Mengapa Shaum Kita Gagal?

Bismillahirrahmaaniarrahiim.

Setiap Ramadhan, pasti kita sangat hafal dengan ayat Shaum, “Kutiba ‘alaikumus shiyam…” Dan para khatib, dai, penceramah, kerap menekankan ujung dari ayat ini yang merupakan tujuan dilakukan Shaum, “La’allakum tattaqun” (agar kalian bertakwa).

Ayat ini kan sudah berulang-ulang disampaikan di berbagai masjid, di acara pengajian, di TV, buletin, majalah, dll. Pendek kata, kita sudah sangat hafal dengan “la’allakum tattaquun” itu.

Puasa Kita Tidak Bisa Menolong Orang-orang yang Tinggal Disini.

Pertanyannya, mengapa Shaum kaum Muslimin di Indonesia seperti jauh dari berkah? Sepertinya, hasil TAQWA itu jauh dari harapan. Oke-lah, dari sisi makna kalimat kita paham; tetapi dari sisi realitas kehidupan, jauh sekali dari ketakwaan itu.

Andaikan bangsa Indonesia bertakwa, pasti keadaan negeri kita tak akan awut-awutan seperti saat ini. Dampak ketakwaan itu banyak, minimal berupa kesejahteraan, dan dijauhkannya kemiskinan. Orang bertakwa pasti hidupnya sejahtera, tidak dililit kemiskinan.

Alasannya apa?

Berikut ini: “Wa man yattaqillah yaj’al lahu makhrajan, wa yarzuqhu min hai-tsu laa yahtasib…wa man yattaqillah yaj’allahu fi amrihi yusra” (dan siapa yang takwa kepada Allah akan Dia jadikan baginya jalan keluar dari kesulitan, dan Dia akan memberi rizki dari arah mana saja yang tidak disangka-sangka,…dan siapa yang takwa kepada Allah, akan Dia jadikan baginya kemudahan dalam urusannya). Disebut dalam Surat At Thalaaq.

Minimal faidah taqwa itu 3: Jalan keluar dari kesulitan, rizki yang datang dari segala arah, dan kemudahan urusan. Kalau kaum Muslimin Shaumnya berkah, pasti hidupnya akan sejahtera, jauh dari nestapa, kelaparan, kemiskinan, dan kebodohan.

Lalu mengapa kondisi hidup kita seperti tidak berubah? Dari waktu ke waktu semakin buruk saja? Lalu dimana bekas-bekas dari hikmah Shaum Ramadhan itu sendiri?

Shaum Kita Tak Bisa Menyelamatkan Nasib Bocah Ini. Lihat Cup Kopi "Starbuck" Itu!

Menurut saya, alasannya sederhana: Sebab kaum Muslimin mengerjakan Shaum sebatas kegaiatan ritual rutin yang bersifat lahiriyah semata. Shaum ini tidak mengubah pemikiran menjadi lebih Islami, tidak mengubah keyakinan semakin kuat kepada Allah, tidak mengubah budaya menjadi lebih bersih, tidak mengubah muamalah menjadi lebih Syariah, dan TERUTAMA tidak mengubah tatanan hidup menjadi Islami.

Logikanya begini. Kita telah berusaha sekuat tenaga membangun sebuah rumah yang kuat, bersih, rapi, sehat, dan menebar aroma harum. Tetapi pada saat yang sama, rumah itu dibangun di atas tumpukan sampah di TPA-TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Usaha internal kita sudah maksimal, tetapi kondisi eksternal kita sangat gelap. Jadi, kapan perbaikan seperti ini akan membuahkan hasil?

Seharusnya, kalau Shaum itu berhasil dan berkah, setiap Shaimin/Shaimat akan tampak perubahan sikapanya, sehingga dia semakin mencintai Islam, merindukan Syariat Islam, dan memberikan kontribusi bagi Kebangkitan Islam.

Coba perhatikan masyarakat kita, apakah tanda-tanda seperti itu ada? Jangankan rakyat kecil yang awam, kalangan ustadz-ustadz saja, doktor-doktor, kyai, ulama, dai kondang, dll. tidak tampak keberaniaanya untuk menegakkan tatanan hidup Islami dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mana Anda lihat tokoh-tokoh Islam yang lantang berani menentang kezhaliman dan menyerukan tegaknya tatanan Islam? Kalau ada, itu adalah tokoh-tokoh atau komunitas yang sudah dikenal selama ini. Jarang ada “darah segar” yang menambah kuat suara kebenaran itu.

Shaum Kita Tak Bisa Meringankan Beban di Pundak Bapak Ini.

Sejujurnya, pengaruh tatanan politik bagi kehidupan Muslim amat sangat kuat. Dimanapun ditegakkan sistem tatanan politik Islam, secara cepat tumbuh keberkahan-keberkahan di tempat itu. Sebaliknya, dimanapun sistem Islami ditinggalkan, seketika muncul aneka rupa musibah, fitnah, konflik, kehinaan, dst. Bukti yang sangat nyata ialah kehidupan di Andalusia Spanyol, kehidupan di Turki Utsmani, juga kehidupan di Saudi. Di tempat-tempat ini, ketika Islam dipakai, mereka berjaya; ketika Islam disingkirkan, mereka terhina. Malaysia dan Brunei, keduanya hidup makmur sejahtera, karena berani terang-terangan mengklaim Islam sebagai budaya mereka. Itu baru sebatas budaya, apalagi kalau tatanan Islam diberlakukan secara optimal?

Adapun banyak orang tak berani bicara tentang penegakan tatatan Islam, sebab mereka takut dengan dominasi Mafia PBB. Siapa Mafia PBB? Mereka adalah mafia politik, mafia birokrasi, dan mafia bisnis, yang selama ini mencengkeram kehidupan rakyat Indonesia. Melalui kekuatan modal, koneksi, pengaruh politik, dll. mereka berhasil menjauhkan kaum Muslimin dari missi kehidupan Islami.

Adapun para Shaimin dan Shaimat di Indonesia, mayoritas tak berani melihat kenyataan ini. Mereka berpuasa agar menjadi insan takwa, tetapi tidak berani melihat pengaruh buruk Mafia PBB itu. “Sudahlah, Anda saja yang bicara tentang mereka. Kami tak mau ikut-ikutan. Ini soal bisnis, dan pekerjaan masalahnya.” Ya, beginilah kualitas Shaum kita, baru sebatas shaum fisik dan tradisi belaka. Jelas, jauh sekali dari kalimat “La’allakum tattaquun“. Orang bertakwa itu tak akan takut, selain hanya kepada Allah saja.

Ternyata, hal ini sudah jauh-jauh hari diingatkan oleh Nabi Saw. “Berapa banyak orang yang berpuasa, hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja, dan berapa banyak orang yang mendirikan ibadah di malam hari, tapi hanya mendapatkan begadang saja.”  (HR. Ahmad).

Puasa Kita Tak Bisa Memberi Harapan Kepada Anak Pemulung Ini.

Dan bukan kebetulan jika Media-media TV sangat berperan membuat masyarakat sekedar mendapatkan shaum fisik belaka ini. Kita tahu, media-media TV merupakan sumber kerusakan terbesar kualitas keagamaan kaum Muslimin di Indonesia (bahkan mungkin di dunia). Media TV menjadi guide kehidupan yang menjerumuskan kaum Muslimin dalam kekalahan demi kekalahan. Sekalipun di antara mereka ada yang memasang slogan, “To elevate knowledge.”

TV-TV itu telah membuat TAFSIRAN keliru tentang Shaum Ramadhan. Di mata mereka Shaum hanyalah menahan makan-minum, tidak jima’ siang hari, dan sebatas tradisi. Karena TV ini merupakan media belajar yang sangat massif dan sistematik, akal kaum Muslimin Indonesia pun rusak karenanya.

Sejauh TV-TV hedonis itu tetap merajalela, jangan berharap ada Kebangkitan Islam. Lupakan saja!

Wallahu A’lam bisshawaab.

AMW.

Iklan

3 Responses to Mengapa Shaum Kita Gagal?

  1. A Wild berkata:

    Susah amat nyari orang yang shoumnya gagal. Coba pakai rumus (1/73)*(1/5)*m=mtq. Coba hitung ya seandainya sekampung ada 6000 muslim, yang gagal puasa berapa? (1/73)*(1/5)*6000=157.
    Ket:
    1/73 = rasio ummat yang masuk surga
    1/5 = rasio pengamalan 1 dari 5 rukun Islam
    6000 = jumlah orang muslim menurut data kependudukan (m).
    157 orang masuk mtq alias sukses puasa. Yang gagal 6000-157= 5843. Anda percaya? Hati-hati bisa mu’tazilah. Anda tidak percaya? Hati-hati juga bisa mu’tazilah. Anda berpendirian wallahu a’lam dan menyerahkan pada Nya? Semoga anda termasuk dari golongan yang selamat.

  2. […] [o] Mengapa Shaum Kita Gagal? […]

  3. mia berkata:

    tangan yang memberi lebih baik daripada yang menerima. semoga kita dirahmatiNya, Aameen…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: