Tradisi Kita: Melanggar Hukum!

Sebodoh-bodohnya manusia, ialah mereka yang membuat aturan, lalu aturan itu dia langgar sendiri. Mengapa dilanggar? Agar sebagian orang bisa bebas menindas sebagian yang lain. Masya Allah.

Sebuah cerita kecil dari Kota Leipzig di Jerman. Cerita ini saya baca di sebuah harian nasional beberapa waktu lalu. Ada ibrah besar yang harus kita ketahui disini.

Belum lama lalu terjadi kasus hukum yang unik di Leipzig. Seorang wanita, sudah bekerja di sebuah supermarket selama 27 tahun. Dia diajukan ke pengadilan karena telah melakukan pelanggaran. Ceritanya, supermarket itu menjual roti-roti. Setelah berlalu waktu tertentu, roti-roti itu ada yang kedaluarsa. Menurut aturan di supermarket itu, roti tersebut harus dibuang, dikosongkan dari rak-rak roti. Tetapi oleh wanita itu, sebungkus roti dia simpan di tasnya, hendak dibawa pulang. Ketika ada inspeksi, tas-tas karyawan diperiksa, ditemukan sebungkus roti di tas wanita itu.

Karena dia telah menyimpan roti yang seharusnya dibuang, dia disidangkan. Hasilnya, wanita itu dipecat dari pekerjaannya. Namun selang beberapa lama, keputusan diubah, dia tak jadi dipecat, karena roti itu sendiri sudah berstatus “sampah” yang tidak merugikan apapun bagi kepentingan supermarket. Andaikan roti itu menyebabkan seseorang sakit perut, resiko sakit akan dihadapi wanita itu sendiri, bukan konsumen roti. Akhirnya, wanita itu tetap mendapat kesempatan kerjanya.

Negara Rendah: Hukum Senilai Duit!

HIKMAH. Lihatlah, betapa ketatnya orang-orang Barat dalam menegakkan hukum di kalangan mereka! Ketat sekali, sehingga hanya masalah sebungkus roti saja, mereka tegakkan hukum, tanpa pandang bulu. Kalau dipikir, apalah artinya sebungkus roti di mata seorang karyawan yang sudah bekerja 27 tahunan? Tetapi hukum tetap hukum, ia harus ditegakkan secara PRESISI. Ibaratnya, tidak menyimpang walau hanya sehelai rambut.

Bangsa Barat meraih kemajuan tinggi karena mereka KONSISTEN menegakkan hukum, tanpa pandang bulu. Mereka konsisten sekali, sehingga indeks korupsi di kalangan mereka selalu kecil. Padahal hukum yang berlaku di negeri-negeri itu tidak selalu bagus, adil, dan mulia.

Orang-orang Barat diberi kecukupan ekonomi, kesejahteraan, fasilitas hidup, kemajuan sains dan teknologi, dll. bukan karena KUALITAS HUKUM yang mereka anut. Tetapi karena sikap KONSISTEN mereka dalam menegakkan hukum itu sendiri. Seburuk-buruk hukum yang dijalankan Jengis Khan, kalau diterapkan secara konsisten, membuat mereka bisa merajai Asia di masanya. Bahkan mereka bisa menghancur-luluhkan peradaban kaum Muslimin yang telah pudar dan penuh kemerosotan di Baghdad ketika itu.

Lalu, mari kita lihat kondisi bangsa Indonesia ini! Di negeri ini tidak sedikit orang pintar, tidak sedikit ilmuwan, ahli hukum, pakar birokrasi, dan sebagainya. Tetapi mereka tidak memiliki KOMITMEN untuk menegakkan hukum sama sekali; apalagi jika aturan hukum itu akan memakan hak-hak pribadi, keluarga, dan kelompoknya.

Mau bukti? Tidak usah yang jauh-jauh. Kita angkat yang mudah-mudah saja, yang sedang aktual, yang banyak dibicarakan masyarakat saat ini. Sebagiannya adalah sbb.:

[1] Ketua MK sudah memutuskan, mengabulkan sebagian permohonan judicial review dari Yusril Ihza Mahendra. Di harian Kompas, Ketua MK jelas-jelas sudah mengatakan, masa jabatan Hendarman Supandji menjadi ilegal setelah keputusan itu ditetapkan. Tetapi anehnya, Staf Ahli Hukum Kepresidenan, Deny Indrayana, mengklaim Hendarman Supandji tetap sah sebagai Ketua Kejaksaan Agung. Sudi Silalahi juga mengatakan demikian. Sementara Hendarman Supandji sendiri, lebih percaya ke Presiden daripada keputusan MK. Lihatlah, betapa hebatnya tingkah orang-orang ini dalam mengangkangi hukum yang sudah ditetapkan MK?

[2] Lihatlah aksi Densus 88 saat masuk Bandara Polonia, yang menyebabkan Polri diprotes oleh Angkatan Udara! Densus itu kan aparat hukum, mau menegakkan hukum, tetapi caranya melanggar hukum. Densus 88 sudah melanggar wilayah steril Angkatan Udara, juga melanggar ketentuan koordinasi dengan pihak Polda Sumut.

[3] Lihatlah ketika seorang Presiden gagal telekonferensi di daerah Cikopo karena ada gangguan signal telekomunikasi. Belum melakukan check-recheck, dia langsung memarahi Dirut Telkom dan Telkomsel. Itu marah-marah di depan umum. Ternyata, kemudian terbukti, aplikasi telekonferensi itu tidak memakai jaringan milik Telkomsel. Pelanggaran hukum, mencemarkan nama baik orang lain sudah dilakukan, setelah itu “cuci tangan”, tak ada kata maaf sedikit pun.

[4] Lihatlah ketika seorang Presiden berkomentar keras soal insiden penusukan jemaat HKBP di Ciketing Bekasi. Dia begitu peduli dengan nasib korban tersebut, dan tentu saja -seperti kebiasaan pro Amerika- selalu menyudutkan ormas Islam tertentu. Penusukan jemaat HKBP begitu berharga baginya, tetapi pembiaran kezhaliman sikap/tingkah jemaat HKBP yang merugikan kepentingan warga Ciketing selama 20 tahunan, dibiarkan begitu saja. Ini namanya, penegakan hukum yang tebang pilih. Apapun ada kesempatan untuk menembak FPI, akan dia lakukan.

[5] Bagaimana dengan kericuhan antara PERADI dan KAI baru-baru ini? Anda tahu semua kan situasi ricuhnya? “Mau apa kau? Beri pintu agar abang kami, presiden kami masuk ruangan?” Ya, begitulah. Ini komunitas advokat yang katanya mengerti hukum, taat hukum, mengabdi di dunia hukum; tetapi kelakuan seperti itu. Menyedihkan sekali kan?

[6] Coba lihat apa yang dilakukan Polisi/Densus 88 dalam berbagai kasus terorisme! Bidik sasaran, tembak di tempat, lalu membuat opininya sendiri. Dalam seluruh sisi kasus terorisme di Indonesia, opini yang berlaku hanya milik Polisi belaka. Tidak ada opini pembanding. Akhirnya mereka bisa sewenang-wenang sesuka hatinya. “Soal opini nanti bisa kita pikirkan.” Tidak heran jika kemudian seorang pejabat Polri ada yang ditolol-tololkan oleh pemimpin ormas Islam.

[7] Opini polisi yang sewenang-wenang itu akhirnya membuahkan masalah serius di Buol, Sulawesi. Kantor polisi dan pemukiman mereka diserbu ribuan orang, karena gemas. Bagaimana tidak? Ada seorang tahanan meninggal di kantor polisi. Kata polisi, dia mati bunuh diri. Tapi saat jenazah diterima keluarga, di sekujur tubuhnya banyak memar-memar akibat pukulan.

[8] Bagaimana dengan kasus Skandal Bank Century? Mengapa Polri, Kejaksaan Agung, dan KPK diam saja sampai saat ini? Kapan orang-orang yang tertuduh dalam kasus itu akan disidangkan ke pengadilan? Apa mereka menunggu SBY turun dari jabatan RI-1 tahun 2014 nanti, baru kasus Bank Century disidangkan? Lalu bagaimana dengan Sri Mulyani yang sudah nyaman ngantor di sono? Mengapa ia tidak dicekal atau ditetapkan sebagai DPO? Bukankah dia pergi sebelum kasus Bank Century masuk ke meja hukum?

[9] Penghilangan secara sengaja “ayat rokok” dari draft UU Kesehatan yang diduga dilakukan oleh anggota DPR Ribka Ciptaning dan kawan-kawan. Ini sudah menjadi draft UU, tinggal disahkan saja, tetapi malah dihapus. Begitu kejinya tangan manusia-manusia satanic itu.

[10] Kasus Bibit-Chandra tidak karuan sampai saat ini. Apakah kedua orang itu bersalah seperti yang dituduhkan OC. Kaligis, atau dia tidak bersalah.

[11] Hilangnya rekaman Ary Muladi dan Hendra Rahardja, padahal tadinya Bambang Hendarso mengklaim rekaman itu ada. Begitu buruknya komitmen Kepala Polri terhadap hukum yang mestinya dia tegakkan.

[12] Kasus Susno Duadji, sang “peniup peluit” yang saat ini nasibnya tidak karuan. Mau disidang, kapan? Tidak disidang, mengapa dia sudah dipastikan sebagai tersangka? Begitu pula masalah “rekening gendut” perwira Polri juga tidak ada kelanjutannya.

[13] Dan lain-lain kasus yang sangat banyak.

Lihatlah dengan mata hati, dengan logika jernih, dengan akal sehat, dengan naluri sebagai manusia sewajarnya; apakah semua itu layak terjadi di negara yang katanya “menghormati hukum” ini? Masya Allah. Sungguh sangat menyedihkan kondisi ini.

Di Barat, urusan hukum tidak bisa ditawar-tawar. Tetapi disini, para elit dan penegak hukum, justru memberi contoh cara melanggar hukum yang seindah-indahnya, sehebat-hebatnya, selicik-liciknya, senikmat-nikmatnya.

Kalau begini, lalu apa yang bisa kita harapkan? Adakah masa depan bagi bangsa Indonesia? Adakah “adil dan makmur” seperti yang sama-sama kita dambakan itu? Bukankah kita ini seperti manusia yang setiap hari sarapan omong kosong; minum omong kosong; menelan omong kosong; mandi omong kosong; tidur di atas omong kosong; bermimpi omong kosong; berpikir omong kosong; dan sebagainya?

Untuk hukum sekuler yang penuh kekurangan saja, kita tak mampu konsisten melaksanakan. Padahal hukum semacam itu jauh sekali kualitasnya di bawah Syariat Nabi Muhammad Saw.

di atas kesedihan sebagai bangsa beradab

AMW.

Iklan

4 Responses to Tradisi Kita: Melanggar Hukum!

  1. Ferli berkata:

    Mas AMW, terima kasih atas tulisan-tulisan yang sangat mencerahkan dan menggugah seperti ini.

    Ingin sekali bisa melakukan sharing lewat Facebook, tapi sayangnya tidak/belum bisa. Apakah nanti bisa disediakan Mas?

    Saya mohon ijin salin ke blog saya dengan menyebutkan sumbernya, boleh?

  2. abisyakir berkata:

    @ Ferli…

    Alhamdulillah, semoga bermanfaat Akhi. Saya jarang sekali memakai fasilitas FB, jadi mohon maaf tidak bisa intens disana. Maklum, sudah bukan anak-anak muda lagi. Lebih baik kontak via email saja ke langitbiru1000@gmail.com. Mudah2an nanti ada wahana komunikasi yang lebih baik. Amin.

    Ya, silakan sharing atau dikutip tak apa. Semoga manfaat. Amin.

    AMW.

  3. agung el bhara berkata:

    ijin kutip, Ustadz…
    ALLAHU Akbar!!!
    semoga Khilafah cepet berdiri,,,
    Sehingga sistem sampah negeri ini terbasmi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: