Ilusi Seputar ZAKAT

Bukan Ramadhan dikenal sebagai bulan Al Qur’an, bulan ibadah, bulan kebajikan, dan lainnya. Namun bulan ini juga bisa disebut Syahruz Zakat, bukan zakat. Di bulan ini kaum Muslimin diwajibkan membayar Zakat Fithrah, selain itu animo Ummat untuk membayar Zakat Maal meningkat pesat. Seakan, ukuran satu haul (periode) pembayaran Zakat itu dihitung dengan periodisasi bulan Ramadhan.

Spirit Santunan Sosial.

Sejak tahun 90-an sudah terdengar luas seruan pemberdayaan Ummat melalui instrumen Zakat. ICMI menjadi pelopor yang kerap menyuarakan pentingnya memanfaatkan Zakat untuk pengentasan kemiskinan, pemberdayaan ekonomi, pemberdayaan SDM, dll. Namun baru 5 tahun terakhir (2006-2010) gegap-gempita berdirinya lembaga-lembaga Zakat bergaung keras. Dimana-mana segera muncul lembaga Zakat, dengan aneka nama.

Termasuk di dalamnya adalah lembaga-lembaga yang secara “profesional” mengumpulkan zakat, infak, sedekah, lalu mengembangkan aneka bentuk santunan, aneka produk sumbangan, aneka bentuk pembiayaan, dan bisnis. Awalnya instrumen zakat, lalu bermetamorfosis secara perlahan menjadi bisnis. Secara sinis kerap disebut dengan istilah “industri zakat”. Obyeknya zakat, tetapi cara pengelolaan obyek mengikuti metode bisnis-bisnis komersial.

Semangat besar membuat usaha kolektor zakat dan menyalurkan hasilnya kepada sasaran-sasaran yang dituju, karena kaum Muslimin kerap terjebak dalam ILUSI PEMIKIRAN yang tidak berdasar. Ilusi itu membuat mereka memiliki obsesi besar untuk mendapatkan kemajuan-kemajuan kesejahteraan diri, lewat instrumen pengelolaan zakat, infak, sedekah. Sekedar contoh, di sebuah kota tertentu, ada seorang “kolektor zakat” yang unik. Dia sangat bersemangat membangun lembaga zakat, tapi cara berpikirnya sangat mengadopsi konsep-konsep Robert T. Kyosaki. Jelas aneh kan? Zakat itu apa, sedang Robert Kyosaki siapa?

Ilusi seputar Zakat ini kalau digambarkan sebagai berikut: “Potensi Zakat di Indonesia sangat besar. Luar biasa besarnya, puluhan triliun rupiah. Kalau misal jumlah penduduk Muslim di Indonesia ada 200 juta (dari Sensus 2010 penduduk Indonesia sekiatar 238 juta jiwa). Katakanlah yang wajib membayar Zakat Maal ada 100 juta orang. Kalau misal penghasilan rata-rata mereka Rp. 1 juta per bulan, atau Rp. 12 juta per tahun. Dengan pukul rata zakat mereka 2,5 % per tahun. Setidaknya diperoleh potensi zakat sekitar Rp. 30 triliun. Luar biasa kan?”

Mereka membayangkan bisa mengumpulkan Zakat Maal hingga 30 trilun setahun, atau 150 triliun per 5 tahun. Dengan dana itu, mereka bisa membuat ratusan rumah sakit besar, ratusan pabrik perakitan mobil (asembling), puluhan stasiun TV, ratusan supermarket, ratusan sekolah/madrasah permanen, ratusan masjid, bisa menggaji ustadz 10 juta rupiah per bulan, bisa membagikan jutaan Mushaf gratis ke masyarakat, dll. Itu kalau terkumpul 30 triliun dana zakat di satu tangan, lalu didistribusikan benar-benar secara amanah.

Namun hitung-hitungan seperti ini kan sangat spekulatif, terlalu prematur, atau terlalu bersemangat. Dalam praktiknya, paling potensi pembayar zakat di Indonesia yang memiliki komitmen tinggi, paling hanya sekiatar 10 juta orang saja. Itu pun tersebar di ribuan tempat, ribuan organisasi/yayasan, berbagai madzhab pemikiran, berbagai tradisi membayar zakat, dll. Nanti pada ujungnya, potensi “industri zakat” ini bernasib seperti yang lain, yaitu: luruh di tengah jalan. Sebab, antara harapan dan kenyataan terpaut jarah yang jauh.

Akibat realitas seperti itu, lembaga-lembaga pengelola zakat akhirnya putar-otak 1000 kali. “Waduh, penghasilan zakat kita tak sebanding dengan biaya operasional. Keadaan ini harus segera diakhiri. Mulai sekarang, kita banting setir masuk dunia bisnis. Jangan melulu mengumpulkan dan membagikan. Kita harus bersikap seperti dunia perbankan. Harta titipan muzakki ini harus selama mungkin kita manfaatkan, sebelum ia jatuh ke tangan mustahik.” Di titik ini, pengelolaan zakat yang semula berdimensi ritual-ekonomis, akhirnya terseret ke pusaran KAPITALISME baru. Sangat disayangkan tentunya.

Sejujurnya, saat ada sebagian Muslim yang terjun di dunia seputar zakat, infak, sedekah; kita mengucap syukur. Alhamdulillah, ada yang mau menerjuni dunia yang sulit itu. Mengapa disebut sulit? Sebab, ini menyangkut amanah Ummat yang kelak setiap rupiahnya akan ditanyakan oleh Allah Ta’ala. Urusan seperti ini sungguh, sungguh, sungguh sangat berat konsekuensinya. Betul-betul dibutuhkan orang yang kuat mental, sangat sabar, kuat menahan kesulitan hidup, sangat taqwa, dan benar-benar jujur dalam mengelola amanah. Tidak lupa, orang seperti itu harus sering-sering minta dimaafkan/diikhlaskan oleh para muzakki atas kesalahan atau kelalaian operasional mereka, yang membuat dana zakat tidak tersalurkan secara benar.

Demi Allah, kesulitan menekuni dunia dagang (niaga) tidak berarti dibandingkan kesulitan mengelola zakat, infak, sedekah ini. Betapa tidak, bagi seorang pedagang, kalau ada mitra tidak membayar hutang Rp. 100 ribu, tidak masalah baginya. Paling dilupakan. Tetapi, bagi pengelola zakat, infak, sedekah, kalau jatuh uang Rp. 100 di tempat yang tidak hak, tanggung-jawabnya akan dituntut sampai di Akhirat.

Belum lagi sikap adil dalam memperlakukan 8 asnaf penerima Zakat. Tidak boleh berat sebelah, tidak boleh memperbanyak porsi untuk amil dan fi sabilillah saja. Kerap terjadi, penyaluran zakat itu bersifat ekslusif, memberdayakan kalangan sendiri. Dalihnya, memberi hak kepada amil dan fi sabilillah.

Perlu juga dipahami, pengelolaan zakat sangat berbeda dengan infak dan sedekah. Zakat sudah ada pos yang jelas, sebagaimana dijelaskan dalam Surat At Taubah 60. Pengelolaan zakat ini sebenarnya lebih bersiafat bantuan konsumsi. Jadi bukan untuk pemberdayaan. Kalau mau melakukan pemberdayaan, manafaatkan sedekah, infak, hibah, atau wakaf yang telah disetujui untuk tujuan pemberdayaan. Jadi harta zakat, infak, sedekah itu jangan diacampur-baur. Nanti para pengelola akan kesulitan mempertanggung-jawabkan masing-masing jenis harta itu.

Ketika ada beberapa sasaran penerima zakat yang kondisinya sama-sama miskin, maka harus diutamakan kalangan miskin yang lebih beriman, lebih berilmu, lebih banyak berjuang demi kebaikan kaum Muslimin. Kalau mendahulukan orang miskin yang banyak bermaksiyat, lalu mengabaikan miskin yang mujahid, akan muncul masalah besar di tengah masyarakat. Kalangan shalihin yang miskin tidak dibantu, sementara kaum miskin yang banyak bermaksiyat malah ditolong. Itu sama saja dengan mengabaikan keshalihan dan mendukung kemaksiyatan. Jelas semua ini tidak benar. Nah, kenyataan seperti ini merupakan sebagian realitas kesulitan dalam distribusi zakat.

Ironisnya, banyak Muslim menjadi pengelola zakat, karena alasan “butuh pekerjaan”. Masya Allah, ini adalah motivasi yang salah. Terjun ke dunia zakat mestinya karena PANGGILAN SUCI untuk menunaikan ibadah, melayani Ummat Islam dalam urusan zakat, infak, sedekah. Andaikan setelah 5 tahun bertugas tulus ikhlas di bidang ini dan tidak kaya-kaya, harus diterima seacara ikhlas. Sebab, pada asalnya dunia zakat, infak, sedekah itu dunia pengabdian sosial. Dunia ini bukan dunia bisnis, niaga, apalagi industri. Jauh sekali.

Dalam kajian fiqih dijelaskan, kalau seorang Mufti sebelum memutuskan perkara, dia dalam keadaan bersengketa, dia terlilit hutang, dia dalam keadaan fakir-miskin, maka Mufti itu sebaiknya tidak berfatwa dulu. Harus diperbaiki keadaan dirinya, sampai dia merasa benar-benar independen, netral, tanpa tendensi, selain menyampaikan kebenaran. Begitu pula seharusnya dengan dunia pengelolaan zakat, infak, sedekah. Seseorang yang masuk kesana, haruslah orang-orang yang sedang tidak mencari pekerjaan. Kalau mencari pekerjaan, khawatir motivasinya sudah tidak murni lagi. Ini rawan penyimpangan. Malah seharusnya, orang-orang yang mengelola zakat itu adalah mereka yang kaya, mapan secara materi, dan memiliki keluangan waktu.Tujuannya, agar pengelolaan zakat lebih murni, tanpa tendensi ekonomis dari para pelakunya.

Dan satu lagi yang penting diketahui. Ini harus dipahai oleh semua pengelola lembaga zakat, infak, sedekah. Tujuan mencapai kebangkitan Ummat, pemberdayaan ekonomi, serta membangun Izzah kaum Muslimin, tidak bisa dicapai dengan mengelola zakat, infak, sedekah secara profesional. Andaikan itu jalan yang mesti ditempuh, tentu Nabi Saw akan cukup menjadi kolektor zakat, infak, sedekah saja.

Kemiskinan, kebodohan, kelemahan SDM, perpecahan, serta ketidak-berdayaan yang menimpa kaum Muslimin selama ini, tidak semata-mata karena kaum fakir-miskin tidak pernah mendapat jatah santunan sosial. Tidak demikian. Ini adalah ilusi pemikiran yang keliru. Miskinnya kaum Muslimin di Indonesia terjadi karena SISTEM PEMERINTAHAN yang berlaku tidak berpihak kepada kepentingan kaum Muslimin. Itulah akar masalahnya. Dalam sistem seperti ini, sekalipun Pemerintah sudah menggulirkan JPS, KUT, BLT, JAMKESMAS, beasiswa, dll. tetap saja tidak banyak mengubah keadaan kaum Muslimin. Padahal dana yang sudah dikerahkan untuk itu ratusan triliun. Hasil zakat, infak, sedekah yang dikumpulkan semua lembaga kolektor zakat selama 20 tahun terakhir, belum tentu melebihi dana yang sudah dikeluarkan Pemerintah untuk membiayai JPS, KUT, BLT, PNM, dll. Akar kemiskinan, kebodohan, kelemahan ini adalah SISTEM. Itu harus dicatat dengan baik!

Maka jalan yang benar untuk mencapai kemuliaan hidup kaum Muslimin adalah: menyebarkan ilmu-ilmu Syariat, memakmurkan amal-amal shalih, saling kerjasama antar kaum Muslimin, dan berjihad di Jalan Allah. Pengelolaan zakat hanyalah salah satu instrumen ajaran Islam yang berkaitan dengan santunan sosial. Ia bukan satu-satunya urusan Islam, apalagi kalau mau diklaim sebagai manhaj utama.

Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi dan nasehat untuk saling mengingatkan. Allahumma amin. Silakan teruskan hal-hal positif yang sudah tercapai; tunaikan zakat secara benar, jangan menciderai amanah Ummat; tunaikan infak dan sedekah untuk tujuan sebaik-baiknya, termasuk demi pemberdayaan Ummat; dan tentu saja, tingkatkan selalu sensitivitas hati untuk merasa takut kepada Allah dalam mengelola amanah Ummat. Takutlah kepada Allah wahai Saudara-saudari budiman, niscaya urusanmu akan menuai sukses besar! Amin.

AMW.

3 Balasan ke Ilusi Seputar ZAKAT

  1. betul mengatakan:

    Zakat telah roboh pilarnya karena dilarang keras menunaikan zakat dengan utang kayak Rupiah dan Ringgit, dua mata uang itu utang bukan uang.

  2. […] [o] Ilusi Seputar Zakat. […]

  3. adreenegara mengatakan:

    zakat membersihkan harta….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: