir ga nyampe thn 2014 di lengserkan PEOPLE POWER, berani taruhan…!”

    Lo bener ne terjadi, si sby brani ambil tuh jabatan yg ke 3x, mari kita kampanyekan apa yng pernah dia katakan kemaren ngutip amar ma’ruf “…saya tdk setuju dengan perombakan amandemen UUD’45, saya cukup menjabat sbg pres hingga 2 periode dan tdk juga di jabat oleh istri dan anak2, pemikiran2 seperti itu harus di hentikan”. Kita pegang kata2nya itu terus saat dia terpilih mari kita sama sama “PRESIDEN PENJILAT LUDAH SENDIRI”

  2. Amar Ma'ruf berkata:

    Ya.. Benar. ALLAH lah yg telah mempergilirkan semua keadaan… Agar manusia yg di utus sebagai Kalifah mendapat PELAJARAN.

    Itulah kenapa ada Kemenangan, juga kekalahan. Ada Kesenangan, juga kesusahan. Ada Harapan, juga keputusasaan. Kemenangan punya kaidahnya tersendiri, begitu pula kekalahan…

    Khilafah Islamiyah tidak akan menang dan berdiri kokoh melalui partai politik demokrasi (atas nama partai Islam sekalipun). Khilafah hanya bisa di perjuangkan dengan cara tersendiri, Islami. Karna kita bisa lihat kepincangan yang terjadi pada negara Aljazair dan Turki yg awalnya di mulai dari partai.

    Kita tahu, hanya sebagian kecil golongan yang akan masuk jannah-Nya, semoga kita kaum Muslimin termasuk dalam golongan itu. Karna itu kaum kafir dan kaum munafik jauh lebih besar jumlahnya dari kaum Muslimin (golongan ahli Syurga) di setiap zaman kecuali kelak zaman Imam Mahdi.

  3. Batul..Betul..Betul sekali Pa Ustad. artikelnya sangat Bagus, ijinkan saya untuk copy paste.

  4. abihanif berkata:

    ‎”17 Agustus 1945 kita bertahmid, 18 Agustus 1945 kita beristiqfar ..”
    (KH Muhammad Natsir),

    Allahuakbar….,
    berpeganglah kembali pada tali Allah bangsaku.

  5. Anonim berkata:

    Yah capek dech melihat berbagai macam persoalan yg muncul di Negara Indo ne sia
    yg penjabat2 maling pada amnesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: