Sisa Idul Fithri Kita…

Idul Fithri 1431 H sudah berlalu. Kini kita di hamparan bulan Syawwal. Sebagian orang sedang menyempurnakan Shaum Sunnah 6 hari bulan ini, sebagian lain biasa-biasa saja. Bahkan ada yang tidak ingat dengan shaum itu sama sekali, sebab bulan Ramadhan pun dia tidak berpuasa. Ya Ilahi, semoga kita senantiasa istiqamah memelihara Sunnah Nabawiyah ini. Amin.

Saatnya menyegarkan ruhani...

Idul Fithri itu kalau dilukiskan seperti sebuah aliran sungai yang menguji pasukan Thalut yang hendak berperang menuju Baitul Maqdis di Jerusalem. Pasukan Thalut sedang kelelahan, mereka hendak mengusir Jalut dan balatentaranya yang telah menganeksasi wilayah kerajaan Bani Israil di Jerusalem. Thalut mengatakan, “Allah akan menguji kalian dengan sungai di depan nanti. Siapa yang tidak meminum air sungai itu, kecuali seceduk telapak tangan saja, dia masuk barisanku. Siapa yang terjerumus berlebihan meminum air itu, dia bukan bagian dariku.”

Ternyata benar, yang lolos ujian menghadapi sungai itu hanya sedikit saja. Selebihnya, banyak yang gagal, lalu tak berani berperang. Namun dari yang sedikit itu Allah menganugerahkan kemenangan bagi tentara-tentara-Nya. Dawud sendiri berhasil membunuh Jalut. Oleh orang-orang Barat, kisah itu disebut “legenda” David Vs Goliath. Padahal itu asli, kisah sejarah, bukan legenda.

Idul Fithri di mata masyarakat kita seperti itu pula…

Kaum Muslimin di negeri kita ini, di hadapan perhelatan besar hari-raya Idul Fithri, bisa dibagi dalam 3 kelompok:

PERTAMA, orang-orang yang memandang perayaan hari raya dengan segala tradisinya, lebih berharga daripada ibadah di bulan Ramadhan. Mereka mempersiapkan diri menyambut hari raya lebih hebat ketimbang mempersiapkan diri menyempurnakan ibadah di bulan Ramadhan. Mereka melebihkan konsumsi duniawi melebihi “konsumsi” ukhrawi.

KEDUA, orang yang tetap serius melaksanakan ibadah Ramadhan dan ibadah-ibadah tambahan lain, tetapi semua itu hanya sekedar TRADISI semata. Dianggap semacam ritual atau rutinitas ibadah yang selalu hadir setiap setahun sekali. Tidak ada usaha untuk melakukan ibadah yang lebih berkualitas, berkesan, dan berkah.

"Siapa menanam kebajikan. Kan memetik kebajikan (lebih besar)."

KETIGA, orang yang serius melaksanakan ibadah Ramadhan berikut tambahan-tambahan kebajikan lain di dalamnya. Mereka selalu merindui datangnya Ramadhan, sejak tanggal 2 Syawwal. Bayangkan, baru saja Idul Fithri berlalu, mereka sudah merindui datangnya Ramadhan. Seolah bulan-bulan lain “tidak dianggap”. Berbagai sisi kebajikan mereka lakukan di bulan Ramadhan, termasuk Zakat, sedekah, menuntut ilmu, tilawah Al Qur’an, i’tikaf, qiyamul lail, dll.

Lalu apa yang terjadi…

Ternyata, perbedaan cara menyikapi Ramadhan itu, sangat menentukan KEINDAHAN HARI RAYA yang mereka peroleh. Bahkan membedakan kualitas hidup mereka setelah Ramadhan berlalu.

Bagi Golongan 1, mereka benar-benar mendapatkan kesenangan hari raya seperti yang mereka inginkan. Mereka senang-senang, makan-makan, pelesir, berpesta pora, dan sebagainya. Itu berhasil mereka lakukan.

Tapi sayangnya, nikmat yang mereka rasakan itu HANYA SAMPAI SEMINGGU setelah Idul Fithri. Setelah itu, mereka stress lagi. Harus buru-buru balik ke Jakarta. “Hari Senin sudah masuk kantor!” kata mereka. Mereka kembali masuk ke pusaran rutinitas hidup seperti itu lagi. Mereka kembali stress, setelah sejenak senang-senang di hari raya. Begitu saja seterusnya, setiap tahun, sepanjang waktu; bila mereka tidak berhenti dari sikap hidup seperti itu.

Kasihan sekali. Seperti jarum jam yang setiap hari berputar-putar di tempat, tidak kemana-mana, tidak ada dunia jelajah ruhani yang lebih baik, lebih dinamis, dan berbahagia, selain hanya rutinitas “mati” belaka.

Golongan 2, mereka mendapat lebih baik. Mereka mendapat kesan Ramadhan yang lebih panjang. Tidak hanya seminggu setelah Idul Fithri. Allah Maha Pemurah, tetap memberi kebaikan kepada hamba-hamba yang mau beramal. Tetapi secara umum, kehidupan mereka tak banyak berubah. Pemikiran, sikap, perilaku, kedewasaan, wawasan, empati, dll. masih sama seperti yang sudah-sudah. Maklum, mereka beramal hanya sebatas tradisi, maka berkahnya juga sebatas “tradisi”.

...kesegaran telah disediakan bagi para "petani" yang telah bekerja keras.

Orang-orang ini sangat didoakan dan diharapkan agar berubah menjadi lebih baik. Hendaklah mereka menjadi pemakmur bulan Ramadhan, bukan menjadi “tukang puasa” Ramadhan. Kalau mereka tak berubah, kehidupan bermasyarakat, bersosial, berbangsa dan bernegara ini juga susah berubah.

Golongan 3, adalah golongan terbaik. Keberkahan bulan Ramadhan di mata mereka terasa begitu panjang, sampai mereka menjemput Ramadhan yang baru. Bahkan bisa lebih dari itu, karena mendapat keutamaan Lailatul Qadar.

Golongan ke-3 itu jauh sekali dari golongan “jarum jam” yang setiap tahun diputar-putar oleh rutinitas dan rasa capek luar biasa di hamparan Idul Fithri. Mereka mendapat makna, memperoleh berkah yang luas. Alhamdulillah.

Mereka seperti yang disebut oleh Nabi, “Man shama Ramadhana imanan wa ihtisaban, ghufira lahu maa taqaddama min dzanbih” (siapa yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan penuh ketakwaan, dia akan diampunkan dosa-dosanya yang telah lalu). HR. Bukhari.

Kini tinggal kita mengukur makna Idul Fithti ini. Apakah kita masuk Golongan 1, Golongan 2, atau Golongan 3?

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk golongan orang-orang beriman yang pantas mendapat ucapan: “Minal a’idina wal fa’izin” (semoga menjadi orang-orang yang kembali suci dan mendapat kemenangan). Allahumma amin.

AMW.

Iklan

2 Responses to Sisa Idul Fithri Kita…

  1. […] Sisa Idul Fithri Kita… « LANGIT BIRU Corner […]

  2. […] [o] Sisa Idul Fithri Kita… […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: