Ketika Alam Tidak Lagi Ramah…

Hampir setahunan ini kami di Bandung merasa tidak mengalami musim kemarau, sepanjang tahun terus hujan. Dalam teori, siklus musim hujan dan kemarau di Indonesia kerap disebutkan sbb.: April-Oktober musim kemarau, sedangkan Oktober-April musim hujan. Namun dalam tahun terakhir, sepanjang tahun hujan terus. Kadang hujan sangat deras, sehingga terjadi banjir dan longsor di daerah-daerah tertentu.

Di TV kerap diberitakan bencana alam yang terus mendera daratan China, berupa banjir besar dan tanah longsor. Sudah ribuan manusia tewas menjadi korban. Begitu juga banjir yang melanda Pakistan, juga menyebabkan ribuan orang meninggal.

Polusi Berat CO2 Membuat Iklim Tak Menentu

Di hari-hari ini kita merasakan perilaku alam yang sulit dipahami. Kadang terasa gerah, tetapi tiba-tiba bertiup angin yang sangat dingin. Kadang cuaca sangat dingin, lalu berubah menjadi hawa panas. Kadang angin bertiup menderu-deru, membuat kita berprasangka, musim akan segera berganti. Tetapi ternyata, ia hanyalah “pancaroba semu”.

Begitulah, cuaca kini penuh turbulensi, penuh gejolak dengan segala ketidak-menentuan. Mungkin inilah realitas yang kerap disebut sebagai extremely climate change (perubahan iklim secara ekstrim). Daerah yang panas menerima dingin, begitu pula sebaliknya, dengan siklus yang tidak teratur. Padahal sebelumnya, selalu teratur dan dapat diprediksikan dengan mudah. Hujan atau panas, datang-berganti seperti tanpa siklus.

Menarik mengamati banjir besar yang terus-menerus mendera China. Hawa dingin, tanah longsor, dan lain-lain. Hari-hari ini China seperti panen dua realitas kontradiktif: panen pujian sebagai raksasa ekonomi baru, tetapi juga panen bencana-bencana besar.

Mengapa terjadi kondisi perubahan cuaca secara ekstrim?

Hal ini bisa dipahami dengan pendekatan sains. Menurut sains, akar persoalan ini muncul karena perilaku karbondioksida (CO2) di udara semakin liar. Polusi, pembakaran BBM, pembakaran bahan organik, menyebabkan produksi CO2 di udara meningkat sangat pesat. Menurut penelitian modern, gas CO2 itu tidak bisa dibuang keluar dari atmosfer bumi. Gas itu semakin bertambah, membuat ruang atmosfer bumi semakin panas. Inilah yang kerap disebut sebagai global warming (pemanasan global).  Ada juga yang menyebut green house effect (efek rumah kaca). Kalau Anda masuk rumah kaca, akan terasa sumuk (gerah), sebab disana udara panas seperti terperangkap dalam ruangan tersebut.

Panas di atmosfer berdampak meningkatkan suhu, meningkatkan penguapan air laut, juga mengubah formasi kelembaban udara. Suhu berubah, kelembaban udara berubah, maka perilaku angin juga berubah. Kan sesuai hukum sains, “Angin bertiup dari udara yang dingin ke udara panas, dari kondisi tekanan tinggi ke tekanan rendah.”

Dengan demikian kita menjadi paham mengapa kemudian terjadi perubahan-perubahan cuaca ini. Ia terjadi karena tingkat polusi yang luar biasa besar-besaran. China dan Amerika termasuk negara-negara penghasil polusi udara terbesar di dunia. Pabrik-pabrik di negara itu setiap waktu terus merobek-robek struktur harmonis ruang atmosfer. Mereka enak mendapat uang banyak, tetapi ummat manusia sedunia menjadi korban.

Beberapa waktu lalu sempat ada konferensi internasional tentang perubahan iklim di Nusa Dua, Bali. Waktu itu sempat dibahas tentang isu “perdagangan karbon”. Maksudnya, negara penghasil polusi CO2 terbesar di dunia, seperti China dan Amerika, harus memberi subsidi kepada negara-negara yang memiliki hutan luas, seperti Indonesia dan Brasil. Hutan-hutan ini kan setiap detik terus memproduksi O2, sementara pabrik-pabrik di China, Amerika, Jepang, Eropa, dll. terus memproduksi CO2. Negara-negara pollutan itu diminta memberi sumbangan untuk pengembangan dan pelestarian hutan di negara-negara tropik. Ternyata, mereka ogah membantu.

Sudah begitu Si SBY tawadhu banget. Melihat negara-negara pollutan tidak mau membantu, SBY terima aja. Maklum sih, Si SBY ini badannya ada di hadapan kita, tetapi hatinya sudah parkir di New York sana. Harusnya, kalau laki-laki sejati, negara asing tidak mau bantu menjaga hutan kita, usir saja mereka dari konferensi itu. Usir mereka, biar malu! Tetapi kita semua tahu, Si SBY ini kan karakternya begitu: rela mengorbankan rakyat sendiri, demi mencari keridhaan asing.

Ada hikmah besar di balik realitas perubahan iklim ekstrim ini. Hikmah apakah itu?

Perubahan iklim ekstrim ini terjadi lebih karena AMBISI MATERIALISME negara-negara industri tersebut. Di mata mereka, mumpung selagi hidup, harus mencari uang sebanyak-banyaknya, bagaimanapun caranya. Kalau sudah dapat uang, mereka akan gunakan untuk senang-senang sepuasnya, tidak peduli akibat dari senang-senang itu merusak lingkungan.

Di mata kaum jahiliyyah pemuja hawa nafsu itu, tidak ada istilah “ramah lingkungan”, “peduli nasib generasi”, “peduli beban bumi”, “empati dengan nasib manusia”, dan seterusnya. Di mata mereka ya hanya senang, senang, senang, senang, senang,… Sepanjang hayat hanya senang-senang saja. Maka itu Al Qur’an menyebut mereka, “Ya’kuluna kamaa ta’kulul ‘an-am” (mereka makan seperti makannya binatang).

Ironisnya, kehidupan seperti itulah yang oleh para ekonom kerap ditutup-tutupi dengan istilah: pertumbuhan ekonomi, kenaikan produk domestik bruto, iklim investasi, laju inflasi, kenaikan indeks saham, dll. Padahal semua itu intinya hanyalah: kehidupan ala binatang yang memuja hawa nafsu. Akibat kehidupan seperti ini sangat jelas, yaitu kerusakan lingkungan, perubahan cuaca ekstrim, dan seterusnya.

Alam ini sebenarnya diciptakan dalam kondisi harmonis. Allah Ta’ala telah meletakkan fungsi-fungsi, mekanisme, dan tabi’at alam yang ramah bagi kehidupan insan. Hanya saja, karena nafsu senang-senang (yang kerap ditutup-tutupi dengan istilah “pertumbuhan ekonomi”) itulah, maka alam ini rusak. Sayangnya, dalam kondisi seperti ini kita dipimpin oleh “artis” yang senang berdandan di depan cermin; bukan dipimpin manusia tegas.

Semoga kita bisa memetik hikmah dan manfaat! Amin.

AMW.

Iklan

3 Responses to Ketika Alam Tidak Lagi Ramah…

  1. Alakarsa berkata:

    Aduh mas, lagi-lagi aku baca pas lihat oh. Ternyata oh. SBY ternyata ya punya rapor merah di lingkungan to. Bukannya yang punya rapor merah di lingkungan adalah si kelana waktu di tanjung api2. Or intel kita di helikopter. Aduh SBY kena juga to

  2. Hendra berkata:

    Subhanalloh, hu uh ustad mang pres…kita cemen mukanya aja yang sangar,…nyalinya takut miskin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: